Monthly Archives: Juli 2016

I am floating

Standar

I thought I always knew what I want in life. But at the moment, I am floating. I surrender my life to where the universe wants me to land… I am giving up my dream to something I call as a random event. I appreciate everything that comes and happen spontaneously.

I am floating for the first time in life… I am free from any expectation, dream, and hope. I will go whenever the wind blows and the water runs. I am appreciating every moment, every memory, every scar and every smile… I feel so alive like I never been one.

I don’t know for how long and how am I going to end my journey of floating… told you… I live my life at the moment.

Miracles may come or not, I will still be here, alive and kicking…

Black-billed Magpie in flight

Black-billed Magpie in flight

The Library Angel of Goldsmiths

Standar

My library is my refuge, it’s the serendipity, the smell of the books and deep talk in whisper, type of the keyboard, and words are flying in my brain. How many times I have write about the love I have for my library, and I will write it again. I believe in the spirit that guide my feeling here in the library, that makes me comfort. It is my home from home.

I am happy just to sit here, on the ground floor, surrounded by books and my friends. Imagining how the spirit Marx, Foucault, Bourdieu will talking about me, the girl who is trying to absorb everything while her brain is getting older, shrinking by age…

I love standing between the bookshelf and run my fingers through every book, every title and realize how little knowledge I have in life, I still don’t know anything. I let Library Angel guides me to choose book for me. I only need one book, and always ended up with seven more books. Library Angel comforts me as every page of books drags me from my misery. This is my refuge from the real world, the real feeling.

Holding books make me rich, happy and my imagination dancing with all these scholars. I am happy… If I can make one wish, I wish not to say goodbye to the library angles of Goldsmiths.

Tony Woodiwiss said it is the work of the Library Angel. It is when you discover a book that you didn’t know existed and is even more exciting than the one you were trying to find in the first place. Without realizing it the Library Angel has led you there. To meet the Library Angel, or feel her influence, you need to wait for hidden treasure to be revealed (Back, L. 2016:199)the library queen

Saya Berhak Menikmati Sepakbola Tanpa Dilecehkan Secara Seksual!

Standar

Semalam saya menonton pertandingan sepakbola antara Jerman melawan Italia di sebuah pub, karena sekalian menghadiri undangan ulang tahun seorang kawan. Pertandingan sepakbola selalu bisa membuat saya excited, apalagi kalau yang tanding adalah kesebelasan kesayangan saya Jerman. Dunia saya Cuma satu untuk 2×45 menit beserta tambahan waktu dan penalty, untuk Jerman. Di sebelah kiri adalah tiga pria Perancis yang mendukung Italia, di kanan saya ada sahabat saya dari Vietnam yang juga pendukung Italia. Di meja depan adalah dua pria dan satu perempuan yang juga mendukung Italia. Jadilah saya satu-satunya perempuan pendukung Jerman dalam kelompok kecil itu.

Saya meloncat ketika Ozil melesakan gol cantiknya, lalu berteriak kecewa ketika Boateng melakukan kesalahan yang bikin Italia mengimbangi skor lewat penalty. Yes I am that into football. Tetiba lelaki di depan saya persis berteriak, ‘German CUNT’, dan saya dengar itu, lalu lelaki sebelahnya menatap wajah saya. Saya tidak berpikir macam-macam saat itu karena terlalu sibuk sama pertandingan yang akhirnya setelah melewati perjalanan menegangkan, dimenangkan oleh Jerman, tim kesayangan saya. Lalu saya lupa pada kata-kata itu.

Sampai ketika saya cerita pada sahabat saya dan dia kaget, dan berharap saya tidak menanggapinya serius atau mengambil hati kata-kata itu. Karena dia bilang seperti itulah maka saya penasaran untuk menggoogle apa arti Cunt, lalu tetiba saya sadar, sesadarnya bahwa kata-kata itu ditujukan bukan pada penggemar Jerman yang lain, tapi spesifik pada saya. Kata C itu merujuk pada vagina, kalau dalam bahasa Indonesia yang ditujukan untuk menghina seperti kata pelacur. Saya langsung lemes, sedih, sesedih-sedihnya. Kepercayaan diri saya jatuh seketika. Salah saya dimana?

Saya curhat pada temen perempuan saya dari Amerika, dia menjelaskan ‘C’ word itu adalah seburukburuknya kata yang ditujukan pada perempuan di negaranya, dan haram disebut di tempat umum. Lalu dia yang juga pernah mengalami pelecehan seksual bilang, butuh waktu buat kita perempuan mencerna memang, apalagi di dunia yang kata-kata buruk terhadap perempuan kadang dianggap hal biasa. Bagus saya segera meyadarinya, bahwa saya berhak marah dan sedih di saat bersamaan itu adalah benar.

Pelecehan seksual tak harus fisik tapi juga verbal. Apa yang saya alami semalam adalah bentuk pelecehan seksual. Apa itu pelecehan seksual? Dalam Undang-Undang Kesetaraan 2010, pelecehan seksual adalah bentuk dari diskriminasi yang bisa dibawa ke pengadilan. Pelecehan seksual adalah perilaku yang tidak diinginkan yang bersifat menghina dan membuatmu merasa terintimidasi, dipermalukan secara seksual salah satunya lewat komentar atau canda. (https://www.citizensadvice.org.uk/discrimination/what-are-the-different-types-of-discrimination/sexual-harassment/)

Saya lempar cerita ini ke grup di whatsapp dan mendapatkan reaksi yang beragam. Teman lelaki saya bilang bahwa itu tidak masuk dalam kategori pelecehan seksual dan C word itu biasa aja digunakan di negara ini termasuk di Australia. Lalu kawan lelaki dari Australia bilang, ntar dulu, kalau gue ngomong C ke pacar gue, dia juga bakal ngamuk. Temen perempuan saya lain bilang,’gue ga keberatan kok dikatain C, buat gue biasa aja.’ Lalu sahabat saya Dan bilang, betapa kawan lelaki saya yang pertama bilang itu dari perspektif lelaki, disebutnya sebagai Mansplaining! Dan ga  satu pun dari kami yang berhak menyebut bahwa Nita bukan korban. Itu seperti yang banyakan terjadi, korban disalahkan.

Pengen lari menangis di pundaknya seketika. Terima kasih untuk kata-kata yang membuat saya merasa tegar dan didukung. Saya korban dan jangan lagi disalahkan untuk apa yang terjadi. Ketika temen saya yang lain bilang,’Lu milih sepakbola, olahraga yang penuh kekerasan.’ Ya Tuhan, bahkan ketika perempuan menikmati pertandingan tinju, tidak ada satu pun orang yang berhak menghinakan dan melecehkan pilihannya. Sedih….

Ketika kawan perempuan saya bilang, dia ga keberatan dipanggil C word. Itulah cerminan perempuan kebanyakan, menerima hinaan sebagai hal yang wajar. Saya tidak. Tidak sama sekali. Itu menyakitkan! Seperti kaum lelaki di dalam pub itu semalam, saya berhak berteriak, dan menikmati pertandingan sepabola sama seperti berhaknya saya berdansa sesuka hati tanpa diganggu siapa pun.

Tadinya saya berharap tidak mendengar kata-kata itu, tapi sekarang saya bersyukur mendengarnya, lalu melemparnya sebagai bahan diskusi. Saya jadi belajar betapa rentannya perempuan dilecehkan dalam verbal, betapa lalainya perempuan mencerna itu sebagai sebuah hinaan. Butuh waktu buat saya untuk bisa meredam marah dan sedih lalu menumpukan kembali kepercayaan diri untuk kembali ke ruang publik dan menikmati lagi pertandingan sepakbola bersama kawan-kawan di pub. Tapi takut dan lalu menghindar? Tak ada dalam kamus saya, tidak juga kamu.

sexual harrasment

Kenapa Setia Menulis di Blog?

Standar

Saya adalah orang yang beruntung, dibayarin sekolah di luar negeri, berkesempatan membaca lebih banyak buku di perpustakaan secara gratis dan mendengarkan langsung kuliah dari orang-orang beken yang selama ini bikin menganga dengan tulisantulisannya. Saya orang beruntung mendapatkan kemewahan ini, bahkan lebih beruntung dari anak-anak muda di Inggris yang harus membayar mahal untuk kuliah. Tentu saja saya lebih beruntung dari sebagian besar teman-teman di kampung halaman yang juga harus menyisihkan sebagian besar tabungannya kalau tak minta mama papa buat kuliah lagi. Saya sendiri sadar diri, kalau harus biaya sendiri maka entah berpuluh tahun lagi baru bisa terwujud. Untuk semua keistimewaan ini, saya berterima kasih pada semesta, Alhamdulillah.

Karena setiap orang berhak untuk mendapatkan pengetahuan dan ilmu sebesar-besarnya, setinggi-tingginya, seluas-luasnya. Kalau saya tak bisa berdiri di depan kelas, berbagi ilmu dengan kawan-kawan, berdiskusi di panggung seminar, atau berorasi di lapangan, berbagi ide dan pikiran, maka blog ini adalah sarana saya berbagi. Karena saya engga ingin ilmu yang saya dapat membusuk di kepala karena tersimpan terlalu lama tanpa dituang.

Sejak sampai di London, saya sudah niatkan untuk berbagi apa pun yang saya dapat dan alami selama di sini. Bukan sekedar berbagi tapi juga membantu saya mengingat agar tak lupa pada semua berkah petualangan ini. Bahwa saya ingin, kamu juga bermimpi lebih tinggi, lebih luas bercita-cita dan berusaha lebih keras untuk mewujudkannya. Bahwa saya ingin kamu percaya bahwa semua hal adalah mungkin selama kamu berusaha dan tentu saja, saya masih percaya pada doa dan doa keluarga terutama ibumu. Hi mam!!!!

Sahabat saya Gamal Albinsaid, Hi mal…. Selalu mengingatkan bahwa sebaikbaiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya. Kalau saya belum bisa mengamalkan apa yang saya pelajari di sini secara nyata, barangkali dengan berbagi, kamu bisa membantu saya mewujudkan segala ide yang tertuang dalam blog ini.

Saya ingin kamu iri, iya iri dan galau, tapi bikin yang negative itu jadi pacuanmu untuk mengejar mimpimu lalu lantang teriak pada saya, kalau Nita bisa, kenapa saya engga!… do it! saya ingin kamu ikut merasakan gembira dan sedih saya selama di London, karena sebenarnya merasakan segalanya sendirian itu engga enak hahaha…

Makdarit ketika saya diminta menulis dalam bahasa Inggris di blog ini, hanya sebagian saya kerjakan sembari melatih bahasa Inggris saya. Sekalipun kawan bilang, saya mestinya sudah bisa bilang adalah bagian dari dunia karena itu dunia juga perlu paham isi kepala saya. Maka dengan senyuman saya Cuma bilang, saya lebih senang berbagi dengan kawan-kawan di kampung halaman terlebih dahulu. Saya masih akan berkesempatan untuk bicara di forum dunia, mungkin besok, lusa, atau di kemudian hari dan itu pasti… tanpa jumawa, kita perlu mengirim sinyal mimpi pada semesta.

Saya hanya berharap apa yang saya bagi di sini bisa bermanfaat… terima kasih sudah mampir.

Catatan Dari Kuliah Umum, Tariq Ali di Marxim 2016 – The American Empire and Its Discontents

Standar

Tariq Ali dikenal sebagai penulis, pengamat politik, kolumnis dan seorang sosialis. Saya mengenalnya murni dari empat buku fiksi sejarah tentang Islam di Eropa sejak 2006. Saya bertemu dengannya di Jakarta 2011 dan ketika mendapati informasi dia akan memberikan kuliah umum, saya segera mendaftar, dan membayar tiket seharga 5 Poundsterling.

Tariq membuka kuliahnya lebih lama dari 30 menit yang disediakan panitia, tanpa teks. Beberapa point yang menurut saya menarik dari kuliah tersebut adalah pertanyaan, kenapa tidak ada yang mempertanyakan kejahatan militer Amerika yang dilakukan sejak perang dunia pertama? Demokrasi di Amerika dibangun di atas darah pembantaian orang asli Indian. Amerika memilih persahabatan dengan Eropa, kumpulan negara kolonial yang menjajah separuh muka bumi. Lalu memilih negara komunis seperti Soviet sebagai musuh demokrasinya. Uni Soviet was fine dibawah pemerintahan komunisme kata Tariq, sampai perang dingin terjadi.. Satu persatu negara berafiliasi dengan komunis versi Rusia menjadi musuh Amerika, yang dengan kemampuan geopolitiknya menjadi musuh bersama negara dengan dasar demokrasi dan liberal.

Di Asia adalah Vietnam, Kamboja. 1965, Amerika berada di belakang pembantaian orang-orang yang dituduh komunis di Indonesia, kemana suara negara-negara sosialis komunis lainnya ketika itu? Kenapa Cina, Rusia tidak membantu Indonesia saat itu? Kenapa tidak ada gerakan leftish international yang mempertanyakan peran Amerika di Indonesia ketika itu?

Ketika Tariq menyebut Indonesia, saya tetiba merasa berdebar, terima kasih sudah mengingat kisah kelam dari negara saya.

Tariq juga menyebut masalah yang terjadi dengan kalangan Leftish adalah rendahnya solidaritas di antara kalangan sendiri. Bergerak sendiri-sendiri. Marxism di kalangan intelektual Cuma jadi hal yang fashionable tanpa realitas aksi bersama untuk mengubah sesuatu.

Kembali contoh dia berikan, kenapa Jeremy Corbyn menang telak di pemilihan ketua partai buruh tahun lalu? Karena dia berani mengungkapkan hal yang selama ini Cuma jadi ideology bersama di kalangan leftish. Kenapa dia sekarang diganggu? Karena apa yang dia omong ga masuk akal bagi timnya sendiri, mereka orangorang lama dari zaman Tony Blair yang membusuk di Parlemen. Kita punya satu harapan untuk menentang kapitalisme, dan itu sekarang tak lagi solid. Yang terburuk adalah Partai Buruh akan kembali terpecah.

Kembali ke ‘US Empire.’ Ketika eropa dengan ‘kesadaran’ meninggalkan negara jajahannya, keluar dari model kolonialisme dari benua Afrika, Asia dan Timur Tengah, lihatlah apa yang dilakukan Amerika. Dengan kekuatan militernya mereka mengendalikan Afganistan, Baghdad, lalu Syria, Lebanon, Libya. Membuat Timur Tengah ‘demokrasi’ dengan menyerahkan demokrasi ke tangan boneka yang mereka tunjuk untuk Mesir, Irak. Aliansi Amerika di Timur Tengah adalah Saudi Arabia dan Israel, Iran punya perjanjian tersendiri dengan Amerika, yaitu menghentikan nuklir. Tentu bukan cara yang sama yang perlu dilakukan oleh negara-negara lain untuk menghentikan militer Amerika. Mari lihat Al Qaeda dan Isis dari sisi berbeda, mereka adalah bentuk perlawanan terhadap imperialisme Amerika dan ada banyak perlawanan yang dilakukan partial untuk menentang pengaruh kuat Amerika.

Bagaimana melihat kekuatan Kerajaan Amerika? Lihatlah dari pos militer yang dibangun Amerika. Di, Korea Selatan, Jepang dan Filipina untuk mengendalikan pengaruh mereka di Asia dan Pasifik. Lalu di Inggris dan NATO untuk mengendalikan Eropa, lalu di Timur Tengah dan Afrika, mereka menempatkan militer di Afghanistan, Irak, Mesir dan di negara yang ‘berkonflik’. Dan bicara tentang Eropa, Tariq mengatakan ‘Be FOOLISH if you think European Union is free from US influence. European Union is the gate for US influence, the corrupt union but not worse than Britain. US domination on EU is not something you can dismissible. The American Empire has never been powerful than now!’

Lalu bagaimana menentang pengaruh Amerika? Kata Tariq, dunia tidak pernah stabil, justru itu semua orang harus berpolitik, mengorganisasikan diri untuk melakukan perlawanan!

Di sesi tanya jawab, beberapa yang hadir memberikan tanggapan dan kritik bahwa Tariq terlalu pesimistik terhadap pergerakan kaum kiri. Bahwa dalam banyak moment, kaum kiri berhasil menunjukkan kekuatan seperti gerakan massa menentang Inggris menjatuhkan bom ke Syria, memaksa Blair mengakui bahwa serangan Inggris ke Irak adalah sebuah kesalahan, lalu gerakan aktivis lingkungan hidup. Lalu tanggapan bahwa berpolitik tak perlu melulu melalui partai politik karena ada banyak saluran berpolitik, seperti gerakan massa tadi.  Di antara pemberi tanggapan juga mengatakan selama secara ekonomi kita masih bergantung dengan sistem kapitalis dunia, darimana kita bisa membebaskan diri dari pengaruh imperialisme Amerika?

Tariq menanggapi mereka secara umum. Beberapa point terakhir yang dia berikan di antaranya:

  1. Jangan dipikir Amerika tidak menghadapi pertentangan di dalam negerinya. Obama tidak lebih baik dari Bush, kalau lihat catatan budget untuk militer mereka, jauh lebih tinggi. Obama ‘membunuh’ lebih banyak orang di Timur Tengah daripada Bush. Tidak ada yang berubah dari politik luar negeri Amerika, tapi bukan berarti tidak ada tentangan di dalam, hanya saja semuanya terpisah dan kecil kecil tanpa terorganisir.
  2. US democracy is planting in businessman and that is BULLSHIT! Silakan lihat lagi data pemimpin boneka yang didukung Amerika di Timur Tengah
  3. Bagaimana perjuangan nasib buruh di Amerika? Buruh yang mana? The issue of US labour is shifted to China! *disambut tawa penonton
  4. Saya bukan orang yang pesismistik, kalau saya pesimis, saya mungkin akan tinggal di rumah dan menulis novel saja. Saya berkeliling dunia, bicara di depan banyak audience justru untuk mengajak mereka bergerak bersama. Yang paling membuat saya terganggu – bothering- adalah melihat kaum intelektual yang terlalu optimistic dan membutakan mereka dari kenyataan yang terjadi.

Demikian sebagian dari catatan yang bisa saya bagi dari kuliah umum bersama Tariq Ali di Marxism 2016. Di dalam ruangan berkapasitas sekitar 200 orang itu, dipenuhi lebih dari separuhnya adalah mereka yang berusia di atas 50 tahun, bikin sedih sebenarnya karena ternyata politik memang masih dikuasai orang-orang tua. Tapi anak muda yang hadir kemarin itu juga luar biasa karena sebagian yang maju dan memberikan tanggapan adalah mereka yang masih muda, dengan semangat berapi-api sangat optimis bahwa anak muda bisa mengubah dunia. Saya ikutan bangga.

Tariq Ali