Monthly Archives: April 2015

Di Balik Kopi

Standar

Ada Cinta… percayalah…

Saya bukan kopi addict, tidak menagih ketika tidak bertemu dengannya. Pagi saya akan baikbaik saja tanpa harus bertemu kopi. Saya juga bukan penggila kopi, pengetahuan tentang kopi minim sekali. Saya penikmat, bukan pecinta, penggila apalagi obsesi padanya…

Kopi selalu membungkus cinta buat saya.

Saya penyeduh kopi yang baik kata papi, bahkan tanpa harus mencicipnya. Saat beliau masih ada, segala sesuatu yang beliau suka, saya membencinya, termasuk kopi. Saya tidak pernah minum kopi sampai beliau akhirnya berpulang. Racikan mami biasanya, satu sendok teh bubuk kopi dan dua sendok gula. Sementara saya, biasanya dibalik, awal maksud supaya tidak lagi disuruh papi bikin kopi, lah malah dibilang lebih enak dari buatan mami. Resep yang sama masih saya bikin buat diri sendiri, saya menjadi penyuka kopi pahit. Kopi memang sudah khitoh nya pahit, yang manis itu gula saudara.

Kopi membungkus sayang saya pada papi, meski ngedumel saban kali diminta bikin kopi, tapi selalu senang begitu beliau bilang, kopi buatanmu emang enak… mami kalah deh. Boleh jadi itu memang untuk menyenangkan saya saja, tapi papi itu orang yang pelit memuji, maka pujian darinya itu adalah hal luar biasa.

Pertama kali minum kopi itu 2003. Pertemuan saya dengan si kopi addict. Tidak tanggungtanggung kopi pertama yang dia berikan pada saya adalah espresso… inilah kopi sebenar-benarnya, ini adalah biangnya, yang menentukan racikan kopi yang beragam itu bisa enak atau tidak… begitu katanya. Kopi terakhir kami, espresso, sejak itu kami tak lagi berkabar… dimana kamu sekarang bray?

Hari ini kopi membungkus cinta saya pada pekerjaan. Sejak kerja sendiri, alias freelancer, kantor saya adalah kedai kopi satu ke kedai kopi lainnya. Bukan bergantung pada kopinya enak atau tidak, tapi pada pilihan kedai itu ramah colokan listrik dan wifi atau tidak. Itu saja… kalau dua syarat itu tak terpenuhi, maka batal saya kerja di sana, apalagi untuk bisa menikmati kopinya yang seenak apapun.

Kopi juga membalut cinta saya pada buku. Saat inilah kopi yang diminum harus terbaik, tentu saja menurut saya lah. Membaca buku sambil menikmati kopi tubruk wamena atau bali, itu hanya bisa kejadian di Anomali Coffee, slurrrup, jadi kangen tempat ini…. Atau kopi Aroma di Kedai 170 Bandung… oh surga itu datang dengan sendirinya…. Emang lebay… penikmat kopi itu emang lebay…

Kopi membungkus cinta saya pada kopi itu sendiri… saya bahagia sekali bisa dapat koleksi kopi dari berbagai daerah, mendengarkan cerita di balik produk kopi itu, dan menikmati kopi enak sendirian, hanya saya dan kopi… wanginya…. Rasanya….

Tetiba saya merindu papi, hari ini saya menjadi penikmat kopi dan punya cerita banyak,sayang kita tak bisa lagi berbagi pap…. Huhuhuu…

Ngupi yuk

kopi tubruk_kedai 170

3 Menjelang 40

Standar

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saban kali mengulang hari lahir, seperti dipaksa melakukan refleksi. Sudah berbuat apa sepanjang tahun kemarin, atau sepanjang usia yang sudah tidak lagi muda menurut takaran fisik bukan mental, dan apa rencana ke depan.

Tahun ini sibuk pastinya, sibuk berkompetisi dengan anak-anak yang lebih muda dengan kemampuan bahasa Inggris luar biasa. Sibuk berkompetisi dengan mereka yang lebih berprestasi di luar sana dan punya cerita hidup yang lebih menarik daripada saya. Saya sibuk mencari beasiswa sekolah lagi ke luar negeri karena di dalam negeri, biaya sekolah tinggi sekali yang sulitnya minta ampyun untuk bisa saya gapai megapmegap. Saya memilih berkompetisi untuk bisa pergi setahun saja ke luar negeri untuk balik lagi dan menunjukan saya bisa.

Kalau direfleksi bukan di kaki, sebenarnya saya ini berkompetisi bukan untuk mengalahkan orang lain, tapi mengalahkan ketakutanketakutan saya dan memutarnya menjadi sebuah kekuatan untuk mencapai mimpi. Aish berat, seperti motivator saja saya bicara ini hahahhaa. Usia 37 tahun loh, saya pikir mimpi mengejar beasiswa itu bakal mati setelah 35 tahun. Tapi dua tahun kemudian… saya masih kejarkejaran… halah…

Tahun ini saya berani memutuskan untuk bekerja sendiri, menjadi freelancer, membangun usaha sendiri, menanam modal pada… diri sendiri… sombongnya hahaha, loh kalau bukan pada diri sendiri lalu pada apa? wong usaha ga pake modal uang kok, hanya Koran bekas dan jemari tangan. Lalu modal lainnya adalah jejaring, itu yang penting… insya Allah masih semangat.

Tahun ini melewati berbagai cobaan cinta tssaah bersama Akang, tapi saya percaya kami berdua insya Allah masih diberi jalan untuk terus bersama. Kami berjarak secara fisik kembali seperti setahun pertama dulu, tapi itu karena tugas, dan kata Akang selama itu karena tugas dan pekerjaan jatuhnya adalah permakluman 😉 saling jaga rasa percaya itu emang ga mudah, tapi bukan ga mungkin toh…

Jadi begitulah… 36 yang berlalu dengan penuh kejutan, kebahagiaan, jatuh cinta berkalikali, kesedihan, dan keberanian. Bersyukur karena masih bisa diberi waktu untuk berbagi cinta, cerita, dan cita serta dikelilingi orang-orang terbaik yang lebih dari apa yang bisa saya harapkan, ini lebih enak pake bahasa inggris sebenarnya… surrounded by the best people I could ever hope for.

Tiga tahun lagi menuju 40, target hidup harus berubah, itu cita-cita punya rumah di kaki bukit, duduk manis di teras sambil menulis harus segera terwujud.

nita birthday