Monthly Archives: Agustus 2019

Penting! Berlatih Mendengar dan Menyimak

Standar
Penting! Berlatih Mendengar dan Menyimak

Setiap orang ingin berbicara, setiap orang ingin didengar pendapatnya, masukannya, tapi berapa orang yang mampu mendengar dan menyimaknya? Kita tidak sedang membicarakan tentang kekuasaan ya ketika pemegang kekuasaan hanya merasa perlu menyampaikan gagasan dan keputusan tanpa mau mendengarkan masukan atau bahkan bertanya kepada “bawahannya.”

Beberapa hari lalu ahli Bahasa Ivan Lanin mengingatkan saya tentang kemampuan berbahasa itu termasuk dengan kemampuan menyimak. Mendengar tapi dengan memerhatikan apa yang sampai di telinga.

IMG_20190828_045709

sumber: twitter Ivan Lanin @ivanlanin

Dalam modul yang saya kembangkan untuk kelas Perempuan Menulis, salah satu unsur penting ketika belajar menulis adalah melatih kemampuan mendengar. Kita tidak bisa menulis dengan baik tanpa melakukan pengamatan, yang dilakukan dengan menggerakan seluruh indera, salah satunya dengan telinga. Ada latihan untuk mendengar dengan seksama lawan bicara, tanpa menyela, tanpa suara, hanya mendengarkan selama 10 menit. Ternyata memang tak mudah belajar mendengar tanpa berkomentar, orang itu gatel banget mau komentar tentang banyak hal, bahkan tanpa diminta. Pernahkah kamu suatu hari ingin sekali curhat, sekedar curhat, tapi curhatmu belum kelar, lawan bicaramu langsung interupsi dengan menceritakan “deritanya” yang lebih menderita dari ceritamu sampai akhirnya kamu lupa pada curhatmu sendiri? Begitulah…

Melatih kemampuan mendengar itu banyak gunanya.

01_MODUL Menulis Untuk Diri Sendiri

Saya rasa sejak 2012, saya memang sedikit banyak berubah. Latihan mendengarkan orang lain itu dimulai ketika harus memilih fellow Ashoka. Selama tiga hari, saya harus tinggal bersama calon fellow, bertanya sejumlah pertanyaan kunci dan mendengarkan penjelasan mereka, sedetail mungkin karena hanya ada 3 hari, dan semua harus menjawab kriteria yang diwajibkan ada oleh Ashoka. Latihan itu sangat berguna kemudian di hidup saya selanjutnya. Kalau kemudian kawan mulai merasa saya sedikit curhat, karena ternyata mendengarkan orang lain curhat dan bercerita itu lebih menarik. Cerita saya biarlah sesekali muncul dalam tulisan dan percakapan. Menguping itu kerjaan saya, headphone atau earphone itu kadang mati hanya untuk mendengarkan apa yang diomongin meja sebelah.

Mendengar menambah pengetahuan, menyimaknya membuat saya kreatif mencipta karakter-karakter dalam cerita dalam tulisan, berguna saat dibawa ke kelas Perempuan Menulis. Mendengarkan kawan-kawan di Lapas Perempuan cerita tentang apa saja yang ada di sana, membuat saya punya segudang ide cerita baru.

Pekerjaan saya sekarang pada akhirnya memakai kemampuan mendengar itu. Sebagai orang lapangan, tugas saya sebagian besar bukan hanya menyampaikan program, tapi mendengarkan apa yang menjadi harapan, usulan, tantangan yang dialami warga. Sama-sama memetakan potensi untuk menghadapi tantangan. Kunciannya ada pada sama-sama menemukan kekuatan, tapi kemudian menyusun strategi yang bisa dilakukan untuk mengatasi tantangan.  Semua itu sekali lagi ga bisa kejadian tanpa kemampuan menyimak. Tapi menyimaklah lagilagi dengan kritis, tidak menerima semua hal yang didengar secara mentah-mentah, pilah lagi, tanya lagi, mosok sih? Kenapa begini, kenapa begitu? Jadilah orang dengan penuh pertanyaan MENGAPA sampai kamu dapat jawaban yang memuaskan.

Makin hari makin banyak orang dengan muncungnya yang makin maju karena keseringan bicara, mari kita ambil ceruk yang sangat dibutuhkan dunia, mendengar dan menyimak.

Layang-layang

Standar
Layang-layang

Merah putih, tersangkut di pohon randu. Benang melayang-layang, menari ditiup angin. “Geli ah,” kata daun yang tersentuh ujung benang. “Tolong singkirkan benang ini. Batang bergeraklah?” kembali teriak daun. Kecuali ada angin sangat besar, atau gempa bumi, batang bergeming.

Tidak seperti tiang bendera yang di depan rumah yang tak kokoh bendera berkibar. Agar terlihat sangat nasionalis, masing-masing rumah berlomba memasang bendera paling besar, dan paling bersih. Tapi tiang, hanya tiang bambu, yang meleyot ke kiri dan  ke kanan sesuai angin bergerak meniup bendera. Kalau tiang patah dan bendera terjatuh, maka jatuhlah harga diri pemilik, bahkan bangsa dan negara ini lalu baku hantam. Harga diri itu dimana? Di bendera atau di hati manusia?

Layang-layang berusaha bergerak, menghamba pada angin untuk membawanya pergi. Dia tak sanggup mendengar gerutu daun yang geli tersentu benangnya. Andai dia bisa melepaskan diri dari benang. “Jangan, aku masih ingin dekat denganmu,” kata benang. “Tanpa aku, kamu tak artinya. Tanpa aku, kamu tak bisa menari bersama angin, tak bisa menyenangkan hati anak-anak.” Layang-layang meliuk tubuhnya. “Jangan banyak bergerak, nanti bilahmu patah, kertasmu robek,” kata batang. Batang bertindak bijak, tak memihak daun tempatnya memasak makanan bersama matahari, dan tak juga memaksa tamu tak diundang itu untuk segera pergi.

“Pohon ini, rumah bersama. Untukmu daun, untukmu layang,” kata batang.

“Rumah bersama. Lihat siapa mayoritas di sini. Layang-layang hanya benda mati tanpa guna setelah putus hubungan dengan pemiliknya. Tapi kami… kami ini daun-daun yang menghidupimu batang.”

“Aku pun tak ingin tersangkut di sini bersamamu daun-daun cerewet,” kata layang-layang kesal. Dia bergerak semakin keras. Kertas robek sebagian.

“Berhenti bertengkar. Ketenangan bersama kita tinggal bergantung pada angin. Jika dia datang tak hanya layang-layang yang akan pergi, tapi kau juga daun.”

“Iya tapi paling tidak, yang akan rontoh hanya daun-daun yang tak lagi berguna.”

“Begitukah caramu berterima kasih daun muda? Menyebut kami tidak berguna? Kami yang gugur akan menjadi pupuk baru untukmu. Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia,” daun tua merapatkan tubuhnya erat-erat pada batang yang bijak.

“Tapi manusia hanya bisa mencipta sesuatu yang sia-sia, seperti layang-layang,” kata daun muda

“Kau sombong daun muda. Tak tahukah kamu, layang-layang membawa kebahagiaan bagi anak-anak, orang tua, dan mempererat hubungan orang tua dan anaknya. Layang-layang bukti kreasi manusia dalam warna dan bentuk,” panjang lebar layang-layang berkata dengan bangga.

Simbol merah putih di tubuhnya juga bukan tanpa sebab, dia merasa bahkan lebih hebat dari bendera yang berkibar raya dan ramai hanya beberapa kali dalam setahun, dihormat tanpa paham apa arti hormat sebenarnya. Layang-layang tersenyum, paling tidak, merah putihnya pernah beberapa kali memenangkan aduan layang-layang. Dia pernah beberapa kali pindah tangan, sampai angin membawanya terlalu tinggi untuk bisa diraih anak-anak. Dia merindukan tawa anak-anak yang mengejarkannya, “aku dapat, aku dapat,” sambil dipeluknya erat-erat layang-layang.

Dari jauh terdengar daun-daun bergesek kencang, ribut, batang saling mengingatkan untuk tetap kuat bertahan, akar jangan menyerah, tetaplah mencengkeram bumi. Daun saling berpelukan, tak ingin terpisah. Daun tua berteriak, waktunya untuk berpisah… “selamat tinggal batang pohon yang bijak.”

Dan layang-layang… “aku bebas” diikuti sisa benang yang ikut menari bersama angin. “Hati-hati benang, jangan kau tersangkut di antara daun cerewet lagi.”

Layang-layang mendarat di antara kaki manusia yang berderam keras, menghentak bumi, membuatnya kotor. Manusia-manusia berlarian, berteriak memaki dengan sebutan binatang. Semua karena bendera yang kabarnya terjatuh terjerembab di atas tanah, batang yang patah, entahlah… lalu manusia harganya berubah serendah hewan karena bendera.

“Seharusnya kita tetap bersama daun cerewet daripada manusia buruk rasa,” benang terbenam terinjak sepatu lars.

Terus Lakukan, Seni itu Soal Kamu, Bukan Orang Lain – Review Keep Going by Austin Kleon

Standar
Terus Lakukan, Seni itu Soal Kamu, Bukan Orang Lain – Review Keep Going by Austin Kleon

Saya tidak pernah pede menunjukkan gambar saya, sampai sahabat saya, alm. Jonathan Kebe yang memang artis itu, bilang, terus saja menggambar, tidak  ada orang yang berhak bilang gambar kamu jelek. Seni itu subyektif, it is about you and you only! Art supposed to make you happy and not to please others.

Austin Kleon penulis Keep Going menyakin saya kembali soal menggambar. Meluangkan waktu untuk menggambar adalah melatih diri untuk mengamati sekitar. Kita terlalu sibuk mematut diri di sosial media, emosi tingkat dewa setiap kali membaca dan menonton berita, lupa untuk merawat kewarasan diri sendiri. Seni, menggambar, menulis atau apapun, membuat kita berhenti sendiri, mengamati dan bahkan bersyukur pada apa yang kita dapat hari ini, saat ini.

Buang hapemu, tinggalkan di ruang lain, dan ambil waktu bersama diri sendiri, buat ruangmu sendiri. Kalau lupa caranya bermain, hire anak kecil untuk mengajarimu bermain. Gambar itu bisa apa saja bentuknya, apa saja! Be creative….

007_ed

Membaca dan langsung memratekkan apa yang diobrolin Kelon di bukunya, maka inilah hasilnya… cerita perjalanan saya kemarin.

001_ed

004_ed

Setan itu takut pada udara segar. Saya meluangkan waktu, jalan kaki menelusuri hutan di Tahura – Taman Hutan Raya, Juanda Bandung. Membuang jauh-jauh setan jenuh, dan hasilnya buku Keep Going selesai dibaca, setelah sebelumnya Free Radical dan memulai buku baru. Saya menggambar! Itu yang paling penting buat saya.

005_ed

Keep Going bilang, be VERB dan bukan NOUN. Kamu bukan seniman jika tidak punya karya seni. Teruslah berkarya, dan biarkan orang lain yang menempelkan “status” “profesi” itu padamu. Dan jangan biarkan seni yang membahagiakanmu termonetasi di ruang sosial media oleh “Like” dan “Comment” sesuatu yang menjadi hobi biarlah menjadi hobi, jika dia bergeser menghasilkan uang, maka dia menjadi pekerjaan dan pekerjaan akan selalu membuatmu tertekan. Jika hobimu menjadi pekerjaan, cari hobi lainnya.

006_ed

Saya itu tidak pernah beli buku motivasi sendiri, semuanya hadiah dari orang. Keep Going adalah hadiah dari sahabat saya Mike. Kalau Keep Going bisa membuat saya langsung praktek, kamu tahu dong artinya apa?

To My Dearest Scientist – Review the Free Radical by Michael Brooks

Standar
To My Dearest Scientist – Review the Free Radical by Michael Brooks

Dear you

When I saw you graduated and got your PhD in Applied Physic at your age of 20 something, I was so proud. You are closer to your biggest dream, to become a professor and win the Nobel Prize. You had been a scientist; you love science so much. I remember the time you showed me a drip of water on a hot pan that can dance following the music, you were explaining passionately and I was like … eh… okay… it was interesting but I just did not have any clue how it happened. My physic was love in Tennis, zero by number. Well, don’t blame me, blame to the most un-interesting teacher I had in highschool because I was one of the best in physic and biology during junior high. Nevertheless, I believed you will get what you wanted, a Nobel Prize.

Years past, I knew you were struggling with your experiments and live as a scientist. Just like the Free Radical said, scientist struggling with ethics, and funding, yet, fame that pushed them so hard to be creative whatever it takes, a radical one, an anarchist they become. Scientist just like an artist, the book says, some of them took drugs, hallucinogen to get them to the creative phase of thoughts. Others believe a spirit in a name like magic for Einstein or God for Faraday and Galileo that had guide them to their discovery. Ethic, what ethic? Law and ethic cannot follow science, curiosity, the excitement for discovery, the creativity. And if all scientists must follow ethics, then there is no discovery at all!  they broke the law and ethic, experimenting things on themselves, cut themselves, breath dangerous gas, drank bacteria, diving to reach the human limit, in other to find truth of their hypothesis. Barry Marshall said “there is an occasion where it is more easy to forgive than to get permission,” on his diary before he drank a bottle of bacteria to find the effect of spiral bacteria.

Scientists are not always an idealist person. To survive they might sell their soul to the funding, and broke the ethic. In the book, there is a story of a scientist (I forgot his name) must do what the funding want, to proof that MMR vaccine does cause a behavior chance like autism. He took blood sample of boys in his son birthday, which is very un-ethical, but then he must admit that he didn’t find what the funding want. Another point that interested to me is the fact that you, the scientist has to be an activist in the name of humanity, be political. Carson, biologist who found that the pesticide with DDT is harmful to ecosystem, killing bird, butterfly and bees, she was alone in a fight against the pesticide companies. Then Rowland and Molina who found that CFC was killing our atmosphere, they were banned for giving any lecture for a decade, or Hansen who found spoke out loud about the green-house effect to climate change and being arrested for giving protest. I love the quote from Michael Nelson of Michigan State University “When scientists rejected advocacy as a principle, they reject a fundamental aspect of their citizenship… and rejecting one’s responsibility as a citizen is unethical.” Michael Brooks closing his book with some interesting statements that if we want more scientific progress, we need to release more rebels, more outlaws, more anarchists. The time has come to celebrate the anarchy, not to conceal them.

The book touches my heart as it reminds me of you. While reading it, my mind wandering, how radical you were, are you an anarchist one, how funding had made you feel, how is your road to Nobel Price, etc.

I knew one thing, and I have to admit that it broke my heart when I found that you are working as a Finance Manager at one of the biggest transportation company in the world. I was devastated, and I knew you were more devastated than I did. I understand you have your own reason, and I assumed not dare to ask that it was not an easy decision to take. But life is a journey, and in one of those journey you might find your way back to your biggest dream, a Nobel Prize. Nevertheless, getting a Novel Prize, in my believe, not supposed to be the end goal of a scientist, but how to make a better place for a human being does. A friend said once you are a journalist, you are always be a journalist, I believe it applies to a scientist too… you will always be a passionate person to discover something, a good observer, doing experiment, curios all the time, and you might do anarchy things in a certain point of life to proof that you are right.

Until then…. Be happy and enjoy your life!

Huge hug

Your dearest friend

 

Mencoba Melucu, Belajar Menjadi Lucu

Standar
Mencoba Melucu, Belajar Menjadi Lucu

Salah satu pekerjaan yang menurut saya luar biasa sulit di dunia ini adalah menjadi comedian, menjadi lucu, dan membuat orang lain tertawa. Pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang cerdas yang mampu menjadikan sesuatu yang rumit menjadi ringan dan buat orang lain paham dalam tawa. Tapi ternyata tidak semua comedian yang bisa begitu, sebagian macam jatuh sengaja dan berharap orang tertawa, atau yang paling gampang mencela orang lain secara fisik, secara ideology, itu sik gampang, a piece of cake. Kalau cuma cari bahan candaan dengan menjelek-jelekan orang lain, ga perlu jadi orang pintar, cuma perlu jadi ngehek. Karena itu bagian roasting di acara stand up comedian, menjadi bagian yang paling tidak lucu sebab sebagian besar cuma mencela lawan dengan hal yang tidak lucu.

Anyhow, saya sedang menantang diri sendiri untuk menjadi lucu. Saya tidak lucu sama sekali. Sila baca tulisan-tulisan saya di blog ini, atau novel TUN (jualan lagi), emang ada yang bikin kamu tersenyum? Saya tidak bermaksud melucu memang, dunia ini serius banget di mata saya. Sangat mudah membuat saya emosi karena membaca ulama mencela symbol agama lain, atau sekelompok orang mengatai-ngatai orang lain monyet, asal kamu tahu, kita ini semua hanya beda 1% DNA dengan monyet, kita ini monyet semua. Asal kamu tahu, empati kita jauh lebih rendah dari gajah! Jadi apa yang bisa kamu banggakan dari menjadi manusia? Sampai sini saya sudah lucu belum?

Mark Twain bilang “humor born not from joy, but from sorrow” dalam beberapa kesempatan saya menuliskan “berdansa dengan luka” mengubah sedih menjadi sesuatu yang menyenangkan, menertawakan duka sendiri dan membuat orang lain tertawa, barangkali malah jadi pahala dan menyembuhkan luka pribadi. Saat ini, kalau Twain ada di samping saya, mungkin dia akan menepuk pundak dan bilang, “yes, it is about time for you to be funny!”

Arie Kriting, Trevor Noah adalah dua di antara comedian yang bisa bikin saya tertawa, tertawa dalam luka sebenarnya karena menertawakan betapa konyolnya kita memerlakuan orang lain dengan semua perbedaan dan melukai mereka yang kita anggap “minoritas”. Saya ingin belajar banyak dari Sakdiyah Maaruf yang bisa membuat ekstremisme Islam dan keperempuanan serta kearabannya sebagai bahan untuk membuat orang paham tapi sambil tertawa. Saya mau belajar seperti Gus Dur – semakin berat tantangannya J

Ada banyak kisah ironi terjadi di sekitar yang menurut saya bisa membuat orang tertawa sambil menangis. Tentang anak narapidana teroris yang hanya bisa mengucap Pancasila ketika ibunya sedang meleng, anak sekecil 2 tahun itu tahu ibunya yang teroris itu tidak mengakui Indonesia. Tentang sekelompok elit Indonesia yang lebih senang bicara tentang kekacauan di luar negeri daripada di dalam karena itu akan menyangkut periuknya sendiri. Tentang orang Indonesia yang lebih bangga berbahasa Inggris biar dianggap pintar saat berbicara dengan sekumpulan orang kampung. Orang Indonesia itu lucu loh bener, saya aja yang sok serius!