Monthly Archives: Januari 2018

Modalnya Bangun Pagi dan Wangi Untuk Selamatkan Desa Teluk Sumbang, Berau, Kalimantan Timur

Standar

Jumat jam 5.30 pagi, Uki pimpinan perjalanan sudah menjemput kami di penginapan, sudah mandi. Lalu lewat Ahmad, pemuda yang tenar di kampung ini saking pendiamnya, itu dulu, hari ini dia bakal menjadi pemandu perjalanan kami. Mereka berdua adalah Sahabat Teluk Sumbang dari Desa Teluk Sumbang, Kabupaten Berau, Propinsi Kalimantan Timur. Sebagai sahabat, mereka tak cuma akan memandu kami menuju lokasi yang indah, tapi juga sahabat perjalanan yang akan berbagi cerita dan pengalaman. Sahabat yang akan membuat kami rindu untuk selalu kembali ke kampung ini.

Lantas apa istimewanya Uki dan Ahmad yang bangun pagi, mandi dan wangi?

Hampir satu tahun saya berada di kampung ini untuk menemani masyarakat desa agar siap menerima energi listrik dari matahari dan air yang akan menerangi kampung selama dua puluh empat jam. Tapi baru kali ini saya melihat dua kawan  ini bangun pagi, mandi dan wangi. Senyum membentang di wajah mereka, semangat membuncah menyambut kelompok pengunjung wisata untuk pertama kalinya ini.

Sepanjang malam sebelummya, Uki, Ahmad, Mail, Salim dan Winggi mempersiapkan menu perjalanan, perlengkapan sampai berlatih berbicara di depan umum. Duh, ada bule pula. Awalnya mereka saling tunjuk, siapa yang akan menemani bule, Dr. Jorg Peters dari Jerman yang kebetulan datang berkunjung untuk melakukan riset di kampung ini. Tapi akhirnya semua tergantung di kapal mana Jorg akan menapakkan kakinya. Winggi langsung tersenyum ketika Jorg memilih duduk di kapal tempat dia bertugas sebagai pemandu. Ya sudahlah, kata dia, pakai bahasa tarzan pun jadilah.

Ada 12 tamu yang akan diantar ke lokasi snorkling untuk melihat terumbu karang, Batu Payung yaitu goa di bawah laut yang terumbu karangnya masih terjaga, lalu ke Tanjung Guntur dan Bukit Berdiri tempat penyu bertelur dan mencari makan.

Di depan dermaga tersedia dua kapal yang akan mengangkut kami, dan ada 6 Sahabat Teluk Sumbang yang sudah siap melakukan tugasnya. Uki memperkenalkan tim Sahabat Teluk Sumbang, menjelaskan aturan yang harus diikuti oleh tamu diantaranya, tidak membuang puntung rokok ke laut, selalu menggunakan rompi pengaman – life fest selama perjalanan, dan tidak menginjak terumbu karang saat snorkling. Lalu Salim memperkenalkan cara menggunakan rompi pengaman yang benar dan memastikan peserta perjalanan menggunakannya dengan benar. Di setiap kapal dipastikan ada kotak P3K, air minum kemasan dan tempat sampah.

Istimewanya Sahabat Teluk Sumbang ini, mereka tak ragu memperlihatkan pada kami hal buruk yang terjadi di kampung mereka. Cerita tentang terumbu karang yang rusak akibat bom ikan, tapi sejak beberapa tahun terakhir, kampung memperketat penjagaan agar tak ada nelayan luar menggunakan bom lagi. Cerita tentang hutan yang dibuka untuk pelebaran jalan, meski hal tersebut mereka butuhkan, tetapi dampaknya terhadap bentang alam juga tak bisa dipungkiri. Lalu pepohonan di Tanjung Guntur yang ditebang untuk oleh pemiliknya untuk membuat pelabuhan kecil dan membuat Sahabat Teluk Sumbang kecewa. Mereka bahkan dalam proses negosiasi dengan pemilik lahan untuk tidak menebas pohon dalam jarak 4 meter dari bibir pantai. Saat kembali ke desa melalui wilayah Tanjung Sinondok, Sahabat Teluk Sumbang menceritakan tentang hutan mangrove yang tak lagi lebat, padahal terdapat ekosistem pertemuan air tawar dan air laut di dalamnya. Juga cerita tentang kehidupan suku Dayak yang telah mendiami hutan di desa ini puluhan tahun lamanya.

Ada tujuh sub suku Dayak yang bergabung menjadi satu wilayah di RT 04 Teluk Sumbang yaitu Gagas, Rukebulu, Riwa, Paleng, Selatan, Cambulu dan Daliut. Mereka hidup dari berladang dan kerajinan tas rotan yang selalu berlapis dua dan membedakannya dengan tas rotan dari wilayah lain di Kalimantan dan memiliki sedikitnya sepuluh motif berbeda. Hidup mereka sangat bergantung hutan sekitar, terutama rotan yang akan hilang bersama gundulnya hutan. Di dalam hutan, Suku Dayak menjaga agar tiga air terjun, pohon tirgis tempat madu hutan berada, goa dan budaya mereka lestari.

Ekowisata hanya bisa berjalan jika alam dan budaya terjaga dan Teluk Sumbang rentan mengalami perusakaan karena selalu dilirik oleh perusahaan sawit dan semen. Ekowisata adalah cara melawan perusahaan yang akan merusak alam dan kehidupan desa mereka. Tapi di sisi lain, Sahabat Teluk Sumbang harus bisa membuktikan pada desa, bahwa lewat ekowisata ekonomi desa masih bisa terangkat tanpa harus menerima investasi dari luar desa yang akan membawa kerusakan pada alam mereka. Inilah yang menjadi semangat bagi Sahabat Teluk Sumbang untuk meningkatkan kapasitas mereka di bidang ekowisata, menyerap habis-habisan pengetahuan tentang keanekaragaman hayati yang ada di sekitar mereka, berlatih berbicara di depan umum dan belajar bahasa Inggris agar punya kepercayaan diri untuk berhadapan dengan pengunjung manca negara.

Empat bulan lalu para pemuda ini masih bingung darimana memulai ekowisata karena selama ini selalu terjebak pada istilah modal berupa uang. Tapi setelah mendapatkan pengembangan kapasitas dan mengenali prinsip ekowisata, Jumat, 22 September 2017, mereka memulai bisnis ekowisata hanya dengan modal bangun pagi dan wangi. Semua perlengkapan yang disewa, dibayarkan setelah tamu membayar biaya wisata. Setelah Sahabat Teluk Sumbang menerima honor pertamanya, mereka bahkan masih mendapatkan tabungan sebagai modal membeli perlengkapan sendiri.

Bukan sekedar lembaran uang kertas yang membuat Sahabat Teluk Sumbang senang, terlebih pada tamu yang puas terhadap pelayanan mereka. Rasanya Winggi tersenyum paling lebar ketika Jorg mengatakan, dari banyak tempat yang pernah dia kunjungi diantaranya Tanzania, Meksiko dan Belize, Teluk Sumbang salah satu yang terbaik (sekalipun perjalanan ini sangat singkat, hanya 2,5 jam) Lalu untuk pelayanan yang diberikan, Jorg bilang ‘You are awesome guys,’ kalian mengagumkan.

Tentu saja banyak catatan perbaikan yang harus dilakukan di depan, tapi menjaga semangat Sahabat Teluk Sumbang agar tak padam adalah pekerjaan besar. Bantu kami menjaga alam, budaya dan semangat para pemuda Teluk Sumbang. Kunjung, kenal, dan jaga bersama. Teluk Sumbang masih punya banyak cerita tentang alam dan manusianya. Jangan lupa tagar #SaveTelukSumbang ya

Copyright dan Copyleft

Standar

Tidak ada itu Copyleft. Tidak ada dalam istilah hukum pastinya. Copyleft adalah antithesis dari copyright. Saya percaya bahwa ilmu itu milik bersama, ilmu jangan dipendam sendiri, makin banyak bergerak menyelesaikan masalah sosial, itu justru makin baik. Kalau ada yang mengadaptasi, mereplikasi kegiatan di tempat lain itu akan lebih baik dan lebih cepat menyelesaikan masalah sosial. DI TEMPAT LAIN loh dan dengan cara yang disesuaikan dengan budaya dan masyarakat setempat. Karyanya boleh dimodifikasi. Dalam music saja, kalau cuma sama nada satu bar tidak akan dibilang menjiplak, tapi memodifikasi, ya kan Dan..

Saya menghargai perjuangan orang yang meneluarkan ide. Bahwa ide itu bukan wangsit yang datang ujug-ujug dari langit macam kanjeng dimas. Ide dan karya seseorang itu datang dari hasil usaha, belajar, berpikir lalu bertindak, tak terbilang doa jutaan kali. Belum lagi modal jatuh bangun dan waktu yang diinvestasikan untuk mewujudkan ide itu.

Tidak ada sebenarnya ide original, yang ada adalah penyesuaian, pengembangan dan yang ada. Kecuali kamu hidup di zaman Da Vinci. Tapi memberi apreasiasi, dan rekognisi itu penting terhadap mereka yang sudah menelurkan karya dan usaha adalah sangat penting.

Copyright, ujungnya adalah monopoli, seperti benih beras atau jagung yang dikembangkan petani lokal dan bikin gerah Mosanto. Cuma mereka yang berduit yang akan mampu membeli copyright dan memonopoli usaha. Dalam karya seni, I do agree dengan copyright, tapi dalam kerja-kerja sosial, copyright hanya akan mengenyangkan ‘korporasi’. Tanpa menghilangkan apreasiasi dan rekognisi terhadap pemegang karya dan usaha awal, kita bisa bekerjasama mengembangkan karya dan usaha sosial di lain tempat. Isu sosial akan cepat kelar kalau penyelesaiannya dikeroyok sama-sama, dengan pembagian kerja yang jelas dan tidak tumpeng tindih tapi saling mengisi.

Di masa segalanya milik ‘bersama’ kita kadang lupa beretika, lupa mengapreasi mereka yang sudah lebih dulu meneluarkan ide dan karya itu. Main caplok dan ceplok, karena merasa yang didengar, dilihat dan dirasa adalah milik bersama, sesuatu yang sudah disiarkan adalah milik bersama, sesuatu yang sudah dibagi adalah milik kita.

Saya tidak sedang dalam krisis ‘keakuan’, saya sedang merasa tidak diapreasi pada niat baik untuk bekerjasama, itu saja. Kamu pasti paham bedanya.

copyleft1

Mesin Tidak Akan Menang. Review Rise of The Machine – Thomas Rid #2

Standar

Begitu selesai membaca buku ini, saya langsung terpukul. Selama ini saya merasa khawatir kalau mesin-mesin itu akan mengambil alih kehidupan kita sebagai manusia, mengambil jatah hidup, pekerjaan kita sebagai manusia. Toh contohnya sudah ada, pekerja tol yang dikurangi dengan uang elektronik, ojek pangkalan yang harus beradaptasi dengan aplikasi. Tapi Rid mengingatkan kembali, ketika Norbert Weiner, si bapak pencetus istilah Cybernetic memprediksi serangan tentara Jerman atas Inggris di perang dunia kedua lewat radar elektroniknya yang akan jatuh pada detik kedua puluh. Prediksi itu salah. Robot mengambil alih kerja manusia, tapi butuh manusia untuk membuat robot. Begitulah singkatnya.

Di buku ini Rid seolah ingin bilang, Homodeus itu ga akan jadi nyata, karena dalam sejarah perkembangan teknologi dunia, selalu ada pola ‘promise, rise, and fall.’ Teknologi menjanjikan kehidupan manusia menjadi lebih baik, teknologi kedokteran membantu manusia hidup lebih lama. Teknologi menemukan puncaknya sejak 40an sampai lebih dari 70an tahun setelah Weiner menelurkan istilah cybernetic. Dalam perjalanannya Cyberculture berubah menjadi Cybercult, mereka yang mendewakan teknologi sebagai jawaban atas kehidupan manusia dan Weiner sebagai nabinya, yang jelas-jelas dia menolak. Lalu muncul cyberspace yang dalam perjalanannya disetarakan dengan LSD, Lucy in the Sky with Diamond. Ketagihan atas dunia maya disetarakan dengan obat-obatan terlarang, membuat orang berhalusinasi.

Feminis melihat cybernetic sebagai pembebasan dari semua yang memecah belah manusia lewat agama, suku dan jenis kelamin. Cybernetic memformulasi ulang identitas manusia, bahkan hidup tanpa identitas. Anarchist melihat cybernetic sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah. Perjuangan mereka atas kebebasan untuk berkreasi, berbagi informasi, dan eksistensi bertolakbelakang dengan negara yang selalu ingin mengontrol warganya atas nama keselamatan bangsa dan negara.

Rid mengingatkan kembali siklus promise, rise and fall. Man-machine menjadi machine-man memang berbahaya. Akan selalu ada hacker yang mencoba membobol demi kebaikan, dan hacker yang menjual informasi untuk kepentingan pribadi, selalu ada inovasi teknologi baru dan akan selalu ada yang bisa mengalahkannya. Kita sedang dalam cyberwar, Amerika selalu akan jadi negara paling rentan untuk dibobol sistem keamanannya, secanggih apapun. Setiap negara saling mengawasi tetangganya, ketakutan-ketakutan untuk melindungi kerahasiaan masing-masing. Semua sangat bergantung pada manusia yang ada di depan laptopnya. Mesin hanya alat. Manusia yang meng – input data bagaimana pun juga, mesin yang mengelola. Jika terjadi kesalahan, tak pernah ada yang menyalahkan mesin, tapi manusia yang menciptakan dan mengelolanya. Rid seperti tidak percaya pada istilah machine that produce themselves.

Saya bukan the technology savy. Saya bahkan bergantung pada orang lain untuk menangani laptop kalau dia lagi ngadat. Saya termasuk yang peduli pada hak privasi saya tapi sekaligus percaya pada kekuatan sosial media untuk menyebarkan ide dan pemikiran, karena dia di belakang laptop dan membiarkan dunia maya liar pun seperti sebuah kesalahan.

Tiba-tiba saya dibawa ke masa saat menulis disertasi master, London 2016. Saya, Dana kawan dari Palestina, seorang arsitek. Lalu ada Mien, curator budaya dari Vietnam dan Yousef, anak S1 dari ilmu computer, seorang programmer. Kami yang tua-tua ini nyaris putus asa menyelesaikan disertasi, mau nulis apa lagi. Lalu kami tiba-tiba satu ide dan menatap Yousef, ‘hey you… kamu kan programmer computer kan? Bisakah ciptakan aplikasi yang bisa menuliskan disertasi buat kami?’

Yang ditanya menatap balik dengan melotot… ‘ide bagus teman. Kalian kan tinggal masukan kata kunci, buku yang menjadi referensi, pertanyaan besar disertasi, dan biarkan algoritma bekerja. Bagian akhirnya, kalian tinggal periksa apakah sudah sesuai dengan keinginan, ya kan.’ Kami hanya bengong, tertakjub takjub dengan jawabannya.

Hari itu mungkin cuma mimpi, tapi saya mestinya tidak perlu heran kalau besok Yousef atau programmer lain berhasil menciptakan Dissertation App.
rise of the machine

 

Suara Anak Muda, Jangan Cuma Jadi Pengisi Jumlah Suara Dalam Pemilu

Standar

Adik saya Leon adalah pemilih muda, usianya tahun ini sekitar 19 tahun. Sewaktu pemilihan presiden 2009, dia gemes banget mau ikutan nyoblos, sayang suaranya belum laku ketika itu. Tahun ini dan besok, sekitarnya pasti akan banyak berkoar, betapa suara anak muda menentukan. Menentukan pasti, menentukan untuk orang tua kembali berkuasa, atau orang muda yang tergilas sistem, ikut-ikutan melorot idealisme dan berakhir dengan jaket kuning KPK…. Politik selalu bisa bikin semangat anak muda tergerus, selalu bisa membuat yang muda yang apatis.

Saban kali menjelang pemilu, selalu juga muncul jargon baru. Anak muda harus berpolitik, harus terjun ke dunia politik. Mulai dari zaman PAN, Demokrat, Nasdem, PKS, lalu sekarang PSI. Darah muda, darah idealisme untuk mengubah negara. Nama-nama anak muda ketika zamannya seperti Anas Urbaningrum, yang bahkan saya ingat sekali, teman saya bilang ‘Anas bisa seperti Obama’, lalu cerita berakhir beda, tragis…. Lalu Masinton… iyaaa… saya pilih dia waktu pemilihan anggota legislative, hasilnya… pret lah…

Anak muda yang baik di dunia politik masih banyak, tapi lebih banyak yang terbungkam, karena setelah kekuasan di tangan, yang pegang tetap kaum tua… anak mudanya masih jadi penggembira. Tukang gasrah-grusuh, buzzer, juru kampanye, atau paling keren jadi ‘staf ahli’. Saya lagi anteng menyimak salah satu teman kecil yang kini sibuk melakukan pencitraan… tserah lu lah bro…

Trus gimana, anak mudanya harus apatis? Ya enggak lah! Betul, suara anak muda menentukan. Tetaplah kamu bersuara lantang, kritis terhadap informasi, berita dan kampanye yang datang padamu, pada waktunya, datang ke bilik suara… di sana sudah terserah kamu. Hanya kamu, paku dan tuhan yang tahu mau ngapain toh.

Buat saya sendiri sampai hari ini belum ada partai yang menarik untuk saya bergabung. Belum ada yang bisa menjawab pertanyaan, kenapa Partai tak pernah terbuka mengungkap sumber dana operasionalnya selain dari bantuan pemerintah? Just Follow The Money, begitulah idealnya pertanyaan yang harus bisa dijawab oleh partai.

Lalu kenapa Partai tak pandai meregenerasi dirinya? Kenapa anak muda Cuma jadi penggembira, kenapa masih orang tua yang sama yang diusung berkuasa?

Sedikit berbagi pengalaman. Setahun di London, saya bergabung sebagai anggota Partai Buruh. Sya Cuma mengikuti Jeremy Corbyn yang dikagumi oleh banyak anak muda. Tidak perlu ber KTP UK, saya bisa ikut menjadi anggota pasif, mendonasi 12 pounds setahun untuk mahasiswa, dan 3 pounds perbulan atau 36 pounds pertahun. Matthew Pennycook, adalah anggota parlemen dari wilayah tempat tinggal saya. Usia Matthew 35 tahun, atau 3 tahun lebih muda dari saya. Setiap minggu selalu ada undangan di email untuk pertemuan dengannya. Kabarnya lagi, saya bisa mengirimkan pesan ke Matthew untuk melihat dia bekerja di parlemen. Ada Sadiq Khan yang juga berhasil memikat anak muda, ada Owen Jones, politikus muda lulusan Oxford yang suaranya kencang di media, menjadi pengamat politik yang kritis. Orang-orang ini tak selalu satu suara ketika Partai Buruh menghadapi masalah pastinya. Tapi kehadiran tokoh yang bisa menggaet suara anak muda itu memang sangat penting. Seperti Bernie Sanders di Amerika, mereka mampu menyuarakan kegundahan milenial yang menjadi ‘korban’ politik generasi tua. Jokowi pernah tampil menarik di 2009, apakah bisa seperti itu lagi? Tantangan itu…

Kembali ke Partai Buruh. Sahabat saya Dan, termasuk yang aktif di partai buruh. Dia adalah anggota Young Fabian, komunitas anak muda kiri di bawah partai buruh untuk mereka yang berusia di bawah 31 tahun. Setiap bulan ada dua kali pertemuan yang isinya itu diskusi politik, sosial dan ekonomi dari sisi pandangan kiri yang temanya disesuaikan dengan zaman, kegundahan milenial. Sejak masih remaja anak-anak muda ini sudah ‘dibina’ dengan Pendidikan politik yang kritis. Setelah itu mereka mau bergeser ke partai lain, ya silakan. Tapi dasar ilmu politiknya sudah dapat. Artinya secara sadar sudah mereka bisa menentukan pilihan politiknya. Selalu ada cela di setiap hal, begitu juga dengan Partai Buruh di UK, tapi yang baik, kenapa tidak diambil, yang jelek, ya jangan ditiru.

Mungkin saya tidak paham bahwa partai politik sekarang di Indonesia sudah dewasa loh. Kalau iya, alhamdulillah. Tapi itu tidak kelihatan, tak terdengar, lalu bagaimana kamu mengharapkan politik akan menarik buat anak muda?

Kapan Pendidikan politik akan dilakukan di sini? Oleh siapa? Uangnya darimana? Pasti gitu deh ujung pertanyaannya. Pendidikan politik untuk anak muda harus dimulai dari saya, dan kamu, the lucky bastard, kelas menengah ngehek yang punya akses pada media sosial, buku-buku dan belajar untuk kritis. Bukan lalu ikut-ikutan menebar kebohongan dan kebencian pada mereka yang masih belia.

Kamu yang merekrut anak muda dalam barisan politikmu, punya tanggung jawab maha besar untuk menjaga mereka tetap pada semangat membangun negeri. Jangan kau tinggalkan, atau aku yang akan terus menghantuimu…

Paham ya

Screenshot_20180113_222900

40 Plus

Standar

Meninggalkan decade 30an, cerita persahabatan pasti ikutan berubah. Saya dan para sahabat berteman di usia 20an, baru lulus dua tahun dari S1. Ketika itu percakapan ga jauh-jauh dari cerita cinta monyet, setiap Jumat malam kopdar di café tenda semanggi, menyanyi keras-keras bersama live music sampai suatu kali disorongkan mikropon, penyanyinya minder sama suara super bagus kami. Bekerja bukan untuk mengejar karir tapi lebih untuk menghidupi gaya hidup. Ga kepikiran buat punya tabungan apalagi beli rumah. Semua serba menyenangkan. Menertawakan sakit hati.

Lalu menjelang akhir dua puluhan, satu persatu pertemanan melonggar. Mulai menikah, artinya mulai sibuk dengan urusan keluarga kecil. Suami yang menempel kayak perangko, pun kalau ga ikutan nongkrong, telepon berdering. Kenapa jam 1 pagi masih di luar rumah? Sama siapa sik?

Di 30an, topik percakapan lalu berubah tentang karir yang mulai stagnan. Mau ngapain lagi sama hidup? Kebutuhan rumah tangga bertambah dengan kehadiran anak dan tuntutan untuk punya rumah. Beban hidup meningkat. Eh ditambah cerita tentang si A selingkuh dengan B, si C bercerai dengan D. Urusan percintaan semakin rumit. Ketika usia 30an saya bahkan pernah bilang sama teman, ‘pernikahan itu tidak menarik karena ga ada contoh menyenangkan dari pernikahan.’

Eh di akhir 30an, percakapan lebih banyak tentang kesehatan. Mana ada lagi cerita nongkrong sampai jam 1 pagi, boro-boro sampai subuh seperti dulu. Pukul 10 malam, mata sudah berat dibuka. Bobok aja. Jabatan mulai naik, seiring juga dengan politik kantor yang seperti angin bertiup kian kencang, saling sikut. Di rumah, tagihan sekolah, listrik, cicilan rumah dan mobil datang beruntun. Oooh dewasa begitu rumit.

Lalu di sebuah kafe, kami berniat untuk we-fie layaknya anak-anak di 20an yang jago banget sekali jepret dengan hasil yang bagus. Kawan saya menarik jauh kamera, menarik dekat lagi, ga ada yang pas. Katanya, Mata udah plus neh, tapi kalau pakai kacamata, makin keliatan tuanya. Satu-satu teman mengadu betapa sulitnya membaca sekarang, harus sering-sering periksa mata. Dan ga Cuma mata, darah tinggi, darah rendah, kolesterol, obesistas menghantui. Kalau mau hidup lama, ya hidup sehat. Satu-satu teman pergi untuk selamanya, oh…

Hari ini saya periksa mata. Empat bulan lagi berusia 40, dan seperti kawan yang lain, barangkali saya akan plus. Tapi ternyata…. Silender saja yang tambah. Itu pun Cuma  0.50 …. Terima kasih semesta, terima kasih masih dikasih sehat untuk melihat yang indah-indah 😊

cek mata

Belajar bisnis sosial, belajar berterimakasih

Standar

Ini bukan postingan motivasi, camkan itu dulu. Saya sedang belajar bagaimana menjadi seorang wirausaha sosial. Bekerja di lapangan sebagai community development, does not mean, saya pribadi memiliki usaha yang mapan. Pernah bekerja di sebuah asosiasi wirausaha sosial pun bukan berarti saya sukes mengaplikasi semua yang kami pelajari di kantor. Saya masih belajar.

Marketing bukan hal baru yang pasti. Empat tahun pegang markom green radio, fundraising buat Ashoka, di akuo menjalani community development, saya belajar marketing dari nol. Tapi menjadi marketing dalam sebuah Lembaga, saya merasa diamankan dengan gaji bulanan, asuransi. Pun kalau gagal dapat klien, saya ga sertamerta dipecat. Begitulah.

Tapi memulai semuanya sendirian itu bukan perkara mudah. Saya pernah menginisiasi MyJunx, yang tadinya diniatkan menjadi bisnis sosial, tapi karena saya breadwinner di dalam keluarga, mimpi itu tertunda lagi. Saya ngamen lagi sana-sini.

Hari ini saya belajar lagi kepada teman yang memang mendampingi bisnis sosial, terutama anak-anak muda supaya bisnis mereka bisa berlanjut. Yang pertama dia bilang, sebelum terjun ke bisnis sosial, kamu harus menghitung dulu berapa besar kebutuhan pribadimu setiap bulan yang harus kamu penuhi? Karena terjun ke sosial bisnis sudah pasti tidak bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhanmu, mungkin setelah 5 tahun. Artinya, siap-siap tidak digaji, tidak ada keuntungan. Bohong lah kalau ada yang bilang, saya memulai segalanya dari nol! Ya ga nol besar. Mereka punya tabungan yang cukup, mereka punya keluarga yang bisa mendukung kebutuhannya, punya suami atau isteri yang mapan, secure secara finansial dan punya nama besar yang ‘digadang’ bapaknya siapa atau ibunya siapa gitu. Kalau selama ini kamu yang jadi tulang punggung keluarga, maka kamu harus bisa siasati misalnya dengan kerja paruh waktu. Secara financial ‘secure’ secara waktu lebih bisa diatur untuk mengerjakan sosial  bisnismu.

Ini karena yang sedang dibahas adalah bisnis sosial. Kalau mau hidup dari semata-mata keuntungan, itu bisnis murni, tapi berbagi ‘keuntungan’ dengan masyarakat dan impactnya buat menyelesaikan masalah sosial, itulah bisnis sosial yang dimaksud. Siap sengsara dulu, enough to support you, tapi bukan bunuh diri dengan sok idealis.

Di buku-buku motivasi bisnis, yang ditonjolkan adalah kemampuan pribadi untuk jatuh 7 kali lalu bangkit 8 kali, you and only you! adakah motivator dan buku-buku motivasi yang menyarankan kita untuk banyak-banyak terima kasih pada mereka yang selama ini menjadi cheerleaders dalam hidup kita?

Secara bapak bukan orang beken, ibu juga orang biasa, tidak ada high profile yang bisa support untuk digadang. Tapi saya percaya pada lingkaran pertemanan yang selama ini dijalin. Kalau saya sedang ngamen, yang lain ikut dalam tim, kalau saya bosan ngamen, yang lain harus ambil peran. Tapi kali ini, saya ingin bisa menaklukan waktu, meneruskan pekerjaan yang sudah dilakukan 8 bulan terakhir ini. Saya terlanjur jatuh cinta pada tempat, alam dan manusia di dalamnya. Pekerjaan belum selesai, tapi mengharapkan dari donasi dan donor semata, bakal susah untuk berlanjut.

Mari belajar bisnis lagi… hup hup hup….

Silent House (Orhan Pamuk). Drama Politik Tiga Generasi Dalam Satu Rumah. Review #1

Standar

Novel terbitan 1983 ini termasuk karya awal Orhan Pamuk. Tapi gaya penulisannya tidak banyak berbeda dengan karya-karya terbarunya. Lamban mengalir, tapi tidak membosankan, emosi yang dibawanya turun naik dan akhir yang mengejutkan. Tidak menggurui, dia hanya bertutur tentang kehidupan, dekat, nyata. Novel-novel Orhan Pamuk itu politis banget, bagaimana pilihan politik keluarga mempengaruhi kehidupan seluruh anggotanya. Pertarungan antara kiri dan kanan, antara komunis dan nasionalis, dalam novel ini.

Diawali dengan disingkirkannya dr. selahatin dari pertarungan politik di kelompok kirinya dan pemerintah nasionalis yang mulai mencari-cari aktivis kiri untuk dimasukan dalam penjara. Menghindari ancaman politik, dia membawa istrinya fatma untuk meninggalkan kemewahan Istanbul dan melipir ke tepi pantai. Selanjutnya seluruh kehidupan keluarga Selahatin bergantung pada sisa-sisa kekayaan Fatma yang menghidupi kebutuhan sehari-hari, sekolah Dugal anaknya, sampai mendanai penelitian ilmiah Selahatin yang dibukukan dalam ensiklopedia. Dugal yang diharapkan memberikan kehidupan baru bagi Fatma, malah mengikuti jejak ayahnya. Membaca buku-buku kiri, melihat ketidak adilan dan terjun ke dunia politik.

Dugal dan isterinya meninggal muda dengan tiga anaknya Faruk, Nilgun dan Metin. Faruk, sejarahwan patah hati sejak ditinggal isterinya dan gagal menuliskan penelitiannya. Nugal, perempuan aktivis yang jelas mengambil posisi kiri seperti ayah dan kakeknya. Metin si jenius yang kehilangan arah karena besar tanpa mengenal ayah dan ibu lalu limbung ketika dimabuk cinta. Cita-citanya adalah menjual rumah keluarga, membangun apartemen lalu memulai hidup baru di Amerika.

Selahatin meninggalkan ‘dosa’, anak haramnya bersama pembantu di rumah besar itu, seorang anak yang kerdil, Recep dan seorang lagi cacat, Ismail, kakinya patah karena disiksa Fatma ketika kecil. Recep mengabdikan 20 tahun usianya mengurus Fatma, sebagai pembantu di rumah itu, tanpa anak-anak Dugal mengetahui rahasia ini. Ismail menjadi tukang lotre, memiliki anak bernama Hasan yang meninggalkan sekolah, terlibat gang politik nasionalis.

Hasan mencintai Nilgun, cinta ditolak, politik bertindak. Nasionalis membenci Komunis. Pada suatu cerita, Hasan memukuli Nilgun karena perempuan itu mengatainya Fasis sinting. Saya tak sampai hati menceritakan akhir cerita mereka berdua dan keseluruhan keluarga.

Orhan Pamuk mengajak kita mengarungi kehidupan politik Turki dari kacamata warga biasa. Alur maju mundur, antara ingatan Fatma tentang Selahatin dan Faruk dengan Selma bekas isteriya. Tapi gaya penulisannya itu loh yang membuat saya terkesan, sebel kadang-kadang. Tidak lazim buat percakapan yang ditulis dalam satu paragraph, dan membuat saya harus membaca ulang, ini siapa yang sedang berkata-kata ya? Setiap bab berganti narrator, satu bab, satu tokoh utama bernarasi. Mengajak saya melihat cerita dari sisi berbeda dari setiap tokohnya. Bahkan dalam tokoh antagonis seperti Hasan, saya ‘dipaksa’ untuk memaklumi apa yang terjadi di dalam dirinya.

Novel 334 halaman ini sudah tidak ada di toko buku, saya menemukannya di tokopedia. Sila berburu. It is worthy.

Silent house

30 Yang Menyenangkan

Standar

Satu dekade lagi dalam hidup bakal segera berakhir. Dalam tiga bulan ke depan bakal memasuki dekade baru, dekade 40an, sedaap. Yang saya ingat, waktu memasuki usia 30, seperti juga kamu saat ini, ada rasa ‘menua’ sementara masih ada segudang mimpi yang belum terealisasi. Usia adalah angka, age is just a number, tapi justru itu, age IS about number! Kamu memang mesti berkejaran dengan waktu dan cita-cita. Own it! Waktu itu kawan, kamu yang tentukan, kamu yang atur. Kamu jangan mau tergilas waktu, setiap hari melakukan hal yang sama, tapi hasilnya cuma cape dan menggurutu, tak ada waktu menuntaskan mimpi.

Kamu memang harus berhitung, berapa lama lagi sisa hidup ini? Mau apa di sisa waktu itu?

Kawan-kawan dekat saya tahu persis, saya sebetulnya menargetkan hidup tak lebih dari usia 60 tahun. Kalau besok umurku sampai di 40, artinya hanya ada sisa waktu 20 tahun untuk menyelesaikan semua cita-cita. Saya ini pecinta hidup dan kehidupan, I live my life fullest, setiap detik ada syukur masih diberi waktu, dan cita-cita sederhana aja, memanfaatkan hidup untuk bermanfaat, buat diri sendiri, keluarga, sahabat dan orang banyak. Saya sudah sangat kaya, dengan sahabat dan keluarga, itu saja. Hidup bukan tentang berapa tabungan yang saya punya, berapa mobil berjejer di garasi, semewah apa rumah yang ditinggali. Hidup itu tentang cinta, tssaaah… eh bener, do what you love and love what you do, sesederhana itu kok. Do what you love, must come first, artinya kamu memilih untuk melakukan apa yang kamu suka. Love what you do, itu kedua, artinya, kalau tak punya pilihan lain dan memilih bertahan dengan situasi saat ini, ya udah, cintai apa yang sedang kamu kerjakan, do not complaint!

Buat kamu yang merasa 30 itu angka tua, ya memang, but grow old gracefully and again, live your life fullest. Here my experiences, one of the best ones in life during 30s:

2008 – 30 tahun,  saya, Dewi dan Mekka pergi ke Bali. Merayakan 30 tahun saya di Hard Rock Café, main parasailing di Tanjung Benoa dan ke Uluwatu. Mekka baru 11 hari menikah waktu itu, tapi kami culik ke Bali, biar rame.

2009 – 31 tahun, Etta sahabat saya telpon, ada rumah murah mbak, gue bayar Booking Fee buat lu yak. Habis itu nyicil DP rumah 4juta perbulan sementara gaji saya Cuma sekitar 7an, masih dengan kebutuhan lain. Akhirnya 4 bulan cuma makan nasi telor dan dibantu kiri-kanan. Supporting system saya memang sangat bagus sejak dulu.

2010 – 32 tahun, akad kredit rumah! Wuiih… akhirnya punya tujuan gaji bulanan, nyicil rumah.

2011 – 33 tahun, saya kenalan dengan Iwan (suami saya, akhirnya), lewat YM messenger. Ngobrol enak, lalu janjian ketemu, eh jalan bareng deh. Mulai menulis novel

2012 – 34 tahun, saya naik gunung Gede, pertama kali sampai ke puncak. Saya keluar dari zona aman setelah 10 tahun 11 bulan di KBR68H, lalu bekerja di Ashoka di Bandung dengan gaji setengah lebih rendah dari sebelumnya. Alasannya sederhana, mencoba sesuatu yang baru, mumpung ada kesempatan bisa jauh dari kepenatan Jakarta dan lebih dekat dengan Iwan.

2013 – 35 tahun, I launched my first novel ‘TUN’, lewat penerbit indie.

2014 – 36 tahun, decided to be a freelancer! Modal berapa tabungan waktu itu? Cuma 2 juta rupiah. Modal paling penting dalam urusan kerjaan adalah jejaring dan percaya diri aja, percaya kalau rezeki itu tak salah kotak, yang penting usaha cuy. Lalu sibuk cari beasiswa, sekolah lagi.

2015 – 37 tahun, I got Chevening scholarship dan berangkat ke UK! Woohhoo… saya adalah yang tertua di kelas, tertua kedua di geng Chevening Goldsmiths. Masuk angin saban pergantian musim, kurus 6 kilo dalam beberapa bulan.

2016 – 38thn, I got my master degree! Lost my best friend Jon, got my first job after graduate and it is awesome! Got a new title as a gender specialist 😊 you lose some, you got some… ada yang hilang dan ada yang datang. Embrace life!

2017 – 39 thn, I got married! Dengan orang yang sama yang bikin jatuh cinta berkali-kali, melewati ups and down bersama. Setelah 39 tahun hidup sendiri, berbagi itu butuh adaptasi. Hidup nomaden, antara CIimahi, Jakarta, Denpasar dan Berau mengukuhkan identitas ke ‘lumut’ an saya, bisa hidup di mana aja dan ternyata hidup saya cuma perlu 1 koper yang ditarik kemana-mana sepanjang satu tahun setengah ini.

2018 — I am so ready for my 40s

Begitulah…. Mestakung, Semesta Mendukung ketika cita-cita yang baik itu ada dan kita berusaha. Enjoy your life, express yourself, embrace your emotion, and grow old gracefully…..

2291_1098467537660_5527_n