Monthly Archives: Juli 2015

Freelance di hadapan Bank – Freelance diary bulan keempat

Standar

Saya itu pemalas kalau dihadapkan dengan urusan perbankan. Kalau bukan karena seseorang di kantor lama merekomendasikan saya untuk dapat kartu kredit BNI, barangkali sampai hari ini saya terbebas dari jeratan kartu kredit. Tapi Bank itu senang sekali menambah plafon kredit saya, itu artinya mereka percaya pada kemampuan saya mengembalikan hutang.

Tapi itu dulu waktu saya berstatus Station Manager sebuah radio di Jakarta.

Hari ini, sedihnya minta ampun, saya merasa diremehkan dan dihinadina oleh petugas Bank BTN Cibinong bagian pelayanan kredit. Seperti saya ceritakan di atas, saya ini pemalas kalau urusannya sama Bank. Sejak punya KPR BTN lima tahun lalu, saya tidak pernah print buku tabungan, apalagi ganti ATM yang besok November akan hangus. Saya hanya rajin mentransfer uang untuk bayar cicilan rumah dari BNI ke BTN, sudah itu saja. Saya bahkan lupa di cabang mana itu rekening BTN dibuka dulu, waaah parah ya. Saya cuma tahu itu cabang BTN Cibinong Citeureup di Jl. Mayor Oking yang ternyata panjaaang banget kayak Jl. Panjang dan ada dua BTN sepanjang jalan ini.

Saya tiba di BTN Cabang Cibinong setelah melalui perjalanan panjang, maklum ga tahu jalan. Naik kereta turun di Bojong Gede, lanjut angkot 05, lalu 35 yang ternyata ga lewat Jl. Mayor Oking. Supirnya purapura ga ngerti dimana letak Mayor Oking padahal sebelumnya dia mengaku tahu… ih ntar bego beneran loh pak. Naik ojek ternyata dekat, tapi lagi-lagi karena saya orang baru di daerah antah berantah itu, kenalah diketok 20 ribu, yo wis ga papa.

Setelah urusan mengganti buku tabungan baru, saya diarahkan ke lantai dua BTN Cabang Cibinong. Si bapak memang terlihat sibuk, tapi itu urusan dia dong. Saya ini nasabah sudah lima tahun. Dia mempersilakan duduk dan bertanya keperluan saya datang, begini percakapan kami

Saya : saya mau mengajukan top up kredit pak.

Bapak (yang saya ga tahu namanya): slip gaji dan persyaratan lain sudah disiapkan?

Saya : kalau freelance gimana pak?

Dia tidak menjawab… lalu bertanya yang lain.

Bapak: sekarang ibu tinggal dimana?

Saya : alamat ktp dan tinggal beda sih pak?

Bapak : yang saya tanya, ibu tinggal dimana?

Mulai bête….

Saya : cinere

Bapak : rumah kpr nya dimana?

Saya : di Sentul, Babakan Madang

Bapak : ibu ke cabang Citeureup aja, mereka mungkin ga overload seperti kami di sini.

Si bapak bicara tanpa menatap saya dan memasang muka bête. Saya merasa diusir tidak hormat.

Saya merasa sedih sekali, harusnya dia memperlakukan saya lebih baik karena saya ini nasabah. Dia digaji dari bunga yang saya bayarkan saban bulan dari cicilan rumah itu. Saya yang menggaji anda, ngehe!

Yap, saya akhirnya ke Citeureup, ke Bank saya buka rekening awal. Penerimaan lebih baik memang, tapi tetep sedih begitu tahu betapa bekerja sebagai freelance tidak ada harganya di depan Bank, betapa freelance dianggap tak cukup mapan untuk mengembalikan hutang. Begitu juga yang bekerja dengan NGO. Kata ai, mestinya jangan sebut freelance, tapi sebut aja, penulis, pemain sinetron, artis, seniman atau apalah… freelance itu seperti tidak ada harganya… sial!

Begitu saya tanya berapa sih sisa cicilan saya di BTN, ternyata tinggal 44 juta lagi, rasanya….. aah pengen sekali melunasinya dan putus hubungan dengan BTN sama sekali!

Nasib ya nasib….

 

#roadtolondon – Memilih Pemberi Referensi

Standar

“Saya tidak begitu kenal sama kamu. Bagaimana saya bisa memberikan kamu referensi kalau saya tidak kenal bagaimana kamu kerja dan pribadimu.”

2008, saya meminta seorang narasumber yang sudah enam tahun jadi tamu di sebuah acara radio yang saya gawangi. Tapi beliau menjawab seperti di atas. Waktu itu sih terasa pedih, tapi kalau dicermati lagi kalimatnya, ya betul. Sepanjang enam tahun kami sering bertemu, posisinya cuma sebatas dia tamu dan saya pembawa acara, kadang cuma ada di belakang meja operator sebagai produser. Jadi manalah dia tahu bagaimana saya bekerja sehari-hari.

Lalu di kampus, saya meminta referensi, jawabannya lebih seru,”ya udah kamu bikin,nanti saya tandatangan.”
Intinya begini. Ketika diminta mencantumkan referensi, pastikan yang dituju itu beneran bersedia memberikan referensi positif tentang kamu. Pastikan juga dia kenal dengan bagaimana cara kerjamu, pemikiranmu, visimu dan kamu secara pribadi. Susah ya, kalau kamu ga bergaul ya susah,tapi kalau luas jaringanmu semuanya jadi gampang.

Siapa saja yang bisa dijadikan pemberi referensi? Kalau kamu baru lulus 2-5 tahun dari kampus dan kebetulan dulunya aktif di kampus, ya silakan ambil referensi dari kampus, bisa rektor, dekan, ketua jurusan, pembimbing skripsi atau dosen yang memang dekat sama kamu. Tapi kalau kayak saya yang sudah lebih dari lima tahun meninggalkan kampus, pun ga terlalu aktif, mending mencari referensi dari kolega kerja, mitra, jejaring atau bos paling tinggi sekalian. Oh iya ketika cari pemberi referensi jangan yang tanggung, pilih yang sudah setingkat direktur apa gitu, dari lembaga yang namanya sudah besar dan dia secara pribadi juga dikenal publik. Lalu pelajari latar belakang pendidikan pemberi referensimu, sukur kalau dia juga lulusan dari kampus yang kamu mau, itu lebih melancarkan lagi.

Pemberi referensimu pasti orang yang baik hati dan sabar. Coba bayangkan, saat kamu menjadi pemburu beasiswa, berapa banyak kampus kamu mendaftar dan setiap kampus menuntut ada referensi dan mereka menghubungi sendiri si pemberi referensi ini kan. Lalu tiap lembaga pemberi beasiswa pun melakukan hal yang sama. Kalau pemberi referensimu mual, bisa saja dia menolak di tengah jalan, cape man. So yes, you owe them a big “thank you” ketika kamu dinyatakan lulus.

Jadi pasang target pemberi referensimu sekarang!

#roadtolondon – Menjadi Pemburu Beasiswa

Standar

Setelah dapat “Conditional Award” dari Chevening saya dapat banyak pertanyaan, “gimana sih bisa dapat beasiswa? Apa aja yang mesti dipersiapakan?”

Sebenarnya bisa banget tuh langsung googling aja, jawabannya udah banyak. Pertama banget, cari tahu dulu lah, beasiswa yang tersedia di Indonesia itu apa aja sih, terutama buat yang pengen belajar di luar negeri. Diantaranya ada LPDP – beasiswa dari pemerintah Indonesia, boleh pilih kemana aja kamu mau, universitas mana saja akan dibayarin, ditanggung juga kalau mau bawa keluarga – istri atau suami dan anak kandung ya, tapi usianya terbatas yaitu 35 tahun. Makanya saya tidak bisa ikutan, kepentok usia my man hahaha…. Sial betul!

Lalu ada beasiswa DAAD dari pemerintah Jerman, Stunet dari pemerintah Belanda, ADS dari pemerintah Australia, Fullbright dari Amerika dan yang terakhir Chevening dari Pemerintah Inggris. Ini adalah beasiswa yang saya sempat incar, pelajari dan beberapa malah sudah diisi formulir pendaftarannya.

Tapi sebelum googling jenis beasiswanya, yakinkan dulu, sudah siap ga sih buat belajar ke luar negeri? Lalu mau ambil jurusan apa?

Buat saya, butuh 7 tahun meyakinkan diri bahwa “this is the time” karena ada banyak sekali hal yang harus diselesaikan sebelum memutuskan untuk focus cari beasiswa. Mulai memikirkan mami saya dititipkan pada siapa, adik saya sudah siap merawat mami atau belum, tidak meninggalkan pekerjaan atau tanggungjawab, karena itu saya akhirnya memilih freelance. Dan juga apakah CV saya sudah cukup meyakinkan pemberi beasiswa untuk memberikan kepercayaan pada saya, punya cita-cita apa sih sebenarnya setelah lulus nanti?

Kalau soal jurusan, saya pernah berbagi hati. Antara terjun sebebasnya di dunia penulisan walaupun pengalaman minim atau focus pengembangan diri di isu yang udah sebenernya ngeletek, jurnalistik dan komunikasi atau nyerempet ke social entrepreneur. Karena ga focus pada maunya apa, saya ditolak loh masuk jurusan “Life Writing” di Goldsmith, University of London. Sadar banget emang belum cukup kuat alasan saya untuk ngejar jadi penulis, pengalamanan minim. Tapi minat jurnalistik, komunikasi dan social entrepreneurship itu ternyata bisa dikombinasikan dalam jurusan Political Communication atau Media, Campaign and Social Change. Syaratnya Cuma satu, pelajari benar-benar isi mata kuliah yang kamu akan ambil dan minati. Dari situ sebenernya kamu baru bisa nulis tentang motivasi yang menuntutmu untuk punya visi lima tahun ke depan.

Intinya sih, gelar master itu bukan untuk ambil tantangan baru, tapi upgrading kemampuan dan pengetahuan yang selama ini kamu punya, namanya juga mastering kan. Ssst kata “upgrading” itu mujarab loh saat kamu di wawancara nanti – nanti saya share lagi tips menghadapi pertanyaan chevening.

Apakah ranking kampus itu penting? Penting dan tidak penting. Buat saya sih bisa dapat ilmu yang bagus sesuai minat dan kampus berperingkat baik, ya Alhamdulillah. Kalau cuma ngejar peringkat kampus sementara kuliahnya tidak sesuai minat, ya sama aja boong, bisa jadi kamu tertekan nanti. Atau ada juga yang ga mentingin keduanya, yang penting bisa sekolah, gelar dari luar negeri dan masih bisa jalan-jalan hahaha. Ya ga salah juga. Balik lagi aja deh ke motivasi masing-masing. Buat saya sayang banget kalau jauh-jauh ke negeri orang, ga ngelmu sebanyak-banyaknya.

Rasanya pernah baca buku tentang seorang perempuan dengan prestasi sangat baik di sekolah dan hidupnya dan dia percaya diri bahwa dia cerdas, tapi begitu kuliah sekelas Harvard dia merasa “bodoh”. Bayangkan kamu ada di antara orang pandai sedunia, siapkah kamu merasa kecil?

Lagi-lagi tanyakan pada diri sendiri, mau apa sih belajar ke luar negeri?

Kalau saya, begini….

Berasal dari keluarga dengan 11 anak – saya ketujuh dari tiga istri papi, dan tinggal di daerah Bronx nya Jakarta dimana anak perempuan cuma bisa sampai SMA setelah itu menjajakan diri kalau mau punya uang lebih dan anak lelaki lebih banyak mati karena overdosis, saya Cuma ingin keluar dari lingkungan yang sedemikian. Papi dan mami saya selalu pesan, tidak ada warisan harta untuk anak-anaknya selain dukungan sepenuhnya kalau saya masih mau melanjutkan sekolah. Pada kenyataannya, papi pensiun persis saya tingkat dua, adik saya baru lulus sma dan si bungsu masih sekolah dasar. Artinya ga mungkin mengandalkan bea kuliah dari orang tua, karena itu bekerja sambil kuliah dan mengejar beasiswa jadi pilihan paling tepat. Maka dari itu lah juga, saya nyaris tidak bergaul di kampus, ga sempat kawan hahaha.

Hidup itu selalu penuh perjuangan yang menyenangkan buat saya, dan keinginan sekolah lagi itu harus kejar-kejaran dengan kebutuhan lainnya. Dan sialnya sekolah di Indonesia itu tidak pernah murah, kecuali rela belajar sesuatu yang tidak sesuai minatmu dan di kampus bukan harapanmu. Setelah survey sekian tahun, saya menyerah, kalau harus bayar sendiri, tentu tidak akan cukup budget saya untuk sekolah di Indonesia. Karena itulah jatuhnya harus cari beasiswa ke luar negeri, bonus terbesarnya, kualitas pendidikan lebih baik dan pengalaman hidup bertambah.

Itulah alasan kuat kenapa akhirnya saya jadi pemburu beasiswa bertahun-tahun. Persiapannya seperti yang disebut di atas yaa… kalau mau lebih jelas tentang masing-masing beasiswa itu, liat sendiri link di bawah ini yaa…

http://www.australiaawardsindonesia.org/

http://www.daadjkt.org/

http://www.aminef.or.id/

http://www.lpdp.depkeu.go.id/

http://www.chevening.org/