Monthly Archives: November 2019

Zucked! – Sadari Bahaya Facebook – Review Zucked by Roger McNamee

Standar
Zucked! – Sadari Bahaya Facebook – Review Zucked by Roger McNamee

Dua bab pertama, saya lelah dan nyinyir. Buku ini ditulis oleh seorang humble brag, pikir saya. Seseorang yang berusaha tampil low profile tapi sedang bragging atau menaikkan dirinya sendiri. Kenapa? Roger McNamee ini adalah satu penasihat pertama Zuckerberg di awal-awal Facebook berdiri, memberikan investasi bahkan merekomendasikan nama Shally Sandberg sebagai pendamping Zuckerberg di Facebook. Duo Zuckerberg dan Sandberg masih bertahan hingga hari ini. Lalu 2016, McNamee merasa “tercerahkan” oleh bahaya Facebook yang menyebarkan disinformasi yang dikendalikan Rusia untuk mempolarisasi warga Amerika hingga memenangkan Donald Trump. Dua bab pertama, isinya tentang pribadi McNamee, profilnya lah… mengapa dia menjadi sangat pas untuk menulis buku ini dan mengadvokasi sosial media untuk berubah, transparan, bertanggungjawab terhadap usernya. Saya kok merasa, dia cuci tangan. Lah kan situ yang modalin di awal, dan jadi penasehat Zuck, yekan?

Untunglah saya sejenis pembaca yang sabar, menantang diri sendiri untuk bertahan membaca buku yang sudah saya beli mahal ini. Pasti ada kejutan di halaman berikutnya, pasti ada kejutan, begitu kata hati. Benar saja. Di bab keempat dan seterusnya saya baru menikmati buku ini. Saya paham kenapa dia kemudian merasa perlu membukukan perjalanan mengadvokasi Zuck, mulai dari meminta waktu Zuck untuk bertemu dan menyampaikan kegundahan Facebook yang membiarkan dimanfaatkan Rusia, lalu tidak digubris, sampai akhirnya McNamee melobi anggota Parlemen Amerika untuk menyediakan waktu hearing dengan Zuck. McNamee juga mengumpulkan tim, mereka yang paham bagaimana sosial media dengan metadatanya bekerja, terutama orang-orang yang pernah bekerja dengan Zuckerberg, di Facebook.

Tiga hal yang membuat McNamee merasa pemerintah harus segera turun tangan mengendalikan percepatan teknologi informasi yang selama ini dikuasai oleh Google, Facebook, dan Amazon. Pertama karena metadata, teknologi beyond data yang mengumpulkan data sedetil mungkin dari pengguna sosial media, lalu merekayasa “realitas” dengan menyajikan pilihan-pilihan menu dan mengelompokan pengguna hanya pada mereka yang punya perspektif sama – like-minded people. Jadi ketika kamu bilang, setiap orang punya pilihan, cari tahu pilihan itu siapa yang membuat? Realitas mana yang secara organic tumbuh atau direkayasa?

Buku ini menjelaskan secara detail bagaimana metadata bekerja, dan ada banyak buku yang sudah bercerita tentang ini. Data menjadi kurs dalam industry teknologi informasi, sedangkan engagement – emoticon dengan hate dan love menjadi tools paling menentukan bagaimana metadata merekayasa perilaku. Tapi McNamee ingin menegaskan bagaimana perusahaan-perusahaan teknologi informasi ini seharusnya bertanggungjawab pada produk yang mereka ciptakan. McNamee mencoba untuk “jaga” hubungan baiknya dengan mantan anak asuhnya itu dengan bilang, “Zuck mungkin tidak pernah menyangka dampak buruk dari idealismenya yang ingin menghubungkan milyaran orang di dunia tapi dia tetap harus bisa bertanggungjawab terhadap dampaknya tersebut.” Sayangnya, baik Facebook maupun Google tak kalah kencang untuk melobi pembuat kebijakan agar tidak mengatur mereka dengan alasan hukum tidak bisa dan tidak boleh membatasi inovasi. Facebook terus mengelak dengan mengatakan mereka bukan media, tapi perusahaan teknologi. Dengan menyebarluaskan informasi di NewsFeed sudah cukup kata McNamee untuk mengatakan Facebook adalah perusahaan media, dengan begitu pula mereka harus memonitor dengan ketat apa yang ditampilkan pada halaman pengguna. Tidak bisa algoritma diselesaikan dengan algoritma lagi, menciptakan lebih banyak code code lagi. Yang terpenting menurut McNamee adalah mengubah value dari perusahaan itu sendiri.

Value Facebook yang Move Fast, Break Things itu ga bisa lagi berlaku, semua harus memertimbangkan konsekuensi dari aksi. Yang diucapkan Zuck di depan dengar pendapat di parlemen itu cuma modal kekuatan PR-ing, meminta maaf atas kesalahan dan akan melakukan perbaikan-perbaikan. Polarisasi di Amerika, dan Inggris ketika Brexit, kasus Cambridge Analytica dan genosida Rohingya di Myanmar, dampaknya lebih besar dari sekedar memberikan maaf pada Facebook.

McNamee dan tim bersama dengan sejumlah anggota parlemen di Amerika sedang menyusun draft undang-undang AntiTrust yang akan setidaknya mengatur teknologi informasi agar lebih transparan dalam pengelolaan data usernya dan juga “menghancurkan” monopoli Facebook dan Google dalam industry teknologi informasi.

Silakan baca, you won’t be disappointed. Semua yang ingin dia sampaikan terangkum di bab 12-13 dan 14. Cekibrot.

Perempuan Dalam Persekutuan Lelaki di Silicon Valley. Review Brotopia oleh Emily Chang

Standar
Perempuan Dalam Persekutuan Lelaki di Silicon Valley. Review Brotopia oleh Emily Chang

Buku ini dibuka dengan penelitian psikologi tentang kepribadian para penggila komputer, game lalu mengeneralisasi bahwa para programmer terbaik untuk teknologi informasi adalah kutu buku, penyendiri, fokus pada hasil dan mereka adalah laki-laki dan berkulit putih. Lalu hasil penelitian ini yang kemudian diambil mentah-mentah dan dipercaya oleh para pendiri perusahaan digital dan ini lah awal perempuan tersingkirkan dalam persaingan di dunia teknologi informasi.

Jumlah perempuan dalam perusahaan teknologi informasi yang bermunculan seperti jamur di Silicon Valley tidak pernah sampai 30%. Dalam sebuah memo kontroversial James Damore, teknisi di Google menggambarkan pandangan umum laki-laki di dunia teknologi yang menolak kehadiran perempuan karena dianggap terlalu peduli pada “manusia” ketimbang produk “barang” dan itu tidak cocok di dunia mereka. Damore dipecat dari Google 2017, tapi apakah industri teknologi informasi kemudian berubah ramah pada perempuan? Entar dulu.

Emily Chang menjelaskan budaya brotopia – persaudaraan laki-laki di Silicon Valley begitu kuat dan butuh revolusi untuk mengubahnya, butuh pengarusutamaan gender dan literasi feminis di industry ini. Perempuan bukan hanya dianggap tidak mampu menguasai teknologi, tapi juga tidak masuk dalam “budaya” brotopia mereka. Perempuan menjadi obyek dalam pergaulan para lelaki yang sepanjang hidup dianggap cupu, korban perundungan semasa sekolah karena itu tadi, mereka dianggap aneh, kutu buku, penyendiri dan merasa tidak bisa menarik perempuan. Ketika berada di Silicon Valley dan berkesempatan mendapatkan uang, mereka bebas, Emily Chang menyebutnya “balas dendam si kutu buku.” Pertemuan bisnis bisa berakhir dengan pesta seks, pesta biasa berakhir dengan pesta seks dan perempuan selalu menjadi obyek. Perempuan ada di posisi yang selalu salah di Silicon Valley, kalau mereka tidak memenuhi undangan untuk minum dan pesta, maka kehilangan peluang bisnis, tapi kalau mereka datang, maka dianggap “murahan,” bisnis dan kesenangan menjadi satu.

Pelecehan seksual bukan hal aneh di Silicon Valley, jika perempuan mengadu pada HRD, mereka dianggap mengada-ada dan tidak bisa menerima candaan. Dalam beberapa kasus yang dianggap besar karena diangkat mereka, pelakunya memang dipecat tapi dengan pesangon yang cukup untuk bikin start-up baru, sedangkan perempuannya tetap dikucilkan dalam pergaulan.

Tidak ada kesempatan untuk memikirkan berkeluarga. Perusahaan menyediakan makan malam gratis pada pukul 8 malam, ajakan seperti perintah untuk tetap berada di kantor. Penyediaan berbagai sarana untuk “bikin betah” karyawan dilakukan seperti ping pong, tenis, bir yang selalu tersedia di dalam kulkas, tempat istirahat, anything that will keep them stay. Perempuan yang hamil, sudah hampir dipastikan akan kehilangan tempatnya ketika kembali. Mereka yang sudah punya anak, tidak ada tempat penitipan anak, dan memerah susu atau menyimpannya, kecuali bersamaan dengan bir.

Perubahan memang ada, di Google misalnya diusahakan agar rekrutmen dilakukan untuk calon karyawan dari berbagai latar belakang budaya dan ras, bahkan berinvestasi pada pendidikan teknologi untuk anak perempuan. Facebook, karena salah satu bos besarnya perempuan, Sheryl Sandberg, perubahan terjadi ketika Sandberg ketahuan pulang 5.30 setiap hari, lalu ramai-ramai karyawan menuntut yang sama. Makan malam di Salesforce digeser dari jam 8 malam menjadi 7 malam agar karyawan bisa pulang lebih cepat. Slack dianggap terbaik karena memiliki staf perempuan hingga 40an persen, memerhatikan keberagaman latar belakang budaya dan ras, dan menyuruh karyawan pulang setelah jam 7 malam…. Work Hard and Go Home!

Emily Chang mengatakan, perubahan memang harus dimulai dari kesadaran para petinggi perusahaan teknologi ini, tetapi itu harus bisa diturunkan ke level karyawan. Budaya memang tidak mudah diubah, tapi sebagai perusahaan, mereka bisa memasukkan keberagaman, kesetaraan gender dan inklusivitas sebagai bagian dari etik dan nilai perusahaan yang tidak bisa dibantah.  Perempuan harus lebih berani bersuara, dimulai dari gerakan #MeToo dan saling menguatkan, dan ada persaudaran perempuan kini di Silicon Valley untuk saling menguatkan.

Perubahan itu juga harus dilakukan terhadap venture capitalis dan investor, untuk tidak menanyakan hal konyol seperti “kalau kamu menikah, bagaimana kamu akan mengurus start upmu?” rekrut lebih banyak perempuan dalam tim VP dan LP, agar perempuan punya kesempatan yang sama mengembangkan start- upnya.

Yonatan Zunger, bekas teknisi Google mengatakan, pekerjaan sesungguhnya dari seorang teknisi (engineer) adalah memperbaiki masalah yang ada di dunia nyata. Masalah tersebut selalu melibatkan hal pemahaman terhadap manusia dan itu membutuhkan empati yang besar, bukan malah dikurangi. Perempuan memiliki empati yang lebih besar dan hal tersebut sangat dibutuhkan oleh teknologi. Sementara Beth Camstock, dari General Electric bilang, keberagaman justru memicu inovasi, sayangnya orang lebih senang merekrut mereka yang sejenis dan sepahaman.

Logika sederhananya, bagaimana algoritma bisa disusun untuk membaca kebutuhan dan pemikiran manusia yang beragam, jika yang menyusun algoritma hanya tahu manusia dari kalangannya sendiri.

Membaca buku ini membuat saya emosi sebenarnya, ada bagian yang menceritakan Facebook menyediakan layanan untuk membekukan sel telur dan sperma untuk stafnya yang belum akan menikah. Itu memang pilihan, tapi pilihan yang ujungnya untuk kepentingan perusahaan itu sendiri, berusaha selama mungkin menahan karyawannya menikah, karena lagi, perempuan menikah, hamil dan punya anak, masih dianggap merugikan perusahan dari sisi efisiensi waktu dan produktivitas. Aku gemas.

Kegemasan kedua, di tengah eforia teknologi, masih saja orang percaya kalau ini adalah segalanya, lupa kalau teknologi itu cuma alat, dan manusia, kita, adalah masternya. Semua tergantung pada manusia untuk mengelola teknologi. Kalau tidak berinvestasi baik untuk meningkatkan empati manusianya, teknologi akan mencederai masa depan manusia.

Ketiga, pemujaan berlebihan pada tokoh-tokoh seperti Jobs, Elon Musk, Zuck… read this dan kamu akan terganggu, beneran.

Lahir Sebagai Sebuah “Kejahatan,” Review Buku Born A Crime by Trevor Noah

Standar
Lahir Sebagai Sebuah “Kejahatan,” Review Buku Born A Crime by Trevor Noah

Saya bisa mengambil judul lain untuk review buku kali ini, tapi Trevor sudah dengan apik memilih judul dan itu menggambarkan persis apa yang dia tulis di 282 halaman.

Trevor Noah adalah comedian asal Afrika Selatan. Saya tidak tahu apapun tentang Afrika Selatan selain cerita umum tentang sistem politik Apartheid yang memisahkan orang kulit putih sebagai status tertinggi di negara yang terletak di benua Afrika dengan tentu saja mayoritas berkulit hitam, orang Afrika. Trevor Noah lahir di masa itu, ketika persemaian benih perempuan Afrika dan laki-laki kulit putih adalah haram dan anak yang terlahir dari sana adalah sebuah kejahatan. Trevor tidak memiliki “kaumnya” karena di masa itu, Afrika Selatan terbagi menjadi 3 kelompok; kulit putih, colored atau berwarna yaitu orang India, Cina dan bangsa lain selain Afrika yang menempati kasta terendah di rumah mereka sendiri. Trevor besar tanpa teman, tapi ibunya, Patricia Noah membesarkannya dengan cara-cara yang membuatnya terlepas dari lingkaran kemiskinan dan perbudakan.

Adalah Patricia Noah yang bertumbuh tanpa rasa kasih sayang dan merasa dimiliki dan diinginkan oleh keluarganya, Bapak dan Ibunya. Patricia tidak di sekolahkan orang tuanya, dia pergi mencari ilmunya sendiri di sekolah yang didirikan misionaris, yang mengajarinya membaca, berbahasa Inggris dan akhirnya mengetik. Keterampilan yang akhirnya memberikan pekerjaan sebagai sekretaris bagi Patricia, dari upah itu dia memasukkan Trevor di sekolah terbaik, mengajari Trevor bahasa Inggris dan bahasa lokal afrika lainnnya, serta menghujaninya dengan banyak buku. Bahasa, dan buku yang kemudian mengantarkan Trevor berbeda dan mampu “diterima” public sebagai seorang comedian, penyiar radio, penyiar tv dan seorang DJ’s.

Tapi perjalanan ke sana sangat tidak mudah. Sebagai the “outsider” Trevor tak punya identitas kelompok, tapi dia melihatnya sebagai sebuah keuntungan, artinya dia bisa masuk dan keluarga kelompok manapun dengan mudah, berbekal bahasa lokal afrika yang berjibun. Sepanjang hidupnya Trevor dibullied karena warna kulitnya yang terlalu terang sebagai Afrika, dan terlalu gelap untuk disebut kulit putih. Trevor bengal sekali, yang menurut dia sih wajar saja dilakukan di usianya ketika itu, hampir membakar hangus rumah orang, dikejar polisi saat mencuri alcohol dan coklat di sebuah mal, membajak music, tapi selalu lolos karena polisi tidak punya hukum yang mengatur hukuman terhadap anak “mixed” atau campuran kulit putih dan hitam. Tapi suatu hari, Trevor ditahan karena tak punya sim dan menggunakan mobil custom milik bengkel bapak tirinya. Seminggu dia ditahan, Patricia bilang, itu pelajaran paling penting dalam hidupnya.

Sejak menonton video Trevor Noah di facebook, saya jatuh cinta pada isi komedinya yang cerdas dan cerita yang sama dituangkan dalam buku ini dan tetap dong bisa membuat saya tertawa, cekikikan. Tapi saat yang sama terutama bagian bagian akhir, saya tercekat sesak napas, bapak tirinya menembak Patricia sang ibu.

Trevor memberikan perspektif baru tentang anak campuran Afrika Selatan yang hidupnya penuh tantangan. Kemiskinan yang nyata, ketika Patricia sempat besar dengan makan lumpur sungai asal perutnya bisa merasa kenyang, ketika Trevor Cuma bisa makan ulat bulu bercampur dengan sayur dari tanaman liar karena bisnis sang ibu hancur. Bahwa berjuang untuk keluar dari lingkaran kemiskinan itu tidak mudah, dibutuhkan ibu segila Patricia yang berani mendobrak aturan-aturan konvesional yang membuat orang Afrika selamanya dianggap “terbelakang.” Dibutuhan keberanian untuk tampil berbeda dan bangga untuk itu. Trevor mengutip Mandela “Berbahasa dengan bahasa yang dimengerti oleh seseorang, kamu akan menyentuh isi kepalanya. Tapi berbahasa dalam bahasa lawan bicara akan membuatnya tersentuh dari dasar hati” bahasa telah membuat Trevor selamat dalam pergaulan dan Bahasa Inggris menjadi mata uang yang membuatnya “kaya.”

Ketika buku ini selesai dibaca, I have a mixed feeling…. Saya dapat pengetahuan baru tentang Afrika Selatan, penjajahan di masa modern dan bagaimana orang kulit hitam hidup dalam stigma “primitive” dan perjuangan mereka untuk keluar dari stigma tersebut. Buku ini memyimpulkan  rasisme adalah konstruksi sosial, kamu yang punya pilihan dimana kamu berada, memilih identitasmu sendiri, dan saya (Trevor Noah) adalah Afrika, I am with Black People.