Monthly Archives: November 2018

Penjara dan Kebebasan

Standar
Penjara dan Kebebasan

Setiap kita adalah penghuni penjara yang dipaksakan ada, atau kita sendiri yang membuatnya. Penjara itu bernama rutinitas kerja, kebutuhan sehari-hari, uang, karir, perkawinan bahkan kenangan. Cie yang susah move on….

Jangan bicara kebebasan kalau sampai hari ini kau saja tak mampu meluangkan waktu untuk dirimu sendiri. Berapa kali kamu selalu bilang, mana sempat untuk membaca buku, mana sempat untuk bertemu sahabat, mana sempat untuk menemui ibu atau bahkan menelpon beliau. Mana sempat?

Setiap kali bertemu para perempuan penghuni lapas perempuan di Bandung, selalu sedih yang tertangkap di balik keceriaan yang membalut amarah, rindu dan sedih. Kemarin saya berkata, penjara fisik ini bisa jadi saatnya untuk jeda dari kehidupan dan mengamati kembali mana yang perlu dan tidak, mana yang akhirnya memang untuk kita punya dan mana yang tidak. Di luar sini, di tempat saya berada, setiap kita terpenjara sesuatu.

Sahabat saya terpenjara selama puluhan tahun dalam pernikahan yang tidak pernah membuatnya bahagia, bertahan, karena status janda begitu menakutkan di mata sosial. Sampai pada harinya, dia berkata, cukup! Dia menemukan dirinya kembali setelah lepas dari penjaranya.

Orang terdekat saya terpenjara di rumah, harus mengurus kedua orang tuanya yang sakit. Bukan karena terpaksa dia merawat mereka, tapi nyatanya, dia memang harus merelakan semua kebebasan yang pernah dimilikinya hilang, bahkan untuk menjadi dirinya sendiri.

Sahabat saya yang lain kembali masuk rumah sakit. Dokter bilang, kecapaian, badannya drop. Tapi dia bilang tak bisa keluar dari penjara bernama kerja, agenda rapat dari pagi sampai malam lalu diulangi besoknya.

Yang lain, terpenjara usia, takut tua. Sebagian uang di dompetnya habis untuk mengabadikan keremajaan sel-sel dalam tubuhnya. Setiap saat berkaca, takut muncul kerutan, takut kalah bersaing dengan waktu.

Yang terpenjara harta, sampai harus pasang CCTV di rumah, di kantor, di mobil, barangkali di kamar tidur. Takut orang lain mengambil kekayaan yang kabarnya diraih dengan susah payah.

Lalu yang terpenjara algoritma, merelakan satu-satunya harta paling berharga dalam hidup ini, privasi. Demi kenyamanan dan keamanan, kita menyerahkan diri dengan sukarela untuk dipenjara dalam data. Rela disodori tawaran yang sebenarnya tidak kita butuh, disodori keinginan semu, dan rela diawasi.

Dan terakhir terpenjara kenangan… hidup di masa lalu, tak berkemampuan melihat kehidupan saat ini, dan merancang masa depan. Yang terpenjara kenangan baik, tanpa mampu melihat keburukan, yang terpenjara kenangan buruk, tak mampu melihat kebaikan.

Beruntunglah mereka yang terpenjara raga tapi jiwa terbebas melayang, berpikir, berkhayal dan berencana. Paling beruntung adalah mereka yang mampu mendapatkan kebebasan jiwa dan raga, ADA?

Kalau saat ini, kamu masih bilang tak sempat bertemu dirimu sendiri karena sibuk…. Tak usah ikut berteriak memperjuangkan kebebasan. Bebaskan saja dulu dirimu.

Revolusi Industri Keempat. Kenali Masalah, Temukan Solusi Bersama. Review #33 The Fourth Industrial Revolution by Klaus Schwab

Standar
Revolusi Industri Keempat. Kenali Masalah, Temukan Solusi Bersama. Review #33 The Fourth Industrial Revolution by Klaus Schwab

Buku ini karya professor Klaus Schwab, pendiri Schwab Foundation yang memberikan donor pada wirausaha social dan pendiri World Economic Forum. Buku yang penuh optimism terhadap revolusi industry keempat, berbanding terbalik dengan buku dengan tema sama ditulis Yuval Harari yang penuh dengan skeptisme.  Menurut dia, kita memang harus mengakui ada banyak dampak negative yang dimunculkan tapi revolusi itu sedang terjadi dan tidak dapat dihindari, lalu bagaimana kita mampu mengambil manfaat positif daripadanya, itu yang paling penting.

Beberapa dampak negative yang disebutkan Schwab dalam buku ini antara lain:

  • Ada penurunan GDP ke depan terutama di negara-negara berkembang yang mengandalkan eksplorasi dan eksploitasi alam, kemudian jumlah penduduk lansia yang lebih besar jumlahnya dari pada penduduk produktif, peralihan pada industry informasi dan digitalisasi berpengaruh pada pendapatan pajak negara dan pasar buruh yang tergantikan oleh mesin-mesin digital. Dalam buku ini, Schwab menampilkan daftar sejumlah pekerjaan yang terancam hilang dan tergantikan oleh mesin.
  • Sialnya beberapa jenis pekerjaan yang digantikan oleh mesin itu adalah milik laki-laki yang selama ini mengandalkan kekuatan otot manusia, seperti supir, angkut-angkut barang. Sementara itu, ketidakadilan terjadi pada jenis keahlian, selama ini yang menguasai IT adalah laki-laki, secara literasi dan kesempatan menjadi IT, perempuan berada di urutan terbawah.
  • Revolusi digital juga membuat kita kehilangan kesadaran tentang pentingnya privasi, ruang pribadi, yang secara rela diserahkan kepada algoritma dan system pengawasan nasional maupun internasional begitu kita log-in dalam internet. Kasus terburuk adalah pencurian identitas dan kita tak lagi kuasa mengontrol kehidupan pribadi.
  • Meski kita memasuki era revolusi digital, toh masih ada 75% populasi dunia yang tidak terjamah oleh internet, lebih buruk sebagian besar mereka masih berada di revolusi kedua, belum lagi tersentuh oleh listrik. Lalu bagaimana mereka bisa mengejar ketertinggalan ini?

Beberapa dampak positif dari revolusi digital versi Schwab adalah:

  • Kehidupan yang lebih baik, penyakit bisa disembuhkan, kesempatan untuk hidup lebih lama.
  • Ini adalah era keterbukaan. Dengan era keterbukaan pula, kita punya kuasa untuk juga mengawasi kerja pemerintahan dan pengusaha. Terkait dengan bagaimana demokrasi dilakukan, sudahkah pemerintah melaksanakan janji politiknya, itu bisa diawasi terbuka lewat jaringan internet dan gempuran informasi yang sulit dibendung. Terkait dengan pengusaha, bagaimana upaya mereka terbuka dan jujur tidak korupsi, juga bisa diawasi termasuk praktek-praktek hijau untuk melindungi alam.
  • Revolusi industry keempat membuka jalan berkembangnya teknologi hijau, menggantikan praktek bisnis kotor yang mencemari bumi. Seperti berkembangnya energy matahari, teknologi menangkap CO2. Tapi seperti Jason Hickle bilang, apakah teknologi bisa mengejar percepatan perusakan yang terjadi?
  • Ini eranya kolaborasi seperti tidak pernah terjadi sebelumnya. Tidak bisa satu satu kelompok bekerja untuk kepentingannya sendiri-sendiri. Ada istilah sharing economy, ekonomi berbagi, maju bareng-bareng.

Dalam menghadapi eranya revolusi digital, pemerintah punya tanggungjawab berat kata Schwab untuk memastikan ketidakadilan ditekan, memastikan kesempatan yang sama untuk berkembang di lintas daerah, lintas gender. Pendidikan beralih sesuai kebutuhan era digitalisasi, tapi Schwab menggaris bawahi bahwa yang tidak akan hilang dan sebaliknya paling penting saat ini adalah Compassion (kasih sayang) dan Empati, dua hal natural manusia yang tidak bisa digantikan oleh robot sekalipun. Jadi bisa saja dokter diganti robot, algoritma, tapi perawat yang penuh kasih sayang tidak bisa diganti dengan robot.

Schwab punya pesan penting dalam buku ini, semua pihak harus memastikan di era digitalisasi ini kepentingan manusia tetap harus nomor satu, teknologi ini diciptakan oleh manusia dan untuk kepentingan manusia. Memastikan bahwa identitas, nilai budaya dan etika terjaga.

Membaca buku ini seperti sedang membaca sebuah laporan panjang, ditulis dengan model navigation pane, dilengkapi dengan box informasi tambahan dalam isinya dan appendix hasil survey World Economic Forum. Saking menyenangkan model penulisan dengan Bahasa sederhana ini, selesai sudah 115 halaman dalam dua malam.

Sejarah, Fiksi dan Meditasi (really?) di Abad 21 – Review #32 21 lessons for the 21st Century oleh yuval Noah Harari

Standar
Sejarah, Fiksi dan Meditasi (really?) di Abad 21 – Review #32 21 lessons for the 21st Century oleh yuval Noah Harari

Untuk sebuah buku yang bagus, biasanya saya akan berlama-lama untuk menghabiskannya. Selalu ada perasaan kosong, hampa setiap kali selesai membaca buku yang bagus. Karena itu juga kemarin sempat saya jeda hampir empat jam dan berharap menemukan sebuah kekosongan setelah membaca buku ini. Tapi yang terjadi, saya marah-marah, kesal. Dua bab terakhir buku ini membuat saya meradang. Iya kali 18 pembelajaran tentang untuk menghadapi abad 21 ini selesai dengan mencari arti hidup “Meaning” dan bermeditasi! Saya sedang membaca buku yang ditulis seorang sejarawan atau motivator sih?

Tapi bagaimana pun, ada 19 bab lain yang membuat saya bisa bilang agree and disagree atau setuju dan tidak setuju, tapi dua bab lainnya, saya masukkan dalam kategori “ngejengkang”, karena iya membuat saya kejengkang dan teriak, “apaaan sih nih?” huh

Agree:

  • Saya sepaham dengan Yuval ketika dia bilang kita tidak bisa menyangkal kalau Silicon Age – istilah yang digunakan untuk menjelaskan abad ke 21 yang dikuasai teknologi informasi yang berasal dari mekkah-nya di Sillicon Valley. Teknologi di tangan seorang otoriter akan berbahaya untuk kesejahteraan dan keadilan social, seperti sebuah senjata di tangan pembunuh bayaran. Teknologi saat ini hanya dikuasai oleh elit kapitalis seperti Facebook, Google, Amazon, dan teman-temannya.
  • Saya sepakat ketika dia bilang bukan soal pekerjaan kita diambil oleh teknologi, bukan tentang kita akan berperang dengan robot. Ini soal bagaimana kita bisa menguasai mereka. Kita adalah masternya. Karena itu kita perlu belajar dan menguasai teknologi, pertanyaannya siapa yang punya akses untuk belajar lebih banyak, untuk menguasai ini? Hanya sebagian kecil dari penduduk di dunia. Perang dengan robot? Tidak, itu hanya di fiksi sains, karena robot bisa menguasai otak, tapi dia tak dirancang untuk memiliki perasaan.
  • Sepakat tentang kita tak bisa lepas dari pengawasan algoritma, tapi apakah kita benar-benar dikuasai olehnya. Jika kamu menyerahkan semua informasi pada algoritma, mereka akan menentukan pilihan-pilihan yang “cocok” untuk hidupmu, bahkan soal jodoh. Algoritma bisa jadi lebih paham dirimu daripada diri sendiri. Tidak ada “free will” di abad 21, karena semua pilihan itu sudah disodorkan kepadamu oleh algoritma.
  • Manusia adalah makhluk social yang didominasi oleh nilai-nilai yang berlaku di kelompoknya. Dia menyebut fiksi mengubah manusia, dalam sejarah melalui cerita rakyat bahkan agama yang dianut mereka dan membentuk nilai dalam diri manusia. Maka akan percuma mengajak mereka yang “fanatic” untuk melihat dunia lebih nyata.
  • Sepakat perubahan iklim memang lintas batas negara karena itulah harusnya diselesaikan secara global. Tapi aturan mana yang bisa mengikat?
  • Demokrasi yang menempatkan “voter knows best” pemberi suara tahu yang terbaik ikuti kata hatimu. Tapi membuat mereka tahu itu seperti apa? Banjir informasi bohong yang terus menerus sehingga dipercaya sebagai sebuah kebenaran adalah salah satunya. Setelah otaknya berproses menentukan “kebenaran” hatinya akan tergerak, perasaannya akan semakin yakin. Dan itulah yang dituangkan saat mencoblos pilihannya.
  • Bahwa pendidikan pada anak bukan lagi soal angka, nilai yang sebentar lagi akan dikuasai oleh teknologi. Tapi pendidikan harusnya ditekankan pada penguasaan nalar, menjadi kritis dan empati, bagaimana cara menghadapi perubahan dunia yang begitu cepat dan bagaimana menyelesaikan konflik yang ada dan akan terjadi.

Disagree:

  • Waktu dia bilang bagaimana saya bisa dipersalahkan karena tidak tahu darimana makanan yang ada di piring saya dan darimana asal pakaian yang saya pakai? Ini terkait isu perubahan iklim. Menurut saya, oh iya cari tahu dong. Itu lah gunanya gerakan kembali ke produk local om, supaya kita paham siapa yang memproduksi semua yang kita konsumsi, supaya kita bisa berbagi paling tidak mencoba untuk adil. Lagi pula itulah gunanya teknologi om, dalam industry perkayuan lestari, ada barcode untuk lacakbalak darimana kayu itu berasal sampai siapa yang menanamnya. Begitu pula tentang kerjaan RSPO, melacak asal minyak sawit yang katanya lestari. Ngono loh…
  • Waktu dia selintas bilang, sebuah persoalan bisa jadi sangat rumit (just ask woman) itu maksudnya apa ya? Kalau dimaksudkan untuk bercanda, sungguh tak lucu om.
  • Saya menghormati pilihan orientasi seks seseorang, tapi ketika dia bilang “one cannot control their desire” sementara di bab 23, meditasi membuat kita bisa mengontrol pikiran, bukankah itu kontradiktif? Seseorang yang bisa mengendalikan tubuhnya, otaknya dengan meditasi, tentu harusnya bisa mengendalikan napsunya, termasuk napsu untuk membunuh misalnya. Amit-amit.

 

Edisi Kejengkang:

  • Yuval berlama-lama di bab 22 tentang Meaning, bagaimana mencari arti kehidupan di abad 21. Saya gagal paham kenapa dia mesti membahas film kartun Inside Out, Simba dan Willow berpanjang-panjang, apakah saya sedang membaca review film? Lalu apa korelasi singkat dan tepat antara mencari arti kehidupan dengan kehidupan abad 21 yang serba cepat ini? Saya kok merasa, setelah 18 bab mengritik agama yang fiksi, dia justru sedang terjebak oleh fiksinya sendiri tentang “Meaning” sialnya mengambil contoh fiksi Hollywood pula. Saya paham secara individual betapa perlunya kita mencari arti kehidupan pribadi, tapi kan kita sedang berbicara manusia sebagai makhluk social, bagaimana mencari arti kehidupan pribadi bisa mempengaruhi nilai social yang ada di sekitar kita? Saya tidak berharap seorang sejarawan yang skeptic tentang agama, dan nilai politik ini menawarkan solusi individual untuk menghadapi abad 21, kenapa tak menawarkan sebuah perubahan sistemik?
  • Secara pribadi, saya paham, kita perlu mengambil jarak untuk mengamati dunia. Pause and observe. Tapi itu juga tidak saya harapkan keluar di buku ini. Meditasi itu pengalaman perorangan, bagaimana sumbangannya untuk mengubah sebuah kehidupan social untuk selamat di abad 21 ini, om? *tariknapas lupa hembuskan.

 

Dibanding tiga buku lainnya, barangkali buku ini justru antiklimaks buat saya. Homo Sapiens dan Homo Deus punya kesan intelektual yang kuat pada saya, di sini, lagi-lagi saya mesti bilang kecewa. Atau mungkin saya yang gagal paham maksud dan tujuan buku ini dibuat 🙂

Belajar Menulis Dari Balik Jeruji

Standar
Belajar Menulis Dari Balik Jeruji
Hari ini, 14 November 2018, menjadi pertemuan kami, Kait Nusantara dengan Warga Binaan di Lapas Perempuan Kelas 2A Bandung yang ke 10 untuk Kelas Perempuan Menulis yang sudah berlangsung sejak pekan pertama September lalu. Awalnya kelas Perempuan Menulis ini untuk memperkenalkan menulis sebagai kegiatan yang dapat “menyembuhkan” luka, stres dan depresi yang mungkin dialami oleh Warga Binaan. Tetapi seiring waktu berjalan, kelas Perempuan Menulis di Lapas ini malah menjadi bagian dari sebuah wacana besar dari Ditjen Pemasyrakatan Kemenhukham untuk program Remisi Literasi.
 
Remisi Literasi adalah pemberian remisi kepada narapidana yang membaca buku, kegiatan ini meniru langkah yang dilakukan Lapas di Brasil dan Italia. Direktur Pembinaan Napi, Latihan Kerja dan Produksi Ditjen Pemasyarakatan Kemenhukman, Harun Sulianto mengatakan, “di Brasil dan Italia, Napi yang baca buku setebal 400 halaman dapat remisi minimal 4 hari, dan jika baca 12 buku setahun dapat remisi hingga 48 hari,” seperti dikutip dari media Kumparan, 24 Februari 2018.
 
Sebagai bagian dari wacana tersebutlah, 20 September lalu adalah tenggat waktu penyerahan karya tulis warga binaan berupa esai, cerita pendek dan puisi untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Lapas Se Indonesia dengan tema besar, Jejak Langkah Menuju Kebebasan.
 
Kehadiran Perempuan Menulis dari Kait Nusantara adalah sebuah kebetulan, kami menyebutnya, memang sudah jodoh untuk mengerjakan proyek ini. Modul yang semula diperuntukkan sebagai “healing” atau terapi penyembuhan, malah menjadi proyek pelatihan menulis yang dikebut dalam enam kali pertemuan.
 
Pertemuan pertama dihadiri 25 perempuan yang lebih bersemangat untuk mendapatkan remisi daripada belajar menulis, karena pada dua pertemuan berikutnya menyusut menjadi paling banyak 10 perempuan. Tapi begitu mendekati hari penyerahan tulisan, kembali saya dihujani banyak tulisan yang minta dikomentari. Semestinya menulis adalah proses belajar untuk mengenali diri, lingkungan, belajar observasi dan menyampaikannya dalam bentuk deskriptif ke dalam sebuah bentuk cerita atau story telling. Sayang memang, kami Perempuan Menulis hanya punya waktu sebentar untuk menamati modul belajar menulis. Berjibaku menulis tangan, lalu saya bantu edit, ditulis ulang dengan tangan, lalu disalin oleh petugas Lapas dalam format “Word”, diedit lagi oleh pihak lapas, yang lolos dalam seleksi merekalah yang kemudian dikirimkan kepada panitia. Proses yang panjang.
 
Bagaimana pun, jika Remisi Literasi akhirnya diberlakukan, adalah sebuah gebrakan yang patut diapreasiasi untuk Kementerian Hukum dan Ham yang satu langkah lebih maju dari Italia dan Brasil. Seseorang tidak akan bisa menulis tanpa membaca, mereka yang menulis sudah pasti membaca. Tak harus ditarget dengan membaca 12 buku tahun, tapi harus mampu menulis berbagai karya fiksi maupun non fiksi. Membaca saja tak cukup, tapi membaca dengan kritis dan dituangkan dalam tulisan, semestinya bisa mengubah seseorang dalam memandang hidup.
 
 
Remisi literasi bukan untuk Napi Tipikor
 
Menjelang tenggat waktu penyerahan karya tulis, ada setidaknya lima orang yang tetap santai tidak memberikan contoh tulisannya pada saya. Selama proses belajar kilat itu, salah satu di antaranya Ibu Nia, punya cerita yang menarik dan layak untuk dituliskan sebagai sebuah esai atau mungkin cerpen. Semasa bebas di luar Lapas, Ibu Nia orang yang sangat sibuk, matanya tak lepas dari layar telepon genggam, bisnis dan bisnis. Ketika anak perempuannya yang beranjak gadis berbicara dengannya, ibu Nia hanya menyahut sekedarnya, sibuk. Sampai saat ibu Nia divonis harus menjalani hukuman di Lapas ini, sang anak menyindir “sekarang ibu lepas dari hape, punya waktu untuk mendengarkanku tapi tak ada di sampingku.”
 
 
Cerita itu begitu kuat buat saya untuk diceritakan olehnya, sebagai bahan refleksi para orang tua di mana pun berada, di luar lapas. Saya mendorongnya untuk menuliskan itu, tapi hanya ditimpali dengan ogah-ogahan, “Saya mau menuliskan itu, tapi bukan untuk lomba. Percuma mba, kami napi tipikor mau ikut apa pun percuma, tidak akan dapat remisi kalau tidak bayar denda dari vonis pengadilan. Saya ini apa? Katanya korupsi, tapi sumpah mba, membayar denda saja tidak sanggup, tidak pernah lihat uang yang dituduhkan itu.”
 
Saya merasa tersentuh. Kalau segala macam pembinaan tidak berarti reward buat warga binaan kasus tipikor, kecuali melunasi denda, lalu pembinaan macam apa yang membuat mereka berubah dan menjadi “lebih baik”? Maka tidak heran kalau mendengar cerita-cerita sumbang tentang proses pembinaan yang sia-sia di lapas sebelah, atau lapas kelas 1 Sukamiskin yang didiami Setya Novanto dan kawan-kawannya yang bermewah-mewah di dalamnya. Mereka mau lakukan apa lagi coba? Belajar bikin roti? Menyablon kaos?
 
Dalam Peraturan Pemerintah No.99 Tahun 2012, tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan pasal 34A ayat (1), disebutkan Pemberian Remisi salah satunya kepada narapidana tindak pidana korupsi dengan syarat “telah membayar luas denda atau uang pengganti sesuai dengan putusan pengadilan”
 
Tentang pembayaran denda juga disebutkan dalam Pasal 10 huruf b Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia No.3 tahun 2018 tentang Syarat dan Tata Cara Pemberian Remisi, Asimiliasi, Cuti Mengunjungi Keluarga, Pembebasan Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas, dan Cuti Bersyarat (“Permenkumham 3/2018”), sebagai berikut:
 
Narapidana yang melakukan tindak pidana korupsi untuk mendapatkan Remisi, selain harus memenuhi pesyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 juga harus memenuhi syarat:
 
Bersedia bekerjasama dengan penegak hukum untuk membantu membongkar perkara tindak pidana yang dilakukannya; dan
 
Telah membayar lunas denda dan uang pengganti sesuai dengan putusan pengadilan.
 
“Kami mau belajar menulis, karena memang ingin belajar menulis mba Nita,” begitu kata Ibu Nia dan lima napi tipikor lain kepada saya setelah lewat tenggat waktu lomba karya tulis tingkat Lapas se Indonesia. Itu lah yang membuat kami semangat untuk melanjutkan proses Perempuan Menulis hingga pertemuan ke 10 ini. Apakah kami punya target? Iya, maunya kawan-kawan kami menerbitkan sendiri buku kumpulan cerita pendek dari Lapas Perempuan Kelas 2A, Bandung.
 
Mengutip Arswendo yang pernah ditahan di Salemba, “ tempat terbaik untuk jadi pengarang itu adalah di dalam Lapas, karena keberagaman Napi dari berbagai latar belakang dapat dijadikan tokoh menarik, kemudian ada konflik dan ada keunikan materi, sehingga cerita di Lapas pasti menarik.”
 
 
Perempuan Menulis di Lapas Perempuan
 
Dari sekian banyak kelompok perempuan, kenapa Perempuan Menulis dari Kait Nusantara memilih Lapas Perempuan? Sebuah pilihan secara kebetulan. Perempuan Menulis tidak secara khusus menargetkan Lapas Perempuan sebagai pilihan pertama program ini. Tetapi kami bersyukur mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman dan meningkatkan literasi perempuan yang menjadi Warga Binaan di Lapas Perempuan Bandung ini.
 
Di awal-awal perjumpaan, kegiatan menulis menjadi ajang curhat penuh cucuran air mata setiap kali kata kunci, ibu, makanan, dan anak dilemparkan untuk menjadi sebuah cerita. Pada pekan berikutnya, menulis bukan sekedar ajang curhat dan penyembuhan, tapi sebuah keterampilan yang bisa dibawa pulang saat keluar nanti. “Bisakah kami hidup dari menulis?” tanya ibu Dewi. Saya jawab dengan senyuman, selama ini, kekuatan saya di menulis dan menulis memberikan saya kehidupan. Kemampuan menulis laporan dengan deskriptif dan bercerita menjadi sebuah keunggulan di masa semua orang menulis kaku hanya berdasarkan diagram, angka, tanpa bunyi.
 
Kawan-kawan mulai belajar menggunakan otak kanan untuk berkhayal di luar jerujinya. Biarlah jeruji memenjarakan fisik mereka, tapi tidak kemampuan imajinasi mereka. Bisa jadi keluar dari Lapas mereka bisa menjadi pendongeng yang hebat, penulis cerita anak, penulis puisi dan penulis skenario seperti yang dicita-citakan salah satu warga binaan bisa terwujud.
 
Perempuan Menulis hanya memperkenalkan proses teknis penulisan yang deskriptif dan bercerita, sedangkan tema dan gaya penyampaian, dibebaskan. Desember 2018, kami berharap sudah dapat menerbitkan kumpulan cerita pendek karya Warga Binaan Lapas Perempuan Kelas 2A, Bandung.

Apa Perlu Membangkitkan Sebuah Kenangan Buruk? Review #31 The Buried Giant – Kazuo Ishiguro

Standar
Apa Perlu Membangkitkan Sebuah Kenangan Buruk? Review #31 The Buried Giant – Kazuo Ishiguro

Sepasang suami isteri lanjut usia Axl dan Beatrice melakukan perjalanan mencari anak semata wayang mereka. Tetapi si suami Axl bahkan tak lagi ingat bagaimana rupa anak mereka, di mana dia tinggal dan bagaimana dia meninggalkan orang tua rentanya ini. Beatrice sang isteri samar-samar mengingat dimana dia tinggal. Ketika merasa warga di desa mereka tinggal tak lagi menerima kehadiran mereka, keputusan itu diambil, pindah ke desa tempat anak mereka tinggal. Dimana pun itu, Axl memasrahkannya pada ingatan sang isteri.

Cerita menarik terjadi sepanjang perjalanan, pertemuan dengan dua ksatria Saxon dan Briton yang sepanjang sejarah terutama saat Raja Arthur di Inggris berkuasa, perang besar terjadi. Jutaan orang mati, bahkan anak-anak dibunuh dengan alasan mematikan satu generasi yang akan tumbuh dengan kebencian kepada Briton. Kedua satria ini masih ingat tentang sejarah itu, meski saling bersitegang tapi mereka menghormati pasangan renta ini. Mereka tak lagi hanya ingin bertemu anak mereka, tapi juga membunuh naga yang telah menghembuskan napas yang membuat semua orang seantero Saxon dan Briton kehilangan ingatan. Kehilangan ingatan membuat kedua bangsa berseteru itu menjadi bersahabat, hidup berdampingan dan kebencian terputus.

Mereka berkumpul di biara, seorang pendeta bijak mempertanyakan misi ini, “Untuk apa membangkitkan ingatan yang mungkin akan mengubah “kebaikan” yang sedang terjadi? Bukankah ada hal-hal yang sebaiknya tersembunyi dalam ingatan dan tidak perlu dibangkitkan kembali?

Pasangan renta yang mesra sepanjang perjalanan itu pun berjanji jika semua ingatan mereka kembali termasuk yang terburuk, tidak akan ada yang akan berubah di antara mereka, tetaplah mesra seperti saat ini, tetaplah saling asih dan asuh.

Baca sendiri ya apakah misi mereka membunuh si naga berhasil dan ingatan mereka kembali.

Buku ini sudah sempat dilewati tiga buku lainnya, karena perlu waktu lama buat saya untuk bisa menikmati buku ini. Pilihan kata yang digunakan di buku ini bikin kening saya berkerut, tidak familiar, barangkali karena disesuaikan dengan seting cerita di masa lalu. Misalnya menggunakan kata “errand” dan bukan “business or matter” untuk bilang “menyelesaikan tugas,” atau “apa yang menjadi urusanku” atau memilih kata “foe” untuk bilang demon or evil. Tapi secara keseluruhan cerita ini menarik dan indah menggambarkan kehidupan pernikahan yang sudah puluhan tahun dengan suka dan dukanya, mempertanyakan cinta yang mungkinkah semesra dulu.

Cerita naga yang penuh filosofi, kalau kita bisa melupakan hal buruk, kenapa harus mengingatnya kembali? Kalau bisa memilih mana hal untuk dilupakan, bisakah itu dilakukan? Yang paling seru adalah jika sebuah sejarah buruk dilupakan untuk memutuskan rantai kebencian, apakah etis untuk dilakukan?

Anak-anak yang lahir dan bertumbuh dari keluarga yang membenci tetangganya, akan melahirkan generasi penuh dendam, kebencian abadi, perang yang merugikan semua pihak, tak ada pemenang. Dengan alasan untuk memutus mata rantai itulah, Merlin mengutuk napas sang naga menjadi obat pelupa bagi siapa pun yang dilintasi kabut napas itu.

Apakah kita perlu melupakan sejarah gelap bangsa ini juga? Apakah rekonsiliasi bisa terjalin dengan melupakan sejarah yang pernah ada?

Selesai membaca buku 362 halaman ini, saya akhirnya paham, Kazuo memang layak mendapatkan nobel sastra. Iya dong, sebagai murakamian sejati, saya perlu paham kenapa selalu orang lain yang dapat nobel dan bukan murakami yang jadi langganan kandidat penerima nobel sastra bertahun-tahun.

Mengembalikan Masa Kecil – Review #29 Matilda dan #30 Charlie and The Great Glass Elevator

Standar
Mengembalikan Masa Kecil – Review #29 Matilda dan #30 Charlie and The Great Glass Elevator

Ketika memajang foto buku Matilda dan Petualangan Charlie dan Wonka dalam Lift Kaca, teman-teman bilang “ah itu buku favorit aku sejak kecil.” Buat saya, ini kali pertama membaca buku karya Road Dahl, meski pernah menonton film yang diadaptasi dari bukunya seperti Charlie and the Chocolate Factory.

Masa kecil saya tidak terpapar oleh buku-buku Dahl, tapi lebih banyak komik yang memang sembarang saja saya ambil dari kamar om, pinjam teman, menyewa yang satu bukunya senilai 25 – 50 perak perhari. Saya membaca Tatang S, Wiro Sableng, Kong Ping Ho entah sampai seri berapa, Lupus, sampai Freddy S, Abdullah Harapan, yoi, buku-buku yang seharusnya tidak dibaca oleh anak seumuran saya waktu itu. Sementara buku koleksi papi isinya tentang sejarah Polri, Dwi Fungsi ABRI, Soekarno Penyambung Lidah Rakyat, Pantjasila Moh.Yamin, dan sebagainya, tapi karena itu buku tebal dan tidak ada gambarnya, ya cuma jadi pajangan buat saya. Kalau mau membaca cerita anak, saya harus pergi ke rumah uwak yang berlangganan Bobo, atau menguntit sahabat saya Yudhi yang punya koleksi donald bebek dan lima sekawan di rumahnya. Koleksi di perpustakaan sekolah SD saya dulu isinya adalah cerita rakyat, yang sampai hari ini selalu mengganggu kepala, kenapa isinya hanya tentang balas dendam, azab dan kekerasan? Ada yang salah dengan dongeng rakyat, sejak kecil saya sudah ditakut-takuti tentang itu semua sementara buku anak harusnya bisa bikin tertawa dan bahagia.

Keluarga saya tidak mampu membeli buku anak-anak karena uangnya difokuskan untuk beli buku pelajaran. Itu saja kadang tidak cukup, dan saya pinjam dari sahabat kecil saya Bambang, menyalinnya sampai habis atau kadang papi membawanya ke kantor untuk di foto kopi. Terus ya kalau saya baca buku di luar buku pelajaran, mami dan papi melotot, jadi sering banget membuka buku pelajaran tapi di dalamnya adalah komik.

Karena itulah, ketika saya melintas lorong buku anak, saya tersenyum bahagia, rasanya seperti kembali ke usia 10 tahun, seperti Kakak Zi sekarang. Saya girang, melompat bahagia, memeluk erat buku-buku itu, menciumi bau kertas, waktu yang pernah hilang itu kembali. Sekarang saya mampu membeli buku-buku ini pakai uang sendiri. Rasanya selalu seperti itu setiap kali berhadapan dengan buku anak-anak, dan saya membacanya sebelum melungsurkan kepada Kakak Zi, selain dengan alasan mengedit apakah buku ini pantas dibaca dia.

Membaca buku anak-anak setelah dewasa memang beda reaksinya, lebih banyak bertanya kenapa begini dan kenapa begitu ketimbang menikmatinya seperti anak-anak tanpa bertanya. Begitu juga ketika membaca Matilda, kenapa Roald Dahl menceritakan kekejaman Miss Trunchbull dengan sangat gamblang, menjambak dan melempar anak-anak, seram sekali. Kalau kejadian itu terjadi saat ini dalam dunia nyata, Miss Trunchbull jelas akan berakhir di penjara karena melakukan penganiayaan terhadap anak-anak. Tuh kan, saya berpikir layaknya seperti orang dewasa. Padahal saya harusnya menikmati saja bagaimana Matilda membalas orang-orang yang melakukan perundungan terhadap dirinya dan juga anak-anak lain. Tapi kan saya mengajarkan kakak Zi untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, lalu Matilda melakukan hal itu. Waduh.

Di Lift Kaca, saya pasti akan kesulitan menjelaskan kenapa Wonka memberikan pelajaran kepada mereka yang serakah, terhadap nenek dan kakek Charlie yang dibuat menjadi bayi bahkan menghilang lalu membuat salah satunya menjadi sangat tua. Kenapa ada banyak sekali kata-kata makian dalam buku ini? Sekali lagi Waduh!

Buku ini belum saya lungsurkan kepada Zi, karena dia sendiri sedang sibuk dengan kesenangan barunya, Squishy dan menonton K-Pop. Dia bilang, nanti saja bukunya aku baca. Lalu saya galau, saya harus siap mendampinginya membaca, siap dengan pertanyaan-pertanyaan cerdasnya yang barangkali juga menjadi pertanyaan saya, kenapa begini, kenapa begitu. Atau sebaiknya tidak usah saya berikan hahaha… biar dia membaca tentang anak gadis yang menanam pohon dan menerima kebaikannya darinya.

Atau sebaiknya biar saja dia berproses mencerna sendiri apa yang dia baca? toh saya tidak ikutan Sableng ketika membaca Wiro Sableng atau kepingin berantem karena membaca Ko Ping Ho.