Monthly Archives: Februari 2020

Cara Feminis Mencari Kebahagiaan – Review The H-Spot oleh Jill Filipovic

Standar
Cara Feminis Mencari Kebahagiaan – Review The H-Spot oleh Jill Filipovic

Saya pernah di suatu waktu dalam hidup ini berharap, jika reinkarnasi itu benar adanya, maka saya ingin dilahirkan sebagai laki-laki. Memori kecil saya merekam omongan papi yang berharap saya ini lelaki agar bisa menemaninya bekerja layaknya lelaki dan membawa nama orang tua. Sepanjang kebersamaan kami, saya berusaha agar dia bangga pada saya meski saya perempuan. Di beberapa hari sebelum kepergiaan papi, beliau mengacungkan jempol pada saya. Pada akhirnya dia tahu, bukan soal lelaki atau perempuan, tapi siapa yang berbuat lebih untuknya dan keluarga. Saya dengan cara saya sendiri, dan beliau bisa pergi dengan tenang meninggalkan keluarga, karena saya mampu dijadikan tumpuan.

Sementara mami, sepanjang hidup saya selalu didoktrin olehnya, “jadi perempuan harus mandiri, harus pintar, bekerja dan jangan pernah mengandalkan hidup pada lelaki.” Beliau mencegah saya menjadi dirinya yang pasrah bertahan dalam keluarga poligami, demi saya dan adik-adik bisa sekolah.

Pengalaman menjadikan saya seorang feminis dan saya bangga dengan itu.

Buku H Spot ini menguraikan keresahan saya secara gamblang. Perempuan, tempatnya “salah.” Menjadi ambisius dan mengutamakan karir, maka sekitar akan memicingkan mata, menyindir karena dalam nilai tradisional perempuan harus submissive, berada merendah di bawah lelaki. Jill memulai bukunya dengan bercerita tentang hubungan pertemanan dengan sahabat perempuan yang merenggang begitu lepas dari sekolah. Beberapa memilih jalur tradisional, selesai kuliah menikah, punya anak. Sebagian persahabatan merenggang setelahnya. Sisterhood seperti sebuah cerita dongeng, selalu ada yang membatasi itu di antara perempuan. Ada rasa iri yang dibangun oleh patriarki melihat perempuan lain “sukses.” Sukses yang dalam nilai tradisional adalah menjadi perempuan, dalam bahasa Indonesia wanita, wani ditoto, makhluk yang diatur oleh norma sosial yang dibangun oleh lelaki.

Perempuan tak menemukan kebahagiaannya secara individu karena selalu ditanamkan sudah alaminya perempuan itu lahir dengan keinginan merawat keluarga, suami, anak, dan orang tua. Perempuan lupa pada dirinya sendiri. Saya bertanya dalam status FB, “kapankah terakhir merasa bahagia? Lepaskan dulu status sebagai isteri, ibu dan anak. Mari bicara tentang kamu.” Jawaban para perempuan adalah, saat punya waktu untuk diri sendiri, sambil selonjor makan coklat, bisa olahraga sendirian atau saat membaca buku. Sesederhana itu. Perempuan selalu kebagian sibuk saat berkenaan dengan urusan rumah, kenapa coba? Kita lupa bahwa perempuan itu individu utuh yang memiliki cita-cita untuk dirinya sendiri. Perempuan seolah tak boleh memelihara mimpi apalagi menjadi ambisius untuk mewujudkan mimpinya. Perempuan tak bisa menikmati seks tanpa dicap “slut” atau menikmati makanan tanpa rasa takut kegemukan.

Buku H-Spot tidak sekedar mengajak perempuan untuk menjadi dirinya sendiri dalam mencari kebahagiannya. Perbedaan kelas ekonomi menghalangi perempuan meraih kebahagiaannya. Jill menulis ini dalam konteks masyarakat Amerika Serikat ya, yang tersegreasi secara tegas kelas menengah ke bawah dan kulit berwarna dengan perempuan putih dan berpendidikan.

Perempuan berkulit hitam dan miskin memiliki lebih banyak anak, dan mengalami obesitas. Akses pada kontrasepsi tidak murah bagi perempuan miskin dan nutrisi bukan jadi prioritas ketika memberikan makanan pada anak-anak, yang penting kenyang. Lingkaran kemiskinan akan terus berjalan jika intervensi politik tidak memerhatikan kondisi perempuan di dalamnya. Perempuan miskin dibuat sibuk mencari pekerjaan, tidak satu atau dua, tapi bahkan tiga pekerjaan sekaligus untuk menghidupi keluarga mereka. Jika pemerintah berpihak, harusnya memberikan akses perbaikan gizi bagi anak-anak miskin, memberikan fasilitas penitipan anak yang baik kepada anak-anak dengan ibu tunggal atau kedua orang tua bekerja. Termasuk juga menyediakan akses pendidikan setara, mudah diakses bagi semua anak.

Kenyataannya tak seperti itu. Perempuan dapat gaji / honor lebih rendah dari rekan lelaki, meninggalkan anak tanpa pengawasan menjadi pelanggaran hukum sementara si ibuk harus tetap bekerja untuk mereka bertahan. Sekolah di Amerika itu mahal, ada pinjaman studi yang harus dibayar mencekik leher. Kadang perempuan berkencan hanya untuk mendapatkan tenaga bantuan untuk mengawasi anak dan meringankan bayar sewa yang dibagi dua. Tapi tak jarang menghadirkan sosok lelaki di rumah justru mendatangkan bencana, kekerasan rumah tangga.

Lalu pemerintah Amerika Serikat dibawah pimpinan Clinton, George W. Bush dan diteruskan Obama mengalihkan tanggungjawab mereka pada “suami.” Dalam kebijakan kesejahteraan keluarga, negara memberikan budget khusus untuk memromosikan pernikahan dengan segala manfaatnya, tetapi prinsipnya melepaskan tanggungjawab menangani kemiskinan itu menjadi tugas suami. Negara meniadakan dan mengabaikan kondisi keluarga dengan ibu tunggal dan ibu sebagai kepala keluarga. Sound familiar yak, persis! You read my thought!

Perempuan-perempuan “hebat” yang menjadi dirinya sendiri adalah mereka yang bisa meraih pendidikan tinggi, pekerjaan mapan, dan itu adalah perempuan kulit putih. Jalannya tak akan semulus itu bagi perempuan berwarna pun ketika mereka bisa meraih pendidikan tinggi. Tapi tak sedikit juga perempuan kulit putih yang mundur dari karir mereka yang cemerlang karena begitulah norma sosial, budaya patriarki inginkan. Bahkan ketika memiliki pasangan yang mendukung mereka karir mereka, semua berubah ketika seorang anak hadir dalam kehidupan mereka. Negosiasi berulang, siapa yang akan merawat anak-anak dan berada di rumah, jawabannya tentu saja, lagi-lagi perempuan yang harus mengalah.

Padahal tidak perlu begitu.

Jill mencontohkan tiga negara, Swedia, Norwegia dan Finlandia yang sudah melandasi hukum mereka dengan nilai feminisme. Perempuan memiliki akses yang sama seperti laki-laki, bisa memilih tinggal di rumah atau bekerja, dan pemerintah memfasilitasi itu semua. Untuk perempuan bekerja, pemerintah menyediakan fasilitas penitipan anak yang baik dan memastikan anak-anak mendapat nutrisi cukup. Dukungan yang sama bisa juga diterima oleh ibu yang memilih di rumah. Prinsipnya keluarga menjadi tanggung jawab bersama lelaki dan perempuan. Keduanya harus berbagi peran sebagai pencari nafkah maupun ngurus rumah tangga. Salah satunya dengan memberikan cuti melahirkan kepada laki-laki dan perempuan enam bulan tanpa kehilangan gaji. Di negara-negara ini, jumlah anak-anak miskin rendah sekali.

Jill juga mengingatkan perempuan agar tidak menghilangkan dirinya dengan mengganti nama menjadi nama suaminya. Di Amerika begitu menikah sangat umum perempuan menggunakan nama suaminya. Di era digital ini, jejak nama gadis mereka dengan segala prestasi semasa sekolah atau bahkan saat berkarir menjadi hilang ketika mereka menikah dan mengubah nama dengan menyelipkan nama suami di belakang nama mereka.

Sesekali buang lah semua itu, status yang membelenggu perempuan untuk berperan sebagaimana harapan sekitar. Buang jauh-jauh keserahan menjadi gendut dan keinginan untuk makan yang membahagian. Sesekali jadilah diri sendiri, berbahagialah. Highlight buat saya dari buku ini, feminisme itu tentang membuat dan mengajak perempuan mampu memilih dengan kesadaran penuh dan dari dirinya sendiri.

Saat membaca buku ini, kebodohan terjadi. Tentang RUU Ketahanan Keluarga yang mengglorifikasi pernikahan, keluarga dan ibuisme. Trust me, di Amerika aja gagal undang-undang begini. Karena tidak semestinya negara mengatur peran lelaki perempuan bahkan anak, yang pemerintah harus lakukan adalah memastikan akses kebutuhan dasar, pendidikan, kesehatan dan lapangan pekerjaan itu terbuka untuk perempuan dan lelaki. Memastikan lingkungan yang aman dan sehat untuk anak-anak bertumbuh kembang, jangan lepas tangan atas nama “keluarga.” It never works!  Jika kamar anak dan orang tua terpisah, anak lelaki dan perempuan terpisah, apakah pemerintah sudah memenuhi tanggungjawab menyediakan “Papan” aka rumah yang terjangkau untuk semua termasuk keluarga miskin? Percaya lah, konsep menikah dan berkeluarga akan semakin tidak menarik bagi anak-anak milenial.

RUU Ketahanan Keluarga ini hadir bersamaan dengan RUU Cipta Kerja yang cilakalah buat saya mah. Sementara investasi digenjot, buruh semakin ditekan daya tawarnya, cuti melahirkan yang akan dikurangi, lalu kesejahteraan menjadi tanggung jawab lelaki sebagai suami. Selamat! Jika kedua RUU ini lolos, si miskin akan semakin terpuruk, hail yeah, semakin makmur mereka yang berkantong tebal.

Ketololan berikutnya adalah perempuan berenang akan hamil. Ujungnya segregasi fasilitas untuk perempuan dan laki-laki, semakin sempit perempuan berada di ruang public. Tolol ke bol-bol!

Indonesia, we are going backward! Selamat datang masa kegelapan. Maafkan kami Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika… Belanda memang pergi, tapi penjajah sebenarnya tidak…

Saya, Ibu Tanpa Anak

Standar

“A person’s a person, no matter how small.”

— Dr. Seuss

Adik saya sejak awal 20an selalu berencana menikah muda. Kata dia biar supaya mami, biar pas menjelang tua, anak-anak sudah besar. Bukan adik saya saja yang berniat punya anak-anak yang nantinya akan merawat mereka di hari tua.

Buat saya, itu terdengar egois. Kenapa menjadikan anak-anak sebagai perawatmu, sedangkan mereka tak pernah meminta untuk dilahirkan olehmu. Kenapa harus menghitungnya sebagai bentuk balas jasa, sedangkan merawat anak-anak adalah murni tanggungjawabmu sebagai orang tua. Apakah kamu sudah merawat anak-anakmu sebaik itu? Apakah sudah memerlakukan mereka sebagai individu yang juga punya kehidupannya sendiri?

Ketika Rajan dari buku The Third Pillar bilang kalau generasi tua akan menjadi beban bagi generasi sebelumnya, saya tersinggung. Saya tidak punya anak yang nanti “dipaksa” atau merasa “terpaksa” merawat saya, tapi saya tahu bagaimana harus menyiapkan masa tua tanpa menjadi beban bagi orang lain. Bukan Kakak Zi atau Septi, tapi saya dan akang akan menua dan mandiri.

Sejak pacaran sudah kami diskusikan, apa yang akan terjadi jika saya tidak punya anak, atau tidak ingin punya anak? Akang bilang, kita bisa adopsi jika kamu mau. Itu salah satu alasan kenapa saya memilihnya, karena kami menikah bukan untuk melanjutkan keturunan, tapi untuk bersama. Kalau Semesta memberi, itu akan jadi lain cerita, ya sudah, maka jadilah orang tua.

Adalah Dr. Tita dari Hermina Pasteur yang bilang, “anak bisa menjadi berkah, bisa juga membawa dosa.” Dan ketika dia bilang sebaiknya saya melupakan punya anak, iya, kaget diawal, tapi setelah dua tahun ini, saya justru lega. Barangkali memang sebaiknya tidak. Jika menikah dan punya anak adalah tujuan hidup saya, mungkin sudah beranak pinak lebih dari tiga hari ini. Tapi hidup saya bukan untuk itu. Saya punya keistimewaan untuk memutuskan mau diapakan tubuh ini. Saya memilih untuk sendiri selama 39 tahun, dan berkarir. Di luar sana, sahabat perempuan saya tak punya banyak pilihan atau terbawa pada tuntutan sekitarnya.

Setiap berita kelahiran adalah duka buat saya. Membayangkan apa yang akan terjadi pada bumi ini lima tahun dari sekarang, dada saya sesak. Kita tak punya cukup air bersih untuk semua, tak cukup lahan untuk ditinggali. Hari-hari tentang banjir, tentang anak-anak yang mati di kobangan bekas tambang, tentang paru-paru hitam karena polusi, tentang penyakit yang menyebar lintas batas. Secara ekologis, saya bahagia tak punya anak. Tak ingin membebani lagi bumi dengan menambah satu anak untuk hidup. Masa depan mereka telah kita rusak hari ini.

Lalu anak-anak perempuan yang disekolahkan tinggi hanya untuk diblur wajahnya. Itu membuat saya marah luar biasa. Perjuangan berdekade agar anak perempuan maju, hancur hanya untuk berada sekali lagi di belakang laki-laki, diburamkan dari ruang publik. Bahkan Kartini menangis dalam kubur.

Silakan sebut saya sok idealis. Saya ingin perempuan punya kemampuan memilih untuk dirinya sendiri, bahagia menjadi dirinya sendiri bukan dalam status sebagai anak, isteri atau ibu. Saya ingin anak-anak perempuan punya masa depan yang lebih baik dari kita hari ini, bisa lari kencang ketika bencana terjadi, berenang di lautan bebas, mendaki gunung ketika tsunami mengejar, berteriak kencang menyuarakan hatinya. Dan anak-anak itu tak perlu lahir dari rahim saya.

Selamat Hari Kasih Sayang, Para Mantan

Standar

“Time is a collection of events,” Carlo Rivolli

Yang kita punya adalah masa sekarang dan masa lalu, sebab masa datang memang misteri. Frame masa lalu datang sekali waktu karena memori tentang kejadian tidak pernah benar-benar menghilang dari otak. Sesekali dia datang, lalu menghadirkan pertanyaan “what if” bagaimana jika aku masih bersamamu.

Dalam tiga bulan terakhir, para mantan yang jumlahnya memang tak banyak itu muncul simultaneously. Mereka yang tak ada kontak belasan tahun lamanya tetiba terhubung kembali. Satu-satu frame waktu muncul, ada aku dan kamu, di masa lalu. Bahkan dengan dia yang memutuskan kontak dalam marah. Saya termasuk orang yang tidak ingin memutuskan kontak dengan siapa pun terutama yang pernah memberikan warna dalam hidup. Saya berutang padanya karena menjadikan saya hari ini. Tanpa pengalaman itu, saya tidak ada hari ini. To become today, you passed yesterday and there will not be tomorrow if I am not pass today, kalau pakai bahasa Inggris kenapa terbaca keren yak, padahal ya gitu deh.

Kemarin hari ulang tahunnya. Saya pernah meninggalkan pesan setiap tahun di hari itu hanya untuk berucap selamat dan tak dibalas, akhirnya saya berhenti, 12 tahun lalu. Kemarin, saya kirim lagi, spontan saja tanpa berharap dia akan membalas, tapi dalam 5 menit, pesannya sampai. Surprise! I analyze my own feeling through frame of the pass time that we had, all the memories come back. But that’s all, the memories did come back, the feeling is not.

Lalu saya ingat, beberapa bulan menjelang papi stroke dan tak pernah sembuh sampai meninggal, dia berkunjung ke semua sanak saudara dan kawannya. Di hari lebaran, tak pernah seingat saya, dia minta untuk diantar silaturahmi ke semua tetangga, bahkan ke tetangga lama, satu-satu pintu dia ketuk, bersalaman dan meminta maaf jika ada kesalahan. Beberapa hari kemudian, stroke ketiga menghajarnya. Di hari duka, semua yang didatanginya waktu itu, datang.

Apakah sama? Apakah semesta mengingatkan saya untuk menyelesaikan semua rasa penasaran dengan pertanyaan “what if” itu karena saya harus pergi? Apa silaturahmi itu ucapan selamat tinggal? Yang pasti, itu ucapan selamat tinggal pada rasa yang saya kira masih ada ternyata tidak. Saya tidak lagi perlu memelihara ketakutan akan sebuah pertemuan atau percakapan, ketakutan akan rasa saya sendiri. Karena pagi ini saya terbangun dengan hati yang lapang. Saya hari ini karena mereka kemarin, dan saya bahagia dengan apa yang punya dan putuskan.

Seorang yang datang dalam hidup bukan tanpa alasan, bukan kebetulan, tapi untuk memberi sebuah pelajaran. Untuk itu, saya berterima kasih untuk kamu dan kamu, yang pernah hadir dalam satu frame kehidupan saya. Thank you!

Eleanor Roosevelt said yesterday is history, tomorrow is mystery but today is a gift. Embrace your gift, happy valentine!

Memahami Semesta Dalam Fisika. Review Seven Brief Lesson On Physics – Carlo Rovelli

Standar
Memahami Semesta Dalam Fisika. Review Seven Brief Lesson On Physics – Carlo Rovelli

Membaca buku ini lalu saya semakin kesel dengan guru fisika di sekolah SMP dan SMA dulu. Seandainya mereka bisa sesederhana Carlo Rovelli menjelaskan fisika tentang semesta, tentu saya akan memilih jadi ilmuwan fisika, barangkali sehebat Rovelli… seandainya.

Buku ini hanya setebal 79 halaman, terbagi dalam 7 pelajaran umum dalam fisika. Rovelli menuliskan fisika seperti dia menulis puisi, sederhana, indah dan dalam. Rovelli sendiri adalah fisikawan Quantum Mechanics dari Italia, karena itu saya harus memberikan apresiasi luar biasa buat penerjemah buku ini. Karena dia menerjemahkan dari bahasa Itali ke bahasa Inggris tetap dengan keindahan dan kesederhanaannya.

Maafkan sebelumnya kalau sampai buku ini selesai saya tidak bisa menemukan padanan kata yang tepat untuk istilah istilah fisika yang tersebut di dalamnya. Pelajaran pertama tentang teori relativitas Einstein yang juga bicara tentang gaya grativitasi bumi. Yang menarik adalah kutipan Eistein yang sering dipakai orang untuk menjelaskan bahwa batas antara masa lalu, saat ini dan masa datang hanyalah ilusi. Kata Rovelli, Einstein menulis itu bukan dalam kaitan dengan fisika, tapi ungkapan kesedihan setelah ditinggal mati sahabatnya, eeaaa…

Tapi pada pelajaran keenam dan ketujuh, Rovelli juga membahas tentang ilusi dan waktu. Apa yang membuat kita menyebut masa kini atau sekarang atau dalam bahasa Inggris “present” apakah di sini dalam artian, lokasi dimana si pembicara berada, dan bukan orang lain, atau kini dalam sekarang, peristiwa yang terjadi saat ini, sementara yang lain tidak terlibat? Jadi kata “present” sangat subyektif kata dia, apa yang menjadi present buatmu belum tentu buat saya.

Rovelli menjelaskan bagaimana semesta dipandang oleh manusia, apakah bumi itu bulat atau datar? Bumi itu BULAT! Ruang yang di dalamnya terdapat molekul dan partikel yang terus bergerak, terus berubah, entah sampai kapan. Tidak ada yang stabil di semesta ini, atom, photon, molekul, partikel bergerak dan saling berinteraksi. Semesta itu berbentuk gelembung besar yang di dalamnya bergelombang seperti ombak, yang terus digerakan oleh partikel.

Lalu waktu itu apa? misteri. Bahwa realitas adalah koleksi dari peristiwa-peristiwa dalam hidup, maka waktu dalam dijelaskan oleh panas atau heat yang bergerak dari panas menuju yang dingin. Dingin adalah molekul udara yang bergerak sangat lamban, sebaliknya panas adalah molekul udara yang bergerak dengan sangat cepat. Tetapi hukum ini bisa saja berubah dalam situasi tertentu. Waktu yang membatasi masa lalu, masa kini dan masa depan dalam bentuk “heat.”

Yang paling membuat saya tersadar adalah bagian penutup, lesson 7th. Tentang freedom of will, apakah manusia benar-benar bebas bahkan dari hukum alam? Tidak! Manusia adalah bagian dari alam, yang berproses mengikuti hukum alam yang terjadi. Bahwa keputusan yang dibuat oleh manusia adalah proses berpikir yang dilakukan oleh jutaan neuron di otak dengan memutar kembali memori masa lalu, pengalaman, lalu emosi. Manusia itu imitative, tidak ada hal baru yang sebenarnya kita lakukan, melainkan mengikuti jejak yang ditinggalkan oleh generasi sebelumnya, bahkan lingkungan sekitar.

Manusia adalah mahkluk yang memang ditakdirkan akan punah, seperti sepupu kita Neanderthals, juga pada seperti generasi Maya dan Kreta sebelum kita hari ini. Kita berbuat kerusakan yang mempercepat kepunahan kita sendiri. Sementara kita punah, semesta masih akan terus bergerak. Untuk saat ini, pengetahuan kita terus berkembang untuk mengetahui lebih banyak tentang keindahaan dan misteri semesta.

Damn, I am in love with Rovelli.

Distribusi Kekuasaan Untuk Masyarakat. Review The Third Pillar – Raghuram Rajan

Standar
Distribusi Kekuasaan Untuk Masyarakat. Review The Third Pillar – Raghuram Rajan

Membaca buku ini, beberapa kebijakan pemerintah melompat-lompat di kepala. Ada BPJS, Dana Desa dan Perhutanan Sosial. Dana Desa dan Perhutanan Sosial bisa jadi sudah masuk dalam kategori yang Rajan sebut sebagai lokalisasi kekuasaan dari Pemerintah Pusat kepada masyarakat. Tapi apakah distribusi diberikan dengan sungguh-sungguh lengkap dengan proses pemberdayaan atau hanya untuk pencitraan, seperti boneka tali yang control penuh sebenarnya tetap ada di Pemerintah Pusat? Berapa besar porsi kekuasaan yang dibagi Pemerintah kepdaa masyarakat vs korporasi?

Tentang BPJS, yang sebenarnya adalah bentuk dari safety net, jarring pengaman sosial, apakah semua mendapatkannya? Dalam buku ini Rajan mengatakan, kesehatan adalah hak yang harus diterima setiap individu, dibayarkan oleh pajak negara. Dalam demokrasi, tidak boleh ada satu individu yang tertinggal, semua orang harus diperhatikan, dan orang sakit tidak bisa ikut aktif dalam berdemokrasi maka demokrasi akan tercoreng.

Saya sudahi dulu pertanyaan-pertanyaan ini, kembali pada buku yang ditulis Raghuram Rajan. Seorang berdarah India yang besar dan hidup di Amerika Serikat, bekas pejabat di IMF dan professor di Universitas Chicago. Buku ini mengambil konteks negara Amerika Serikat dengan beberapa contoh dari India dan Cina.

Tiga hal yang tidak dapat dihindari oleh sebuah negara adalah perubahaan iklim, imigrasi dan generasi yang menua. Ketiganya akan sangat memengaruhi interaksi tiga pilar sebuah demokrasi, yaitu pemerintahan, masyarakat dan pasar. Ketiga pilar harus seimbang agar kedaulatan sebuah negara demokrasi tetap berdiri. Ini bukan hanya tentang kemakmuran negara yang tidak bisa terwujud JIKA masyarakatnya tidak sejahtera. GDP sebuah negara tidak serta merta menggambarkan keadilan sosial bagi masyarakatnya. Yang terjadi saat ini justru dalam sebuah negara demokrasi besar seperti Amerika, ketidakadilan semakin terasa, polarisasi politik imigran vs pribumi dan kesejahteraan hanya berpusat pada kroni penguasa dan oligarki. Dalam situasi dimana masyarakat terabaikan oleh pemerintah dan pasar, dan sikap apatis semakin kuat, maka demokrasi hanya menunggu waktu untuk mati.

Sebagai pembaca buku-buku kiri, buku ini membuat saya mendapatkan pengetahuan lebih. Rajan menolak apa yang disebut Marx sebagai distribusi kekuasaan untuk semua. Ketika kekuasaan dibagikan begitu saja, di ujung paling akhir adalah kekuasaan untuk dan oleh satu partai, maka muncul kemudian komunis ala Rusia, pemerintahan oriter, diktaktor dan fasisme. Pembagian kekuasaan tidak sama dengan pembagian kesejahteraan, tidak serta merta membuat rakyat sejahtera karena kendali pasar tetap hanya untuk kepentingan segelintir orang.

Pasar tidak melulu buruk seperti bayangan Marx, kata Rajan. Pasar adalah tentang kompetisi, maka yang harus dilakukan adalah memastikan kompetisi itu bukan milik atau monopoli pengusaha besar tapi masyarakat bisa ikut di dalamnya. Dalam distribusi kekuasaan yang kemudian disebut Rajan sebagai lokalisasi kekuasaan adalah tentang memberikan kekuasaan bagi masyarakat untuk bisa mandiri dan berkembang. Bukan sekedar bagi-bagi kekuasaan dalam bentuk desentralisasi, tapi bagaimana masyarakat mendapatkan tiga hal, yaitu kekuasaan untuk mengembangkan aset ekonomi yang ada di sekitarnya, membangun pasar (lokal, lalu ikut serta di pasar nasional) dan menguatkan jejaring pengaman sosial menurut budaya dan nilai-nilai yang mereka sepakati bersama. Lokalisasi kekuasaan akan mengurangi jurang ketidakadilan yang terjadi saat ini. Peran pemerintah dalam hal ini memastikan kebutuhan dasar seperti kesehatan dan pendidikan terpenuhi di tingkat lokal. Pemerintah pusat harus dapat memastikan produk lokal masyarakat itu berkembang dan bersaing di pasar nasional bahkan internasional.

Pengembangan masyarakat akan mudah dalam kehidupan masyarakat homogen, tetapi imigrasi adalah sesuatu yang tidak dapat dibendung, begitu juga dengan generasi tua yang terus bertambah sementara jumlah pertambahan penduduk terus turun di sejumlah negara maju seperti Jepang. Ketakutan akan tergerusnya nilai-nilai budaya lokal menjadi tinggi dan ini yang dimanfaatkan para nasionalis. Tetapi kehidupan perekonomian juga harus terus berjalan, generasi tua akan habis, maka perlu tenaga-tenaga kerja baru untuk menggerakan ekonomi dan politik sebuah negara. Imigrasi menjadi jawabannya. Mendatangkan tenaga ahli dari luar lingkar komunitas bisa jadi pilihan agar ekonomi terus jalan. Yang harus dilakukan kemudian adalah memastikan nilai-nilai dasar seperti empati, toleransi itu tetap dijaga agar para pendatang merasa diterima dan menerima tempat baru sebagai rumahnya. Rasa memiliki dibangun agar keduanya pribumi dan pendatang berjuang bersama untuk lingkungannya.

Tentu saja kepala saya bertanya, kenyataan mewujudkan itu tak semudah tulisan di atas kertas, Bambang, eh Rajan. Tapi menarik tentu saja. Pada akhirnya batas-batas wilayah negara yang politis agar tergeser oleh kepentingan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Wilayah-wilayah yang hancur karena perubahan iklim, seperti pulau yang hilang karena tingginya permukaan air laut, krisis air dan perang akan memaksa manusia di dalamnya berpindah ke tempat lain. Kebutuhan akan tenaga kerja baru, tenaga ahli baru tetap dibutuhkan oleh negara-negara yang generasi tuanya semakin banyak dibanding anak-anak atau generasi produktifnya.

5 bab Rajan menyebutkan tentang cara menyeimbangkan kembali ketiga pilar ini. Tapi saya tergelitik dan apatis pada saran Rajan terhadap sektor privat atau bisnis. Dia bilang, korporasi harus mengubah gaya mereka, dari pengejar profit atau keuntungan menjadi penjaga nilai-nilai. Saya tahu tentang tiga hal yang sedang digadang-gadang bisnis yaitu bumi, manusia dan profit, tapi seberapa banyak korporasi memegang nilai-nilai ini dalam operasionalnya? Saya mungkin jadi bagian yang sudah apatis tentang ini. Dalam situasi Indonesia hari ini, apakah meminta bisnis beralih pada nilai-nilai itu tidak terlambat? Hutan sudah berganti lubang-lubang tambang yang dibiarkan penuh air dan anak-anak mati kecemplung di dalamnya. Hutan berganti sawit dengan sederet cerita konflik agraria. Yang paling buruk dari semua itu, pengusahanya ada di lingkar kekuasaan. Lalu bagaimana saya bisa berharap baik kalau pemerintah pusat bakal mengatur pasar yang dikuasai mereka sendiri dan para kroninya?

Kembali ke paragraph awal, saya masih punya harapan dengan pembagian “kekuasaan” lewat Dana Desa, dan Perhutanan Sosial. Kedua hal ini harus dijalankan dengan baik, bahwa pemerintah membantu pengembangan perekonomian masyarakatnya, sekaligus membukakan pasar. Saya masih berharap pembagian itu bukan basa basi agar kita tak apatis pada demokrasi di negeri ini.

Apakah saya merekomendasikan buku ini? OF COURSE! Sebagai orang yang bergerak di area pengembangan masyarakat, tentu saja saya sepakat dengan Rajan bahwa masyarakat harus berdaya, harus mandiri agar kesejahteraan di tingkat lokal bisa terwujud. Perjuangannya tentu tidak akan semudah yang disebut Rajan, karena konteks wilayah juga berbeda.