Monthly Archives: Juni 2019

Beyond Make Up, Lebih Dari Sekedar Cantik

Standar
Beyond Make Up, Lebih Dari Sekedar Cantik

Suatu hari saya menyampaikan kekesalan kepada mami setelah diputusin pacar, bukan soal diputusinnya tapi karena lelaki itu bilang, “orang Sunda cuma bisa dandan dan boros,” betulkah begitu mam? Sambil tetap menggoreskan pensil alis di alisnya yang tipis, mami saya tersenyum, “terus kenapa kalau suka dandan? Orang berdandan itu untuk menyenangkan diri sendiri kok repot, terus orang mau apa kalau tahu kita punya masalah? Bisa bantu?”

Soal stereotype tentang orang Sunda, biarlah dibahas orang lain, tapi kata-kata mami itu nyangkut sampai hari ini. Saya bukan orang yang suka dandan, karena merasa tak perlu, cukup pelembab muka biar ga kering, ditambah bedak dan lipstick, selesai. Karena tak suka dandan, dan merasa tak perlu, maka saya tak peduli para merk make up semahal apapun. Buat saya, yang penting cocok dan nyaman untuk dipakai.

Saya paham ada perempuan-perempuan yang menjadi korban “beauty made by capitalist” beauty made by commercial” memutihkan kulit sampai mengorbankan diri kena kanker kulit karena ingin cantik sesuai standard iklan di televisi dan majalah kecantikan. Saya tahu mereka yang rela mengeluarkan delapan puluh persen penghasilannya hanya untuk make up karena memang tuntutan pekerjaan mereka. Saya pernah bertengkar dengan salah satunya, “lu tuh mestinya dandan waktu ketemu klien, biar mereka senang,” lalu saya menjawab, “the product is not ME! But my work” itu saja. Saya gagal jualan salah satu produk make up multi-level marketing karena tidak bisa menyakinkan orang dengan tampilan saya yang polos-polos saja. Kalau tentang perawatan badannya saya bisa, kalau make up nya saya nyerah.

Cukup lama saya ingin bertemu dengan perempuan lain yang berdandan karena memang untuk dirinya sendiri, bukan karena tuntutan pekerjaan atau karena ingin memenuhi kriteria cantik buatan agency marketing dan para kapitalis make up, selain ibu saya tentu saja. Sampai saya berjumpa dengan beberapa kawan baru. Terlepas dari lima belas lapis perawatan dan make up yang dia lakukan setiap hari, yang membuat saya menganga, saya paham, make up is part of her self-defense mechanism dari kehidupan di luar dirinya yang dia anggap mengancam, self-trauma healing dari kesedihan yang dialaminya. Make up memang membantunya bersembunyi dari masalah and she does not want to be found! Ya udah, terima saja tanpa menghakimi.

Setelah hampir setahun bertemu dan berkawan dengan perempuan-perempuan di lapas perempuan Bandung, saya semakin paham, make up membantu mereka beradaptasi dengan situasi. “Kalau waktu di luar gue dandan karena pengen terlihat menarik, sekarang di sini gue dandan ya karena gue pengen dandan.” Begitu saja.

Mami mengajari saya untuk memahami make up sebagai topeng menutupi masalah dan itu soal pilihan, termasuk saya yang memilih untuk polos-polos saja. Berhentilah menghakimi penampilan orang lain, berhentilah untuk kepoin perempuan di balik make up nya, terima itu sebagai pilihan hidupnya. Yang boleh dilakukan adalah memberikan pilihan-pilihan tentang kesehatan agar tak termakan jargon produk alami padahal tidak, agar tak mengorbankan kesehatannya sendiri.

Lewat tulisan ini, saya ingin berterima kasih untuk para donator yang memberikan make up sisa dan yang tak terpakai kepada kawankawan warga binaan di lapas perempuan Bandung. Sumbangan make up ini sangat berarti buat teman-teman di sana, lebih dari sekedar untuk tampil cantik saat naik pentas, tapi untuk hari-hari berhadapan dengan sepi.

Ketika Kapitalisme Pemindai Merasa Seperti Tuhan yang Membentuk Perilaku Makhluknya. Saatnya Untuk Bilang “No More!” – Review The Edge of Surveillance Capitalism oleh Shoshana Zuboff

Standar
Ketika Kapitalisme Pemindai Merasa Seperti Tuhan yang Membentuk Perilaku Makhluknya. Saatnya Untuk Bilang “No More!”  – Review The Edge of Surveillance Capitalism oleh Shoshana Zuboff

Selamat datang di era modernisasi ketiga dalam sejarah manusia modern, Shoshana Zuboff menyebutnya sebagai information civilization, atau peradaban informasi. Dalam era ini, kita hanya organisme yang diupayakan agar informasi pribadi tentang kita sebagai organisme dieksploitasi, disedot, dicerna dan dibentuk agar kita menjadi organisme baru sesuai keinginan kapitalis pemindai atau yang dia sebut sebagai The Big Other. Seperti Tuhan memindai makhluknya, The Big Other sangat percaya, dengan teknologi, perilaku manusia bisa dibentuk, sesuai kebutuhan. Individu adalah bahan baku untuk kepentingan dan keuntungan si kapitalis pemindai, siapa mereka? Google dan Facebook. Dua perusahaan internet ini adalah subjek utama penelitian Zuboff yang ditulis dalam buku The Edge of Surveillance Capitalism setebal 525 halaman. Kalau di zaman revolusi industry dan neoliberal yang dieksplotasi adalah nature atau alam, maka di era kapitalisme pemindai, yang dieksploitasi adalah human nature, atau sifat, karakteristik dan perilaku manusianya.

Bagan di bawah menjelaskan proses penambangan surplus perilaku kita sebagai user. Penjelasan singkatnya, user – kita pengguna internet, terutama semua yang terkoneksi dengan Google dan Facebook, secara sadar dan lebih banyak tidak, menyerahkan semua informasi tentang kita kepada mereka. Tentang kemana saja kita pergi, berapa lama, apa yang kita makan, dengan siapa kita pergi, pilihan pakaian kita seperti apa dan seterusnya. Setiap kita membuka internet, ada remah-remah digital yang tertinggal, bahkan itu adalah bahan mentah bagi industry mereka. Lalu perilaku yang terkumpul dalam Big Data kemudian diolah dan dijual kepada klien, seperti retail marketing fashion, perbankan, asuransi, kamu bisa melanjutkan sendiri. Mereka yang memerlukan informasi tentang target mereka, resiko peminjaman kredit dan resiko pemberian asuransi misalnya.

Maka jangan heran, seperti kita berjalan di lorong supermarket, yang bukan tanpa sengaja Rinso misalnya ditaruh di rak paling atas sejajar dengan mata agar mudah terlihat, dan itu ada harga yang harus dibayar. Maka seperti itulah kehidupan kita di internet. Ketika membuka facebook, iklan yang muncul adalah berdasarkan pilihan kita sebelumnya, atau dimana kita memberikan titik lokasi atau check in. Kalau saya check in di Bali, langsung iklan Facebook bermunculan bikini dan tempat rekreasi. Atau catatan digital terakhir saya di traveloka mencari tiket, maka iklan google selanjutnya yang muncul saban saya buka laman berita misalnya adalah harga tiket murah. Saya diarahkan untuk membeli ina inu berdasarkan remah digital saya sebelumnya.

zuboff_02

Setiap kapitalis pemindai memberikan jargon yang sama, hidup lebih mudah, hidup nyaman bersama teknologi, berbagi informasi adalah bentuk kepedulian dan sebagainya. Tetapi yang terjadi kemudian, kita tidak punya ruang privasi atau pribadi. Televisi sekarang menonton kita, jendela rumah memindai kita, radio mendengarkan percakapan kita, lampu mencatat langkah kita. Apakah kita punya tempat untuk bersembunyi di sebuah rumah pintar yang semuanya dikendalikan oleh teknologi? Tidak!

Pembentukan perilaku melalui teknologi, sudah diimpikan oleh Skinner, seorang psikolog behaviorist yang lewat percobaannya terhadap tikus percaya kalau dengan rancangan tertentu kita bisa mengendalikan perilaku seseorang. Big Other, kapitalis pemindai mewujudkan mimpi itu hari ini.

Ketika Brexit dan Donald Trump menang dengan cara membombardir media sosial dengan berita palsu, Google dan Facebook dituntut, karena mereka tidak memindai mana yang palsu dan tidak. Bagi kapitalis pemindai, semua berita dalam News Feed adalah sama, apakah itu hasil produk jurnalistik investigasi, atau berita dari situs abal-abal penghasil hoax. Bagi mereka sama. Termasuk siapa pun klien yang bayar Google dan Facebook untuk pasang iklan. 2017, Google harus membayar denda di Amerika karena terbukti bersalah menyebarluaskan hoax saat masa kampanye Donald Trump dengan banyaknya iklan rasisme dan hate speech terhadap kaum tertentu. Terorisme menyebarluaskan pahamnya termasuk melalui media sosial. Secara teknologi mereka sebenarnya bisa menghalau itu kata Zuboff, tapi untuk kepentingan ekonomi, itu tidak dilakukan.

Ketika Google Street View diprotes di Spanyol, munculkan game Pokemon yang membuat penggunanya berlarian ke sana ke sini mengejar pokemon, sementara perusahaan pembuatnya mencatat lokasi dan area sekitar pokemon berada.

Zuboff sangat kaya teori dalam penjelasan tentang Kapitalis Pemindai ini, mulai dari sisi behaviorist – Skinner, Hannah Arendt seorang filusuf politik yang menulis tentang totalitarian, George Orwell dengan kisah 1984 sampai dari sisi ekonomi, Adam Smith, Hayek, dan Piketty. Kapitalisme tidak hilang, dia hanya berubah bentuk, dan seperti sejarah sebelumnya, kepentingan ekonomi membentuk politik yang ada. Zuboff menegaskan, ketika totalitarian memaksa kesetiaan individu, maka instrumentarianism (kekuatan menggunakan instrument yaitu teknologi) yang dituntut dari individu adalah keterbukaan informasi. Kekuasaan digunakan oleh totalistarian sebagai alat terror, sementara oleh instrumentarianism digunakan sebagai “kepemilikan” untuk kemudian kerelaan dalam modifikasi perilaku.

Di akhir penjelasannya Zuboff menolak kalau disebut kita tak bisa menghindar dari ketergantungan terhadap teknologi yang membuat kita “nyaman.” Kata dia, setiap unicorn punya pemburunya sendiri. Ada banyak gerakan untuk menolak kapitalisme pemindai, ada gerakan atau friksi yang menghalau mereka melalui teknologi lainnya, sambil sebagian lainnya terus melakukan advokasi untuk undang-undang yang melindungi hak pribadi atau privasi pengguna dan sekaligus memaksa para kapitalis ini membuka akses informasi terhadap pemanfaatan data yang ditambang dari penggunanya.

Zuboff menutup bukunya dengan kalimat “Those who would try to conquer human nature will find their intended victims full of voice, ready to name danger and defeat it. This book is intended as a contribution to that collective effort… No More! Let this be our declaration.”