Category Archives: opini

tentang apa pun

Review The Shock Therapy – Naomi Klein_’Pasar Bebas dan Shock Therapy Yang Mengerikan’

Standar

Saya menemukan kembali buku The Shock Doctrine karya Naomi Klein yang sudah hampir setahun tersimpan dalam boks plastic. Pas banget momentnya saat di negara yang semuanya serba lebay ini, ada sebagian orang yang bernostalgia tentang indahnya zaman Orde Baru dan menginginkannya kembali. Ah kamu ini, buta sejarah, malas membaca, atau mungkin harga dirimu terbayar sudah?

Buku ini diawali tentang Milton Friedman, bapake Chicago School (yang selama saya membacanya selalu kepeleset dengan Chicago Bulls-tim basket asal Chicago xixixi) yang ingin sekali ideologi pasar bebasnya bisa hidup. Saya bukan ekonom dan tidak bisa menjelaskan secara detail apa yang dia teorikan dalam Neoliberalism. Yang saya bisa ringkaskan adalah Pasar dibuka secara bebas untuk swasta dan pemerintah tak bisa memasuki atau mengaturnya. Segala sesuatu biar pasar yang menentukan, penguasa berkuasa, bahkan atas negara (bikin saya keselek) bahkan apa-apa yang semula diatur negara harus diserahkan pada swasta dalam istilah privatisasi… ahai… inget ya masa-masa kita ribut tentang air yang diprivatisasi di Jakarta dengan dua operatornya, mata air yang dikuasai oleh perusahaan sementara warga sekelilingnya kekeringan… ah … masa itu belum lewat, kamu hanya perlu membaca koran pagi ini.

Ekonomi adalah science karena itu teorinya harus dipraktekkan, diujicoba. Maka negara pertama yang jadi laboratorium bagi Friedman adalah Chille, yang saat itu dipimpin dictator Augusto Pinochet ditahun 70-an. Ketika negara dalam krisis ekonomi, Friedman menawarkan sejumlah proposal rencana perbaikan, persis seperti dibicarakan di atas, apa-apa yang dimiliki negara harus diprivatisasi, dilelang dan swasta masuk. Siapa yang menghalangi rencana ini akan diculik, disiksa atau langsung dihilangkan.

Bab kedua dalam buku ini bicara tentang Penyiksaan (Torture) dengan sengatan listrik yang dimaksudkan agar si penderita jera, dan mengakui ‘kebenaran’ yang didoktrinkan padanya. Seorang psikiatri (saya lupa namanya – Cameron kalau nda salah) juga berperan mengujicoba teorinya tentang brainwashing, pencucian otak dengan sengatan listrik. Bagian ini terus terang mengerikan buat saya, persis yang digambarkan George Orwell 1984 yang juga dikutip dalam pembukaan bab ‘Kami akan menghabisi ‘kamu’ mengosongkan ‘kamu’ lalu mengisimu dengan yang baru.’

Apa yang terjadi di Chile, merambat ke Bolivia (yang ketika shock doctrine pasar bebas tidak berhasil dan mereka terpuruk secara ekonomi, Friedman dengan gampangnya mengusulkan – Ya sudah, jual Coca saja atau Kokain, pasanya di Amerika, dan yes,itu mendongkrak perekonomian Bolivia, yang pada tahun-tahun berikutnya Amerika datang seperti pahlawan melawan peredaran narkotika – war on drug) lalu ke Argentina, Brasil, Ekuador, Venezuela, yang kawasan ini disebut sebagai Southern Cone. Lalu mereka ke Asia.

Di Indonesia, penentang teori pasar bebas ini adalah Soekarno. Amerika melihat Soekarno sebagai ancaman yang harus disingkirkan… Voila, Soeharto muncul. Didukung CIA, Soeharto menyingkirkan Soekarno dan ketakutan terhadap Komunisme dilancarkan, hingga sekarang. Soeharto dapat pelajaran khusus tentang neoliberalisme, didikte langsung lewat rekaman kaset oleh ekonom ekonom UI dalan jaringan Barkeley Mafia. Satu-satu perusahaan asing muncul, Freeport lah yang paling besar mendapat porsi, hingga sekarang. Lagi-lagi mereka yang menentang pun dihilangkan…

Setelah Asia, lalu Eropa. Inggris mendapatkan angin untuk menerapkan neoliberalisme di masa Margaret Theacher berkuasa. Tapi tak semudah itu langkahnya, butuh musuh bersama untuk mendapatkan dukungan dari rakyat, Perang Falkland adalah jawabannya. Setelah Teacher mendapat kepercayaan dari rakyatnya, paham itu mulai masuk. Bahwa seseorang bertanggungjawab penuh pada dirinya sendiri, bukan negara. Harga-harga property mulai naik, serikat buruh memulai dipangkas perannya. Lalu Polandia, lalu Rusia di masa Yeltsin sampai Putin berkuasa.

Bagaimana teori ini bisa bergerak?

Diawali dengan pendidikan. Iyes. Pendidikan adalah bentuk doktrinisasi yang sebenarnya. Pengikut teori pasar bebas adalah murid-murid Milton Friedman yang berasal dari negara-negara yang disebut di atas. Mereka menjadi penasihat-penasihat ekonomi di negaranya.

Kemudian setelah negara dalam krisis ekonomi, muncullah dua organisasi penyelamat dunia, IMF dan World Bank yang siap mengucurkan pinjaman dengan SYARAT dan KETENTUAN berlaku, yaitu melepaskan kuasa negara pada sector-sektor yang mereka tahu persis menguntungkan seperti pertambangan dan energi, subsidi kesehatan dan pendidikan harus dipangkas karena dianggap membebani anggaran negara…. Sounds familiar sekarang ya? Oh iya, IMF dan World Bank tidak akan membantu negara yang mereka nilai tidak punya sumber daya menguntungkan.

Di Asia, hanya Malaysia yang saat itu dipimpin Mahathir Muhammad yang berani menolak ‘kebaikan’ IMF. Selebihnya terjebak dalam hutang yang diwariskan pada generasi berikutnya.

Apakah investasi IMF dan World Bank berhasil? Tidak selalu. Di negara-negara yang mereka kucurkan dananya itu malah bermasalah, korupsi besar-besaran seperti di Rusia dan Indonesia. Dananya dialirkan pada kroni-kroni mereka sendiri, bukan perusahaan multinasional seperti niatan semula. Sementara di dalam negara-negara dengan menerapkan teori ini, jurang pemisah antara kaya dan miskin ini luar biasa besar, penikmat kekayaan negara adalah mereka yang dekat dengan kekuasaan, rakyatnya tetap melarat, tingkat pengangguran tinggi dan pelanggaran ham tak terbilang.

Chicago Boys – penganut Chicago School butuh laboratorium baru untuk menerapkan langkah baru. Sebuah negara yang bisa di’bersihkan’ dan dibentuk baru. 11 September 2001 seperti sebuah jawaban. Amerika butuh musuh baru untuk kembali mendapatkan dukungan rakyatnya. War on Teror digadang-gadang. Adalah Donald Rusmfeld yang berhasil menjadikan ini sebagai ladang dagangan baru. Bisnis militer tak lagi berpusat pada penambahan jumlah manusia, tapi pada teknologi. Semua diprivatisasi. Kenapa negara harus merekrut sendiri tentaranya kalau ada outsource yang bisa menyediakan dan melatih mereka, perbandingannya ada 1 tentara ‘bayaran’ di antara 4 tentara pemerintah. Teknologi surveillance ditingkatkan. Di bab terakhir sebelum kesimpulan Naomi Klein bilang yang mendapatkan untung besar dalam pasar teknologi surveillance ini adalah Israel. Jargon Israel adalah ‘kita tak butuh perdamaian, tapi kita butuh pengamanan’. ‘Terorism’ jadi musuh utama dunia.

Iraq menjadi laboratorium berikutnya, seperti dibersihkan dari akar budaya mereka, Amerika dan sekutunya datang dengan tudingan membersikan senjata pembunuh massal yang dikemudian hari Tony Blair bekas Perdana Menteri Inggris mengakuinya sebagai kesalahan. Di Iraq, mereka menghancurkan warisan budaya dan museum-museum. Di dalam penjara Abu Gharaib, cendikia Irak diculik, dihinakan. Mereka dipaksa mengencingi al Quran, lalu diberi waktu makan ‘enak’ dengan Mc.Donald, menonton film-film Hollywood dan mengenalkan demokrasi sebagai sebuah ideologi yang jauh lebih baik daripada Islam. Sebagian yang dikeluarkan dari penjara dengan bilang, ‘penangkapanmu adalah kesalahan.’

Yup… saya menyebut WHAT THE FUCK berkali-kali selama membaca buku ini…

Tidak cukup dengan perang, Chicago Boys datang dalam bentuk ‘AID’ atau bantuan kemanusiaan ketika Shock dalam bentuk bencana alam datang, Tsunami 2005. Contoh yang diberikan oleh Naomi adalah Bangladesh. Ketika USAID datang dengan bantuan kemanusiaan, yang dimaksudkan adalah memindahkan para nelayan dari sebuah tempat yang kemudian disulap menjadi resort dan dikuasai kapitalis wisata. Bali adalah benchmark mereka… ya  ya… saya juga terkesima…

Satu bagian yang perlu juga saya bagi adalah tentang Israel. Kenapa Amerika tidak mungkin memberikan tekanan pada Israel sementara dunia menuntut mereka untuk menghentikan genosida pada bangsa Palestina? Penjelasan Naomi Klein mungkin menjadi jawabannya.

Salah Yeltsin yang membom parlemen Rusia tahun 1990an, dan membuat ribuan Yahudi di negara itu kabur ke Israel untuk mencari aman. Di antara pengungsi Yahudi ini adalah mereka orang-orang penting dan pintar semasa perang dingin dan dikemudian hari berguna untuk membangun Israel sebagai negara pengekspor teknologi keamanan terbesar di dunia dan Amerika sangat bergantung padanya. Sementara dengan banyaknya pengungsi ini tentu saja menimbulkan masalah social dan urusan tempat tinggal, mulailah urusan perebutan wilayah Palestina oleh Israel ini muncul. Tidak Cuma tanah yang direbut, tapi mereka juga menuntup akses ekonomi orang-orang Palestina di Israel dan karena mereka sudah merasa ‘dilindungi’ Amerika dan tidak bergantung pada negara-negara Arab lainnya, Israel tak merasa perlu membina hubungan baik dengan semenanjung Arab. Paham yak… boleh didebat… jadi selama Amerika punya pertalian pasar dengan Israel, selama itu pulak, siapa pun yang memimpin negara itu, tak bisa diharapkan untuk menuntaskan masalah Israel – Palestina.

Pada kesimpulannya Naomi bilang, yang bisa menyelamatkan sebuah negara adalah kekuatan dari dalam, kekuatan dan solidaritas rakyatnya sendiri.  Di Thailand, kapitalisme pariwisata tak sukses menyingkirkan korban tsunami karena negaranya bergerak cepat, rakyatnya saling membantu dan tak mengandalkan bantuan asing. (naomi tak mencontohkan Aceh sayangnya). Lalu di Southern Cone, negara-negara Amerika Selatan bersatu, mereka membuka pasar untuk wilayahnya sendiri. Menolak kehadiran IMF dan World Bank di kawasan ini dan mereka tidak lagi mengirimkan anak mudanya belajar ekonomi di Amerika. Mereka berdaulat.

Tidak semua hal jelek kan dari pasar bebas, tentu saja tidak, semua bisa didebatkan. Tanpa control pemerintah sama sekali, Pasar Bebas itu macam hutan belantara, yang besar yang berkuasa, keuntungan hanya milik sebagian orang. Lalu muncullah istilah Democrat Socialism, hanya sayangnya dibahas sedikit oleh Naomi Klein. Negara tetap berkuasa dan berdaulat sementara pasar tetap dibuka untuk investasi asing tapi tidak untung menguasai hal-hal yang berimplikasi pada kemaslahatan orang banyak terutama pendidikan dan kesehatan.

Sebagai penuntup, saya kutipkan Naomi Klein, ‘bahwa penikmat dan pengambil keuntungan sesungguhnya tak pernah benar-benar ada dalam medan perang’

btw, seperti rekomendasi dalam sampul belakang, buku ini memang seru dibaca di mana aja dan kapan saja. Terpengaruh oleh latar belakang Naomi yang jurnalis itu, bahasa yang dia gunakan juga sederhana dan sangat mudah dicerna.

 

the shock doctrine

 

 

Iklan

Why people still vote for Trump? (part of my essay)

Standar

I can’t focus on my work since Trump and Clinton is on the highlight. This is US, whatever happen there, will somehow affect our world… I wrote an essay for my Promotional Culture module last April 2016 to analyze how Trump mediated his campaign and here it is:

 

It is true that Trump does not need much of an infrastructure for professional marketing in his campaign. Trump being a controversial figure is one of the advantages for news coverage. Nevertheless, the Trump phenomenon has brought fear to Noam Chomsky, along with the breakdown of society during the neoliberal period. Chomsky notes that ‘people feel isolated, helpless, victim of powerful forces that they do not understand and cannot influence…. There was a sense of hope that is lacking now, in large part because of the growth of a militant labor movement and also the existence of political organizations outside the mainstream’ (Chomsky, N. 2016).

While the positivist scholar claimed the role political marketing or mediatization is to reshape the democracy, Chomsky believes the opposite to be true. Democracy simply persuades people to trust a certain party/individual to vote for them in an election, simply to be controlled by them. The power drifted to the business community, the specialized class, to analyze, execute, make decisions, and run things in political, economic, and ideological system. Then they are massification the policies, the propaganda with help from public relation. The art of democracy for Chomsky is the manufacture of consent where public relations work hard to instill the values (meaning political party and politician’s values) and it will works with help of media. In Chomsky words, “the people who are able to engineer consent are the ones who have the resources and the power to do it – the business community and that’s who you work for’ (Chomsky, N. 2002: 29).

However, if we put the citizen as the customer in case of Trump, we might want also to ask why people are still voting for him, given that he presents himself as racist and controversial. The citizen, as the audiences of the media that covered so much of Trump, is not a passive audience as they can decode the message that the media encoded. As Stuart Hall argues that we do not passively receive the meaning – we have to create it ourselves… processing the signs, sounds and images as meaningful text before the audience embrace or reject the message (Davis, H. 2004: 62) and how the audience processes the messages depends on their habitus, in Bourdieu’s terms, a process of active self-creation that influence by their social and cultural background, which is also reluctant to be played by the political actor as social upbringing can be restructured. Once the social is restructured, the individual might feel anxiety and bring to affection, although a critic of Bourdieu works may mention that Bourdieu blurs distinctions between cognition and affect (knowledge and feeling) (Wetherell, M. 2012: 106-107). Natalie Fenton, in a speech (18 March 2016) mentioned that politics is always involve passion, desire, antagonism, contestation and conflict and being political often operates under severe constraints that are multiple – time, money and cultural capital are unequally distributed. Trump’s slogan, “Make America Great Again,” seems like nostalgia, restructuring the notion that America needs “help” to bring back the glorious days of America in the days of old, touching the citizen and often playing with the politics of fear, frequently using the terms “terrorism” and “immigrant”.

Trump’s massification messages on the media, using Gramsci’s term of ‘common-sense,’ is seen when Trump’s idea become internalize by people and come to understand it as shared concerns (Davis, H. 2004: 65). People decode Trump’s words as it was intended, by voting for him, despite all his controversial statements, somehow accepting his so-called ‘facts’ as ‘truth’. People are being political by giving vote for him because they feel passionate, moved by Trump’s presentation.

…….

trump-vs-clinton

 

Welcome New Student – Things That They Might Missed to Tell You is How Stress Can Actually Kill You!

Standar

Being a new student in a foreign country is not easy. You need to adapt the whole new things and yet won’t have much time to do it, since everything comes in one package, one time. You will have to face new weather, new culture, rules, friends from various background, and most of all, your study. Your study requires your focus in 20 weeks of class, thousands of words of essays, projects, exams and or dissertations.

I am not saying this to frighten you. It is the fact that you need to face over the year and people handle their stress in their own way. No one have a right to say that you are weaker than other; you are too spoiled or less independent. People need different time to adapt everything and a year is too short to really adapt everything. However, embracing each moment as much as you can help.

Students that committed suicide are not surprising news. Each campus has their own psychologist to help you to face your stress, use them! Make friends, and talk to them. They might not help you physically, but by talking and sharing your worries might also help. Find a friend who ready to listen and not just them who talk J not easy.. tell ya.. hahaha and if you need more time to finish your task in study, ask one!!

Don’t play strong, please. Cry if you want, angry if you wish, shout if you please. Just don’t hide your emotion and keep them to yourself. Write a blog to shout your thoughts. Do anything that you wish to reduce your stress.

I know how different it is from our culture – especially if you are from Asia, where you are not you,  how you used being controlled by your society. Here you just have to be yourself! Enjoy your freedom, embrace it, find the new or the real YOU!

I just lost my best friend who worried so much about life and I have tried my best to help him, maybe not tried enough. It really hurts to find someone you care passed away and one of the reason was because of their stress.

I am here, as a friend, ready with my ear to listen to you. But I guess, no one can help you from your stress but yourself. Take your time!

stress

Review: Harry Potter and The Cursed Child – The Play

Standar

I would not spoil anything, promise. That is why I am going to write my review in Bahasa Indonesia as my readers mostly in Indonesia and we don’t have the play there… fair enough right?!

Sederet penonton perempuan di belakang saya berisik sekali mengomentari bagian pertama The Play dari Harry Potter and The Cursed Child. Mereka bilang karakternya berbeda dengan buku Harry Potter terakhir, seharusnya si A begini dan begitu.

Harry Potter hadir dalam tiga medium berbeda, buku, film dan sekarang teater atau kami menyebutnya di sini dengan The Play. Tiga medium ini punya keleluasaan untuk menintepretasikan isi buku- sebagai induknya dengan cara yang berbeda. Bayangkan kalau 500 halaman buku harus diterjemahkan dalam 3 jam film dan 6 jam teater yang dibagi dalam dua bagian. Tentu ada bagian yang harus dibuang dan yang didahulukan. Buat saya yang membaca semua edisi buku Harry Potter – kecuali yang terakhir ini, menonton semua film Harry Potter dan puncaknya malam ini adalah nonton the play Harry Potter, semuanya menarik dengan caranya masing-masing. Kalau saya boleh merunutkan mana yang lebih enjoyable, maka pertama tetap buku (karena itu merasa harus beli edisi terakhir), the play dan terakhir filmnya.

Harry Potter and The Cursed Child masih seperti edisi sebelumnya, bicara tentang persahabatan tapi kali ini lebih kompleks karena Harry Potter ada di usia 40 yang ketakutan menghadapi kenyataan sebagai ayah bagi anak tengahnya yang ‘pembangkang.’ Albus Severus Potter, berada di belakang bayang-bayang nama besar Harry Potter yang terkenal sebagai penyelamat, pahlawan yang berhasil mengalahkan Voldemort.

‘We can’t choose our relatives,’ kata gadis berambut perak kepada Albus, yang merasa tidak akan pernah bisa mengikuti jejak ayahnya sebagai penyihir hebat. Albus tidak pandai berkawan dibanding kakaknya James Potter atau adiknya Lily Potter. Lalu bertemulah Albus dengan Scorpius Malfoy yang kemudian menjadi sahabat. Seperti Albus, Scorpius juga bermasalah dengan nama buruk Malfoy yang disandangnya, karena ayahnya Draco Malfoy dekat dengan kekuatan jahat Voldemort.

Cerita kemudian berkembang ketika Albus ingin menulis ulang sejarah, membebaskan ayahnya dari rasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Cedric yang mati di tangan Voldemort. Albus jatuh cinta pada gadis berambut perak yang mengaku sebagai keponakan Cedric yang kemudian berhasil membujuk Albus untuk mencuri mesin waktu, menyelamatkan Cedric. Albus mengajak Scorpius dalam petualangan menjelajah mesin waktu saat Cedric bertanding menghadapi Harry belasan tahun sebelumnya. Menulis ulang sejarah sama artinya dengan mengubah masa kini dan masa depan. Beberapa kali mendapati kenyataan penyelamatan Cedric mengakibatkan Harry Potter mati, Scorpius Malfoy menjadi raja Scorpion dan Draco Malfoy sebagai Perdana Menteri, kekuatan hitam menang.

Ini cerita reuni ketika para karakter yang telah meninggal dihidupkan kembali, Scorpius bertemu Severus Snape yang membantunya menyelamatkan Albus dan Harry Potter bercakap dengan Prof.Dambeldore lewat lukisan. Ibunda Lily dan Harry Potter dihidupkan kembali.

Cerita tentu berakhir bahagia dan saya tidak akan secara rinci menggambarkan kejadiannya. Bagian ketika Harry Potter dan Draco Malfoy akhirnya berkawan karena anak-anak mereka bersahabat juga menarik. Harry bilang, ‘look at us, while we are so busy rewriting the past, we forget to give present to our children.’ Perseteruan orang tua tak bisa memisahkan persahabatan anak-anak mereka, bahkan ketika Harry mengancam Minerva yang menjadi kepala sekolah Hogwarts untuk mengawasi Albus dan Scorpius agar tidak bersama.

Kamu bisa membaca isi buku untuk cerita lengkapnya karena saya akan pindah tema untuk mengomentari tata panggung dan para pemain di atasnya.

Telegraph bilang, ini adalah sihir yang menjadi kenyataan. Lah iya, seperti nonton sulap di atas panggung, kami dibuat terkagum-kagum. Ingat lift khusus menuju kementerian sihir yang berupa telepon umum? Harry Potter menghilang di dalam telepon umum itu, di depan penonton! Lalu mesin waktu bergerak, cahaya berubah, jam berubah dan penonton merasa seperti ikut pindah ke waktu berbeda. Ketika the Death Eater melayang-layang di atas panggung, salah satunya terbang ke arah penonton di atas balkon tempat saya duduk dan disambut dengan jeritan. Atau ketika prophecy atau ramalam tentang kebangkitan Voldemort diproyeksi ke seluruh ruangan teater dan penonton bisa ikut membacanya keras-keras. Belum lagi kilatan cahaya dari tongkat ketika mereka mengucap mantra. Ketika pollyjouice mengubah seseorang menjadi orang yang berbeda, pergantian pemain terjadi begitu cepat, seperti berubah sungguhan di depan mata. Sempurna! Tata panggung yang luar biasa membuat cerita sihir ini beneran hidup.

Lalu soal pemain teaternya. Buat saya tiga karakter yang stunning aka juara adalah Harry Potter yang dimainkan oleh James Parker, Scorpius Malfoy yang diperankan oleh Anthony Boyle dan Albus Severus Potter oleh Sam Clemett. Ketiganya berhasil menampilkan permainan yang luar biasa. Harry dan Albus yang penuh emosi dan penuh penjiwaan, Scorpius yang gugup, cerdas dan saat bersamaan juga humoris. Saya sih merasa Anthony Boyle akan menjadi Benedict Cumberbatch berikutnya, cara dia menguasai karakter, melanturkan percakapan dengan intonasi naik turun dan suara yang berbeda tone dalam satu kali kesempatan yang kadang dalam tempo yang sangat cepat adalah luar biasa.

Musik dan kostum… sudahlah ya… empat jempol…

Tapi yang bikin saya bingung, JK Rowling sebenarnya menyasar siapakah dengan cerita Harry Potter kali ini? sebagai pembaca setia Harry Potter, saya tidak bisa bilang sama ponakan saya Zi yang baru delapan tahun bahwa Harry Potter adalah cerita anak-anak yang luar biasa. It was, di edisi tiga pertama saat Harry baru masuk Hogwarts. Tapi mengikuti Harry di usia remaja, belum bisa jadi konsumsi Zi. Apalagi di edisi terakhir ini, Harry Potter usianya 40 tahun, bahkan lebih tua dari saya  hari ini, anaknya aja udah remaja, cuma orang tua yang mengerti betapa galaunya Harry menghadapi Albus. Maka tidak aneh juga kalau hari ini teman nonton saya lebih banyak yang seumuran, yang mengikuti Harry Potter sejak 1997. Ketika Ron dan Hermione bercanda buat bikin anak lagi, dua remaja tanggung di sebelah saya boro-boro senyum, salah satunya malah menguap.

Harry Potter and The Cursed Child ini adalah salah satu play- teater yang tiketnya sudah ludes sejak tahun lalu. Tiket saya dibeli dengan harga 30 poundsterling, Oktober 2015 oleh Fadilah kawan saya di Goldsmiths. Tadinya sempet terpikir untuk dijual, lumayan duitnya buat tambahan kirim paket barang pulang ke Indonesia. Untungnya tidak jadi dijual, bagaimana pun pengalaman menonton teater di London apalagi untuk cerita yang ditunggu banyak orang kayak begini, adalah pengalaman yang luar biasa, tak terlupakan dan tidak tergantikan dengan uang. Bahkan kalau rezeki masih milik saya, bolehlah kiranya mengirimkan doa, pengen nonton sekali lagi. Amiiin

harry-potter

Nikah Yuk, how hard it can be to be my wife (for political reason)

Standar

Marriage is a political matter. Foucault bilang, salah satu cara mengendalikan rakyat adalah dengan mengendalikan alat reproduksi, dan seks. Keluarga Berencana di Indonesia untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk yang bakal membuat pemerintah kewalahan memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya untuk sandang, pangan dan papan. Sementara Jepang mulai panic karena jumlah orang tua lebih banyak daripada generasi produktif dan anak muda makin enggan menikah apalagi punya anak, padahal pembangunan dan roda ekonomi harus ada yang menjalankan. Serbia pun demikian. Ide-ide pemurnian darah, menikah hanya dengan suku sendiri dan seiman. Atau ide untuk menyelamatkan harta warisan pun bukan sekedar gambaran di sinetron. It did happen, it is political.

‘Nikah yuk Nit. Kamu bisa jadi ibu yang baik buat anak-anak kita.’ Kata sahabat saya dari Brasil. Tapi saya tahu itu becanda. Dia tidak mau kembali ke Brasil yang sedang kacau. Menikahi saya dan ikut pindah ke Indonesia bisa jadi salah satu cara untuk menghindar ketidakpastian hidup di Brasil. Tidak ada ruginya sih menikahi dia, ganteng bak Lanny Kravitz, pintar… mungkin ga rasa tumbuh belakangan? Mungkin saja… saya menjawab dengan tawa terbahak-bahak… menikah belum masuk dalam prioritas hidup saat ini.

Minggu pertama di London, kawan saya bilang begini

‘Pacar saya cuma dapat dua tahun visa di Inggris, sementara saya dapat lima. Saya akan menikahinya supaya dia bisa ikut terus sama saya.’

Awalnya saya melongo, gampang betul menikah ya. Sementara saya tunangan hampir lima tahun, selalu saja terbentur alasan yang menunda kami bersama. Satu dan lain hal. Lalu teman saya bilang, itu rasanya yang disebut jodoh, tidak perlu overthinking, jalanin aja. Tapi kan menikah bukan seperti bungee jumping, terjun aja. Bahkan bungee jumping butuh alat pengaman yang memenuhi standar international. Begitu juga dengan menikah. Teman saya memang akhirnya menikahi pacarnya dan mereka tak lagi punya isu soal visa sampai lima tahun ke depan, paling tidak.

‘Menikah saja, nanti kalau tidak cocok, ya cerai.’ Kata sahabat saya yang lain.

Kalau Cuma untuk bercerai, ngapain repot menikah, menyatukan dua keluarga, buang-buang waktu, tenaga dan perasaan.

Lalu bertemu lah saya dengan pasangan sempurna ala telenovela, macam Justin Trudeau dan Sophie istrinya, atau Barack dan Michelle Obama. Sempurna untuk tampil di media dengan kemesraan yang dicetak public relation dan konsultan komunikasinya. Dalam politik, penokohan politikus yang cinta keluarga, ayah dan suami sempurna bagi istrinya adalah penting, seperti digambarkan Niccolo Machiavelli dalam buku The Prince.

Maka jika ingin terjun ke dalam dunia politik, kamu membutuhkan pasangan yang tidak sekedar berlandaskan cinta, tapi butuh kerja tim. Pasanganmu harus sama bisa memainkan peran dan karakter penyeimbang, mendukung satu sama lain, sempurna di mata publik baik tampilan fisik maupun isi kepala. Itulah politik.

London adalah kota yang romantis, pasangan bergandengan tangan dan menunjukkan rasa di depan publik dengan mesra menjadi sesuatu yang biasa. Tapi di balik itu semua, saya jadi meragu tentang cinta, cerita dan citra…. Semua macam politik, yang kata teman saya, di dalamnya tak perlu pake rasa, ini hanya politik, bisnis, dan cinta bukan lagi sekedar rasa.

Jadi besok kita ke Paris untuk jalan-jalan romantic okay? Kamu kan bakal jadi istri aku….

Lalu saya tertawa lebih kencang…

marriage

Kita perlu jurnalis yang bekerja dengan hati

Standar

Salah satu hal yang paling saya ingat dari buku CHAVS yang ditulis oleh Owen Jones adalah saat dia bilang bagaimana berharap jurnalis punya empati terhadap masalah kelas pekerja kalau mereka tidak pernah berada di posisi yang sama. Mereka berasal dari kelas menengah ke atas, sekolah di sekolah terbaik dan dapat pendidikan dari kampus tanpa bergaul dengan masyarakat. Mereka keluar dari kampus, melamar di media lalu menulis sesuai pesanan editor yang tercemari oleh kepentingan bisnis pemilik media. Maka selesai. Media hanya akan begitu-begitu saja.

Owen tidak berlebihan ketika dia mencela profesi jurnalis yang cuma jadi juru tulis tanpa hati dan empati. Bourdieu bilang setiap orang punya Cultural Capital yang akan mempengaruhi mereka dalam berinteraksi sehari-hari, latar belakang budaya, sosial, ekonomi dan pendidikan.

Begitu juga dengan jurnalis, apa yang mereka tulis bergantung pada bagaimana cara mereka memandang dunia dan sekitarnya. Satu sisi, jurnalis dituntut untuk menulis berita atau cerita saga, ficer panjang, sambil tetap menjaga obyektivitasnya. Nah untuk menjaga tetap obyektivitasnya, mereka tidak boleh terlalu ‘dekat’ dengan narasumber, subject cerita. Tapi, mungkinkah kamu pergi begitu saja setelah menulis tentang kemalangan mereka, bukankah itu mirip ‘eksploitasi’ mereka demi rating, demi gaji bulananmu?

Suatu ketika teman kuliah saya memposting, tonton film documenter kami tentang #homeless ya… kerja bagus tim…. Terus apa? apa sebenarnya tujuanmu menulis cerita tentang mereka? Explorasi, exploitasi atau apa? kalau kamu dapat nilai A untuk tugas akhir itu, para homeless itu dapat apa?

Setelah lebih dari 10 tahun jadi jurnalis, pertanyaan itu mengganggu saya. Buat apa sih gue nulis? Dampaknya apa? Bagaimana nasib narasumber saya yang ‘off the record’ itu? bagaimana saya bisa melindungi dia, sampai kapan? Apakah tulisan saya membawa ‘kebaikan’? Pertanyaan-pertanyaan yang menjadi salah satu alasan untuk mencoba dunia lain, activism.

Pertanyaan itu sedang mengganggu teman saya yang memulai karir jurnalisme nya barengan di 2002. Untuk menjahit apa yang ditulis oleh Owen Jones dan pengalaman pribadi saya, begini jawaban saya.

Jangan berhenti jadi jurnalis, jangan berhenti menulis, jangan berhenti berempati.

Saya, in a way, tidak sepakat dengan Owen Jones bahkan Bourdieu sekalipun. Adalah sebuah keistimewaan untuk bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, dan lahir dari keluarga yang memiliki perhatian bahwa pendidikan adalah modal utama dalam hidup, lalu ‘berbudaya’ dan ‘beradab’. Saya beri kutip karena dua kata itu tergantung dari sudut mana kamu melihatnya. Tapi Cultural Capital bukan harga mati. Seperti keahlianmu menulis dan jurnalistik adalah kecakapan yang bisa dilatih, begitu juga dengan empati!

Ashoka membuat saya percaya, setiap orang bisa dilatih untuk punya empati terhadap orang lain. Termasuk jurnalis sekalipun, asalkan mereka tetap mempertanyakan dalam diri sendiri, apa sih dampak dari tulisannya di media? dan bukan bekerja hanya untuk laboring, bertahan hidup, bayar tagihan dan menjadi robot bagi pemilik modal, atau politisi dan jadi jurnalis rilis.

Jurnalis itu punya kekuatan yang luar biasa untuk mengubah dunia, didengar orang, mengubah pendapat orang. Kalau tidak hari ini, mungkin besok baru terasa. Tapi itu terjadi. Dengan alasan yang sama, maka dibutuhkan jurnalis yang punya empati, yang menulis dengan hati. Mereka yang tidak sekedar datang ke lapangan, menulis lalu pergi. Menjaga kontak, menjaga hubungan, konsisten pada isu, mengikuti perkembangan yang terjadi, dan tetap menulis, itu adalah yang terbaik. Menulis buat kepentingan kemanusian dan bukan sekedar bisnis, itu yang terbaik. Jurnalis punya kekuataan pada mikropon, laptop dan semua medium untuk menyampaikan pesan. Kalau tulisanmu tak laku di media, menulislah untuk blogmu sendiri.

Untuk hal yang sama juga, sangat butuh jurnalis yang punya nilai  atau value dalam hidupnya. Saya bangga pernah bergabung dengan KBR yang punya nilai luar biasa; pluralis, demokrasi, toleransi secara institusi. Tapi sekelas BBC yang kita percaya punya nilai yang sama, secara pribadi masih ada saja jurnalis yang seksis sepanjang olimpiade misalnya. Untuk inilah perlu sekali menyaring jurnalis yang sudah punya landasan nilai yang kuat dalam hal toleransi, pluralisme dan demokrasi satu lagi yang harus masuk dalam proses seleksi adalah nilai kesetaraan gender, feminisme! Jangan terima karyawan yang sejak awal tak percaya bahwa perempuan adalah individu dengan hak dan kewajiban yang sama hanya kebetulan diberkahi vagina dan rahim.

Menulis itu keahlian yang bisa dipelajari, mudah. Empati juga hal yang bisa dipelajari, bergaulah dengan lebih banyak orang di luar zona nyamanmu. Nilai? Itu yang dibawa sejak awal, tapi bukan saya sama saja… bukan harga mati. Paparkanlah dirimu dengan lebih banyak orang yang berada di luar duniamu sendiri, bacalah, ngobrollah. Kita pernah sama-sama telanjang ketika lahir, lalu orang tua membentuk kita, lalu masyarakat mengenalkan kita pada norma sosial yang lebih besar. Tapi kunyah semua itu agar pencernaan membaik, jangan telan mentah-mentah semua hal yang akan membuatmu sakit dan muntah.

Jangan berhenti jadi jurnalis, tetaplah bersuara dengan hati.

empati

Anak Tetap Anak, Berikan Haknya

Standar

Akhirnya kepincut juga untuk menulis ini. Beberapa kali mendapati netizen yang membela guru habis-habisan dan nyinyir pada orang tua untuk mengajar anaknya yang ‘badung’ di rumah. Bapak ibu sekalian, saya memang belum pernah brojolin anak sendiri, tapi bukan berarti saya lahir dari batu lalu mendadak besar seperti ini. Proses 38 tahun jadi manusia membuat saya percaya bahwa saya sampai di sini hari ini berkat orang tua yang luar biasa dan didukung bapak ibu guru saya yang juga sama luar biasanya. Bahwa pendidikan bukan tanggungjawab cuma guru di sekolah atau orang tua di rumah. Ini kan pengetahuan umum yang paling mendasar, pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama… knock knock…

Lalu kenapa orang tua merasa paling berjasa dan juga sebaliknya. Ga lah… pendidikan itu hak anak yang wajib diberikan oleh orang tua, guru dan difasilitasi negara. Kalau anak-anak bandel itu mesti dilihat dari hal yang paling holistic, sudahkah kita mengenali alasannya? Pernah ga sih sesekali mendengarkan mereka, belajar mendengar bukan komentar. Cobain deh latihan mendengarkan anakanak dan remaja itu tanpa sekalipun menyelak ucapan mereka, barang 5 menit saja, lalu naik tingkat 10 menit dan seterusnya.

Anak-anak tetap anak-anak yang penuh rasa penasaran soal banyak hal, tentang dirinya sendiri secara fisik, tentang lawan jenis, tentang sahabatnya. Penasaran apakah kalau terjun bisa langsung mati, kalau jatuh pasti sakit, kalau main api pasti terbakar?

Kalau tak sempat menemani mereka berkembang, jangan menghakimi bagaimana cara mereka mengembangkan diri sendiri. Kalau terlalu banyak waktu bersama mereka, lepaskan sedikit kekangan. Saya tak sedang mengajari bagaimana jadi orang tua, karena pasti kamu akan bilang, tau apa saya soal mendidik anak. Saya sedang mengajak kamu untuk menjadi sahabat mereka. Sahabat paling dekat saya adalah mami, di rumah, di Jakarta. Semua hal saya ceritakan padanya dan itu membuat saya nyaman.

Saya bergaul dengan anak-anak sejak lama, di kantor dengan kawan kerja yang usianya 10 tahun di bawah saya, memfasilitasi ratusan anak-anak luar biasa bersama Ashoka, bergaul bersama petani muda di sarongge sejak 2008, dan hari ini, saya tetap yang paling tua di kelompok pertemanan di kampus. Saya ngobrol asik dengan Herbie 4 tahun, Luih 14 tahun dan Ella 16 tahun, tanpa  kesulitan bahan bicara. Cuma dengan bergaul dengan mereka, kamu akan  tahu apa yang mereka resahkan dalam hidup dan bagaimana mereka ingin dibantu.

Jangan jadi orang tua yang so toy di depan mereka, dengan merasa paling tahu dunia. Bagaimana bisa kamu kasih tahu anakmu jangan naik sepeda nanti jatuh dan sakit, sementara kamu tahu tanpa babak belur besut di kaki kiri kanan, kamu ga akan bisa mengayuh puluhan kilometer dengan sepedamu itu. Biarkan dia jatuh, dengan kamu di sisinya, menepuk bahunya, sakit adalah proses menjalani hidup, termasuk di dalamnya menangis, tertawa dan jatuh cinta.

Kalau anak ‘nakal’ lalu dihakimi masyarakat, netizen dan dikeluarkan dari sekolah, lalu masa depannya tanggungjawab siapa sekarang? Rrrr pengen ngamuk rasanya. Tidak semudah itu mengeluarkan anak-anak dari sekolah karena dia nakal atau  hamil misalnya. Mereka tetap anak-anak, punya hak mendapatkan pendidikan yang terbaik, sekolah tidak bisa lepas tangan begitu saja dan menyerahkan pada orang tua. Begitu juga orang tua yang tidak bisa begitu saja memperlakukan sekolah seperti penitipan anak. Kalau orang tua dan guru bermasalah, selesaikan layaknya orang dewasa, tapi berhenti menjadikan anakanak sebagai objek! Pause! Berhenti sejenak untuk saling menyalahkan, kembali ke titik awal, bahwa semua yang ingin dilakukan bersama adalah untuk kepentingan anak, tolong dengarkan mereka, have a little empathy for them will you… be a kid for a moment, see the world through their eyes…