Monthly Archives: November 2012

krik krik

Standar

kata leander seharusnya kisah cinta gue dituliskan saja dalam novel dan dia yang akan bikin filmnya. visualisasi kisah cinta itu sudah ada di kepalanya.

judulnya… krik krik…

jadi pastinya ini berawal dari kisah nyata bagaimana perjalanan cinta gue itu ajaib luar binasa, mirip dengan kisah romantis hollywood… iye hollywood bukan bollywood. kenapa?

look at me… im not like other women.. im not tall, white skin, make up and long stright hair with a very white and wide smile. and i never consider myself as a pretty girl but sensual and sexy… yup.. i have to admit it *plak*

to be honest, no local guy would look at me twice, physically not interesting and once they talk to me, they will feel intimidated by my freedom of speech and mind.

jadi lah kisah hidup gue terbesar diwarnai oleh orang asing tapi bukan soal orang asingnya yang menarik, tapi profesi mereka, latar belakang mereka yang gue merasa sungguh ajaib.

pacar pertama gue itu scientist. pada kencan pertama kami, dia menjelaskan tentang percobaannya yaitu air dipanaskan di sebuah bejana tapi tak menguap malah bisa bergoyang mengikuti tempo musik. sumpah kaga ngarti bagaimana hal itu bisa terjadi, gue cuma manggut manggut terpesona… wah keren yak.

sekarang sudah Phd, cita-citanya jadi profesor dan dapat nobel. mikirin dinikahin sama neh orang adalah mimpi ga kesampean deh, sekolah mulu di otaknya… walhasil bubar jalan.

mantan gue ke dua adalah jurnalis yang dikejarkejar sama junta militer burma, namanya ada dalam daftar dpo pemerintah. dia lari ke swedia, ngumpet di thailand dan kami bertemu di jakarta. uhuy…. gue menyebutnya che quevara. hidup miskin di pelarian, lalu tak jarang menghilang tanpa kabar. ga siap gue beneran pacaran sama aktivis politik, jurnalis pelarian… deg-degan ga tau dia mati atau masih hidup. bagaimana bisa nikah sama neh orang? walhasil putus lagi….

sekarang burma sudah merdeka, dia kembali ke negaranya dan kaya raya karena kemampuan bahasa inggrisnya di atas rata-rata.. aman… balik lagi sama dia? ga ada cerita lah…

mantan ketiga, nah ini yang ajaib. personal bodyguard, mantan mliter ausie, penasehat keamanan… he made me feel like bond girl hahaha, hanya saja sebelum gue mati, kami berpisah. lagi-lagi ga lah, ga sanggup juga gue degdegan terus menerus.

sekarang dia di amerika latin untuk pekerjaan pengamanan, di antara perang gembong mafia narkoba dunia… aih mateee….

naaahhhhh sekarang gue punya akang tersayang… akang kabayan, yang gue cinta karena kesederhanaannya, menerima gue dengan segala kegilaan gue. dia yang membuat gue berpikir ulang kalau masih ada kok lokal yang punya pikiran terbuka dan bisa mencintai gue apa adanya.

tapi leander membayangkan kisah cinta gue begini; setelah kegaduhan, keriaan petualangan yang ajaib dalam kehidupan cinta gue, akhirnya gue menemukan kedamaian bersama akang di tengah sawah, makan siang di rantang dan temani suara tonggeret atau jangkrik…. krik… krik… krik….

Selamat Tinggal Manis

Standar

Bagaimana berucap selamat tinggal pada dua pohon sawo kecik yang berdiri gagah di antara jalan masuk kedai, yang indah ditembak lampu sorot pada malam hari.

Bagaimana berucap selamat tinggal pada kedai yang di sana aku habiskan obrolan panjang, pendek, serius, santai, becanda, tawa dan berbagi duka dengan sahabat? di sana menghabiskan berpiring-piring sarapan, makan siang dan makan malam.

Bagaimana berucap selamat tinggal pada burung gereja yang suka mampir di pinggir jendela, bernyanyi indah menyambut mentari pagi yang menyorot kejam kadang?

Sepuluh tahun sepuluh bulan….

Ini rumah kedua bagiku. Semangat pagi bertemu para sahabat, berdiskusi dengan yang kutuakan, berteriak-teriak bersama Adam Levine sepanjang hari. Tempatku belajar dewasa, menakar rasa, membaca peta konflik, mengatasi emosi, mengasah ide bahkan menemukan cinta berkali-kali.

Aku jatuh cinta pada tempat ini pada pandangan pertama, pada hari pertama melangkahkan kaki, pada pertama kali bicara pada bapak kepala sekolah.

Karena cinta, aku bertahan sepuluh tahun sepuluh bulan. Karena cinta ada percaya pada perjuangan yang dijalankan. Karena cinta tak ada secuil amarah tersisa saat harus berucap selamat tinggal.

Aku pergi karena harus pergi. Tibatiba gada mementung kesadaranku, sudah sepuluh tahun sepuluh bulan, saatnya beranjak pergi, belajar lagi tentang hidup, menemukan lagi pengalaman baru, saatnya menantang diri sendiri. Apa jadinya kalau aku jauh dari rumah?

Ini rumahku, entah besok, bulan depan, tahun depan, suatu hari akan kembali. Mungkin bukan untuk tinggal lagi, tapi melepas rindu pada sawo kecil, burung gereja, bunga kamboja, bangku kedai, pelukan teman, jabat erat kepala sekolah.

Aku pergi dulu yaaa… menuju sekolah baru. Doakan lulus dan cukup bekal untuk melanjutkan hidup…

Rindunya sudah datang bahkan saat aku belum benar-benar pergi…

Seharusnya Tetap Jadi Jurnalis

Standar

Terakhir menulis laporan jurnalistik adalah 2008, 4 tahun lalu, tentang malaria. Kangen banget rasanya terjun lagi ke lapangan, ketemu banyak orang, mengumpulkan data dan cerita lalu merangkainya dalam laporan panjang kalau bukan investigasi. Kangen juga bikin laporan investigasi, kangen adrenalin ngumpet-ngumpet cari informasi, mengamati subjek di lapangan, merekam diam-diam dan mendapat ancaman. Gue pernah di sana dan rasanya karir gue tak jelek sebagai jurnalis.

Lalu gue ditantang di tempat lain, gue mesti pasang muka dengan senyum lebar selebar senyum joker, tabah menerima komplen, mengelola konflik dan berhitung margin, keren sih jadi bisa excel, jago bikin presentasi dan melobi. Tantangannya memang beda, but do i like it?

Masalahnya adalah gue bekerja dengan tim, bagus atau buruknya kerja tim di belakang, tetap harus gue yang ngadepin klien, pasang muka lebar, menenangkan mereka, minta maaf atas kelalaian anggota tim gue. Pagi ini… I hate it… Im sick of it… and i know this is not my world… i cant put a faking smile any longer.

I miss my journalism moment, I miss chasing news and investigate… I miss the adrenalin…

Rindu di Sabtu

Standar

Matanya bengkak tapi karena tidur yang terlalu lama. Sudah sekian minggu, saban Sabtu tiba dia terbangun dengan muka sembab dan bengkak. Betul. Dia menangis sepanjang Jumat tengah malam hingga subuh menjelang. Setelah kantong air matanya habis pasokan dan lelah mendera, barulah dia terlelap. Lalu terbangun kembali menjelang siang.

 

Dia melangkah gontai menuju dapur dan sesekali menabrak meja karena kelopak matanya masih menempel satu sama lain dan nyawa belum lagi terkumpul. Dengan setengah sadar, dia menjerang air dan cuci muka di wastafel. Sesendok munjung kopi dan dua sendok teh gula dituangkannya ke dalam mug putih, cinderamata dari hotel yang pernah dikunjunginya tiga bulan lalu, sebelum sembabnya muncul saban Sabtu.

 

Empat minggu lalu, serasa baru kemarin mata yang kini sembab itu berbinar saban Jumat datang. Jumat cantik kata rekan sekerjanya . Karena cuma di hari itu dari empat hari lainnya, dia akan tampil maksimal. Blus berwarna cerah mengganti kaos yang saban hari dikenakannya. Rok sebatas dengkul yang disesuaikan dengan blus. Hanya sepatu boot dan tas punggung yang masih menyisakan ciri khas darinya. Rambutnya dikuncir kuda agar tato lambang taurus yang mirip sapuan kuas berbentuk tanduk banteng terlihat dan membuatnya merasa lebih seksi. Anti bulat telur dipilihnya untuk meyamarkan sedikit saja wajahnya yang bundar.

 

Jatuh cinta membuatnya mengubah penampilan. Jangan pernah berubah untuk orang lain, selalu itu yang dipesankan sahabat dan juga akal warasnya sendiri. Tapi cinta membuat orang lupa dan tanpa sadar berubah. Dia selalu muak pada tontonan sepakbola tapi sejak bersama lelaki itu, dia belajar mengerti sepakbola agar obrolan bisa terbangun. Dia selalu mual setelah minum kopi karena lambungnya yang sensitif, tapi untuk bisa menghabiskan waktu di cafe dan mengimbangi obrolan tentang kafein, dia rela merusak lambungnya sendiri. Dia bahkan menguras celengannya untuk beli sepeda agar di hari Sabtu bisa keliling Sudirman- Thamrin bersama lelaki itu. Cinta tak pernah benar-benar bisa membuat orang menjadi dirinya sendiri. Karena cinta soal kompromi bahkan ketika dia menerima lelaki perokok itu sementara dia selalu sesak napas karenanya. “Asal kamu tidak merokok di depan aku dan tidak menciumku sesudah merokok.” Sampai empat minggu lalu lelaki itu mengikuti aturan tersebut.

 

Dia mengaduk kopi belasan kali dengan mata kosong menatap kebun kecil di belakang rumah sambil bertopang dagu. Air kopi berceceran di sekitar cangkir, sampai beberapa di antaranya jatuh di lengan, dia tersadar. Dia hanya menarik napas dan melap ceceran kopi dengan serbet dapur. Lalu membawa kopi ke teras belakang rumah dan duduk berhadapan dengan pohon jeruk. Sesekali dia menyuruput kopinya sambil menahan napas dan air mata. Sekali lagi dia menangisi momen yang biasanya dia habiskan bersama lelaki itu.

 

Sampai empat minggu lalu, dia membuka mata dan memandangi wajah tirus berambut ikal di sampingnya. Hampir dengan posisi sama saban Sabtu pagi, mereka berhadapan dan lengan perkasa lelaki itu merangkul pinggangnya. Doa pertama saban pagi yang sama terucap, “Tuhan, jangan biarkan dia pergi.” Doa yang tak lagi dia sampaikan pada pemilik semesta dan penyimpan rahasia terbaik.

 

Kopi itu biasa dinikmati berdua dan lelaki itu akan bercerita tentang hari-hari kerja yang dilaluinya dan kerinduannya akan perempuan ini yang harus ditahan sampai akhir pekan. Aturan adalah aturan, meraka tak berbagi malam di hari kerja agar rindu bertumpuk di akhir pekan, agar jenuh tak cepat datang, agar tak gampang kecewa karena kesimbukkan membuat keduanya sulit meluangkan waktu di hari kerja. Sesekali masih menyempatkan makan siang berdua. Keduanya berusaha setia pada aturan yang disepakati bersama.

 

Sampai empat minggu lalu. Bisakah cinta begitu saja menghilang? Dia tak bisa menerima jawaban bisa ketika Jumat itu,  si lelaki tak datang menjemput. Sepanjang hari tak ada kontak bahkan tak menjawab telepon dan pesan pendek darinya. Dia pergi tanpa pesan sama sekali sampai empat minggu ini.

 

Perempuan itu hanya menerima jawab siangkat dari sekretaris kantor si lelaki yang habis kontrak dan kembali ke kampung halamannya. Perempuan itu tak ingin mencari tahu lebih banyak, sudahlah. Dia hanya meninggalkan email penuh pertanyaan yang tak terbalas.

 

Telepon genggamnya bergetar persis ketika kopi tinggal tegukan terakhhir. Perutnya mulai melilit dan mual, setelah ini dia akan meringis setengah hari terakhir di hari Sabtu. Dia merogoh kantong daster batiknya dan membaca pesan di telepon genggamnya,”I am just afraid to fall deeply in love with you. Im not ready and Im sorry.”

Diingatkan Kamu

Standar

Tengah malam kemarin sebuah email notifikasi datang lewat google, bahwa seorang kawan mengikuti blog ini. Dua hal yang muncul di kepala….

1. woalah iya ding gue punya blog di wordpress dan bukan cuma di mablanq.blogspot.com… di sini juga ada… sampai lupa punya blog ini. tengs ya sudah diingetin. terakhir update itu 1 tahun lalu *dweng*

 

2. ngapain kawan gue ini ikutin blog ini? blog ini ditulis dalam bahasa indonesia sementara dia hanya mengerti bahasa inggris. ada google translate sih, tapi masa segitu isengnya memasukkan semua isi tulisan gue ke dalam situ. kayak ga ada kerjaan aje.

 

atau…. ini yang paling gile, gue merasa dia menguntit hahaha… anyway, thanks for remind me of this blog… i should write more…

 

 

 

Hantumu di Bangku Itu

Standar

Aku pernah menunggumu di cafe itu dengan cemas.  Akan tampil seperti apakah kamu di pertemuan pertama kita tanpa embel-embel urusan kerja? Apakah aku berbusana layak malam ini? Apakah kita akan lebih jauh melangkah daripada sekedar canda tawa sebagai kawan baru? Apakah aku akan tertarik padamu dan kamu padaku?

 

Aku berhadap tidak karena kita berdua tertaut waktu yang tidak akan membuatnya menyempit kecuali keajaiban terjadi, kecuali kita berusaha. Sementara aku dan kamu terlalu sibuk untuk berjuang soal hati. Kita hanya tahu ada hal lain yang lebih penting daripada ini.

 

Lalu aku kembali di meja yang sama, di bangku yang pernah kamu duduki kemarin. Rasa hangatnya menjalar dari boong sampai ke hati lalu mengalir di sudut mata. Aku merindukanmu.

 

Sudut bibirku tersungging melihat bayanganmu tertawa padaku, menanatp matamu yang berbinar saban kali bicara. Aku menciumi baumu yang menempel di hidungku dan enggan ikut angin yang berlalu.

 

Aku memesan minuman yang sama, gelas yang andai saja sama, menjilati bibir kaca yang semoga saja bekasmu. Aku mendengar suaramu berbicara padaku, dekat sekali di telinga. Aku memutar ulang mimik wajahmu di setiap intonasi kata, jemarimu yang melayang-layang mengikuti kalimat. Aku dengar tawamu, dekat sekali. Aku bahkan merasakan napasmu yang hangat menyentu pipiku.

 

Aku tersenyum dan beranjak pergi. Kamu hantu dan kita telah bertemu tanpa kata yang tak pernah terucap. Aku dan kamu hanya tahu tentang rasa yang segera menghilang.

Galau Dalam Secangkir Kopi Hitam

Standar

Katamu hidup ini adalah kompetisi. Kalah dan menang jadi resiko, hadapi!

Katamu lagi, hidu ini adalah pesta, rayakan duka dan tangisi suka!

Tapi kataku, hidup ini adalah kopi, dia pekat, pahit tapi kalau tahu cara menikmatinya, dia akan selalu meninggalkan manis di ujung lidah.

 

Lalu kita seruput espresso itu bersamaan dalam diam. Kopi terakhir dan besok kursi di depanku ini akan kosong.  Wanginya akan menemani pagimu dan siangku… sendiri… Single espresso dan senyummu yang tertinggal di akhir hari.. manis.