Monthly Archives: Agustus 2017

Dear Jon… After 330 more or less days …

Standar

Today, somehow, I come across your whatsapp account that I never ever want to delete. The last sentence from me re-appeared again…

‘tell me it’s a prank. Tell me it is not true. This is not the way you leave me.’

And my heart break, tears.. everytime I saw that sentence.

I miss you.. every silly words, sallow talk… even just the annoying words you said, ‘oh yeah.. oh yeah… you are gonna miss me this big… huge…’ annoys me, like you are everything in my life. Now and then, somehow you are.

I wrote this letter to you wherever you are before doing my work. You know that serious thing about saving life, serious talks, serious thought that I just want to leave aside for a while sometimes. sometimes I just want to talk about the shoelaces sweets you like, arguing why we need to leave sugar from life, how many coffee we had today, the drawing, the grass, even me.. yeah you always make fun of me, the crazy, silly, messy nita roshita… those messages on the phone at the middle of the night just to say… you haven’t sleep, aren’t you? crazy!

You are my right brain … the balance

I got married Jon, to my other half. I am happy just exactly you want me to be, you predicted. Thank you.

Grace married before me.

Areej is about to be known in Indonesia for her works in a movie. Too bad she is not coming in person, just by skype.

Andrew is a daddy now.

Mien, she is just got back to Whatsapp after months.

Ivana left the WA group but we keep in touch on facebook

Hossein, still in London, surviving.

Everyone we both know are back to their life. Everyone has change for sure as we want and expected to happen. It will be mad if we passed a year in London for nothing, right.

Every now and then, we are still talking about you. Wonder what would you might say if you see this and that, wonder what you would be if you were alive and kicking.

I miss you Jon, keep your eyes on us from wherever you are. Keep watching us my dearest friend.

Damn, tears!!

#23 Bukan Adaptasi, Tapi Regenerasi. Panggilan Untuk Menjadi Aktivis Perubahan Iklim. Review buku This Changes Everything by Naomi Klein

Standar

Peringatan; buku ini akan menggangu ketenangan jiwamu para aktivis lingkungan dan juga pekerja di sektor minyak, gas dan batubara….

1776, James Watt menemukan mesin uap. Di tahun yang sama, bapak ekonomi Adam Smiths bicara tentang pasar. Apakah sebuah kebetulan? Menurut Klein, tidak. Sejak itu revolusi industry dimulai, keruk perut bumi untuk batu bara dimulai, penjelajahan lapangan baru dimulai, berakhir dengan penjajahan kolonialisme. Akibatnya terhadap bumi mulai dibicarakan sejak 60’an, 70’an sampai hari ini. Apakah kita berhasil menurunkan emisi gas rumah kaca? Tidak! Apakah bumi makin terasa panas? Iya!

Dalam buku ‘This Changes Everything,’ Naomi memaparkan diagnose bak dokter terhadap isu perubahan iklim. Dibagi dalam tiga bagian, pertama bicara tentang bagaimana para pengusaha industri ekstraktif seperti minyak, gas dan batu bara bermain di sector politik dan media. Dengan pola komunikasi yang baik, mereka seolah-olah menampilkan bahwa kita tak bisa hidup tanpa ketiga hal ini. Padahal semua itu mitos. Jerman mengembangkan sumber energi terbarukan yang mengisi 25% kebutuhan energi negara itu. Cina menutup 80MW sumber energi batu baranya dan beralih pada energi terbarukan.

Lewat kekuatan politik, para penguasa ini menyumbang besar-besaran para politisi dalam kampanye pemilu mereka. Klein menuliskan seharusnya sumbangan dana kampanye untuk politisi tidak boleh datang dari sumber yang akan mereka atur, harusnya demokrasi dijaga dari uang kotor seperti ini. Jahatnya lagi, kekuatan politik mereka memaksa negara miskin pada pilihan, ‘pilih miskin atau polusi?’ kalau mau keluar dari kemiskinan harus rela terkena polusi. Padahal pilihan untuk mereka bukan hanya itu.

Dibagian kedua, bicara tentang gerakan-gerakan penyelamatan lingkungan. Bagian yang bikin saya terganggu adalah cerita tentang The Nature Conservancy yang mengembangkan sebidang tanah untuk wilayah konservasi, tapi ketika ditemukan minyak bumi di dalamnya, tanah dibeli oleh perusahaan minyak Mobil yang kemudian jadi Exxon Mobil dan dieksplorasi. Lebih konyol lagi, TNC memiliki saham di dalamnya. Damn!

Tidak Cuma TNC yang kemudian menjadi organisasi pencucian dosa para ‘penjahat lingkungan’ ini atau yang kami sebut sebagai Green Washing, tapi di halaman 196, Klein menyebut nama seperi Conservancy International, World Wildlife Fund yang bermain dengan pengusaha-pengusaha penghasil emisi karbon ini lewat pendanaan kegiatan mereka.

Tak semua organisasi lingkungan dunia bermain kotor begitu, Klein menyebut Greenpeace, Friends of Earth dan Rainforest Action Network di antaranya yang masih konsisten dan ‘bersih’ dalam gerakannya… buat saya pribadi, ini catatan paling penting. Ahay.

Klien juga membagi gerakan penyelamatan dunia ini menjadi dua, yang bekerja mengejar akar masalah seperti gerakan menolak industry bahan bakar fosil dan mereka yang senang memunguti buah manis seperti pasar jual beli emisi karbon / REDD, carbon trade-in, dan sebagainya, yang justru membuat gerakan lingkungan pecah, organisasi-organisasinya sibuk jualan karbon daripada menyelesaikan akar masalah. Apakah REDD berhasil menurunkan karbon? Tidak! Apakah aksi padamkan listrik satu jam berhasil menurunkan karbon? Tidak!

Tak ada juru selamat kata Klien dalam soal perubahan iklim, mau Michael Bryson yang punya Virgin group atau Bill Gates sekalipun, mereka tetap pengusaha yang melihat segalanya dari sisi profit. Dan perjuangan tak cukup mengandalkan satu atau dua orang pengusaha dunia untuk berinvestasi pada energi bersih.

Menurut saya yang menarik dari buku-buku Naomi Klein, dia tak Cuma membuat saya depresi membaca isinya. Tapi dia menawarkan sejumlah solusi. Di bagian ketiga, dia memaparkan harapan. Gerakan penyelamatan lingkungan sporadic dan local ternyata justru berhasil di banyak tempat. Memperkuat dan memberdayakan masyarakat adat adalah salah satu kunci keberhasilan menyelamatkan lingkungan. Lewat budaya dan hukum itu lebih kena daripada lewat isu ekonomi. Tentang bagaimana masyarakat adat diakui haknya secara internasional untuk hidup di suatu tempat. Bahwa ketika kepentingan bisnis masuk ke wilayah mereka, jika itu akan merusak air, tanah dan udara mereka, maka mereka berhak menolaknya. Tapi apa yang bisa ditawarkan para aktivis untuk menyelamatkan atau menggantikan penghidupan yang dijanjikan oleh para perusahaan ini?

Di South Dakota Amerika Serikat, Pine Ridge Reservation yang berhasil mempertahankan tanahnya dari rencana pengeboran minyak bumi, memiliki sumber energi dari matahari untuk listrik dan penghangat rumah. Ini contoh bahwa perjuangan untuk menyelamatkan lingkungan tak cukup dengan berkata ‘TIDAK’ tanpa memberikan alternative solusi bagi masyarakat.

Klien mengajak semua orang untuk menjadi aktivis lingkungan, lupakan ideologi tentang kapitalisme vs sosialisme, toh kita semua bicara tentang manusia, dan bagaimana menyelamatkan manusia di rumahnya yang hanya satu ini, bumi!

Jangan lagi menggunakan logo bumi sebagai bola biru yang cantik keluaran NASA tahun 1970an, bumi kita sedang sakit, tunjukkan itu agar semua paham masalahnya. Selama kita melihat bumi baik-baik saja, selama itu juga para penyangkal perubahan iklim dapat angin.

Jangan bicara tentang adaptasi, bahwa manusia secara lahiriah akan mampu beradaptasi dengan segala perubahan bumi. Itu namanya pasif. Klein bilang, do something, beregerasi, beralih, berbuat sesuatu yang berbeda. Parmakultur bukan monokultur, energy terbarukan bukan fosil, gaya hidup hijau bukan yang menghasilkan polusi. Tekan pemerintah dengan kekuatan politiknya untuk berpihak pada teknologi ramah lingkungan…

 

Sayang Klein lupa resep untuk media agar tak termakan think thank agensi penjahat lingkungan. Padahal secara pribadi, cerita tentang Green Washing para organisasi lingkungan ini sangat menarik, apalagi kalau ditarik pada pertanyaan, berapa sih yang dihabiskan perusahaan minyak, gas, batubara dan sawit *uhuk untuk media? … I am following the money 😊

Silakan membaca buku keceh ini selengkapnya, 466 halaman.

 

Kesempatan itu harus dipaksakan ADA untuk perempuan.

Standar

Dalam sebuah rapat tentang program pengembangan ekonomi.

‘Ibu A sudah belajar bahwa bekerja dalam kelompok lebih baik. Suami penyedia bahan baku, lalu tetangganya yang janda membantu menyiapkan materi lain. Tapi kadang suaminya ingkar, lalu si Ibu menegur, karena ini masalah bisnis, ada target yang harus dicapai.’ Cerita saya dalam sebuah presentasi.

Tanggapan peserta rapat. ‘Wah jangan sampai program ini bikin suami isteri ribut dan bercerai.’

Kalau situasinya terbalik, apakah pertanyaan itu akan muncul? Besar kemungkinan tidak, dengan alasan, isteri kan sifatnya membantu pekerjaan suami. Mereka tak melihat dalam kasus tersebut bahwa posisi ibu A dan suaminya adalah partner bisnis yang setara. Keterlambatan suplay bahan baku akan mengakibatkan produksi juga terhambat, tenggat waktu tak tercapai. Selesai.

—–

Dalam kesempatan lain.

‘Perempuan sebagai penerima manfaat atau subyek dalam programme?’

‘Oh dia menempatkan perempuan sebagai target pengembangan ekonomi, 50% malah. Bikin saya khawatir laki-lakinya tak dapat perhatian.’ Jawab peserta rapat lain

Lagi, kalau lelaki yang saya tempatkan sebagai subyek dalam program pengembangan ekonomi, apakah ada pertanyaan di atas? Dimana perempuannya? Barangkali tidak… program pengembangan ekonomi biasanya maskulin. Seperti saat pembangunan konstruksi, apakah perempuannya bisa ikut? Tetiba semua bilang, janganlah ini kan pekerjaan berat, angkut-angkut, kasian nanti ibuk-ibuknya cape.

Kata saya, ‘kalau perempuannya mau dan mampu, kenapa tidak? Belum pernah lihat perempuan mengangkut hasil panen berat berkarung-karung di punggungnya ya? Kalau dia mau dan merasa mampu, kasih kesempatan itu.’

————

Dalam undangan rapat

‘Kenapa undangan hanya ditulis nama lelaki saja?’ tanya saya

‘Kepala keluarga mbak, kalau bapaknya tidak bisa, kan ibunya bisa menggantikan.’

 

Lalu dalam kesempatan lain, saya hanya mengundang ibuknya

‘Mbak, kami kok tidak diikutsertakan. Diskriminasi neh.’ Kata seorang bapak.

Saya menjawab, ‘bapak sudah teramat sering dapat kesempatan bicara. Sekarang saya hanya mau mendengarkan suara perempuan. Nanti ada waktunya lagi saya melibatkan bapak yo.’

—-

Dalam 10 bulan terakhir, saya mendapatkan jabatan baru sebagai Gender Specialist dalam sebuah proyek pembangunan listrik dengan energy terbarukan, merangkap sebagai manejer untuk pengembangan masyarakat. Pekerjaan yang tidak mudah, to be honest, terutama pada bagian memastikan perempuan punya ruang untuk terlibat dalam pembangunan.

Tanggapan ‘ga asik’ di atas itu ga cuma datang dari lelaki, tapi juga perempuan sendiri. Tak Cuma dari warga desa yang rata-rata lulus SMP saja tidak, tapi mereka yang sudah bolak-balik bekeliling dunia dan lulusan luar negeri. Then when it comes to talk about gender equality, semua jadi seragam. Ini bukan lagi soal latar belakang Pendidikan, tapi soal budaya dimana mereka dibesarkan, budaya patriaki.

Saya tak belajar gender secara khusus, feminisme saya muncul berdasarkan pengalaman. Buat saya perempuan punya kesempatan yang sama dalam semua bidang, semua hal. Berdasarkan pengalaman di lapangan, kesempatan itu kadang tak ada kecuali diadakan. Ini bukan karena tak mau, tapi karena tak pernah ada peluang untuk maju dan berperan. Soal kemampuan, ah itu sih encer, semua bisa dipelajari dan diasah, asal kesempatan itu ada.

Kenapa harus ada 30% perempuan dalam sebuah organisasi? Karena harus ada perempuan yang duduk di sana, kalau tidak dipaksakan, maka selamanya kesempatan itu tertutup. Pasti adalah selama perempuannya berkualitas, kata orang. oh iya?

Kalau ada dua lulusan Sarjana, laki-laki dan perempuan, which one is most likely to be recruited?

Bekas bos saya dulu pernah bilang, laki-laki. Karena tidak akan ada permintaan cuti melahirkan 3 bulan pas saat pekerjaan lagi numpuk. Tak ada cuti haid (oh ini ada loh aturan dalam UU Ketenagakerjaan). Tak ada kerja yang dipengaruhi hormone, dan lain-lain….

Saya pernah menjadi bagian 30% itu, ditempatkan karena keharusan. Awalnya menyakitkan, karena hanya dianggap sebagai pelengkap, tapi kalau kesempatan itu tak pernah diberikan pada saya, barangkali saya tak jadi saya hari ini. Dengan kesempatan itu, saya bisa menunjukan kemampuan saya, terlepas saya haid dan ambil cuti satu hari setiap bulan, kerjaan dipengaruhi mood, bagian mana dari pekerjaan saya yang terhambat karenanya? Semua selesai dengan baik, saya bekerja secara professional.

Kalau kesempatan menjadi Gender Specialist sekaligus ComDev tak datang, saya belum tentu bisa menempatkan 30% angka untuk perempuan duduk di organisasi pengelola listrik, dan 50% target peserta training perempuan dan dua target unit bisnis yang dibangun oleh perempuan. Yakin tercapai? Sekali lagi ini soal kemauan, kemampuan mengikuti.

Menghadapi nyi-nyiran terhadap pengarusutamaan gender dalam program-program pembangunan, itu adalah bagian dari pekerjaan. Tambeng saja pas tugas utama, memberikan kesempatan buat perempuan ada dan berkarya!

SDGs-Factsheet_IND-Data-05

Sah Tanpa Sampah. Berpesta Tanpa Berhutang

Standar

Seorang teman bertanya, ‘habis berapa pesta pernikahan kemarin mbak?.’ Jawabku, ‘rasanya tak sampai 15 juta.’ Tapi jepretan foto sahabat saya Hilman Handoni, jelas membuat acara pernikahan kemarin sangat berkesan. Jarang kan melihat foto pengantin tertawa terbahak-bahak dengan tamunya. Sebagian besar pengantin hanya berdiri, salaman dengan tamu dan foto wajib di atas panggung.

Sebuah artikel di Vice menuliskan, rata-rata pernikahan di Indonesia didatangi 500 undangan dengan biaya total sekitar 300 juta rupiah. 500 undangan itu kategorinya medium, sedang saja. Untuk sebuah pesta super mewah, pasangan menghabiskan sekitar sekitar 900 juta hanya untuk dekorasi bunga yang berakhir di tempat sampah. Itu gila!!

Sejak awal, saya dan akang tidak ingin sebuah pesta mewah meriah. Kami hanya ingin syarat sahnya saja, selesai. Kalau pertimbangannya, pernikahan itu harus diumumkan, ah itu sudah tugasnya social media. Pernikahan kami seperti sebuah pernyataan politik, bahwa kami mencoba melawan arus tren modern untuk pesta meriah yang diselenggarakan wedding organizer (kapitalis), juga melawan kebiasaan tradisi, adat yang rumit, berbelit-belit, menghitung hari baik, berhari-hari melakukan ini dan itu. Kami tak ingin berhutang hanya untuk menyenangkan mata dan perut undangan, yang mungkin sebagian besar mungkin tak kami kenal.

Dibantu beberapa sahabat terdekat, kami menyiapkan semuanya secara gerilya, gimana caranya supaya rencana pernikahan tak diketahui banyak orang, bahkan keluarga besar. Makin banyak orang tahu, makin bikin pusing kepala dan hanya akan mengacaukan rencana semula. Hanya butuh persiapan tiga minggu saja, lalu keluarga besar diberitahu saat semuanya sudah siap. Memang dimarahi, karena tidak melibatkan keluarga, tapi mereka pasti mengerti, pada akhirnya pernikahan ini adalah tentang kami. Perjalanan hidup kami baru dimulai, dan tak ingin kami memulainya dengan hutang.

Meminimalisir sampah pesta. Bunga saja hanya tiga buket kecil ditambah satu bunga tangan dan setangkai lili di kantong jas akang, ini juga berkat Mba Ai, kami bahkan lupa tentang bunga. Alhamdulillah tak banyak sisa makanan, kecuali nasi yang dibungkus daun pisang.

Semua biaya kami tanggung berdua. Tak ada cerita tentang semua biaya harus ditanggung keluarga lelaki karena saya merasa masih sanggup berbagi. Tak ada permintaan macam-macam dari ibuk saya kepada keluarga laki-laki, kecuali pernikahan yang sah dan membuat kami bahagia…. I love you mami.

Tak ada pelaminan, karena kami bukan pajangan. Tak ada ratusan undangan, karena kami hanya ingin dikelilingi muka-muka yang kami kenal, yang tulus mendoakan kami. Mereka yang selalu ada buat saya selama ini, dan kami di depan nanti. Tak ada undangan resmi, kecuali sketsa sederhana yang saya buat sendiri. Begitu juga penanda pernikahan di acara, itu gambar dari Senja. Iya semuanya dilakukan dengan tangan sendiri.

Kami bahagia, akad berlangsung lancar, pesta berlangsung sederhana. Jalan masih panjang, jangan dimulai dengan hutang, kawan.