Monthly Archives: Maret 2018

Semua Orang Berbohong dan Big Data Mengungkapkan Yang Ingin Disembunyikan. Review Everybody Lies by Seth Stephens-Davidowitz #12

Standar

Gosh, I don’t know where to start this review. There are lots of things that I love about it, that make me confuse, where should I begin?

Buku ini mengungkapkan hal-hal yang selama ini kita asumsikan ‘salah’ menjadi ‘benar’ the ugly truth about ourselves. Seth adalah analisis di Google Search, backgroundnya psikologi, tapi untuk PhD nya, dia melakukan penelitian lewat Google Search tentang perilaku manusia yang sensitive, yang sangat mungkin tidak akan terbuka diakui lewat penelitian konvensional. Penelitian konvensional itu ya kuantitatif melalui survey – yang dibandingkan dengan data di Google Search, ini Cuma data kecil, Small Data – dan atau Kualitatif, karena sebenarnya kamu sangat mungkin mengombinasikan dua jenis penelitian ini.

Seth membagi buku ini dalam tiga bagian. Bagian pertama, apakah intuisi kita benar? dalam sebuah penelitian, tendesi membenarkan intiusi atau asumsi itu besar sekali. Ketika berhadapan dengan Big Data, apakah kamu siap menghadapi kenyataan di luar asumsi dan intuisimu? Sebagai peneliti, seharusnya siap dan bisa.

Bagian kedua tentang kekuatan Big Data untuk membuktikan teori-teori yang selama ini kita percaya. Benarkah teori Freud tentang seks itu terjadi, bahwa fantasi anak laki-laki adalah bersenggama dengan ibunya? Tentang insest kakak dan adik, tentang symbol seks yang identic dengan buah seperti pisang. Tentang kecemasan laki-laki terhadap ukuran penisnya, sementara perempuan mengeluhkan tentang rasa sakit karena ukuran penis terlalu besar. Buat perempuan yang mencemaskan mereka adalah bau vaginanya. Semua itu dilihat dari apa yang dicari dalam ‘Google Search’ dengan kata kunci misalnya ‘How it feels like….’ Lalu jawabannya akan muncul, yang paling tertinggi adalah making love with my mom. Ngeri kan. Banget!

Saat sekarang, sebelum orang pergi ke dokter, mereka mencari tahu gejalanya dari Google Search dan jenis obat yang diberikan oleh dokter, tidak serta merta diterima. Orang menjadi lebih kritis. Itulah gunanya Big Data. Karena itu juga, jangan heran bagaimana Trump bisa menang. Karena barangkali, dia yang personafikasi dari segala ‘keburukan’ yang kita takuti.

Bagi mereka yang bekerja di dunia sosial, Big Data membantu kita mengumpulkan informasi pada hal apa kita bisa melakukan lebih. Bahwa di suatu daerah, ternyata angka pengaduan kekerasan di dalam rumah tangga, child abuse lebih besar, anak-anak mengadu pada Google lebih banyak angkanya daripada mengadu pada kepolisian. Dari sana gerakan sosial bisa dimulai.

Yang membedakan Google Search dan Facebook adalah, di Google Search orang bisa menjadi dirinya sendiri, menanyakan sesuatu yang tidak mungkin dia ungkapkan pada orang lain karena sensitive seperti seks. Di Facebook, yang ada sebagian besar adalah kepalsuan, bahwa hidup orang terlihat bahagia, sementara di belakangnya tidak.

Aaah, I wish I can have a quite moment to gather my thoughts on this book.

Look anyway, Seth di sisi lain mewanti agar Big Data ini diperlakukan secara hati-hati. Big Data dimanfaatkan dengan korporasi seperti perbankan untuk menentukan kepada siapa mereka memberikan pinjaman hanya berdasarkan umur, status sosial dan tentang apa yang diposting di Facebook misalnya. Judgmental, itu adalah dampak buruk dari Big Data yang ditambang dari dunia maya. Ada masalah etika tentang privasi mereka yang menggunakan dunia maya.

Sebagai seorang peneliti, Seth menyarankan agar Big Data dan Small Data tetap digabungkan untuk menghasilkan sebuah penelitian yang lebih baik dan bisa dipertanggungjawabkan. Seth bingung menyimpulkan tulisannya sendiri

Sementara buat saya, di dunia yang mengagukan ‘data driven’ di jurnalisme dan di sector lain, tanyakan, tentang etikanya, tentang dampak menampilkan data itu, tentang judgmental yang terjadi. Tanyakan ‘then what? What next?’

Gatel aja sik sama tampilan grafis info data tanpa cerita, tanpa ada yang menjelaskan ‘terus kenapa’? dari data-data yang terpampang tanpa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Setelah jurnalis youtube, muncul kemudian jurnalisme google 😛 lalu lupa pada etika jurnalisme dasarnya 5w1h…

Damn Seth, I just love your book… I wish I can tell you more about it, but you just have to read it! Seth ini perpaduan Malcom Gadwell, Freakonomics and himself 😉 bahasanya sederhana, lucu… apalagi yang dibutuhkan daripada seorang penulis yang bisa menyederhanakan bahasa langit.

10838045_10214719120347395_6801756498089038362_o

 

Transaksi Data Para Kapitalis Data. Pelajaran Dari Bocornya Data Facebook di Pemilu Amerika.

Standar

Penambangan data, atau tepatnya pencurian data 50 juta pelanggan Facebook untuk pemenangan Donald Trump di Pemilu Amerika Serikat, bukan barang baru sebenarnya. Snowden,2013 sudah mewanti-wanti betapa rentannya kita sebagai penikmat dunia maya untuk dimanipulasi oleh kepentingan politik dan ekonomi. Di blog ini, saya juga pernah menuliskan beberapa hal tentang sosial media, bermain di sosial media artinya menyerahkan diri pada para penambang data. Dalam artikel ‘Secret of Surveillance Capitalism’, SuShana Zuboff menyebut mereka sebagai Suriveillance Capitalism , susah menemukan terjemahan bebasnya, para pengambil keuntungan dengan mengawasi orang lain. Siapa saja mereka? Van Dijk bilang, GAFA – Google, Amazon, Facebook dan Apple, yang dia lupa sebut adalah Microsoft juga. Mereka membuat aplikasi yang memanen data kita untuk kepentingan (1) bisnis, ketika jumlah pengguna aplikasi kemudian di jual kepada pengiklan dan (2) negara untuk kepentingan yang mengatasnamakan keamanan negara.

Van Dijk lupa menyebut para broker politik, marketing politik, kalau bahasa kerennya sekarang konsultan politik yang juga menjadi klien para Surveillance Capitalist ini, atau Paul Mason menyebutnya info-capitalism… terlalu sopan dia menyebut begitu 😊

Bagaimana mereka bekerja?

Politik itu soal perebutan kekuasan, merebut trust – kepercayaan public pada salah satu Lembaga atau orang terentu. Untuk membangun trust, harus dibangun dulu persepsi yang ‘baik’ terhadap orang atau Lembaga politik itu. Membangun persepsi baru akan terjadi jika kita ‘menghancurkan’ persepsi yang ada, atau dalam skala lebih besar, menghancurkan kebiasaan yang saat ini ada. Dalam kasus Donald Trump misalnya, secara logika, kamu pasti bertanya bagaimana orang ‘serendah’ itu bisa memenangi pemilu? Padahal orang Amerika itu kan ‘katanya’ terpelajar.

Dulu butuh waktu mengubah persepsi orang lewat media massa, televisi, koran, radio, baliho, segala jenis media digunakan. Ternyata itu tidak efektif, karena logikanya orang tidak lihat baliho saat dia macet di jalan. Begitu ada kesempatan, orang akan melihat hapenya, melihat time line facebook dan twitter, membaca email. Mengubah persepsi lewat iklan baru akan efektif kalau sampai di sasaran yang tepat. Bagaimana mencari sasaran yang tepat itu?

Ketika kita sign up, mendaftar dalam Facebook, ada banyak data pribadi yang disampaikan, di sana segalanya dimulai. Algoritma mencatat apa yang kita sukai dan tidak sukai, semua preferensi kita terekam olehnya. Tidak Cuma Facebook, semua yang tersebut di atas GAFAM melakukan hal yang sama. Semakin banyak aplikasi yang kita klik yang meminta data kita, semakin besar kemungkinan data kita dimanfaatkan dan dijual oleh para kapitalis ini. Tidak ada hal yang gratis di dunia ini, termasuk email Gmail mu.

Lewat Algoritma itulah, agenda perubahan persepsi dimainkan. Maka jangan heran, jika tibatiba ada berita yang kita ga klik sebelumnya, muncul sebagai tawaran… you might want to read this one, Spotify saban hari merekomendasi playlist berdasarkan jenis lagu yang saya dengar sebelumnya. Seperti prinsip komunikasi konvensional, bombardier saja orang-orang yang ingin kita tuju, satu-satu akan masuk dalam otak, terinternalisasi, persepsi terbentuk, kepercayaan terhadap kepentingan politik tertentu pun terbangun.

Kalau dalam bisnis, data itu digunakan untuk membombardier pelanggan sosial media dengan pilihanpilihan produk salah duanya berdasarkan usia, lokasi. Saya tidak heran kemudian, kalau muncul iklan bikini di timeline saya, padahal saya tidak pernah sebelumnya beli bikini. Itu karena lokasi saya menunjukkan ada di Bali…

Di Indonesia, cara kerjanya hampir sama dengan gerakan Muslim Cyber Army, Cuma masih receh aja levelnya. Belum secanggih Cambridge Analytica yang dengan data spektakuler karena dianalisa ala Cambridge, orang-orang pinter yang keblinger. Si pembocor rahasia itu pun akhirnya merasa bersalah dengan apa yang dilakukan. Kamu harus dengar sendiri bagaimana dia bekerja di youtube.

Link di bawah ini pernyataan dari pendiri Facebook:

https://www.theguardian.com/technology/2018/mar/21/mark-zuckerberg-response-facebook-cambridge-analytica

saya terkekeh kekeh… kamu kan baru menyesal karena ketahuan…. Kalau tidak ketahuan, kamu akan terus lakukan apa yang kamu lakukan kemarin dan hari ini… besok pun…

Tapi itu nature nya para Surveillance Capitalist… memaksa mereka untuk menutup privasimu, sama dengan meminta mereka bunuh diri lah. Bisnisnya di sana kok, jualan data.

Apa peduli saya kalau data dicuri?

Hari ini kamu boleh bilang begitu, tapi kalau kemarin kamu percaya pada berita telor palsu karena melihatnya di Facebook, itulah akibatnya. Kalau kamu tidak peduli datamu diambil sosial media, selamanya kamu akan mudah dimanipulasi, dibodoh-bodohi, atau bahkan yang terburuk, datamu ditukar dengan orang lain… kayak di pelempelem gitu.

Apa yang harus saya lakukan?

Pertama, jangan mudah ‘ALLOW’ aplikasi yang meminta kamu share data pribadi dan teman-temanmu. Kurangin atau Ga usah sekalian ikutan kuis recehan yang ada di Facebook dan aplikasi sosmed lain yak. Mereka minta datamu mentah-mentah.

Kedua, cookies… tolak aja kalau ada permintaan cookies dari artikel, web atau aplikasi. Rajinrajin hapus history, meski itu ga jaminan. At least meminimalisir.

Ketiga, jangan mudah nge ‘Like’ berita atau situs yang muncul di timeline mu. Like itu artinya preferensi mu – pilihan, jadi Algoritma akan merekam pilihan pilihanmu.

Keempat, selalu waspada… waspadalah… waspadalah… be sceptical, be critical… jangan mudah percaya sama apa yang kamu baca di timeline… dalam hal sederhana, sebuah berita itu harus memenuhi unsur 5W1H, (When, Who, Where, Why, and How) kapan dimana siapa bagaimana. Kalau narasumbernya aja ga jelas, jangan main share… kamu memperpanjang jalur kebodohan. Sekali lagi Algoritma akan bilang, wah orang ini demennya berita soal telor palsu neh…. Selamanya kamu direkam jadi orang bodoh, ga mau kan?

Kelima, saya tidak menyarankan untuk ditutup sosial mediamu. karena bagaimanapun sosial media memberikan ruang kita berekspresi dan bersilaturahmi. tapi be wise, bijaksana dalam penggunaannya yak.

Segitu dulu yak…

Datamining

Menjadi Orang Kaya Itu Berat, Bebaskan Saja – Paul Mason, Post Capitalism ‘A Guide To Our Future’, a review #11

Standar

Judul review ini diterjemahbebaskan dari sub judul terakhir buku ini ‘Liberate The 1 Per Cent,’ karena saking menariknya ini buku. Tidak ada bab kesimpulan di bukunya seperti kebanyakan buku lain. Di bab 10, justru inti dari semua buku, tentang tips bagaimana selamat di perekonomian dunia yang memasuki masa yang disebut sebagai Post Capitalism – sebuah perayaan terhadap hancurnya idealisme Neoliberal. Dari bukunya, saya yakin Mason seorang kiri yang realistis menghadapi kapitalisme yang tak mungkin hancur, dia hanya bermutasi mengikuti perkembangan. Tapi neoliberal yang mengusung pasar bebas, korporasi berada di atas angin dengan pajak yang rendah, serikat buruh dibredel dan gaji buruh dieksploitasi, bakal hancur digilas perkembangan zaman. Selamat datang di masa post-capitalism, masa shared-knowledge, pekerja adalah produsen, pekerja adalah konsumen, peran yang saling tumpang tindih, bebas, dan pasar menjadi sangat liat. Kapitalisme harus beradaptasi dengan ini, sistem perekonomian harus terbuka, termasuk kebijakan pemerintah. Yang ditutupi dari public akan dibuka secara paksa, tak ada yang bisa disembunyikan dari dunia maya. Hal yang paling utama harus dibangun adalah menciptakan kepercayaan warga terhadap negaranya dengan keterbukaan. Catatan penting dari Mason untuk melihat pemerintah sebagai entity perekonomian terbesar sebuah negara.

Membaca buku ini seperti membaca tesis, dimulai dengan landasan teori, perdebatan teroritis antara Kiri dan Kanan; di kiri yang paling terkenal adalah Marx dan Engels, di kanan ada Keynes dan kawan-kawan. Ketika perdebatan teori ditarik pada masa kini, ternyata yang paling visioner adalah Karl Marx. Dia lah yang pertama memprediksi bahwa ekonomi akan disetir teknologi yang membebaskan buruh sekaligus membudakinya dalam rupa yang berbeda. Bahwa perjuangan di masa depan (kini) bukan lagi tentang perjuangan antar kelas, tapi perjuangan menjadi manusia.

Di bagian kedua, adalah praktek ekonomi kiri di masa bolsevik rusia. Kesalahan menerjemahkan teori marx yang justru membuat mereka terbelakang dari negara barat seperti Amerika dan Eropa. Negara tidak bisa menguasai means of production secara terus menerus, menekan pekerja seperti budak, tanpa membangun kemampuan mereka untuk membeli, kemampuan menjadikan pasar di dalam negeri. Letupan letupan pemberontakan yang terus menerus dan perekonomian yang angkanya terus turun membuat uni soviet bubar.

Dalam alur lamban, Mason mulai menggambarkan tentang situasi kini. Yang tidak diantisipasi geng neoliberal (Reagan dan Thatcher – 1980an) adalah technology driven economy. Ada wikileaks, ada linux yang membuat pengetahuan menjadi gratis, menjadi hak bagi setiap orang. Selain itu pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang senang berinteraksi satu sama lain, entah bagaimana caranya, karena itu segalanya menjadi dibagi. Pelan-pelan melawan kapitalis informasi. Perusahaan retail kalah dengan e-commerce, media cetak kalah dengan online. Informasi juga yang membuat konsumen semakin pintar memilih produk yang mereka mau, yang lebih organic dan ramah lingkungan. Mereka yang bertahan dengan cara-cara produksi konvensional akan ditinggalkan.

Catatan menarik Mason soal perubahan iklim; mereka yang menyangkal terjadinya perubahan iklim adalah mereka yang takut kehilangan benefits/profit dari aktivitas mereka yang merusak bumi, mereka takut kehilangan kenyamanan dan kekuasaannya.

Praktek-praktek bank yang memberikan kredit tapi tak mampu membangun kemampuan konsumen untuk mengembalikan kredit adalah sia-sia. Karena itu bank harusnya bisa bekerjasama dengan usaha-usaha mikro finance, dan koperasi yang ada di masyarakat. Swasta harus pandai bekerjasama dengan komunitas-komunitas yang membangun masyarakat dalam skala kecil tapi jumlahnya banyak, itu jika mereka mau selamat.

Yang paling penting adalah proses membangun manusia seperti Marx pesankan. Percuma membangun pasar tanpa kemampuan membeli. Percuma memotong anggaran kesehatan kalau bangsanya sakit terus menerus dan menurunkan produktifitas. Percuma menekan upah buruh serendah-rendahnya, lalu mereka sakit dan juga tak mampu membeli produk yang dihasilkan korporasi.

Karena itulah, bebaskan manusia, berikan kesejahteraan pada mereka, kata Mason. Ini bagian yang paling saya suka,’Beri Upah Minimum Pada Semua Orang’. Dia mencontohkan Inggris yang memberikan uang pada pengangguran sebesar 6000 pounds setahun, harusnya bisa 18000 dengan penghasilan negara dari pajak. Kurangi jam kerja!

Logikanya gini. Gaji minimum yang diberikan kepada semua orang itu membuat mereka punya modal untuk terkoneksi dengan dunia maya. Karena pada prinsipnya semua orang adalah produsen dan konsumen sekaligus, maka apa yang mereka bagi di dunia maya, bisa dimanfaatkan kemudian. Kemudian beri mereka waktu yang lebih luang untuk berkumpul bersama keluarga, untuk bersosialisasi. Ini untuk membangun kesehatan fisik dan mental mereka. Tanpa itu perekonomian tidak akan berjalan, negara tidak akan bertahan. Asikkan!

Dengan catatan, semua usulan Mason ini terlepas dari isu privacy right, dan surveillance…. (kita akan bicara ini di postingan berikutnya)

Disclaimer: saya bukan ekonom, membaca buku tentang ekonomi bikin kerutan bertambah, tapi justru karena itu, ga bisa berhenti. Apa yang saya sampaikan di dalam postingan ini adalah pengetahuan awam saya, pendapat saya pribadi,… ya iyalah, ini blog saya 😉)

Harga Membangun Koneksi

Standar

Sahabat saya alm. Jon bergabung di sebuah klub ekslusif selama di London yang iuran tahunannya sekitar 1000 Pounds. Dengan beasiswa yang 1221 Pounds per bulan, saya terkagum-kagum, duit darimana bayar iuran segitu mahal? Kartu kredit katanya. Melihat saya melongo, dia berkata lagi, ‘there is a price for a good connection, a price to build networking.’ Di sana dia berharap bertemu dengan seniman, musisi, bintang film, sutradara, yang bakal membawanya to the next level lah. Saya Cuma manggut-manggut. Toh saya kebagian senangnya, menemani Jon ke klub itu untuk klub buku, nonton film terbaru atau sekedar santai di lounge mereka. Sesekali sok ngartis menyimak lukisan-lukisan para seniman muda London yang menempel di bangunan empat lantai itu. Jon pernah dua kali dapat kerjaan lewat koneksinya di klub ini, lumayan buat bayar kartu kredit, membalikan modal.

Koneksi saya dari dulu sampai hari ini cuma sampai di secangkir kopi. Istilahnya ngupi ngupi cantik sambil melobi sana-sini, yang paling banter hampir 500 ribu rupiah. Kemarin bawakan sebotol anggur putih buat kawan, yang siapa tahu bisa jadi koneksi ke depan. Itu saja perasaan. Sesekali menelpon agar saya tidak sama sekali hilang dari radar mereka.

Sejak terbesit untuk sekolah lagi, saya jadi ingat kenangan lama. Alasan kenapa saya harus sekolah dengan beasiswa ya karena tidak punya uang untuk sekolah sendiri. Di dalam negeri biaya sekolah itu muahal. Karena menuntut ilmu lebih tinggi Cuma satu alasan, lainnya adalah menambah jejaring. 2014, ketika sibuk mencari sekolah di dalam negeri, salah satu institusi menyodorkan tawaran sekolah dengan biaya 80an juta persemester. Busyet, duit darimana? Tapi seorang berkata, persis seperti Jon, dua tahun kemudian, bahwa itu biaya untuk membangun jejaring, karena yang sekolah bareng saya adalah para pejabat di swasta maupun negeri, birokrat dan politisi, mungkin juga artis. Itu biaya membangun relasi. Saya menyerah. Yo wis, ga papa, relasi saya sedikit saja, uang itu not worthy buat saya, prioritasnya bukan ke sana.

Kemarin, ketika mencari sekolah lagi, kejadiannya sama. Mahal. Ya karena bukan ilmu saja yang dicari, koneksi. Saya tertawa saja curhat pada teman di seberang pulau, saya Cuma mau ngelmu, tak pernah berubah keinginan itu, bisakah didiscount saja, tanpa harus berelasi deh. Ngelmu ya ngelmu. Membangun relasi, saya Cuma sanggup sebatas secangkir kopi….

Mari seruput….

ngupi

Ketika Zi sedih dipinggirkan Orang Tua Murid lain…

Standar

Bukan satu kali saya mendengar cerita kakak Zi diledek karena badannya yang bongsor oleh teman-teman sekolahnya. Kata saya, ‘tanya sama mereka, kalau kamu besar dan gendut, lalu apa masalahnya?’ kakak Zi tak perlu menanggapi serius semua olok-olokan teman yang mengarah pada fisiknya, selama dia senang, bahagia berada di sekolah dan menikmati pelajarannya, lanjuutkaan kakak…. Be happy, tutup kuping aja!

Tapi beberapa hari lalu, saya dengar cerita, kakak Zi sedih bukan karena teman-teman mengoloknya, tapi dia tak diikutkan dalam kegiatan pengukuran baju sebelum tampil di konser bersama di kelompok keyboardnya. Oleh siapa? Oleh orang tua murid di kelasnya yang tergabung dalam pengurus POMG. What the fuck! Reaksi pertama saya.

Ceritanya kakak Zi sejak awal seperti disingkirkan oleh para mamak-mamak yang hari-hari datang ke sekolah entah untuk apa itu, mereka seringkali menggunjingkan keponakan saya yang aktif di sekolah dan lumayan pintar di kelasnya. Kalau bisa kakak Zi, kaga usah ikut dalam kelompok keyboard tersebut, kalau bisa anak-anak mereka saja yang terpilih. Cerita itu muncul dari mulut ke mulut, dan setiap saat kami membesarkan hati kakak Zi, apa pun yang kamu dengar, tutup kuping saja. Sekali lagi, kalau kamu suka melakukannya (latihan keyboard), lanjuuuttkan kakak. Amey aka tantemu ini hanya ingin kakak bahagia dan menikmati apa yang kamu suka.

Sampai saat konser pemilihan 5 pemain keyboard terbaik, kakak zi tidak diikut sertakan dalam pengukuran seragam. Bahkan nenek dan ibunya tidak diberitahu kalau penampilan nanti harus menggunakan seragam. Dengan muka sedih, kakak Zi pulang sekolah bertanya pada neneknya, yang lain diukur badan buat seragam, kok aku tidak ya nek?

Neneknya, Mamiku yang sama kerasnya seperti aku pun, menjadi murka!! Kenapa mamak-mamak muda ini ingin sekali menyodorkan anaknya dengan cara menyingkirkan anak lain? Jahat!

Nenek bergerak cepat, mencari jawaban, dan akhirnya kakak Zi tampil dengan seragam dan terpilih 5 besar. Kami tahu, kakak Zi akan menghadapi cobaan lain, yang lebih konyol lagi, itu bukan datang dari sesama teman seusia, tapi dari orang tua murid lainnya! Tahiks bet

Saya rasa apa yang dialami kakak Zi juga dialami anak-anak lainnya. Mereka yang tidak didampingi hari-hari dengan orang tua di sekolah, iya karena orang tua ingin mereka mandiri, tanpa harus terus diikuti orang tua. Bukan karena orang tua tak peduli, justru sebaliknya. Entah apa yang ada di kepala mamak-mamak muda tanpa kerja yang hanya menggunjing dan juga menyakiti anak lain hanya karena ingin anaknya tampil lebih menonjol.

Pengen sesekali duduk menemani kakak zi seharian, kita ngobrol dengan mamak-mamak yang sudah pasti usianya tak jauh beda dengan saya ini, mari berdebat bu, mari berantem sekalian bu, jangan Cuma berani menyakiti anak kecil!

Orang tua macam itu, bagaimana bisa mendidik anak-anaknya menjadi lebih baik?