Monthly Archives: Maret 2017

Why I Still Write A Blog and Share Thoughts On Social Media?

Standar

To send a message

That’s what Snowden replied my tweet… yes that famous Edward Snowden. If the surveillance issues is matter why am I still on the wire? Because thoughts and knowledge are worth to share. Because I have the privilege to access better and higher education, great books and meet an amazing people with knowledge, while other don’t. However, education is the basic human right, as the freedom of expression does. So it is the mutual relationship between me and my readers and or my network. The more you share something, the more you learn new thing, and for me, especially, writing is my own way to keep my memories alive, to make myself immortal.

I am completely aware that I am no longer myself once I connect to the net. Anyone can track me down; some bad people can misuse my information and those fucking data miners can sold my data to the market. Nevertheless, you are who you are, algorithm insanely smart, but human is always dynamic and smarter (okay, if they only know) and you can always change your own pattern in life.  You find me different if you meet me in person. You can’t read me just by the line of my sentences on my blog or my social media posts. Hitherto, I am proud to be an impulsive and a random person, so to speak.

When my best friend told me to go back to campus as a lecture, I would love to. But, it is not possible to do so right now. Thus, I keep writing thoughts on my blog, share to my ‘echo-chamber’ while hopping they can share more to others. Hitherto, I consider writing is to remember and to keep my memories work. Hopefully, they are benefits for others. ‘ Reading is like breathing in, Writing is like breathing out’….

Happy reading

reading-is-like-breathing-in-writing-is-like-breathing-out-quote-1

Review The Shock Therapy – Naomi Klein_’Pasar Bebas dan Shock Therapy Yang Mengerikan’

Standar

Saya menemukan kembali buku The Shock Doctrine karya Naomi Klein yang sudah hampir setahun tersimpan dalam boks plastic. Pas banget momentnya saat di negara yang semuanya serba lebay ini, ada sebagian orang yang bernostalgia tentang indahnya zaman Orde Baru dan menginginkannya kembali. Ah kamu ini, buta sejarah, malas membaca, atau mungkin harga dirimu terbayar sudah?

Buku ini diawali tentang Milton Friedman, bapake Chicago School (yang selama saya membacanya selalu kepeleset dengan Chicago Bulls-tim basket asal Chicago xixixi) yang ingin sekali ideologi pasar bebasnya bisa hidup. Saya bukan ekonom dan tidak bisa menjelaskan secara detail apa yang dia teorikan dalam Neoliberalism. Yang saya bisa ringkaskan adalah Pasar dibuka secara bebas untuk swasta dan pemerintah tak bisa memasuki atau mengaturnya. Segala sesuatu biar pasar yang menentukan, penguasa berkuasa, bahkan atas negara (bikin saya keselek) bahkan apa-apa yang semula diatur negara harus diserahkan pada swasta dalam istilah privatisasi… ahai… inget ya masa-masa kita ribut tentang air yang diprivatisasi di Jakarta dengan dua operatornya, mata air yang dikuasai oleh perusahaan sementara warga sekelilingnya kekeringan… ah … masa itu belum lewat, kamu hanya perlu membaca koran pagi ini.

Ekonomi adalah science karena itu teorinya harus dipraktekkan, diujicoba. Maka negara pertama yang jadi laboratorium bagi Friedman adalah Chille, yang saat itu dipimpin dictator Augusto Pinochet ditahun 70-an. Ketika negara dalam krisis ekonomi, Friedman menawarkan sejumlah proposal rencana perbaikan, persis seperti dibicarakan di atas, apa-apa yang dimiliki negara harus diprivatisasi, dilelang dan swasta masuk. Siapa yang menghalangi rencana ini akan diculik, disiksa atau langsung dihilangkan.

Bab kedua dalam buku ini bicara tentang Penyiksaan (Torture) dengan sengatan listrik yang dimaksudkan agar si penderita jera, dan mengakui ‘kebenaran’ yang didoktrinkan padanya. Seorang psikiatri (saya lupa namanya – Cameron kalau nda salah) juga berperan mengujicoba teorinya tentang brainwashing, pencucian otak dengan sengatan listrik. Bagian ini terus terang mengerikan buat saya, persis yang digambarkan George Orwell 1984 yang juga dikutip dalam pembukaan bab ‘Kami akan menghabisi ‘kamu’ mengosongkan ‘kamu’ lalu mengisimu dengan yang baru.’

Apa yang terjadi di Chile, merambat ke Bolivia (yang ketika shock doctrine pasar bebas tidak berhasil dan mereka terpuruk secara ekonomi, Friedman dengan gampangnya mengusulkan – Ya sudah, jual Coca saja atau Kokain, pasanya di Amerika, dan yes,itu mendongkrak perekonomian Bolivia, yang pada tahun-tahun berikutnya Amerika datang seperti pahlawan melawan peredaran narkotika – war on drug) lalu ke Argentina, Brasil, Ekuador, Venezuela, yang kawasan ini disebut sebagai Southern Cone. Lalu mereka ke Asia.

Di Indonesia, penentang teori pasar bebas ini adalah Soekarno. Amerika melihat Soekarno sebagai ancaman yang harus disingkirkan… Voila, Soeharto muncul. Didukung CIA, Soeharto menyingkirkan Soekarno dan ketakutan terhadap Komunisme dilancarkan, hingga sekarang. Soeharto dapat pelajaran khusus tentang neoliberalisme, didikte langsung lewat rekaman kaset oleh ekonom ekonom UI dalan jaringan Barkeley Mafia. Satu-satu perusahaan asing muncul, Freeport lah yang paling besar mendapat porsi, hingga sekarang. Lagi-lagi mereka yang menentang pun dihilangkan…

Setelah Asia, lalu Eropa. Inggris mendapatkan angin untuk menerapkan neoliberalisme di masa Margaret Theacher berkuasa. Tapi tak semudah itu langkahnya, butuh musuh bersama untuk mendapatkan dukungan dari rakyat, Perang Falkland adalah jawabannya. Setelah Teacher mendapat kepercayaan dari rakyatnya, paham itu mulai masuk. Bahwa seseorang bertanggungjawab penuh pada dirinya sendiri, bukan negara. Harga-harga property mulai naik, serikat buruh memulai dipangkas perannya. Lalu Polandia, lalu Rusia di masa Yeltsin sampai Putin berkuasa.

Bagaimana teori ini bisa bergerak?

Diawali dengan pendidikan. Iyes. Pendidikan adalah bentuk doktrinisasi yang sebenarnya. Pengikut teori pasar bebas adalah murid-murid Milton Friedman yang berasal dari negara-negara yang disebut di atas. Mereka menjadi penasihat-penasihat ekonomi di negaranya.

Kemudian setelah negara dalam krisis ekonomi, muncullah dua organisasi penyelamat dunia, IMF dan World Bank yang siap mengucurkan pinjaman dengan SYARAT dan KETENTUAN berlaku, yaitu melepaskan kuasa negara pada sector-sektor yang mereka tahu persis menguntungkan seperti pertambangan dan energi, subsidi kesehatan dan pendidikan harus dipangkas karena dianggap membebani anggaran negara…. Sounds familiar sekarang ya? Oh iya, IMF dan World Bank tidak akan membantu negara yang mereka nilai tidak punya sumber daya menguntungkan.

Di Asia, hanya Malaysia yang saat itu dipimpin Mahathir Muhammad yang berani menolak ‘kebaikan’ IMF. Selebihnya terjebak dalam hutang yang diwariskan pada generasi berikutnya.

Apakah investasi IMF dan World Bank berhasil? Tidak selalu. Di negara-negara yang mereka kucurkan dananya itu malah bermasalah, korupsi besar-besaran seperti di Rusia dan Indonesia. Dananya dialirkan pada kroni-kroni mereka sendiri, bukan perusahaan multinasional seperti niatan semula. Sementara di dalam negara-negara dengan menerapkan teori ini, jurang pemisah antara kaya dan miskin ini luar biasa besar, penikmat kekayaan negara adalah mereka yang dekat dengan kekuasaan, rakyatnya tetap melarat, tingkat pengangguran tinggi dan pelanggaran ham tak terbilang.

Chicago Boys – penganut Chicago School butuh laboratorium baru untuk menerapkan langkah baru. Sebuah negara yang bisa di’bersihkan’ dan dibentuk baru. 11 September 2001 seperti sebuah jawaban. Amerika butuh musuh baru untuk kembali mendapatkan dukungan rakyatnya. War on Teror digadang-gadang. Adalah Donald Rusmfeld yang berhasil menjadikan ini sebagai ladang dagangan baru. Bisnis militer tak lagi berpusat pada penambahan jumlah manusia, tapi pada teknologi. Semua diprivatisasi. Kenapa negara harus merekrut sendiri tentaranya kalau ada outsource yang bisa menyediakan dan melatih mereka, perbandingannya ada 1 tentara ‘bayaran’ di antara 4 tentara pemerintah. Teknologi surveillance ditingkatkan. Di bab terakhir sebelum kesimpulan Naomi Klein bilang yang mendapatkan untung besar dalam pasar teknologi surveillance ini adalah Israel. Jargon Israel adalah ‘kita tak butuh perdamaian, tapi kita butuh pengamanan’. ‘Terorism’ jadi musuh utama dunia.

Iraq menjadi laboratorium berikutnya, seperti dibersihkan dari akar budaya mereka, Amerika dan sekutunya datang dengan tudingan membersikan senjata pembunuh massal yang dikemudian hari Tony Blair bekas Perdana Menteri Inggris mengakuinya sebagai kesalahan. Di Iraq, mereka menghancurkan warisan budaya dan museum-museum. Di dalam penjara Abu Gharaib, cendikia Irak diculik, dihinakan. Mereka dipaksa mengencingi al Quran, lalu diberi waktu makan ‘enak’ dengan Mc.Donald, menonton film-film Hollywood dan mengenalkan demokrasi sebagai sebuah ideologi yang jauh lebih baik daripada Islam. Sebagian yang dikeluarkan dari penjara dengan bilang, ‘penangkapanmu adalah kesalahan.’

Yup… saya menyebut WHAT THE FUCK berkali-kali selama membaca buku ini…

Tidak cukup dengan perang, Chicago Boys datang dalam bentuk ‘AID’ atau bantuan kemanusiaan ketika Shock dalam bentuk bencana alam datang, Tsunami 2005. Contoh yang diberikan oleh Naomi adalah Bangladesh. Ketika USAID datang dengan bantuan kemanusiaan, yang dimaksudkan adalah memindahkan para nelayan dari sebuah tempat yang kemudian disulap menjadi resort dan dikuasai kapitalis wisata. Bali adalah benchmark mereka… ya  ya… saya juga terkesima…

Satu bagian yang perlu juga saya bagi adalah tentang Israel. Kenapa Amerika tidak mungkin memberikan tekanan pada Israel sementara dunia menuntut mereka untuk menghentikan genosida pada bangsa Palestina? Penjelasan Naomi Klein mungkin menjadi jawabannya.

Salah Yeltsin yang membom parlemen Rusia tahun 1990an, dan membuat ribuan Yahudi di negara itu kabur ke Israel untuk mencari aman. Di antara pengungsi Yahudi ini adalah mereka orang-orang penting dan pintar semasa perang dingin dan dikemudian hari berguna untuk membangun Israel sebagai negara pengekspor teknologi keamanan terbesar di dunia dan Amerika sangat bergantung padanya. Sementara dengan banyaknya pengungsi ini tentu saja menimbulkan masalah social dan urusan tempat tinggal, mulailah urusan perebutan wilayah Palestina oleh Israel ini muncul. Tidak Cuma tanah yang direbut, tapi mereka juga menuntup akses ekonomi orang-orang Palestina di Israel dan karena mereka sudah merasa ‘dilindungi’ Amerika dan tidak bergantung pada negara-negara Arab lainnya, Israel tak merasa perlu membina hubungan baik dengan semenanjung Arab. Paham yak… boleh didebat… jadi selama Amerika punya pertalian pasar dengan Israel, selama itu pulak, siapa pun yang memimpin negara itu, tak bisa diharapkan untuk menuntaskan masalah Israel – Palestina.

Pada kesimpulannya Naomi bilang, yang bisa menyelamatkan sebuah negara adalah kekuatan dari dalam, kekuatan dan solidaritas rakyatnya sendiri.  Di Thailand, kapitalisme pariwisata tak sukses menyingkirkan korban tsunami karena negaranya bergerak cepat, rakyatnya saling membantu dan tak mengandalkan bantuan asing. (naomi tak mencontohkan Aceh sayangnya). Lalu di Southern Cone, negara-negara Amerika Selatan bersatu, mereka membuka pasar untuk wilayahnya sendiri. Menolak kehadiran IMF dan World Bank di kawasan ini dan mereka tidak lagi mengirimkan anak mudanya belajar ekonomi di Amerika. Mereka berdaulat.

Tidak semua hal jelek kan dari pasar bebas, tentu saja tidak, semua bisa didebatkan. Tanpa control pemerintah sama sekali, Pasar Bebas itu macam hutan belantara, yang besar yang berkuasa, keuntungan hanya milik sebagian orang. Lalu muncullah istilah Democrat Socialism, hanya sayangnya dibahas sedikit oleh Naomi Klein. Negara tetap berkuasa dan berdaulat sementara pasar tetap dibuka untuk investasi asing tapi tidak untung menguasai hal-hal yang berimplikasi pada kemaslahatan orang banyak terutama pendidikan dan kesehatan.

Sebagai penuntup, saya kutipkan Naomi Klein, ‘bahwa penikmat dan pengambil keuntungan sesungguhnya tak pernah benar-benar ada dalam medan perang’

btw, seperti rekomendasi dalam sampul belakang, buku ini memang seru dibaca di mana aja dan kapan saja. Terpengaruh oleh latar belakang Naomi yang jurnalis itu, bahasa yang dia gunakan juga sederhana dan sangat mudah dicerna.

 

the shock doctrine

 

 

Perjalanan Bukan Ukuran Kebahagiaan dan Rumah Tak Harus Bikin Putus Asa

Standar

Teramat pagi saya bangun hari ini, perkara hotel tempat menginap dindingnya terlalu tipis, jadilah saya mendengar semua yang terjadi di luar kamar. Lalu hasil selancar membunuh pagi menemukan sebuah artikel di Vice tentang generasi milineal yang bakal homeless atau tuna wisma dalam beberapa tahun ke depan. Di artikel tersebut disebut minimal generasi millennial harus punya gaji bulanan sekitar 9,5 juta rupiah, untuk kota Jakarta yang UMR 3.35 juta rupiah. Saya tersentuh secara pribadi, mengingat baru pekan ini berhasil menyelamatkan rumah yang saya cicil sudah 7 dari 15 tahun kredit dari proses lelang. Lagi-lagi saya merasa beruntung, semesta masih mempercayakan rumah itu sebagai rezeki saya. Biasanya tunggakan 3 bulan saja, rumah sudah masuk proses lelang. Saya menunggak 12 bulan karena tak sanggup mencicil dengan uang beasiswa selama di London. Ada harga tinggi untuk sebuah cita-cita, tapi semua itu berharga 😉

Saya mulai dengan cerita tentang gaji ideal 9.5 juta rupiah. Begini kakak. Sepanjang saya berkarir sebagai jurnalis dan juga pekerja social, gaji saya tertinggi saat bekerja kantoran antara tahun 2002-2015, paling tinggi adalah 8 juta rupiah. Anak sok idealis kalau kata kawan, makan tuh idealisme, selamanya miskin. Wah sering banget kata-kata itu muncul dari kawan-kawan yang sudah duduk di atas mobil mewah dan rumah bertingkatnya. Mengutip istilah kawan, keringat mereka yang mengkristal itu harganya tinggi. Sedang keringat saya, ya hanya menghasilkan bulir bulir nasi di rice cooker hahaha, edisi lebay.

Passion (biar keren) saya, dan banyak kawan-kawan yang bergerak di dunia yang sama, LSM dan Media Massa kadang dimanfaatkan oleh ‘Kapitalis Hijau’ atau Green Capitalist. Darimana tahunya? Pernah mencoba lihat jurang gaji yang besar dalam satu organisasi yang berlabel sosial? Di lembaga saya bekerja dulu, struktur organisasi di atas saya adalah langsung Direktur Utama. Gaji direktur saya ketika itu, 20 juta rupiah. Gaji saya 8 juta rupiah. Voila!! Di sebuah media di Indonesia, jadi produser atau editor dapat 10 juta, gaji produser eksekutif nya 25 juta rupiah. Seorang konsultan untuk lembaga social bisa bergaji 20 jutaan, tapi relawannya di lapangan bisa jadi cuma dikasih salamanan… kan relawan…

Ini ironi sebuah organisasi yang selalu berlindung pada label yayasan dan media massa juga bertameng pada kata ‘ini media, mana ada wartawan kaya’… cuk! Yang miskin memang jurnalis lapangannya yang kalau kata eci, upilnya jadi hitam karena kebanyakan di ojek kejar berita. Tapi  hanya tiga level di atas mereka bisa turun naik mobil pribadi… menurut ngana? Atau yang selalu bilang, DONOR nya sepi, tapi direkturnya masih bisa bermewahmewah bikin acara di hotel dan minum kopi di café.

Generasi Millenial yang belum mencapai usia 40an ini adalah korban-korban jargon ‘follow your Passion to find your happiness,’ Mereka yang bekerja mengikuti passion-nya, tentu saja dengan ‘senang hati’ dibudaki, karena idealisme nya melintasi realitas kebutuhan perut, pakaian dan tempat bernaung alias rumah.

Setelah sadar ga mungkin bisa beli rumah karena harganya terus tinggi, millienal yang tengil jadi korban jargon berikutnya, ‘home is the world’, ‘travel yourself to find true happiness.’ Pret lah! Ngana pikir biaya perjalanan dibayar pake daun? Lalu pakai kartu kredit dengan tawaran menarik untuk jalan-jalan kemanapun. Menurut saya, piknik ga harus ngabisin duit! Menghargai hal sekecil makanan di atas piringmu saat ini, sudah cukup untuk disebut piknik. Ngobrol dengan orang asing di sebelahmu dalam bus saat ini, adalah piknik. Belajar sesuatu yang baru setiap saat, berteman dengan orang baru setiap hari, adalah piknik. Taik kucing tentang piknik yang setiap kali kamu pulang, sibuk berhitung hutang atau sisa tabungan.

Sepanjang hidup, saya dan keluarga adalah orang kontrakan. Pindah satu rumah ke rumah lain, dari satu kamar ke kamar lain. Suatu saat saya ingin pulang ke rumah sendiri, yang saya bangun dari hasil keringat sendiri, tak perlu senilai kristal szaworski *halah susah ejaannya, cukuplah tempat saya berteduh. Selama bekerja saya sudah merasakan perjalanan sana sini, tiga kali makan di tiga tempat berbeda dalam satu hari, narik turun pesawat sudah seperti saat pilek, ingus turun naik. Setiap perjalanan memberi arti lebih dari sekedar foto di Instagram dan di facebook. tapi suatu hari, perjalanan fisik itu harus berhenti. Saya memulai petualangan dari sebagai anak kecil dari kampong kumuh di sudut Jakarta dengan membaca, bermimpi bagaimana rasanya duduk di atas pesawat, bobok di hotel mewah dan melihat pemandangan bawah laut. Saya ingin mengakhirinya dengan duduk nyaman di rumah sendiri, menulis kembali semua perjalanan ini dan membaginya dengan gadis cilik di mana pun mereka berada, bahwa mereka bisa bermimpi setinggi langit tanpa ragu untuk mewujudkannya.

Kamu, setiap perjalanan akan terhenti, dimana kamu akan berada saat itu? Jangan tinggalkan passionmu, tapi jangan lupakan juga masa depanmu. and being idealist is not necessary to make yourself suffer 🙂

Derawan

Piknik ke Danau Dua Rasa, Labuan Cermin

Standar

Menguping seorang kawan, jumlah wisatawan local ke Labuan Cermin tahun lalu adalah 40.000 orang. Iya masih wisatawan local yang datang karena nama Labuan Cermin belum sebeken Derawan, Maratua, Kakaban dan Sanglaki di telinga turis manca negara.

Jarak Tanjung Redep, ibukota Kabupaten Berau ke Labuan Cermin di Kecamatan Biduk-Biduk saja butuh waktu tempuh sekitar 6-7 jam lewat darat. Tapi kalau kebetulan sedang berlibur di Derawan, Labuan Cermin bisa dijadikan tujuan sambilan, karena cuma 3 jam pakai kapal motor atau speedboat dari Derawan.

Kebetulan saya sedang menuju lokasi proyek pembangunan listrik tenaga matahari Akuo Energy Indonesia dengan funding dari MCA-Indonesia di Teluk Sumbang, yang melewati Labuan Cermin. Saking seringnya mendengar nama ini, tak tahan juga untuk tidak mampir, sekalian melihat bagaimana masyarakat Biduk-Biduk sebenarnya bisa hidup dari eco-wisata, tanpa harus menjual tanah mereka pada perusahaan sawit atau semen.

labuan-cermin_01

Setelah kembali dari Teluk Sumbang (yang juga sangat indah, saya akan tulis berikutnya), kami melipir sebentar ke Danau Dua Rasa, Labuan Cermin. Air di permukaan danau ini rasanya tawar, tapi di bawahnya adalah aliran air asin. Airnya berwarna hijau ke biru-biruan, jernih seperti cermin, selain bisa lihat diri sendiri di permukaan air seperti Narcissus, kita bisa melihat dasar danau.

Sadar bahwa kampong ini menjadi tujuan banyak orang, warga kampong di sekitar Labuan Cermin mematut diri. Bersih tak ada sampah, toilet tersedia di beberapa sudut kampong untuk pengunjung berganti pakaian, dan ramah. Yang berbeda dengan kampong wisata lain yang pernah saya kunjungi, di sini saya tak merasa terganggu dengan pedagang souvenir atau juga pemilik kapal yang akan mengantar ke lokasi danau.

labuan-cermin_05

Begitu masuk lokasi wisata Labuan Cermin, saya hanya perlu menuju loket. 100 ribu rupiah untuk satu kapal dengan maksimal penumpang lima orang, ditambah biaya administrasi 7 ribu rupiah perkepala. Begitu selesai bayar, kami diantar ke dermaga kecil yang di sana sudah siap kapal mengantar kami ke danau. Hanya perlu waktu kurang dari 10 menit kami tiba di lokasi.

Pemandangan 10 menit di perjalanan juga tidak membosankan. Kiri kanan masih terjaga alamnya, rimbun hutannya.

labuan-cermin_00

Begitu sampai mata ini akan langsung jatuh cinta pada diri sendiri saat bercermin di airnya yang jernih. Mandi-mandi… apalagi yang ditunggu. Kalau bisa berenang, langsung saja nyebur. Saya yang tidak bisa berenang tapi jatuh cinta pada airnya Labuan Cermin ini langsung sibuk mencari sewaan pelampung dan ban untuk bisa mengapung. Harganya masing-masing 15ribu rupiah.

Oh iya, boleh mandi sepuasnya, kapal setia menunggu sampai kamu puas dan keriput karena kelamaan berendam.

labuan-cermin_03

Kabarnya sih ada penyu di Labuan Cermin, tapi kami tak bertemu satu pun. Tak apa, kami cukup puas menikmati air jernihnya yang dingin, pepohonan yang rimbun dan elang laut yang sibuk mencari makan di atas kepala kami.

labuan-cermin_04

Menuju Danau Labuan Cermin

Berau dapat ditempuh dengan menggunakan pesawat dari Balikpapan tapi karena perjalanan udara memakan waktu hampir 5 jam termasuk waktu menunggu dan transit, biasanya kami menginap satu malam di Tanjung Redeb, ibukota Berau. Di Tanjung Redeb, sebaiknya menyewa mobil untuk ke Kecamatan Biduk-Biduk. Untuk harga sewa 4WD, sekitar 2 juta rupiah perhari. Karena jarak tempuh yang 6 jam itu, sebaiknya menginap satu malam di penginapan di Kecamatan Biduk-biduk yang rata-rata hanya sekitar 85ribu rupiah sudah termasuk sarapan.

Wisata ke Berau memang mahal di ongkos perjalanan, tapi sekali perjalanan sebenarnya ada banyak yang bisa dilihat di Kecamatan Biduk-Biduk ini. Sebut saja dua lokasi air terjun dan satu goa di Kampung Teluk Sumbang, satu danau tempat penyu berkembang biak di Teluk Sulaiman. Bahkan kalau waktunya cukup, bisa lanjut ke Pulau Kaniungan milik kampong Teluk Sumbang.

Luangkan waktu sekitar empat hari untuk bisa menikmati satu kali perjalanan di Kecamatan Biduk-Biduk ini. Belum termasuk menu perjalanan ke Pulau Derawan, Maratua, Kakaban dan Sanglaki loh. Tapi kalau mau pengalaman yang tidak biasa, perjalanan ke Kecamatan Biduk-Biduk layak kamu coba.

labuan cermin_02.jpg