Monthly Archives: April 2020

Keamanan Siber dan Pertaruhan Kepercayaan Publik – Review Click Here to Kill Everybody by Bruce Schneier

Standar
Keamanan Siber dan Pertaruhan Kepercayaan Publik – Review Click Here to Kill Everybody by Bruce Schneier

Menjelang akhir bab buku ini, aktivis dan peneliti kebijakan publik Ravio Patra ditangkap polisi atas tuduhan menyebarkan ajakan melakukan kerusuhan dan kekerasaan pada 30 April ini. Padahal hanya beberapa jam sebelum ditangkap polisi, Ravio melaporkan pada SAFENet bahwa Whatsapp nya diretas seseorang dan dua nomor tak dikenalnya menghubungi yang setelah dilacak, milik anggota kepolisian. Eeaaa… informasi kasus ini selengkapnya sila di google yak.

Kepercayaan kita pada Facebook – Whatsapp, Amazon, Google dan semua aplikasi itu, bukan kepercayaan sukarela. Kita memang tidak pernah diberi pilihan. Kita tidak diberikan informasi singkat bagaimana keamanan data pribadi kita jaga, dan dimanfaatkan. Kalau pun dimanfaatkan oleh perusahaan tersebut, apa kita dimintai persetujuan atau consent? Tidak. Sementara negara atas dasar “keamanan” memaksa para perusahaan digital ini membuka akses untuk menyadap, meretas, para pelanggan mereka. Buat pemerintah, serasa akan lebih murah dan mudah memaksa meretas warganya lalu dipindai lewat applikasi yang ada daripada menjaga kepercayaan warganya dan menguatkan sistem keamanan siber di negara sendiri. Tapi harga yang dipertaruhkan sangat besar. Sebuah tatanan masyarakat memerlukan kepercayaan agar dapat berjalan baik. Kalau kepercayaan dilanggar terutama oleh negara, bagaimana mengharapkan kehidupan bermasyarakat akan berjalan baik.

Bruce Schenier adalah teknisi. Dia bicara banyak bagaimana kita, sebagai konsumen berdaya, paham tentang keamanan diri sendiri. IoT atau Internet of Things memang memudahkan hidup kita, tapi “semua teknologi yang memudahkan hidup, semudah itu juga teknologi akan menghancurkan semua kehidupanmu.” Ketika meng-install sebuah aplikasi, yang pertama diminta adalah sinkronisasi dengan FB dan Google, yakinkan diri dulu, seberapa perlu kamu dengan aplikasi ini? Pertimbangkan keamanan, apakah FB-Whatsapp lebih aman dari Signal atau sebaliknya, Google atau Apple, menyimpan file di cloud, itu seperti menyediakannya untuk diretas. Verifikasi ganda lebih baik daripada hanya satu, rutin mengupdate sistem lebih baik daripada tidak, mengganti password secara berkala juga lebih aman daripada tidak. Harusnya kita bisa “memaksa” pengusaha digital untuk berlomba-lomba memperbaiki sistem keamanan mereka, bukan dengan “user friendly” saja. Kita harusnya hanya menggunakan app yang terjamin keamanannya.

Pemerintah memang pegang kunci untuk mengatur dunia siber, tapi yang terjadi selama ini, titik beratnya ada pada “penyerangan” atau offence ketimbang memikirkan bagaimana melakukan “pertahanan” atau defence yang baik. Yang dibutuhkan pemerintah adalah meningkatkan kapasitas sistem keamanan mereka supaya tidak mudah dihack atau diretas orang. Seperti kejadian di Ukraina 2015, ketika pembangkit listrik dihacked dan mengganggu sistem distribusi energi hingga akhirnya dihentikan sampai sistem siber mereka diperbaiki. Ketika ini terjadi, yang paling dirugikan adalah masyarakat. Desember 2018, peretas Iran meretas pemerintah kota Atlanta dan operasional pemerintahan kota terpaksa terhenti sampai seminggu. Ada banyak contoh lemahnya keamanan siber pemerintahan, karena pemerintah sibuk “menyerang” sistem siber lain, memata-matai siber negara lain, memaksa perusahaan digital membuka pintu belakang “backdoor” dan memata-matai warganya sendiri, ketimbang memerhatikan keamanan sibernya sendiri. Seharusnya secara teknis, sistem pengamanan harus ditingkatkan dan bisa, asal ada kemauan politis. Dan sistem ini sudah ada sejak perencanaan, bukan baru dipikirkan dan bertindak ketika serangan siber terjadi.

Meski Schneier merekomendasikan agar pemerintah turun tangan mengatur agar keamanan siber terjadi, dalam sistem siber pemerintahan dan menjamin keamanan data pribadi warganya, tapi kemajuan teknologi memang akan selalu lebih cepat dari kemampuan hukum dihasilkan. Tapi bukan berarti itu tidak dapat dilakukan. Punya sebuah undang-undang yang resilient pada perubahan teknologi, masih jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Contoh yang digunakan Schneier dan dapat menjadi rujukan bagi negara lain adalah milik Uni Eropa – GDPR – General Data Protection Regulation.

Dalam UU GDPR ini adalah beberapa yang diatur, antara lain, mandat agar data pribadi hanya bisa dikoleksi atau dikumpulkan dan disimpan untuk “tujuan khususm terbuka dan sah secara hukum,” dan hanya dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan dari pemilik data. Consent atau lembar persetujuan tidak boleh termaktub dalam “Syarat dan Ketentuan,” (dia harus secara terpisah dan terbuka disampaikan). Pengguna berhak untuk mengakses data pribadinya, memperbaikan kesalahan informasi, mengetahui bagaimana data mereka digunakan. Pengguna berhak mengunduh data pribadi mereka dan menggunakannya untuk kepentingan lain, dan menuntut agar data mereka dihapus.

Contoh lain di Singapore ada Personal Data Protection Act, Korea Selatan punya Personal Information Protection Actm dan Hong Kong dengan Personal Data (Privacy) Ordinance. Tapi Schneier sendiri ragu apakah Undang-Undang ini bergigi, tapi daripada tidak. Hal lain yang menurut Schneier sebaiknya tidak dilakukan oleh negara, (1) memaksa pintu belakang dibuka (backdoor) untuk surveillance, (2) pembatasan enkripsi, (3) melarang anomitas, (4) mass surveillance atau pemindaian masal, (5) hacking back (balas retas) dan (6) membatasi ketersediaan software.

Tapi yang paling penting adalah membangun ruang siber yang terpercaya, membawa damai, dan mampu bertahan / sustainable dan resilient (dalam bahasa Indonesia, elastis). Hal itu kata Scheneir mungkin dilakukan kalau ada kerjasama yang baik antara teknisi digital yang menguasai ruang teknis dengan pembuat kebijakan. Dia membayangkan diskusi yang terjadi seperti dalam film Star Trek: The Next Generation, ketika semua orang duduk bersama di meja konferensi dan ahli teknologi menjelaskan dengan data dan sains kepada Kapten Picard. Kapten Picard mendengarkan dan menimbang data dan membuat keputusan berdasarkan data dan sains.

Mitos!

Begitu saya ingin mengakhiri review ini. Masih jauh dari harapan. Schneier menulis buku dalam konteks Amerika, tapi saya ingin balik ke Indonesia. Di Indonesia Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, lebih tepat disebut sebagai aturan karet yang menjerat orang-orang yang tidak sepaham dengan kekuasaan. Undang-Undang yang menjerat pengguna sosial media hanya berbasis bukti hukum yang lemah. Tulisan https://www.thejakartapost.com/academia/2020/04/24/the-curious-case-of-ravio-patra-why-indonesian-cyberspace-is-a-dystopian-nightmare.html cukup menjelaskan mengapa bayangan Star trek itu masih mimpi siang bolong. Ruang siber Indonesia hanya menjadi mainan politik dan pelan-pelan mengikis kepercayaan public. Kita akan membayarnya lebih mahal di kemudian hari.

Hello 42! Yeay, Kita Sampai di Sini

Standar
Hello 42! Yeay, Kita Sampai di Sini

April ini jauh dari keriaan seperti tahun-tahun sebelumnya. Di awal bulan, saya selalu berencana akan ngapain sepanjang bulan dan di hari ulang tahun. Tahun ini, ga ada yang istimewa direncanakan. Tadinya Hening akan publish di hari ini, tapi kita gagalkan saja demi menghemat tabungan. Tadinya, rencana staycation, just the two of us, lupakan saja. Tahun ini, rayakan saja dalam sunyi. Bersyukur, sampai hari ini masih diberi kesehatan, masih selamat dari Covid-19, masih diberikan kesempatan bangun tidur dengan Akang di sebelah. Yeay, we made it so far!

42!

Hal pertama yang muncul di kepala adalah berapa lama lagi sisa kesempatan tinggal di dunia? Apa yang mau saya lakukan di sisa waktu ini? Have I done enough of good cause or worse? Warisan ceritaku pada Zi dan Septi apa? Apa yang akan mereka obrolin ketika menyebut nama saya, Amey Nita Roshita? Saya ingin mereka bilang, pada suatu masa hidup perempuan gila yang ga bisa diam, bahkan ketika penyakit pandemic itu memaksanya untuk diam di rumah. Orang gila yang hidup dari cita-cita dan dengan isi kepala tak pernah istirahat. She is just a crazy bitch, who even talks in her sleep.

42!

And I love myself even more. These wrinkles and silver hair are my company through life. I feel beautiful more than ever with this curve and maturity inside out. Memahami bahwa diri hanya bagian kecil dari kosmik, semesta yang kalau pun detik ini dipanggil pulang, saya hanya akan berubah menjadi bagian terkecil dari energi lain yang maha dahsyat. Tubuh ini seperti kulit bawang, kupaslah seluruhnya maka yang ada adalah kenihilan. Sementara jiwa, energi yang menyatu pada kosmik. Saya adalah masa lalu, kumpulan dari kenangan yang hari ini sampai di usia, satuan yang dibuat manusia, 42tahun.

42!

Saya ingin berterima kasih untuk kamu dan kamu dan kamu, yang pernah hadir dalam hidup memberikan cinta dan kenangan. Kamu yang memberikan semangat, dukungan, pembelajaran dan peringatan ketika saya melenceng. Kamu yang menjadi bagian dari masa lalu dan hari ini. Ada banyak “kamu” yang akan saya bawa dalam kesaksian di depan malaikat pencatat kebaikan, biar penuh bukunya Raqib. Thank you for coming cross to my path and colored my life, would love to meet you and have you near me in the future.

Meanwhile, let’s cheers with me virtually.

 

picture taken from livescience.com

Day 40: Petapa Corona

Standar
Day 40: Petapa Corona

Seorang petapa bertirakat, menjauh dari segala godaan nafsu duniawi untuk menemukan ketenangan. Pada arti lain, petapa adalah orang yang sedang menjalani hukuman sebagai ganjaran atas perilakunya.  Maka saya seperti merasa sebagai seorang petapa, lengkap dengan dua alasan yang sama. Saya sedang menjalani “hukuman” dari perilaku duniawi dan dipaksa untuk menemukan ketenangan dalam ruang petapaan bernama rumah.

Hari ini adalah hari keempat puluh saya menjalani petapaan menghadapi musuh utama Corona, yang terberat adalah melawan diri sendiri, melawan kebosanan, kesepian dan ketidakpastian. Karantina yang saya anggap sebagai masa petapaan memang berawal dari kata 40 dalam bahasa Italia disebut Quaranta. Berkisah tentang perahu di Italia pada abad pertengahan yang saat menepi di Venesia sedang terjadi penyakit pandemic dan harus bertahan di dalam kapal selama 40 hari. Quaranta menjadi karantina.

40 hari dalam kepercayaan masyarakat juga punya arti sakral. 40 hari adalah saat ruh ditiupkan kepada janin dalam rahim. 40 hari setelah kematian, ruh baru benar-benar pergi dari rumahnya meninggalkan orang-orang terdekatnya selama hidup untuk menetap selamanya di alam ruh.

40 hari ini ya Corona, I have learned my lesson, beneran. Semakin hari di dalam ruang petapaan, semakin saya bertemu dengan diri sendiri. Bahwa saya adalah kehidupan itu sendiri dengan campuran emosi yang naik turun. Bahwa saya tidak benar-benar sendirian dalam menjalani kehidupan ini, ada cinta yang menguatkan. Bahwa nafsu Uniqlo, Lemari Lila, bahkan Kanken hanya jadi barang-barang tak berguna selama 40 hari ini. Bahwa celana tidur Winnie the pooh dan Dark Vader menjadi teman setia dan aset kerja bersama kaos bekas yang usianya sudah 4 tahun dengan lubang angina yang semakin banyak di ketiak. Bahwa kegembelan harian saya adalah berkah.

Dalam 40 hari ini, saya menjadi koki, guru untuk Zi dari jauh, manejer keuangan yang mengatur tabungan untuk bertahan hidup tanpa pemasukan. Saya petani kota dengan empat jenis sayuran di pot. Saya ibu dari anak bulu yang saban pagi berisik minta pintu dibuka. Saya menjadi segala yang harus dilakukan untuk bertahan sejauh ini, tanpa mengandalkan lagi bau knalpot ojek yang mengantar saya ke sana kemari. Saya menjadi murid kehidupan yang sederhana. Saya menemukan Nita yang berbeda dalam 40 hari ini dan hidup akan berbeda setelah ini.

Di hari ke40 ini, saya merindu Mami dan bau bacin ponakan, merindu papi dan tak bisa berkunjung ke makamnya. Saya kehilangan bapak mertua tapi tak bisa berduka selain pasrah. Sesekali terbayang bapak yang tiba-tiba muncul di depan pintu melihat saya bekerja dan cuma senyum. Betapa momen makan bersama akang selalu terburu-buru karena waktunya bersamaan dengan akang menyuapi bapak.

Ini hari terakhir usia 41 tahun, what I have done so far in life? Apakah saya jadi yang esensial untuk ibu bumi pertahankan? Apa yang lebih menyakitkan daripada menanti ketidakpastiaan dalam hidup? Berapa lama lagi saya harus berada dalam petapaan? Tak cukupkah pelajaran yang saya dapat sampai 40 hari ini?

Saya seperti peserta kelas menulis di lapas. Pada akhirnya kita semua hidup dalam penjara, dalam petapaan, dalam sebuah panapticon. “Hukuman” bukan untuk mencapai keadilan, tapi untuk melayani mereka yang memiliki kekuasaan. Saat ini, naratif dominan itu milik semesta. Saya menyerah pada keputusanmu, semesta, bahkan jika harus menjalani petapaan 40 hari kedepan lagi. My life is yours!

pic: epodcastnetwork

Rumah Kita Terbakar, Tak Usah Menyalahkan Tuhan. Sistematis Langkah Menyelamatkan Bumi Lewat Green New Deal. Review On Fire the Burning Case for a Green New Deal – Naomi Klein

Standar
Rumah Kita Terbakar, Tak Usah Menyalahkan Tuhan. Sistematis Langkah Menyelamatkan Bumi Lewat Green New Deal. Review On Fire the Burning Case for a Green New Deal – Naomi Klein

Ini buku keempat dari Naomi Klein yang saya baca. Dia adalah seorang feminist, aktivis lingkungan dan jurnalis yang tinggal di Kanada. Yang buat saya betah membaca bukunya hingga selesai dan biasanya hanya butuh 4 hari buat diselesaikan, karena kedekatan rasa yang dia sampaikan dalam bukunya. Anaknya Toma telah mengubah cara dia melihat dunia. Tak ada waktu lagi untuk berkompromi dengan “business as usual” kapitalisme, dan neo liberal dengan free marketnya yang telah merusak bumi. Berdasarkan hitungan IPCCC kita punya waktu hanya 1 dekade untuk bisa memaksa temperature bumi dibawah kenaikan 1.5 derajat celcius. Masa depan Toma dan generasi Greta Thunberg yang dipertaruhkan.

Buku ini berisi esai, dan kuliah umum Klein di depan beberapa forum termasuk pertemuannya dengan Paus Francis saat Vatikan nyusun Laudato Si, enklisik tentang perlindungan terhadap rumah bersama yaitu bumi. Dalam Islam ini seperti fatwa untuk mengubah perilaku, melindungi bumi bahkan penyampaikan pertobatan ekologi. Untuk Klein, lembaga paling konservatif di bumi ini bahkan telah berubah dan memandang isu lingkungan menjadi sangat penting dan mendesak untuk diperhatikan.

Dalam satu bab, Klein menceritakan bagaimana dia terjebak dalam kebakaran hutan di daerahnya di Kanada selama beberapa minggu. Tak bertemu matahari, napas pun sesak. Biasanya Tuhan dibawa-bawa dalam setiap masalah yang dihadapi manusia. Leave HER alone, kata Klein. Ini bukan soal Tuhan, kebakaran, banjir, badai topan itu terjadi karena ulah manusia. Ketika kita membakar hutan, panas yang dilepas ke atas dan berkumpul, membuat temperature tinggi, kalau hujan makin jarang, lalu gesekan sedikit saja akan kembali menimbulkan bara api. Ini seperti lingkaran setan. Maka berhentilah membakar hutan sejak awal. Begitu juga dengan banjir dan cuaca ekstrim hingga badai topan. Semua itu bukan salah hutan, jangan bilang ini cobaan dari Tuhan karena kita, manusia yang mendatangkan bencana itu sendiri.

To change everything, it takes everyone kata Klein. Gereja Katolik, anak-anak sekolah turun ke jalan melalukan climate march terinspirasi Greta Thunberg dan aktivis lingkungan turun ke jalan, memboikot kerjaan hidrolik para penambang minyak bumi dan. Tapi itu saja tidak cukup. Sejak 80an kita para aktivis lingkungan bergerak dan berhadapan dengan para penyangkal perubahan iklim, pemilik modal dan politisi. Memanfaatkan sains untuk menyangkal sains. Klein mengajak untuk mengumpulkan kekuatan dari segala penjuru dan semua bidang, termasuk memetakan ekonom dan politisi yang peduli dan mau kerja, ini lebih penting. Para ahli ekonomi yang tergabung dalam gerakan Post Growth dan De Growth sudah melakukan penghitungan ekonomi jika perubahan model pasar dilakukan menjadi ramah lingkungan. Klein menyebut Kate Raworth dengan Doughnut Economic sebagai salah satu contoh, lalu bekas menteri keuangan Yanis Varoufski juga di antara mereka yang berani menantang perubahan tanpa harus “merugi” tapi justru memberikan keuntungan lebih.

Di Amerika Serikat, anggota Senat, Alexandria Ocasio-Cortez bersama Ed Markey mengajukan paket regulasi Green New Deal (GND) untuk mengatasi perubahan iklim dan kesenjangan sosial ekonomi. Green New Deal bukan paket yang ujug ujug dibuat, tapi merujuk pada reformasi yang dilakukan Presiden Franklin D. Roosevelt saat menghadapi Great Depression – krisis ekonomi 1929 to 1939. Green New Deal menekankan pendekatan ekonomi untuk energi terbarukan, efisiensi sumber daya alam, perlindungan hutan sekaligus menyiapkan kesetaraan pendapatan untuk semua warga negara, dan menaikkan pajak orang kaya.

Jika Green New Deal bisa jebol di Amerika, ini akan jadi awal besar yang dapat direplikasi di negara lain. Isu lingkungan tak bisa menunggu lebih lama, segala upaya dari berbagai penjuru harus dilakukan bersamaan. Tetapi mengubah sistem politik dan ekonomi yang sudah bertahun-tahun merusak alam, harus mendapatkan “Yes” dari kita semua.

Day 30: I Discover “Home that existed” and other discoveries

Standar
Day 30: I Discover “Home that existed” and other discoveries

Back in 2000, my late father once said angrily “this house is not your hotel room. You do not come home just to sleep.” Before I dare to reply him with the word “how much then should I pay?” my mom was staring at me with her beautiful big eyes. She is the only one who can stop me from arguing my father.

I never been really in the house for 24 hours, there is always something that I do outside, even just to hang out with friends. It happens, I don’t know since when, but it feels like forever. Home to me is an abstract thing, not necessary an existing place to call home. Home is something that makes me comfort, accepted, appreciated, loved. Home is something that I carry everywhere, in heart, in mind. Home has been carried by my sneakers, my backpack, my phone, my laptop. The universe is my home. I can rest well everywhere, on the rock in Cibodas, where I was napping so tightly. I do not need luxurious life to feel home.

Until Friday 13 March 2020, I went “home” to Cimahi, where my husband is, after about 10 days we didn’t see each other. And today is 30 days later. “How do you feel to see me 24 hours for the past 30 days? Do you fed up with me for being so grumpy, sometimes tears with no specific reason,” my question to him when we woke up this morning. He was just smiling, “It is okay,” his answered with a small kiss.

This is the longest days of being home for me, my first discovery that I finally find “home” as an existed one. I struggle a lot, like hell. All the anxiety, all the depression. But then, I discovered that I am here, writing to you, in a healthy condition and still sane. I do not expect anyone to understand about me, as we are all facing our demon, having our own battle field. Yes, anyhow, I am upset with people who being toxic positivity, who being judgemental by saying “I don’t understand why other people so stressful of being home, or missing all crazy life we have before. I enjoy my new life.” Well, GOOD FOR YOU! I am happy for you. Please bare in your mind, you are not me, and I am not you, you are not them. There are reasons for people to feel what they feel, and you do not have right to compare with yourself. This is a new discovery for me that empathy is so rare to find in this time of crisis.

Also understand that this is not about you or me, it is about us, about the system. As much as I put salute and highest appreciation for the medics, I prefer to demand “Safety Equipment” for them instead of clapping hands, singing or preparing a “Cemetery of Heroes” for them. Instead of just cheering how wonderful work from home as a new normal, please acknowledge those who have struggle to survive outside, street vendors, the safety guards, the cleaning services, the drivers, the journalists. Those who still work outside to make sure our essential is available. This is my other discovery, that we are NOT is this together. The inequality of economic status, and social status as put us in difference in dealing with Covid-19

As aforementioned, everyone has their own battle field and their own way to survive, mine is by keeping myself busy. I wrote the journal on Day 5 that is okay to be lazy. It did not work for me. I have to be busy in order to keep my mind away from the anxiety. I cook every day, I read 4 books so far, with lots of journals and articles. I become a terrible singer because I don’t actually sing, but shouting. But I become a good gardener, an urban farmer as I have three new pots of re-growing carrot, my kangkung is growing wildly, while Robbie the Robusta is having new leaves. I talk to them because I know they listen without judging, and I also talk to Unin my cat, who gives me look full of love as a reply. I finished my blanket crochet, 120 cm of diameter and more Korean film/drama being watch. I am still writing my journal, and open my laptop on my weekdays to work, although not much to do. I design and creating work for myself.

And last, I just discover my right armpit is smellier than the left one. I haven’t find the reason why. Oh today is mark as my anniversary with wordpress.com! woohhooo… keep writing, keep breathing out, keep sanity.

Status sosial menentukan kekuatan, perilaku dan kepercayaan. Review Human Network oleh Matthew O. Jackson

Standar
Status sosial menentukan kekuatan, perilaku dan kepercayaan. Review Human Network oleh Matthew O. Jackson

Sejak Januari 2020, aktivitas saya malam hari adalah menonton film dan drama Korea. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya loh. Eksperimen saya menonton drama korea dimulai dengan Goblin dan langsung jatuh cinta pada Gong Yoo. Sejak saat itu, saya mendapat banyak rekomendasi dari kawan-kawan tentang film dan drama Yoo. Pertengahan Maret bertepatan dengan dimulainya masa karantina karena Covid 19, saya khatam menonton semua film dan drama Yoo. Setelah itu rekomendasi film dan drama Korea terus berdatangan dari kawan-kawan di media sosial. Daftar aktor yang saya suka pun akhirnya bertambah. Jika tanpa rekomendasi kawan, apakah saya akan bertahan menonton Drakor? Rasanya tidak.

Manusia meniru manusia lain. Confusius menempatkan proses ini sebagai yang termudah dilakukan untuk mendapatkan kebijakan pembelajaran dalam hidup. Kita cenderung akan berkumpul, berinteraksi dengan manusia lain yang memiliki kesamaan, dalam minat, usia, ras, budaya, kepercayaan dan status sosial, disebut dalam buku ini dengan istilah Homophily. Buku the Human Network yang ditulis Matthew O. Jackson ini mendeskripsikan secara detail bagaimana network atau jaringan itu terbentuk. Analisa matematika terhadap kehidupan sosial manusia dalam gambaran titik dan tanda panah. Dihitung probabilitas pesan tersampaikan atau perubahan perilaku dalam sebuah jaringan. Algoritma adalah wujud dari analisa jaringan manusia ini.

Analisa jaringan manusia ini menjadi sangat pas untuk menjelaskan bagaimana penyebaran Covid-19 terjadi. O. Jackson menjelaskan ini di bab ketiga yang diberi judul “Penularan” dengan contoh Ebola 2014 yang menjadi kejadian luar biasa di Afrika. Amerika merasa perlu menyiapkan kemungkinan terburuk jika ebola datang ke amerika. Tetapi menurut analisa jaringan ini, sangat kecil kemungkinan itu terjadi, karena kecilnya peluang orang dari benua afrika yang “miskin” untuk terbang ke Amerika, kecuali jika sangat penting dan itu dilakukan oleh sedikit orang. Begitu juga saat menjelaskan tentang penyebaran penyakit seksual, gunakan jejaring ini untuk menjelaskan potensi penularan.

Covid 19 menular dari interaksi antar manusia. Menggunakan analisa jaringan manusia ini bisa menjelaskan darimana seseorang bisa terkena virus dan bagaimana virus juga akan menyebar dalam lingkup jejaring orang dalam pemantauan, dan seterusnya. Yang dilakukan saat ini adalah mengurangi pertemuan fisik antar manusia. Mengurangi jumlah penularan adalah dengan mengurangi pertemuan fisik antar manusia.

Homophily juga memiliki efek negative yang berkaitan dengan immobility dan inequality. Orang tidak berpindah ke satu tempat untuk menjadi minoritas, tapi merasa perlu untuk berada di dalam mayoritas, satu paham. Jika demikian value atau nilai dan norma yang berlaku tidak kemana-mana, karena akan kukuh di dalam jaringannya sendiri. Bisa jadi hal ini mengakibatkan munculnya kesenjangan. Analisa jaringan manusia menjelaskan kenapa orang miskin cenderung akan meneruskan kemiskinan pada generasi berikutnya. Anak-anak yang lahir dari keluarga miskin hanya akan melihat pada orang tua dan sekitarnya, memilih sekolah yang sama, dan pekerjaan yang sama.

Untuk memutus rantai kemiskinan atau membuat agar nilai-nilai baru dapat diterima dan menyebarluas dalam jaringan manusia, maka ada beberapa cara menemukan aktor kunci yang memiliki kewenangan besar memengaruhi orang lain dalam jaringannya.

  1. Popularity – “Degree Centrality.” Apakah orang ini memiliki banyak kawan, kenalan dan pengikut. Apakah dia dapat menyampaikan pesan kepada ribuan atau jutaan pengikutnya dan mengubah mereka. Tapi tingkat popularitas ini tidak secara proporsional diamati dan cenderung memunculkan bias dalam cara pandang orang terhadap tren, dan nilai.
  2. Connection (Tentang Siapa yang Kamu Tahu, “Eigenvector Centrality.” Apakah orang ini memiliki koneksi yang bagus dengan orang-orang tertentu? Punya banyak kawan itu baik, tapi seberapa penting teman ini memiliki status atau kekuasaan.
  3. Reach – “Diffusion Centrality”: sebagus apa posisi orang ini dalam menyampaikan pesan pada orang lain dan menjadi orang pertama yang mendapatkan pesan? Apakah orang ini mampu menjangkau orang banyak dalam lingkaran jaringannya?
  4. Brokerage and bridging – “Betweenness Centrality”: apakah orang ini punya kemampuan sebagai perantara atau dalam posisi yang unik yang mampu mengorganisir kelompok? Apakah orang ini punya kemampuan menjadi jembatan dari satu grup dengan grup lain atau menjangkau orang di luar grup?

Buat saya yang tugasnya sebagai stakeholder engagement specialist, ilmu ini menjadi sangat berguna dalam memetakan kekuatan pemangku kepentingan. Empat rumus di atas menjadi bahan pertimbangan ketika kita akan menyampaikan pesan. Bagaimana sebuah pesan sampai dan memengaruhi kelompok itu juga pada seberapa besar tingkat kepercayaan kelompok terhadap si penyampai pesan.

Penting untuk memelajari jejaring manusia ini untuk juga menjelaskan bagaimana filter informasi dapat dibangun. Bahwa media tidak cukup selesai dengan mempublikasi berita tanpa memerhatikan bagaimana berita itu sampai, dipahami dan mengubah audiensnya. Betul, pemberitaan berulang-ulang akan membuat sebuah isu dianggap nyata, kebohongan menjadi kebenaran. Tapi itu tidak cukup hanya dijelaskan oleh media. Komunikasi manusia dengan manusia lain dalam kelompoknya lewat WA group lebih ampuh mengubah pandangan orang dari sekedar menyiarkan lewat televise dan radio misalnya. Harus ada orang pertama dan memiliki “kuasa” untuk percaya terhadap berita tersebut, lalu menyebarkan ke jaringan, baru perubahan itu terjadi.

Manusia itu gampang ditebak karena sifatnya yang peniru tadi, keinginan untuk diterima oleh kelompoknya lebih besar dari kemampuannya memfilter informasi, dan keinginan pribadi. Jika hal positif yang kita sampaikan, maka kita akan bisa membuat perubahan yang baik, juga sebaliknya. Yang terjadi dalam dunia yang terpecah-belah, polarisasi, itu terjadi karena kegagalan jaringan memfilter informasi.

Selamat membaca. Meski banyak garis dan titik, bahasa yang dipakai dalam buku ini cukup sederhana. Saya cuma gatel karena setiap saat Jackson akan mengatakan si A, yang juga teman saya, si B yang juga teman saya. Kartun di kepala saya itu bilang gini, “iya deh yang temannya banyak dan orang penting.” Tapi kemudian saya sadar, lah dia kan memang sedang menjelaskan bagaimana sebuah pertemanan bisa menghasilkan sesuatu yang berguna. Friends with benefits, don’t make friends who only bring negative impact to you. Iya, setelah ini saya mulai deh memetakan siapa teman saya yang punya “kuasa” dan sebaiknya tetap disimpen baikbaik dan mana yang Cuma nyusahin buat kita tendang aja kak.