Monthly Archives: Januari 2017

Messages from 39 yo single chick on the Rooster Year

Standar

If the 22 years old girl writing an article about ‘stop single life shaming’, all might react, see if she is changing her mind in 5 years. So, here is my words to all girls, across the age, but especially to those under 30.

It is true, the hardest period of being single is under 30. Your parents, extended family, friends, colleague, strangers on your social media, suddenly feels like they have the right to say…. Go! Get married girl. Find your happiness. Marriage before is too late.

Too of late for what? If you can die anytime, you can marry anytime.

What I mean by the hardest part is, you will always find people who nagging and preaching you about marriage… always! But once you are above 35, and you are standing on your own, being independent, content and firm about who you are as a person, you can say FUCK YOU! to those people.

Look at the example of Ira Kusno. She is a senior journalist with many awards, she is so smart. She is 48 years old single lady. Do you know what people talk about her? WHY SHE IS STILL SINGLE? And everyone start questioning what is wrong with her.

No, the question should be reverse, WHAT IS THE FUCKING WRONG WITH YOU PEOPLE?! Can woman decide whatever she wants in life? What is wrong for being single? Are we bothering you or something?

As you getting older, you are learning that happiness and marriage life is not equal. How many of your friend divorce before their marriage even 10 years? How many of your friend mentally abused by their partner? Take a simple thing, how many of your marriage friends envious of your freedom, to do whatever, to go wherever you like?

Absolutely there are many happy marriage life, but single life is also full of happiness.  Here some thought. We are happily living on our own money instead of bothering our parents to help you with your ‘family’ bill, or your children. Do you treat your parents like a nanny? God surely forgive you, hah!

Everyone feel lonely sometime, even if you have a partner. And yet, you do craving for some of Me Time, to be with yourself. How many often you see a family sitting on the restaurant but not talking? Single ladies, got all the best time of her own, you just have to make the best of them.

I have a busy life, both of work, me time and family and my partner. Life is not always about work of course, but if you have more of free time, you should do more for yourself and for others, in a good way. I spend most of my free time for writing fiction, drawing, and reading. Or sometime I just run to the beach to talk to the universe and myself. Once you get to know yourself, as a self, you won’t feel so lonely that much.

I really dislike girls who feel like the loneliest person in the world but not trying to overcome it. You never too late to learn new things, learn how to dance, sing, playing the instrument, or go back to college. Just be active, be useful for yourself and make a small change for others. Just stop feeling sorry for yourself. You are about to die tomorrow, make the most of your life today!

Again, as you are getting older, your circle of friends is getting smaller. Everyone will be busy with their own life, and that is life, live with it. Those who staying with you are your best friends for life. And I believe they will not nagging you about marriage because they will honour your choice in life. IF your closest friends are still nagging you about it, maybe you should stay away from them! Simple. If they cannot respect your choices in life, they are not respect you as a person! And they will keep doing that for years and years and years… girl, trust me that is exhausting and useless, there are other friendship you can nurture.

A little bit about me. I have 5 years of relationship, on and off, ups and downs, but we are still together. The reason why we are still together is that we respect each other choices in life. I don’t need to be with him, I want to be with him. Two sentence with huge difference. He does not interfere my life, so do I. He respects me as a person. Yes, in a relationship does not marriage, and the society will still count me as single hahaha… whatever!

OK girls, live your life fullest and when you decide to share it with your partner, decided consciously as your own choice! Be happy with yourself!

Happy Rooster Year!

another-me

Iklan

Kopi dan Kita (3)_Bingkai Kelamin

Standar

Pagi tanpa kopi, sama seperti hari tanpa music, sama dengan hambar. Pagi yang sempurna menurut Nada minimal harus memenuhi dua hal, secangkir kopi hitam dan jazz. Secangkir kopi bersama kawan, itu sempurna. Maka sejak bangun pagi, Nada dan Mika akan saling berkirim pesan.

‘Selamat pagi, bagaimana tidur semalam? Tidak ada kejutan kan?’

‘Pagi, I am okay. Thank you for asking. How are you?’

‘I will be okay as soon as I got my coffee. Wanna meet up at Out of The Brew?’

Kedai berukuran 4×5 meter dengan nuansa biru pada furniture bangku dan mejanya.  Meja barista dipadati dengan jejeran kue. Papan tulis dipenuhi menu yang diukir dengan kapur tulis. Taman di belakang kedai ini yang menjadi teman favorit kalau matahari berkunjung di langit London. Ada beberapa sayuran organic dan sekitar rumput liar disediakan bangku dan meja dari palet kayu untuk lesehan. Musim panas tentu saja adalah musim terbaik menikmati matahari dan bunga yang bermekaran di kebun ini.

‘Aku masih saja gagal paham, saban kali memesan double espresso, kecuali Paul, barista yang lain itu selalu mengingatkan kalau ini tuh keras banget. Iya aku tahu, karena itu aku pilih espresso kalau kerjaan lagi numpuk.’

‘Karena perempuan biasanya tidak suka kopi. Kalau pun minum kopi, biasanya dengan campuran susu.’

‘Kata siapa?’

‘Hasil sebuah penelitian di Kanada yang bilang begitu. Hanya sekitar 30 persen peminum kopi di dunia itu perempuan dan pilihan jenis kopinya adalah Latte’

‘Tapi itu kan tidak menegaskan kemudian kalau kopi bercampur susu itu menjadi kopinya perempuan, dan kopi hitam itu lakilaki kan?’

‘Mulai lagi deh. Iya tidak. Ini kan sekedar selera. Kamu masuk daftar 30% peminum kopi dan sepersekian persen lagi yang menyukai kopi hitam. You can’t blame women who dislike coffee right?’

‘I guess not. So what’s the news?

‘Aku ada kencan malam ini?’

‘Tinder?’

‘Iya lah. Supaya tidak ribet, tidak usah pakai hati.’

‘I see. Make sense. Coffee or Beer?’

‘What do you mean?’

‘For your drink tonight, you guys are going out for a drink then sex or directly goes to sex?’

‘Nada, that is not something polite to be ask to someone.’

‘Oh Cmon, you are not just someone. We are buddys! You can tell me everything.’

‘Nope, not going to tell you anything.’

‘Oh well, you are going to tell me anyway. Drink coffee! It’s good for your sex life.’

‘Ssst, jangan teriak. Malu tahu.’

‘That’s funny right. Lelaki dan lelaki biasa aja kalau ngomongin perempuan yang nyerempet ke obrolan seks. Tapi kalau lelaki dan perempuan ngobrolin seks, jatuhnya antara saling malu atau saling mau. Kita? Kamu yang malu… aku sih biasa aja.’

‘Hadeuuh, kamu tuh memang perempuan gila. You are not like other girl.’

‘Of course I am not. That is why I am here, and that is why we are friend! Let me tell you something about coffee and sex’

Tahun 1674 untuk pertama kalinya perempuan disebut-sebut dalam sejarah perjalanan kopi. Di Inggris ada petisi dari kaum perempuan yang menentang kopi untuk dua hal; pertama karena perempuan di Inggris tidak sebebas perempuan di negara lain untuk menikmati kopi, seperti di Perancis, Jerman, Italia dan Austria. Kedua, ini yang menarik, para perempuan ini bilang, kopi tidak bikin lelaki bersemangat untuk urusan tempat tidur. Mereka bilang, kalau kopi tidak dibatasi, populasi manusia bakal terancam.

‘Ya ampun, berlebihan deh.’

‘Memang. Tapi alasan sebenarnya adalah para lelaki mereka ini setelah kerja tidak pernah langsung pulang ke rumah, tapi nongkrong di kedai kopi. Begitu sampai rumah, mereka sudah terlanjur lelah dan langsung lelap. Barangkali efeknya beda dengan bir yang bikin mereka mabuk dan libidonya naiknya.’

‘Hmm… Aku jadi mikir, apakah libido naik atau biasa saja setelah minum kopi ya?’

‘Cobalah malam ini pas kamu kencan nanti. Kalau berdasarkan penelitian di Universitas Texas sih bilang, kopi bisa meningkatkan kehidupan sex lelaki. Kafeinnya men-trigger reaksi kimia yang meningkatkan aliran darah ke penis dengan melemaskan otot-ototnya. Coba ya nanti malam, kasih tahu aku besok pagi.’

Mika menoyor kepala Nada.

‘Kalau buat perempuan Nad? Biar sama-sama lah. Kalau aku tinggi kemudian dia lemah, ya enggak nyambung lah.’

‘Wah kalau efeknya buat perempuan masih perdebatan Mika. Kalau percobaan di tikus perempuan sih menunjukkan hasil yang sama. Tapi kan itu tikus bukan manusia. Kau cobalah sendiri nanti malam. Barangkali kita bisa publish hasil eksperimenmu.’

‘Sinting.’

‘Memang.’

‘Jadi petisi perempuan 1674 itu soal kedai kopi dapat tanggapan ga?’

‘Dapat. Itulah ini juga menarik. Kita kan sudah pernah ngobrol soal mereka yang berusaha membuat nama kopi jelek dan menutup kedai kopi ini berlangsung terus sepanjang sejarah. Begitu perempuan yang mengajukan petisi, tiba-tiba lelaki bersatu, membela kopi!’

‘Maksudnya?’

‘Iya, awalnya jadi seolah-olah perang antar kelamin soal kopi. Tapi seperti juga drama politik lainnya, selalu ada yang pegang tali kendali seperti dalam opera boneka. Ternyatakan petisi itu ditunggangi pengusaha Ale! Karena itu para pecinta kopi kemudian bersatu dan memberikan tanggapan denmi apa kedai kopi harus dipertahankan.’

‘Demi apa?’

‘Demi kebebasan berpendapat. Mereka memublikasi tanggapan resminya dengan mengatakan, bahwa kedai kopi punya karakter tersendiri yang untuk itulah harus dipertahankan. Karakter itu misalnya bilang, kedai kopi adalah universitas termurah, Penny University. Ada kutipan menarik soal ini.

So great a Universitie

I think there ne’er was any;

In which you may a Schoolar be

For spending of a Penny.

Kedai kopi lebih murah dari bar Ale dan Bir. Sampai sekarang sih. Long Black atau Filter Coffee atau Kopi Tubruk hanya 2 poundersteling, dalam rupiah 32 ribuan, sedangkan satu pint of beer, 5 poundsterling atau sekitar 80ribu rupiah. Dengan uang tidak seberapa, dua cangkir kopi dan bisa berbincang selama tiga jam, dengan berbagai kalangan, mulai dari buruh sampai professor. Tidak ada orang yang mabuk karena kopi, artinya tidak akan ada ribut karena alcohol. Kalaupun keributan terjadi, itu karena diskusi yang berakhir dengan pertengkaran.

Kamu tahu Mika, dari kedai kopi juga istilah TIP pertama kali muncul. Jadi mereka yang menjadi pelanggan tetap akan dapat meja yang sama dan pelayanan yang terbaik, sebagai balasannya, ada kotak dengan judul ‘To Insure Promptness’ atau disingkat TIP, untuk menjaga pelayanan tetap baik. Jadilah TIP ini digunakan sampai sekarang.

‘Menarik, menarik. Tapi itu tidak menjawab keberatan perempuan soal efek kopi terhadap kehidupan seks para pasangannya kan?’

‘Memang tidak. Karena jawaban medis soal efek kopi terhadap seks kan baru ada tahun kemarin hahaha. Makanya perlu banget dibuktikan Mika, malam ini, kamu dan perempuan itu.’

‘No! you wont get any story from me.’

‘Why not?’

‘Why should I?’

‘Why you reply my question with question?

‘Just to annoyed you!’

‘So can I get the whole story tomorrow?’

‘No!’

‘Fine, just make sure, she can make you relax and no seizure tonight, OK! Don’t forget to take your medicine!’

coffee_sex

(Freemasons Hall, London

Kopi dan Kita (2) _Secangkir Demokrasi

Standar

Lelaki itu menemukan perempuan itu sedang berbisik pada anak magang di depan ‘Vending Machine’ atau mesin otomatis pembuat kopi. Jarinya seperti main kung fu, pencet sana dan sini dengan kecepatan di luar kebiasaan. Lalu mereka tertawa-tawa.

‘Jangan bilang kamu beritahu rahasia kita soal mesin itu?’ tuduh lelaki itu pada perempuan yang kembali ke mejanya dengan cangkir kertas dari mesin itu.

‘Ini kopi paling busuk yang pernah aku minum, tapi berhubung akhir bulan dan beasiswa kita belum turun. Apa boleh buat? Bukan cuma rasanya yang busuk. Tapi mesin itu bikin aku merasa bersalah, berapa banyak cangkir kertas yang terbuang. Ini kan bukan benar-benar kertas, ada lapisan plastic di dalamnya.’ Perempuan itu tidak menjawab pertanyaan lelaki itu, dia duduk dan bicara tanpa melepaskan pandangan dari cangkir kertasnya.

Dihirupnya dalam-dalam cangkir itu dan disingkirkan dari pandangannya.

‘Kalau kau tak minum, kesalahanmu bertambah. Pertama, kertas kau buang, kedua, kopi yang sudah melalui proses panjang dari menanam, memanen, roasting, giling sampai jadi secangkir kopi. Ketiga kau buang uangmu.’

‘aaaarrrrgggh, okay, aku minum!’ dalam sekali tenggak, kopi itu meluncur di tenggorokannya yang dilapisi kulit sawo matang tipis. Tak tipis tentu saja untuk melihat aliran kopi itu menghilang ke pencernaannya.

‘Eh tapi ya, aku enggak buang uang kok. Kan aku sudah bisa ambil gratisan dari mesin itu?’

‘Jadi bener, kamu ajari anak itu rahasia kita dapat kopi gratisan di mesin itu?’

‘Iya lah. Dude, kita ini budak budak modern bernama Unpaid Internship- magang tanpa bayaran, mahasiswa miskin yang bertahan hidup dengan beasiswa. Kalau cuma secangkir kopi seharga 20 pence aka 3400 rupiah doang, tidak akan bikin si pengusaha bangkrut kali.’

‘Mencuri ya mencuri, tidak ada pembenaran untuk itu.’

‘Ada!’

‘Dasar kiri’

‘Dasar kanan’

Sebelum perempuan itu bercerita, baiknya aku sebagai penulis memberikan nama pada dua tokoh kita dalam cerita kopi ini. Perempuan itu bernama Nada dan lelaki itu bersama Mika, kependekan nama dari Mikail. Dua mahasiswa dari dunia ketiga yang sampai di London dengan beasiswa. Saban kali Nada merasa sebagai the lucky bastard atau orang sialan yang beruntung dapat beasiswa, Mika selalu bilang,’No, we deserve to be here. Seleksinya ketat dan kita lolos, artinya kita memang berhak tinggal di sini.’

‘Kita ini bagian dari orang-orang yang munafik tahu tidak. Bicara tentang kemiskinan, perbudakan, lingkungan, di atas meja kafe jaringan internasional dengan harga kopi yang melebihi pendapatan petani kopinya sendiri.’ Nada mengeluarkan termos kopinya.

‘Tapi kita kan sebenarnya tidak ke sana untuk minum kopi yang bukan kopi. Kalau kamu bilang kopi 20 pence itu busuk, bayangin keselnya aku saban kali kita minum kopi di kafe itu yang harganya 2.30 poundsterling berisi foam. Kita memang tidak membeli kopinya, tapi membeli jaringan internetnya yang lancar, kenyamanan tempat supaya kita bisa bicara sepuasnya. Diskusi ilmiah tak harus terjadi di kampus, tapi bisa di kafe-kafe. Di kedai-kedai kopi itu demokrasi didiskusikan, direncanakan, revolusi dijalankan.’

‘Democracy is overrated.’

‘House of Card.’

‘Yup, padahal kau tidak pernah nonton filmnya.’

‘Hah!’

‘What?!’

‘Sok tahu!’

‘Bukannya hidup ini emang bermodal sok tahu. Kita membaca lalu menerjemahkan sesuka hati untuk kepentingan sendiri. Intepretasi kitab suci, yurisprudensi undang-undang. Kita kan tidak perlu memanggil arwah Karl Marx untuk tahu apakah terjemahan si A itu sudah sesuai dengan apa yang ingin dia sampaikan? Sok tahu aja lah. Dengan titel master, orang akan percaya bahwa isi kepalamu lebih banyak dari mereka yang tidak sekolah… padahal kan belum tentu toh.’

‘Kiri!’

‘Ini bukan soal kiri bro. Ini soal fakta. Orang bisa menjual nilai, dogma, agama, untuk perutnya sendiri. Sekarang aku lanjut cerita kemarin ya.’

Aku lupa mencatat nama lengkap Kaisar Jerman, Frederik something itu. Kemarin kita sepakat kan bahwa langkah Frederik untuk tetap mendapatkan income buat negaranya itu bagus, tapi ternyata kita salah Mika. Setelah hanya memperbolehkan kedai kopi menggunakan mesin penggiling dan pembuat kopi sampai cangkir keramik buat Jerman, harga produksi malah tinggi. Kemudian kopi diperlakukan seperti barang mewah yang hanya sanggup dinikmati oleh kalangan bangsawan. Kedai-kedai kopi jalanan tutup. Lebih dari itu, Kerajaan menyewa bekas tentara perang yang kehilangan anggota tubuh dan tidak bisa kembali ke medan perang, sebagai sniffer, bukan sniper ya, tapi sniffer, pencium bau aroma kopi. Mereka yang ketahuan meroasting kopi di dalam rumah akan dihukum denda.

‘What?! That’s ridiculous!’

‘It was indeed.’

Sayangnya aku tidak menangkap cerita bagaimana kopi akhirnya bisa kembali jadi minuman milik semua kelas di Jerman, sebagaimana di negeri asal di jazirah Arab. Berbeda dengan wine yang mahal dan jadi penanda kelas, kopi selalu jadi minuman tanpa kelas, tanpa kelamin. Kedai-kedai kopi di Turki dan Mesir dilengkapi dengan kegiatan berkesenian, seperti menyanyi, puisi dan berdansa. Sesuatu yang sering bikin Muslim garis keras gatal-gatal. Kopi bergeser fungsinya dari teman aktivitas relijius atau keagamaan menjadi teman berkegiatan secular.

Di Eropa, seperti juga sekarang, di kedai-kedai kopi, perjuangan, demokrasi, revolusi dirancang. Perancis punya termin khusus untuk ini, The House of Liberty, rumah kebebasan untuk kedai kopi. Di sini orang bebas membicarakan apa saja.

‘Betulkan kata ku. Kopi membuat kita semangat membicarakan tentang banyak hal’

‘Iya, tapi kan bukan kedai kopi yang satu itu. Kita datang untuk internetnya.’

Kemarin seorang teman bertanya, kalau aku datang ke kedai kopi bersama teman-teman, apakah fungsi kopi masih bisa disebut sebagai obat? Aku menjawab, tentu saja, kopi itu obat hati.

‘Ha ha ha. Seriously? Obat hati?’

‘Loh, iya. Secangkir kopi bersama seorang sahabat adalah obat anti-stress terbaik dalam hidup.’

Mika menyambutnya dengan senyum. Iyalah, siapa lagi yang dimaksud Nada selain dirinya

‘Ge-er. Temanku bukan cuma kamu.’

‘Yeah I know. Mulai dari resepsionis gedung utama, satpam di perpustakaan sampai teler bank semua kenal kamu.’

‘Tapi kan aku minum kopinya sama kamu.’

Anyway, aku lanjut ceritanya.

Tentang kopi di Jerman, Perancis dan Inggris sudah. Nah ada cerita menarik dari Vienna Austria. Jadi tahun 1700-an, Kesultanan Turki menyerbu Austria, tapi pada suatu kali mereka kalah dan meninggalkan ribuan tenda, ratusan onta dan ratusan karung goni berisi bijih kopi. Tidak ada yang mau mengambil karung itu kecuali satu orang bernama Kolshitzky. Dia salah satu petualang eropa yang pernah mencicipi kopi Turki sebelumnya, dan belajar bagaimana orang Turki menyajikan kopi.

Setelah itu dia mencoba membuat kopi, dan menjualnya dari rumah ke rumah pakai sepeda. Laku. Tapi dia tak cukup modal untuk membuat sebuah kedai. Dengan alasan sebagai pahlawan perang dan penemu minuman kopi pertama di Vienna, dia menuntut hadiah dari Kerajaan Austria. Tuntutan itu dipenuhi, jadilah dia pembuat kedai kopi pertama di Vienna dan dirinya diabadikan dalam bentuk patung.

‘Wow, segitunya ya.’

‘Iya. Padahal dia juga bukan penemu, penerus iya. Wong resepnya juga dia pelajari dari Turki. Sebentar..’

Nada memeriksa notifikasi di telepon genggamnya. Mika juga, ini kesempatan untuk memeriksa pesan yang masuk. Dia menunggu konfirmasi dari dokter spesialis syaraf untuk memeriksa sakitnya.

‘Ini menarik. Kata temanku, di Padang, Sumatera Barat, ada yang namanya Kedai Kawa. Itu daun kopi yang diseduh. Ceritanya di zaman penjajahan Belada, petani kopi tidak pernah merasakan kopi tanamannya karena semua dibawa Belanda untuk dijual di Eropa. Mereka akhirnya menyeduh daun kopi, jadi seperti teh, hanya saja wanginya kopi.’

‘Sedih. Menurutmu hal itu masih terjadi sekarang tidak sih?’

‘Menurutku masih. Gini deh. Kawanku pernah punya kedai kopi di Jakarta. Dia bilang modal percangkir kopi sebut saja 8000 rupiah, ditambahi dengan biaya listrik, air, lalu gula, susu, pelayanan, kemasan jatuhnya 35.000 rupiah sebagai harga jual. Sebenarnya berapa yang diterima petani kopi? Karena perjalanan kopi ini kan panjang. Ada proses menjadi Green Bean, lalu roasting sampai digiling menjadi bubuk.’

‘Kopimu di termos itu darimana?’

‘Ini Kopi Aroma dari Bandung. Aku sudah siapkan satu bungkus buatmu. Coba dulu aja.’

Mika mencobanya dan dia suka. Nada bercerita tentang Kopi Aroma yang membuatnya menunggu satu jam karena antrian di tokonya di Jalan Banceuy Bandung selalu ramai dikunjungi pembeli. Satu bungkus 250gram dia beli dengan harga 7500 rupiah saja. Sementara kalau sudah sampai di supermarket, harga itu melambung menjadi 17000. Kopi Aroma adalah toko kopi tua mungkin salah satu yang tertua di Bandung. Kecil saja tempatnya. Dikelola secara turun temurun. Aroma dan rasanya sulit bandingan buat Nada. Tapi kopi selalu begitu, tidak perlu dibandingkan, karena ini soal selera. Setiap kopi punya ciri khasnya sendiri.

‘Aku usahakan untuk tahu kopi yang kuminum ini darimana asal dan ceritanya. Agak sulit cari tahu kalau kita ada di kedai kopi internasional. Okay disebut, ini kopi Jamaika atau Brasil, tapi negara itu kan luas sekali. Darimana aku tahu mereka membeli kopi dari petani dengan bayaran yang baik atau tidak. Imperialisme sudah berganti dengan kapitalisme, penjajahan ya penjajahan, serupa pencurian tetap pencurian apa pun alasannya kan. Cuma ganti rupa.’

‘Can I have your coffee more tonight?’

‘Kenapa? Apa kamu harus begadang lagi malam ini?’

‘Iya masih ada 5 video yang harus diedit.’

‘Dari lima itu, mana yang sebenarnya tugasmu sendiri?’

‘Dua. Tiga lainnya ngebantuin temen.’

‘Oh Mika, be an EVIL sometimes atau paling tidak, egoislah sama diri sendiri. Tolak sesekali permintaan bantuan dari orang lain. Kamu kan harus mikirin kesehatanmu sendiri, tugasmu sendiri.’

‘Please can I just have your coffee for tonight?’

‘Pasti, aku pasti kasih kopi buatmu. Tapi…’

Nada sudah tahu apa pun yang dia omong tidak akan membuat Mika berhenti menjadi ‘orang baik’ yang tidak bisa bilang TIDAK pada mereka yang minta dibantu. Kalau dia sibuk membantu orang lain, kapan dia punya waktu untuk bantu dirinya sendiri, buat istirahat.

‘Where were you this morning? You were late’

‘I got a seizure last night.’

Nada menatap mata sambil menarik tangan Mika. Tangannya luka, menahan tubuhnya yang kejang dan berusaha membangunkan dirinya sendiri.

‘Stop it. Don’t worry. I am okay…. For now’

goldsmiths-garden

(Goldsmiths’ Garden, London)

Review: Sherlock 4 _ Tegang dan Badut Sialan

Standar

Kenapa mesti ada badut di The Final Problem sih?

Begitu film dimulai dengan Mycroft menonton film, dia lagi sentimentil, tiba-tiba dikerjain oleh Sherlock dengan menghadirkan hantu anak perempuan dan BADUT! Hampir saya loncat. Dari semua jenis hantu yang ada, saya paling takut justru sama badut. Sialan!

Untungnya Sherlock langsung muncul dan syaraf yang tadinya tegang langsung melemas.

Seperti biasa ada 3 episode setiap musimnya yang masing-masing berdurasi 1 jam 30 menit, seperti menonton film layar lebar. Buat yang belum pernah nonton Sherlock…. Hadeuh… udah gitu aja.

Musim keempat ini seperti yang dijanjikan diawal syuting, bakal lebih gelap dan kelam. Di episode pertama, Six Teachers, emosi saya dijungkirbalik. Sedih, mewek di akhir film karena Mary tertembak karena menyelamatkan Sherlock. Minggu berikutnya, saya tidak menggebu seperti di episode satu yang sibuk tanya sana sini bagaimana menonton Sherlock season 4 ini. Emosi saya kehilangan Mary belum reda, masih sedih. Kenapa harus dimatikan. Dibandingkan tokoh Molley dan Irene Adler (ini sih karena cemburu, she is not that pretty!) saya menyukai Mary! She is the badass character and I love her! Saya tidak bisa terima dia ditiadakan.

Baru minggu ini saya akhir memutuskan untuk menuntaskan dua episode Sherlock season 4 ini; The Lying Detective and The Final Problem. This season is too personal for me. Sebagai orang yang baru saja kehilangan sahabat dekat, I really envy Jon who can keep talking to the death Mary. Sebenarnya saya tidak terlalu kehilangan Mary karena dia masih ada sampai di Final Problem, meski cuma sebagai hantu.

Tiga episode ini saling berkaitan, Sherlock ditantang untuk memilih siapa yang akan dipertahankannya untuk hidup, anggota keluarga yaitu Mycroft atau dua sahabatnya, Molly dan John Watson. Di Lying Detective, Sherlock harus mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk melindungi Watson, sekaligus mengembalikan kepercayaan John kembali padanya. Jadinya meskipun tahu Sherlock tidak mungkin lah mati, tetap saja, tegang hahaha…

Di The Final Problem, Moriati kembali wooohhhooo meski hanya sebentar. Lalu ada tokoh baru, anak tengah Holmes, adik perempuan Mycroft. Salah satu jenius dalam keluarga Holmes yang mampu memanipulasi orang, menghipnotis lawan bicara dan sakit jiwa. Satu-satunya yang The East Wind inginkan adalah ‘bermain dengan Sherlock’. I wonder how the parents got three genius in the family?

Episode ini menegangkan, karena sekali lagi Sherlock dipaksa memilih menyelamatkan kakaknya atau sahabatnya Watson. Tapi yang paling menarik tentu saja ketika Sherlock hanya punya 3 menit untuk menyelamatkan Molly dengan kata kunci, I LOVE YOU dari mulut Molly.

Sherlock terpaksa mengatakan I LOVE YOU pada Molly demi menyelamatkannya, ‘Say it Molly, I LOVE YOU and don’t ask why.’ Molly bilang, ‘you say it first, like you mean it.’ Sherlock did say it!! Setelah itu, Sherlock mengamuk, dia tidak akan pernah bisa membiarkan dirinya mengucapkan kata-kata itu, dan kini terpaksa dilakukannya. Dia hancurkan peti mati yang disediakan The East Wind untuk Molly. I think that’s the most dramatic scene in the season.

Tentu saja saya tidak akan membeberkan satu persatu cerita di Season 4 ini, kamu harus nonton sendiri. Banyak yang bilang, season ini tidak terlalu bagus, tapi buat saya tetap saja menarik. Lagi-lagi subjective, Sherlock can do no wrong for me! Meskipun season 3 adalah favorit saja karena banyak tawa. Di season ini saya menangis di setiap episodenya, 1&2 saya menangis untuk Mary, di episode 3, saya menangis untuk Molly, oh damn, cengeng banget.

Di groupies Benedict Cumberbatch di twitter, mulai meng-endorse gaya Benedict yang sudah cocok untuk jadi James Bond berikutnya. Buat saya JANGAN!, tidak perlulah Ben jadi agen lenjeh macam Bond. Let him do Doctor Strange dan tokoh – tokoh sejarah saja seperti Thomas Edison dan Alan Turing.

Oooh iya, satu lagi, The Woman Irene Adler muncul lagi loh, kali ini Sherlock tanpa malu-malu mengakui perasaannya dan membalas pesan Adler…. Rrr… jadi rasanya masih lah terbuka kemungkinan untuk season 5, ketika Sherlock harus meneruskan ucapan I LOVE YOU nya pada Molly atau melanjutkan perasaannya pada The Woman!

sherlock-season-4-ending-pic

Kopi dan Kita (1)_Sejarah Kopi

Standar

‘Kopinya buruan diminum, nanti kalau dingin ga enak.’

‘Kalau panas, bagaimana bisa diminum, nanti terbakar lidahku,’ matanya memandang sinis perempuan di depannya. Selalu dalam jumlah yang sama, tiga sachet brown sugar yang diaduk dalam gelas kopi panasnya.

‘Tapi kopi memang harus begitu minumnya. Sepanas mungkin. Lagian di kedai kopi begini, mana ada kopi yang benar-benar panas. Kopi dingin itu akal-akalan manusia modern. Lagian itu gula jangan kebanyakan kenapa, nanti kamu diabetes.’

‘Astaga cerewetnya perempuan ini.’

Sebelum dia minum, gelas kopi perempuan itu sudah kosong.

‘Bagaimana bisa kamu minum kopi secepat itu? Ini kopi panas, bukan air putih.’

‘Terus kenapa? Aku ceritakan tentang kopi ya.’

Ini bukan pertama kalinya mereka pergi berdua minum kopi, tapi selalu hal yang sama yang mereka debat, tentang kopi yang tidak pernah terlalu panas buat perempuan itu, atau gula yang terlalu banyak bagi lelaki itu. Tentang kopi, perempuan ini punya banyak cerita, tentang sejarah yang nyata atau rekayasa, lelaki itu selalu menjadi pendengar yang baik. Barangkali bukan isi ceritanya yang dia simak, tapi dia senang mendengar perempuan ini bercerita dengan wajahnya yang serius, berapi-api. Dia hanya akan menanggapi dengan senyum dan anggukan.

‘Mau dengar ceritaku ga?’

‘Tumben nanya, biasanya tanpa permisi kamu juga langsung nyerocos.’

Jadi, kata perempuan itu, kopi itu tanaman liar di Abyssina, Ethopia. Suatu kali musafir Arab kelaparan di gurun, mereka mencari buah berry dan melihat kambing juga onta memakan buah ini. Mereka mengambil, mengupas buah, wanginya menyengat lembut. Karena tak bisa dikunyah, mereka tumbuk lalu direbus bersama air. Rasanya pahit, tapi enak, perasaan mereka berubah gembira, semangat terpacu dan tumbuh mereka menjadi hangat setelah minum rebusan buah berry yang kemudian oleh orang Arab disebut sebagai Qawah.

Biji kopi ini dibawa ke Arab dan diolah di sana. Tabib sekelas Ibnu Sina bahkan merekomendasikan minuman kopi untuk menyehatkan tubuh terutama pencernaan dan juga buat kesehatan kulit, menghilangkan bau badan.

Lelaki tiba-tiba menyodorkan ketiaknya ke hadapan perempuan itu yang menjerit kaget.

‘Bau ga?’

‘Bau! Mandi dulu lah sebelum keluar rumah kenapa?’

Anyway, lanjutnya. Lewat Jemaah haji yang rutin datang ke Arab lah kemudian minuman kopi terdengar di seluruh dunia. Di Turki mereka disebut Kahva, lalu lidah Inggris menyebutnya Coffee dan kita menyebutnya Kopi. Lalu terkenalah Coffee Arabica, meskipun asalnya dari Ethiopia. Bangsa Eropa yang kemudian mencoba menanam kopi di negara-negara jajahan mereka, apalagi kalau bukan dengan model kerja paksa. Belanda yang pertama berhasil kembangkan perkebunan kopinya di Jawa tahun 1696. Kebun pertamanya di Kedaung, Jakarta tapi sempat hancur karena banjir bandang. Beberapa tahun kemudian baru mereka bisa betulan sukses menanam tak Cuma di Jawa, tapi juga di Sumatra, Sulawesi, Timor dan Bali.

Inggris menemukan kopi pertamanya di tanah jajahan di India dan menyebarkannya ke Jamaica, Perancis dan Spanyol membawa kopi ke Amerika Selatan, ke wilayah Brasil, Venezuela, Cuba dan Meksiko.

‘Jadi kopi pertama itu justru di Arab?’

‘Iya. Jadi ya kebiasaan minum kopi nyambung dengan kegiatan ibadah. Kan sembahyang malam biasanya dilanjut dengan berzikir sampai subuh. Kopilah yang membuat mereka tetap segar sepanjang malam.’

‘Yang ga ibadah?’

‘Nah itu, bentar aku menuju kesana.’

Tentu saja ini peluang bisnis dong, karena ternyata kopi dikonsumsi semua orang, lelaki dan perempuan. Ingat LELAKI DAN PEREMPUAN. Dalam sejarah yang kubaca, tidak ada tuh cerita bahwa kopi hitam itu lambang keperkasaan lelaki! Di Turki, kalau seorang suami tak sanggup memberikan kopi pada si istri, bisa jadi bahan perceraian tahu gak.

‘Yaaah, kok marahnya ke aku. Kan aku enggak pernah mengasosiasikan kopi dengan jenis kelamin. Buktinya kita berdua di sini, sama – sama minum kopi hitam.’

‘Kesel habisnya. Ada aja orang yang suka bilang minum kopi pake susu itu cemen, perempuan banget, sementara kopi hitam itu miliknya lelaki.’

‘Aku juga kadang-kadang minum kopi susu, kamu lihat aku kurang perkasa apa coba?’

Perempuan itu terbahak-bahak

‘Eh tapi yak, dokter di tahun 1600-an bilang, minum kopi pake susu itu justru berbahaya memang, karena bikin resiko kena kusta. Tapi boleh didebat sih, kan ilmu kesehatan juga terus berkembang.’

Lanjut ya, tadi sampai komersialisasi kopi. Kedai kopi pertama itu adanya di Mekkah. Tempatnya ramai, lelaki dan perempuan jadi satu, mereka ngobrol, nyanyi-nyanyi dan berdansa. Tahu kan yang kayak gini kadang bikin alergi muslim fanatic, apalagi setelah ketahuan mereka meninggalkan ibadah buat nongkrong nongkrong. Akhirnya Gubernur Mekkah mengundang ulama dan tabib untuk diskusi soal ini. Ujung ujungnya mereka menyatakan kopi itu haram dan kedai kopi harus tutup.

Waktu itu Mekkah ada di bawah kesultanan Mesir yang di Kairo, kopi bukan barang haram. Sultan marah dong, ‘Eits berani-beraninya dia melarang kopi yang di kotaku saja tidak ada larangan itu.’

‘Emang begitu gaya dia bicara?’

‘Aaaah kamu ini, ya begitu ceritanya.’

Jadi Gubernur Mekkah menarik kembali larangannya, kedai kopi dibuka, semua gembira.

‘Ooh gitu. Terus bisa sampai ke Eropa gimana ceritanya?’

Jadi selain hubungan diplomati, misalnya Sultan Turki dalam lawatannya ke negara eropa, mereka suka bawa kopi dan menyajikannya langsung pada para tamu, kopi juga dibawa oleh para petualang eropa. Tapi ternyata tidak gampang buat orang Eropa menerima invasi kopi ke wilayah mereka.

Lagi-lagi urusannya sama agam neh. Karena kopi berasal dari Arab, negaranya orang Muslim, mereka melarang kopi masuk, ini buatan setan, kopinya orang jahat kata mereka. Tapi kan kopi sudah kadung terkenal dan tanpa sepengetahuan gereja, orang eropa sudah menjajal ini. Paus Clemency VIII penasaran ingin tahu rasanya kopi dan akhirnya mencoba. ‘Wah ternyata enak minuman buatan Setan ini. Sayang kalau hanya dikuasai Muslim, mari kita baptis agar menjadi minuman resmi umat Kristiani.’

Kali ini lelaki itu yang terbahak-bahak …. ‘Cerita itu benaran?’

‘Lah iya beneran, aku baca bukunya kok, All About Coffee, The Evolution of a Cup of Coffee’

Lelaki itu masih tertawa. Bukan ceritanya yang selalu menghibur buat dia, tapi bagaimana perempuan itu bercerita, benarkan, dia selalu bisa membuatnya tertawa.

‘Aku pesan kopi lagi ya, sebentar.’

‘Open bill aja, nanti aku yang bayar.’

‘Nggak lah, aku bayar sendiri.’

‘Kenapa sih? Aku kan ingin bayarin kopimu, ini cuma 30 ribu rupiah kok.’

‘Ih justru karena cuma 30 ribu rupiah, kalau segini doang sih aku masih sanggup bayar sendiri.’

Lelaki itu tahu perempuan itu tidak pernah mau dibayarinya, kecuali sekali waktu dia memberikan kejutan, secangkir kopi panas untuk perempuan itu saat dia di depan meja kerjanya.

‘Aku lanjutkan ceritanya ya. Eh tapi kalau membosankan, boleh kamu sela, nanti kita bahas yang lain.’

‘No problem, keep talking. I like to hear all the story.’

Selama masih bisa memandangi dan mendengarkannya cerita, lelaki itu bersedia sampai berapa lama pun. Sudah dia batalkan janji dengan dokter gigi, dan rapat dengan klien. Semua menjadi tak penting, karena waktu bisa saja terhenti untuknya kapan pun semesta berkehendak.

Sampai mana tadi? Oh iya, sampai pembaptisan kopi.

Setelah kopi menjadi ‘Kristen’ tak ada lagi masalah di eropa untuk menikmati kopi. Kedai kopi pertama di Eropa adanya di Venesia, Italia Florian Caffe.

‘Loh bukan di Belanda justru?’

‘Eh bukan. Kan masuknya ke Eropa kan sebelum Belanda kembangkan di Jawa. Jadi setelah yang di Jawa sukses, Belanda kemudian jadi pedagang kopi terkenal di daratan Eropa. Mereka memberikan bibit kopi ke seluruh taman botanical di Eropa, semacam pamer gitu deh.’

‘Ah okay. Tapi sebelum kopi kan Eropa cuma minum bir dan anggur.’

Nah itu yang menarik. Jadi Raja Frederik di Jerman, melihat kebiasaan minum kopi ini bakal mengancam perdagangan bir di negara itu. Tahu kan di setiap wilayah di Jerman, mereka kembangkan bir nya sendiri. Wajar kalau Raja khawatir soal nasib perdagangan dan eksistensi bir terancam oleh kopi. Jadi dia bikin kebijakan untuk hanya mengimpor biji kopi, tapi mesin penggiling, pembuat kopi sampai cangkir harus diproduksi sendiri oleh Jerman!

‘Wooohhooo, that’s a great move thou. Am I right?’

‘I guess you are right on that one.’

‘No. I am always right’

‘Yeah, and I am always LEFT’

Mereka berdua tertawa.

‘So then? Carry on?

‘Aku belum selesai membacanya. Nanti lagi ya aku lanjut kalau sudah ada yang bisa aku bagi lagi sama kamu.’

‘Why are you telling all the story?’

‘Karena aku takut lupa. Bercerita ulang adalah caraku mengingat dan kamu bisa mengingatkanku kalau suatu hari aku lupa dengan ceritaku ini.’

‘Bagaimana kalau suatu hari itu tidak pernah datang?’

‘Hah? Maksudmu apaan?’

‘Nothing. Beli kopi dibawa pulang yuk. Aku mau istirahat, badan rasanya rontok gini.’

Perempuan itu tahu, dia tak salah dengar soal suatu hari itu…. Waktu mereka memang tak banyak. Buku itu harus segera selesai dibacanya.

kopi_01

(D’Joglo, Double Six, Seminyak, Bali)

Tuhan itu Egois

Standar

Seseorang menanggapi postinganku di tembokmu, dia bilang Tuhan memanggilmu lebih awal karena Dia sayang padamu. Bahwa Tuhan menginginkanmu menjadi salah satu malaikatnya. Dan aku harus merelakanmu.

Tuhan itu egois, kataku. Dia menciptakan lebih dari tujuh milyar manusia, kenapa dia pilih kamu? Tidakkah cukup malaikat yang menemaninya dimana pun dia berada. Aku tidak tahu surga sungguh nyata atau hanya rekayasa.

Kalau orang itu berkata, Tuhan memanggilmu karena dia sayang padamu dan ingin menyudahi sakitmu. Kenapa dia memberikanmu sakit sejak awal?

Tuhan mestinya tahu malam-malam dimana kamu kejang, ribuan sel otakmu mati saat kejang itu datang. Berapa kali aku harus lihat jemarimu luka karena kamu menahan kejang, berusaha untuk membangunkan dirimu sendiri. Meninju apapun yang ada di dekatmu, tembok, meja, bahkan wajah sendiri. Lebam, oleh tanganmu sendiri.

Tuhan mestinya lihat deritamu yang butuh sekian jam untuk bisa benar-benar pulih dan bisa kembali ke kampus.

“Aku dapat serangan semalam. Tidak bisa bangun, mungkin beberapa jam lagi. Aku kayaknya bakal telat ke kelas.”

Kamu tidak ingin banyak orang lain tahu tentang sakitmu karena mereka akan mengasihanimu. Di depan orang banyak, kamu si belagu, banyak bicara, banyak laga. Tak sedikit yang memilih menghindarimu yang sok macho. Tapi aku melihatmu dari sisi berbeda, kamu renyah seperti kerupuk, kaca tipis yang mudah retak, dan kamu selalu tahu tak banyak waktu tersisa untukmu.

“Obatnya saya naikkan dosisnya. Tapi apa pun yang saya berikan, yang paling utama, hindari stress dan istirahat yang cukup.” Kata dokter

“Dia cuma ingin menenangkan kita. Apa pun yang dia berikan, tidak akan menyembuhkan penyakit sialan ini.”

Ganteng – Ganteng Ayan.

“Jadi dia sakit apa? Kenapa kita tidak ada yang tahu? Apa dia meninggal dengan wajar? Bukan karena over dosis?”

Tidak ada yang lebih mencintai hidup ini selain dirimu. Daftar mimpimu bisa jadi berlembar-lembar. Setiap hari jadwalmu penuh karena sebisa mungkin tak ada waktu terbuang sia-sia. Jam 10 di kelas, jam 2 siang di komunitas A, jam 4  sore syuting film pendek, jam 7 malam- hey dimana? Makan malam?, jam 9-11 malam di Gym, 11.30 malam menyempatkan diri menengokku lagi di perpustakaan. Jam 12 malam mengantarkanku sampai di halte menunggu bis ku datang.

Kalau tak ada kelas itulah waktunya kita kabur ke tengah kota, menikmati London yang mahal dan overwhelming. “Kita harus kembali ke sini suatu hari nanti Nit. Bukan sebagai mahasiswa miskin, tapi sebagai orang kaya supaya  bisa keluar masuk teater nonton play, tinggal di hotel di Trafalgar Square atau seperti Juan, menyewa helicopter buat jalan-jalan di langit London. I love this city so much”

Hari itu kamu duduk hanya berbeda satu meja dariku, tapi aku melihatmu begitu jauh, jauh, seperti tak bisa aku sentuh. Kamu melihatku dengan bingung, sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan. Aku hanya bisa memelukmu dari belakang dan menawarimu kopi dari Costa.

Kamu membaca khawatirku. “I am alright. Are you okay? You have to promise me to stay strong and Ok. Pergi sana, bersenang-senang, keluar dari perpustakaan. Nikmati London untukku.”

Lalu siapa menyangka itulah pertemuan kita terakhir. Tuhan itu egois, dia merenggutmu dari aku. Dia bahkan tak mengizinkanku melihat jenazahmu yang sudah membujur kaku di dalam peti jenazah. Sakitku karena tidak ada di sisimu ketika kamu kejang berusaha menarik kembali napas dan kembali ke dunia, tak ada saat nyawamu pergi untuk selamanya. Marah karena kamu tidak mendengarkanku untuk membiarkan salah satu di antara mereka yang mencintaimu untuk menjagamu. Kamu tidak membiarkan orang lain membantumu.

“Kamu adalah orang yang beruntung sempat mengenalnya dan menemani hari-hari susah dan senangnya sebagai sahabat. Terima kasih sudah menjaganya Nit” kata Dana menghiburku.

Tuhan itu egois memanggilmu sebelum mimpi kita terwujud, aku sebagai penulis dan politisi dan kamu sutradara kaya yang akan membuat cerita tentangku; Roshita, di suatu masa ketika semua harus berima.

Tuhan masih saja egois padaku dan kamu bahkan empat bulan setelah kepergiaanmu. Saban kali matahari bersinar di sore hari, aku mengejarnya di pantai. Duduk di atas pasir, mendengarkan debur ombak dan menatap matahari yang perlahan pergi. Dalam hati aku berharap, kamu di sini di sebelahku menatapi hal yang sama.

Tuhan masih egois, dia menyimpanmu untuknya sendiri dan tak lagi berbagi denganku bahkan untuk sekedar menghadirkanmu dalam mimpi.

(Jonathan Kebe, 1984 – 2016)

pantai-double-6

Jumat Malam

Standar

Jumat malam, jalanan pasti macet karena semua orang merayakan malam pembebasan dari urusan kerja dan sebelum kewajiban menyambangi pacar. Jumat malam, buatku, artinya tidak perlu mandi, bebas tidak perlu pakai beha atau bahkan pakai baju, telanjang! Menikmati ranjang, hanya sendiri. Begitu kau berpasangan, ranjang itu harus dibagi. Begitu kau berbuntut, selamat tinggal tidur panjang.

Jumat malam, nikmati saja sendiri, selagi bisa dan selagi mampu.

“Jorok. Mandilah dulu biar tidurmu enak,”pesan tertulisnya sore tadi.

“Buat apa mandi? Buat kesehatan? Itu kan akal-akalan industri farmasi dan kecantikan. Aku tidak merasa bau, kalau pun iya, besok tak kerja, bau-bauku sendiri.”

“Bukan buat kau sehat, manis. Tapi biar segar.”

“Sudah. Aku sudah cuci muka, cuci kaki dan cuci tangan.”

“Kenapa tidak sekalian mandi saja. Ampun dah.”

“Kalau kau ke sini sekarang juga, baru aku mandi.”

Aku tahu cuma itu yang bisa membuatnya berhenti mengomentari kemalasanku. Dia tidak bisa pergi sesuka hati menemuiku, tidak sejak jarak kami tak lagi 1 jam perjalanan motor, tapi harus melintasi pulau. Makin hari makin tak ada alasan buatku untuk merapikan diri, memoles diri, bahkan untuk sekedar mandi.

“Kalau aku cantik, memangnya kamu tidak cemburu?”

“Ya enggak lah. Aku kan percaya padamu.” Kata dia sambil tersenyum

“Jangan suka take it love for granted loh. Nanti kalau beneran aku pergi sama orang lain gimana?”

“Ya sudah, artinya kita tidak berjodoh. Kalau kamu pergi pun, selama belum janur kuning, aku akan menunggu sampai kamu kembali.”

“Anjrit, cuma nunggu?”

“Iya lah. Itu kan cuma ada dalam dongeng tentang kesatria penyelamat putri.”

“Aku bisa jadi tidak pernah akan kembali loh.”

“Iya artinya tidak berjodoh. Aku harus terima. Ya kan?”

“Why don’t you fight for me?”

“You are an adult woman, manis. Kamu perempuan perkasa, mandiri dan aku yakin kamu bisa melindungi dirimu sendiri. Tidak perlu aku atau siapa pun untuk menyelamatkanmu dari apa pun. Kalau suatu hari kamu pergi karena merasa menemukan yang lebih mencintaimu daripada aku, silakan. Jika ternyata rasamu terhadapnya salah, kembalilah. Aku mencintaimu sangat sampai bersedia menunggumu sampai kapan pun. Sampai aku tahu bahwa kamu bahagia bersama yang lain.”

“Gila”

“Cuma orang gila yang tertarik sama orang gila. That is the attraction law.”

Jumat malam lagi. Kali ini tidak ada pesan tiba untuk mengingatkan aku mandi. Seharian pesanku tak dibalasnya. Kemana dia? Meski jauh jarak, kami tak pernah urung berkabar. Sudahlah, mungkin malam ini benar-benar sendiri bahkan tak ditemani dia dalam bentuk apa pun.

Pintu kamar kos diketuk persis ketika baju sudah kutanggalkan semua. Jumat malam, aku terbiasa telanjang. Terburu-buru aku kenakan kembai semua seadanya, aku sambar handuk dari gantungan.

Dia di depan pintu, menghujaniku dengan cumbu tanpa aku sempat melunakkan rautku yang terkesima kejutannya.

“Hayo Mandi!”

friday-night