Monthly Archives: Mei 2016

Family Trees, Name and History

Standar

I don’t have a family’s name, just like most of Indonesian, especially those who are Sundanese and don’t have a royal blood. Well actually my mom’s family came from a royal family but they don’t give the family’s name to their children. My grandfather’s name is Djohar Wargadisastra… then my name is Nita Roshita… that’s it… I could have my dad’s name though but he didn’t have family name either- like most of the Javanese non-royal family. His family mixed between Javanese and Chinese… anyway history messed up hahaha…

I don’t really care about my family history, until today. I was listening how fascinating my house lady family history that she just found out from google… imagine… googling your own family… all you need is your family name and a good record of your country administrative census. She found her family history in 18… something….

Whereas in Indonesia, some family made their own family trees; tracking down their family member from top to the youngest one. I remember there was one only time where my mom’s family and relatives were gathered to made their own family trees. There was the time when I found out that my high-school sociology teacher is actually my cousin!!! It was so funny since I knew he was favorites among girls in my school hahaha…

I knew my mom’s family is a very religious yet a moderate one. They own pesantren or madrasah in Tasikmalaya, and the family spreading in all over West Java; Cianjur, Bogor, Garut, Ciamis, Bandung, Banjar, Tasikmalaya to Pangandaran. I know I am the oldest among 27 grandchildren that my grandparents has, but I don’t know who my cousins from my mom’s aunty etc are. I only knew we share cancer cell in our body, and diabetic in some of us.

I knew my father’s has different stories, more messed up stories. Lesson learned from my father’s side…. Never ever continues Polygamy history! Everything is messed up because of it…. I don’t know how many cousins I have because my uncle has many wives, as well as my dad… and maybe my cousins do the same… I don’t know! Now, we, the children got lost somewhere in the history!

I want to change it! I want to make our own family trees and history. Although we don’t carry our family name, we should keep tracking our family member. I want my nieces from my siblings and nephews from cousins to be aware of family history.

For me yes, it does matter because we are made by history as we can write our own in the future. Children learn from the adult, if we leave them the legacy for better or worse, they can learn to follow the good things or avoid the bad ones.

family trees

Pada Suatu Masa di Indonesia

Standar

Negeri ini penuh amarah pada penis yang serakah dan jahat, pada setan komunis yang tak juntrung rupa pada laut yang ditimbun menjadi daratan, pada … masa…

Kita seperti lupa piknik… lupa untuk menenangkan isi kepala untuk menyimak jernih, tidak berisik lalu berkata… tugas lu lah, situkan kepala negara, situ kan pemimpin bangsa, situkan… situ warga, apa cuma warga yang berhak murka?

Pada suatu masa di mana semua orang bicara tanpa mendengar, lupa pada si korban, pada perempuan yang harus berulangkali memutar kenangan yang sebenarnya sangat ingin dilupa. Lupa bahwa keadilan tak bisa diukur dengan kematian atau kebiri. Penonton emang selalu lebih galak dari pemeran utama, seperti pengamat merasa lebih pintar dari pemain bola. Juga lupa bahwa palu pengadilan tak bisa jadi akhir cerita melulu…

Saiah juga sedang marah, tapi sambil mendengar demo music dari kesatria penguasa nada yang bersenyembunyi di perpustakaan, bikin adem rasanya… you are the sun to me… katanya… entahlah buat siapa…

Ketika bicara hak asasi manusia, semua merasa benar… yang pro hukuman mati dan kebiri, merasa paling benar mewakili korban dan keluarga, yang kontra hukuman mati dan kebiri, merasa pelaku masih perlu dibela haknya sebagai manusia.

Saiah di mana?

Dalam kriminologi ada mata kuliah sistem pemasyarakatan 3 SKS tahun 199 something, sampe lupa semester berapa itu. Dalam sejarah penjeraan, tidak ada satu pun hukum di dunia ini yang benar-benar berhasil menjerakan pelaku dan calon pelaku – baca masyarakat umum. Betul, di kebiri satu, tumbuh seribu, lah wong penis lahir bersama anak lelaki…. Jadi menurut saya percuma dikebiri – walaupun saya sempat emosi untuk setuju hukuman ini – tapi setelah dipikir ulang berkali-kali sambil mendengarkan lagu cinta, ini hukuman ga masuk akal…

Saya belum baca perpu itu, makanya ga mau galak seperti yang lain… tapi kalau pelakunya adalah anak di bawah 18, apa iya hukuman mati juga yang diberlakukan? Atau kebiri? Buat saya, mereka masih punya hak untuk melanjutkan hidup, memperbaiki kesalahan. Entahlah, hukuman mati untuk kejahatan manapun rasanya tidak pas..

Suara kita selama ini rasanya sudah benar ketika merasa perlu dibenahi budaya kekerasan terhadap perempuan melalui pendidikan, di sekolah, di rumah, lewat pendidikan formal maupun non formal, termasuk pendidikan agama. Kenapa sekarang suara itu terpecah antara hukuman mati dan kebiri, dan yang menolak?

Lagilagi saya tidak percaya ada orang yang 24 jam jadi penjahat melulu… selama jantungnya berdenyut, dia masih punya rasa.  Tak lagi percayakah kita pada cinta? Ini serius, saya tak lagi becanda.

Murka tentu saja sah, tapi tidak lantas ketok palu menyiakan hukuman mati. Ini tergesa-gesa ingin memuaskan sebagian amarah, tapi liat paragraph sebelumnya, kita lupa…. Korban apa kabar? Apa iya kita sudah menyuarakan hati mereka?

Padahal saya sendiri masih marah soal kiri yang dimusuhi, tapi saya sadar ini cuma permainan isu.. satu belum selesai, yang lain muncul lagi, lalu sekarang kebiri… isunya tumpang tindih…

Pada masa di Indonesia, ketika semua orang mudah lupa secepat dia murka…

Sudah ya.. saya kembali ke lagu cinta saja….

 

 

Yang Luput Diceritakan Dari Sekolah di London Part II. #mycheveningjourney

Standar

Setelah cerita cuaca, gagap budaya, essay dan seni, bagian berikutnya adalah: soal buku murah, charity shop, sewa kamar, bank, bioskop dan kesempatan berorganisasi

Buku…. Buku… buku…

Kalau kamu pecinta buku, berada di sini, di London itu kayak surga. Di musim diskon seperti natal – tahun baru, buku di toko bisa turun sampai setengahnya, lalu kalap. Di charity shop bisa bermenit-menit menatapi rak buku dan mencari buku yang ga lebih mahal dari lima poundsterling. Lalu carilah di internet toko buku yang menjual semua bukunya 1 poundsterling…. Gilak…. Kalaaap!!

Selain soal harga, tentu saja tentang subject buku yang susah kamu dapat di Indonesia, karena mahal di import dari sini dan juga buku ke kiri-kirian pastinya susah, begitu didapat degdegan, semoga bisa dibawa ke Jakarta hahaha.. curcol!

Jangan buka Amazon…. Bisa kalap beli buku second, harganya murah meriah, dikirim ke rumah. Lalu ebook gratisan koleksi perpustakaan kampus atau di beberapa website tersedia. Wadoh! Jujur saja, uang jajan saya sebagian besar lari ke buku. Tidak untuk dibaca sekarang, tapi untuk dikoleksi dan dibawa pulang, baca nya kapan-kapan aja. Ga akan sempet juga karena kamu tahu berapa buku yang dibaca saban kali essay datang? 20 minimal… mampus! Iyaaa.. betul…. Ya ga harus dibaca dari halaman depan sampai habis, tapi diambil bagian yang kamu perlukan untuk essay aja. Tapi kalau pas ketemu buku yang menarik, yuks mari…

Perpustakaan adalah tempat terbaik untuk baca buku gratis. Perpustakaan Goldsmiths buka 24 jam kecuali pada natal. Boleh kok sambil bobo-boboan di meja *minta dijitak.

Charity Shop

Uang beasiswa biasanya habis untuk dua hal utama; sewa kamar dan makanan, sisanya tak banyak, apalagi untuk mahasiswa kere macam saya. Dari sisa yang tak banyak itu saya tidak ngoyo belanja pakaian branded. Tapi karena ini negeri empat musim, tentu saja baju ngikutin. Beneran deh, pakaian musim dingin itu bikin gerah di suhu 21 derajat kayak hari ini.

Hasilnya, saya belanja di Charity Shop, beramal sambil belanja, eh tebalik, belanja sambil beramal. Kaos oblong harganya ga lebih dari 3 poundsterling, kemarin malah sempet dapat jaket harganya 1 poundsterling di Portobello, boot 7 poundsterling. Pakaian saya sebagian besar berasal dari Charity Shop loh. Honestly, lebih bangga beli pakaian bekas dari toko amal daripada berburu barang murah dari tenaga kerja yang dieksploitasi di Primark.

Charity Shop itu koleksi dan harganya tergantung di lingkungan mana mereka berasal karena kan pakaiannya ya sumbangan warga sekitarnya. Jadi kalau mau dapat barang bekas bermerek, pergilah ke charity shop di lingkungan orang kaya, semahalmahalnya tentu masih lebih murah dari harga aslinya toh.

Sewa Kamar

Ini tricky abis. Kalau ingin fasilitas lengkap tentu harganya juga ngikutin, kalau mau seadanya itu juga ngikutin. Sewa kamar itu bisa ngabisin setengahnya uang sangu saban bulan, percayalah. Pertimbangannya gini

  1. Lokasi – kampus Goldsmiths ada di zona 2 – thank god… jadi masih jauh lebih murah dari zona 1. Tapi karena New Cross mengalami gentrification – perubahan status dari wilayah ‘kumuh’ ke urban area – harganya terus naik.
  2. Private flat or student accommodation. Saya di private flat, sharing sama pemilik rumah. menyenangkan karena itu artinya saya sekalian belajar budaya di sini. Kawan tinggal di student accommodation yang kamarnya kata dia mirip ATM saking kecilnya, yang penting punya kamar mandi sendiri. Ada lagi yang murah tapi harus sharing kamar mandi dan dapur dengan 20 mahasiswa lain. Judulnya sharing tempat tinggal, kudu banyak toleransinya lah.
  3. Jarak berpengaruh pada transportasi dan harga sewa. Buat saya tinggal di luar wilayah kampus punya keuntungan, bisa lihat pemandangan lain. Tapi saya harus beli tiket bulanan untuk bus di semua zona sebesar 56 poundsterling saban bulan. Kalau dengan kereta tergantung zona nya. Taruhannya gini, kalau kampusmu di zona satu tapi pengen sewa kamar murah di zona 2 ya tetap akan mahal di transport. Contohnya, kamar 500 poundsterling, transport 100 poundsterling = 600 poundsterling pan.

Soal makanan

Salah satu alasan kenapa saya milih London karena di sini semuanya ada, mirip Jakarta. Yang semuanya ada itu sebenarnya urusan perut hahaha. Sekalipun bisa beradaptasi dengan roti, seringkali butuh indomie dan makan nasi. Selama ada restaurant cina, saya bisa hidup.

Berhemat bisa di soal makanan sih. Saya pernah posting bagaimana bisa hidup dengan 3 poundsterling per hari, yaitu dengan beli 1 pak roti tawar, 1 bungkus dedaunan dan 1 bungkus isian daging turkey. Tapi kan kamu bisa makan begitu terus, ada saatnya kepengen masak makanan enak. Porsi semua belajaan di sini lebih besar, maksudnya ga kayak di Indonesia, mang beli cabe seribu, atau bawang seribu. Di sini semuanya sudah dipaket, jadi kadang niat berhemat jatuhnya malah boros karena bahan makanan berakhir di tong sampah. Barangkali kamu malas masak, bosen dengan makanan yang sama, atau lupa tanggal kadaluarsa karena biasanya di rumah yang begini urusan PRT atau mamah. Syukur kalau kamu sharing flat dan bahan makanan, akan jauh lebih hemat.

Makan siang di kampus Goldsmiths dipukul rata 4.90 poundsterling, air minum gratis – tab water maksudnya. Paketan makan siang sampai malam juga paling mahal 6 poundsterling di sekitar kampus. Namanya mahasiswa, udah lah ya, yang penting kenyang. Kalau soal porsi, jangan khawatir, gude!!

 

 
Bank

Kampus Goldsmiths pake Santander, ga saya rekomendasi sih, mereka motong biaya administrasi 5 poundsterling saban bulan cyiin. Tapi buat pindah Bank males karena prosesnya bisa sampai sebulan. Iyap di sini ga semua hal semudah di Indonesia. Kalau lupa password, telpon CS bank lalu dikirimin password sementara dalam 2 lembar surat yang waktu kirimnya berbeda, dikirim via kantor pos, dalam lima hari kerja. Hahaha yoi… lamaaaa…

Transaksi dilakukan secara online sebaiknya. Di ATM cuma bisa tarik maksimal 300 poundsterling perhari, lebih dari itu harus ke teller bank, lebih dari 500 poundsterling kudu menyertakan paspor. Di ATM ada menu transfer, tapi kalau mau transfer manual ya kudu ke teller bank, itu fitur boongan di ATM.

ATM bersama, tapi hatihati some ATM motong uang kamu.

 

Bioskop

Yang hobi nonton ada dua paling website yang saya suka pakai amazon prime dan bob.nationalnet. Tapi selama di sini saya juga pergi ke bioskop, sudah lima kali. Harga mahasiswa variasi 7-12 poundsterling. Lucunya bioskop di sini kosong melompong. Hampir ga mendapati bioskop penuh sekalipun filmnya tergolong bagus. Jadinya berasa di home teater gitu. Goldsmiths punya bioskop sendiri namanya Curzon, ada 2 studio dan porsi komersil dan festival berimbang. Kampus juga sering ngadain festival film gratisan, jadinya ga habis kesempatan kamu untuk menikmati film di sini

Lalu perpustakaan punya koleksi vcd, dvd sampe video lumayan lengkap… hajaar….

 Kesempatan berorganisasi

Satu tahun emang sebentar, nyaris ga sempat untuk aktif berorganisasi. Tapi kalau kamu bisa bagi waktu kenapa ga. Persatuan Pelajar Indonesia adalah salah satu pilihan. Jadi volunteer adalah salah satu cara berorganisasi. Saya volunteering di dua tempat di kebun organic – tapi sekarang sudah ga aktif dan akan gabung di sebuah kampanye. Lalu ikut kegiatan anak-anak muda partai buruh, untuk tahu gimana sih partai ini bisa menarik buat anak-anak muda Inggris, pasti karena isu yang dibawanya juga ngikutin zaman dan trend.

Untuk jadi relawan  di sini terus terang ga gampang, butuh rekomendasi dan diseleksi seperti karyawan. Dengan koneksi pertemanan dan juga dari kampus itu bisa memudahkan. Yang penting sekali lagi soal pengalaman berorganisasi yang bisa dibawa pulang nanti. Ikutin aja semua kesempatan yang ada, asal bisa bagi waktu  yak.

Apalagi ya yang perlu disampaikan? Btw, kalau kamu mikir London kota yang hidup 24 jam, ga banget. Convenience store kayak sainsburry tutup jam 11 malam, kafe jam 8 malam, pub sebagian buka sampai jam 2-3 pagi, jangan harap ada makanan di pinggir jalan tengah malam hahaha…. Kalau niat menginap di perpus karena mengerjakan tugas, bawa cukup makanan ya, biar ga kelaparan.

goldsmiths_rhb

Hal Yang Mungkin Luput Disampaikan Dari Cerita Sekolah di London #mycheveningjourney

Standar

Ketika orang tahu saya akan belajar di London selama satu tahun, reaksinya akan sama ‘waah asiknya sekolah di luar negeri.’ Ketika saya tahu diterima pun saya bereaksi, ‘asiik anggap liburan satu tahun dari rutinitas.’ Jawaban teman saya saat itu,’liburan?? Wait until you got here!’… she was absolutely right. Berhubung sudah masuk bulan Mei dan biasanya temen-temen yang mendaftar Chevening dah dapat info diterima di kampus atau nda, dan sudah melewati proses wawancara, ta coba bagi pengalaman yang ‘ga enak’ nya soal belajar di sini ya. Bukan buat dihindari, tapi perlu disiapkan jauh hari.

Cuaca

Hal ga ‘enak’ disampaikan oleh orang tentang Inggris adalah cuacanya yang galau sepanjang tahun. Seminggu bermatahari, dua minggu sendu. Satu hari bisa ketemu matahari, hujan, mendung dan gerimis. Karena itu icon Inggris adalah lelaki berjas dengan payung tongkat, it is so true. Meski prakiraan cuaca di UK 80% lah bisa dipercaya, tapi payung kalau bisa jangan ditinggal. Sampai hari ini payung saya masih bertahan yang dibawa dari Jakarta, baru satu kali dia menekuk kehilangan keseimbangan karena ditiup angin besar sekali. Temen saya berkali-kali beli payung, murah sih 1 pounds tapi kalau lima kali beli dan rusak, mending sekalian beli satu yang mahal. Mau pake jas hujan mangga, di sini tersedia jas hujan yang lucu. Sepatu boot karet itu harganya mahal, paling murah 30 pounds, tapi kalau mau beruntung pergilah ke Portobello Market, bisa dapat 20 pounds. Tapi jaket anti air sih cukup lah.

Begitu ada matahari, 21 derajat pun bikin kulit kebakar. Siapin sunblock. Tapi saya cuek, makin keliatan gosong, makin berasa seksi hahaha… siapkan layer yang cukup, karena Desember – Februari itu dingin banget. Maret dan April peralihan ke musim semi. Tahun ini di London turun salju loh di bulan April, dikit sih tapi salju! Mei – hore…. Hangat! Bye bye waterproof jaket, sepatu boot dan layer… sudah bisa kayak di Jakarta, ga pake layer. Tapi tetap bawa jaket ya, malam kadang masih dingin.

Siapsiap kena flu saban pergantian musim, istirahat yang cukup, makan yang bener – ini susah sih konsep bener itu kayak apa coba. Untungnya di sini buah itu murah luar biasa, vitamin c mestinya sih terjamin.

Kangen Rumah  – Homesick

Yang suka ngeselin itu kalau tetiba temen yang diajakin curhat bilang… no its okay to be homesick, it will pass, sementara yang kamu butuhin adalah cuma kuping untuk mendengar atau bahu untuk bersandar. No it’s not okay and you deserve to cry kalau lagi mellow blast terutama di bulan Desember – February. Seasonal Affective Disorder atau Winter Depression nama kerennya. Ga cuma pendatang macam kita, semua orang kena masalah yang sama. Saat inilah kamu akan tahu betapa matahari adalah sumber kehidupan yang sebenarnya, senyummu bergantung padanya. Saat inilah teman dekat saling menguatkan. Parahnya lagi musim ini adalah musim essay, autum term usai, tugas numpuk, matahari ga ada, hampir semua teman pergi liburan natal, perpustakaan libur… pengen nyungsep di bawah bantal, menangis berhari-hari. Siapin Indomie, rendang dan koneksi internet yang cukup buat obat kangen rumah dan ngobrol sama emak bapak.

Essay lebih menakutkan dari Kuntilanak

Berbeda dengan belajar di Australia yang dua tahun, Inggris cuma kasih satu tahun untuk full-time master. Setiap termin – Gugur dan Semi – cuma 11 minggu pertemuan kelas yang minggu ke enam adalah reading week – minggu baca-baca yang biasanya dipake justru buat liburan hahaha. Setelah pertemuan kelas ada waku 1 bulan untuk mengerjakan essay. Di jurusan yang saya ambil MA Political Communication, untuk mata kuliah 30 kredit harus menyelesaikan essay 5000-6000 kata, 15 kredit ya setengahnya. Kalau dalam bahasa Sunda, bikin eungap lah… kayak dikejar kuntilanak – kayak pernah liat aja…

September – November adalah masa orientasi diri sendiri, menyesuaikan cara belajar yang cocok buat kamu model gimana? Mengatur jadwal antara belajar dan begaul itu juga ga gampang loh. Tentu saja kamu ga mau dong kehilangan moment bergaul dengan tementemen dari negara lain tapi juga ga mau gagal di urusan kuliah…ini bulan berat soal ngatur jadwal tssaaah…

Saya yang ga terbiasa menulis essay gaya Inggris, tentu berat banget. Mereka menuntut straight forward di gaya penulisan, cerewet banget di soal bibliography – style Oxford atau Cambridge sila pilih tapi lakukan dengan konsisten. Ada bantuan dari kampus namanya kelas menulis akademis, itu sangat membantu untuk mempelajari model struktur dan penulisan yang jadi standar di sini. Jangan nangis kalau dapat nilai jelek di essay pertama. Sekali lagi bukan cuma kamu dan saya, ini namanya penyesuaian. Do it better the next one. Oh iya, sekalipun orang Inggris itu santun dalam menyampaikan masukan, tapi pedih loh kalau kamu mengerti apa maksud mereka hahaha. Terima aja kritikan bapak ibu professor, toh kamu sedang belajar ya kan.

Gagap budaya – Culture Shock

Sebagai anak Jakarta yang ceplas ceplos dan begaul dengan lebih banyak teman cowok, dan meski berkali-kali sempat kencan sama orang asing bukan berarti saya ga mengalami gagap budaya. Orang Inggris itu santun macam orang Yogya, atau Canada dan Jepang, kadang mesti seksama membaca maunya kemana. Jadi sempat beberapa kali saya ditegur sama kawan yang dari Kanada dan Inggris soal bahasa, dan diajari bagaimana kalimat yang ‘sopan’. Tapi akhirnya mereka bisa menerima, saya ga bisa basa-basi. Yang saya lakukan kalau ngomong sama temen di sini adalah, minta maaf diawal kalau bahasa saya akan terdengar kasar J

Lalu berbeda dengan di Jakarta yang bisa ngajak temen laki ngupi kapan pun, di sini kudu hatihati, takut ajakan itu dianggap berbeda. Sampai mana disebut friendly aja masih bikin bingung. Jadi biasanya dalam pergaulan bikin aja pager di awal… I just want us to be friend, period. Ya kecuali kamu mau dilanjut ke tahap berikutnya.

Kalau diundang party di rumah kawan, bawalah sesuatu jangan lenggang, bawa minumanmu sendiri minimal. Paling seru kalau ulang tahun. Di sini ga perlu ribet nyiapin duit buat ngundang tementemen karena mereka ga minta ditraktir kok, bayar masing-masing. Oh iya, kalau diajak kencan, jangan ngarep dibayarin pun yak, bayar sendiri aja, kecuali dia bilang ‘let me get you this one.’

Tapi menurut saya sih, gagap budaya macam ini jadi bagian yang perlu banget dijalanin. Jangan cuma ngumpul sama temanteman satu negara dan dari latar belakang yang sama. Justru ini kesempatan untuk mengenal budaya tementemen dari negara berbeda dan seru banget loh. Kalau sebelumnya ngandelin Couch Surfing buat dapat tumpangan, ini kesempatan untuk dapat akomodasi kalau mau keliling dunia J dan karena Cuma 1 tahun di sini, manfaatkan sebaikbaiknya waktu untuk berteman, berjejaring dan saling belajar.

Di sini orang ga begitu peduli kamu mau apa, siapa kamu dan bagaimana kamu. Saya sekolah di Goldsmiths yang sangat liberal, bebas, sebebasnya kamu terbang. Ada lelaki berpakaian perempuan, ada perempuan yang mirip banget Justin Bieber. Punya toilet untuk Neutral Gender, buat kamu yang mengindentifikasikan diri di luar Lelaki dan Perempuan, sah sah aja. Kami berbagi mushola dengan kawan-kawan dari agama berbeda, diajari untuk saling menghargai. Kamu akan shock di awal, tapi terbukalah untuk semua kejutan yang buat saya sih seru. Sesuatu yang ga banget ditemui di Indonesia, mungkin suatu hari nanti…

Ketika Tetiba Nyeni

UK adalah negara yang seninya luar biasa berkembang. Paling tidak saya di Goldsmiths yang mendadak ada di setiap pertunjukkan, di setiap pameran. Nonton musical dari anakanak teater, manggutmanggut sok ngerti di recital piano atau di pertunjukkan music lain, menikmati lukisan dan menganga di depan gambar spontan anakanak Goldsmiths. Lalu sekarang sedang belajar menggambar dengan teman, dan kemarin tiga hari jadi figuran di film teman. Ikutin aja semua kesempatan yang ada, bener deh. Kalau mesti nonton Play di luar kampus, kudu bayar, kalau uang beasiswamu cukup, go for it and enjoy!!

Secara umum, menurut sayah ketika menginjakan kaki di Heathrow, jadilah kamu kertas putih yang siap menerima kejutan dalam hidup, jadilah spon yang menyerap segala ilmu yang mampir selama di sini, study hard, play hard and enjoy life!

sherlocked one

Tentang Sosial Media dan Sebuah Gerakan Sosial

Standar

Twitter revolution di Mesir 2011, Occupy 2011-2012, Iran 2009, atau di pemilhan presiden Indonesia 2014… bukti bahwa sosial media bisa digunakan untuk melakukan gerakan sosial, perubahan sosial. Itu berguna loh. Betul. Siapa yang menyangkal. Tapi segala sesuatunya ga bisa dilihat satu sisi… mari bicara digital media dalam pigura yang lebih besar yuk.

Apakah suara yang kita lempar di sosial media mewakili suara seluruh warga? Siapa yang punya akses ke sosial media?

Dari 1998 yang cuma 500 ribu pengguna internet di Indonesia, tahun 2011 tercatat oleh MarkPlus ada 55 juta orang. Emarketer memperkirakan 2018, pengguna smartphone di Indonesia bisa mencapai 100 juta orang – asumsi saja pengguna smartphone terkoneksi langsung dengan sosial media, terlepas mereka aktif atau tidak. Tapi pengguna internet di Indonesia masih terkonsentrasi di kota besar, paling banyak masih di pulau Jawa. Lalu apakah itu bisa disebut mewakili Indonesia? Siapakah yang gunakan sosial media? dari sosial media yang cenderungnya digunakan untuk kepentingan narsisme, berapa di antaranya yang kemudian aktif menyuarkan isu politik? Makin kecil lagi…

Selain soal akses internet yang belum merata, beberapa isu seputar sosial media sebagai kuncian perubahan sosial:

  1. Echo chamber: artinya berisik di antara temen sendiri. Akui saja kita lebih senang berteman dengan orang yang sepaham. Contoh sederhana, berapa banyak kawan yang kalian unfriend karena pandangannya jauh berbeda dengan kalian? Terutama saat ‘perang’ pendukung Prabowo vs Jokowi. Ketika kita share berita atau menulis status, yang membaca ya teman yang sepahaman. Ketika mengundang orang untuk kumpul bertemu di lapangan, ya lagi-lagi teman sendiri yang datang. Ini kayak istilah 4L – lu lagi lu lagi.
  2. Johnson and Kaye dikutip oleh Van Alest, P dan Walgrave. 2004: 97, bilang yang aktif berpartisipasi lewat sosial media ya Cuma mereka yang sudah jadi ‘Political Junkies.’ Yang memang sudah aktif berpolitik baik online maupun offline.
  3. Surveillance . Snowden sejak 2013 sudah mewanti-wanti begitu kita terjun di dunia internet, kita sebenarnya menyerahkan ‘privacy’ hal pribadi kita pada metadata. GAFA – Google, Amazon, Facebook, Apple – yang menguasai applikasi memanen data kita kata Van Dijk untuk kepentingan (1) business, ketika jumah user aplikasi dijual kepada pengiklan, (2) negara untuk kepentingan kabarnya keamanan.
  4. Free labour. Istilah yang dikenalkan Tiziana Terranova 2004 ini mengacu pada posisi pengguna sosial media sebagai produsen sekaligus konsumen. Kita menulis lalu menyebarkannya lagi. Contohnya bikin meme AADC deh, bikin lalu posting lalu viral, secara tidak langsung mengiklan film itu, padahal baik Miles ga peduli soal karyamu itu.
  5. News Snacking. Ini kecenderungan kita, Cuma baca headline berita lalu menyebarkannya. Media sekarang itu emang bikin judul semenarik mungkin buat mata yang kadang ga nyambung sama isinya, blas.

Segitu dulu, sila yang mau menambahkan.

Sementara Manuel Castell 2011 bilang, kalau kita mau bikin sebuah perubahan tentu ga cukup dengan metwit, bikin kultwit atau posting banyak-banyak di facebook yang Cuma dibaca oleh teman yang sebenarnya sudah sepaham bahkan lebih pintar darimu, uhuk. Untuk membuat sebuah gerakan, pastikan informasinya dipahami, well-informed. Lah gimana well-informed kalau lima hal di atas terjadi.

Micah White co-founder Occupy pernah nulis di Guardian, betapa sedihnya dia ketika Occupy terjadi cuma rame di media tapi sebenarnya yang terjadi status quo. Ga ada perubahan riil terjadi. maka ketika Panama Papers muncul, dia gelisah, jangan-jangan perubahan Cuma terjadi di Islandia saja. Apakabar di Indonesia? Nama Luhut Panjaitan, Sandiaga Uno yang muncul di sana, masih bebas bergerak dan maju terus di pilkada DKI. Mungkin karena kita memang gampang lupa.

Gerakan sosial ga cukup dengan jempolmu di hape kawan. Perjuangan di lapangan perlu seimbang. Sosial media membuat pergerakan di lapangan terjadi tanpa struktur yang jelas, semua berlangsung tanpa ‘komando’. Saya hadir sukarela dengan kawan ketika panggung besar di Senayan, begitu juga ribuan kawan. Tapi begitu Jokowi jadi presiden, yang katanya relawan saling tinju, saling iri satu sama lain. Aha!  Kalau relawan kepada pada berebut jabatan? Jangan naif, there is no such as free lunch.

Gerakan sosial baru bisa dikatakan berhasil kalau bisa membuat perubahan, sekecil apapun. Nah gerakan sosial kalau kata dosen saya, Natalie Fenton, butuh tiga hal

  1. Momentum – ciptakan atau tunggu kejutan. Kawan IPT 1965 mendapatkan momentumnya ketika Jokowi berkunjung ke London dan Pak Dubes menunjuk Mba Soe Tjen sebagai penanya.
  2. Sorotan Media – sosial media masuk di kolom ini bersama dengan media konvensional macam televisi, koran, dan radio.
  3. Power – perlu tah persis dimana kekuatan itu berada dan berasal. Jangan sampai energy terbuang percuma karena salah sasaran.

Bersiarlah di sosial media bersama dengan lobi di ruang-ruang tempat mereka berkuasa, kampanye di ruang publik yang kamu bertemu muka, bermainlah dengan media yang bisa menempatkanmu di halaman muka, di tajuk utama. Gerakan sosial itu bisa berhasil kalau semua cara digunakan dengan jitu, bukan sekedar urusan jempol di hape.

social_media_landscape

Tak Ada Keriaan di Pemilihan Walikota London

Standar

Saban kali hari pemilihan umum baik Gubernur, DPR, DPRD atau Presiden, saya emang girang mendadak. Sewaktu masih meliput, tentu saja excitement nya dialihkan pada liputan, laporan dari TPS, menunggu hasil pemungutan suara di tempat. Keriaan itu terbawa sampai di sini, di London. Sejak jauh hari, saya sudah mengagendakan 5 Mei tidak akan kemana-mana, mau lihat keriaan pemilu walikota London ah.

Tapi pagi tadi berjuang melawan malas untuk bangun dan bersiap-siap buat ke TPS  aka Polling Station bersama ibu kos, Deidre. TPS buka dari jam 7 pagi sampai 10 malam. Di TPS dekat rumah, mengambil tempat di hall milik gereja, yang biasanya digunakan juga sebagai pusat kegiatan komunitas. Tidak ada libur seperti di Indonesia pastinya. Semua aktivitas berjalan seperti biasa. Sepanjang jalan menuju TPS, saya girang, asik bakal ketemu banyak orang, bakal lihat orang berbisik tentang calon walikota mereka.

Eh ternyata ga dong…. Eng ing eng…. Sepi blass!!

Kami disambut petugas TPS di depan pintu, dia menunjukkan prosesnya. Ada kartu panggilan memilih seperti di Indonesia, tapi sebenarnya ga harus dibawa, karena petugas sudah punya list nama pemilih di wilayah itu. Tapi kalau dibawa itu akan memudahkan petugas aja sih. Lalu diberi tiga kertas ; pink untuk walikota, kuning untuk constituency London assembly, dan oranye untuk London-Assembly member.

IMG_20160505_115348Lalu Deirdre menuju ke bilik suara, menyerahkan kertas suara dan pulang…. Ga ada ceplokan tinta tanda sudah memilih. Gitu aja… dan sepi…

IMG_20160505_115249Pas Deidre memberikan suara di bilik, datang lelaki dan perempuan setengah baya, dan ketiga kami keluar hall, seorang nenek datang sambil membawa keranjang belanjaan. ‘Udah nih? Gitu aja?,’ tanya saya. Deidre sambil senyum bertanya balik,’ya sudah. Emang gimana biasanya di Indonesia?’

Saya cerita, kalau di Pondok Pinang, tempat saya punya suara, ada tenda besar, dengan puluhan bangku plastic, penuh makanan, dan banyak orang reunion, ngobrol ngalor ngidul. Abis itu ga selesai tuh, akan ada rujakan sambil nonton penghitungan suara, tepok tangan, sorak sorai. Pemilu adalah hajatan bersama.

Tapi tidak di sini… sepi. Bahkan orang bisa mengirimkan suaranya lewat pos, padahal jarak rumah ke TPS seselepetan ludah. Mungkin karena ga ada libur juga, jadi mereka akan memberikan suaranya lewat pos. Hasil sementara bakal disiarkan media besok hari. Tentu menarik untuk juga tahu jumlah pemilih yang memberikan suaranya, apakabar pemilih muda? Deidre bilang sudah banyak orang yang apatis juga sama politik…. Salah siapa hayok?

Yang menarik di sini, sosialisasi oleh KPU dilakukan dengan mengirimkan booklet ke setiap rumah, selain bisa ditengok di website mereka. Percayalah, di sini brosur, majalah sampe rekening koran dikirim lewat pos, hard copy… bisnis percetakan bakal jalan terus di sini. Nah soal percetakan, setiap calon harus bayar 10.000 poudsterling kalau nama dan mini-manifesto aka kampanye nya mau dicetak dalam booklet itu.

IMG_20160505_184932Dari 12 calon walikota London, 2 di antaranya tidak membayar biaya percetakan itu, jadi tidak ada nama dan mini manisfesto mereka dalam booklet itu…. Jahat ih… salah satunya Prince, Zylinski, calon independen yang namanya aja baru saya dengar hari ini. Juga Ankit Love, dari One Love Party… iya iya.. saya juga baru denger nama partai ini.

Ada lagi calon dari partai yang paling didemenin kaum hipster neh pastinya… Lee Eli Harris (79) dari Cannabis is Safer than Alcohol. Teman saya langsung girang… yes he is definitely my Mayor!

IMG_20160505_191607Di antara para calon walikota, tentu saja saya berharap George Clooney yang satu ini menang… uhuk… Sadiq Khan dari Partai Buruh, mewakili jutaan anak supir bus yang punya mimpi besar dan aum imigran di London. Tapi kan saya tidak punya hak suara, cuma ikutan berharap aja.

IMG_20160505_191630Lalu bagaimana Walikota ini bisa terpilih? Jika ada kandidat dapat lebih dari 50% suara di putaran pertama, otomatis dialah yang terpilih memimpin kota London untuk empat tahun ke depan. Jika tidak ada yang dapat lebih dari separuh suara, maka dua nama tertinggi akan maju ke putaran kedua. Nanti suara putaran pertama dan kedua digabung untuk menentukan hasil akhir.

Apa aja sih isu yang dibawa di kampanye para kandidat Walikota London ini

  1. Transportasi untuk semua. Mengurangi harga tiket itu jadi barang jualan yang sama dari para kandidat
  2. Membenahi krisis tempat tinggal aka Housing di London. Ini jualan paling laku, karena harga sewa terus naik, jangan pulak mimpi beli property di London. Salah satu masalah yang diakibatkan oleh krisis ini adalah jumlah homeless yang bertambah. Darimana mereka sanggup sewa kamar?
  3. Mengurangi polusi dan perbaikan lingkungan. Ini menyenangkan sekali di telinga saya. Semoga benar dilaksanakan. Zac Goldsmiths dari partai Konservatif punya keuntungan di isu ini, dia sudah membangun citra sebagai environmentalist sejak lama.

Isu lainnya masih soal Islamist Extremist – iyap literary mereka menyebutnya begitu, lainnya dengan bahasa berbeda, mengatasi diskriminasi dan rasisme. Isu perempuan hanya diangkat oleh calon dari Women’s Equality Party dan George Galloway dari Respect Party.

Saya tentu girang menanti hasil akhirnya, finger crossed.  And as the world has change where people fancy to the unusual candidate, setelah Donald Trump secara mengejutkan mewakili Partai Republik di Pemilu Presiden US, barangkali akan ada kejutan lagi di Pemilu Walikota London kali ini…. Cannabis for free?