Monthly Archives: Agustus 2020

Perjalanan Melahirkan Novel Ketiga

Standar

Setiap kali menulis novel, meski baru ketiga, selalu ada pengalaman yang menarik dan berbeda satu sama lain. Di novel perdana TUN yang berhasil membuat pembacanya gemes di ujung cerita, kesel sama tokoh perempuan yang menye itu, yang artinya saya berhasil membangun karakter, saya lebih banyak terjebak pada riset. Kritik yang membangunkan saya adalah, too much detail! Kayak jurnalis lu. Novel pertama itu “pesanan” seorang kawan di Myanmar yang ingin saya mengenalkan cerita Mynamar di Safron Revolusi, tentu saja dengan balutan cinta agar mengalir dan menarik, kesampaean ga ya?

Novel kedua, Hening, sempat tertunda selama 5 tahun. Kali ini bukan kebanyakan riset, tapi saya jatuh cinta pada karakter yang dibuat, anjrit banget. Tapi saat menjaga jarak dengan tokoh fiksi ini, saya malah terbawa kehidupan nyata, ya kerja, ya sekolah. Setelah duduk manis di depan laptop dan diniatkan banget untuk menulis, eh kelar tuh semuanya dalam waktu satu bulan. Semua memang tergantung niat. Tssaaah.

Novel yang baru lahir setengah jam yang lalu, masuk dalam generasi karantina, novel covida. Kelamaan di rumah, membuat saya banyak marah, emosi naik turun, sering naiknya daripada turun dan semua itu harus disalurkan. Salah satu yang saya targetkan adalah menyelesaikan satu novel.

Bulan Mei, menuliskan kerangka awal dalam folder tersendiri di laptop. Saya biasa membuat judul awal supaya cerita tetap fokus pada judul dan ga meleber kemana-mana. Mei – Juli tidak maju-maju dari bagian I. Ternyata menulis di masa karantina tidak lebih mudah daripada menulis Hening saat sibuk kerja menderu. Di masa karantina ini pergulatannya pada kewarasan dan perjuangan menjaga emosi. Hari-hari di tempat yang sama, tak ada orang-orang yang lalu lalang yang biasanya menambah inspirasi. Novel ketiga ini beneran lahir di dalam gua, subuh buta, sendirian, penuh emosi di luar cerita. Drama di dunia nyata yang kadang bikin saya ingin banting laptop, tapi tentu merasa rugi. Kacau lah pokoknya, ada ratusan alasan untuk menyerah.

Persis ketika ingin menyerah, teman memberikan hadiah, ikutan workshop Kaizen Writing bersama Dee Lestari di Agustus ini. Kata pertama dari Dee yang akhirnya benar-benar menampar saya, dan membangunkan lagi semangat yang hampir mati, adalah TAMAT! Percuma tuh mengaku penulis tapi tak pernah menamatkan cerita. Sebuah karya baru akan jadi karya kalau dia mencapai kata TAMAT! Bagaimana mencapai kata Tamat itu yang disampaikan Dee dalam workshop ini dan saya tidak akan mengulasnya dengan detail. Kamu harus ikutan dan merasakan sendiri perjalanannya. TAMAT itu bukan deadline, tapi birthdate – sebuah kelahiran.

Dari Dee saya belajar untuk berpikir sistematis, menangkap dan merawat ide dengan penuh kasih sampai dia membentuk menjadi sebuah karya tulisan, apapun itu. Istilah kalkulator kata juga jadi salah satu yang paling menohok. Jadi yang harus dilakukan di awal adalah menentukan kapan tanggal kelahiran sebuah karya aka memunculkan kata TAMAT, dan berapa banyak kata yang ditarget. Lalu untuk pengerjaannya, hitung mundur dari target kata dan dibagi berapa hari kerja yang mau dilakukan.

Untuk bayik ketiga bernama sementara “Kala Kelabu di London” ini hari lahir ditargetkan 31 Agustus 2020 dengan jumlah kata 40.000. Saya berani menargetkan waktu itu karena sudah punya modal awal dan sisa jumlah kata dibagi perhari dengan target 1000 kata dan bekerja 2 jam perhari. Tapi setelah dijalani, ternyata kecepatan menulis fiksi saya adalah 1000 kata per jam! Woohoo, tapi dengan catatan bebas distraksi. Alhasil, bayik ketiga lahir lebih cepat, hari ini 17 Agustus 2020, hari kemerdekaan Indonesia ke 75 tapi isinya totally bukan tentang kemerdekaan, dan dengan jumlah 43.838 kata.

Rasanya plong, hampa, persis seperti saat kelar baca sebuah buku yang menarik. Terus apalagi ya? Dee bilang, tinggalkan saja dulu, biar kata-kata itu berfermentasi sebelum masuk ke proses penyuntingan awal. Pas! Minggu ini banyak libur, ya libur kerja, ya libur menulis. Saya mau bersenang-senang setelah bayik ini menguras banyak emosi dan penuh drama selama pengerjaannya.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya mau menjawab beberapa kawan yang juga ingin menulis tapi ga kelar-kelar, boro-boro kelar, masih dalam angan malah. Jiah… gini loh, memulai itu memang sulit, tapi jangan terus ga dijalanin. Tulis saja dulu, tulis semua yang ingin kamu tulis. Tapi karena ini menulis untuk orang lain, bikin kerangka agar tak melebar dan bukan sekedar tulisan bebas. Dee mengajari saya untuk berprasangka baik dengan pembaca, artinya tidak semua hal detail perlu saya tulis dan jelaskan. Ini bukan jurnal ilmiah. Juga jangan memikirkan tanggapan orang lain tentang tulisanmu. Sebuah karya itu subjektif kok, tergantung selera orang. Buat A mungkin karyamu seringan kapas dan memuakkan, ih biar sih, ga usah dibaca. Buat B, karyamu mengubah cara pandangnya soal dunia, tssaaah.

Buat saya, menulis adalah mengabadikan kenangan. Setiap novel yang saya tulis selalu ada cantolan kenangan yang ingin saya abadikan, dan tentu saja dibalut imajinasi. Bayik ketiga, saya buka rahasia, memang ditujukan untuk bercerita tentang epilepsi dan demensia. Dua hal yang sangat dekat dengan saya beberapa tahun ini. Kedekatan dengan tema bisa merugikan, tapi buat saya lebih banyak menguntungkan karena ada rasa yang hidup di dalam tulisannya.

Okay waktunya bersenang-senang, makan enak….buku peta cerita

Manusia Bukan Tikus Percobaan. Review Lab Rat karya Dan Lyons

Standar
Manusia Bukan Tikus Percobaan. Review Lab Rat karya Dan Lyons

Biasanya saya tak berasumsi sebelum membaca tuntas, tapi membaca bab-bab pertama buku ini, saya berasumsi Dan Lyons ini bombers yang memang ga sanggup ada di kehidupan milienial dan generasi Z yang cepat, berlari, hajar, minta maaf kemudian. Lyons ini dalam bayangan saya adalah staf atau bahkan manajer yang tua yang gagap teknologi, tidak tahu bagaimana “Mute” microphone dan letak kamera pada laptop. Persis cerita-cerita kawan di awal Work From Home saat semua harus beradaptasi dengan teknologi secara cepat. “Oi matiin dulu mic nya kalau ga ngomong,” “oi, matiiin kamera. Lu ngupil ditonton semua orang,” dan seterusnya.

Tapi kemudian saya jelas berubah pikiran dong, itulah fungsinya buku bukan, mengubah asumsi. Lyons menggambarkan bagaimana kejamnya kehidupan di perusahaan perusahaan start ups berbasis teknologi di Silicon Valley. Prinsip Move Fast, Break Things itu terjadi juga dalam tim kerja. Turn over yang tinggi dianggap sebagai konsekuensi dari bisnis yang bergerak serba cepat ini, gaslighting membuat si karyawan merasa bahwa kesalahan sepenuhnya ada di dirinya, dibuat merasa bodoh dan tak berguna dan tak mampu bersaing dengan mereka yang muda. Soal pesangon jangan ditanya, tak ada. Tak ada asuransi, tak ada kepastian masa depan, apresiasi itu taik kucing. Manusia-manusia di dalam start-ups kata Lyons tak ubahnya tikus-tikus percobaan di laboratorium. Berbagai eksperimen dijejalkan kepada mereka, manajemen start-ups memaksa orang mengikuti pola yang berubah-ubah sesuai anjuran para konsultan manajemen start-ups yang tak juga melihat karyawan sebagai manusia tapi sebuah beban produksi yang harus dipacu agar profit tercapai.

Apa sih tujuan orang keluar dari perusahaan lama lalu membuka bisnis sendiri? Freedom, kebebasan untuk berkreasi dan bebas dari tekanan rutinitas terlebih karena ingin menjadi manusia seutuhnya. Tapi begitu perusahaan mulai jalan, mereka persis berlaku seperti mantan-mantan bosnya. Angka bunuh diri dan depresi sangat tinggi di Silicon Valley dalam usia mereka yang tergolong muda, dan itu menyedihkan.

Ada banyak start-up yang mencoba melawan arus dan mereka biasanya punya latar belakang bukan elitis, yaitu kulit putih, menengah ke atas dan lulus Stanford. Ada dua yang masih saya ingat yaitu Q dan Basecamp yang mencoba tetap membuat usaha mereka bisa memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pegawainya. Kalau bos mu bertanya tentang keluarga, anak atau pasanganmu, bahkan hapal nama anakmu, dia adalah bos yang bener. Memanusiakan bawahannya dan menganggap perusahaan sebagai sebuah usaha bersama dan setiap anggotanya merasakan hasilnya. Ini berbeda dengan start-up umumnya yang bilang “kita ini tim bukan keluarga,” man, itu salah banget. Justru dengan memerlakukan staf sebagai anggota keluarga, lalu mereka menganggap sebagai rumah bersama, maka mereka akan bersungguh-sungguh mempertahankan rumah dari keruntuhan, caranya? Bekerja lebih produktif dan kreatif. Sebaliknya memperlakukan karyawan sebagai budak, itu hanya akan membuat karyawan muak, bekerja tidak efektif, lebih sering sakit daripada sehat. Cepat atau lambat perusahaan akan terdampak. Mengganti saban saat karyawan itu bukan jawaban, ongkosnya justru lebih besar, training lagi, mentoring lagi, dan biaya rekrutmen yang ga juga murah. Coba hitunglah.

Sepanjang saya sejarah kerja, saya pernah bertemu dengan berbagai tipe manajemen perusahaan. Di satu perusahaan, ada OB yang hanya sanggup bekerja setengah hari. Dia dimaki-maki dan berhenti persis ketika jam makan siang. Habis itu kan repot cari pengganti dong. Atau sebuah lembaga yang setiap bulan selalu ada yang cabut dengan berbagai alasan. Waktu awal saya pikir mungkin jiwa muda ingin pindah-pindah kerja, tapi bukan itu juga ternyata. Bukan mental tempe kenapa seseorang cabut dari perusahaan yang penuh tekanan. Hal utama penyebab orang keluar bukan kerjaannya tapi bagaimana manajemen berlaku. Ketika teknologi informasi yang seharusnya memudahkan hidup orang malah sebaliknya. Di luar jam kerja, pesan-pesan kerjaan itu berlimpah ruah. Mau tidak mau orang diajak bekerja selama 24 jam. Belum lagi berbagi kalender, Lyon dalam buku ini cerita, berbagi kalender itu buat orang seenaknya menentukan kapan kita bisa bertemu hanya karena agenda di dalam kalender kita masih kosong.

Lab Rat mengingatkan saya pada perjuangan kawankawan menolak Omnibus Law, Ciptakarya yang membuat manusia-manusia hanya sebagai budak kapitalis untuk kepentingan ekonomi nasional. Investasi masuk tidak serta merta penciptaan lapangan kerja terjadi, keuntungan investasi dan ekonomi selama ini berkutat di ujungnya saja, buruh tetap kelaparan, tetap cilaka. Cari sendiri gih penjelasan lengkapnya, sudah banyak ditulis orang.

Lyon menjelaskan ada revolusi dalam ideology kapitalisme. Kita kembali ke tujuan orang kenapa kita berbisnis, persis pertanyaan di paragraph atas. Jika kita membuka usaha untuk memberikan lapangan pekerjaan, maka pastikan itu terjadi. Jika membuka usaha untuk menyelesaikan masalah sosial, maka dalam konteks sosial entreprise atau SE, masalah sosial dan profit dengan margin yang cukup bisa terjadi. Berapa pembagiannya? Lyon tak menjelaskan, tapi karena ini bidang kerja saya, maka saya beritahu ya, porsinya 50+1% keuntungan itu harus kembali pada isu sosial yang ingin diselesaikan. Cukup senang membaca ASHOKA disebut di dalam buku ini sebagai salah satu pelopor SE di dunia loh. Saya pernah bekerja dengan mereka selama 2.5 tahun dan berkenalan dengan fiosofi yang mereka percayai bahwa bisnis sosial itu bukan untuk profit tapi untuk menyelesaikan masalah sosial sembari bisa menghidupi manajemen di dalamnya. Hidup secukupnya…

Sekali lagi saya diingatkan betapa beruntungnya pernah bekerja dengan manajemen yang memanusiakan buruh di dalamnya. Setiap tim yang saya bekerjasama adalah keluarga, jika sudah begitu ada rasa tanggungjawab penuh untuk saling bantu, saling ajak untuk maju. Di KBR misalnya, kami adalah keluarga besar yang saling dukung. Memecah dalam grup-grup kecil perkawanan yang dipertemukan dalam manajemen yang sama, tadinya rekan kerja, dan sampai hari ini malah jadi supporting saya terbaik.

Anak-anak milenial startups, terbukalah untuk mengambil pola-pola lama yang tak seluruhnya buruk. Pernahkah kalian bikin family gathering? Tahu siapa nama pasangan temanmu? Dan kapitalisme tak sepenuhnya buruk, I have to bite my own tongue for this one hahaha, meski berganti rupa kapitalisme dnegan nama-nama cantic seperti decent capitalism, green capitalism, sampe terakhir conscious capitalism, tetap saja capitalism is for profit. Tapi masih ada orang yang menggunakan kapitalisme untuk membantu orang lain, lagi, skalanya tak harus jetar seperti Uber, dan Facebook atau Amazon dan Apple, dalam SE everything starts small, dan keep it small.