Monthly Archives: September 2017

Homeless by Choice, Tuna Wisma karena pilihan

Standar

Setiap kali diminta alamat pengiriman barang oleh toko online, saya bingung. Biasanya dikirim ke kantor di Bali, tapi teman kantor mengingatkan tentang libur akhir pekan, libur nasional, libur agama (karena di Bali ada banyak agenda keagamaan), artinya tidak selalu ada orang di kantor. Mau pakai alamat kos di Denpasar, lah di kos nya paling banyak satu minggu saja saya di kamar. Setelah menikah, agak lumayan ada alamat ‘tetap’ biar akang di Cimahi saja yang menampung, atau tetap di rumah mami, di Cinere, yang kadang mami juga lupa memberitahu kalau barang saya sudah sampai. Saya tuna wisma sebenarnya, tak punya alamat jelas, dimana rumah saya sebenarnya?

Akhir Agustus saya meriang, kata mami, pulang ke Cimahi biar suamimu yang mengurus karena di Cinere dengan dua ponakan yang super aktif, rasanya susah buat saya istirahat. Ternyata bapak mertua lebih membutuhkan dia daripada saya. Mau pulang ke Denpasar, bukan pilihan karena agenda saya seminggu lalu itu harusnya di Jakarta. Citra sahabat saya tertawa, pengantin tuna wisma bahkan buat rebahan karena sakit saja tak ada. Senin lalu, saya meriksakan diri ke rumah sakit Puri Cinere, eh Alhamdulillah, dokter memberikan saya tempat buat istirahat. Saya positif DB dan harus dirawat inap. Jadilah empat hari tiga malam saya istirahat, rebahan dengan Temoliv yang pedih masuk ke pembuluh darah. Setelah dari rumah sakit, saya pulang ke rumah mami, berusaha istirahat di antara celotehan bocah, sumuk yang luar biasa dan badan yang masih serratus persen pulih. Mau pulang ke Cimahi, ya malah dimarahin akang, perjalanan Jakarta – Cimahi saja bakal menguras tenaga. Ah baiklah.

Saya dan akang masih misu-misu, pacaran long distance selama lima tahun, setahun kemarin malah jauh sekali London – Cimahi. Begitu menikah, status saya masih bekerja loncat-loncat seperti kutu antara Denpasar, Jakarta, Berau. Rumah saya ya di dalam tas punggung dan koper ukuran medium yang ikut kemanapun saya pergi. Saban kali bertemu kawan selalu ditanya, lu tuh dimana sih sekarang Nit? Kantor di Denpasar, proyek di Berau, suami di Cimahi, mami di Cinere. Untung itu rumah di Sentul masih bobrok belum bisa disebut rumah.

Tapi rumah itu apa sih?

21016151_10212874833761383_2483702356629699132_o

Tulisan ini dibuat karena artikel yang saya baca tadi pagi (https://aeon.co/essays/where-is-home-for-the-child-of-nomads?platform=hootsuite ) Ruth Baher penulisnya itu seorang Antropolog yang hidupnya sejak kecil berpindah-pindah. Menurut dia, bisa bepergian dari satu tempat ke tempat lain adalah sebuah keistimewaan. Apalagi kita pergi bukan sebagai turis, tapi menjalani hidup, mengenal budaya dan masyarakat sekitar, menjadi bagian dari tempat tersebut. Dan buat orang-orang seperti kita ini, apa penting menafsirkan ‘HOME’ atau rumah dalam satu definisi?

Saya menikmati Bali meski tak pernah lama ada di sana, seperti saya menikmati kebersamaan dengan Akang di Cimahi atau berbagi kasur dengan mami dan kakak zi, itu juga kalau si gembil Septi ga ikutan menerobos di antara kami. Saya menikmati hidup di tiga desa di Berau, Teluk Sumbang yang alamnya sempurna, di Merabu yang orang-orangnya sudah seperti keluarga, di Long Beliu yang ramah. Semua adalah rumah buat saya. Sialnya, tetap harus ada alamat yang dituju untuk berkorespondesi dan kirim mengirim barang.

Saya tuna wisma karena pilihan kerja saat ini. Karena buat saya bekerja bukan sekedar untuk mendapatkan gaji, lebih dari itu, belajar tentang hidup, berbagi pengetahuan, bertumbuh Bersama. Ini sama pentingnya dengan berbagi kehidupan bersama Akang dan mami. Kalau pun suatu saat saya settling down, menetap, itu juga harus menjadi pilihan sadar saya. Ya, meski semua menyangsikan bahwa saya bakal menetap di satu tempat untuk waktu yang lama.