Monthly Archives: Agustus 2016

Saya dan Tariq Ali

Standar

Sejak 2005-2006 saya sudah melahap empat novel karya Tariq Ali. Tanpa benar-benar tahu siapakah dirinya. Novel yang berjudul Kitab Saladin membuat saya jatuh cinta sepenuhnya pada sosok Saladin dan selanjutnya membaca lebih banyak cerita perang salib, tentang King Richard termasuk di dalamnya. Tak sampai sana saja, sejak itu pula segala sesuatu yang punya akan dikaitkan dengan Saladin. Sepeda dan bakal calon anak lelaki nanti akan diberi nama Saladin.

Saya berhutang banyak pada Tariq Ali. Tak cuma tentang Saladin, tapi juga tentang cerita bagaimana Islam menjelajah eropa dan mengubah kehidupan di Spanyol dan Itali. Tentang bagaimana hubungan lelaki dan perempuan yang harus beradaptasi kalau tidak ingin menentang budaya yang ada.

Sewaktu Tariq Ali ke Jakarta, sekitar 2011 dan memberikan kuliah umum di Salihara, saya masih di utan kayu dan baru tahu di hari itu. Segera saya menghiba pada Irvan gendut sahabat saya untuk mengantarkan saya dari utan kayu ke cinere untuk mengambil empat koleksi novel yang dia tulis, lalu ngebut lagi ke salihara untuk minta tandatangannya. Saya tidak cuma dapat tandatangannya tapi bisa mencuri foto bareng dengan Tariq Ali.

Lima tahun kemudian

Mendarat di London tanpa embel-embel harapan bertemu Tariq Ali, Salman Rushdie dan Sebag Montefiore. However, saya tahu ide Marxism di Indonesia semacam panu yang perlu di kalpanax – eh nyebut merk- bagi sebagian orang. Saya tidak akan berdebat soal itu di sini. Saya datang ke acara Festival Marxism untuk sekali lagi menyaksikan kuliah umum Tariq Ali. Lalu menyimak bagaimana Amerika supremasi masih mendominasi bagaimana cara kita melihat dunia. Kali ini saya tidak bisa minta tanda tangan, Cuma bisa mengagumi dari jauh. Gila neh Tariq Ali, sosialis blasss, editor di New Left Review.

‘Nah di New Left Review itu banyak anak Goldsmiths magang di sana.’ Kata Faza kawan saya

Huaa jadi Tariq secara ga langsung deket sama Goldsmiths dududu…. Ya ampun… percaya atau tidak sebenarnya apa yang saya dapat hari ini, sesuatu terkait dengan apa yang terjadi di belakang, terkait mimpi besar di dalamnya.

Saat ini saya sedang membaca novel terakhir Tariq tentang Islam dan kali ini berkaitan dengan budaya Yunan dan Punjabi. And somehow once again, it is connected again to my personal life… Paling tidak saya sedang ‘menjadi tahu’ tentang Punjabi… dalam salah satu doa di dalamnya, dua anak Punjabi berdoa… Ya Allah, selamatkan kami dari Ibu kami… ini menyangkut bagaimana ketatnya Ibu dan keluarga menjaga tradisi, Punjabi for Punjabi… saya manyun… okay I got it! Kisah Dara dan Jindie menjadi begitu dekat dengan saya. Review bukunya nanti ya kalau sudah selesai….

Oh Tariq… thank you… Saya masih percaya akan bertemu dengan idola saya ini dalam kesempatan berbeda lainnya.

golden butterfly

Nikah Yuk, how hard it can be to be my wife (for political reason)

Standar

Marriage is a political matter. Foucault bilang, salah satu cara mengendalikan rakyat adalah dengan mengendalikan alat reproduksi, dan seks. Keluarga Berencana di Indonesia untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk yang bakal membuat pemerintah kewalahan memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya untuk sandang, pangan dan papan. Sementara Jepang mulai panic karena jumlah orang tua lebih banyak daripada generasi produktif dan anak muda makin enggan menikah apalagi punya anak, padahal pembangunan dan roda ekonomi harus ada yang menjalankan. Serbia pun demikian. Ide-ide pemurnian darah, menikah hanya dengan suku sendiri dan seiman. Atau ide untuk menyelamatkan harta warisan pun bukan sekedar gambaran di sinetron. It did happen, it is political.

‘Nikah yuk Nit. Kamu bisa jadi ibu yang baik buat anak-anak kita.’ Kata sahabat saya dari Brasil. Tapi saya tahu itu becanda. Dia tidak mau kembali ke Brasil yang sedang kacau. Menikahi saya dan ikut pindah ke Indonesia bisa jadi salah satu cara untuk menghindar ketidakpastian hidup di Brasil. Tidak ada ruginya sih menikahi dia, ganteng bak Lanny Kravitz, pintar… mungkin ga rasa tumbuh belakangan? Mungkin saja… saya menjawab dengan tawa terbahak-bahak… menikah belum masuk dalam prioritas hidup saat ini.

Minggu pertama di London, kawan saya bilang begini

‘Pacar saya cuma dapat dua tahun visa di Inggris, sementara saya dapat lima. Saya akan menikahinya supaya dia bisa ikut terus sama saya.’

Awalnya saya melongo, gampang betul menikah ya. Sementara saya tunangan hampir lima tahun, selalu saja terbentur alasan yang menunda kami bersama. Satu dan lain hal. Lalu teman saya bilang, itu rasanya yang disebut jodoh, tidak perlu overthinking, jalanin aja. Tapi kan menikah bukan seperti bungee jumping, terjun aja. Bahkan bungee jumping butuh alat pengaman yang memenuhi standar international. Begitu juga dengan menikah. Teman saya memang akhirnya menikahi pacarnya dan mereka tak lagi punya isu soal visa sampai lima tahun ke depan, paling tidak.

‘Menikah saja, nanti kalau tidak cocok, ya cerai.’ Kata sahabat saya yang lain.

Kalau Cuma untuk bercerai, ngapain repot menikah, menyatukan dua keluarga, buang-buang waktu, tenaga dan perasaan.

Lalu bertemu lah saya dengan pasangan sempurna ala telenovela, macam Justin Trudeau dan Sophie istrinya, atau Barack dan Michelle Obama. Sempurna untuk tampil di media dengan kemesraan yang dicetak public relation dan konsultan komunikasinya. Dalam politik, penokohan politikus yang cinta keluarga, ayah dan suami sempurna bagi istrinya adalah penting, seperti digambarkan Niccolo Machiavelli dalam buku The Prince.

Maka jika ingin terjun ke dalam dunia politik, kamu membutuhkan pasangan yang tidak sekedar berlandaskan cinta, tapi butuh kerja tim. Pasanganmu harus sama bisa memainkan peran dan karakter penyeimbang, mendukung satu sama lain, sempurna di mata publik baik tampilan fisik maupun isi kepala. Itulah politik.

London adalah kota yang romantis, pasangan bergandengan tangan dan menunjukkan rasa di depan publik dengan mesra menjadi sesuatu yang biasa. Tapi di balik itu semua, saya jadi meragu tentang cinta, cerita dan citra…. Semua macam politik, yang kata teman saya, di dalamnya tak perlu pake rasa, ini hanya politik, bisnis, dan cinta bukan lagi sekedar rasa.

Jadi besok kita ke Paris untuk jalan-jalan romantic okay? Kamu kan bakal jadi istri aku….

Lalu saya tertawa lebih kencang…

marriage

Setelah 16283, Terima Kasih Kepada. After 16283, Thanks To…. #mycheveningjourney #cheveningmemories

Standar

Lembar terima kasih pada disertasi belum tentu dibaca oleh mereka yang saya berhutang terima kasih telah membantu saya sampai hari ini. 16283 kata selesai malam tadi, di luar abstrack, content, bibliography. Ini adalah daftar nama-nama yang perlu saya sebut di sini, karena sebagian belum tentu bisa bertemu secara langsung:

The acknowledge page on my dissertation might not be read by those I referring to, those who helped me to be where I am right now. 16283 words is finish last night, exclude the abstract, content, bibliography. Here are the names of people that I owe ‘Thank you’, since I might not be able to meet them in person:

  1. James Harlon – Jimmy, my best ‘internet’ friend since 2002. The one who has been helping me with my English. Jimmy has seeing the change in my ‘English’ from basic to…. Basic? Hahaha I hope not. From American accent to a little bit British one. Thank you my dearest friend of the entire planet. Our path might across someday, somewhere.
  2. Akang Iwan Rahardie – selama hampir lima tahun sabar mendengarkan semua mimpi saya, mendorong saya menjadi diri sendiri. ‘Kalau ga diambil beasiswa itu, selamanya kamu akan menyesal dan saya harus mendengarkan itu.’ katanya suatu hari. Terima kasih tak terkira – peluuuk eraat
  3. Citra Prastuti – sahabat saya sejak 2002, Chevening Scholar 2005. ‘Coba! Daripada mati penasaran karena tak pernah mencoba!. Here I am 10 years after! Terima kasih untuk semangat yang diberikan
  4. Sri Lestari – roda ban bajaj saya bersama Citra. Terima kasih untuk seluruh waktu, semangat, yang diberikan.
  5. Dewi Layla – sahabat sejak 2001. Jaketnya berguna, menyelamatkan gue yang lari dan nabrak mobil 😉 kisah lengkapnya menyusul. Makasih sudah menyemangati dan membantu logistic sebelum berangkat hahaha.
  6. Sandra Sahelangi – makasih buat semua dukungan, mulai dari buku IELTS sampe logistik. makasih yaaa muah muah..
  7. Sarie Wahyuni – salim, peluk, terima kasih sudah menemani saat susah, duka dan terhina. Terima kasih untuk selalu ada.
  8. Putri Ayusha – hey makasih karena menemani ngobrol di malam-malam sedih karena rindu rumah, dan patah hati juga patah semangat.
  9. Dessy Savina – thank you for keeping our My Junx alive…. Temen paling waras sejagat hahaha.
  10. Harry Surjadi – terima kasih sangat mas Harry telah membantu saya selama ini, sejak sebelum berangkat sampai hari ini. salim
  11. Tobin’s Family – thank you for having me as part as the family. You are all my family!

Special mention to my favorite people in London, who keeping me alive!

  1. Amanda Ruschak – Thank you Amanda, for your support, for your time, thank you for listening and having me at your place when I got so drunk. My surrogate child hahaha.
  2. Ivana who I always hard to spell your last name. Thank you! you are my first true friend here in London. Thank you for keeping me insane 😉 thank you for all the good times
  3. Hossein Eyalati – thank you so much for the shoulder that you gave me whenever I need one! you are my brother in pain and laugh…
  4. Jonathan Kebe – thank you for the ears, the random walk and talk. Thank you for being here.
  5. Dan Mulloy – oh man… thank you!! For all the magical discussion, coffee and grapes! I won’t forget those times at the library! Although I won’t be able to come to the graduation. You are in my thought bro!
  6. Asher – my favorite Ausie in this planet! ‘Those who don’t smoke weeds are cops!’ I will keep that in mind. Thank you for keeping me crazy! I will keep my eye on you forever. Keep on crazy Asher
  7. Joao – my walking and drinking buddy. Thank you for kidnapping me from the library on and off. Thank you for sharing me your stories. You will appear in one of my novels eventually.
  8. Juan – hey future Argentina president, my political mentor! Thank you! You do make me believe, there are good people in politics, somehow. And all your advice on how to deal with them J I wish I can come to your big day 2017
  9. Fadilah – terima kasih untuk semua waktu, tenaga, bantuan lu selama kita di sini. I owe you a lot!!!
  10. Nai – thank you!! for all the good times and for cutting my hair

Thank you to my library buddies, who were with me day and night:

  1. Paroan – you are my favorite person in the library Bourdieu. Thank you for everything! You are an amazing living Wikipedia who always have an answer to my issues.
  2. Naru – my sugar eye friend… will be missing all the winks, and the gossip
  3. Mien – hell yeah Mien, we should not saying goodbye since we are going to have a business together. Thank you for the good times related to Indian, kung fu and uncle wrinkle
  4. Eylul – thank you for sitting next to me for the last weeks of the dissertation
  5. Eve – my cute and funny friend. I love you!!
  6. Amira – my dearest friend Amira, thank you for all the good times and the Peak district experiences!
  7. Manu – I will remember you as a man who loves to spell my name and you are such a romantic person…. Go fly for your love!
  8. Leandro – you are so beautiful and warm person. Thank you for all the support!
  9. Michael – thank you for listening to my mambo jambo dream and stories. we should make our dream of the finest library in Indonesia come true Mike!

In a group thanks:

  1. Goldsmiths Chevening – thank you for having me as the family member. You are all amazing, we should keep in touch for further engagement
  2. MA Political Communication class of 2015 – 2016 – for the first time in my life I feel like I belong to a group of political junkies. You are all in my thoughts!! Thank you for all the debate, such an amazing group of people. See you all the world stage!
  3. Goldsmiths Library Staff – thank you!
  4. Samuel Smith and Sutton Community Farm – thank you for allowing me to learn more about the community farm
  5. Hacked Off for Freedom and Accountable Press Campaign – thank you for having me to do the internship and getting to know UK Press better
  6. Chevening Indonesia 2015 – kalian membuat saya bahagia dan tidak sendirian di negara asing ini. Group hug!
  7. Brotherhood & Trashi – yang ketibanan kerja setelah gue pergi. Terima kasih banyak untuk membuat segalanya tetap berjalan dengan meriah!

Special thanks to Chevening!! For making everything possible!

Finally – to you Anthony. 39 … thank you for making my favorite movie ‘Before Sunrise’ came to live! What doesn’t kill me, makes me strong… indeed!

Thank-you-pinned-note

Kita perlu jurnalis yang bekerja dengan hati

Standar

Salah satu hal yang paling saya ingat dari buku CHAVS yang ditulis oleh Owen Jones adalah saat dia bilang bagaimana berharap jurnalis punya empati terhadap masalah kelas pekerja kalau mereka tidak pernah berada di posisi yang sama. Mereka berasal dari kelas menengah ke atas, sekolah di sekolah terbaik dan dapat pendidikan dari kampus tanpa bergaul dengan masyarakat. Mereka keluar dari kampus, melamar di media lalu menulis sesuai pesanan editor yang tercemari oleh kepentingan bisnis pemilik media. Maka selesai. Media hanya akan begitu-begitu saja.

Owen tidak berlebihan ketika dia mencela profesi jurnalis yang cuma jadi juru tulis tanpa hati dan empati. Bourdieu bilang setiap orang punya Cultural Capital yang akan mempengaruhi mereka dalam berinteraksi sehari-hari, latar belakang budaya, sosial, ekonomi dan pendidikan.

Begitu juga dengan jurnalis, apa yang mereka tulis bergantung pada bagaimana cara mereka memandang dunia dan sekitarnya. Satu sisi, jurnalis dituntut untuk menulis berita atau cerita saga, ficer panjang, sambil tetap menjaga obyektivitasnya. Nah untuk menjaga tetap obyektivitasnya, mereka tidak boleh terlalu ‘dekat’ dengan narasumber, subject cerita. Tapi, mungkinkah kamu pergi begitu saja setelah menulis tentang kemalangan mereka, bukankah itu mirip ‘eksploitasi’ mereka demi rating, demi gaji bulananmu?

Suatu ketika teman kuliah saya memposting, tonton film documenter kami tentang #homeless ya… kerja bagus tim…. Terus apa? apa sebenarnya tujuanmu menulis cerita tentang mereka? Explorasi, exploitasi atau apa? kalau kamu dapat nilai A untuk tugas akhir itu, para homeless itu dapat apa?

Setelah lebih dari 10 tahun jadi jurnalis, pertanyaan itu mengganggu saya. Buat apa sih gue nulis? Dampaknya apa? Bagaimana nasib narasumber saya yang ‘off the record’ itu? bagaimana saya bisa melindungi dia, sampai kapan? Apakah tulisan saya membawa ‘kebaikan’? Pertanyaan-pertanyaan yang menjadi salah satu alasan untuk mencoba dunia lain, activism.

Pertanyaan itu sedang mengganggu teman saya yang memulai karir jurnalisme nya barengan di 2002. Untuk menjahit apa yang ditulis oleh Owen Jones dan pengalaman pribadi saya, begini jawaban saya.

Jangan berhenti jadi jurnalis, jangan berhenti menulis, jangan berhenti berempati.

Saya, in a way, tidak sepakat dengan Owen Jones bahkan Bourdieu sekalipun. Adalah sebuah keistimewaan untuk bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, dan lahir dari keluarga yang memiliki perhatian bahwa pendidikan adalah modal utama dalam hidup, lalu ‘berbudaya’ dan ‘beradab’. Saya beri kutip karena dua kata itu tergantung dari sudut mana kamu melihatnya. Tapi Cultural Capital bukan harga mati. Seperti keahlianmu menulis dan jurnalistik adalah kecakapan yang bisa dilatih, begitu juga dengan empati!

Ashoka membuat saya percaya, setiap orang bisa dilatih untuk punya empati terhadap orang lain. Termasuk jurnalis sekalipun, asalkan mereka tetap mempertanyakan dalam diri sendiri, apa sih dampak dari tulisannya di media? dan bukan bekerja hanya untuk laboring, bertahan hidup, bayar tagihan dan menjadi robot bagi pemilik modal, atau politisi dan jadi jurnalis rilis.

Jurnalis itu punya kekuatan yang luar biasa untuk mengubah dunia, didengar orang, mengubah pendapat orang. Kalau tidak hari ini, mungkin besok baru terasa. Tapi itu terjadi. Dengan alasan yang sama, maka dibutuhkan jurnalis yang punya empati, yang menulis dengan hati. Mereka yang tidak sekedar datang ke lapangan, menulis lalu pergi. Menjaga kontak, menjaga hubungan, konsisten pada isu, mengikuti perkembangan yang terjadi, dan tetap menulis, itu adalah yang terbaik. Menulis buat kepentingan kemanusian dan bukan sekedar bisnis, itu yang terbaik. Jurnalis punya kekuataan pada mikropon, laptop dan semua medium untuk menyampaikan pesan. Kalau tulisanmu tak laku di media, menulislah untuk blogmu sendiri.

Untuk hal yang sama juga, sangat butuh jurnalis yang punya nilai  atau value dalam hidupnya. Saya bangga pernah bergabung dengan KBR yang punya nilai luar biasa; pluralis, demokrasi, toleransi secara institusi. Tapi sekelas BBC yang kita percaya punya nilai yang sama, secara pribadi masih ada saja jurnalis yang seksis sepanjang olimpiade misalnya. Untuk inilah perlu sekali menyaring jurnalis yang sudah punya landasan nilai yang kuat dalam hal toleransi, pluralisme dan demokrasi satu lagi yang harus masuk dalam proses seleksi adalah nilai kesetaraan gender, feminisme! Jangan terima karyawan yang sejak awal tak percaya bahwa perempuan adalah individu dengan hak dan kewajiban yang sama hanya kebetulan diberkahi vagina dan rahim.

Menulis itu keahlian yang bisa dipelajari, mudah. Empati juga hal yang bisa dipelajari, bergaulah dengan lebih banyak orang di luar zona nyamanmu. Nilai? Itu yang dibawa sejak awal, tapi bukan saya sama saja… bukan harga mati. Paparkanlah dirimu dengan lebih banyak orang yang berada di luar duniamu sendiri, bacalah, ngobrollah. Kita pernah sama-sama telanjang ketika lahir, lalu orang tua membentuk kita, lalu masyarakat mengenalkan kita pada norma sosial yang lebih besar. Tapi kunyah semua itu agar pencernaan membaik, jangan telan mentah-mentah semua hal yang akan membuatmu sakit dan muntah.

Jangan berhenti jadi jurnalis, tetaplah bersuara dengan hati.

empati

Adikku, bacalah

Standar

Usia tidak akan berulang. Kamu hanya akan jadi anak muda, remaja atau apa pun takaran usianya, angka itu hanya datang satu kali. Usia Cuma angka, dewasa adalah pilihan. Tapi kalau bisa memilih, suatu hari nanti saat usiamu menjadi 38 seperti aku, tetaplah berpikir muda, ceria, penuh tanya pada dunia, jangan menerima apapun begitu saja, tetap kritis.

Selagi muda, bermainlah. Puaskan rasa penasaranmu pada hal yang akan membuatmu sakit, terluka, sedih, tertawa, marah. Puaskan keinginanmu bermain. Kamu akan jatuh berkali-kali sebelum akhirnya bisa berdiri dan berlari. Kamu akan menangis tersedu-sedu, meraung-raung sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak. Saat bisa menertawakan kebodohan diri sendiri, itulah puncak kebahagiaan sesungguhnya dan dari situ belajarlah untuk menjadi ‘benar’.

Percayakan dirimu pada hatimu. Dia yang paling tahu benar dan salah.  Sekitarmu akan galak sangat, membangun pagar tinggi-tinggi yang kamu tidak boleh lompati, tapi jangan diam, carilah jawaban dari setiap pertanyaan di kepalamu bahkan ketika harus melompat tinggi melewati pagar. Aku tak sedang mengajari untuk melanggar aturan apapun, tapi kalau kamu percaya itu adalah ‘benar,’ LAKUKAN!

Berkawanlah dengan mereka sama punya peduli, empati pada sesama. Mereka yang sama ingin mengubah dunia menjadi lebih baik dan bermimpi melebihi kenyataan yang ada. Mimpi itu gratis dek. Kamu boleh bermimpi menjadi apapun, melakukan apapun, selama kamu percaya aka nada manfaatnya untuk kamu dan sekitarmu.

Pergilah pada orang yang menyediakan telinganya untukmu. Mendengarkan semua resahmu, galaumu, bersamamu melewati rintangan, cheerleadermu. Tutup kupingmu untuk mereka yang cuma bisa membuatmu putus asa dan kehilangan kepercayaan diri. Katakana BISA di kepala untuk apa yang ingin kamu lakukan.

Have fun, go mad (damn that is a song) and be human!

Tulisan ini terinspirasi Leon Alvinda Putra, Young Changemaker 2013. Adik saya, idola saya, guru saya yang berulang tahun hari ini ke 18. Dia bikin saya percaya, ada banyak anak muda yang luar biasa di sana. Berhentilah memaki dan merendahkan gaya hidup mereka. They are an awesome generation!

adikku_01

I got the sunshine in my pocket

Standar

So what if you left me, so what if you never want to see me again. I am still being here, kicking and alive. The sun is shining, and I am still smiling and dancing. You made me tears, yes, only for one day but you cannot steal my light. It is me and will always be me…

Thank you for all the good times and I won’t let the good memories bring any sorrow and hollow. You will be in my memories like the coin in the hand of the collector. They are priceless, timeless, and surely not useless. Every scratch in life brings a thousand memories for better and worse, oh yeah, it is true, I got keloid issue by the way… you are my new keloid.

Live your life and I will surely live my shining life. I won’t let any cloud hide my sunshine too long. If one day in this life our path come crossed one another, just smile, I will still be thankful that I ever knew you at all.

Anak Tetap Anak, Berikan Haknya

Standar

Akhirnya kepincut juga untuk menulis ini. Beberapa kali mendapati netizen yang membela guru habis-habisan dan nyinyir pada orang tua untuk mengajar anaknya yang ‘badung’ di rumah. Bapak ibu sekalian, saya memang belum pernah brojolin anak sendiri, tapi bukan berarti saya lahir dari batu lalu mendadak besar seperti ini. Proses 38 tahun jadi manusia membuat saya percaya bahwa saya sampai di sini hari ini berkat orang tua yang luar biasa dan didukung bapak ibu guru saya yang juga sama luar biasanya. Bahwa pendidikan bukan tanggungjawab cuma guru di sekolah atau orang tua di rumah. Ini kan pengetahuan umum yang paling mendasar, pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama… knock knock…

Lalu kenapa orang tua merasa paling berjasa dan juga sebaliknya. Ga lah… pendidikan itu hak anak yang wajib diberikan oleh orang tua, guru dan difasilitasi negara. Kalau anak-anak bandel itu mesti dilihat dari hal yang paling holistic, sudahkah kita mengenali alasannya? Pernah ga sih sesekali mendengarkan mereka, belajar mendengar bukan komentar. Cobain deh latihan mendengarkan anakanak dan remaja itu tanpa sekalipun menyelak ucapan mereka, barang 5 menit saja, lalu naik tingkat 10 menit dan seterusnya.

Anak-anak tetap anak-anak yang penuh rasa penasaran soal banyak hal, tentang dirinya sendiri secara fisik, tentang lawan jenis, tentang sahabatnya. Penasaran apakah kalau terjun bisa langsung mati, kalau jatuh pasti sakit, kalau main api pasti terbakar?

Kalau tak sempat menemani mereka berkembang, jangan menghakimi bagaimana cara mereka mengembangkan diri sendiri. Kalau terlalu banyak waktu bersama mereka, lepaskan sedikit kekangan. Saya tak sedang mengajari bagaimana jadi orang tua, karena pasti kamu akan bilang, tau apa saya soal mendidik anak. Saya sedang mengajak kamu untuk menjadi sahabat mereka. Sahabat paling dekat saya adalah mami, di rumah, di Jakarta. Semua hal saya ceritakan padanya dan itu membuat saya nyaman.

Saya bergaul dengan anak-anak sejak lama, di kantor dengan kawan kerja yang usianya 10 tahun di bawah saya, memfasilitasi ratusan anak-anak luar biasa bersama Ashoka, bergaul bersama petani muda di sarongge sejak 2008, dan hari ini, saya tetap yang paling tua di kelompok pertemanan di kampus. Saya ngobrol asik dengan Herbie 4 tahun, Luih 14 tahun dan Ella 16 tahun, tanpa  kesulitan bahan bicara. Cuma dengan bergaul dengan mereka, kamu akan  tahu apa yang mereka resahkan dalam hidup dan bagaimana mereka ingin dibantu.

Jangan jadi orang tua yang so toy di depan mereka, dengan merasa paling tahu dunia. Bagaimana bisa kamu kasih tahu anakmu jangan naik sepeda nanti jatuh dan sakit, sementara kamu tahu tanpa babak belur besut di kaki kiri kanan, kamu ga akan bisa mengayuh puluhan kilometer dengan sepedamu itu. Biarkan dia jatuh, dengan kamu di sisinya, menepuk bahunya, sakit adalah proses menjalani hidup, termasuk di dalamnya menangis, tertawa dan jatuh cinta.

Kalau anak ‘nakal’ lalu dihakimi masyarakat, netizen dan dikeluarkan dari sekolah, lalu masa depannya tanggungjawab siapa sekarang? Rrrr pengen ngamuk rasanya. Tidak semudah itu mengeluarkan anak-anak dari sekolah karena dia nakal atau  hamil misalnya. Mereka tetap anak-anak, punya hak mendapatkan pendidikan yang terbaik, sekolah tidak bisa lepas tangan begitu saja dan menyerahkan pada orang tua. Begitu juga orang tua yang tidak bisa begitu saja memperlakukan sekolah seperti penitipan anak. Kalau orang tua dan guru bermasalah, selesaikan layaknya orang dewasa, tapi berhenti menjadikan anakanak sebagai objek! Pause! Berhenti sejenak untuk saling menyalahkan, kembali ke titik awal, bahwa semua yang ingin dilakukan bersama adalah untuk kepentingan anak, tolong dengarkan mereka, have a little empathy for them will you… be a kid for a moment, see the world through their eyes…

Nyaris ‘Cinderella’ di Oxford Street

Standar

Jalan kaki selain sepedaan adalah olahraga yang paling saya suka. Semacam meditasi, jalan kaki itu moment untuk bicara sama diri sendiri dan semesta, tentang semua hal. London mengerti itu. Trotoar lebar yang kalau di Jakarta ukurannya muatlah tiga kios kaki lima merapatkan barisan, yang kalau pemda liat, bongkaaar… kasih lebar jalan buat kendaraan pribadi, yang kalau pemotor liat, diterjangnya trotoar itu. Sebagai pecinta jalan kaki, trotoar di London ini surga!!! Sedalam-dalamnya cinta pada trotoar yang membuat saya tenang menikmati kaki melangkah. Ditambah taman di mana-mana, meski kata kawan aktivis lingkungan di sini, jumlahnya juga terus berkurang karena pembangunan, dan kalau hujan sebagian kota tergenang, itu juga artinya ada yang salah dengan pembangunan di London. Anyhow, untuk sarana jalan kaki, London masih juara.

Tapi Oxford Street, Bond Street dan sekitarnya adalah tempat yang saya hindari terutama di akhir pekan. Ga bisa berhenti ngecek city mapper barang semenit tanpa ditabrak pejalan kaki dari depan belakang. Luar biasa rame yang bikin perut kadang mual, ditambah campuran wangi parfum yang aneka rupa plus bau keringat musim panas… jalan kaki di sana… neraka.

Tapi kemarin diajak ke Oxford Street, demi mencari kado untuk sahabat kami yang ulang tahun hari ini. Sahabat yang berulang tahun hari ini adalah orang yang paling kami cinta, paling dewasa, padahal umurnya baru resmi 30 hari ini. Termasuk saya datang padanya saban kali butuh teman curhat. Karena dia sangat berarti buat kami, makin bingung memberikan apa yang pantas mewakili sayang kami padanya. Jalan kaki ditambah porsi karena sambil mikir kan.

Sejak berangkat ke kampus sebenarnya udah berasa ga enak sepatu ini, tapi ga ngecek sampai di Oxford. Begitu ditengok… ya ampun, lem sepatu converse sebelah kanan itu lepas, kain kanvasnya juga robek di semua sisi. Lalu sedih….

Jalannya diseret karena takut mendadak lepas. Karena selepas Oxford saya masih akan ketemu kawan lain Convent Garden dan ga mungkin nyeker macam Cinderella. Panik, lalu kami berlari masuk ke H&M. Beli sepatu baru tak ada di anggaran bulan ini dududu. Dan saya hanya ingin ganti dengan Converse lagi 😥 maka langkah darurat adalah beli sepatu murah meriah sambil tunggu jatah bulanan terakhir tiba. Bukan iklan ini, tapi untuk sepatu harian, saya cuma demen dengan Converse yang nyaman. Si biru ini sudah menemani saya sejak dua tahun lalu, belinya aja di Bandung Transmall dan nyaris ga pernah absen menemani saya jalan, hanya sesekali berganti peran dengan si Jingga Reebok. Aah biru, padahal kamu cuma menemani saya dua musim di sini, spring dan summer yang belum lagi usai.

biru

Selama sebelas bulan di London, sudah tiga pasang sepatu rusak. Barangkali karena memang terlalu banyak jalan entah di aspal atau di rumput. Mumpung di London, mumpung penjalan kaki di fasilitasi sayang tidak termasuk asuransi sepatu J   Padahal masih ada kurang dari dua bulan saya di sini dengan segudang agenda jalan kaki keliling London, yang artinya sepatu mana pun harus bisa tahan sampai saya pulang.

Cerita Disertasi

Standar

Status per hari ini:

  • Sedang nulis Abstrak
  • Bab 1 sampai 4 = 14.530 kata dari maksimum 15.000 tapi batas toleransi kurang lebih 10%
  • Bab 1 – 2 lagi proses proof read dan sudah melewati konsultasi supervisor disertasi
  • Bab 3 masih nganggur, sudah ada inceran proof reader sih
  • Bab 4 sent hari ini ke supervisor, menanti masukan.
  • Bab 5 kesimpulan, masih di kepala hahaha

Menulis dalam bahasa Inggris itu MELELAHKAN! Melakukan riset itu menyenangkan, tapi karena sudah belasan tahun absen dari dunia akademis, ini seperti balita belajar urusan toilet lagi. Merangkak. Dan saya merangkak saban hari dari kosan ke perpustakaan. 90% waktu saya di London adalah di perpustakaan Goldsmiths. Kalau ada yang bilang sekolah di luar negeri itu gampang, sinih sinih saya pentung…. Gila lu bro, cape mental dan fisik nyet.

Don’t be envy! I really work damn hard for this.

Tenggat waktu disertasi saya adalah 26 Agustus nanti, iya masih 25 hari dari sekarang. Tapi prosesnya masih panjang, masih ada satu kali konsultasi, masih harus revisi, proofread dan penjilidan. Kalau hari ini saya dapat segitu banyak kata dan technically I am done, itu bukan tanpa sebab.

Beruntungnya saya dapat supervisor tesis yang sejak bulan Januari ngejar-ngejar bahan proposal riset sampe bikin bengek. Daripada kamu bercerita panjang lebar tanpa landasan dan masih lebar kemana-mana, coba kasih saya 3000 literature review dalam dua minggu. Padahal itu minggu pertama semester semi, udara dingin badai dan malasnya setengah mampus. Habis 3000 kata, baru bicara proposal, 2000 kata lagi. Bolakbalik sampai dia ACC selama February – Maret. 5000 kata pertama emang sudah selesai di 3 bulan awal, dan nilai 20% dari seluruh disertasi sudah di tangan… sekali lagi lega, meski pake bengek.

Disertasi saya pending sampai bulan akhir April karena sibuk essay. Bulan Mei dimulai lagi dengan pengumpulan data, wawancara kawankawan di Jakarta via google hangout dan email. Hilang satu bulan dari supervisor, karena belum punya apa apa yang bisa disodorin. Lalu dia bilang,’padahal kamu bisa tanya saya apa aja, dan kapan aja.’ Wuidih mantab, maka saya ganggu dirinya dengan rentetan pertanyaan selama dua bulan berikutnya Juni – Juli, bahkan saat dia juga lebaran. Bab 1,2 dan 3 itu sudah selesai sejak Juni, dan separuh Juli dipakai buat revisi sebelum lanjut ke findings dan discussion.

Bagian ini sila ENVY saya karena saya punya pembimbing disertasi yang luar biasa perhatian.

Ada banyak banget kisah dari teman-teman di sini yang merasa seperti layangan putus, ga dikasih pembimbing yang membimbing sampe detail. Mereka Cuma dibantu di awal, di tengah dan menjelang akhir, dengan bimbingan garis besarnya aja. Sebenarnya sih mana yang lebih baik, ya ga tahu juga. Sebagian percaya, mahasiswa master itu seharusnya mandiri, tapi saya lebih seneng dibimbing pake pecut begini, jadi tahu arahnya mau kemana. Sebagian lagi, bahkan ga pernah ketemu pembimbingnya secara langsung. Sedih

Sebenarnya sih kalau pembimbingnya kalem, mestinya kamu yang cerewet, jangan ikutan diam. Kalau pendidikan adalah unit bisnis, mahasiswa adalah konsumen, maka menuntutlah untuk dibimbing menjadi lebih baik. Kalau sama-sama diam ya salam….

Kalau saya sudah selesai hari ini, selain karena factor pembimbing saya yang keras, saya juga senang melakukannya. Saya nyaris tidak punya alasan untuk jalan-jalan ke luar kota London dalam dua bulan terakhir ini. Alasan yang paling kuat adalah, karena saya bodoh dan lamban. Saya ga bisa berpikir di dekat deadline, itu bikin mati kutu. Sejak dulu, proses belajar saya lamban kalau soal akademis. Saya laman-laman menyerap sesuatu tanpa merasa perlu diburu-buru. Begitu menjelang deadline, semua orang kesambet setan, saya bobo pulas… sejak jaman sekolah sudah begitu, sehari menjelang ujian nasional, saya pergi jalanjalan… sudah ditabung usahanya.

Soal hasil, saya percayakan saja pada semesta dan penilai. Saya sudah usaha semampu saya bisa…

a mess