Monthly Archives: April 2021

Menjelajah Waktu, Mengubah Rasa, Bukan Takdir. Review Before the Coffee Gets Cold – Toshikazu Kawaguchi

Standar
Menjelajah Waktu, Mengubah Rasa, Bukan Takdir. Review Before the Coffee Gets Cold – Toshikazu Kawaguchi

Kalau diberikan kesempatan untuk kembali ke masa lalu, apakah kamu akan ambil kesempatan itu? Meski kenyataan hari ini tidak akan berubah, meski harus mempertaruhkan nyawa karena waktu yang diberikan hanya sepanjang kopi masih hangat atau kamu akan terjebak di masa lampau selamanya, menjadi hantu. Menjelajah waktu hanya bisa dilakukan di bangku yang sama, untuk bertemu orang yang pernah berkunjung ke kafe itu.

Meski dengan persyaratan yang begitu rumit, toh Fumiko, Kohtake, Hurai dan Kei tetap menjelajah waktu. Empat cerita, empat orang menjelajah masa lampau dan masa depan menuntaskan rasa ingin tahu, dan rasa sesal yang tertinggal. Ada banyak hal yang ingin disampaikan tapi tak sempat terucap sampai waktu yang diberikan berlalu.

Novel ini mengangkat cerita sederhana tentang manusia dan rasa sesalnya, mengambil tempat di sebuah kafe kecil tanpa pendingin ruangan, tanpa jendela. Ada satu bangku yang ditempati hantu perempuan yang terjebak dalam waktu, tak bisa kembali karena terbawa perasaan ketika menjelajah waktunya di masa lalu.

Setiap bab membuat saya menangis meraung-raung sepertinya saya yang ada dalam cerita itu. Menampar saya betapa banyak hal yang tidak sempat terucap kepada sahabat dan ayah yang sudah lebih dulu pergi. Tak sempat menyampaikan terima kasih telah memberikan cerita dalam hidup saya. Bahkan di bab terakhir, kalau saja tidak membacanya di teras, saya tentu sudah meraung seperti sahur tadi. Akang sampai bingung melihat saya menangis seperti ditinggal mati kekasih hati. Iya tangis yang hanya bisa ditumpahkan orang yang tahu rasanya kehilangan.

Jangan biarkan waktu mengalahkanmu, kalau ada yang ingin kamu sampaikan pada seseorang, sampaikan sekarang sebelum semuanya terlambat. Jika tak bisa mengubah takdir, paling tidak kamu melanjutkan hidup tanpa rasa sesal dan penasaran.

Sukseslah novel 213 halaman dibaca hanya dalam 2 malam.

Generasi Millenial Lelah Hayati. Review Buku Can’t Even karya Anne Helen Petersen

Standar
Generasi Millenial Lelah Hayati. Review Buku Can’t Even karya Anne Helen Petersen

Buku ini memberikan batasan generasi milenial adalah mereka yang lahir 1981 – 1996. Dua generasi sebelumnya adalah X yaitu saya dan Bommers – orang tua saya dan kakek nenek dan seterusnya. Generasi milenial tertua saat ini berusia 40 tahun dan termuda adalah 35 tahun. Masa sedang sibuknya bekerja double shift siang malam, tanpa memerhatikan Kesehatan jiwa dan raga, demi membayar tagihan sekolah anak-anak, rumah, kendaraan, memenuhi tuntutan social agar tak turun kelas, dan mengurus orang tua. Betapa pun kerasnya melakukan usaha, tabungan tak kunjung kelihatan cukup untuk masa depan, demi anak-anak. Lalu pandemic datang tahun lalu mengacaukan semua agenda, sebagian dari kita bahkan kehilangan pekerjaan, semua mulai lagi dari nol. Anne Helen Petersen memulai bukunya dari cerita pribadinya, sebagai jurnalis lepas, akademisi yang belakangan baru menyadari betapa melelahkan hidupnya.

Sialnya tak banyak dari generasi milenial mengakui dirinya mengalami kelelahan luar biasa lahir batin, atau bahasa kerennya burnout. Dan ketika mengakui mereka depresi, stress dan burnout, obatnya selalu disematkan personal. Kamu kurang bersyukur, banyaklah berdoa, kembali pada agama, dan atau obat penenang. Mulai dari guru spiritual, psikolog, yogi dan para coach, motivator semua menumpukkan masalah Lelah hayati ini sebagai isu personal, bukan social. Padahal, akarnya ada di dalam kehidupan social yang sistemik, namanya kapitalisme.

Begini ceritanya. Dalam kapitalisme, yang dituntut adalah pertumbuhan atau growth, dengan seminimal mungkin ongkos produksi di dapat keuntungan sebesar-besarnya. Ada pergeseran paradigma, setelah great depresi tahun 1930-an, ekonomi menempatkan pekerja sebagai asset. Karena hanya dengan jaminan kesehatan yang baik, pensiun, pendidikan untuk anak-anak mereka, para pekerja bisa bekerja lebih produktif tanpa dibayang-bayangi tanggungan tersebut. Lalu Ketika neo-liberal muncul di tahun 80an, sentral kehidupan beralih pada individu. Bahwa individu termasuk pekerja bertanggungjawab atas dirinya sendiri.

Geser lagi ke akhir 90an sampai hari ini, gig economy menjadi perpanjangan dari liberalisme ekonomi. Kalau bisa diselesaikan oleh para pekerja lepas, untuk apa memelihara pekerja tetap? Passion menjadi jargon baru. Kalau kau bekerja sesuai passionmu, dibayar secukupnya okay lah, yang penting hati senang. Iming-iming kebebasan berkreasi, mengatur diri sendiri, mengatur jam kerja yang akhirnya terjebak pada pekerjaan tanpa jeda. Kebebasan itu bayarnya mahal, harus memikirkan asuransi kesehatan sendiri, atau jaminan pensiun. Dengan label freelance, orang melihatmu punya waktu banyak sampai tidak ada waktu pembeda antara urusan kerjaan dan pribadi. Apa itu weekend? Apa itu me time? Semua pekerja didorong untuk bekerja seperti kuda untuk bisa mencapai apa yang disebut sukses dalam bentuk materi. Apalagi saat pandemic ketika pekerjaan dibawa ke dalam rumah, tak ada lagi batasan urusan rumah tangga dan kerja. Semua menyatu.

Dulu standar lulus SMA cukup untuk bekerja di belakang meja, ketika semakin kompetitif, naiklah standar menjadi S1. Sekarang S2 apalagi lulusan luar negeri, barulah sedikit ada di atas angin di dunia yang semakin kompetitif. Apakah kemudian masalah selesai? Belum tentu malih.

Lalu milenial menikah. Buku ini bercerita, seprogresif-progresifnya pasanganmu, ketika urusan rumah tangga, tetap perempuan yang dijadikan andalan. Perempuan kemudian “dipaksa” memilih untuk mengurus rumah tangga atau bekerja. Kalau pun memilih bekerja, tetap dituntut agar keluarga diperhatikan. Alhasil, perempuan bekerja 24 jam, pasangan laki-lakinya?

Kalaupun kemudian pasangan sama-sama bekerja, mereka harus membayar pengasuh dan PRT untuk menjaga anak-anak dan mengurus rumah. Biayanya menjadi bertambah, kalau tidak ada pengasuh, penitipan anak juga tidak murah. Atau sekolah full-day, agar anak-anak tidak sendirian di rumah, biaya lagi dan itu tidak sedikit. Orang tua milenial lelah hayati lagi.  Ketika pertengkaran terjadi sampai pada perceraian, perempuan akan mendapat beban berlipat ganda karena pengasuhan biasanya jatuh pada perempuan sementara biaya tak jadi tanggungan bersama. Ini belum bicara tentang biaya pendidikan dan kesehatan anak-anak. Berapa anak? 1, 2 atau 3? Bahwa anak membawa rezekinya masing-masing? Ntar dulu, anak-anak juga tidak pernah minta dilahirkan dari rahim ibunya, melahirkan dan membesarkan mereka adalah tanggungjawab orang tua, yes.

Burnout lagi.

Bayangkan jika pendidikan anak-anak disokong negara secara adil, tidak perlu orang tua memilih swasta yang biayanya alakazim untuk pendidikan yang lebih baik, karena sekolah negeri pun punya kualitas yang sama. Kalau saja perempuan diperlakukan adil dalam penggajian dan dijamin tidak kehilangan pekerjaan karena cuti melahirkan atau harus absen mengurus keluarga yang sakit, tentu akan beda cerita. Kalau saja freelancer, pekerja gig economy seperti kontraktor IT, supir ojek online, kurir juga mendapatkan jaminan minimal standar minimum gaji, tentu mereka tidak menghabiskan 24 jam untuk memenuhi tuntutan hidup. Kalau saja budaya patriarki tidak dengan senang hati menyokong kapitalisme, dan jam kerja di luar dan di dalam rumah bisa secara adil dibagi oleh pasangan, tentu keseimbangan hidup itu bisa didapat.

Kapitalisme pada akhirnya akan mati, iya lah, ketika pada akhirnya generasi milenial tidak lagi punya waktu untuk memikirkan seks, menikah apalagi punya anak, akan hilang generasi pekerja di masa mendatang. Jepang, dan Korea, sudah mengalami angka penurunan kelahiran bayi yang signifikan, siapa lagi anak menyusul?

Milenial sudah mulai berontak, Fuck Passion Pay ME! Jangan mau lagi diembel-embeli tawaran sesuai passion lalu kamu dipaksa bekerja sampai mampus.

Buku ini sangat perlu dibaca oleh semua generasi. Bommers cenderung menyalahkan milenial dengan menyebut mereka sebagai generasi pemalas dan keras kepala. Hola om tante, milenial adalah hasil cetakan ajaran kalian loh. Apa yang mereka tampilkan sekarang tak lebih dari jawaban atas tuntutan yang disematkan kepada mereka sejak lahir. Belajarlah memahami.

Saya tutup review ini dengan lagu NO dari BTS, liriknya menggambarkan kelelahan luar biasa bagi generasi muda milenial dituntut kehidupan material, seperti boneka kayu yang dikendalikan orang dewasa, lalu siapa yang bertanggujawab?

Adalah Mitos Influencer Bisa Melakukan Perubahan Sosial. Review Change karya Damon Centola

Standar
Adalah Mitos Influencer Bisa Melakukan Perubahan Sosial. Review Change karya Damon Centola

Pasti masih segar diingatan ketika vaksin anticovid pertama kali disuntikan di Indonesia, salah duanya adalah Presiden dan influencer Raffi Ahmad. Harapan mengajak influencer adalah untuk meyakinkan publik bahwa vaksin itu penting dan aman. Lalu publik dibikin kecewa ketika beberapa jam setelah vaksin, Raffi berkerumun dengan tamunya di rumah dan diunggah di sosial media. Long story short, kalau sekarang kemudian vaksin justru diperebutkan oleh warga, apakah itu artinya Raffi berhasil meyakinkan vaksin aman?

Tidak semudah itu prosesnya Fergusso. Perubahan sikap seseorang menurut Damon Centola dalam bukunya Change bukan seperti virus covid yang menular hanya karena kita berdekatan tanpa perlindungan dengan pembawa virus. Penularan perubahan sosial itu rumit prosesnya dan jangka panjang. Kalau yang dituju sekedar informasi, iya betul, menggunakan strategi Shotgun, sekali tembak lewat berbagai saluran informasi adalah tepat. Menggunakan silver bullet strategy dengan influencer juga tepat. Tapi jika yang dituju adalah perubahan sikap, manusia itu makhluk sosial yang dipengaruhi sekitarnya sebelum berubah. Orang berubah disebabkan beberapa faktor, yaitu informasi dan contoh yang berulang-ulang disampaikan atau redundant, relevan dengan kebutuhan atau nilai-nilainya, peer pressure atau tekanan rekan sebaya, melihat contoh dari orang lain yang berhasil berubah, dan ketika ada social reinforcement, perubahan yang dipaksakan dengan otoritas pemeritahan misalnya. Perubahan perilaku juga membutuhkan waktu dalam proses difusinya. Bukan hanya karena dia selegram atau influencer akan mampu dipercaya followernya dan diikuti tindak tanduknya lalu perubaha terjadi dalam semalam. No no no… Fergusso lelah.  Dalam contoh Google Glass yang disebutkan dalam buku ini, penggunaan influencer malah bisa jadi backfire atau senjata makan tuan bagi gagasan itu sendiri. Influencer bisa juga jadi antipati pada gagasan baru dan menyebarkan ketidaksepahamannya ke orang lain, akibat terburuk adalah mematikan gagasan baru tersebut.

Buku ini semacam refleksi buat saya yang dikelilingi dua kelompok penting di ruang publik. Kelompok jurnalis dan media yang percaya, berita yang disiarkan massive dan terbuka adalah perlu untuk melakukan perubahan. Kelompok lainnya tempat saya bergaul adalah aktivis lingkungan dan perempuan yang selama ini seperti berteriak di ruangan sendiri, berkutat di fishing-netnya sendiri perubahan yang ingin dicapai memakan waktu bertahun-tahun tapi sulit sekali menunjukkan progresnya. Apa yang sudah benar dan apa yang salah dalam strateginya?

Buat Centola, saya adalah individu yang ada di outer-rim, di periphery narrow-bridge yang dapat membawa ide gagasan ke jembatan yang lebih besar, saya justru aset yang dapat mempertemukan kepentingan dua kelompok ini, jurnalis/media dan NGO. Ketika kawan-kawan aktivis ingin melakukan perubahan, mereka perlu mengikutkan orang-orang yang bisa menjembati gerakan mereka dengan kelompok berbeda, agar gerakan bisa dibawa keluar dari lingkaran sendiri, mencapai tipping-point dan perubahan pun terjadi. Pun sebaliknya, media sangat mungkin melakukan framming untuk sebuah perubahan dan tanpa framming untuk “tujuan baik” perubahan juga akan sulit tercapai karena berita seperti ratusan peluru yang dilepaskan bebas tanpa tujuan, publik  kewalahan menghadapi informasi berlimpah.

Pada konteks tertentu, perubahan sosial dalam dilakukan dengan strategi snowball yaitu memilih tempat yang tepat untuk inkubasi gagasan baru, jika berhasil ini dapat direplikasi ke tempat lain dan seterusnya hingga mencapai tipping pointnya dan perubahan itu sustain. Contoh yang dia berikan dalam buku ini adalah perubahan pola tani di mozambique, dan pemasangan solar atap di lingkungan perumahan di Jerman. Orang itu sifatnya meniru, melihat contoh yang konsisten dilakukan dan relevan dengannya.

Soal relevansi gagasan baru, ini akan beririsan dengan bias, tidak ada network yang netral. Setiap orang pasti punya nilai-nilai sendiri yang dia percayai, tentu bukan perkara mudah mengubah nilai orang, tapi mungkin ga? Mungkin. Cina menggunakan kekuasaan pemerintah, otoriter, tapi untuk perubahan sosial dalam arti yang lebih kecil, kita harus menemukan orang yang ada di ujung network itu, atau periphery, yang masih punya kontak dengan network di luar lingkarannya. Orang-orang ini yang bisa dilibatkan sebagai bagian dari infrastruktur perubahan.

Yang paling penting, buku ini mengajak kita berkenalan dengan komunitas terdekat, mengenali mereka dan kebutuhannya, dan temukan relevansi gagasan baru yang kita tawarkan dengan nilai-nilai yang sudah duluan ada. Fokus pada tempat khusus untuk inkubasi, bukan pada selebriti.  

Centola bukan tech-solutionist meski bicara tentang riset complex contagion dengan nodes-nodes dalam network society yang rumit dengan rumus matematika dan bikin saya megap-megap. Aselinya dia seorang sosiolog yang percaya, teknologi itu gimana manusia yang mengoperasikannya, membangun komunikasi dan interaksi di antara penggunanya. Buku ini penting dibaca untuk kawan-kawan aktivis agar kita tak melulu ephoria di lingkaran sendiri.

Kembali ke paragraph awal, silakan refleksikan sendiri, kalau hari ini kamu sudah menerima vaksin, apakah itu karena Raffi Ahmad?