Monthly Archives: Juli 2014

Cinta Mati

Standar

Perempuan itu terjaga dari tidurnya. Yang pertama dia lakukan, seperti juga kebanyakan manusia yang tergantung pada teknologi adalah mengecek isi tablet dan telepon pintarnya. Belakangan dia sangat sibuk memantau perkembangan persiapan pemilu di Indonesia lewat sosial media, setiap menit selalu ada hal baru menghiasi dindingnya.

Tapi matanya terlalu lelah untuk bertahan terbuka, telunjuknya berhenti pada sebuah foto. Seorang lelaki berwajah bulat dan berambut jarum tersenyum dengan gigi putih rata sambil menggendong anak berusia tak lebih dari lima tahun.

Perempuan itu tertarik untuk ikut tersenyum lalu matanya tertutup, kantuk mengalahkannya, kesadarannya kembali menghilang. Tablet dalam pelukkannya.

**

“Fotonya bagus banget, mau sekalian kuunggah ke facebook?,” perempuan itu menunjukkan hasil jepretannya pada lelaki berwajah bulat dan berambut jarum yang masih menggendong keponakannya yang berusia tak lebih dari lima tahun. Jarak begitu dekat. Lelaki itu bisa menyesap wangi dari rambut ikal perempuan yang selama ini menemaninya berbincang hingga pagi menjelang lewat dunia maya. Tapi kini dia hadir di hadapannya.

“Kirim lewat Bluetooth aja ke teleponku ya, biar aku yang unggah.” Lelaki itu mencium pipi keponakannya yang berpipi gembil merah jambu yang buru-buru menghapus jejak ciuman sang paman. Lelaki itu menurunkan anak itu dari gendongannya,”ke ayah gih, aku mau pergi sebentar ya. Nanti kita main lagi.”

“Yuks jalan-jalan,” lelaki itu merangkul pundak perempuan yang tingginya tak lebih ukuran dada lebarnya.

Perempuan itu menahan napas sejenak.

Mereka meninggalkan rumah yang terletak di antara perkebunan teh, berjingkat melewati jalan setapak yang becek akibat hujan semalam.

“Kamu mencintainya?,” lelaki itu melontarkan pertanyaan yang membuat si perempuan kaget dan terpeleset ke kubangan air.

“Duh, bisa nanti ngga ya bertanyanya, jadi aja kotor deh,” perempuan itu memilih tepian jalan yang kering untuk membenahi sandal jepitnya yang kotor.

Lelaki itu mengeluarkan sapu tangan dari kantong celana jeans nya , dia menunduk dan membersihkan jemari kaki perempuan dengan sapu tangannya. Lagi-lagi perempuan itu menahan napas, menahan jantungnya tak pecah.

“Sudah bersih. Yuk lanjut,” lelaki itu menyodorkan lengannya yang disambut si perempuan yang segera berdiri. Buru-buru perempuan itu melepaskan genggamannya dari lelaki berambut jarum itu yang membalasnya dengan senyuman.

“How’s your love life by the way?,” perempuan itu bertanya tanpa berani menatap wajah lelaki tinggi besar yang berjalan di sampingnya.

“Seberapa banyak yang ingin kamu tahu?,”katanya sambil melirik ke arah perempuan yang membuang pandangannya jauh ke depan, menatap dua gunung yang saling mengampit dan menjejakkan udara sejuk di sekitar mereka.

“Aku tahu kamu sudah lama bersamanya, kenapa tidak pernah pasang foto bersamannya di lamanmu? Ingin tetap terlihat sendirian?,” perempuan itu menyambar daun teh terdekat dan menciumi baunya yang segar. Kali ini dia menunggu reaksi muka lelaki yang mengusap hidung mancungnya dengan jemari. Tarikan napas yang dalam dan dikeluarkan bersama dengan asap saking dinginnya udara di sekitar.

“Karena aku lebih senang menyimpan hal pribadi dari sosial media. Giliranku. Jawab pertanyaan yang tadi, kamu mencintainya?,” lelaki itu mencari jawaban dari mata perempuan di sampingnya.

“Tak semudah itu menjawab iya atau tidak. Semuanya sudah terlambat karena ini bukan cuma urusanku dan dia. Ada dua keluarga besar yang terlibat. Aku tidak ingin menyakiti siapa pun,”perempuan itu menjawabnya tanpa berani menatap balik mata besar lelaki berambut jarum itu.

“You know what Ruby, yang diinginkan ibumu adalah kebahagianmu, bukan dirinya. Ini murni soal kamu dan masa depanmu, kebahagiaanmu. Kalau ibumu sedih itu cuma akan hitungan hari, kalau kamu tidak bahagia karena pernikahan itu, ribuan hari ke depan kamu akan merasakannya bersama dia.” Lelaki itu menggaruk kasar rambut jarumnya dan melangkah menjauh.

“I don’t even know what love is?,” perempuan itu setengah menjerit…

Lelaki itu berlari menghampirinya..

“I’ll show you what love is…” dia mencium perempuan itu, memagutnya lembut bibirnya, menghangatkan udara di sekitar mereka dan jantungnya luruh..

“Tetaplah di sini, jangan lagi berlari By,”Lelaki itu memeluknya erat.

“Jika ini mimpi, jangan bangunkan aku semesta,”perempuan itu membatin.

***

Kamar perempuan itu terkunci dari dalam. Pukul 5 pagi, semua bersiap berias, sang ibu panik menggedor pintu tanpa sahutan. Di dalam, gaun pengantin, kebaya brokat putih gading itu menggantung kaku di balik pintu.

Bandung, 080714