Monthly Archives: Oktober 2018

Merebut Kembali Sejarah Peradaban Islam di Masa Lalu. Review #28 Lost Islamic History by Firas AlKhateeb

Standar
Merebut Kembali Sejarah Peradaban Islam di Masa Lalu. Review #28 Lost Islamic History by Firas AlKhateeb

Buku ini ditulis oleh Firas AlKhateeb seorang guru sejarah Islam di Sekolah Menengah Atas di Inggris dengan alasan yang menurut dia, anak-anak dan umum perlu tahu banyak tentang sejarah islam. Selama ini, sejarah ditulis dan dipelajari oleh Barat, sepertinya dunia baru dimulai di masa renaisanse atau kelahiran kembali pada 1500an. Setelah membaca buku ini, yang lahir kembali mestinya hanya kejayaan Yunani Kuno dengan filsafatnya, karena sebelum 1500an, Barat berada di bawah kekuasaan Islam. Sebelum 1500an, Barat terpecah atas ego kerajaan masing-masing yang dalam buku Saladin dari John Mann hanya dipersatukan dalam Crussade atau perang salib, merebut Jerussalem yang dikuasai oleh Islam di bawah Saladin.

Kembali ke buku yang memang ditujukan untuk umum terutama murid SMA nya, bahasa yang digunakan juga jadi sangat mudah dicerna. Buku ini merangkum secara garis besar dari awal geografis Arab yang panas, gersang, masyarakat yang berpindah mengikuti dimana air berada untuk mereka bercocoktanam. Salah satu yang dicatat dari budaya Arab yang nyaris tak pernah berubah adalah saat mereka menerima seseorang menjadi tamu di rumahnya, mereka akan melindungi tamu ini selama 3 hari, bahkan dengan nyawa sekalipun. Begitu mereka menghormati dan melindungi tamunya.

Disusul kemudian dengan permulaan munculnya Islam yang dibawa oleh Muhammad di tahun 600an. Pribadi Muhammad, keluarga sampai beliau menerima wahyu diceritakan dalam buku ini, secara garis besar. Islam membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan di Arab dengan sifatnya yang egaliter, melindungi fakir miskin, perempuan dan anak yatim, yang selama ini dijadikan sebagai produk perbudakan. Kisah berlanjut sepeninggal Muhammad dan umat Islam dipimpin oleh Kalifah yang juga sahabat nabi, orang-orang pertama yang menerima Islam sebagai agama mereka; Abu Bakar, Umar, Usman dan menantu Muhammad, Ali. Pemilihan Kalifah pemimpin umat sudah diwarnai ketegangan sejak awal karena nama menantu Muhammad, Ali terus tersingkir, padahal dia adalah yang paling dekat secara tali kekeluargaan. Tapi begitulah Islam dibangun, kepemimpinan dibangun bukan berdasarkan pada tali kekeluargaan tapi pada kesepakatan memilih orang yang dianggap sanggu memimpin, berdasarkan kemampuan dan kepribadiannya. Setelah Usman terbunuh, tuduhan meruncing pada pengikut Ali. Untuk menghindari ketegangan antar umat, Ali memindahkan ibukota dari Medina ke Kufa, Iraq. Ini yang menjadi cikal bakal perpecahan aliran dalam Islam, Sunni dan Syi’ah yang berarti Partai Ali. Perpecahan politik yang berujung pada perbedaan cara pandang menjalankan Islam.

Sejarah berlanjut ketika bermunculan negara-negara Islam di semenanjung Arab dan terus menyebarkan Islam ke dataran asia, eropa sampai rusia. Islam mencapai masa keemasannya di masa pemerintahan Abbasid sekitar abad ke sembilan. Abbasid menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, memerintahkan semua buku diterjemahkan dalam bahasa Arab dan menghargai buku seperti emas dan membangun House of Wisdom atau Rumah Kebijaksanaan atau boleh sebut Rumah Pengetahuan. Bahasa Arab menjadi bahasa pengantar dan pemersatu perbedaan budaya, selama dia beragama Islam, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab. Di masa keemasan ini juga, matematika, kedokteran, astronomi, geografi, dan fisika berkembang. Berbeda dengan masa Yunani Kuno yang menitikberatkan pada filsafat, pada masa ini, Islam mengembangkan metode keilmuan moderen, dengan observasi dan percobaan atau eksperimen sebelum mengambil kesimpulan.

Muhammad Ibn Musa al-Khwarizmi berkontribusi mengembangkan aljabar sebagai subyek unik dari matematika yang memiliki sifat praktis untuk digunakan sehari-hari. Omar Khayam juga seorang ahli matematika yang mengembangkan metode Cubic Equations meski lebih dikenal di dunia barat dengan puisinya tentang cinta dan dunia mistik. Nama lainnya adalah Al – Battani (hidup di abad ke 10) yang mengembangkan trigonometri.

Di dunia astronomi, al-Biruni menegaskan teori Ptomely dari Yunani tidak sepenuhnya terbukti karena tidak menyertakan perhitungan gerakan bumi pada sumbunya. Jauh sbeelum Christopher Columbus menemukan ‘dunia baru’ untuk membuktikan bahwa dunia ini bulat, Ibn Batuta di tahun 1300an sudah berlayar sejauh 170.000 kilometer melintasi Afrika Barat, India, Cina dan Asia Tenggara. Dimasa kekhalifahan Abbasid, menggunakan trigonometri dan geometri, berhasil mengukur diameter bumi yang lebih akurat dari masa Yunani kuno. Bumi berdiameter 12.728 km dan lingkar bumi adalah 39,968km yang dengan satelit modern luasnya adalah 40.074km. Ini luar biasa. Dengan pengukuran yang tepat, seluruh umat Islam di dunia sujud pada arah kiblat yang sama yaitu Mekkah.

Dari dunia kedokteran, nama Muhammad ibn Zakariya al – Razi yang mengumpulkan semua keilmuannya dalam ensiklopedi “The Virtuous Life”. Al Razi menganggap tugasnya sebagai pekerjaan suci untuk menolong orang lain bahkan musuh sekalipun tanpa imbalan seperser pun. Nama berikutnya yang terkenal sampai benua eropa adalah Ibnu Sina atau Avicenna dan bukunya The Canon of Medicine menjadi referensi kedokteran di eropa. Ibnu Sina menekankan bahwa penyakit hanya bisa disembuhkan lewat pengobatan medis bukan mistis. Ibnu Sina juga mendahului Freud dan Jung dalam hal hubungan kesehatan mental dan fisik.

Di dunia fisika, ada nama Ibn al-Haytam yang dalam bukunya Book of Optics menegaskan kalau cahaya bergerak menurut garis lurus. Ibn al-haytam memberikan dasar penemuan dari Camera Obscura yang dalam perkembangan modern bisa menangkap gambar. Kutipan Ibn al-Haytam tentang ilmu pengetahuan yang dia tekuni

“I constantly sought knowledge and truth, and it became my belief that for gaining access to the effulgence and closeness to God, there is no better way than that of searching for truth and knowledge.”

Setelah Ibn al-Haytam, ilmuwan Muslim terus mengembangkan pengetahuannya, tapi kemudian gerak mereka menjadi terbatas oleh situasi politik. Peperangan antar kerajaan islam memecah belah umat di semenanjung Arab dan juga serangan Kaisar Genghis Khan yang membakar habis semua buku-buku pengetahuan juga menghancurkan House of Wisdom di Irak. Itulah mengapa tak banyak lagi sejarah yang bisa digali tentang peradaban Islam.

Buku ini juga menceritakan perkembangan tentang ilmu agama dalam fiqh, aqidah, sufism, dan shi’ism dengan berbagai perdebatan di dalamnya. Sebagian besar penerjemahannya dipengaruhi lagi-lagi kepentingan politik. Mulai abad ke sepuluh sampai tiga belas, Islam berturut-turut menghadapi tantangan dari kelompok Syiah, Tentara Suci Crusade dari Eropa dan Mongol – Genghis Khan, sementara di antara kerajaan Islam sendiri saling berebut kekuasaan. Saladin berhasil memersatukan Islam saat menghadapi tentara perang suci eropa. Lalu Ottoman Turki, juga mampu mengembalikan kejayaan Islam dengan penguasaan wilayah eropa sampai Rusia. Di Vienna mereka tertahan Rusia dan pelan-pelan mengalami kemunduran begitu juga ke Islaman. Di Turki, generasi mudanya mulai ke-barat-baratan dan menganggap Islam ketinggalan zaman dan pemerintahan dinasti ottoman penuh dengan korupsi, mereka lakukan revolusi dan memproklamirkan diri sebagai negara sekular.

Buku ini juga menuliskan bagaimana Islam yang menghormati pemeluk agama lain seperti Kristen dan Yahudi, bahkan melindungi mereka. Itu sudah diajarkan sejak Nabi Muhammad di Medina, lalu diturunkan pada Abu Bakar dan para kalifah lainnya, termasuk saat Saladin di Perang Suci dan juga Ottoman saat menguasai Eropa. Islam yang egaliter, pajak berupa zakat yang dimanfaatkan sebaikbaiknya untuk orang banyak, pendidikan yang dijunjung tinggi dan kesehatan gratis menjadi alasan agama ini menyebar pesat ke seluruh dunia. Politik pecah belah yang mempartisi umat di seluruh dunia. Beberapa daerah Muslim di India memisahkan diri karena ketakutan akan pengaruh politik Hindu, menjadi negara baru, Pakistan. Inggris memecah belah Palestina dengan memberikan tanah untuk Yahudi eropa menetap di Palestina sejak 1918, berbekal The Balfour Declaration. Inggris menguasai jika tidak sebut mengacaukan peta politik di Timur Tengah sepanjang abad ke 20.

Bagaimana si Miskin Mati, oleh George Orwell. Review #27

Standar
Bagaimana si Miskin Mati, oleh George Orwell. Review #27

Buku ini adalah kumpulan esai George Orwell yang semuanya ditulis berdasarkan pengalaman, pengamatan dan hasil analisa Orwell sebagai penulis, yang juga pernah bergabung sebagai tentang Inggris di Burma. Tulisannya berisi kritikan tentang imperialisme Inggris di dunia, tentang bom, bahkan sepakbola. Orwell hidup melewati perang dunia kedua, dan di masa-masa kekuasan nazi hitler. Meski buah pikirnya dihasilkan di masa ‘lalu,’ ternyata sejarah sangat mudah berulang sekalipun dalam bentuk berbeda, dan pemikirannya menjadi relevan. ‘Bagaimana si Miskin Mati,’ adalah salah satu judul esai dari buku ini, tentang bagaimana rumah sakit memperlakukan orang miskin, orang jajahan saat mereka sakit dan ‘dibiarkan’ mati, lalu mayitnya dirubung anak-anak sekolah kedokteran sebagai materi percobaan.

Orwel menganggap kata nasionalisme itu berbahaya dan mereka yang mengakui sebagai nasionalis hanya memainkan rasa patriotisme orang-orang awam untuk kepentingan politik mereka. Seorang nasionalis sangat sulit menerima kritikan karena merasa kesatuannya dalam bentuk negara adalah yang terbaik daripada yang lain. Dalam esai “catatan tentang nasionalisme” Orwell menjabarkan berbagai bentuk dari nasionalisme sepanjang sejarah hingga akhir hidupnya. Rasa nasionalisme menjadi alasan sebuah negara berperang.

Salah satu perwujudan semangat perang justru ada dalam bentuk kompetisi olaharaga. Di dalam ‘Semangat Olahraga,’ Orwell menuliskan olahraga yang tidak sesederhana adu fisik, tapi lapangan adalah medan perang, pertemuan kebencian, kedengkian, ketidakpedulian terhadap aturan, kenikmatan sadistik yang didapat dari kekerasan: dengan kata lain, perang tanpa tentara. Sikap penonton menjadi hal yang penting, jerit-jerit kegirangan mereka atas permainan kaki, melompat dan menendang yang menjadi lambang keunggulan sebuah bangsa (atau kelompok)

Lalu bagaimana “Politik dan Bahasa Inggris” memanipulasi narasi untuk kepentingan kelompok. Orwell mengritik penggunaan bahasa yang digunakan dalam politik yang menyalahi aturan dalam penulisan. Sangat biasa menemui narasi politik yang dogmatis dengan metafora yang buruk. “Di zaman ini, pidato dan tulisan politik pada hakikatnya bertujuan untuk membela apa yang tidak patut dibela… bahasa politik pada umumnya hanya terdiri dari eufemisme dan ketidakjelasan makna yang menambah alih-alih menjawab pertanyaan masyarakat.”… penggunaan bahasa yang buruk akan merusak pikiran! Karena efek penggunaan kata atau frasa itu sangat besar, maka Orwell merasa perlu menuliskan aturan dalam menulis:

  • Jangan pernah menggunakan metafor, kiasan, atau ungkatan yang sudah biasa Anda baca
  • Jangan pernah menggunakan kata panjang kalau ada kata pendek yang bermakna sama
  • Bila ada kata yang bisa dipangkas, pangkas kata itu
  • Jangan pernah menulis kalimat pasif apabila Anda bisa menggunakan kalimat aktif
  • Jangan pernah menggunakan frasa asing, kata ilmiah, atau jargon apabila Anda berhasil menemukan padanannya dalam bahasa sehari-hari
  • Lebih baik Anda melanggar salah satu dari aturan ini daripada menulis sesuatu yang biadab.

Tapi bagaimana pun Orwell menolak disebut sebagai penulis tentang masalah-masalah kemasyarakatan. Dalam “Mengapa Saya Menulis,” dia mengatakan penulis itu adalah seorang yang egois, yang menyimpan sendiri alasannya sebagai misteri. Tapi menulis buku adalah perjuangan yang melelahkan dan menggetarkan, seperti penyakit parah yang berkepanjangan. Tidak akan ada orang yang mau melakukan hal seperti itu kalau ia tidak didorong oleh semacam setan yang tidak dapat dilawan dan dimengerti.

Buku ini diterjemahkan Widya Mahardika Putra, dan saya harus mengapreasinya karena menyajikan terjemahan yang baik. Baik dalam artian mudah dimengerti, karena begitulah inti sebuah terjemahan buku.