Monthly Archives: Agustus 2015

Freelance and the very loose commitment (red: payment) – freelance diary bulan keenam

Standar

Finally, I am in the situation where my friend had warned me a few months back before I became a Freelancer. How much you have on your bank account? And I didn’t have any!

Ketika bayaran tak kunjung datang, sementara freelancer harus tetap hidup, itu hal yang beraat. Mantab – makan tabungan,iya kalau ada tabungan yang bisa buat makan. Macam saya ini tabungan pun tak ada. Ya nasib, ya salaam

Biasanya pekerjaan tak henti kunjung datang dan saya akan tenang saja mengerjakan semuanya dan menganggap setiap bayaran yang telat datang sebagai tabungan. Tapi dua bulan terakhir ini, pekerjaan pun tak bisa saya ambil kalau waktunya menyita persiapan berangkat sekolah. Alhasil, every penny yang menjadi hak saya dan masih menggantung di sana sini, menjadi satusatunya harapan melanjutkan hidup sampai masa saya harus berangkat sekolah.

Saat ini saya hidup dari hutang, teman-teman silih berganti membantu saya dengan meminjamkan uangnya untuk modal harian, transport dan makan terutama untuk meeting sana sini. Sementara hak itu tak kunjung pasti kapan datangnya. Kamar kos saya sudah kayak gudang OLX, satu-satu dijual. Mulai dari lemari, tas ransel, televisi, dan sepeda (dua terakhir masih dalam penawaran). Seumur ini masih diongkosin mami itu kan sedih banget. Sementara itu, tagihan rumah, kartu kredit dan tivi kabel, sudah memasuki bulan kedua belum terbayarkan, denda sudah pasti, ditelpon debt collector, AHA…. Sudah!!

Mami bilang pasrahkan saja, kalau memang rezekimu dia akan datang. I am mom. Tapi menuliskan ini artinya memberikan “pelajaran” buat kawankawan yang membaca bahwa menjadi freelancer itu ga mudah, susah malah, terutama buat kamu yang sebelumnya pekerja kantoran dan gaji aman saban bulan meski dirasa tak cukup… ah cukup itu relative kan.

Honestly, I feel so disappointed! Yang diminta bukan belas kasih, yang dinanti ini adalah hak saya setelah melakukan kewajiban, pekerjaan sebagaimana diamanatkan. Saya… saya… rrrrr…. gemes

Terbesit untuk kembali kerja kantoran lagi, ke lingkungan yang bisa menghargai kerja dan idealism saya. Tapi wajah Kang Yadin, Ibu Wiwiek di Sarongge dan Mba Ai yang galak dan selalu meyakinkan saya bahwa nasib segera berubah, bikin saya tenang.

Saya akan berangkat sekolah, 1 tahun dari sekarang saya akan kembali dengan sesuatu yang baru. Saya akan jadi lebih selektif memilih rekan kerja dan untuk siapa saya bekerja dan berbagi ilmu.

Terima kasih untuk semua yang sudah membantu saya melalui masa sulit ini yaaa… kecup manja .. idiiih…