Monthly Archives: Desember 2019

Tidak Perlu Minta Maaf, Tawarkan Solusi, Selalu Gunakan “Future Tense” – Review Thank You For Arguing by Jay Heinrichs

Standar
Tidak Perlu Minta Maaf, Tawarkan Solusi, Selalu Gunakan “Future Tense” – Review Thank You For Arguing by Jay Heinrichs

Permintaan maaf itu sebenarnya menyenangkan siapa? Tentu menyenangkan bagi yang terluka, atau yang tersakiti, lalu apa? Berapa kali seseorang melakukan kesalahan berulang dan selalu merasa selesai dengan minta maaf? Akan jauh lebih penting jika orang atau kita melakukan kesalahan adalah mengakui kesalahan (tanpa perlu mengucapkan maaf) dan menawarkan solusi dengan menggunakan kalimat masa depan, atau Future Tense. “Saya melakukan kesalahan, dan saya punya beberapa hal yang akan saya lakukan untuk A – Z.” Membaca buku ini, saya merasa tertohok. Saya tipikal yang akan meminta maaf dahulu ketika melakukan kesalahan, dan iya betul, akan menawarkan solusi perbaikan. Lebih jauh dari itu, saya jadi merasa memang tidak perlu berharap orang minta maaf atas kesalahannya, tapi yang penting, bagaimana dia bisa meyakinkan saya untuk melakukan perbaikan-perbaikan atas kesalahannya. Tentang minta maaf atau tidak, ada di bagian Recover from Screw-Up (268)

Buku ini mengajak saya menyelami isi kepala para orator yang biasa manggung termasuk para politisi. Panggung, artinya ada audiens, dan sebagai audiens, sudah seharusnnya saya kritis terhadap apa yang diucapkan. Orator yang baik, dia akan menyiapkan materinya sebaik mungkin. Dalam teori Aristoteles, ada ethos (ethic/values), phatos (emotion) and logos (logic/facts), dan untuk memengaruhi audiens, orasi harus mengandung cause (sebab), caring (simpati/ nilai-nilai) dan craft (kemasan dalam figure, data, logika). Jadi ketika seorang bicara di depan umum, anda bisa menilai kapan dia akan menyebutkan sebab atau tujuan dia ada di atas dan bicara, simpati apa yang ditunjukan, betapa dia merasa menjadi bagian dari anda, lalu apa yang dia inginkan dari anda lewat data dan logika yang meyakinkan. Teori ini kata Jay biasanya akan bekerja dengan baik di tengah audiens yang tidak punya idealism kuat. Percuma meyakinkan tentang sosialisme kepada penganut kapitalisme, begitu juga sebaiknya. Atau saat pemilu, akan sulit menggeser keyakinan satu kubu yang sudah terlanjur jadi fanboy kandidat tertentu.

Teori ini bukan hanya untuk politisi tapi buat siapa saja yang berusaha meyakinkan orang lain untuk mengikuti maunya kita. Pahami betul audiens yang dihadapi, nilai umum apa yang dianut, lalu cari apa yang mereka inginkan atau desire, dan kemas dengan baik hal yang anda tawarkan agar sesuai dengan mereka. Kalau tidak berhasil, pastikan anda ada di posisi sedekat mungkin dengan mereka, agar mereka percaya anda adalah bagian dari mereka. Orasi itu fake, indeed hahaha. Tapi ini berhasil jika anda ingin agar pesan itu sampai, dipahami dan dinternalisasi.

Teori berikutnya dari Cicero, ada bagaimana menyiapkan bahan presentasi atau dalam tulisan. Outlinenya begini: ada pengantar (introduction) – hal baik yang ingin anda sampaikan, narasi – penyataan tentang fakta yang terjadi, lalu division – atau bagian mana yang anda tidak sepakati dari lawan argumentasi anda, lalu proof – bantah dengan bukti, data dan fakta, lalu refutation – bantai lawan di bagian ini, lalu conclusion – kesimpulan, penegasan ulang dari poin yang ingin disampaikan, pakai bumbu emosi biar tambah meyakinkan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan jika orasi atau public speaking, pertama, timing – pastikan waktunya pas untuk menyampaikan pesan. Kedua, gunakan bahasa yang dipahami audiens. Ketiga, style, jangan sampai salah kostum, atau terlihat terlalu elitis di tengah umum. Keempat, gunakan media yang sesuai untuk menyampaikan pesan. Blog seperti ini hanya akan berguna untuk mereka yang memang mencari pengetahuan baru dan hanya satu arah, saya ke kamu. Tidak hanya satu media, gunakan semua media yang cocok untuk menyampaikan pesan.

Nah, bagian yang menurut saya paling menarik dari buku ini selain soal minta maaf dan tidak di atas, adalah tentang bagaimana menghadapi bullying atau perundungan. Jika hanya ada anda dan lawan bicara, tanpa audiens, bully tidak perlu diladeni. Pergi dari lokasi dan anggap tidak ada, karena menjadi tidak penting menanggapi si perundung yang punya nilai berbeda dengan anda dan tujuannya hanya ingin menyakiti. Lagian tidak ada audiens atau orang lain yang menonton berdebatan anda, do not waste your time.

Jika ada ada di panggung dan bully terjadi di sana oleh penonton, Jay memberikan beberapa cara, tapi yang terbaik menurut saya adalah gaya comedian tunggal, “The Amy Schumer Takedown.” Tetap kendalikan suasana, fokus pada tujuan utama yaitu untuk menghibur audiens yang bayar untuk mendengarkan komedi anda dan bukan untuk memuaskan si bully. Buat si bully bagian dari hiburan itu, jadikan obyek candaan, anda punya bahan baru. Jay bilang, “ketika anda di bully, coba temukan spot atau titik dari penonton yang akan bersimpati pada situasi anda. Merekalah audiens utama anda”

Jika berhadapan dengan debat kusir tentang politik, Jay menyarankan untuk melakukan Aggressive Interest, yaitu tunjukkan simpati dan keingintahuan dengan terus menerus mengajukan pertanyaan tentang definisi, details, data, dan sumber data, terus dan terus, sampai lawan anda kehabisan bahan untuk menjawab. Kenapa ini penting? Pertama untuk memuaskan anda sebenarnya dengan mengganggu atau annoyed si bully. Kedua, pertanyaan-pertanyaan itu justru akan membuat si bully memikirkan ulang pendapatnya sendiri.

“When people try to improve the world by bullying their enemies, the only practical response is to get them to challenge their own assumption. Don’t strike back. Undermine their opinion by getting them to think about how they define their terms.” (page 213 – 214)

Orator terbaik menurut Jay adalah Obama, dan yang terburuk adalah Trump. Tapi keduanya memberikan hal penting untuk dipelajari dalam teknik orasi.

Yang mengganggu dari buku ini adalah side bar di sisi kanan dan kiri halaman, sebuah distraksi. Saya juga lost in translation karena banyak istilah baru terutama dari literature Yunani kuno yang digunakan. Tapi dari banyak buku yang saya baca 2019, rasanya buku ini yang akan sering saya kunjungi ulang di tahun depan. Pekerjaan saya memang mengharuskan untuk tampil di depan umum, menguasai panggung dan audiens agar pesan tersampaikan dan buku ini jadi bahan rujukan yang pas.

2020, untuk yang berniat freelance, sila baca pengalaman saya.

Standar
2020, untuk yang berniat freelance, sila  baca pengalaman saya.

Ada banyak alasan kenapa seseorang memutuskan untuk menjadi buruh lepas, bahasa kerennya freelance. Buat saya, menjadi buruh lepas, awalnya karena “terpaksa.” Saya diharuskan dokter minum obat penyeimbang hormone, yang konsekuensinya mengganggu mood. Naik turun, bisa seharian nangis, bisa seharian marah. Alhasil, saya memutuskan untuk jadi buruh lepas saja, daripada mengganggu sistem kerja yang rutin dan ganggu mood kawan-kawan di kantor.

Agustus 2018, saya resmi mengundurkan diri dari kantor. Dua bulan tidak bekerja, menghabiskan tabungan dan akhirnya mulai lagi dari awal. Menerjemahkan subtitle film dengan honor per kata sekian rupiah, sampai menjadi penerjemah di sebuah pertemuan. Semuanya dijalanin buat menyambung hidup. Oktober 2018, saya dapat kontrak menjadi konsultan di sebuah yayasan nilainya lumayan dan timnya asik. Kontrak saya masih terus jalan sampai 2020, Alhamdulilah.

Turun naik penghasilan setiap bulan itu konsekuensi dari buruh lepasan, sementara tagihan bulanan tetap, ye kaan. Pernah ada sekali waktu ATM seperti tumpah ruah, karena ga pernah terima sebanyak itu, eh taunya saya bakal tak terima honor selama 3 bulan. Jadilah apa yang ditabung harus dikuras kembali. Untuk yang mendambakan keamanan finansial, harap jangan mengambil langkah ini, kecuali kamu termasuk orang dengan kemampuan manajerial keuangan yang baik.

Kata orang, freelance menang dipenguasaan waktu. Tergantung kawan. Kadang saya bisa ga tidur berhari-hari karena harus menyelesaikan laporan. Agustus lalu, saya tidak pulang 2 minggu karena event dari tiga klien berturut-turut. Sehabis itu tepar blas. Intinya gini, jadi buruh lepas itu kan bukan berarti kamu kerja sendirian. Your client is your team. Ga bisa dong seenaknya kamu menentukan meeting hari Minggu sementara kantor client lagi liburan. Atau kirim laporan hari Minggu lalu minta di fast respond. Atau misalnya client mu di luar negeri yang jelas beda waktu, iya kali kamu yang menentukan semuanya. Lagi-lagi ada kompromi.

Kemenanganmu adalah ketika menentukan produktivitas kerja. Ketika kantoran, kamu “dipaksa” bekerja 8 jam sehari, mau produktif atau ngga, pokoknya harap hadir 8 jam di kantor. Sementara bagi buruh lepas, kamu bisa mengatur produktivitasmu sendiri. Saya bisa menyelesaikan tugas dalam waktu 3 jam tanpa diganggu ina inu yang biasanya muncul saat ada di kantor. Habis itu, saya bisa mengerjakan hal lain, urusan domestic misalnya.

Kemenangan lainnya punya waktu lebih bareng keluarga. Saat kerja kantoran, sebagian besar waktumu habis di jalan, bukan di kantor malah. Kalau sedang di Jakarta, untuk meeting pukul 10, saya sudah harus bersiap sejak pukul 6. Beresin rumah, mandi, sarapan, berhitung jarak ke tempat meeting dan lain-lain. Kalau harus sampai kantor pukul 8.30, maka dari rumah saya harus cus pukul 6, paling lambat 6.30 dari Cinere.

Ketika jadi buruh lepas, saya cuma cuci muka, kalau perlu sikat gigi (kalau perlu!) langsung kerja, kantornya di kamar tamu persis sebelah kamar saya. Biasanya bangun pukul 4.30, habis subuh tidur lagi, kalau ga ya baca buku. Tapi benar-benar buka laptop dan bekerja itu pada pukul 09.00. Seperti layaknya orang kantoran.

Jadi buruh lepas, saya punya kesempatan untuk melompat ke bidang yang lebih luas. Saya pada akhirnya bukan spesialis tapi palugada, apa lu mau gue ada. Menclok antara urusan riset media, jurnalis, social enterprise, pemetaan pemangku kepentingan, pengembangan ekonomi masyarakat, sampai ke urusan pengarusutamaan gender. Terakhir saya belajar jadi akuntan sosial. Skill utama saya tetap di fasilitasi dan komunikasi, ditambah peminatan di bidang politik. Uhuy ga tuh.

Tappiiiii….. freelance is a lonely road.

Bagi extrovert seperti saya, menjadi buruh lepas itu jalan yang sepi. Diskusi dengan diri sendiri, marah dengan diri sendiri, bahkan bertanya pada diri sendiri. Staf meeting ya dengan diri sendiri di depan laptop, just me and google mostly with google translate J Tidak ada lawan bicara itu siksaan terberat buat saya lebih berat daripada ga gajian. Akan lebih mudah jadi buruh lepas kalau kamu introvert, memang. Sementara saya, harus ketemu orang lain. How to handle it? sebisa mungkin bertemu dengan orang lain, selain anggota keluarga hanya untuk ngupi dan bicara ngalor ngidul.

Last but not least, jadi buruh lepas harus punya support system yang kuat. Saya tidak punya dan masih berjuang segalanya sendirian. Berat, jelas! Sebagai pencari nafkah utama, jadi buruh lepas itu sangat berat. Saya harus banyak berhitung, misalnya dengan tanggungan sebesar X rupiah, maka saya harus punya orderan kerja minimal 2x Y / bulan (biar keliatannya paham matematika). Kalau target tidak tercapai, maka saya harus punya strategi B-Z. Strategi keuangan yang saya siapkan antara lain, menabung, harus! Saya punya tabungan kas yang bisa diambil kapan saja saat butuh. Sebisa mungkin tidak menyimpan dana cadangan di Bank, karena jempol ini suka gatel buat belanja. Saya harus melindungi diri sendiri lewat asuransi, bayar premi masukan sebagai tanggungan bulanan yang harus dihitung. Plus, sudah lima tahun ini saya tidak punya Kartu Kredit, karena dia lebih jadi beban daripada membantu.

Beberapa kawan bertanya untung ruginya jadi buruh lepas pada saya. Saya kembalikan lagi pada alasan awal kamu menjadi buruh lepas. Sekarang saya bisa bilang menjadi buruh lepas menyenangkan, meski duitnya ketar-ketir, bahkan pernah sahabat mengirimkan GoPay 200ribu supaya saya bisa jajan, makasih ndut. Saya menikmati roller coasternya jadi buruh lepas, karena yang paling penting buat saya adalah punya kesempatan belajar lebih banyak, jaringan lebih luas, dan punya waktu buat keluarga. Soal uang, lagi-lagi dimulai dengan Ikhlas, mungkin ini absurd, tapi saya percaya jika sesuatu dikerjakan dengan gembira, hasilnya akan baik. Dan rezeki bukan melulu soal finansial. Itu saja.

gambar; google (ga ada perempuan gitu gambarnya huh!)

2019 Thank You for Your Lesson, 2020 surprise me!

Standar

If I have to describe in one word about 2019, it will be “exhausting.” To be honest, I want it to be over as soon as possible, wuss, just leave!

But quoting my best friend “every day is special in its own way,” so yeah, there were days where I was at my best, happy and specials. One of those days were re-connected to my old best friend, shall I say my soulmate. Whenever he got sick, I got the signal. Damn it, just stay healthy, will you! And yes, I met and reconnect with old friends, we had short-vacation early this year.

I am talking about the lesson-learned in reverse order.

Networking is my social capital. Reconnecting with friends bring new opportunities, like I am in a new venture. Built myself as an entrepreneur wanna be. Learn new things every single day. How to build a business, how to measure the impact, how to talk to vulnerable group without offending them.

I was at the big events, at the Indonesian Development Forum, and the ministry of education event. Two events with youth from health and medical backgroud and special appearance for the symphony orchestra. I involve in preparing a strategic document for Jakarta. I done so many things this year, cross sectors and multi-stakeholders.

Oh my dearest beloved friend, Jonathan, you probably watch my crazy things from above. I hope you proud of me, somehow. Because I lose proud of myself.

Those down-days, doom-days, where I was feeling lost and feeling that everything I do is not good enough not for me, or others. Days when I was crying by myself because I couldn’t bear to tell Akang of what inside my crazy mind. I couldn’t give him another burden as he already has a lot. Of course he knew it anyway and he hug me… so what are we gonna do? he says, move on and live our life. We can only do our best even if it is not enough, then let the universe complete it for us.

So 2020, bring it on! Not like previous year, I will not make any target. I will let you surprise me!

Bagaimana menilai sebuah tulisan dalam rupiah?

Standar
Bagaimana menilai sebuah tulisan dalam rupiah?

Menulis, bukan menganyam yang keluarannya adalah sebuah produk tas. Untuk menghasilkan sebuah tas, kita menghitung bahan baku, termasuk tenaga kerja hingga keluar HPP atau harga pokok penjualan sebuah produk. Honor tenaga kerja disesuaikan dengan UMR jika itu berada di sebuah perusahaan besar dengan hasil produksi yang massif. Cara lain menentukan honor terutama jika usaha kecil-kecilan, produksi sendiri dengan prosentase perkiraan, 10-20 persen dari cost produksi misalnya. Cara apapun yang digunakan, yang terbaik adalah negosiasi. Tapi betul, produsen harus punya pegangan angka yang disesuaikan dengan hitungan cost produksi atau ketentuan bersama dalam UMR.

Menulis, adalah kemampuan lunak atau soft-skill yang keluarannya adalah sebuah tulisan. Tenaga kerja yaitu si penulis adalah input dan menulis adalah aktivitas. Input lain yang material penulisan yang tidak datang dari langit ujug-ujug ditulis. Ada riset yang dilakukan untuk mendukung analisa, ada kemampuan analisa yang juga harus diperhitungkan dan tentu saja waktu yang diluangkan. Ada perlengkapan yang digunakan seperti laptop dan listrik. Kalau dia bekerja lepas, maka harus menghitung “tempat” dia bekerja, ada konsumsi yang dihitung. Semua proses itu tidak 0 nilainya.

Bagaimana menentukan nilai dari sebuah jasa?

Tricky indeed tapi bukan tidak bisa dihitung. Kalau kita mau pukul rata, maka taruhlah nilai jasa penulisan adalah 20 persen dari HPP jasa yang dijual perusahaan di luar semua modal produksi (materi disediakan, laptop dipinjamkan dan listrik). Jika tidak ada, maka perusahaan maupun penulis lepasan harus menghitungnya dengan baik.

Dalam menghitung social value sebuah aktivitas misalnya, kita harus menggunakan financial proxy untuk menentukan nilai sebuah jasa. Caranya? Tanya stakeholders, dalam kasus ini adalah si penulis. Lewat riset, lakukan dengan kuesioner atau dengan FGD tentang berapa harga yang “pantas” untuk sebuah jasa penulisan dan bagaimana angka itu bisa keluar menurut mereka? Lakukan value game, bermain nilai, jika ada pilihan 5 kriteria penulisan berapa harga yang menurut mereka pantas untuk diberikan pada setiap kriteria. Tapi prinsip utama tetap harus dipegang, Negosiasi dan Transparansi (dalam proses penentuan harga)

Maka ketika sebuah foto beredar di group WA tentang harga penulisan 500kata = Rp26.000 atau artinya 52 perak / kata, saya meradang. Tidak semurah dan semudah itu Bambang! Mencantumkan nilai dalam sebuah lowongan kerjaan itu artinya menutup pintu negosiasi, apalagi tak ada transparansi darimana itu angka 52 perak/kata muncul. Kata siapa kami seharga itu? Darimana angka itu muncul? Bagaimana dihitungnya?

Sebelum saya berteriak, Dasar Kapitalis! Saya mau berbaik sangka saja dulu, barangkali perusahaan ini tidak paham bahwa kemampuan menulis itu bukan seperti keahlian mencabut bulu hidung. Di belakang proses penulisan, ada input yang buanyak sekali termasuk kemampuan menganalisa sebuah bahan dari ribuan kata lalu diperas menjadi 500 kata, memilih kalimat yang mudah dicerna itu prosesnya sama panjang dengan ususmu berproses mencerna makanan. Kemampuan berbahasa dan menganalisa itu bukan kemampuan recehan kakak.

Mau tahu nilai tulisan?

Bayangkan websitemu yang keceh itu tak bunyi karena tak ada tulisannya, atau diagram warna warni mu itu tak ada bisa dicerna jika tak ada tulisan penjelasan yang menyertainya. Fotomu sekedar foto tanpa caption yang menuliskannya. Kamu butuh orang yang menuliskan semua pesan yang ingin kamu sampaikan, ye kan. Maka hargai dengan pantas sebuah tulisan dan penulisnya.

Cerita Percintaan Lada di India – Review The Last Moor’s Sigh Karya Salman Rushdie

Standar
Cerita Percintaan Lada di India – Review The Last Moor’s Sigh Karya Salman Rushdie

Cerita dibuka dengan kedatangan para pedagang Portugal di negeri India untuk membeli lada dan menjualnya kembali ke eropa. Kisah Vasco Da Gama dan keturunannya dalam menguasai jalur perdagangan lada India-Eropa melewati masa kolonialisme Inggris Raya hingga pertarungan politik dalam negeri antara Hindu-Islam.

Adalah Aurora Da Gama yang ketika itu berusia 15 tahun jatuh cinta pada manager dagang perusahaan Da Gama, Abraham Zogoiby, seorang Yahudi yang ditinggal ayah dan memiliki ibu seorang pencuri. Jatuh cinta mereka diawali oleh wangi lada yang hangat membarakan rasa di antara keduanya yang berbeda jauh dalam usia. Abraham sudah 30an tahun ketika itu dan luluh lantak pada kecantikan dan keanggunan Aurora, pelukis dengan bakat alamiah. Demi cinta, Abraham menentang ibunya untuk menikahi seorang katolik. Si ibu akhirnya memberikan restu dengan syarat agar Abraham menyerahkan putranya untuk diasuh dia. Tentu saja permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Aurora.

Cerita dituturkan oleh Moores Zogoiby, anak laki-laki Aurora dan Abraham yang terlahir “terkutuk” karena menolak permintaan ibu Abraham. Moor lahir dengan lengan kanan terbalik, dan jiwa dewasa yang terperangkap dalam raga anak-anak. Ketika umur fisiknya 4 tahun, Moor sebenarnya 12 tahun, dan seterusnya. Aurora menolak anaknya disebut sebagai kutukan, tapi justru anugerah keluarga. Hanya Moor yang merasakan air susu Aurora, sementara kedua kakak perempuannya tidak pernah merasakan air susu ibu sejak lahir. Moor istimewa, mendapatkan kasih sayang kedua orang tua dan adik-adiknya. Lengan kiri Moor adalah senjata. Sejak kecil dilatih bertinju dan kepalan tangan kiri Moor kuat dan mematikan.

Moor menceritakan perjalanan cinta ayah dan ibunya yang penuh rahasia. Aurora mampu menyihir dan membuat Abraham takluk terhadap apapun yang menjadi perintahnya. Bisnis keluarga Da Gama diatur sepenuhnya oleh Abraham sedangkan Aurora dengan lukisan-lukisan magisnya dan cerita-cerita cinta sesaatnya dengan banyak laki-laki yang tersihir oleh kecantikannya. Tapi Abraham bukannya menunduk tanpa syarat pada Aurora. Di luar rumah, Abraham adalah mafia yang menguasai pasar gelap hingga urusan narkotika dan menyuplai persenjataan bagi kelompok gerilyawan Muslim dan Hindu radikal.

Cerita ini bukan sekedar cerita percintaan, tapi tentang rasa nasionalisme. Moor tersinggung ketika nasionalisme ke-India-annya dipertanyakan sementara keluarganya Portugal – Spanyol sudah berada di negeri itu selama tiga generasi. Tentang pertentangan agama antara Katolik – Yahudi dan Hindu – Islam. Tentang demokrasi, mengutip Visco Miranda (salah satu kekasih Aurora) “demokrasi bukan tentang satu orang satu suara, tapi One Man One Bribe” karena demokrasi dibangun dengan korupsi. Juga tentang bagaimana seorang difabel diperlakukan selayaknya manusia non-difabel, tidak perlu dibeda-bedakan karena sebenarnya Moor tak ingin diistimewakan. Tentang privilege, keluarga besar Da Gama yang kaya raya, tidak akan mampu membuat mereka paham terhadap kehidupan dunia bawah yang penuh penderitaan.

Drama demi drama dihadirkan Salman Rushdie dengan apik di setiap bagian (ada tiga bagian dalam novel ini) seperti halnya karya Salman Rushdie lainnya. Salman kerap kali membuat tokoh perempuan sebagai sosok yang magis, memiliki kekuatan menyihir dan membuat lelaki takluk di kaki mereka. Barangkali karena latar belakang matriakal Salman yang lahir di Asia Selatan. Perempuan-perempuan dalam novel Salman “know what they want” bukan sekedar obyek. Seksualitas selalu muncul di novel Salman, tapi yang ini, sedikit sekali. Saya hanya mencatatkan dua adegan saja dari Moor.

Selalu ada kematian dalam drama Salman Rushdie dan kejutan di akhir cerita, bahwa Aurora pada akhirnya mati dan dia tahu siapa yang membunuhnya. Moor mempertanyakan ulang tentang cinta kasih orang tua kepadanya sebagai anak, apakah tulus atau bulus saja? Bagaimana jika dia membenci ayah dan ibunya?

Tentang judul, The Last Moor’s Sigh adalah lukisan terakhir Aurora yang menampilkan potret Aurora bersama Moor anaknya. Lukisan ini dicuri Visco Miranda dan dibawa hingga Spanyol dan di bagian akhir Moor mengejar Miranda untuk merebut kembali cerita akhir dari kenangannya bersama ibunya, Aurora.

434 halaman mah gampang dihabiskan jika cerita mengalir dengan ringan dan dapat dinikmati. Sekali lagi saya tersihir karya Salman Rushdie.