Monthly Archives: September 2020

200 Hari Menjaga Kewarasan

Standar
200 Hari Menjaga Kewarasan

Hore! Sampai di hari ke 200 masa pandemi, saya masih waras, sehat lahir dan batin. Saya masih di sini, dikelilingi oleh orang-orang tercinta, suami, kucing, tanaman, keluarga Cimahi dan Cinere, para sahabat yang selalu saling menjaga dan kerabat, sanak saudara juga kolega. Saya diberkati satu ponakan/anak baru, Azki yang hari ini usianya genap 1 bulan. Jadilah anak-anak karantina yang kuat, tabah dan penjaga bumi yang setia setelah semua ini berakhir.

Sama sekali bukan perkara mudah untuk menjaga kewarasan dan kesehatan fisik sepanjang 200 hari ini. Pernah muncul keinginan untuk menyudahi rumah tangga, pernah ingin pergi dari semua hal dan memulai lagi dari awal lagi segalanya. Merasa putus asa, merasa tak akan sanggup melalui semua ini. Semakin orang menyarankan sabar, kembali pada tuhan dan meditasi, semakin saya merasa terpuruk. Gaslighting dari sekitar, bahwa saya begitu lemah, cengeng, pendosa itu nyata. Bahwa kalau saya kalah dan menyerah, itu semata-mata salah saya. Meski tak langsung bilang ke saya, tapi menyatakan bahwa, it is not that bad to stay home, is one of the gaslighting that you give to others. Karena tak semua orang merasa hal yang sama. Begitu sedikit waktu yang dipunya, semakin jauh dari diri sendiri. Harusnya tidak seburuk ini, seharusnya saya bisa bangkit, kita semua bisa bangkit dan embracing this change.

Saya tak sendiri, 64,3% masyarakat mengalami cemas dan depresi karena Covid-19, begitu kata Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dikutip dari Tirto.id Juli 2020, angkanya bisa jadi hari ini semakin tinggi. Bagaimana tidak cemas, bapil yang dulu penyakit harian yang dianggap biasa, sekarang bisa jadi awal kematian. Mulai dari tak bisa tidur, kehilangan minat terhadap apapun, kekhawatiran akan tertular, khawatir pada kesehatan ibu dan mami yang sudah tua. Setiap hari akang pergi untuk sekedar beli ina inu seperti dia pergi ke medan perang, barangkali sama perasaannya saat melepas saya kerja ke Jakarta. Ketika Azki lahir, antara bahagia dan kesedihan luar biasa, bahwa dunia tak sedang baik-baik saja nak, bagaimana kami harus menyiapkan masa depan yang lebih baik untukmu besok hari.

Air mata jatuh tak terbilang banyak dan seringnya. Setiap hari ada saja berita duka mampir di media sosial. Dekat atau tidak dengan orang itu, saya tetap merasa sesak. Begitu dekat virus itu di sekitar saya. Kita tak lagi bisa melacak darimana datangnya dan kapan dia akan membawa kita pergi. Ini seperti cerita Venom, virus mencari “host” yang tepat untuk tumbuh bersama dengan manusia, jika tidak, dia akan memakan habis sel-sela di dalam tubuh calon hostnya. Hari ini dunia mencatat 1 juta orang meninggal karena COVID-19. Al fatihah untuk semua, semoga Allah mencukupkan surga untuk semua.

Saya marah. Marah pada politisi yang menjadikan pandemi sebagai taman bermain kekuasaan. Tertawa-tawa di atas kematian satu per satu nyawa warganya. Menganggap remeh sejak awal, mengatasi pandemi dengan ekonomi bagi-bagi kuasa, menyerahkan urusan kesehatan pada intel bukan medis, kenapa tak sekalian tembak aja virusnya bersama manusia si penderita. Saya marah pada politisi yang tetap berkumpul tanpa masker dan tertawa-tawa mengabadikan momen. Saya marah karena bukan pil penyelamat yang diutamakan tapi pilkada yang dijalankan. Bahwa virus ini menunjukkan wajah aseli kekuasaan negeri yang tak peduli pada masa depan warganya. Saya marah sampai kehabisan kata. Kalau besok saya tiada, bukan karena saya tak berdaya, tapi saya ditiadakan oleh sistem yang gagal mempertahankan saya untuk tetap ada.

Kesalahan Matematika Sehari-hari . Humble PI – Matt Parker

Standar
Kesalahan Matematika Sehari-hari . Humble PI – Matt Parker

Suatu hari dalam sebuah acara seminar bersama mahasiswa, kawan bertanya pada temannya, “sejak sekolah saya selalu bertanya, apa sih gunanya belajar matematika. Selain tentang angka, menambah, mengurangi, membagi dan mengalikan, apa gunanya? Kayak trigonometri, emang ditanya bagaimana mengukur tinggi gunung dalam sehari-hari?”

Setelah membaca Humble Pi, saya jadi tersenyum sendiri. Setiap hari adalah matematika, secara kita sadari atau tidak. Bukan sekedar belanja, jajan dan mengukur jarak dari rumah ke lokasi meski bisa lihat aplikasi. Bagaimana jalan dibangun, dan bola disepak, itu semua dihitung dengan cermat pakai rumus matematika. Lalu saya merasa menyesal tak belajar matematika secara serius dulu waktu sekolah. Saya suka, tapi sekitar saya tak menyemangati saya untuk meneruskan itu. seperti Matt Parker, si penulis buku ini bilang, ahli matematika atau mathematican itu bukan orang pintar dengan angka dan melihat matematika itu hal mudah, justru sebaliknya. Dia adalah orang yang melihat matematika sebagai barang yang sulit dipecahkan dan dia tak boleh menyerah karenanya. Barangkali di situ, saya orang yang gampang menyerah.

Parker ini bekas guru SMA di Australia yang migrasi ke Inggris. Pada bagian propabilita, dia bercerita bagaimana setiap hari memberikan PR kepada siswanya untuk melempar koin sebanyak 100x. Hitung berapa kali gambar kepala dan buntut atau ekor yang ada di atas.  Dari PR itu saja, kata Parker, dia bisa lihat berapa anak yang curang dengan hanya memasukan angka, dan mereka yang jujur melakukannya sebanyak 100x. Manusia itu sulit disuruh random, jadi akan selalu kelihatan berpola dan itu yang diterjemahkan dalam algoritma. Saya manggut-manggut membacanya. Iya juga. Hidup kita itu sangat mudah ditebak dan terjebak dalam rutinitas.

Masih dalam probabilita, Parker menantang istilah “memang sudah jodoh dan takdir” dengan hitungan matematika. Contoh yang dia ambil, pasangan yang bertemu di waktu dewasa ternyata pernah punya sejarah ada di foto yang sama ketika mereka sama-sama kecil. Keduanya tak saling kenal waktu kecil dan ada di frame sama sebuah foto di kerumunan. Apakah itu artinya jodoh? Parker bilang, itu probabilita. Kita tergabung dalam 1 komunitas besar bernama masyarakat, ada berapa jumlah anggotanya, dan hitung berapa kemungkinan kita bertemu satu sama lain? Semakin kecil jumlah angka pembaginya, semakin besar angka kemungkinan itu. Saya lagi-lagi tertampar. Saya bertemu dengan suami di sebuah percakapan di grup regional Bandung. Ada sekitar ratusan orang di sana, maka bisa dihitung berapa besar kemungkinan saya bicara dengannya lalu menjadi dekat. Dia yang seharusnya orang asing, ternyata tidak juga. Kakaknya ternyata kawan dari Eci karena mereka satu kampus di Bandung. Secara matematika, kita tak pernah benar-benar “asing” satu sama lain.

Parker juga menceritakan bagaimana kita tak boleh meremehkan hitungan teknis dalam sebuah benda karena bisa mengundang bahaya. Tentang jembatan yang tidak dihitung dengan baik kekuatannya menampung kendaraan dan gerakan yang melintas, menyebabkan dia ambruk. Tentang mur jendela pesawat yang lepas lalu manajer yang tak menemukan mur yang seharusnya lalu menambalnya dengan mur yang ukurannya paling dekat. Bedanya hanya sepersekian milimeter tapi kesalahan itu mengakibatkan jendela pesawat lepas saat di udara.

Parker juga memprotes gambar sepakbola yang menjadi marka lalu lintas di Inggris. Sepakbola itu hanya digambar dengan hitungan asal, semuanya bergambar pentagon atau prisma segilima yang kalau menurut matematika itu tidak mungkin menjadi bola kecuali permainan menggunakan bola berbentuk donat. Bola dalam permainan sepakbola adalah hitungan jumlah petagon dan hexagon.

Parker mengkritik excel yang “semena-semena” membulatkan angka desimal sementara angka desimal yang banyak di belakang koma itu tetap angka dan punya nilai. Kita juga telah salah menghitung hari dalam setahun karena sistem pembulatan ini.

Buku ini juga didesain ajaib dalam halaman yang dihitung mundur. Buka lembar pertama itu adalah angka 314 lalu mundur hingga halaman 1. Saya langsung merasa pening, bagaimana bisa mengutip buku ini dengan “benar” kalau halamannya tidak biasa dibuat.  Lalu pengantar itu disebut sebagai bab “ZERO” dan daftar isi tentang desimal ya dibuat desimal. Antara 9 ke 10 itu ada 9, 01 dan seterusnya. Buku ini seru karena tidak pernah bertemu dengan model penyusunan seperti ini. Buku yang mengajak saya memerhatikan hal-hal “kecil” sekitar kita tapi punya dampak yang besar. Saya jadi semakin mencintai angka lebih dari sekedar deretan angka di rekening bank.

Hening yang Terbit Tanpa Keriaan

Standar
Hening yang Terbit Tanpa Keriaan

Hening novel kedua saya akhirnya muncul di Google Playbook dan masih berstatus Pre-Order karena jadwal resmi terbitnya adalah 13 September 2020 nanti. Siapa yang menentukan, ya saya sendiri, namanya juga Self-Publishing featuring Google Playbook. Setelah Hening saya munculkan di Facebook, ada banyak pesan bertanya, bagaimana caranya? Kasih tahu ga ya? 🙂

Hening itu novel yang sangat personal buat saya. Bagian mana yang paling dekat sama saya, tentu akan terasa oleh pembacanya. Ada satu bagian tentang persahabatan semasa kecil dengan seorang kawan yang sekarang sudah meninggal dan saya merasa harus diabadikan dalam sebuah cerita. Kepada kawan ini saya berhutang banyak, dia yang menemani saya dewasa, dan saat dia meninggal saya sedang tak ada di sisinya. Novel ini saya dedikasikan untuk sahabat kecil saya Imron Rosadi.

Hening juga terbit tanpa gegap gempita dan keriaan seperti TUN 2013 lalu. Seperti namanya, novel ini terbit dalam Hening. Sejak awal pandemi ramai dan kita semua mendekam di rumah saja Maret lalu, saya sudah bilang pada calon penerbitnya, “Ra, Hening mau gue terbitin e-book aja ya.” Alasan pertama karena saya memang tak ada modal untuk mencetak secara hardcopy. Alasan kedua yang tak kalah pentingnya, ya supaya orang ga usah bela-belain ke toko buku cuma buat Hening, atau saya mesti ke TIKI dan kawankawannya untuk mengirimkan buku pada pemesan. Jangan sampai ada acara peluncuran buku yang offline supaya ga kumpul orang-orang dan yang penting, e-book lebih mudah diakses siapapun dimanapun. Belajar dari TUN yang diminta oleh kawan di Amerika terus saya manyun lihat harga ekspedisinya.

Hening adalah antitesis saya yang mencoba melawan kejayaan Google. Pada akhirnya saya menyerah pada Google karena memang memudahkan semua hal yang saya sebut di atas. Menerbitkan Hening sama sekali ga keluar uang, hanya butuh 12 hari deg-degan menunggu keputusan hasil review Google untuk legalitasnya dan mencegah plagiat. Di Google Playbook saya bisa membaca pergerakan uang masuk, ada berapa yang laku. Bukan pada jumlah uangnya, tapi pada transparansi proses transaksinya. Meski saya sedang bunuh diri dengan memasukkan rekening dalam rekaman big data mereka. *tetep. Kenyamanan memang harus dibayar sangat mahal dengan privasi dan saya sadari itu.

Beberapa bulan sebelum Hening terbit, kawan bertanya “mana yang lebih penting, uangnya atau pembacanya? Hasil penjualan atau karena pengen dibaca banyak orang?” terus terang sampai hari ini saya belum bisa membayangkan akan bergantung hidup dari menulis novel, meski pada 2045 saya berharap bisa menjadi Haruki Murakami Indonesia, boleh dong bermimpi. Tapi kalau kemudian membagikan gratis Hening atau menaruhnya di WordPress begitu saja, akan rentan diambil dan diklaim jadi karya orang lain. Saya sedang mencegah orang lain berbuat curang. Terinspirasi itu baik, mencontek dan plagiat itu haram! Maka dengan Google Playbook, hak cipta saya terlindungi lewat kode GGKey dan bukan ISBN – karena ISBN hanya diberikan kepada penerbitan terdaftar, saya lagi-lagi pejuang kesepian tssaaah, mau nulis the lone fighter. Hening memang jadi percobaan buat saya untuk mandiri, self publishing, ya bukan siapa-siapa, tidak punya massa yang bisa digerakkan untuk membelinya. Semacam tantangan, kalau selama ini saya membantu orang berstrategi jualan, kalau  jualan karya sendiri, bisa nggak ya? dan sampai hari ini belum nyusun strateginya dooong.. *toyor

Untuk yang ingin menerbitkan buku lewat Google Playbook, silakan masuk dulu ke aplikasi itu dan ikuti saja petunjuknya, Mbak Google hadir untuk memudahkan kita kok dengan bayaran privasi, please note it.

Sedikit promosi lagi, Hening adalah tentang kegelisahan para mantan aktivis 98 yang kecewa pada jalannya reformasi yang lamban terwujud. Masuk sistem dong supaya bisa melakukan perubahan, tapi nyatanya, tak ada. Cerita tentang Stockholm Syndrome, orang-orang yang jatuh cinta pada para penculiknya, para penguasa yang dulu mereka caci maki tapi berbalik “jatuh cinta”. Tentang mata-mata yang ada di sekitar kita.

Yang sudah baca tolong tinggalkan komen di sini atau dimana yang bisa saya baca ya. Please jangan memberikan komentar semata hal baik karena saya takkan bisa berkembang dengan pujian, hidung saya saja nanti yang akan kembang kempis. Saya mau jadi Haruki Murakami, bantu nyok…perjalanan masih jauh banget.

Di ini linknya ya https://books.google.co.id/books?id=xAb5DwAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=false (tetap promosi)