Monthly Archives: Mei 2020

Orang Tak Suka Iklan, Agensi Harus Berubah, Media Harus Waspada. Review Frenemies karya Ken Auletta

Standar
Orang Tak Suka Iklan, Agensi Harus Berubah, Media Harus Waspada. Review Frenemies karya Ken Auletta

Setiap kali membuka salah satu situs berita online, jari saya lebih cepat menutup iklan yang pop up di sana sini. Kalau membuka situs di laptop, ada tawaran ad-block dan itu yang saya gunakan. Mengganggu sekali memang iklan-iklan yang tampil di laman artikel yang sedang saya baca, apalagi iklan jijik yang tampil seperti bagaimana cara menghilangkan kutil dan kutu. Sebagus apapun artikelnya, saya langsung tutup itu situs. Akang mengajari saya beberapa trik untuk memblok iklan. Saya paham iklanlah yang menghidupi media, dan semua platform tapi juga pahami iklan itu mengganggu secara tampilan dan seringkali mengganggu secara konten.

Buku Frenemies ini membahas bagaimana disrupsi mengancam kehidupan industri periklanan dunia dan bagaimana mereka yang masih ada bisa bertahan dan harus bertahan. Buku sebanyak 342 halaman ini cukup membuat saya kesel, karena di enam bab pertama, lebih banyak membahas kehidupan pribadi para juragan iklan yang ada di perusahaan Medialink, Dentsu, Havas, WPP dan teman-temannya. Bertanya-tanya apa hubungannya kehidupan keluarga Yahudi Sorrel dengan kesuksesannya memimpin MediaLinks selama 33 tahun sebelum akhirnya dipensiunkan paksa tanpa alasan yang transparan. Di bab ke 19, baru ada jawabannya dan buat saya tidak terlalu penting juga.

Buku ini sangat menarik ketika mulai bicara siapa sih Frenemeis nya dunia periklanan? Frenemies itu dalam bahasa sederhananya, teman tapi musuh, musuh tapi butuh. Mereka adalah kapitalis digital seperti Facebook, Google dan Amazon, perusahaan Media Berita dan pelanggan itu sendiri. Ini di luar persaingan antar agensi periklanan.

Dibuka dengan perdebatan seputar rabat yang diberikan oleh agensi kepada klien dan yang diterima agensi dari perusahaan media. Agensi adalah perantara antara perusahaan penghasil produk dan jasa dengan media tempat menyampaikan pesan. Rabat ini tidak pernah transparan dijelaskan baik kepada klien maupun media, pun harga iklan yang sebenarnya ditimpakan kepada klien. Semua informasi disimpan oleh agensi. Perusahaan-perusahaan yang beriklan kemudian menuding rabat sebagai bentuk korupsi, dan pembohongan publik yang seharusnya diaudit oleh auditor independen.

Tentang rabat kemudian merambat pada si pengacau Facebook, Google dan Amazon yang memegang data user tapi tidak transparan tentang bagaimana efektivitas iklan terhadap penjualan di platform ini. Ketiga kapitalis digital ini menolak mentah-mentah pengukuran dilakukan oleh pihak ketiga yang independen. Perusahaan pengiklan mulai gerah, mereka bilang “kami ingin iklan kami dilihat mata manusia, bukan robot.” Pengiklan perlu tahu siapa saja yang melihat iklan mereka, bagaimana iklan memengaruhi orang untuk membeli jasa dan barang mereka. Meski Facebook punya lebih dari 3000 kategori berdasarkan data pribadi user yang ditambang, lalu apakah data itu akan berpengaruh pada penjualan? Belum tentu. Apakah media yang dipasang Google Ad sesuai dengan segmentasi pasar mereka? Belum tentu juga. Para pengiklan mulai aware pada istilah “Brand Safety” sementara para kapitalis digital ini tidak punya filter untuk itu.

Saya mungkin salah satu pengguna internet yang mengacaukan data iklan hahaha. Saya blok, menolak cookies dan tidak membaca berita yang “click-bait” juga menutup video iklan dalam hitungan 5 detik. Itu sebab perusahaan besar seperti Cola Cola, Pepsi, P&G, Unilever tidak sertamerta ikutan tren memasang iklan di Facebook, Google ad dan Amazon. Mereka lebih fokus pada interaksi, membangun emosi dan keterlibatan dengan calon pembelinya. Kita akan bicara ini berikutnya.

Sejumlah aplikasi menawarkan juga model keanggotaan yang bayar agar tidak diganggu iklan. Saya sudah melakukannya dengan Spotify dan Viu. Apple pernah digugat oleh perkumpulan perusahaan periklanan karena model blokiran iklan bisa mematikan usaha mereka.

Frenemies berikutnya adalah perusahaan besar itu punya tim marketing sendiri yang belanja iklan sendiri ke media. Begitu juga media yang punya tim marketing dan kreatif yang mendekati perusahaan secara langsung tanpa perlu lagi mendatangi agensi. Ke depan, ini akan lebih sering terjadi karena tren marketing selanjutnya adalah beriklan lewat artikel atau dikenal dengan istilah Native Ad. Ada jurnalis khusus yang disiapkan untuk menulis konten kreatif pesanan pengiklan. Buat pengamat media, ini seperti sebuah peringatan keras untuk memantau independensi sebuah media berita karena iklan dan artikel berita semakin sulit dibedakan. Native Ad tidak menggunakan tag atau bendera Advertorial seperti sebelumnya, perang redaksi dan tim marketing akan semakin gencar. Di satu sisi, media perlu hidup lewat iklan, di sisi lain media harus tetap menjaga independensi nya.

Tidak sedikit media massa yang mencoba melepaskan ketergantungan dari iklan yang dapat menyetir redaksi lewat model keanggotaan, donasi dan juga subscribe. Tapi baik New York Times maupun the Guardian, masih belum mampu mereka menutupi operasional dengan cara seperti ini, masih merah pada anggaran 2016-2017. Ini peluang bagi agensi yang kreatif untuk bekerjasama dengan media menciptakan konten yang menarik bagi pembaca. (daripada menyerah pada iklan kutil dan kutu hayo)

Bagi Agensi sendiri, mereka harus berbenah. Tidak sekedar mengandalkan traffic dan views tapi sebaliknya, lebih kreatif menciptakan konten. Unique Selling Proposition sudah lewat masanya, sekarang harus bisa memberikan “Differentiated Value” untuk setiap brand yang dijual, Brand Safety mereka harus dijaga. Iklan Dove yang mengangkat “Sisterhood” lebih nyangkut daripada sekedar jualan sampo. Nike dengan Just Do It tetap lebih nyangkut daripada produk sepatunya. Value lebih akan mengangkat penjualan. Sementara untuk Native Ad, sebagai contoh, artikel yang mengkampanyekan cuci tangan yang bersih tentu akan meningkatkan penjualan sabun cuci tangan.

Pada masanya nanti, mesin memang akan menggantikan agensi ketika kulkas pintarmu menampilkan informasi produk apa saja yang harus dibeli dalam waktu dekat karena produk lama mendekati kadaluarsa. Kulkasmu membaca dietmu dan akan menampilkan informasi yang cocok dengan dietmu tersebut. Saat itu terjadi, siapa yang butuh agensi?

 

 

 

Hati Terlalu Luas Hanya Untuk Satu Cinta. Review The Japanese Lover – Isabel Allende

Standar
Hati Terlalu Luas Hanya Untuk Satu Cinta. Review The Japanese Lover – Isabel Allende

Ketika perang dunia kedua berkecamuk, sekitar 1939, Alma kehilangan keluarga Yahudinya yang dihabisi oleh tentara Nazi Jerman. Alma dijemput paman Isaac dan bibi Lilian di Polandia, menjadi anak adopsi kesayangan mereka dengan menyandang nama keluarga Balasco. Keluarga kaya di Amerika Serikat yang halaman luasnya diurus keluarga imigran Jepang, Fukuada. Di sanalah juga Alma bertemu dengan Ichimei, yang kemudian menjadi cinta sejatinya selama 70 tahun.

Keluarga Fukuada disingkirkan oleh tentara Amerika ke kamp sebagai tahanan perang, sebagai balasan terhadap Jepang yang menguasai Asia Pasifik di masa perang kedua tersebut. Alma terpisah dengan Ichimei. Pertemuan mereka kembali terjadi ketika Takao Fukuada dalam wasiatnya meminta agar pedang keluarga mereka yang ditanam di taman keluarga Balasco diambil. Di sanalah pertemuan kembali dengan Alma dan masa-masa percintaan mereka dimulai. Surat-surat cinta Ichi yang terkirim ke alamat Balasco, janji pertemuan dan pelampiasan cinta di kamar-kamar remang hotel penuh kecoa.

Sekali pun cinta setengah mampus, Alma tak rela kehilangan kenyamanan hidup di Sea Cliff dalam lindungan keluarga Balasco. Alma adalah seniman, pelukis yang menikmati kemewahan hasil bisnisnya, menikmati petulangannya keliling dunia bersama karya-karyanya. Sementara Ichimei adalah lelaki sederhana yang mencintai taman, menyerahkan seluruh hidupnya pada dunia spiritualisme yang penuh ketenangan. Menikahi Ichimei berarti harus kehilangan segala kenyamanan buat Alma. Dia pun tak siap menerima reaksi public yang akan menyerang mereka karena pasangan beda ras dan agama tidak mudah diterima Amerika saat itu.

Buah cinta bersarang di tubuh Alma, tanpa Ichimei tahu. Kepada kakak angkatnya, Nathaniel yang juga tahu hubungan rahasia mereka, Alma memohon untuk diantar ke Meksiko untuk aborsi. Saat berada di atas tempat tidur untuk mengeluarkan janin, Nathaniel membatalkan semuanya, dia melamar Alma. Menikahi sepupu memang tabu, tapi tak setabu menikahi orang Jepang. Kehidupan rumah tangan Nathaniel dan Alma tak berbeda seperti kehidupan kakak dan adik yang tetap menjalani kehidupan privasi masing-masing. Sampai suatu saat janin itu gugur dan mereka berdua pergi ke eropa untuk meredam sedih. Di sana, Alma dan Nathaniel bercinta dan membuahkan anak. Nathaniel tetap menjadi ayah dan suami yang baik bagi Alma begitu juga sebaliknya, hingga Nathaniel berpulang duluan. Nathaniel tetap membebaskan Alma mencinta Ichimei, dialah yang bilang “hati itu terlalu luas untuk ditempati hanya oleh 1 cinta.”

Di usia senjanya, Alma pindah ke panti jumbo diantar cucunya Seth dan di sana mereka bertemu Irina yang kemudian menjadi asisten pribadi Alma. Seth dan Irina lah yang mengulik kembali masa lalu Alma karena surat-surat cinta Ichi kali ini datang ke alamat panti jumbo itu. Seth mengagumi neneknya termasuk cerita cinta terlarangnya.

Kecuali Seth, semua memiliki rahasia dan ceritanya sendiri dalam cerita ini. Mungkin Isabel Allende melupakan satu karakter ini atau karena terlalu banyak yang ingin dia ceritakan. Ada cerita tentang homoseksualitas, tentang tentara khusus Israel Mosad, tentang pornografi anak, kehidupan keluarga Yahudi dan patriarki, dan perang. Isabel Allende selalu bisa memberikan informasi baru buat saya lewat fiksi-fiksinya yang kaya akan riset. Itu kekuatan Allende, bukan sekedar menceritakan fiksi tapi tentang sejarah. Ini adalah buku keempat Allende yang saya baca dan selalu bisa meninggalkan kekosongan dan kesedihan ketika usai membacanya. Huanjrit bagus amat… begitulah.

321 halaman dan ini adalah buku ketujuh yang selesai aku baca selama masa karantina Covid 19.

 

Hari ke 60: Pandemik Membuat Kita Egois

Standar
Hari ke 60: Pandemik Membuat Kita Egois

Hannah Arendt (vita active) menyebut tiga hal yang  harus ada untuk membentuk “aktivitas manusia” dan telah ada sepanjang sejarah. Pertama, “Labour” seperti juga makna harfiahnya, melahirkan, laboring diartikan kebutuhan dasar manusia sebagai mahkluk biologis. Makan, minum, tidur, berhubungan seks, bereproduksi. Kegiatan yang secara naluriah dilakukan untuk bertahan hidup. Kedua, “work” sebuah aktivitas penciptaan yang menghasilkan produk akhir, contohnya pohon yang ditebang untuk mendapatkan kayu, atau tanah yang dikeruk untuk pertambangan dan menghasilkan mineral, atau sebuah penciptaan karya seni. Itu adalah “work”. Lalu “Action” aktivitas interaksi manusia dengan manusia lain, menjalin hubungan antar manusia yang kemudian mewujudkan perspektif bersama, kesepakatan bersama. Dalam hubungan tersebut, jika tidak ada kesetaraan antar manusia di dalamnya, maka tidak akan terjalin kesepahaman bersama. Dengan kata lain, Action adalah wujud hubungan sosial yang membentuk sebuah tatanan bersama, dalam konteks sosial politik dan ekonomi.

Setelah dua bulan ada di dalam rumah, pandemic mengubah saya sebagai manusia, dan juga kamu. Kita dipaksa untuk kembali ke proses awal kemanusiaan, laboring. Kembali pada wujud makhluk biologis yang bertugas untuk memertahankan hidup selama pandemic ini. Saya mulai masak, berkebun jika sewaktu-waktu tak mungkin lagi pergi ke pasar atau didatangi tukang sayur. Kita bertahan di rumah agar virus tak datang. Kalaupun kita “work” tidak lagi untuk penciptaan jangka panjang. Siapa yang mau membeli pakaian di masa seperti ini? Atau lukisan, atau aksesoris. Kita hanya akan memikirkan yang esensial buat diri dan keluarga, makan.

Sementara itu, Action, bernama kehidupan bernegara mulai kacau. Ajakan untuk “berdamai dengan covid 19” dan melonggarkan PSBB dengan mengizinkan transportasi beroperasi dan mereka yang usia 45 tahun kembali bekerja, itu seperti menyiapkan tentara berani mati agar ekonomi negeri tetap berjalan. Jangan kita deh, saya, abai pada kenyataan pahit kalau RUU Minerba disahkan oleh DPR menjadi Undang Undang, bahkan tanpa perdebatan di sidang paripurna kemarin. Baca di sini https://money.kompas.com/read/2020/05/12/174738026/ruu-minerba-resmi-disahkan-jadi-undang-undang yang menguntungkan penguasa dan pengusaha tambang dan menghancurkan masa depan lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Yang menentang pertambangan ini bahkan diancam pidana dan denda hingga 100 juta. Pendemik membuat kita lupa, bahwa masih ada masa depan yang harus disiapkan. Kalau kita masih bernyawa hari ini, besok apakabar? Apakabar rumah yang kita siapkan untuk anak-anak nanti?

DPR memanfaatkan kesibukan saya dan kamu yang sedang menyelamatkan diri sendiri. Jahat, saya tak punya kata lain selain itu. Sementara pelonggaran PSBB yang sama dengan Herd Immunity yang dipaksakan, akan lebih banyak mudharatnya daripada faedahnya. Orang tetap harus makan, Nit. Iya memang, kita laboring, makan, minum, mati – yang terakhir is not optional karena pasti. Tapi itu tidak berarti kita menyerah begitu saja. Bukan kita perorangan yang bertanggungjawab dalam sebuah kehidupan bernegara.

Selalu ada yang membela, bahwa negara tak punya dana, tolong katakan itu pada budget milyaran yang keluar untuk kartu pekerja, sementara rakyat kelaparan, ratusan orang didepak keluar dari kontrakan karena ga sanggup bayar. Betapa saya patah hati berdiam diri di rumah. Semakin patah hati ketika ratusan anak Jakarta 90an yang punya privilese untuk tetap diam di rumah, berkumpul di Mc. Donald Sarinah hanya untuk nostalgia. Kamu sama sekali tak berempati pada saya, pada kita semua yang berdiam di rumah demi covid segera usai, agar bisa kembali “work” dan “action” menjadi manusia kembali.

Biarkan berdamai dengan covid itu dalam ranah personal, tapi jangan di ruang publik, tidak dalam bentuk kebijakan public yang mempertaruhkan keselamatan dan kesehatan jiwa warganya. Di hari ke 60 saya merasa percuma menghabiskan dua bulan di rumah sementara kita tak sama menghadapi covid ini. Saya berusaha sangat keras untuk menjaga kewarasan dan berdamai dengan situasi. Yang berbeda di 20 hari terakhir adalah meditasi, sembari menemui Allah dalam puasa yang sepi. Saya menjadi lebih spiritual dari biasa, tapi itu bukan berarti saya berhenti cerewet. Hidup ini bukan cuma perkara saya, saya, saya, dan keluarga. Saya tidak percaya orang yang larut dalam meditasi lalu melupakan situasi di sekeliling, justru sebaliknya. Karena menyatu dengan alam dan semesta, harusnya kita justru lebih peduli pada apa yang terjadi dengan kawan buruh lepas yang putus asa karena uangnya tinggal 450ribu entah sampai kapan.

Hari-hari patah hati, semakin sedih karena saat pemerintah melonggarkan PSBB dan kamu merayakan kembali kehidupan ekonomi, ada perawat dan dokter yang semakin berat tugasnya menjaga kesehatan diri, kamu dan kewarasannya sendiri. Mereka punya keluarga seperti saya dan kamu, mereka juga ingin pulang dan kalau pun harus mati, matilah dalam peluk kekasih hati diiringi tangis keluarga dan kerabat. Berhentilah egois, melek lah, bergerak, hidup bukan soal diri sendiri. Tidak pernah seperti itu.

Bisakah Demokrasi Selamat Dalam Kapitalisme Global? Bisa, Asal… Review Can Democracy Survive Global Capitalism by Robert Kuttner

Standar
Bisakah Demokrasi Selamat Dalam Kapitalisme Global? Bisa, Asal… Review Can Democracy Survive Global Capitalism by Robert Kuttner

Kuttner bilang bisa, asalkan kapitalisme dikembalikan pada prinsip semula dimana orang berkesempatan yang sama untuk berusaha dan mendapatkan manfaat bersama dalam sebuah persaingan yang sehat. Bisa, asal ada niatan politik yang menempatkan kepentingan warga di atas kepentingan elit politik dan para kapitalis. Bisa, dan itu dimulai dari perubahan di Amerika Serikat sebagai kekuatan besar dunia yang dapat memutar arah globalisasi dunia. Amerika pernah punya peran besar setelah Perang Dunia I, Perang Dunia II dan Perang Dingin. Maka Kuttner percaya, sekali lagi, Amerika bisa memberikan pengaruh besar untuk menyelamatkan demokrasi dari kapitalisme pluto. Syarat pertamanya, menyingkirkan Trump dari tampuk kekuasaan dan mencegahnya untuk memimpin kembali.

Kuttner menerbitkan buku ini 2019, dan dalam bukunya ini dia berharap banyak pada Sanders dan Elizabeth Warren untuk melakukan perubahan di Demokrat pada pemilu 2020 ini. Tapi seperti kita tahu, Sanders out, “keluar” dari kompetisi pemilihan calon presiden dari Partai Demokrat. Selesai membaca buku ini, saya hanya menghela napas, rasanya optimism Kuttner masih jauh dari nyata karena kelompok kiri dalam Partai Demokrat masih belum mampu menyingkirkan geng kanan. Seperti juga di Inggris dengan kalahnya Partai Buruh dan lengsernya Corbyn dari kepemimpinan.

Kuttner memulai buku ini dengan menyatakan diri bukan fans Marx tapi apa yang disampaikan Marx sangat penting menjadi landasan pemikiran. Kuttner menggunakan pendekatan sosial demokrat dengan dua landasan pemikir Karl Polanyi dan John Maynard Keynes. Keduanya menekankan pada demokrasi ekonomi, bahwa negara harus meningkatkan pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan bersama.

Kuttner memulai dengan sejarah, mulai dari pasca perang dunia pertama dan kedua. Keynes menginisiasi konferensi ekonomi dunia yang menghasilkan produk Internasional Monetary Fund dan Bank Dunia / World Bank 1944. Ide awal keduanya berdiri sangat mulia, membantu negara-negara yang merugi karena perang untuk memulai lagi kehidupan ekonomi mereka. Tetapi dalam perjalanannya kemudian, kedua lembaga dunia ini lebih didominasi oleh kepentingan negara seperti Amerika dan Uni Eropa, sementara dua kekuatan ini di dalamnya rapuh secara politik karena dikuasai oleh kapitalis global. Untuk mendapatkan bantuan IMF dan World Bank, sebuah negara harus mengubah kebijakannya secara fiscal dan ekonomi, menekan budget pengeluaran publik, privatisasi aset nasional dan membuka kesempatan usaha untuk perusahaan asing, serikat buruh diberangus. Kepentingan utama bagi Amerika, adalah negara-negara ini harus embracing democracy. Neo-liberalisme menjadi satu-satunya ideologi bagi IMF dan World Bank. Bagi negara-negara skandinavia yang memiliki model sosial democrat, globalisasi kapitalis mengancam mereka. Di negara ini kekuatan terbesar ada di persatuan serikat buruh yang dapat langsung memengaruhi kebijakan politik negara, bahwa bisnis harus mensejahterakan buruhnya, bahwa buruh adalah aset yang harus diperlakukan dengan baik. Kebutuhan dasar masyarakat seperti kesehatan dan pendidikan gratis dan diberikan dengan kualitas terbaik. Tetapi globalisasi yang dikuasai oleh pemain besar menentang kebijakan lokal negara tempat mereka akan membuka usaha. Di sinilah kekuatan kedaulatan negara dipertaruhkan.

Di sebuah negara yang demokrasinya mulai busuk dan kepentingan kapitalis elitis menguasai perekonomian, akan sangat mudah muncul sosok anti demokrasi yang akan mendapatkan banyak simpati dan suara dari rakyat. Bukan karena mereka menawarkan hal yang lebih baik, tapi karena sosok ini cukup membuat mereka bahagia. Sosok fasis kata Kuttner tidak hanya karismatik tapi juga menghibur. Kemunculannya sudah terbanyak sejak Trump, Marine Le Pen di Perancis, Geert Wilders di Belanda, Jair Bolsonaro di Brasil. Mereka menggadang-gadang pemurnian ras, dan kepentingan pribumi, serta menyalahkan situasi ekonomi yang buruk pada imigran dan muslim. Kalau bicara demokrasi, kehadiran far-right ini sangat mengancam.

Kuttner membandingkan negara skandinavia dengan Jepang, Korea Selatan dan Cina. Menurut dia, ketiga negara ini sebuah anomaly dari percaturan globalisasi. Mereka mampu meningkatan ekonominya sambil juga memertahankan politik dalam negerinya. Cina bukan negara demokrasi, kapitalisme mereka juga dikuasai negara. Ketika Cina masuk dalam WTO, para ekonom Amerika suka memperingatkan bahwa Cina tidak akan mengikuti Amerika, yang ada Amerika yang akan mirip dengan Cina. Politik Amerika dikuasai pemodal, para kapitalis untuk menyelamatkan keuntungan mereka. Beruntungnya Amerika masih punya parlemen yang cukup kuat untuk menjaga presiden agar tidak jadi dictator. Kuttner menekankan peran penting LSM untuk menjaga demokrasi dan eksploitasi ekonomi berlebihan yang dapat mengancam kehidupan manusia dan alam. LSM adalah control terbaik saat ini, tetapi harus dikritisi mereka yang mengeluarkan “sertifikat” hijau dan pro ham, karena permainan kapitalis akan sangat mudah membayar ini.

Kuttner menurut saya terlalu optimis ketika menuliskan buku ini. Sejak awal 2020, banyak hal terjadi di luar perkiraan. Politik Amerika dan Inggris tak banyak berubah, pandemic Covid 19 mengubah alur kehidupan dunia sepenuhnya. Tetapi sebagai sebuah referensi, tentu saja buku ini menarik untuk dibaca.