Monthly Archives: Juni 2018

Melepas Pala Untuk Apel, Perjalanan Inggris Merebut Pulau Run. Review Nathaniel’s Nutmeg #18

Standar
Melepas Pala Untuk Apel, Perjalanan Inggris Merebut Pulau Run. Review Nathaniel’s Nutmeg #18

Saya tidak menemukan nama Nathaniel sampai di halaman 202, nama lengkapnya Nathaniel Courthope. Dalam buku sejarah Inggris, nama dia pun tak banyak muncul. Tak ada catatan tentang kehidupan Nathaniel, tak ada patung dia di seantero Inggris dan New York, Amerika, tak ada makam penghormatan di Westminster Abbey. Padahal dalam buku Nathaniel’s Nutmeg, setebal 374 halaman, Giles Milton, penulisnya menjelaskan kalau Nathaniel inilah sosok di belakang kesuksesan Inggris merebut Pulau Run dari Belanda, perjalanan Inggris mengikuti kompetisi pencarian rempah aka Spice Race tahun 1600-an sampai dengan 1800an, dan kalau bukan karena semangat Nathaniel di Pulau Run, Inggris tak punya Manhattan, New York. Giles mengakui, tak ada bahan tentang pribadi Nathaniel. Di akhir bukunya, dia hanya mencatat bahwa Nathaniel ini adalah pedagang rempah yang direkrut East India Company, perusahaan perdagangan Inggris untuk mengambil pala dari pusatnya di Kepulauan Banda dan Neira untuk didagangkan lagi di Eropa. Nathaniel yang mempersatukan semangat orang-orang Inggris yang sudah duluan ditahan oleh Belanda di pulau Banda dan Neira. Di bawah kepemimpinan Nathaniel, Inggris akhirnya bisa merebut Run, meski cuma sebentar. Dia dikalahkan oleh pasukan Jan Pieterzoon Coen, pejabat VOC yang dikenal bengis di masanya oleh Inggris.  Nathaniel sempat disiksa, tapi dia milih mati ketimbang mengakui ada rencana konspirasi menghancurkan Belanda

Di buku ini, Giles menjelaskan tentang Inggris yang sejak Ratu Elizabeth 1 hingga King Charles I, ikutan terlibat dalam kompetisi perebutan rempah. Agak ketinggalan ketimbang tiga negara Eropa lainnya, yaitu Spanyol, Portugis dan Belanda yang sudah duluan melakukan ekspedisi ke Indonesia. Mereka berangkat menelusuri Samudera Hindia, mampir ke negara afrika, melewati India, Selat Malaka, kemudian parkir di Banten (dalam buku disebut Bantam) lalu dari sana langsung ke Pulau Banda dan Neira, tempat yang dikenal dengan Palanya. Buah pala di Eropa lebih berharga dari emas, ini adalah buah ajaib yang bisa menyembuhkan banyak penyakit, dicari-cari oleh tim medis. Karena langka, harganya jadi sangat tinggi. Pemain Pala ya tiga negara ini, Inggris mau ikut-ikutan mencari peruntungan. Banyak sekali kegagalan yang dialami Inggris, mulai dari nyasar ke kutub utara karena mau cari jalan pintas, lalu ke benua Amerika (di sana kemudian mereka mendapati kalau ada pulau Manhattan yang dikuasai oleh Belanda yang membangun pelabuhan New Amsterdam), sebelum akhirnya sampai di Indonesia.

Kantor perwakilan East India Company adanya di Banten. Cerita menarik ketika orang pribumi tidak bisa membedakan mana orang Inggris dan mana orang Belanda, sama-sama putih. Orang Inggris merasa orang Belanda itu licik, memperlakukan orang pribumi dengan sangat buruk. Untuk membedakan Inggris dan Belanda, pejabat Inggris melakukan pesta ulang tahun ratu dengan mengundang pejabat daerah dan orang kaya di Banten, dengan kostum Elizabethan. Orang pribumi bertanya, kenapa yang orang bule di sana tidak diundang bukannya sama-sama dari Inggris? Pejabat Inggris menjawab, mereka orang Belanda, tidak beradab dan jahat, kami orang Inggris lebih berbudaya.

Singkatnya, setelah 50 tahun berperang memperebutkan Run, akhirnya terjadi gencatan senjata dan perjanjian Westminster, Treaty of Westminster yang salah satunya adalah mengembalikan Run pada Inggris. Di Banda, pejabat Belanda tidak rela mengembalikan Run, maka pulau itu dirusak, pohon pala ditebang, pulau dibakar dan orang Run dipindahkan. Pulau itu dijadikan mati dan tidak berguna. King Charles yang saat itu berkuasa menggantikan King James, mengalihkan strategi balas dendamnya. Kantor East India Company dipindah ke India yang lebih ramah menerima mereka, yang kemudian berganti menjadi British India, fokus dagang beralih dari Pala menjadi Kayu Manis dan Sutera, dan untuk membalas Belanda, King Charles habis-habisan mengirim dan menggempur Manhattan. Belanda yang lemah di sana karena fokus menguasai Indonesia, akhirnya menyerah. Perjanjian Breda menuliskan penyerahan Manhattan kepada Inggris, dan Run dikuasai Belanda.

Di akhir tulisannya Giles mengatakan, Neira yang menjadi pusat aktivitas di Kepulauan Banda memang tidak sama dengan Manhattan yang dipenuhi Gedung-gedung tinggi. Tapi Run, Banda, Neira dan Pulau Ai tetap lebih memikat dengan pemandangan alamnya. Sayangnya penduduk pulau ini tidak tahu sejarah luar biasa yang mengubah dunia saat ini, bermula di sini, di Kepulauan Banda dan buah Pala.

Pertanyaan terakhir tetap mengusik kepala saya, Belanda pernah menyesalkan melepas Manhattan demi Run?

Belanda dan Inggris sama-sama serakah pada akhirnya, siapa bilang penjajahan membawa kesejahteraan. Buku ini dibuat oleh orang Inggris, tentu saja isinya mau bilang, Inggris jauh lebih baik dari Belanda, bahwa mereka datang murni untuk berdagang bukan menjajah. Soal gaya tutur, Giles sukses membuat saya membaca sejarah tanpa merasa bosan, mengalir seperti membaca novel.

Menjelang Hidup Yang Melamban

Standar
Menjelang Hidup Yang Melamban

Sejak duduk di bangku kuliah 1996, saya sudah bekerja, dan tidak pernah istirahat sampai hari ini. Sehari dua hari cuti, paling lama ya kemarin sewaktu menikah, 5 hari. Saya gila kerja, kalau saja tak ketemu Akang, saya sudah menikahi pekerjaan saya. Selama saya suka, apa pun dikerjakan tanpa mengeluh. Akang yang sering mengingatkan, kalau badan menua itu tidak bisa dikibuli oleh hati yang riang dan semangat yang muda. Ada waktunya dia butuh istirahat.

Di usia 40 tahun, semesta memberikan kejutan. Tidak ada yang pernah mewanti saya bahwa memasuki 40, siap-siaplah dengan kejutan fisik dari semesta. Yang saya ingat, Eci harus berganti kacamata plus, itu saja. Tapi saya, diberi kejutan berbeda. Februari – April, saya tidak berhenti mens. Tahu kah kamu rasanya harus pakai pembalut setiap saat? Bokong lecet! Lelah harus bolak-balik ke kamar mandi, dan waktu saya masih aktif berpindah dari satu kampung ke kampung lain di Berau, tantangan terbesar adalah mendapatkan air bersih untuk mencuci vagina dan membersihkan pembalut. Saya tidak merasakan badan yang lemas, mungkin tidak sempat berpikir ke sana karena sibuk di lapangan. Lantas saya pikir, selama saya tidak lemas, ya berarti baik-baik saja. Sampai dokter memutuskan kuretase, untuk memastikan gejala yang saya alami ini kanker atau bukan.

Alhamdulillah bukan kanker, tapi potensi ke sana akan semakin besar kalau saya terus mendapatkan haid, karena hormon saya yang tidak seimbang. Kalau mau sehat terus, saya harus berhenti haid, artinya, lupakan mimpi punya anak. Sedihnya bukan kepalang, menangis saban saat, tapi seperti kata Paul McCarthy, Let It Be! Tuhan punya rencana lain buat saya barangkali. Jadi saya terima kenyataan itu. “Kita pacaran terus kang sampai tua.”

Obat penyeimbang hormon itu harus diminum setiap hari, pada jam yang sama. Harusnya memang saya tidak haid selama mengonsumsi obat dengan benar. Tapi Mei lalu, saya dapat haid dan malah pendarahan selama dua hari. Panik! Tapi emang mbandel, saya tidak ke dokter lain, karena malas mendengar diagnosa berbeda dan obat berbeda. Saya coba percaya pada dokter Tita di Hermina Pasteur Bandung saja. Tapi peristiwa itu seperti pukulan buat saya. Diskusi panjang dengan diri sendiri, akang dan mami, akhirnya memutuskan, ikutin saja tanda yang diberikan semesta, waktunya saya untuk istirahat, mengurangi kesibukan dan konsentrasi pada kesembuhan.

Menjelang masa istirahat, saya malah deg-degan. Saya tidak pernah istirahat panjang lebih dari seminggu, ini malah menjadwalkan diri untuk tidak melakukan apa-apa selama satu bulan. Bisa ga ya? Suami cuma bilang, bisa, kan cuma disuruh tidur sebulan.

Setiap hari saya melihat tanggalan, belum juga tiba harinya, di kepala sudah muncul jadwal. Pekan pertama ngapain dan dimana, pekan dua juga demikian. Saya memang khawatir dengan masalah keuangan keluarga, tapi lebih khawatir lagi pada kekosongan kegiatan. Saya yakin banget, badan mungkin bisa istirahat, tapi kepala saya yang liar dengan banyak hal itu tidak bisa dipendam hanya karena saya libur dari aktivitas bekerja. Duh selamat nggak ya saya dari masa liburan ini?

Saya deg-degan …

 

Ginan, Satu Lagi Jiwa Luar Biasa Berpulang

Standar
Ginan, Satu Lagi Jiwa Luar Biasa Berpulang

“Nasib terbaik adalah tak pernah dilahirkan

Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda

Dan yang tersial adalah berumur tua

Berbahagialah mereka yang mati muda”

Mati Muda – Soe Hok Gie

 

Subuh saya berbeda hari ini. Pesan dari Putri membangunkan saya dari tidur, “Mba Nita, Ginan Ashoka meninggal?” Pertanyaan itu saya jawab pertanyaan lagi, “kapan? Kenapa? Sampai lupa Innalilahi wainailahi rojiun.”

Lalu saya google “Ginan, Rumah Cemara,” betul, Ginandjar Koesmayadi berpulang ke rumah Allah malam tadi di Rumah Sakit Advent, Bandung. Pandangan saya buram seketika. Saya kehilangan satu lagi anak muda yang pernah menyentuh hati dan jiwa saya.

Ginan. Saya baru kenal sosok Ginan sejak bergabung dengan Ashoka 2012, dan Ginan menjadi Ashoka Fellow di 2011, berarti umurnya baru 31 tahun waktu itu. Ginan salah satu Ashoka Fellow termuda! Saya bangga dan salut pada Ginan saat itu juga, karena saya tahu persis bagaimana proses panjang, rumit dan kadang melelahkan untuk menjadi Fellow-nya Ashoka. Ashoka harus memastikan kandidat fellow nya benar-benar memenuhi lima persyaratan, salah satunya tentang ‘etika’ atau ‘akhlak,’ hanya mereka yang punya empati yang bisa lolos dari seleksi ini.

Ginan. Begitu dia mengucap salam, “Assalamualaikum” di pintu masuk kantor, saya langsung ngibrit menyalaminya duluan. Senyum-senyum saya mendengar nada sunda pisan yang keluar dari mulutnya, seperti sedang nonton lawakan Sunda. “Si teteh, cengar cengir wae,” katanya. Mungkin dia tersinggung karena yang dia sampaikan memang masalah serius, tapi saya menanggapinya dengan senyum dan ketawa tak bisa ditahan. Semua terdengar lucu dari Ginan.

Saya berkesempatan mengajak staf Ashoka dari Amerika untuk berkunjung ke Rumah Cemara. Saat itu Ginan lagi semangat mengajak anak-anak muda berlatih tinju. “Ini teh, samsak baru. Biar ada alternatip selain main bal-balan.” Ginan bersama timnya di Rumah Cemara yang membentuk tim Indonesia untuk ikutan turnamen sepakbola untuk ‘gelandangan’ tingkat dunia, Homeless Football World Cup. Sepakbola menyatukan semua, memberikan semangat baru untuk anak-anak muda yang pernah terpuruk pada titik terendah dalam hidupnya untuk bangkit. Ginan memberikan contoh itu, Ginan dan Rumah Cemara memberikan kesempatan kedua untuk anak-anak muda yang pernah terjebak dalam narkoba dan mereka yang hidup dengan HIV / Aids untuk berkarya, kembali bersemangat menjalani hidup.

“Teteh, ini teh saya harus pakai bahasa Inggris ngomong sama dia?”

“Iya lah. Gue ga harus menerjemahkan kan? Kamu kan bisa bahasa Inggris Nan.”

“Ari si teteh, kalau loba-loba teuing mah, pabalieut atuh. Kalau little-little mah yes I can.” Sambil nyering ke arah tamu bulenya siang itu.

Jadilah setengah hari itu, saya dan Putri dihibur oleh Ginan yang ngobrol asik dengan bahasa Inggris-Sunda.

Saya ingin mengingat Ginan sebagai jiwa yang luarbiasa, penuh semangat, penuh ambisi untuk menghapus stigma bagi ODHA dan memberikan aspirasi juga kesempatan buat anak-anak muda lain untuk bangkit. Semua orang berguna untuk orang lain, semua orang punya kesempatan yang sama. Saya ingin mengingat Ginan sebagai sosok yang lucu, ramah dan membuat orang lain nyaman untuk berbagi dengannya.

Ada tiga hal yang membuat pahala berjalan terus setelah kita meninggal, doa anak sholeh, ilmu bermanfaat dan amal jariyah. Saya percaya, apa yang sudah diberikan Ginan bersama Rumah Cemara, telah menyentuh banyak jiwa, saya di antaranya, pahala itu akan bergulir terus bersama doa untuk Ginan.

Ah Kang Ginan kan merembes mili lagi ☹

 

 

Sebelum Menyalahkan Diri Sendiri

Standar
Sebelum Menyalahkan Diri Sendiri

Hari ini iseng mendengarkan seorang podcaster dengan menggebu-gebu bicara tentang bagaimana nasibmu berada di tanganmu, “it is you and only you that can change your life”. Sambil mengerjakan tugas, saya bilang, “dik, hidup ini tak semudah cocotmu. Hidupmu baru banget mulai, dan sudah segitu hebatnya menasehati orang lain.”

Jargon ‘you and only you who can change your life’ itu milik Neo-Liberal, menyangkal bahwa ada sebuah sistem yang melingkari kehidupan seseorang, mengikat dan berdampak pada pilihan-pilihan yang ada dalam hidupnya.

Contoh gampangnya begini, kamu kan ga brojol dari batu toh? Ada ibu dan bapak, hidup bersama dalam sebuah rumah tangga, keluarga dan ikatan perkawinan, melahirkan sebuah aturan yang harus dipatuhi oleh anggota-anggota di dalamnya. Sewaktu kamu SD, kamu bisa memilih sekolah di mana? Memang ditanya, tapi pada akhirnya orang tua yang memutuskan. Sewaktu SMA, apa pertimbanganmu memilih sebuah sekolah? Jarak, reputasi? Ujungnya tetap orang tua yang membiayaimu yang memutuskan. Sewaktu memilih kuliah, itu pilihan siapa? Pada akhirnya kamu memutuskan segala sesuatu itu berdasarkan negosiasi dengan orang sekitar, dengan sistem terdekatmu, keluarga.

Tapi ada banyak anak di luar sana, yang sejak SD sampai SMA tak punya banyak pilihan karena keterbatasan keuangan, atau jarak yang jauh dari kampungnya, orang tua yang memberikan izin untuk pergi sekolah jauh-jauh. Apa itu salah mereka? Lu sik miskin, gitu ya? Padahal menyediakan fasilitas sekolah yang gampang diakses oleh semua anak adalah tugas pemerintah! Ente pikir setiap keluarga bisa membangun sekolahnya sendiri?

Dari Pendidikan kemudian berpengaruh pada peluang dan pilihan pekerjaan. Kamu yang anak kota, kelas menengah ke atas dan memiliki Pendidikan yang lumayan tinggi, pilihan untukmu tersedia banyak sekali dan sekali lagi punya keistimewaan untuk memilih. Itu pun lagi-lagi tak semudah cocotmu menentukan sebuah pilihan dalam hidup. Apakah peluang kerja yang tersedia di luar sana cukup menampung semua angkatan kerja? Bikin peluang kerja sendiri dong, itu mungkin jawabmu. Iya pake modal dengkul?

Ada berapa anak muda yang terjebak dalam jargon ‘follow your passion’ tapi akhirnya mati kelelahan, merasakan kesendirian karena tanpa sadar lebih banyak menghabiskan waktunya di depan laptop daripada bertemu keluarga dan sahabatnya. Ada berapa anak muda yang harus menanggalkan mimpinya karena tuntutan hidup sudah berbeda, ada keluarga yang harus diberi makan, sementara persaingan usaha di luar sana sudah sangat ketat.

What I am trying to say is dik, life is not just about you and your choices! Life is about a system, a social interaction. Jadi ketika sebuah kegagalan datang, itu bukan salahmu seorang, jangan menyalahkan dirimu sendiri lalu berniat bunuh diri. Manusia hidup itu bergantung pada manusia lainnya, kita ini anggota sebuah komunitas, masyarakat, bangsa dan negara. Choices are by design yang kadang tanpa sadar kamu memilih sesuatu yang memang sudah diatur untukmu.

Sudah magrib, Semesta mencipta senja agar kita beristirahat. Jangan perbudak dirimu demi ‘passion’.

Komunikasi Politik Recehan

Standar

Menjelang hari raya, sosial media bukan menenangkan seperti yang didambakan banyak orang. Isinya bukan lagi keriaan menjelang hari kemenangan, tapi sekedar cela mencela. Ironisnya, ini dilakukan oleh kelompok yang selama ini saya anggap pintar dalam melakukan komunikasi politik yang membawa Jokowi pada kursi kepresidenan 2014 lalu. Pak De tetap dengan gayanya yang elegan, asal tak terpancing untuk ikut-ikutan menjawab hal remeh temeh tentang pesaing-pesaingnya. Saya masih percaya Pak De tetap santun dalam komunikasi politiknya.

Sayangnya itu tidak ditiru oleh para pendukungnya yang membabibuta mencela dan mengejek kubu lawan yang sampai detik ini sibuk sekali dengan tagar #2019GantiPresiden tapi ngga tau siapa yang mau diusung. Bapak yang satu itu lagi? Konyol banget kubu itu. Lebih konyol lagi kelompok yang ikut-ikutan terbawa dalam politik recehan ini.

Kita sepakat mengangkat isu agama dalam perpolitikan dalam negeri sudah sangat menandakan keputusasaan karena tidak mampu bersaing untuk menampilkan prestasi. Sepakat meski agama tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan bernegara di Indonesia, tapi menjadikannya sebagai satu-satunya pintu masuk kemenangan politik itu adalah receh, remah-remah politik. Kita sepakat untuk mengedepankan kualitas dan prestasi calon pemimpin, lalu kenapa kawan-kawan pendukung Jokowi malah ikutan terseret arus recehan.

Sedih saya. Pak De itu sudah cukup ‘menang’ dengan aksi kerja kerja dan kerja, dengan penokohan sebagai Bapak dalam keluarga yang sederhana dan harmonis, dengan penampilan sebagai representasi wong cilik dan Islam Nusantara. Tanpa harus membunyikan “TOL JOKOWI” kita semua paham, Pak De memang memperlancar yang selama ini tersumbat semacam sinus pembangunan. Tapi dengan embel-embel itu, saya tersinggung justru, saya ini pembayar pajak, yang berhak atas nama itu ya rakyat, terlepas dari preferensi politik mana pun.

Yang mengotori komunikasi politik Pak De menjelang pemilu kok ya pendukungnya sendiri. Kalau saja kawan-kawan menyudahi aksi cela mencela, berbuat lebih santun dalam berpolitik, memberikan teladan dalam berkomunikasi, politik tidak jadi menjijikan seperti hari ini.

Tolong renungkan, selamat hari raya, selamat meraih kemenangan, terutama kemenangan atas damainya hati.

Jangan Tanya Soal Anak Pada Saya!

Standar

Jam 2 dinihari, saya masih saja kepikiran, betapa menakutkannya lebaran nanti. Bertemu dengan keluarga besar, tetangga dan teman-teman lama. Dulu ketakutan saya pada pertanyaan dan sindiran “kapan nikah?,” “sekolah terus, kerja terus, kapan nikahnya?,” “jangan terlalu pintar jadi perempuan, nanti ngga ada laki-laki yang mau.”

Setelah menikah, saya tahu pertanyaan dan sindiran akan berubah lagi, “kapan isi?” “buruan loh, nanti keburu ngga bisa punya anak” “eh empat puluhan itu masih mungkin loh punya baby” “saya punya dokter yang bisa program bikin anak, mau ta kenalin?” “kalau nggak punya anak, nanti tua nggak ada yang jagain loh.”

“Perempuan tempatnya salah”

Kata-kata itu pernah saya dengar dari mami, tapi baru kali ini saya benar-benar merasakan dan sakit rasanya. Maafkan saya bu dokter Tita, saya tahu, kunci bahagia adalah dengan mensyukuri apa yang kita terima hari ini, I am indeed. Tapi kalau saban saat mendengar kembali pertanyaan soal anak, rasanya saya mau mendem di tanah aja. Lelah menanggapi pertanyaan itu, saya hanya berharap, di lebaran ini tidak ada orang sok peduli yang bertanya soal anak pada saya. Cuma itu!

Buat yang kenal baik dengan saya, pasti paham betapa saya mencintai anak-anak, dan sangat menginginkan mereka ada di sekitar saya. Sederet nama untuk bayi masa depan sudah disiapkan. Tapi Allah punya rencana berbeda buat saya. Dengan kondisi saya sekarang, sebaiknya saya tidak punya anak, begitu dokter Tita bilang.

Mencoba menerima kenyataan itu saja sudah sangat berat buat saya. Setiap saat selama hampir dua bulan ini, saya sedih. Sangat gampang menyalahkan obat penyeimbang hormone yang sedang dikonsumsi sebagai penyebab mood naik turun. Tapi lepas dari itu, saya memang sedih. Seperti kehilangan anak yang tidak pernah saya sempat miliki. Setiap kali saya lihat perempuan hamil, setiap kali melihat anak yang digendong, bahkan melihat foto bayi-bayi berseliweran di sosmed, saya sedih.

Kesedihan itu bertambah saban kali bertemu orang yang SOK TAHU bilang, “jangan mendahului kehendak tuhan, mana tau keajaiban datang.” “Coba cari pendapat kedua.” Dan seterusnya.

Saya mau bilang, bertemu dokter itu melelahkan, proses pemeriksaan itu nggak enak dan jangan paksa saya untuk terus menerus mencoba punya anak. Jangan! Semua itu menyedihkan, sudah cukup. Saya jadi orang yang paling mudah menyalahkan diri sendiri, seandainya ini dan seandainya itu. Saya sedang dalam proses menerima kenyataan, ya sudahlah, memang ini yang digariskan Allah buat saya, menjadi ibu untuk semua anak di dunia.

Suami saya adalah orang paling supportive yang saya kenal. I do not want to listen to others but him saat ini, tapi tolong dengan sangat, jangan pernah bertanya soal anak pada saya, ok! Give me some privacy to accept everything and gracefully taking it as a fate and a gift from universe.

Terima kasih and happy eid

Jangan Jadi IDIOT! Mari Peduli, dan Buat Bumi dan Isinya Bernilai Tukar Ekonomi. Review buku Talking to My Daughter About the Economy oleh Yanis Varoufakis #17

Standar

Buku ini menjawab kegemasan saya pada mereka yang selalu merasa pintar dengan membuat orang lain bingung lewat penelitian yang susah dicerna, omongan yang memutar, wacana tanpa aksi dan teori-teori tanpa aplikasi. Yanis Varoufakis bilang, jika kita gagal menjelaskan ekonomi (dia seorang ekonom dan bekas Menteri keuangan Yunani) dengan bahasa yang bisa diterima oleh anak muda, maka sebenarnya kita juga sedang ada di tahap kebingungan.

“the more scientific our model of economy become, the less relation they bear to the real, existing economy out there”

Lewat buku ini, Yanis mencoba mempopulerkan ekonomi sebagai sebuah keilmuan dan dalam prakteknya sehari-hari dengan bahasa yang sederhana, seperti dia bicara dan menjelaskan ekonomi pada putrinya Xena yang berusia 14 tahun.

Pertanyaan pertama, kenapa eropa menginvasi aborigin di Australia, asia dan afrika dan bukan sebaliknya? Jawaban atas pertanyaan ini, justru membuat Yanis menjelaskan sejarah rantai ekonomi dan pasar.

Pada suatu masa ketika manusia bertambah populasinya, mereka memutuskan untuk menetap dan mengubah pola hidup dari berburu menjadi bertani. Keluarga A bertani A, keluarga B bertani B, jika saling membutuhkan, munculnya sistem barter, atau pertukaran Lalu hasil pertanian yang berlebih atau surplus kemudian memicu sebuah peradaban baru, tulis menulis. Hasil pertanian yang berlebih kemudian disimpan dalam lumbung desa/ kampung, dicatat dalam buku, dan dihitung. Ini yang kemudian menjadi bank pertama. Mata uang berupa koin pun muncul di sini. Berapa yang disimpan, mendapatkan nilai berapa, sejumlah berapa koin. Kebutuhan lainnya kemudian dibayar menggunakan koin itu dan seterusnya. Itulah masa-masa awal ekonomi berlangsung.

Tapi eropa tidak sesubur asia, afrika dan asia. Mereka punya tantangan besar untuk bertahan hidup. Penemuan mesin uap oleh James Watt mengubah peradaban eropa. Dengan kapal uap mereka menjelajah dunia, perdagangan terjalin, penjajahan terjadi. Di dalam eropa juga bergejolak, pertanian ditinggalkan karena revolusi industry terjadi, mereka memilih menjadi buruh pabrik daripada berdaulat di tanah pertaniannya sendiri. Kelaparan terjadi, perang terjadi, ekonomi terpuruk.

Bagaimana menjelaskan Karl Marx di sini? Pabrik berdiri, produk dibuat dengan mesin. Buruh dengan upahnya membeli barang yang dihasilkan dari pabrik, komodifikasi barang terjadi. Buruh membeli dengan upahnya sebagai fethism. Harga barang yang dihasilkan dan kemampuan daya beli buruh itu saling bertalian. Ini kemudian yang sangat dekat relasinya di masa otomatisasi, dimana buruh diganti dengan mesin. Yanis mengingatkan, jika semua tenaga buruh diganti mesin, siapa yang belanja itu barang? Mesin tidak bisa belanja, tidak bisa meningkatkan daya beli pasar. Jadi, bagaimana pun buruh adalah elemen penting dalam roda perekonomian dunia. Yang terbaik adalah menjadikan buruh ini sebagai tuan atas robot / mesin, bukan budak dari mesin.

Di buku ini, Yanis juga menjelaskan bagaimana perbankan itu bergerak. Darimana sebenarnya uang yang ada di bank itu? Kata Yanis, seperti Harry Potter dengan tongkat sihirnya, begitulah bank bekerja, mereka mencetak angka dari udara yang kosong, tahu-tahu ada di dalam rekeningmu. Nilai mata uang dan model perbankan bekerja berdasarkan ‘trust’ kepercayaan, jika itu rusak, rusak pula sistem perekonomian kita. Ketika ternyata kredit macet terjadi, orang-orang menarik tabungannya dari bank dan tidak dapat membayar utang mereka, bank dalam bahaya, kebangkrutan. Saat itulah negara hadir sebagai pahlawan, menjamin perbankan dengan modalnya dan meredam rush di masyarakat.

Lucu ya, begitulah. Para pengusaha dan banker itu selalu menutut agar pemerintah tidak ikut campur dalam pasar dan perekonomian, tapi ketika krisis terjadi, mereka kemudian berbalik kepada pemerintah untuk dilindungi asetnya. *tepuktangan

Tapi paling tidak menurut Yanis, model ini lebih aman daripada stateless money, seperti Bitcoin, tidak ada yang menjamin asset pemiliknya jika suatu saat data mereka dicuri, dihacking dan hilang. Minta bantuan siapa? Kita bisa memisahkan uang dari politik, tapi tidak bisa memisahkan politik dari uang.

However, aktvitas ekonomi telah menyebabkan kerusakan di muka bumi. Mengutip Agen Smith dari film Matrix, manusia ini seperti kanker di bumi. Mereka yang tidak peduli terhadap kepentingan orang banyak dan masa depan, dalam bahasa Yunani kuno disebut IDIOT! Dan dalam masyarakat yang berbasis pasar, kita memiliki kecenderungan menjadi idiot. Hal ini terjadi karena semua yang kita nikmati seperti udara, hutan, laut, tidak memiliki ‘exchange value’ nilai tukar, sehingga dengan bebas manusia pengekploitasinya tanpa memikirkan konsekuensinya pada kehidupan sekarang dan masa depan.

Yanis memberikan solusi, melawan pasar dengan pasar, demokratisasi pasar tidak sama dengan mengomodifikasi segalanya. Yang sebenarnya pernah dilakukan adalah membuat perusahaan membayar jasa perlindungan lingkungan, contohnya, pabrik otomotif membayar pajak emisi di negara yang memiliki hutan tropis. Tapi lagi-lagi ini juga bermasalah karena siapa yang menentukan berapa besar harga / nilai emisi, berapa kapasitas emisi yang kena pajak, dan siapa yang mengawasi, semua ini ditentukan oleh pemerintah, dimana nilai kepercayaan juga dipertanyakan. Atau satu lagi, memberikan kebebasan konsumen memilih produk mana yang ramah lingkungan dan tidak, membangun pasar yang ramah lingkungan juga menjadi salah satu cara.

Mengutip Winston Churchil, Yanis mengatakan, demokrasi memang penuh catatan dan kecacatan, tapi dia masih menjadi alternative yang lebih baik untuk menghargai kebebasan individu untuk memilih apa yang terbaik untuknya, dan alam.

Ini adalah buku yang harus dimiliki semua orang, karena mudah dicerna. Yanis bilang, jika semua orang mengerti bagaimana ekonomi bekerja, di tangan orang-orang muda ini bagaimana ekonomi yang berpihak untuk orang banyak dan melindungi alam akan diterapkan.

IMG_20180520_140358