Monthly Archives: Mei 2018

Membebaskan Diri Dari Utang

Standar

Saya ini boros, itu dulu. Tahu cerita Shop-acholic? Saya pernah seperti itu. Setiap kali stress, obatnya belanja, bukan baju bermerk, tapi lebih sering jajan. Tidak terasa, tiba-tiba tagihan kartu kredit membludak! Panik, jelas. Gaji saya tidak besar, dan masih ada tanggungan keluarga. Kartu kredit yang tadinya direncanakan untuk kejadian darurat, akhirnya, blas, semua darurat. Tiap stress, darurat makan, setiap mau ada ketemu klien, darurat merasa ga punya baju. Saya merasa jadi orang tidak tahu diri, gaji ga seberapa, kebanyakan gaya.

Sudah, itu sudah lewat masanya.

Ketika harus pergi sekolah 2015, saya mulai panik. Tagihan sudah banyak, darimana bayarnya, iya kali dibayar pakai uang beasiswa bulanan yang 60% habis buat bayar kos dan biaya hidup. Kawan saya harris bilang, jangan pernah, sekali lagi, jangan pernah gesek kartu kredit di sana (London) ya nit. Pertama karena lintas negara, peluang di hack lebih besar, ngadunya susah. Akhirnya, terakhir menggunakan kartu kredit itu sekitar Agustus 2015, sejak itu sampai hari ini, berhenti!

Sejak 2015 juga, hidup saya seperti dicekek utang. Ya kartu kredit, ya kredit rumah. Senangnya karena tidak ada yang bisa menjangkau saya untuk menagih, tapi saya tahu diri lah, utang tetap utang, mohon bersabar, saiah sedang sekolah.

Pulang sekolah 2016, satu per satu urusan diberesin. Rumah yang sudah masuk proses dilelang, berhasil direbut kembali (sambil nyanyi halo-halo bandung), megap-megap mengumpulkan uang sekitar 11 jutaan untuk melunasi tunggakan. Akhirnya bisa dicicil kembali, masih ada sampai 2025, tinggal sedikit sih, emez belum ketemu rezekinya buat ngelunasin.

Nah kemarin, leganya ya Allah, seperti lancar dari sembelit bertahun-tahun. Akhirnya ada rezeki menutup lunas utang kartu kredit, sampai nilai sennya saya bayar.

Kalau saya di Cina, barangkali saya kemudian masuk dalam kategori penduduk dengan rangking buruk. Sudah tiga tahun tidak menggunakan kartu kredit, masih menunggak pula. Kemarin barangkali naik peringkat, tapi saya sudah berjanji tidak mau menyentuh kartu itu lagi. Seperti panggilan setan, tiap kali kartu itu ada di dompet, mata saya bisa diajak menelusuri mal dan café lucu, lalu ada bisikan “gesek aja, nanti kan tinggal bayar abis gajian.” Pret!

Bebas dari utang itu rasanya luar biasa merdeka. Ibarat kata, jika Allah memanggil saya pulang besok, insya Allah tidak ada beban buat keluarga untuk melunasi utang, tidak ada dendam dari yang berpiutang. Hidup sederhana dan apa adanya ternyata bisa kok, buktinya 3 tahun tanpa kartu kredit, saya masih bisa cakep dan kenyang, masih bisa jalan-jalan pula.

Tabungan gawat darurat buat saya tidak dalam bentuk kartu kredit (lagi!), tapi bisa dalam tabungan di bank, logam mulia, atau perhiasan emas. Setelah satu lubang tertutup, saya sedikit leluasa berpikir untuk menanamkannya pada hal lain, halal dan manfaat. Insya Allah…

 

Iklan

Analisa statistik wordpress nroshita, not bad at all

Standar

Saya sudah nge blog sejak tahun 2005, tepatnya sejak putus dengan pacar pertama. Sahabat saya Citra yang menghadiahi saya blogspot, mungkin karena dia bosan mendengarkan curhatan saya hahaha. Sejak itu menulis di blog menjadi bagian dari perjalanan hidup, ada cerita beberapa orang yang singgah dan membuat saya mendadak romantic gila. Tapi di blogspot. Sementara untuk wordpress nroshita ini, saya mencoba tampak, judulnya juga mencoba, untuk lebih professional sedikit, lebih serius deh. Di sini bicara tentang pekerjaan, pandangan politik saya, perjalanan ke daerah-daerah, semua yang membuat saya semakin cinta dengan Indonesia, tentang masa sekolah, beberapa cerpen dan review buku yang saya baca. Selain melawan lupa, menulis mengikis luka seperti postingan sebelumnya.

Hari ini sambil membuat Analisa statistic website dan sosial media kantor, sekalian saja statistic wordpress ini. Menarik hahaha, saya senyum-senyum sendiri. Buat orang yang cuma iseng punya wordpress, trend jumlah visitor yang naik itu bisa membuat saya tersenyum. Dari tahun ke tahun, grafiknya meningkat loh.

Screenshot (1)

Jumlah di tahun 2018 ini sudah hampir sama dengan 2017 dan ini baru di bulan Mei wooohhhooo… not bad at all kan? Apalagi dibandingkan di awal 2011, 2012 lalu. Waktu itu postingan lebih banyak soal pribadi kayaknya. Makin ke sini saya semakin serius, aduh gawat. Orang serius mati muda.

Screenshot (2)

Lalu saya perhatikan tema yang paling banyak menarik buat pembaca adalah tentang lagi-lagi Agama! Tentang yang berbau Tuhan, God.

Screenshot (3)

Tapi di sisi lain, saya senang, melihat keyword yang dipakai mencari dan ketemunya wordpress ini adalah review buku. Itu kan berarti minat baca itu sebenarnya ada dan banyak, sayangnya barangkali referensi tentang buku yang baik untuk dibaca dan perlu itu, tidak gampang ditemui. Saya hanya mampu membaca sedikit dari ribuan buku yang terbit saban hari, ya iyalah, pengen rasanya mengajak lebih banyak orang untuk membagi ilmunya secara gratisan di web dan sosial media yang orang mudah akses.

Hayuk, kamu, baca buku lalu tulis review versimu, dibagi jangan disimpan sendiri biar pengetahuan itu menular.

 

 

Menulis Mengikis Luka

Standar

Namanya Lukas, tokoh dalam novel kedua saya yang diberi judul Hening. Lukas bikin saya jatuh cinta sampai akhirnya saya putuskan berhenti meneruskan penulisan novel itu. Konyol ya. Tapi begitulah. Tokoh Lukas itu fiksi, tapi sebenarnya ceplokan dari beberapa karakter yang saya kenal selama ini. Kalau kata Mas Q, kawan saya, kita ini bukan Karl May yang otaknya sudah penuh dengan banyak karakter ciptaannya sendiri, sementara kita, harus lihat orang wara-wiri di depan mata, baru bisa mencipta.

Alasan itu memang terbukti. Selama empat tahun saya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari Bandung, London, Berau, dan Bali, selama itu pula, Lukas tetap terpendam. Baru di Jakarta 13 hari, Lukas hidup lagi! Di Jakarta sambil menunggu macet mengurai, saya akan duduk di kafe, menyetel musik di telinga dan mulai menulis, apa pun, termasuk Lukas. Kafe di Jakarta riuh, para pengunjung adalah kumpulan karakter-karakter dalam tulisan saya, mereka menginspirasi. Sementara gunung dan laut membuat saya terkesima tanpa bisa bercerita.

Semesta memberikan tanda buat saya meneruskan tulisan itu. Bukan untuk memenuhi permintaan siapa pun, tapi menulis adalah proses mencipta untuk kepentingan sendiri. Beberapa minggu ini saya bertemu kembali dengan sahabat-sahabat lama, yang tiba-tiba kompak untuk bilang, “jangan berhenti menulis Nit!”

Bersamaan dengan kedatangan mereka kembali, saya harus melewati masa-masa sulit. Harus melewati operasi kuret, dan kami (saya dan akang) mempertimbangkan untuk melepas mimpi menimang bayi. Kami punya alasan kuat untuk ini dan tidak perlu mendengarkan masukkan orang lain, ini akan menjadi keputusan kami. Tapi ada yang sakit di dada. Saya seperti sudah kehilangan seorang anak yang belum lagi jadi milik kami. Yang hilang adalah harapan. Sedihnya berhari-hari.

Sampai suatu hari, hari terakhir saya di kosan lama di Bali. Saya terjaga dengan beban yang tiba-tiba terasa ringan, saya tidak lagi sedih, saya pasrah, sepasrah pasrahnya, saya menerima apa pun yang semesta beri, hari ini atau esok. Hari itu mungkin hari paling bahagia buat saya. Lega ketika kita sudah benar benar pasrah. Satu-satu teman lama kemudian datang memberikan kekuatan, memberi inspirasi. Sampai minggu lalu, saya putuskan, saya akan meneruskan Hening. Saya butuh menulis untuk mengikis luka, bukan sekedar melawan lupa. Saya harus menulis untuk mengubah sedih menjadi sebuah karya. Lagi-lagi ini bukan untuk memuaskan pembaca, maaf, ini untuk mengobati saya.

Hari ini adalah hari ketujuh saya kembali meneruskan Hening dan selesai! 108 halaman, 40.916 kata. HORE! Biasanya ada orang di sebelah saya saat bahagia datang, tapi ini sendirian di kafe Anomali Setiabudi One. Akang yang pertama saya beritahu, dia ikutan senang, jempol!!!

Sekarang Hening sudah selesai diuleni sekalis yang saya bisa, sekarang mari diperam biar mengembang. Saya akan masuk proses editing jika sudah waktunya 😊

Aaah rasanya seperti hidup kembali, kembali mencipta.

writing