Feminisme dari kelompok marjinal dan hal-hal yang luput dari perjuangan. Review Hood Feminism – Mikki Kendall

Standar
Feminisme dari kelompok marjinal dan hal-hal yang luput dari perjuangan. Review Hood Feminism – Mikki Kendall

Mikki Kendall adalah feminist, berkulit hitam dan besar di lingkungan tempat tinggal kulit hitam. Adalah neneknya yang menanamkan prinsip semua anak dan cucu wajib punya pendidikan yang tinggi. Kendall kutu buku, sementara sebagian besar teman sebayanya putus sekolah lalu mengandalkan jalanan untuk bertahan hidup. Kendall tumbuh menjadi feminis  dari lingkungan termajinalkan dalam kehidupan Amerika Serikat.

Dalam buku ini Kendall mengritik gerakan mainstream feminis yang utamanya digawangi oleh kelompok feminis kulit putih. Kata dia sebagian besar gerakan feminism di Amerika gagal karena tidak melihat pada kepentingan kelompok marjinal, tapi gerakan ditujukan untuk mengamankan kenyamanan kelompok menengah dan kulit putih.

Kendall mengajak kita kenalan pada isu-isu yang tak disentuh oleh banyak gerakan mainstream. Saat kita bicara tentang kemiskinan, seringkali kita fokus bahwa kemiskinan adalah persoalan individual. Nope. Kemiskinan adalah sistem. Dalam kelompok marjinal, akses pada pendidikan, peningkatan ekonomi, terbatas. Di buku ini topik bahasan utama bukan langsung menyasar pada pendidikan, tapi tentang kepemilikan senjata. Di Amerika, orang boleh memiliki izin punya senjata, tapi lihatlah kelompok mana yang akhirnya menjadi korban dari kekerasan, brutalan polisi. Kelompok kulit berwarna menjadikan mereka sasaran empuk pada pemegang senjata, dan polisi.

Lalu tentang rasa lapar, ketika feminism bicara tentang hak-hak perempuan, mereka melupakan kenyataan tentang rasa lapar yang harus dipenuhi dengan cara apapun. Kendall pernah menjadi orang tua tunggal setelah bercerai dari suaminya yang abusive, dan dia harus antri kupon makanan untuk bertahan hidup bersama anaknya. Menjadi kepala keluarga tunggal buat perempuan tidak mudah, kalau dia harus bekerja untuk mencari nafkah, dia harus meninggalkan anak-anakya di rumah sendirian atau menitipkan pada pengasuh atau day care yang artinya tambahan biaya yang harus dipenuhi.

Tentang pendidikan, hak pada reproduksi, rumah justru ada di bagian-bagian akhir dibahas oleh Kendall. Dia mengajak pembaca untuk melihat gambaran yang lebih luas, tentang stigma, sistem yang membuat kelompok marjinal tak punya pilihan. Dia ingin mengajak lagi feminis melihat pada akar perjuangan, bahwa feminism adalah perjuangan untuk keadilan dan kesetaraan buat semua, melewati gender, race, status ekonomi dan sosial.

Ketika dia bicara tentang war on drug, memerangi narkoba, dia menyentil bagaimana mainstream media dan kebanyakan orang hanya melihat narkoba sebagai setan. Apakah kamu pernah tahu cerita anak-anak yang harus mencari uang untuk membantu ibu tunggalnya dan adiknya untuk bertahan ditambah nenek yang sakit-sakitan? Pernahkah kita tahu cerita di balik mereka yang terjebak dalam kejahatan?

Berkali-kali Kendall dalam buku ini menyebutkan betapa beruntungnya dia bisa bertahan hingga sekarang. Pendidikan yang ditanamkan neneknya, ibunya menyelamatkannya. Begitu juga dengan guru-guru yang melihat potensi di dirinya, keluarga besar yang menjaganya. Tapi ada banyak sekali anak perempuan yang tidak seberuntung dia.

Feminis yang lahir dan besar dengan pengalaman barangkali tidak sama dengan mereka yang menjadi feminis dengan buku. Kendall adalah feminis yang tak akan ragu untuk maju melawan ketidakadilan yang dia lihat di depan mata. Kita memang harus marah jika melihat dan tahu hal itu terjadi, lalu apa yang bisa kita lakukan untuk memastikan ketidakadilan bisa diubah menjadi keadilan? Kesetaraan dan keadilan buat Kendall adalah tentang akses yang sama untuk pemenuhan kebutuhan dasar.

Membaca buku ini seperti diajak jalan-jalan ke masa kecil saya yang juga besar dalam lingkungan padat penduduk di Jakarta Selatan. Rekan sebaya saya sebagaian besar yang laki-laki berakhir dengan narkoba, yang meninggal karena over dosis, meninggal di penjara karena digebukin, dan yang mati karena sakit menahun akibat obat. Rekan sebaya perempuan ada yang berakhir di jalanan, dari satu laki-laki ke laki-laki lain, yang meninggalkan sekolah karena hamil duluan. Papi dan mami saya sangat ketat menjaga agar saya tak terpengaruh pergaulan di rumah. Setiap pukul 19, papi akan berdiri di depan pintu memastikan saya kembali ke rumah dan jangan harap bisa keluar lagi.

Saya adalah Kendall yang beruntung punya orang tua yang menjaga ketat dan mendidik saya dengan keras. Di sisi lain, saya adalah anak dari isteri kedua, anak ke tujuh dari tiga belas bersaudara se ayah. Ayah saya punya 3 orang isteri. Ketika feminis dan kelompok Islam garis keras berdebat tentang poligami dalam sisi agama dan hak-hak perempuan, nyaris tidak ada yang meyentuh dan bertanya bagaimana anak-anak dari keluarga poligami ini bertumbuh secara fisik dan mental. Buat saya berat sekali percaya bahwa institusi pernikahan adalah perlu dan penting. Saya memang menikah atas kesadaran penuh dan pilihan sendiri tanpa tekanan siapa pun. Itu tidak terjadi sampai di usia 39 tahun, ketika saya yakin jika ada hal buruk terjadi, I can just packed my bag and leave, saya mampu berdiri di atas kaki sendiri. Sampai hari ini saya tetap bilang, pernikahan bukan kuncian buat bahagia, itu cuma satu pilihan dalam hidup dan pilihlah yang bijak untuk dirimu sendiri.

Feminisme saya lahir dari pengalaman, melihat kehidupan mami yang dipoligami, bertahan demi anak-anaknya yang sempat membuat saya murka karena dia bisa saja bahagia dengan berpisah dan kami anak-anaknya tetap akan baik-baik saja. Feminism saya lahir dari hidup di tengah lingkungan yang marjinal, anak-anak yang tak punya akses pada pendidikan karena miskin, ajaran agama dan budaya yang patriarki. Feminisme saya lahir dari pengalaman pernah dilecehkan di bis ketika seorang laki-laki meraba payudara saat saya tertidur, ketika tersadar dia langsung lari dan saya terpaku, diam, bingung dan merasa kotor. Bangsat itu semoga hidupnya tak pernah tenang.  Buku-buku tentang feminism baru saya baca ketika kuliah dan diskusi akademis.

Saya sepakat dengan Kendall, feminism bukan sekedar perbincangan dan hingar-bingar kampanye di sosial media, tapi buat aksi yang memastikan kita bisa menutup kesenjangan dan memastikan kesetaraan dan keadilan itu terjadi, sebuah gerakan yang memahami dan memenuhi kebutuhan di tingkat tapak.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s