Perbedaan Fasilitator, Moderator, MC, dan Motivator

Standar
Perbedaan Fasilitator, Moderator, MC, dan Motivator

Setiap kali saya mengenalkan diri sebagai fasilitator, yang pertama terbayang oleh lawan bicara saya adalah moderator. Oh, nanti berarti Mbak-nya yang mengantarkan diskusi, menyimpulkan dan memancing tanya jawab dengan audiens kan? Bukan, kata saya, itu moderator, saya fasilitator. Lalu disambut jeda…. Silent… oh okay okay, jawabnya, padahal saya yakin belum okay di kepalanya. Begitu juga ketika dalam sebuah program dimasukan post fasilitator, tim keuangan lantas menyamakan honornya dengan mc dan moderator.

Lalu ada motivator. Seringkali yang ditunjuk sebagai moderator atau fasilitator malah terjebak jadi motivator, self-center, merujuk melulu pada dirinya lalu melontarkan petuah-petuah bijak. Mikropon itu memang dahsyat kekuatannya, seperti cincin dalam film Lord of The Ring. Siapa yang memegang mikropon, mendadak merasa punya superpower untuk memengaruhi orang lain. Jadi inget mantan satpam di kantor lama, dia paling seneng dikasih tugas check-sound lalu berakhir dengan kultum dan nyanyi-nyanyi gembira. Dia gembira, kami bengong.

Baiklah, saya akan coba dengan bahasa bayi menjelaskan dimana perbedaan Fasilitator, Moderator, MC dan Motivator.

Fasilitator. Arti paling sederhana adalah orang yang memudahkan proses. Biasanya saya diundang untuk membantu proses konsultasi publik yang pesertanya berasal dari beragam latar belakang. Fasilitator tugasnya mendapatkan tanggapan, masukan, ide dari semua orang secara inklusif dan partisipatif. Semua punya kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat dan didengarkan pendapatnya.

Fasilitator tidak boleh menggiring jawab pada tujuan tertentu, untuk sepakat atau tidak sepakat pada satu hal. Tapi memancing peserta untuk berpartisipasi penuh dalam tujuan pertemuan. Boleh merangkum jawaban tapi tidak boleh menyimpulkan. Fasilitator wajib menguasai berbagai tools atau alat kreatif yang memudahkan proses pengumpulan pendapat, mengajak orang terlibat dalam proses.

Moderator. Arti sederhananya moderasi atau menengahi. Ya betul, moderator hadir di tengah diskusi atau debat yang diadakan. Idealnya dalam sebuah diskusi narasumber yang dihadirkan mewakili perbedaan pandangan di publik, dan moderator berada di tengah-tengah. Moderator memastikan kedua perbedaan pandangan bisa dapat porsi yang seimbang. Merangkum dan membuat kesimpulan, menjadi bagian dari tugas moderator.

Meski tugasnya berbeda, fasilitator dan moderator wajib, fardhu kifayah untuk menguasai materi yang dibawakannya. Ini tidak bisa ditawar-tawar dan persiapannya tidak bisa dalam kebut satu malam. Keduanya harus membaca materi, mengubahnya menjadi narasi yang mengalir. Fasilitator dan Moderator harus mengenal narasumber dan audiensnya, menyesuaikan bahasa agar mudah dipahami oleh peserta atau audiensnya.

Karena itu saya sudah sebal kalau ada yang merendahkan profesi ini, persiapannya lama. Berat tahu! Dilan aja belum tentu sanggup memikulnya.

Lalu ada MC. MC atau master of ceremony, dia mengantarkan sebuah acara, perhelatan, seremoni. Yang harus dikuasai adalah panggungnya, dan agenda acara. Makdarit kalau agenda berubah dalam waktu sepersekian menit sebelum acara mulai, MC mukanya udah berlipat tujuh. Kalau ada yang salah penyebutan nama atau agenda acara, MC mempertaruhkan reputasinya di depan orang banyak loh.

Terakhir Motivator, tentu orang yang memotivasi audiens. Dengan pengalaman dan pengetahuannya seorang motivator akan bicara untuk menggerakkan audiens berbuat atau berpikir sepertinya. Ada banyak sekali motivator sekarang ini, kamu pasti lebih paham daripada saya.

Saya bukan motivator, da aku mah apa atuh. Sejak 2015, saya jadi fasilitator setelah lulus dari Inspirit Vibrant Fasilitator kelas. Bagaimana menguasai kelas, itu soal jam terbang, practice, practice and practice. Sampai hari ini saya masih belajar untuk kreatif agar kelas tidak membosankan, mengendalikan emosi sebelum kelas dimulai.

Selain jadi fasilitator, saya masih warawiri di dunia moderasi. Saat jadi moderator, saya akan kurang senyumnya karena harus konsentrasi menangkap percakapan narasumber. Prinsip yang saya pegang adalah moderator sebagai penengah bukan narasumber, jadi jangan sok pinter dari narasumbernya, atau menggiring percakapan agar menyepakati pendapat saya. My opinion is not matter, karena bukan di situ tugasnya.

Semua pekerjaan di atas adalah penampil dan harus bisa menampilkan “pertunjukan” yang terbaik. Menyiapkan mental dan fisik adalah bagian dari pekerjaan. Suara harus dieman-eman, banyak minum air putih, tempo harus dijaga – yang ini masih terus belajar, karena saya kalau ngomong merepet macam rapper. Tidur cukup sebelum tampil, bahasa tubuh harus diperhatikan, dan mental juga harus dijaga. Sebelum tampil, saya tidur cantik, minum kopi dan mendengarkan music yang enak. Sekalipun sekarang panggung itu virtual, saya tetap melakukan ritual yang sama. Mandi dan sikat gigi, penting bukan buat orang lain, tapi buat menaikan mood sendiri.

Ini bukan soal bakat, ini adalah skill atau keahlian yang bisa dipelajari dan menghasilkan cuan. Silakan dikuasai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s