Monthly Archives: Maret 2013

Kunti dan Genderuwo

Standar

Pasangan di depan kamar kosku ini bukan Laila dan si Majnun atau Romeo dan Juliet seperti dalam dongeng pasangan romantis yang berakhir tragis. Pasangan di depan kamarku itu seperti setan yang berkasih-kasihan. Aku tak pernah dengar memang ada tokoh dalam dunia persetanan yang berpasangan. Aku bahkan tak tahu apa para setan itu masih memiliki cinta. Tapi mereka manusia yang bertingkah seperti setan.

Aku menyebut si perempuan “Kunti” pendek kata dari kuntilanak dan si lelaki dengan Genderuwo. Tentu aku punya alasan untuk itu.

Seperti setan yang muncul dalam cerita, mereka bertingkah di malam hari dan mengganggu ketenangan manusia sampai fajar menyingsing. Pasangan di depan kamar kosku ya begitu itu. Si Genderuwo tak ada suaranya di siang hari. profesinya polisi lalu lintas, baru sekali aku bertemu dengan seragam lengkap, tugasnya menjaga lalu lintas perjalanan kaum setan barangkali. Tidak tahu dia kapan bertugas, yang jelas tak ada suara di pagi dan siang tapi baru ribut di malam hari. Si Kunti kuliah sore hari dan kembali di seperempat malam. Kalau pagi ke siang si Kunti ini manis sekali, wangi kue yang dibuatnya untuk dijual itu sungguh mengganggu ketentraman bulu hidungku. Kadangkadang dapat bonus mencicip kuenya, uhuy. Tapi belakangan aku mulai sadar jangan-jangan kue itu dia beri untuk membeli hati dan nilai toleransiku bertetangga.

Hari pertama aku tiba dengan kotak-kotak pakaian di pintu gerbang, perempuan yg lalu kupanggil kunti itu sedang menangis meraung-raung “aku tahu aku sudah tidak berarti untukmu yah.” Aku seperti memasuki kotak kuntilanak bernama televisi yang dipenuhi jejeritan pemain sinetron. Aku ragu, apa salah pilih tempat tinggal? Tapi aku terlanjur jatuh cinta pada tempat ini, bangunan dua tingkat dengan sembilan kamar kos yang bercat putih lengkap dengan hiasan dindingnya dan lampu yang terang, ubinnya keramik dan bersih. Sebuah dapur umum dan kamar mandi dengan pancuran pribadi. Sempurna.

Kecuali aku harus pasrah bertetangga dengan pasangan Kunti dan Genderuwo itu. Aku terbangun karena kaget dan hampir terguling dari ranjang karena mendengar suara menjerit, si Kunti berteriak “Siapa ayah, siapa perempuan itu?” Setengah sadar aku melirik jam di Blackberry, 2.38 dinihari dan aku harus kejar penerbangan pagi jam 6. Bagus sekali. Lain pagi aku terbangun terbatukbatuk, rupanya si Kunti masak nasi goreng pedas sekali. Lagi-lagi begitu kulirik jam dan angka menunjukan 3.00.

Malam-malam penuh pertengkaran, tangisan meraung-raung dan ucapan persis diatur seperti dalam sebuah sinetron picisan mengganggu tidurku. Pagi-pagiku diawali dengan kepala pening kurang tidur. Siapa yang lebih gila. Mereka yang seperti setan mengganggu kenyamanan manusia lain atau aku yang bertahan disetani?

Kecintaanku pada kamar ini membuatku bertahan dan menerima pasangan Kunti dan Genderuwo itu tak lebih dari dua pemain sinetron. Aku penontonnya.

Jam 4 pagi, si Kunti keluar kamar sambil berteriak,”Apa maksudmu menodongkan senjata itu? Kamu mau bunuh aku? Bunuh!!”

Dan aku tertawa terbahak-bahak…

Buahbatu 23 Maret