Monthly Archives: Mei 2014

Es Coklat Biru

Standar

Dengan tas punggung berisi penuh dengan laptop, tablet dan tiga novel yang menemaninya dalam perjalanan kali ini, Jingga turun di Stasiun Gambir. Ini pemberhentian pertama dari rentetan kunjungan dinasnya keliling Indonesia menemui anak-anak muda yang punya kegiatan sosial. Tugasnya terkesan mulia, kalau anak-anak ini bisa dibina sejak dini dan dijaga idealismenya, bangsa kita lebih maju, angka kemiskinan bisa dikurangi, pendidikan rendah diberantas. Semangatnya membuncah ketika tugas ini diberikan padanya, di usia yang tak lagi muda, bertemu anak-anak ini pasti memberikan energy positif yang luar biasa. Meski dia sadar betul, orang-orang di generasi menengah sepertinya mungkin masih mau memberikan kesempatan pada anak-anak muda ini untuk maju dan bersaing, rela dipimpin oleh mereka. Tapi kalau melihat ke atas, generasi tua yang sudah kadung nyaman dengan hidupnya, mengeruk kaya dari mereka yang merana, manalah rela melepas apalagi dipimpin anak-anak muda yang mereka anggap kurang pengalaman. Halah, pengalaman itu tidak bergantung pada usia kok, tapi banyaknya kejadian yang memberikan pelajaran baik dan buruk.

Kenapa juga berbicara seserius ini. Jingga dengan kaki berbalut sandal gunung, bergerak cepat turun ke lantai dasar. Di depan tengah ruangan yang penuh sesak calon dan bekas penumpang, Jingga berdiri terpaku. Seminggu lalu, kawannya dirampok saat naik bajaj dari Stasiun Gambir menuju Cikini. Tangannya terluka pisau lipat milik perampok yang merampas tas jinjingnya dari luar bajaj. Si perampok menggunakan sepeda motor dan supir bajaj tak berkutik menolong. Barangkali dia sama takutnya.

Sekarang Jingga yang takut. Jakarta tak sama lagi buatnya. Hutan beton ini sudah membesarkan monster-monster yang siap melahap siapa pun yang lemah. Tampilan Jingga jauh dari konsep “exposure to crime,” memberikan kesempatan orang berbuat jahat padanya. Tas ransel naik gunung 45liter di belakang dan tas ransel laptop 22 liter di dadanya. Celana dan sandal gunung, tanpa make up dan kuncir kuda. Siapa yang akan menebak perempuan ini membawa uang perjalanan dinas yang tak sempat di transfer bagian keuangannya kemarin sore.

Naik taksi? Jarak dari stasiun Gambir menuju lokasi pertemuannya dengan beberapa rekan dari institusi berbeda cuma sejengkal dan biasanya supir taksi maunya hanya borongan. Pun kalau mau mengantarkannya, si supir akan pasang muka beringsut dan menggerutu sepanjang jalan.

Jingga melipir ke sebuah kedai kopi, sekaligus mendinginkan tubuhnya. Dia berharap bau keringatnya tak mengganggu tamu di meja lain, apalagi rekan kerjanya. Es kopi menjadi pilihannya.

“Es coklat Mint, ukuran sedang ya,”

Jingga menangkap suara yang entah dimana dia kenal dari arah meja kasir. Dia memasang kuping dengan seksama tanpa memalingkan muka.

“Jingga, apakabar?,” lelaki itu langsung mengambil bangku di depan Jingga tanpa menunggunya melongok ke atas. Deretan gigi yang rapi melebarkan senyum yang tulus. Gigi putih, rapi dan bersih itu adalah yang pertama membuat Jingga terkesan.

“Biru?!,”Jingga spontan berdiri menyambutnya dengan jabat tangan dan siap mencium pipi kiri dan kanan lelaki berkulit gelap dengan rambut cepak yang tak berubah setelah sekian tahun.

“Hahaha enggak usah berlebihan menyambut gue. Santai aja cuy. Tampilan law masih sama aje, ga berubah sedikit pun.” Biru duduk di depan Jingga sambil mengaduk minumannya.

“Ada hal yang perlu dipertahankan, ada yang ngikut perubahan. Lah lu, masih setia sama es coklat?,”

“Masih lah. Ga ada pilihan juga maksud gue. Kopi bikin jantung gue degdegan cuy, mending deg degan karena cinta, ya ga… oh iya… tahu ngga kalau gue udah punya anak?,”

Jingga belum sempat mengeskpresikan kagetnya, Biru terus bicara

“Perempuan cuy, cantik banget. Kayak gue lah, kan kata orang anak perempuan itu mengambil rupa bapaknya. Berarti kalau dia cantik, ya gue lah sebabnya. Namanya Lembayung Jingga. Iye kayak nama lu. Nama yang bagus, dari dulu kan pernah gue bilang, nama lu bagus, makanya gue ambil. Eh bini gue setuju, akur deh.”

“haaaiyaaa biru… merepet aja kayak bajaj! Kapan lu kawin? Sama siapa? Anak keberapa? Usia berapa?”

Biru lalu melanjutkan ceritanya..

***

Sebenarnya Jingga tahu kapan Biru menikah. Itulah sebenarnya alasan paling utama kenapa Jingga meninggalkan Jakarta lalu pindah kota Bandung dan memulai segalanya dari awal.

Dia mengenal Biru sebagai sepupu dari Bintang, sahabatnya sejak kecil. Mereka pernah bertemu saat keduanya berusia 12 tahun, kelas satu SMP saat libur lebaran dan saudara besar Bintang berkumpul di rumahnya. Biru datang berkunjung dan Jingga waktu itu melihatnya seperti gorilla, tinggi besar hitam dan kribo. Siapa sangka belasan tahun kemudian, Bintang mempertemukan mereka kembali lewat Facebook. “Biru dapat beasiswa di Inggris, temenin dia ngobrol gih. Capek banget gue kudu begadang nemenin dia ngobrol di cetingan. Siapa tahu kalian cocok,” begitu kata Bintang.

Jingga tidak butuh dijodohkan dengan siapa pun, kisah percintaannya tak pernah berjeda, hatinya tak pernah kosong. Tapi punya teman ngobrol tengah malam waktu Indonesia, itu tawaran menarik. Hari-harinya seperti kelelawar, dia baru bisa konsentrasi mengerjakan tugas kantor selepas magrib, persis jam kantor usai dan rekan-rekannya berhamburan pulang. Dia sudah seperti penjaga warung internet, ditemani Pak Timo, satpam kantor yang sesekali menjenguknya, dia melanjutkan pekerjaan sampai pagi menjelang.

Jingga meng”add friend” Biru yang langsung di “approve.” Percakapanmu berjalan lancar. Biru masih ingat saat Jingga marah besar ketika Bintang menjodohkan mereka. Jingga bilang, dia takut dengan tubuh besarnya Biru, lagian Biru bukan pacar impiannya. Jingga tertawa lewat tulisannya, dia bilang itu omongan remaja perempuan yang wajar bermimpi tentang pangeran impian yang tampan dengan kuda putihnya.

Jingga berselancar di halaman Biru, dan terkaget-kaget melihat perubahan besar yang terjadi padanya. Biru menjadi langsing berisi, kulitnya tak jadi terang seperti Michael Jackson, tapi kulit gelapnya justru membuat dia tampak sangat lelaki. Rambut kribo ala Ahmad Albar menghilang sampai hanya tiga sentimeter dari kulit kepala, jambang dibiarkan tumbuh tak beraturan. Biru seperti Craig David, salah satu penyanyi idola Jingga. Ia pun bergetar.

****

“Oi cuy, lu engga nyimak ye? Halloo…” Biru mendekatkan wajahnya ke arah Jingga.

“Eh iya, sorry sorry. Lagi hang. Nyawa gue ketinggalan di Bandung hehehe. Lanjut cuy lanjut…” kata Jingga membenahi duduknya.

“Lu terkagum-kagum sama perut buncit gue ye? Maklum cuy, udah babeh-babeh gue. Time flies ye,”Biru menepuk-nepuk perut buncit di balik kemeja kotak-kotak merah hitamnya.

“Dulu juga lu gembrot.”

“Ooh iye ye, bikin lu takut karena gue kayak gorilla kan hahaha.”Biru terbahak-bahak sampai pengunjung lain melirik ke arah mereka.

Jingga kikuk dan memegang tangan Biru yang sontak berhenti tertawa dan menarik tangannya. Wajah keduanya memerah dan tertunduk sesaat.

“Jadi cuy, sekarang gue masih ribet sama jadwal tandang dan urus anak. Pan mesti gentian ngejaga Jingga. Duh ga enak ye, nama anak gue sama lu sama.” Biru mencairkan lagi suasana.

“Lah lu yang milih nama itu.”

“Ah ribet deh, lu engga bakal ngerti, pan lu belum punya anak, masih betah aja sendirian.” Meski begitu, Biru melanjutkan ceritanya tentang Jingga, putri semata wayang yang baru berusia 1 tahun. Lama betul rasanya mereka tak bertemu. Jingga memasang telinga tapi isi kepalanya memutar vinyl memori.

***

Setelah hamper setahun mereka bercakap lewat segala media obrolan maya, mulai dari facebook chat, whatsapp, skype dan gtalk, akhirnya tiba waktu Biru pulang kampong dari negeri tiga singa, Inggris. Jingga untuk kali pertama menyediakan ruang kosong di hatinya, memberikan kesempatan Biru untuk hadir, jika berkenan, dia tetiba berharap demikian. Biru memang belum menyatakan isi hatinya, tapi isi percakapan mereka sepanjang tahun membuat keduanya semakin dekat dan Jingga terbuka berbagi masalah pribadinya. Percakapan terakhir dengan Biru justru lebih memberikannya harapan ketika dia meminta Jingga datang menjemputnya, bahwa alasan utama dia kembali ke Jakarta adalah Jingga. Ada beberapa tawaran kerja di Inggris, tapi hatinya tak di sana. Jingga berbunga.

Biru terbawa gaya Britpop, dia lupa Jakarta itu punya matahari yang tak kenal belas kasihan memanggang benda di bawah sinarnya, jaket panjang dan topi pet miring menempel di tubuh jangkungnya. Tidak penting lagi soal nyaman, yang penting gaya. Jingga meleleh dalam kagum dan kerinduan membuncah. Biru memeluknya erat tanpa sungkan di depan orang tua dan sepupunya Bintang yang langsung berteriak… cieeeeee akhirnya!!!

Setelah kembali dari studi, hubungan mereka berlanjut. Biru selalu menemani Jingga dalam tugasnya yang tak punya jam tetap. Sebaliknya Jingga sesekali menyempatkan diri menemani Biru di acara yang berkaitan dengan presentasi hasil penelitian yang dilakukannya di beberapa lokasi hutan tropis di Indonesia. Jingga yang bergerak di dunia advertising dan marketing memiliki jadwal padat dengan rapat, peaching, merancang iklan sampai malam-malam panjang untuk membangun relasi.

Dunia nyata sangat berbeda bagi mereka berdua. Sekalipun Biru berusaha menemani Jingga dalam berbagai acara, dia tak merasa benar-benar ada di sana. Percakapan tak nyambung dengan rekan-rekan Jingga acap kali dia alami, “o  begitu,” kata pamungkas yang menyadarkan Biru betapa jauhnya dunia mereka. Biru sebagai ahli biologi lebih banyak berada di hutan daripada di kota, penampilan britpopnya tertanggal di rumah, berganti pakaian lapangan dan kadang tak lagi sempat dia mandi. Dia menjadi lebih kurus bukan karena latihan di pusat kebugaran, tapi tenaganya terkuras saat di lapangan. Sedangkan Jingga, makin cantik dengan polesan bedak, lukisan eye-shadow, pemerah bibir dan mascara yang menyulam bulu mata pendeknya menjadi panjang dan lebat.

Jingga meninggalkan Biru di Jakarta untuk pergi pelatihan di Thailand selama satu bulan, pelatihan ini akan mengantarkannya naik jabatan menjadi manajer di perusahaan periklanan bertaraf internasional. Sementara Biru, seperti biasa, ada di hutan. Komunikasi di antara mereka terhenti, dua minggu, empat minggu.

Di hari kedatangannya kembali ke Jakarta, hanya ada Bintang menjemputnya di bandara. Jingga mengira, Biru masih ada di suatu lokasi tak terjangkau sinyal telepon.

“Biru titip salam J. Dia bakal bicara sendiri dengan lu. Tapi gue lebih senang menyampaikannya duluan daripada dia karena gue merasa bersalah, kan gue yang dari dulu kan ngejodohin kalian berdua.” Di café Oh La La Terminal Dua, Bandara Soekarno Hatta, Bintang bicara tanpa menatap mata Jingga, dia sibuk mengaduk coklat panasnya. Jingga tahu sesuatu telah terjadi.

“Ada apa Bin? Omongin aja, sudah biasa untuk dengar hal buruk. What worst could it be?,” Jingga memasang muka datar, hatinya bergetar. Satu lagi lelaki akan pergi darinya, bukan karena dia tak cakap membina hubungan, tapi sebagian besar dari mereka pergi untuk alasan yang sangat egois. Merasa terintimidasi dengan kesuksesan, kecakapan dan kemandirian Jingga.

“Biru bertemu orang lain, teman penelitiannya di proyek terakhir di Danau Sentarum. Dia bilang perempuan ini sangat sederhana, apa adanya dan tidak ambisius. Mereka akan menikah dua bulan dari sekarang. J, gue cuma bisa bilang, lu beruntung tak jadi dengan Biru. Tak harus menjadi orang lain untuk bersamanya. Gue tahu lu punya cita-cita dan prioritas dalam hidup. Lepaskan Biru, J. maafkan gue. Sekolah tinggi, bergaul, cerdas dan lulusan luar negeri, gue pikir dia akan lelaki yang berbeda dari kebanyakan, bisa menerima perempuan yang lebih darinya. Ternyata sama aja. J, jangan sedih ya.” Bintang mengakhiri kalimat panjangnya dengan menggenggam tangan Jingga.

“Perempuan itu tempatnya salah. Dia akan selalu disalahkan karena terlalu manja, lemah, tak berpendirian, terlalu bergantung dan sekarang dia pergi karena gue sebaliknya, terlalu mandiri, dan ambisius dengan kerjaan. Ya sudah. Gue ga papa, ada banyak hal yang harus dikerjakan daripada sibuk ngurusi soal cinta.” Jingga sungguh tak merasakan sakit, dia seperti kebal untuk hal ini. Bukan yang pertama.

Lalu Jingga sepenuhnya kehilangan kontak Biru. Tak ada ucapan selamat tinggal langsung dari Biru, Jingga tak menanti apalagi mencarinya. Tak ada lagi pin bb Biru, facebooknya tidak aktif. Jingga tahu pernikahan Biru berlangsung sederhana dari foto yang dishare Bintang. Perempuan sederhana dan keibuan, seperti yang diharapkan Biru.

Di hari pernikahan Biru, Jingga mengundurkan diri dari segala keriuhan kota dan kemeriahan pesta untuk menjalin relasi. Jingga bahkan pindah kota untuk sepenuhnya mengabdikan ilmu komunikasi yang dia kuasai untuk membantu anak-anak muda yang sedang merintis usaha sosial dan kegiatan komunitas lain. Bukan untuk Biru, tapi untuk dirinya sendiri, mencari ketenangan.

***

“Jadi Jingga, hari ini Bintang baca status lu di Facebook yang bilang kalau lu sedang bingung mau naik apa dari Gambir ke Cikini. Lu parno abis, gara-gara temen lu hamper mati dirampok di bajaj. Nah, beruntungnya gue kerja sekarang sekitar sini. Udah engga keluar masuk hutan lagi, tapi duduk di belakang meja. Jadi Bintang minta tolong gue untuk menjemput lu dan mengantarkan lu ke tempat tujuan.” Kata Biru berapi-api. “ eh tapi ya, aneh banget! Ini kan ngga lu banget, penakut di kota kelahiran lu sendiri, man, lu pan anak jakarte! Ini kota lu.” Biru menggebu-gebu dan melebarkan tangannya.

“Gile ye, lu juga ga berubah, masih aja merepet kayak knalpot bajaj. Bingung gue kudu jawab pertanyaan lu yang mane.” Jingga membereskan barang-barangnya, “Ayo, anterin gue. Ntar lanjut lagi ceritanya di jalan. Gue udah telat neh.”

Rindu itu menghilang. Biru orang yang jauh berbeda, dia tak lagi Craig David yang mencuri hatinya dulu. Dia seperti kebanyakan lelaki eksekutif muda lain, gendut karena kelamaan duduk di belakang meja. Sedangkan Jingga dekil dan makin langsing karena keluar masuk hutan dan desa. Dunia mereka tertukar sekarang.

“Sebelum lupa, gue minta maaf karena pernah menyakiti lu ya Jingga. Sungguh.” Slruuup, Biru menghabiskan es coklat kegemarannya.

“No, ngga ada yang harus dimaafkan. You just being a man, that’s all!”