Monthly Archives: Desember 2018

Terima Kasih 2018 Untuk Semua Cerita Ajaib

Standar
Terima Kasih 2018 Untuk Semua Cerita Ajaib

2018, saya pensiun dini dari pekerjaan rutin setelah divonis tak bisa punya anak. Dunia saya jungkir balik, seperti runtuh seketika, nama Saladin untuk anak laki-laki dan Lily Ruby untuk anak perempuan itu harus dihapus atau disematkan saja suatu saat pada karakter di novel. Tubuh yang semula kuat dibawa ajrut-ajrutan melewati jalan buruk lalu bagus lalu buruk lagi sepanjang Tanjung Redeb, Talisayan ke Teluk Sumbang, kini serasa bulir jeruk di dalam botol minum yang dikocok-kocok tak berdaya.

2018, titik balik dalam hidup. Kalau tidak bisa memelihara anak sendiri, maka seluruh energy, seluruh mimpi dan usaha saya adalah untuk anak-anak di luar sana. Semua yang saya lakukan insya Allah berdampak baik buat orang lain, termasuk akang dan keluarga sendiri. Toh hidup tak pernah benar-benar untuk sendiri. Mungkin Semesta memang mengarahkan saya untuk jadi “pemelihara.” Tolong ingatkan jika saya bergeser, meski sangat sadar tak mungkin bisa menyenangkan semua orang. Akan selalu ada yang tersakiti… maafkan yaaa.

2018, saya menemukan diri sendiri. Dari cerita itu di atas, saya bertemu dengan Nita yang sebenarnya rapuh. Tanpa akang, tanpa mami, juga dua bocil tembem itu, saya macam butiran debu, halah…. Saya punya support system yang super nice, penuh cinta dan sabar menghadapi saya yang berubah-ubah macam bunglon, sebentar super nice, sebentar galak, lebih sering menjadi pendiam karena tidak tahu mau apa.

2018, saya bertemu kawan-kawan lapas yang secara kebetulan mengajari saya banyak hal tentang hidup. Bagaimana menghargai kebebasan, waktu yang terus berlalu jangan dibiarkan berlalu tanpa memberi cinta pada keluarga, bagaimana berhati-hati dalam berkawan, dalam melakukan kerja. Terima kasih sudah mengajari saya untuk lebih banyak mengambil jeda dan refleksi (bukan kaki).

2018, satu novel selesai meski belum bertemu jodoh penerbitnya. Saya harus menerbitkannya segera, hanya di sana kamu bisa menemukan Kampung Teluk Sumbang seindah yang saya ceritakan, surge dunia yang hari ini perlahan menghilang dikikis kerakusan manusia.

2018, proyek besar selesai. Senang bisa ikutan memberi terang dan hingga hari ini masih dipercaya untuk mendapat cerita-cerita dari desa dan kawan-kawan Akuo Energy.

2018, saya dengan pede bilang, saya seorang social entrepreneur wanna be, and will be. Bersama Kait Nusantara dan kawan-kawan di dalamnya, tahun depan kami siap bergerak lebih terarah.

2018, 43 buku dibaca. Jauh lebih baik dari tahun lalu yang blangsak mencapai target dengan membaca komik, padahal ga suka komik hahaha. Tahun ini lebih baik, karena semua buku dibaca dengan kesadaran sendiri memilih dan mencerna.

2018, saya kaya! Dengan penghasilan yang tidak menentu, saya justru merasa kaya. Kamu adalah segala alasan saya merasa cukup, akang :*

 

Terima kasih 2018, terima kasih untuk semua warna warni hidup, terima kasih sudah membuat saya merasa hidup dan berarti.

Metamorfosa manusia dalam keluarga imigran di Amerika – The Golden’s House by Salman Rushdie. Review# 34

Standar
Metamorfosa manusia dalam keluarga imigran di Amerika – The Golden’s House by Salman Rushdie. Review# 34

Sebuah keluarga Bombay hijrah ke Amerika setelah kematian isteri dan lari setelah bisnis kotornya di India mulai digaruk polisi (lalu terbayang kapten vijay *halah). Si bapak bermetamorfosa dengan nama Nero Golden, diambil dari nama raja di zaman romawi, dan mengecat pirang rambutnya. Lalu tiga orang anak laki-lakinya memilih nama mereka masing-masing, Petya, Apu dan D Golden. Keluarga ini memiliki bisnis menggurita terutama di bidang seni, di sanalah muncul Rene, pembuat film yang tertarik untuk menyelidiki dan mengangkat film dari cerita keluarga The Golden ini. Dari Rene kita akan diajak berkenalan dengan tokoh dalam buku ini dan bagaimana keluarga ini meninggalkan ke-bombay-an dan menjadi bagian dari Amerika.

Dalam novel ini Salman Rushdie ingin menyampaikan bagaimana Amerika bermetamorfosa sebagai sebuah negara. Di bawah kepemimpinan Obama, perbedaan, isu rasial, kesenjangan ekonomi, dan gender identity, seolah tak ada. Tetapi Amerika menyimpan sekamnya yang kemudian terbakar di masa kampanye Donald Trump. Mengutip novel “senjata api seperti hidup dan kematian adalah hadiah acak yang diberikan kepada manusia” kutipan itu muncul saat Petya mati dihujam peluru yang dimuntahkan pelaku ke arah sekumpulan orang yang berpesta Halloween. Amerika bukan negara super power, yang melindungi dunia, tapi sebaliknya kata novel ini, Super Villian – penjahat paling jahat yang menghancurkan warganya sendiri dan dunia.

Keluarga Golden memiliki kekurangan atau “sakitnya,” Nero sang ayah yang berlaku macam raja yang flamboyant dan kuat ternyata seorang yang lemah, kacung dunia mafia ala the God Father yang lari dari masa lalunya. Petya si sulung yang alcoholic, penyandang Asperger yang membuatnya sulit bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Saat perempuan yang diinginkannya ditelikung sang adik, saat itulah hubungan darah terputus. Apu, anak tengah yang merasa paling normal karena harus menjaga kakaknya sejak kecil, tetapi “sakit” dalam jiwanya. Dia lah yang memahami alasan utama kenapa keluarganya lari ke Amerika, dan berusaha melupakannya dengan obat-obatan. Apu seorang seniman flamboyan. D Golden, si bungsu yang mengalami krisis identitas. Dia merasa terperangkap dalam tubuh laki-lakinya. Dia merasa seperti perempuan tapi tak ingin mengganti kelamin. Dari D, saya diajak memahami perjuangan menemukan identitas diri, dan perdebatan tentang gender, sexualitas sampai soal pemilihan toilet di Amerika.

Yang menarik dari novel ini adalah karakter perempuan yang diciptakan oleh Rushdie. Para perempuan yang tahu apa yang mereka mau. Mari bertemu Ubah, perempuan Somalia yang diperebutkan oleh Petya dan Apu  dan memilih Apu, seorang seniman yang independen, lewat karyanya dia bicara tentang Amerika. Sucitra, favorit saya, kekasih Rene, yang sangat mandiri, seorang pembuat film. Setiap kali punya pacar dia mengeluarkan tiga syarat utama: make your own money (cari duit sendiri / punya penghasilan), have your own apartemen (punya rumah atau apartemen sendiri) and don’t ask me to marry you (jangan pernah ngajakin gue kawin). Dia tak bisa diganggu saat kerja, sepenting apa pun itu, tapi dia selalu punya waktu untuk bercinta dengan kekasihnya Rene. Lalu Riya, kekasih D Golden, buat Riya urusan gender itu tidak ada hubungannya dengan hasrat dan cinta. Toh Riya tetap mencintai D dengan gegelisahaan dirinya. Lalu tokoh utama perempuan dalam novel ini Vallisa, sang ratu yang memiliki kecantikan Rusia. Dia tak mencari suami, dia mencari Tsar, pemimpin yang mampu dikendalikan dengan kekuatan pesonanya.

 

Mendekati akhir, terutama di bab 31-32, agak membosankan cerita yang ditarik ke belakang, alasan kenapa Nero meninggalkan Bombay atau Mumbay. Lalu di bab 34, sudah bisa ditebak ujung cerita Rene, Sucitra dan anak haram Rene dan Valisa.

Barangkali ini kali pertama, di novelnya yang ketiga belas Rushdie berusaha membawa tema kekinian dalam tulisannya. Saking banyak yang ingin dia sampaikan, menurut salah satu review, jadi sangat dangkal bahasannya. Somehow it is true, menghadirkan lebih dari dua atau tiga konflik dalam sebuah novel itu berlebihan, mending menulis non fiksi. Tapi bagaimana pun, ini Rushdie yang mampu menghadirkan tokoh yang kuat dalam ceritanya, dan sentuhan khas magic, imajinasi hitam tentang sihir tetap dia munculkan. Secara keseluruhan saya sangat menikmati 380 halaman ini, tidak pakai “tapi” J