Monthly Archives: September 2018

Dua Bulan Tanpa Gaji. Begini Caranya Bertahan

Standar
Dua Bulan Tanpa Gaji. Begini Caranya Bertahan

Keluar dari zona nyaman itu memang menakutkan, bohong kalau tidak ada kekhawatiran soal ina inu yang selama ini membuat kita terlena. Tapi ketika keluar dari zona nyaman itu harus dilakukan, seperti saya karena kondisi kesehatan, ya lakukan dengan satu kepercayaan saja, berprasangka baik selalu pada yang punya hidup ini. Itu kan nilai ya. Kalau pratiknya seperti apa persiapan yang harus dilakukan?

Tahun 2015 lalu, saya keluar dari pekerjaan tetap untuk mengejar mimpi mau fokus mengejar beasiswa Chevening, hanya dengan modal cuma dua juta di tabungan dan iming-iming pekerjaan sambilan ina inu. Tapi karena saya punya target, mau sekolah, dan ternyata bisa. Punya tujuan yang jelas itu memang membantu kita buat bertahan hidup, meski kelihatannya gila dan tidak mungkin. Waktu berangkat sekolah, saya hanya pegang uang seadanya, dililit tagihan utang kartu kredit dan cicilan rumah. Setiap bulan dengan uang beasiswa, saya masih bisa mengirim sedikit uang buat mami, tapi tidak untuk kartu kredit dan rumah.

Pulang dari sekolah 2016, rumah saya masuk daftar penggadaian dan dari bank saya dikejar-kejar setan kredit. Saya terima hukuman itu, karena memang saya tidak sanggup membayar dengan uang beasiswa. Dengan penuh kesadaran, saya mengontak satu-satu pihak bank dan kpr, saya sudah bekerja lagi dan saya akan melunasi semuanya. Lagi-lagi keajaiban itu ada, semesta itu baik. Di 2017, rumah saya kembali, cicilan kartu kreditnya yang masih lanjut dengan beberapa keringanan.

Di 2018, sejak Januari kesehatan saya terganggu dan memburuk di bulan Mei, secara fisik dan mental. Persis menjelang lebaran, rezeki alhamdulillah membaik dengan THR yang saya alihkan untuk membayar lunas utang kartu kredit. Saat itu utang KPR juga tinggal sedikit, tapi kalau semua harus dialihkan kesana, lebaran manyun dong. Masih sempat untuk mengajak mami dan kedua ponakan liburan bareng di Bandung.

Juli 2018, saya mengundurkan diri dari pekerjaan tetap. Saya merasa harus membenahi kesehatan fisik terutama mental saya. Sedikit ketar-ketir soal keamanan keuangan, apalagi akang suami saya pun tidak punya financial security yang baik. Kami dua orang nekat yang percaya saja pada keajaiban. Tapi kepercayaan untuk bisa bertahan tanpa gaji itu bukan tanpa dasar, nah ini dia tipsnya:

  1. Lunasi kartu kredit. Selama kita masih berutang akan sulit untuk mengatur keuangan dan kehidupan dengan bebas.
  2. Dua rekening di bank berbeda. Ada satu rekening yang khusus cash flow, keluar masuk gaji. Biasanya masuk sekali, keluarnya berkali-kali. Sudah dua bulan ini tidak ada yang masuk, tapi alhamdulillah sisa tabungan masih bisa buat bertahan. Satu rekening lagi khusus tabungan untuk keadaan darurat. Cicilan rumah 750, saya selalu lebihkan. Karena bukan financial planner, saya tidak pakai keharusan presentase jumlah tabungan dari gaji. Sekenanya saja, kalau ada uang lebih sedikit, tabung!
  3. Beli emas. Sewaktu bekerja jauh di kampung-kampung terpencil membuat saya hemat. Ya iyalah, mau jajan apa coba. Jadilah post uang jajan itu saya gunakan buat jajan emas, 1 gram, 2 gram. Istilah sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit itu benar adanya. Belum jadi bukit, tapi minimal ada cadangan yang bisa digunakan.
  4. Ubah gaya hidup. Sebagai anak yang lahir dan besar di Jakarta yang segalanya ada, bergaul dengan teman sana-sini, tidak bergaji itu terasa sekali. Tidak ada lagi kongkow di kafe apalagi yang mewah, kecuali sekali ketika kami kumpul buat pembentukan Kait Nusantara. Tidak ada bioskop, dan jalan-jalan di mal yang selalu pulang dengan jinjingan. Sepi? Tidak juga sih. Sesekali masih ke starbak, tapi buat kerja bukan nongkrong. Saya jadi hitungan, kalau saya beli dua gelas minuman, berapa banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan. Bukan lagi dihitung buat kongkow.

Bulan pertama, saya habiskan untuk mengurus administrasi Kait Nusantara. Ini adalah tujuan hidup saya sekarang, mainan baru, fokus saya ke sana. Bulan kedua, mulai menurunkannya menjadi aktivitas, salah satunya dengan Perempuan Menulis, yang kemudian jadi program literasi dari Kait Nusantara. Bersama ceu Devi, kami voluntary saja datang seminggu dua kali ke Lapas Perempuan. Tidak ada sponsor, jelas susah brand menempel pada Lapas. Tidak ada funding, karena pasti akan lama prosesnya. Prinsip kami, ya sudah sik, jalan saja dulu. Jika suatu hari ada rezekinya, ya memang sudah waktunya. Sesekali akan terdengar, “tunggu bentar yak, ini grab nya mahal amat. Lima belas menit lagi dah, nunggu harganya turun.” Tentu saja kami tetap harus berhitung ongkos yang datang dari dompet sendiri. Saya beruntung, demi berhemat ongkos, suami siap antar ke lapas. Saya juga jadi rajin naik angkot lagi, hemat dan lebih banyak yang bisa dilihat.

Karena percaya rezeki tak akan kemana kalau kita berusaha, alhamdulillah, tawaran untuk mengisi rekening cash flow pribadi itu mulai berdatangan di pekan kedua September. Menerjemahkan subtitle film, mengisi website lembaga, jadi penerjemah sebuah pertemuan. Apa saja yang penting halal. Memulai segala sesuatu dari awal itu menyenangkan. Sesekali ada yang bertanya, terus guna gelar master itu untuk apa? Saya sih bisa bilang, untuk memasteri diri sendiri! Setiap hal kecil yang bisa kita lakukan untuk orang banyak dan menyelamatkan diri sendiri, ya lakukan saja. Tidak perlu melirik pada ijazah, gelar, status dan rekening.

Saya merasa lebih bahagia saat bisa mengendalikan hidup sendiri dan masih bisa membaginya dengan orang lain. Lesson learned selama dua kali menjadi orang “bebas” adalah, cari tujuan hidupmu, fokus pada tujuan itu, berusaha dan berprasangka baik selalu pada semesta, insya Allah tercapai. Kalau menemukan krikil, ya dibikin asik aja, namanya juga orang hidup.

Sunnah Monogami. Review #26 buku karya Dr. Faqihuddin Abdul Kodir

Standar
Sunnah Monogami. Review #26 buku karya Dr. Faqihuddin Abdul Kodir

Biasanya saya sedikit mengubah judul postingan menjadi sesuatu tema besar yang saya tangkap dari sebuah judul buku. Tapi kali ini, judul buku sudah mewakili yang ingin saya sampaikan dalam review ini. Kenapa saya tidak mendengar sebelumnya tentang Sunnah Monogami, dan sebagian besar ustadz hanya bicara tentang sunnah poligami. Sebagai anak dari keluarga poligami, saya tentu besar untuk melihat ketidakadilan yang terjadi, dan merasakan sendiri. Tapi tidak ada satu pun yang bertanya bagaimana rasanya jadi anak dari keluarga poligami? Kecil saya penuh dengan ejekan tetangga, papi mu di rumah mami yang mana sekarang? Buat anak umur 7 tahun, pertanyaan ngenye macam itu masih berbekas sampai hari ini. Saya kan tidak bisa memilih di keluarga mana saya dilahirkan dan dalam kondisi bagaimana? Tapi saya bisa mengubah hidup saya sendiri, dengan tidak mengikuti jalur yang diambil orang tua saya.

Saya menolak poligami! Tadinya saya hanya bisa berargumentasi, bahwa poligami tidak pernah akan bisa adil, baik buat isteri maupun anak-anak. Isteri yang marah bisa saja bercerai, anak hanya bisa menerima bahwa ayah adalah ayah. Saya tidak punya amunisi berdebat secara agama dimana saya merasa dihakimi sebagai orang yang tidak mengerti agama, menentang sunnah rasul dan menentang perintah Allah.

Dua minggu lalu saya memberanikan diri untuk ikut sebuah perjalanan Ekspedisi Feminis ke Cirebon. Memberanikan diri untuk menghadapi ketakutan sendiri kalau jawabannya adalah, iya, saya memang tidak seharusnya menentang poligami karena begini dan begitu. Alhamdulillah, keputusan itu ternyata tepat, saya menemukan jawaban atas kegelisahan saya selama puluhan tahun. Saya tidak menentang agama dengan berkata TIDAK pada poligami, saya tidak melecehkan al Quran karenanya. Saya membagi beberapa isi dalam buku di halaman facebook dan saya rangkum dalam review ini. Saya akan memulainya justru dengan bagian akhir dari buku ini, ada wasiat dari Rasulullah SAW untuk menjaga perempuan karena perempuan rentan dilecehkan.

Dari Amr bin al-Ahwash ra, bahwasannya dia mendengar Rasulullah SAW pada Haji Wada’ bersabda: “Ingatlah, aku wasiatkan kalian untuk berbuat baik terhadap perempuan, karena mereka sering menjadi sasaran pelecehan di antara kalian, padahal kalian tidak berhak atas mereka, kecuali untuk berbuat baik. (riwayat muslim) Sunnah Monogami, hal 323

Kenapa ini tidak pernah saya dengar atau baca sebelumnya? Betapa Rasulullah paham betul kondisi perempuan yang sejak zamannya tak banyak berubah. Apakah dengan demikian Islam gagal? Tentu saja tidak, karena Islam memperbolehkan perempuan belajar dan menuntut ilmu dalam kondisi sekarang, maka perempuan punya kekuatan untuk maju menunjukkan kemampuannya, sebagai manusia.

Ayat an Nisa (QS.4:3) tidak sedang membicarakan poligami, apalagi menganjurkannya. Yang dibicarakan adalah tindakan semena-mena yang biasa dilakukan laki-laki terhadap perempuan, baik sebagai perempuan yatim, perempuan yang akan dipersunting, maupun perempuan yang dipoligami.

Ayat ini memperingatkan laki-laki untuk memberikan hak-hak mereka, berlaku adil dan tidak semena-mena terhadap mereka. Inti ayat ini memfokuskan pada pentingnya memberikan perhatian pada perempuan, yang sering menjadi korbam dari sistem sosial yang berlaku PADA SAAT ITU! (Sunnah Monogami : hal 111-112)

Buku ini menceritakan konteks ayat itu muncul dimana banyak lelaki secara budaya arab mengawini puluhan perempuan, termasuk juga anak-anak yatim dan ibunya, tanpa memberikan mereka mahar yang bernilai baik, justru mengambil hak anak yatim. Islam membatasi praktek poligami menjadi empat, itu pun dengan syarat yang tidak pernah ditekankan dalam kampanye orang pro poligami, KEADILAN!

Keadilan itu bukan soal materi, tapi adil dalam membagi rasa dan menghargai perempuan. Kalau mau meniru apa yang dilakukan Nabi, maka harusnya dilakukan Pengundian ketika akan bepergian, dengan isteri yang mana suami akan pergi, adil dalam membagi waktu bermalam, dan berkunjung. Apakah bisa? Sepanjang saya tahu dan membaca, tidak akan ada yang bisa berlaku adil. Sederhananya, kamu bukan nabi dan kamu tidak sedang tinggal di zaman nabi berada. Titik

Sebagai orang tua, Nabi menolak Ali bin Abi Thalib untuk mempoligami anaknya Fatima, karena beliau merasakan sakit hati yang dirasakan putrinya. Lebih baik diceraikan.

“(Wahai para wali) nikahkanlah (putri-putri kamu) kepada mereka yang belum memiliki pasangan,” (QS. an-Nur, 24:32)

… ayat yang memberikan dukungan kuat terhadap pilihan al -Qur’an terhadap monogami. menjelaskan bahwa perkawinan selayaknya dilakukan terhadap orang-orang yang belum memiliki pasangan, laki-laki maupun perempuan (sunnah monogami, hal 180-181)

Lalu pernyataan Ustad Faqih penulis buku ini yang menyimpulkan “tidak ada hubungan poligami dengan ketakwaan seseorang. menolak poligami tidak berarti menolak atau melecehkan tuntutan Al Qur’an. yang tidak boleh dilakukan dalam Islam adalah berlaku tidak adil, nista, zalim dan aniaya terhadap siapapun… (sunnah monogami; 122-123)” membuat saya berbesar hati, bahwa saya tidak salah menolak poligami, prinsip keadilan yang harus dipahami lelaki dan perempuan, bukan tentang kekurangan yang ada di isteri kemudian coba dilengkapi dengan kehadiran perempuan lain.

Dan terakhir, jlka pun memutuskan berpisah setelah tidak ada cara lain untuk berdamai, Allah pun mengizinkan:

Jika QS an-Nisa ayat 128-130 dibaca dalam satu napas, maka tekanan al- Qur’an pada motivasi kepada setiap individu dalam pasangan untuk berbuat baik, berdamai, dan menjaga diri, demi pasangan masing-masing. Tetapi, jika terjadi konflik, lalu untuk damai dan kembali utuh itu susah, dan pada akhirnya suami memilih poligami, sekalipun sulit untuk adil, perempuan dibuka pilihan untuk bercerai.

“Jika mereka bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan pada masing-masing dari keluarga rezeki-Nya” Sunnah Monogami, hal: 194-195

Buku ini juga lengkap menjelaskan bagaimana fiqh bisa berbeda dari satu mahzab dengan yang lain dan bagaimana memaknai al Qur’an sesuai konteksnya, tidak membacanya secara sepotong-sepotong. Pada dasarnya, Islam memperlakukan laki-laki dan perempuan setara, yang membedakan keduanya hanya ketaqwaan dan prinsip keadilan dijunjung tinggi dalam Islam.

Baru kali ini saya bicara poligami tidak lagi pakai emosi, karena sudah punya amunisi dalam diri. Buku yang menjawab semua pertanyaan yang gantung puluhan tahun. Selain gatel untuk ngedit kata yang berantakan dan huruf yang hilang, buku ini saya nikmati betul dan selesai dalam satu malam.

Terima kasih Ustadz Faqih yang membuka wacana dalam kepala dan hati saya tentang perempuan dalam Islam.

Bekerja Sampai Mati. Nasib Techno-preneur di Silicon Valley. Review #23 Live Work Work Work Die by Corey Pein

Standar
Bekerja Sampai Mati. Nasib Techno-preneur di Silicon Valley. Review #23 Live Work Work Work Die by Corey Pein

Buku ini jadi ada keterikatan personal buat saya. Sekitar Juli akhir saya sibuk mencari kantor virtual untuk lembaga baru yang saya bangun bersama kawan-kawan perempuan, lembaga ini kegiatan utamanya untuk pemberdayaan perempuan. Beberapa co-working space saya kontak di Cimahi dan Bandung, tapi begitu menjelaskan kami bergerak di pemberdayaan perempuan, semua tutup telepon dan tidak membalas ulang email atau WA, saya. Salah satunya terang-terangan bilang, kami hanya support start-up mba, yang bergerak di bidang ICT, atau IT…. ah Okay!

Senior di lembaga saya dulu pernah mewanti, dia mengamati booming start-up ini sejak 2012, dengan masuknya Venture Capitalist dan bergesernya social entrepreneurship menjadi sosial bisnis. Mereka yang murni bergerak di isu sosial, kudu dipaksa berpikir dua tiga kali dengan kalimat, “kamu harus sustain, tidak bisa bergantung pada donor, sekarang bukan donor berkurang, adanya investasi sosial.” Lalu makin hari makin sedikit yang merekomendasikan kegiatan sosial, tanpa iming-iming bisnis. Kalau bergerak di pendidikan gratis, caranya bertahan adalah jualan merchandise. Kalau bergerak di isu perempuan, caranya jualan karya yang dibuat perempuan. Tapi itu tak terlalu seksi buat venture capitalist, ga scale up istilahnya, ga balik modal lebih tepatnya. Susah bener mau bilang, kapitalis ya kapitalis, mereka berharap modal balik, sedikit apa pun, selama apapun, hanya mengalami penghalusan kata dengan “sosial”. Yang sial ya kawankawan aktivis yang keras, idealis, murni untuk aktivism lalu disuruh mikir apa bisnis yang bisa berkelanjutan untuk membiayai aktivism nya? Nah loh. Untuk bisa bertahan, kudu beradaptasi katanya, salah satunya dengan kecanggihan teknologi. Semua kegiatan dikemas dalam balutan IT jika ingin bertahan, ceunah

Tapi buku ini agak memberikan sedikit saja “bahagia” untuk tahu yang menderita bukan kami saja yang bergerak di isu sosial hahaha. Ternyata di Silicon Valley sana, pusat dunia teknologi informasi, kesengsaraan para start-up itu bertubi-tubi. Yang menjadi “dewa” adalah pencipta facebook, twitter, google dan apple, semua berlomba-lomba untuk mengikuti jejak mereka. Tapi kenyataannya pait pait pait, Harvard School of Business 2004 lalu mengeluarkan hasil penelitiannya bahwa 95% start-up itu gagal. Yang 5% berhasil itu lebih karena mereka kenal siapa yang berkuasa, orang penting, lulusan mana, atau memang punya duit sendiri. Yang gagal itu mereka yang disebut “fresh-off-the boat” mereka yang tak punya koneksi dengan para elit dunia teknologi, dan masih percaya pada jargon-jargon kolaborasi, peluang, meritokrasi – kesempatan yang diberikan berdasarkan kemampuan, dan persahabatan atau persaudaraan para kutu buku atau geng cupu. Ternyata tidak! Salah satu narasumber di buku ini bilang, “kalau kamu lulusan Stanford, seburuk apapun idemu, pasti ada investor yang masuk.” Sebegitunya…. faktor lain disebut, sejelek apapun, sekonyol apapun idenya, asal tampilan presentasinya bagus, you are IN! Semua tentang bagaimana kamu menjual idemu saat pitching berlangsung.

Di dunia yang katanya canggih ini, hanya ada batas tipis antara Work and Play, bekerja dan bermain. Kata-kata bekerjalah sesuai hobi dan passionmu itu menjebakmu pada sebuah perbudakan tanpa sadar. Karena hobi, kita tak lagi berhitung jam kerja, kondisi pekerjaan, dan kesehatan, karena passion kita bisa bekerja 24 jam tanpa henti. Kan ini bukan kerja, ini sambil main, begitu dalihnya. Kan ini bukan kerja, ini passion, begitu jawabnya.

Tech-preneur bukan buruh! Itu jargon yang digaungkan karena mereka bangga pada profesi sebagai techno preneur. Padahal, nasib start up mereka tetap bergantung pada modal. Begitu masuk modal, rencana bisnis mereka bisa sangat mudah diacak-acak sesuai keinginan pemodal. Semua detail program harus diserahkan pada pemodal, begitu start-up mati, si pemilik modal bisa menggerakannya sendiri, yang punya ide? Mampuslah.

Kesibukkan menjadi sebuah simbol. Kalau santai, dianggap tak bekerja, menjadi beban. Maka bekerja dengan giat, menjadi simbol sosial. Akibatnya kelelahan akibat kesibukan menjadi hal yang glamor bisa dibanggakan di tengah-tengah pergaulan sosial.

Buku ini ditulis oleh Corey Pein, seorang jurnalis yang fokusnya memang menulis tentang informasi teknologi. Beberapa kali mencoba membangun start-up sendiri lalu gagal, karena itu dia datang ke Silicon Valley untuk dua hal, mencari tahu bagaimana menjadi start-up di sana, barangkali berhasil dan menulis cerita tentang kehidupan di Silicon Valley. Barangkali kalau dia berhasil dengan start-up nya, tulisan di buku ini tidak pernah kejadian J

Saya memang suka mencari tahu hal lain di balik sebuah tren. Start-up di Silicon Valley mulai turun trend nya tahun lalu, di Indonesia, justru lagi booming. Pemodalnya banyak, pemerintah juga support start-up, anak-anak muda bangga sekali menjadi CEO anu dan Co Founder itu, merasa lebih prestise dibanding menjadi karyawan sebuah perusahaan. Anyway, selama kamu tidak mengorbankan hak-hakmu sebagai pekerja oops, sebagai manusia deh, dan menikmati hidup yang seimbang, silakan saja. Bekerja bukan bermain yang dibayar dan menghasilkan. Bekerja ya bekerja, kamu berhak atas asuransi kesehatan, dan keselamatan dalam bekerja.

Nikmati hidup seimbang, jangan sampai kamu mati sebelum bisa menikmati hasil kerjamu.