Monthly Archives: Oktober 2021

Apa itu konformitas? Apakah kita harus maksain diri untuk bisa diterima masyarakat? Review Convenience Store Woman – Sayaka Murata

Standar
Apa itu konformitas? Apakah kita harus maksain diri untuk bisa diterima masyarakat? Review Convenience Store Woman – Sayaka Murata

Kalau kamu perlu bacaan novel yang ringan, menyenangkan sekaligus mengusik ketenangan jiwamu, novel ini saya sangat rekomendasikan. Novel 163 halaman ini bisa banget dibaca dalam waktu beberapa jam saja.

Sayaka Murata mengusik saya dengan pertanyaan apa itu normality atau menajdi normal, atau konformitas? Buat saya yang “tidak normal” karena selalu mempertanyakan kenapa harus begini dan begitu, buku ini seperti menelanjangi saya dengan cara yang lucu. Masyarakat selalu menuntut setiap individu di dalamnya to be fit in, mengikuti aturan yang ada. Jika tidak, maka dianggap bukan anggota komunitas, antara dianggap tidak ada alias didiamkan seperti benda mati, atau diusir sekalian. Setiap kita “terpaksa” mencari kelompok-kelompok yang seradar atau memaksakan diri agar bisa diterima sekitar, ya karena kita memang makhluk sosial. Manusia seperti bukan kucing yang soliter, dia sejenis hewan komunal.

Keiko Furukura tidak pernah mengerti kenapa dia dianggap tak normal dan perlu disembuhkan oleh keluarganya agar bisa bertahan hidup di tengah masyarakat. Ketika di sekolah dasar seekor burung mati, ibunya bilang, “apa yang harus kita lakukan?” dia menjawab, “kita goreng, ayah kan suka.” Lalu semua orang memandangnya aneh. Dia bertanya, apa yang salah dengan jawabannya itu? Ketika dua kawan sekelasnya bertengkar, sementara yang lain berteriak agar mereka berhenti bertengkar, Keiko mengambil sapu dan memukul keduanya lalu pertengkaran berhenti. Orang tuanya dipanggil lagi ke sekolah dan Keiko tak habis piker dimana salahnya dia.

Dia tak ingin orang tuanya disalahkan karena tindakannya. Orang tuanya sangat baik padanya, ayah dan ibu dan adiknya sangat menyayangi dia, tak ada yang salah dengan mereka seperti yang selalu dituduhkan guru setiap kali dia melakukan hal yang dianggap salah.

Di usianya yang 36 tahun, Keiko masih hidup sendiri dan selama 18 tahun atau sejak dia kuliah, dia bekerja sebagai pekerja paruh waktu di sebuah toko serba-ada. Keiko menikmati hidupnya sesuai manual yang tertulis di buku, dia menyimak dan mengikuti apa yang dilakukan oleh kolega di tokonya. Kadang dia menyerap gaya bicara kawannya, dan cara berpakaian supervisornya. “Begitu barangkali seharusnya yang dipakai perempuan usia 36thn,” begitu pikirnya.

Hidupnya baik-baik saja, sampai ketika bertemu kawan-kawannya di luar toko. Mereka mulai mempertanyakan kenapa Keiko belum pernah punya pacar, kapan menikah, kenapa tidak bekerja yang “normal” seperti kebanyakan perempuan. Keiko menghapal jawaban yang disiapkan adiknya jika pertanyaan-pertanyaan seperti muncul, sampai ketika jawaban itu tak mempan.

Shirata lelaki yang sama “tak normal” nya dalam format berbeda dengan Keiko. Dia tak juga merasa diterima oleh masyarakat dengan “keanehan” cara berpikirnya. Mereka bertemu, sepakat untuk tinggal bersama tanpa harus ada ikatan demi menjawab tuntutan masyarakat. Shirata lelaki yang tujuan hidupnya hanya ingin rebahan selamanya, semua kebutuhannya dipenuhi dari honor Keiko sebagai pekerja paruh waktu. Keiko menganggapnya sebagai hewan peliharaan yang dia perlu kasih makan agar tetap hidup.

Sampai situ saja ya, silakan baca sendiri kelanjutannya.

Buku ini menarik karena punya cara berbeda dalam penyampaian pesannya. Lagi-lagi saya senang karena tak ada label tertentu yang disematkan kepada Keiko dan Shirata membuat saya berpikir saya mungkin Keiko dan Shirata at the same time. So fucking tired of what society demand us to do to say, to stay fit in. Murata tak mencoba menggurui ina inu, dia hanya mengalirkan cerita yang membuat pembacanya tersenyum sambil berpikir.

Ketenaran, Kekayaan dan Nafsu adalah Ketiadaan. Review The Nine Cloud Dreams – Kim Man-Jung

Standar
Ketenaran, Kekayaan dan Nafsu adalah Ketiadaan. Review The Nine Cloud Dreams – Kim Man-Jung

Sebelum menuliskan lengkap review ini, saya harus minta maaf di depan karena mungkin akan salah-salah nama yang disebut. Ada banyak tokoh dan karakter yang diceritakan dalam cerita 215 halaman dengan 23 halaman kata pengantar. Beberapa istilah dalam ajaran Budha juga sangat mungkin kelingsut dalam review ini. Maafkan

Kim Man – Jung adalah cendekia di abad ke17 di Korea. Di masa itu cendikia atau scholar itu ada tingkatannya dan yang paling tinggi adalah penulis sejarah dan penyair. Penulis fiksi biasanya menyamarkan namanya karena akan menjatuhkan status mereka dalam masyarakat sebagaimana pun populernya karya mereka. The Nine Cloud Dreams termasuk mahakarya literatur Korea yang pada abad 19 butuh upaya untuk menelusuri siapa pembuatnya, sampai akhirnya divalidasi kalau ini adalah karya Kim Man-Jung. Buku ini sudah dua kali diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan yang saya baca ini diterjemahkan oleh Heinz Insu Fenkl. Terjemahannya sangat indah, dan mudah dicerna kecuali pada bagian-bagian puisi karena bayangan saya pasti lebih indah dalam bahasa aselinya, bisa berima dan saling kait satu sama lain kalimat di dalamnya. Itulah sebab, selesai membaca buku ini, secara ambisius saya berharap bisa membaca dalam bahasa aselinya, atau paling tidak dalam bahasa Korea. Novel ini sendiri ditulis dalam teks bahasa Cina karena hangeul kan baru ditemukan kemudian.

Novel ini bercerita tentang biksu muda yang hidup dan belajar ajaran Buddha di pegunungan Lotus Peak selama 10 tahun, bernama Hsing-chen. Suatu hari dia melakukan perjalanan atas perintah gurunya dan di tengah jalan bertemu dengan delapan bidadari lalu terjadilah percakapan di antara mereka. Sepulangnya dari tugas, Hsing-chen tak bisa mengendalikan pikirannya dan terus terbayang-bayang kedelapan bidadari atau kalau dalam bahasa Inggrisnya peri itu. Ini adalah dosa dalam ajaran Buddha, dan Hsing-chen mendapatkan hukuman yang aneh. Menjalani kehidupan ideal bagi seorang laki-laki. Yang tidak dia ketahui adalah kedelapan peri itu juga dihukum karena mengganggu biksu muda ini.

 Hsing-chen terlahir kembali sebagai Shao-yu dari keluarga Yang yang bersinar karena ketampanannya dan kepintarannya. Pada usia 15 tahun, dia meninggalkan ibunya untuk ikut ujian CPNS kalau versi hari ini. Dalam perjalanannya dia bertemu reinkarnasi peri pertama yang menjadi anak seorang jenderal pemberontak, mereka jatuh cinta dan berjanji akan menikah. Ini janji pertama.

Dalam perjalanan berikutnya, Shao – yu beradu tanding kemampuan puisinya. Adalah jelmaan peri kedua yang menjelma sebagai perempuan penghibur, dialah yang akan menentukan pemenangnya dan si pemenang dapat tidur dengannya sebagai hadiah. Dengan puisi Willow yang dia buat untuk peri pertama itulah dia terpilih sebagai pemenangnya. Lalu mereka jatuh cinta dan saling mengikat janji. Ini janji kedua ya.

Ibunya pernah meminta dia segera menikah setelah lulus CPNS atas bantuan bibi-nya di ibukota kerajaan. Shao-yu punya selera tinggi, tidak tanggung yang diincarnya adalah perempuan yang dikabarkan tercantik di sana, putri seorang Menteri yang tidak pernah memunculkan wajahnya ke sembarang orang. Shao-yu melakukan trik sehingga dia bisa lihat anak Menteri dan jatuh cinta padanya. Ini jatuh cinta yang ketiga. Sang Menteri dengan senang hati melepaskan anak gadisnya karena Shao yu lulus ujian dengan peringkat pertama. Pertunangan diresmikan dan Shao-yu mendapatkan pelayan perempuan yang kemudian lagi-lagi dia jatuh cinta padanya. Jatuh cintanya yang keempat.

Pernikahan terus tertunda karena Shao-yu lalu terjebak urusan pemerintahan. Dia sukses meredam pemberontakan dari wilayah perbatasan karena merasa tidak diperhatikan oleh Kaisar. Dia sukses melawan pasukan Tibet dengan bantuan seorang pembunuh perempuan yang diutus membunuhnya yang malah berbalik mencintainya. Haiya, ini adalah jatuh cinta kelimanya.

Atas kesuksesannya Shao-yu diangkat menjadi Perdana Menteri Dengan statusnya ini, adalah Ibu Suri yang gemes menjodohkan putrinya Lin-Yang dengan Shao-Yu. Tetapi Lin-Yang tak ingin menyakiti putri Menteri tunangan Shao-Yu, dia bilang “pernikahan yang diawali dengan rasa sakit hati perempuan lain adalah tidak benar.” Ibu Suri lalu dengan brilian mengadopsi putri Menteri menjadi anaknya, dengan demikian tidak melanggar hukum karena keduanya adalah putri kerajaan yang tidak terpisahkan untuk berbagi suami. Maka demikian keputusan kerajaan, Shao-Yu memiliki dua isteri sah dan sementara ini empat selir, ditambah naik jabatan menjadi Adipati.

Dalam perjalanan hidupna, Shao Yu bertemu dengan dua lagi perempuan yang menjadi selirnya sehingga total enam selir dan dua isteri. Singkat cerita, mereka hidup bahagia dengan masing-masing isteri memberikan satu keturunan untuknya. Sampai di usia senjanya, Shao Yu memutuskan semua keduniawiannya yang sempurna untuk mengabdi pada Buddha.

Saat itulah dia bertemu kembali dengan gurunya dan tersadar bahwa semua keindahan hidup itu hanyalah ilusi, sebagai bentuk hukuman padanya. Shao-yu kembali menjadi Hsing-Chen yang kini memahami bahwa ketenaran, kejayaan, kekayaan dan kebahagian duniawi itu hanyalah ilusi yang telah diciptakan untuknya. Dalam ketiadaan dia menemukan ketenangan. Kedelapan peri itu pun mengabdi pada ajaran Buddha, mengganti pakaian mereka dengan jubah dan menggunduli kepala mereka. Hsing-Chen dan kedelapan peri mengabdi dan menyebarkan ajaran Buddha hingga pada waktunya mereka diterima surga.

Saya spoiler banget ya. Tapi kamu tetap harus baca dan ikutan terkesima seperti saya dengan kata-kata yang diterjemahkan dengan apik. Sebelum membaca novel ini, saya sudah riset lebih dulu review dari beberapa akademisi sastra dan juga aktivis perempuan. Salah satu yang saya ingat sekali, sebuah peringatan bahwa segala sesuatunya harus ditempatkan dalam konteksnya, yaitu abad 17 ketika poligami adalah sesuatu yang diterima dalam kehidupan bangsawan. Berat untuk tidak komentar tentu saja, kalau tahu pernikahan tidak boleh berdasarkan pada rasa sakit perempuan lain, terus kenapa tetap maksa nikah oi? Apa rasa cemburu bisa dimatikan dan dialihkan jadi rasa persaudaraan antar perempuan dalam sebuah rumah tangga dengan satu suami dan ketujuh perempuan lainnya? Setiap isteri dan selir punya ruangan masing-masing dalam kompleks rumah Shao-yu, yaloh ga perlu jauh-jauh jogging yak, cukup menyantroni setiap kamar dengan lari-lari kecil.

Terlepas dari itu semua, ini karya klasik yang tentu menarik untuk dibaca, melemparkan saya pada imajinasi kehidupan abad 17 di Korea dengan kehidupan kerajaan yang penuh intrik. Tanya dong kenapa saya pilih buku ini?

Kim Man Jung dikabarkan adalah leluhur Kim Seokjin, iya, kesayangan saya selama setahun ini, member dari BTS. Saya membayangkan Hsing-Chen aka Shao-yu adalah Kim Seokjin, apalagi ada kalimat dari salah satu perempuan itu bilang, “dia adalah laki-laki sempurna, yang akan sangat mudah kamu temui bersinar di antara kerumunan. Dia adalah phoenix di antara ayam-ayam” ((ayam-ayam))! Tetapi pada bagian dia berbagi cinta dengan kedelapan peri, saya berkali-kali jitak kepala, “amit-amin Jin, jangan begitu yak. Yaloh jangan sampai Jin.” Seperti time travelling, yang digambarkan Man-Jung di abad 17 adalah cicitnya Kim Seokjin di 2021, yang brilliant, bersinar, dan sangat kreatif dengan ide-idenya yang ajaib. Ah sudahlah… bacalah.

Learning Empathy with BTS – Park Jimin on Jimin’s Birthday

Standar
Learning Empathy with BTS – Park Jimin on Jimin’s Birthday

If you can choose your own super power to have, please choose Empathy! Everyone born with it but not everyone mastering it. It takes effort to embrace and apply your empathy skill. But first, what is empathy?

Simon Baron – Cohen on his book Zero Degree of Empathy said that empathy is a double-minded, how a person can put someone else, read their feelings and emotion as well as read changes on someone’s behavior or attitude toward him. There at least 12 factors according to Baron-Cohen that can impacted empathy circuit; intention, physical state, hormone, neurology, genes – genetic, corrosive emotion, in-group/out group, conformity/obedience, early experience, cultural sanction, threat (fight/flight). So, when we interact with others, these 12 factors will work simultaneously and or complementary to each other in our brain. Some of us are lack the capability to control choices through these 12 factors.

However, I am not from biology nor phycologist background and more to social science, therefore, I believe that early experience, cultural values exposure are keys to develop empathy. I don’t believe that any biological modification in your brain or genes or hormone can change someone’s personality yet their empathy.

Nevertheless, I agreed with Baron-Cohen on his said that empathy is the only way, the super power to solve conflict and other human’s problems. Even if there is only 0.1 percent goodness in someone, be focus on it and humanized them then crime and bad attitude might erode. Therefore, nurturing and enhancing empathy is really important and must include in education curriculum and childcare including in political life. Only with empathy, we can live peacefully.

Introducing empathy starts from the early childhood and that’s why I am pleased to join Bintang Ungu, a BTS ARMY communities since December 2020. We are trying to apply and spread good things that we learn from BTS, especially their power of empathy. On 10 October 2021, we had an early celebration for BTS-Jimin birthday by launching a free school for toddler in the scavenger village, North Jakarta. This is the second school that we built and supported and will be five more as part of Project 7 – Welcome Generation. Early education is a foundation to build new generation who has empathy, confidence, self-resilience, love themselves and ready to take a lead in facing changes in the future.

On the event, I brought my niece with me because I know empathy is not a theory you need to remember, it is something you have to experience it. I hope she will nurturing her empathy toward others and become part of the empathic Welcome Generation just like Park Jimin.

Park Jimin has an angel heart and never hesitated to show it in public. Showing empathy and compassion is not necessary by talk and showering your counterpart with advices. Empathy is something you show by attitude, by holding hands, hugging or even just sit next to someone who need a companionship and support is enough. Those are things that Jimin does to members who need one. He never failed to be there for Taehyung, his soulmate, the 95’s. Jimin and Jin are chaotic duo when they are both live and always make me laugh so hard. Jimin lovingly taking care of JK the maknae. When he is being sarcastic, he doing it cutely and no one can ever be mad at him.

Park Jimin has been through hell when haters mocked him. He did extreme diet but not eating for days to lose weight. He is perfectionist when it comes to dancing and many times hurt himself that Taehyung said, 괜찮아 it’s okay not to be perfect all the time.

Let me end it here by saying Park Jimin, Happy Birthday! You are lovely, cutie and sexy. Please stay happy. Jimin-aaah 사랑 해요!