Monthly Archives: Juni 2016

Review: No God but GOD by Reza Aslan… Belajar Lagi Tentang Islam Yang Damai

Standar

Sejak serangan terorisme 9/11 di Amerika, perang terhadap terror menjadi pembenaran untuk mendiskrimasi Islam dari berbagai sudut. Tidak perlu menyangkal bahwa di antara kita sesame penganut ajaran agama Islam ada yang memang radikal, jangankan terhadap non-muslim, bahkan terhadap saudara sendiri saja bisa gelap mata dengan dalih ajaran mereka adalah yang paling benar.

Buku ini diberi subjudul The Origin, Evolution and Future of Islam, yup, spectrum yang sangat luas yang ingin digambarkan oleh Reza Aslan, seorang sejarahwan asal Iran yang tinggal di Amerika, dalam 292 halaman. Apakah kumplit penjelasannya? Tidak ada yang sempurna dan selalu bisa dibantah isinya. Tapi yang Reza berikan dalam buku ini sungguh membuat saya justru merasa lebih bangga dengan Islam yang sesungguhnya. Bahwa Islam adalah agama yang sungguh damai, memanusiakan manusia, mengakui demokrasi, pluralisme, menjunjung tinggi derajat perempuan, dan melindungi orang miskin dan yatim piatu.

Buku diawali dengan beberapa inovasi yang dilakukan Muhammad setelah mendapatkan wahyu dari Allah SWT, diantaranya mendirikan zakat, yang wajib untuk semua umat yang mampu untuk membantu mereka yang tidak mampu. Dengan zakat, masyarakat saling membantu, istilah sekarang adalah subsidi silang. Lalu tentang pernikahan, Muhammad mengambil sistem patrilineal dengan beberapa perubahan. Dengan pengalamannya bersama Khadijah, istri pertama beliau, Muhammad memperbolehkan seorang istri mengelola harta pribadinya sendiri selama pernikahan. Muhammad melarang seorang suami menyentuh harta istri bahkan memintanya menghidupi keluarga. Jika suami meninggal, istri mewarisi seluruh hartanya; jika suami menceraikan istri, seluruh harta menjadi milik sang istri untuk dibawa pulang ke rumah keluarganya. Tapi salah satu yang masih diperdebatkan hingga kini adalah lelaki boleh memperistri beberapa perempuan, sementara perempuan dilarang memiliki suami lebih dari satu (hal: 61-63)

Soal jilbab, di awal Islam, menggunakan jilbab karena mengikuti apa yang dilakukan para istri nabi sebagai ibu dari semua umat. Kapankah itu mulai jadi wajib, para sejarahwan dan feminist masih berdebat. Jilbab dianggap sebagai bentuk perlawanan perempuan muslim terhadap hegemoni kekuasaan budaya arab. Tapi jilbab juga dianggap sebagai bentuk pengekangan hidup perempuan, bahkan dianggap sebagai symbol property suami. Apa pun alasan menggunakan jilbab, Reza bilang, sebaiknya dikembali kepada si penggunanya, perempuan.

‘The veil may be neither or both of these things, but that is solely up to Muslim women to decide for themselves. Whatever sartorial choices a woman makes are hers and hers alone. It is neither a man’s nor the state’s place to define proper “womanhood” in Islam. Those who treat the Muslim woman not as an individual but as a symbol either of Islamic chastity or secular liberalism are guity of the same sin: the objectification of women.” (hal. 75)

Islam mengakui pluralisme, bahwa ada agama Kristen dan Yahudi yang mendahului Islam di semenanjung Arab. Dalam Al Quran mereka disebut People of Book, atau Ahli Kitab dan mereka wajib dilindungi sebagai bagian dari umat. Ajaran Islam lebih dekat dengan Yahudi karena kepercayaan pada satu Tuhan atau Monoteisme, bukan berarti Islam ‘membenci’ Kristen. Dalam Al Quran menyebut nama Isa di banyak surat. Yang kemudian tidak disepakati oleh Islam adalah konsep Triniti dalam Christianity yang mengakui Jesus sebagai Tuhan. Sementara Quran jelas menulis kalimat Syahadat bahwa Tiada Tuhan selain Allah SWT tapi Muhammad tidak pernah mengklaim dirinya diutus untuk memberikan kebenaran baru adalah umat Yahudi yang menuding Kristen salah dan juga sebaliknya dan mereka mengatakan tidak ada yang ditempatkan ke surga kecuali Yahudi dan Kristen. Lalu perseteruan 1400 tahun ini belum lagi usai (p. 103-105)

Sejarah berganti ke masa menjelang Muhammad meninggal dan Reza Aslan membuat saya menangis. Jumat siang 632 masehi, Muhammad datang menghadiri solat jumat yang khotbahnya dipimpin sahabat Abu bakar. Sudah tersiar kabar Muhmmad sedang sakit, beliau datang lunglai dan dipapah oleh Abu Bakr. Tak sampai selesai ibadah selesai, Muhammad bergeser perlahan meninggalkan umat dan pulang menuju kamar Aisha – istrinya dan langsung lunglai. Beliau memanggil Aisah yang langsung mendekap Muhammad dan meletakkan kepala beliau ke atas pangkuannya sambil mengusap rambut beliau yng panjang dan membisikan doa hingga Nabi menutup mata untuk terakhir kalinya (p.110-111). Bahasa saya tak seindah Reza Ashlan menggambarkan dalam bahasa inggris, tapi cerita ini entah kenapa bikin saya menangis. Tuh kan sekarang juga meleleh deh huhuhu… bentar…. Mellow abis *shalawat nabi

Masalah kemudian dimulai ketika muncul pertanyaan, siapa yang akan menggantikan Muhammad sebagai pemimpin umat? Beliau tidak memberikan pesan wasiat apa pun pada siapa pun. Salah satu kesepakatan adalah bahwa Muhammad ingin agama dan politik terpisah. Beliau tidak ingin serta merta jabatan pemimpin umat dipindahkan kepada keturunannya atau keluarganya, melainkan harus diputuskan bersama melalui musyarawah di dalam masyarakat. Bukankah jelas sudah bahwa Islam menjunjung demokrasi. Berdasarkan musyawarah dan pertimbangan umat, maka kalifah atau pemimpin umat diputuskan milik Abu Bakar. Apakah memberikan kepuasan kepada semua anggota masyarakat? Tidak tentu saja. Sebagian menginginkan agar sepupu Muhammad yang juga sahabat terdekatnya, Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah sementara beliau sendiri menerima keputusan musyawarah dan lalu bertugas menjadi pelindung keluarga Muhammad. Ini adalah masalah politik pertama sepeninggal Muhammad yang terus bergulir hingga kalifah terakhir Usman bin Affan. Lalu umat terpecah menjadi dua, Sunni yang disebut sebagai Islam ortodok dan Syiah atau Shi’atu Ali atau Partai Ali. Cerita Ali yang memilih Baghdad sebagai pertama dan kematian Husyain di Karbala juga diceritakan oleh Reza dalam bukunya ini.

Dalam perjalanan sejarah Islam, dikenal juga Kharijites, faksi dari Syiah yang bertanggungjawab atas kematian Khalifah Usman bin Affan. Kharijites ini memandang siapapun yang melanggar surat dalam Al Quran adalah kafir dan harus diusir dari umat. Kharijites adalah kelompok Islam radikal pertama dalam sejarah. Meski jumlahnya tidak bisa mewakili umat, tapi radikalisasi dalam Islam ada dan selalu ada hingga kini.

Reza juga bercerita tentang lima rukun Islam dan lima ketentuan dalam hukum Syariah. Tapi yang menurut saya menarik untuk diceritakan adalah bagaimana Islam dipraktekan oleh umat. Cerita tentang sufisme diawali dengan Laila dan Majnun, yang ditulis dengan indah oleh Reza. Terlalu panjang kalau saya ceritakan di sini. Lalu tentang politik, perjalanan Islam tak cuma berhadapan dengan pengaruh barat di masa kolonialisasi tapi juga friksi di dalam Islam sendiri yang membuat umat terpecah. Dalam bagian ini Reza memberikan gambaran bahwa politik tidak bisa dipisahkan hitam putih dari agama. Ketika Eropa menguasai dunia dengan imperialismenya, Gospel, atau kristenisasi menjadi salah satu tujuannya.

Tentang demokrasi, semenanjung Arab bergejolak sejak 2009 di Iran, lalu di Mesir dan seterusnya. Tapi yang dilupa bahwa demokrasi bukan sekularisasi, bukan meniadakan agama dari urusan politik atau melarang agama di satu negara.

‘It is pluralism not secularism, that defines democracy. A democratic state can be established upon any normative moral framework as long as pluralism remains the source of its legitimacy’ (p. 270)

Dalam hal ini Reza menunjuk Indonesia bersama dengan Malaysia, Bangladesh, Senegal dan Turki sebagai contoh sukses dari rekonsiliasi politik dan agama, meski tak bisa disebut sederhana sebagai Islam yang pluralism sekalipun dalam sejarah Islam menghargai keberagaman. Sementara soal penegakan hak asasi manusia dalam Islam, ini masih perlu didebat karena sesungguhnya Islam mengajarkan tentang kestabilan hidup bersama dalam sebuah komunitas, kepentingan kelompok di atas kepentingan individual (p.272-273)

Salah satu yang menjadi catatan dari buku Reza adalah kita berhak untuk bertanya tentang fatwa, fiqih dan segala yang diterjemahkan dan interprestasikan oleh kaum Ulama, karena mereka adalah manusia yang rentan salah menerjemahkan. Kembalikan semuanya pada keyakinan pribadi.

‘What must be recognized, however, is that the peaceful, tolerant, and forward-leaning Islam of an Amr Khaled and the violent, intolerant and backward-looking Islam of Osama bin Landen are two competing and contradictory sides of the same reformation phenomenon, because both are founded upon the argument that the power to speak for Islam no longer belongs solely to the Ulama. For better or worse, that power now belongs to every single Muslim in the world’(p. 286)

Tulisan ini merangkum apa yang menurut saya pribadi menarik dari buku yang ditulis Reza Aslan yang sekalilagi berlatarbelakang sejarahwan dari Iran. Mempelajari Islam tentu menarik dari segala sudut dan tetap berpikir kritis untuk mempertanyakan isinya, tidak serta merta menerima segalanya sebagai sebuah kebenaran.

Happy reading

No God but GOD

Referensi:

Reza, A. 2011. No God But GOD. The Origins, Evolution and Future of Islam. London: Arrow Books

Jumat pagi, 24 Juni 2016. Sejarah dibuat, Kerajaan Inggis Minggat Dari Uni Eropa #mycheveningjourney

Standar

Rasanya aneh, terbangun dengan sinar matahari terang menderang sejak jam lima pagi setelah berhari-hari dirundung mendung, hujan dan badai. Tapi matahari hari ini tidak ada sama seperti hari-hari sebelumnya disambut gembira. Ada yang hilang hari ini, Kerajaan Inggris meninggalkan Uni Eropa dan Perdana Menteri, David Cameron pun mengundurkan diri dan Poundsterling jatuh, terpuruk terburuk dalam 35 tahun terakhir.

Rasanya tidak ada yang tidur tenang semalam. Sampai  jam tiga pagi, grup whatsapp masih berisik berdiskusi apa yang terjadi kalau Leave menang? Pagi ini terbangun jam lima pagi, timeline Facebook saya masih penuh dengan status panic, sedih dan marah karena Leave terus mendapat angka lebih dari Remain. Sampai akhirnya penghitungan ditutup dan Leave menang…. Tidak ada yang tidur malam tadi sampai pagi ini.

Seseorang beneran bernyanyi di jalanan depan rumah. Entah itu selebrasi atau kesedihan. Muka-muka lelah mungkin habis begadang pantengin penghitungan suara semalam terlihat di bus. Diam, sunyi… seorang perempuan menerima telepon dan terkaget-kaget, setengah berteriak di dalam bus, di dek atas.

‘What? We are leaving EU? Tell me it didn’t happen? I am really piss right now. Fuck!’

Sepanjang jalan membaca status kawan-kawan yang punya hak suara dan isinya menyedihkan. Frustasi karena engga tahu lagi musti apa. Sesuatu yang sulit diterima akal sehat mereka. Beberapa di antaranya:

London should be a country on its own…

HOW AGES VOTED
(YouGov poll)
18-24: 75% Remain
25-49: 56% Remain
50-64: 44% Remain
65+: 39% Remain

Cheers now (no offence mum and dad)

Good morning splendid isolated Britain

I feel genuinely devastated. Won’t be returning to whatever remains of the “United” Kingdom any time soon.

Saya tidak punya suara, tapi ikutan memantau yang terjadi dan berharap sangat sebenarnya UK Remain in EU. Dari banyak newspaper yang dibaca barangkali ini yang perlu dibagi, nanti saya akan kasih list referensi bacaan ya.

  1. Leave memainkan isu tentang nasionalisme, NHS dan pensiun. Bahwa kesejahteraan Inggris sudah dicaplok oleh imigran, lapangan pekerjaan dan hak NHS (kesehatan). Bahwa dignity mereka sebagai sebuah bangsa sedang tercabik cabik karena EU tidak mampu memberikan mereka jaminan apa pun.
  2. Leave didukung oleh generasi nostalgia. Dalam kampanyenya mereka mengeluarkan lagi gambar-gambar semasa perang dunia kedua. Dignity.
  3. Leave or Remain ini soal perang antar generasi. Dalam statistic YouGov misalnya ditulis anak muda 18-25 pilih Remain, dan angka yang pilih Leave ada di usia di atas 50an. Mereka yang memilih Leave ga Cuma generasi tua, tapi juga dianggap nasionalis berlebihan dan sebagian tidak berpendidikan tinggi. Sebaliknya Remain dalam demografi dari the Guardian ditulis adalah anakanak muda yang ingin bebas berimigrasi kemanapun mereka mau, berpendidikan tinggi. Data terakhir di media menyebut hampir 75% anak muda Inggris memilih Remain…
  4. Seorang pengamat bilang, kemenangan Leave adalah kegagalan Partai Buruh untuk meyakinkan anggota buruh di seluruh Kerajaan Inggris bahwa isu lapangan pekerjaan dan kesejahteraan buruh masih bisa diselesaikan tanpa keluar EU. Selain juga mencerminkan kemarahan terhadap Jeremy Corbyn yang untuk pertama kalinya satu panggung dengan Cameron untuk Remain!
  5. Media terpecah antara yang pro Brexit atau Remain. Jahatnya yang Brexit memainkan isu imigrasi yang sangat diskriminatif terhadap imigran, menyebut mereka invader (Daily Express) misalnya. Michael Falon harus membayar mahal karena menyebut seorang ulama sebagai pendukung Isis yang kemudian menang dalam pengadilan atas pencemaran nama baik, atau defamation law.
  6. Raja media, Rupert Murdoch punya dua surat kabar – the SUN dan The Times yang keduanya ada di pihak berbeda. Jadi sebenarnya dia tetap menang, antara Leave atau Remain. The SUN bersegmen, kelas menengah bawah, kurang berpendidikan dan berkampanye LEAVE berminggu terakhir. Terakhir mendapatkan teguran karena menggunakan wajah Ratu Elizabeth II di halaman depan, bahwa Ratu mendukung Inggris ke luar EU. The Times di sisi lain, adalah koran untuk kaum terpelajar, memilih Remain. Ketika ditanya salah satu surat kabar, Evening Standard, Rupert Murdoch secara pribadi memilih Leave:

“I once asked Rupert Murdoch why he was so opposed to the European Union. ‘That’s easy,’ he replied. ‘When I go into Downing Street they do what I say; when I go to Brussels they take no notice.” (http://indy100.independent.co.uk/article/this-terrifying-rupert-murdoch-quote-is-possibly-the-best-reason-to-stay-in-the-eu-yet–WyMaFTE890x)

  1. Kematian Jo Cox pekan lalu sebenarnya cukup menggambarkan betapa mengerikannya Inggris sekarang. Jo Cox berpesan bahwa yang diperlukan Inggris adalah penghargaan tertinggi pada nilai kemanusiaan dan keberagaman. Lalu dia mati di tangan orang yang berteriak ‘British First’. Semoga saya salah, bahwa rasisme tidak seharusnya terinstitusionalisasi dan dijustifikasi dalam balutan isu nasionalime!
  2. Isu perubahan iklim yang cross border ga bisa ditackle sendirian oleh Kerajaan Inggris. Begitu kata kawan saya yang seorang environmentalist.
  3. Efek domino dari minggatnya Kerajaan Inggris adalah Belanda juga berencana referendum, lalu Irlandia dan Skotlandia tetap ingin bergabung di EU. Maka tambah rumitlah persekutan uni eropa ini.

Seorang teman menulis statusnya tentang orang-orang yang kaget karena David Cameron mundur dari kursi Perdana Menteri padahal dia merasa Cameron masih melakukan tugasnya dengan baik, sementara orangorang ini memilih LEAVE. Apa yang bisa dipetik dari sana?

  1. Pendidikan politik adalah hal yang wajib. Suka tidak suka, belajar tentang politik, hukum dan hak sebagai warga negara adalah kewajiban bersama. Semua kudu mengerti apa konsekuensi dari pilihan politik mereka.
  2. Media alternative yang independen harus ada. Selama media dikuasai pemilik modal yang berelasi kuat dengan politisi, selamanya ruang redaksi tidak akan bisa netral menjalankan fungsinya memberikan edukasi pada publik.
  3. Mewajibkan warga untuk memberikan suaranya di hari pemungutan suara. Ini ide yang disampaikan teman saya dari Argentina, dia seorang konsultan politik untuk presiden Argentina. Dia bilang dengan mewajibkan itu paling tidak mengurangi angka abstain dan menjadikan hasil pemilihan menjadi lebih representative dan legitimize. Kesannya opresiff, tapi bayangkan ini sebagai kewajiban bayar pajak misalnya, kita membayar tanpa bertanya, tapi berhak murka ketika di korupsi. Maka dengan logika yang sama, kita bisa bilang, dengan memilih, memberikan suara, kita punya hak yang lebih besar untuk murka jika mereka politisi melanggar amanat yang kita berikan. Fakta bahwa angka Turnout 72% dari EU referendum ini adalah yang terburuk sejak 1992. Maka rekomendasi (3) barangkali layak dipertimbangkan, bukan cuma di Inggris tapi juga di Indonesia.

Kampus saya ini dikuasai partai buruh, cobynomics adalah salah satu kajian utama di sini. Beberapa kali mengikuti kuliah dan sedikit banyak memahami bahwa Kerajaan Inggris tak sedang berjaya, isu soal lapangan kerja, jaminan kesehatan, dana pendidikan dan riset, serta tempat tinggal sudah berat sebelum ditambah dengan isu imigrasi. Tapi keluar dari EU dari banyak referensi bilang, bukan jawabannya.

Untuk mengakhiri catatan sejarah hari ini, saya mau mengutip Owen Jones, pengamat politik idola saya yang masih muda dan sangat cerdas menggambarkan perspektifnya.

“If the left has a future in Britain, it must confront its own cultural and political disconnect with the lives and communities of working-class people. It must prepare for how it responds to a renewed offensive by an ascendant Tory right. On the continent, movements championing a more democratic and just Europe are more important than ever. None of this is easy – but it is necessary. Grieve now if you must, but prepare for the great challenges ahead.” (https://www.theguardian.com/commentisfree/2016/jun/24/eu-referendum-working-class-revolt-grieve)

Selamat menempuh hidup baru Kerajaan Inggris, wishing you all the best. Saya merasa beruntung berada di sini ketika sejarah baru dimulai 🙂

Inggris Thames

Referensi tambahan layak baca:

http://www.theguardian.com/politics/commentisfree/2016/jun/23/how-can-we-heal-a-nation-divided-by-the-referendum?CMP=fb_gu

http://www.theguardian.com/profile/owen-jones

https://yougov.co.uk/news/2016/06/24/brexit-follows-close-run-campaign/

 

 

Review: Bream gives me hiccups – Jesse Eisenberg … Menertawakan ironi

Standar

Selesai membaca bagian pertama buku ini, saya langsung bertanya sama diri sendiri, tentu saja, ‘is Jesse has an issue with his mom?’ karena setiap penulis selalu punya pengalaman pribadi di balik cerita yang ditulisnya. But who doesn’t? it doesn’t mean we hate our parents, we love them in our special way J

Bagian pertama buku ini bercerita tentang hubungan anak 9 tahun dengan ibunya yang ditinggal suaminya untuk perempuan lain. Tapi hubungan ibu anak itu dibalut cerita review restaurant yang dibuat si anak setiap kali dia dan ibunya pergi makan. Namanya juga cerita dari sisi anak kecil, cerita ini bikin ngikik sejak halaman pertama, tapi saban menjelang akhir cerita, Jesse menyelipkan kalimat yang selalu bikin saya tertampar.

‘Setiap kali orang dewasa mengatakan sesuatu, mereka pikir itu terbaik untuk kita. Padahal mereka hidup lebih lama dan bergaul dengan lebih banyak orang yang membuat mereka berpikir sama, seperti orang lain. Sementara saya, anak-anak, manusia baru, kami berpikir normal.’

Atau ketika dia bercerita bagaimana sejak ibunya ditinggal selingkuh oleh ayahnya, si ibu tidak lagi mau bergaul dengan sahabat-sahabatnya, apalagi mereka yang berpasangan. Ga mau jadi obat nyamuk, atau kalau istilahnya third wheel. Si anak kepikiran membawa ke atas sepeda roda tiganya ke kamar ibunya dengan menyelipkan pesan,’ini sepeda roda tiga dan kami menyayangimu.’ Ibunya menangis terharu tapi dalam hitungan menit dia berteriak… bawa keluar sepedanya, kotor tahu.

Mom….

Dalam beberapa cerita, si anak dipaksa berdusta oleh ibunya, untuk menjaga reputasi bahwa keluarga mereka baik-baik saja. Dia bilang, orang dewasa terlalu banyak dusta, kami tidak.

Di bagian akhir bab pertama si anak mulai mempertanyakan apakah ibunya benarbenar menyayanginya atau hanya ingin uang sang ayah, karena dalam perjanjian perceraian mereka, ayah akan membiayai semua kegiatan yang mereka lakukan bersama. Tapi ketika ibunya untuk pertama kalinya tersenyum tulus – dari banyak dusta- si anak yakin ibunya membutuhkan dia. Jesse menuliskannya dengan baik

‘Melewati masa susah berdua jauh lebih baik daripada menikmati hidup senang sendirian.’

Buku ini juga bercerita tentang hubungan kakak-adik, ayah-anak dan sahabat yang dikemas penuh humor. Dari cerita yang disampaikan dalam buku ini, saya makin jatuh cinta dengan Jesse Eisenberg, dia bisa tuh bercanda soal Marxist-Socialist, bahwa sebenarnya ga bisa lah semua hal dilakukan bersama-sama, apa mau mati juga kudu bareng?, panjang lebar Jesse bercerita tentang sejarah Serbia-Bosnia yang dibuat canda yang ringan. Dan yang paling seru adalah tentang sunat perempuan, dengan tokohnya adalah Harper, anak tingkat pertama kuliahan yang kaget dengan semua perubahan dalam hidupnya Harper bilang, kalau sunat perempuan Cuma untuk menyenangkan hasrat seksual lelaki, pengen rasanya dia kebiri semua lelaki, potong penisnya, biar tahu rasa! Kenapa harus perempuan yang menderita untuk kepuasan lelaki?

Harper mengajak kita sebagai orang dewasa untuk mengerti remaja putri yang mengalami masa puber, berhadapan dengan cinta pertama, seksualitas sampai emosi yang jumpalitan belum stabil. Orang dewasa akan mudah mengira dia gila, tapi dia bilang, yang dibutuhkannya cuma sebuah kebebasan untuk menjalani hidup dengan caranya, tanpa harus dihakimi. Bahwa yang dibutuhkan seseorang adalah sahabat yang mendengar bukan orang yang menghakimi perbuatannya.

Jesse bisa membuat saya tertawa dalam getir, menertawakan tragedy yang kalau saya membayangkan saya yang menulis pasti dengan cucuran air mata yang lebay. Salah satu yang membuat saya terkesan adalah ketika dia bercerita tentang ‘Self-Healing,’ begini singkatnya

‘Ibu bilang kalau kita sedih, tersenyumlah. Itu akan menstimulus otak untuk berpikir kita bahagia. Maka ketika saya  di phk, kemudian diusir dari apartemen karena tak sanggup membayar lalu ditinggal kekasih demi bos saya, saya tersenyum, saya bahagia. Ketika saya membunuh bekas pacar saya dan pacarnya, dan polisi menangkap saya lalu hakim menjatuhkan hukuman mati, saya tersenyum. Ketika listrik ratusan volt menyengat tubuh saya, saya bahagia, pasti saya akan berada di tempat yang paling membahagiakan.’

Bagaimana bisa tertawa untuk cerita seperti itu?

Membaca buku dengan 272 halaman dan habis dalam waktu satu hari (potong malam) saya dibuat tertawa terbahak-bahak dalam ironi. Bagaimana dia menaruh tragedy tak terduga di antara rentetan cerita lucu itu, luar biasa!

Jesse Eisenberg, di luar dugaan saya sebelumnya, humor yang luar biasa cerdas dengan range pengetahuannya yang luas… he must be a nerd! A very funny nerd!…

ps. a very good choice to break from dissertation!

jesse eisenberg

Fanatisme Membuat Kita ‘Gila’….

Standar

Ibu kos saya bercerita, pembunuh anggota parlemen dari partai buruh, Jo Cox memiliki gangguan jiwa. Sementara dari berita yang sama bilang kalau mantan pacar, tetangganya dan kawankawan dia bilang, lelaki itu memang pendiam dan penyendiri.

Lalu saya berpikir, pendiam dan penyendiri bukan berarti gangguan jiwa, dan lagi, kalau ini yang melakukan adalah mereka kulit berwarna – paling gampang memilah manusia dalam dua kategori; white and color, oh how suck! It is indeed!- maka serta merta media dan masyarakat akan memasukan dia sebagai teroris, lalu telusur lagi agama dan afiliasi politiknya… tapi begitulah bagaimana white supremasi masih berkuasa di dunia ini – dunia yang mana? Yang mundur ke belakang, ketika semua orang menjadi ‘gila’

Mental Illness menurut definisi kamus medis adalah:

men·tal ill·ness

  1. a broadly inclusive term, generally denoting one or all of the following: 1) a disease of the brain, with predominant behavioral symptoms, as in paresis or acute alcoholism; 2) a disease of the “mind” or personality, evidenced by abnormal behavior, as in hysteria or schizophrenia; also called mental or emotional disease, disturbance, or disorder, or behavior disorder;
    See also: behavior disorder.
  2. any psychiatric illness listed in Current Medical Information and Terminology of the American Medical Association or in the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders of the American Psychiatric Association.
    See also: behavior disorder.

See: http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/mental+illness

Sangat mudah memang berlindung di balik isu gangguan jiwa untuk meminta permakluman atas sebuah tindakan keji. Tapi bukankah gangguan jiwa punya penyebab? Ga mungkin orang gila tetiba…

Kais menjadi gila karena cintanya pada Laila. Cinta membuat Kais kehilangan akal sehatnya, mulutnya hanya bisa bercerita tentang Laila. Reza Aslan dalam bukunya, No god but GOD menuliskan dengan indah:

“Everywhere he went, he sang of Layla’s beauty, extolling her virtues to whoever crossed his path. The longer he went without seeing Layla, the more his love gave way to madness… Kais was mad, it is true. But what is madness? Is it to be consumed by the flames of love? Is the moth mad to immolate itself in the fires of its desire? If so, then yes, Kais was mad. Kais was Majnun (page: 200)

Kais tidak menyakiti siapa pun kecuali dirinya, dia berhenti bersosialisasi, dia berhenti makan dan minum. Kecintaannya pada Laila berujung pada kisah sufisme dalam buku Reza Aslan, kecintaan pada Tuhan, semesta.

Tapi pembunuh itu bukan Kais!

Ketika dia berteriak, Britain First, maka kita tahu, cintanya berlebihan pada negerinya, Inggris Raya. Bukan lagi cinta, ini fanatisme. Collins dictionary menerjemahkan fanaticism sebagai wildly excessive or irrational devotion, dedication, or enthusiasm’ ….. dedikasi irasional!

Seperti fanatisme penggemar sepakbola Rusia vs Inggris yang bertemu dan rusuh di Euro 2016 di Perancis. Fanatisme yang membawa pada kerusakan, pada kematian di ujung senapan ISIS. Fanatisme agama, pada kepercayaan bahwa agama dan kepercayaannya adalah yang paling benar. Marx tidak berlebihan ketika dia bilang agama seperti candu…. Membuat orang irasional, delusional. Tentu saja ini tidak akan bisa diterima orang mereka yang mengaku sangat beragama, yang mengubah diri menjadi malaikat bahkan Tuhan sekalipun. Lupa bahwa kita adalah manusia, yang dalam ajaran agama jelas dituliskan hubungan manusia dengan manusia sama pentingnya dengan hubungan manusia terhadap tuhannya.

Ketika Ibu Sunaeni pemilik warung di Serang yang ditutup paksa oleh satpol PP kemudian difitnah sebagai pembohong, dan dipercaya oleh sebagian yang mengaku beragama, don’t you think you happen to have a mental illness too? Bahwa sangat mudah memfitnah, melakukan yang paling dilarang TUhan untuk membenarkan tindakan yang menurut saya tidak ada pembenaran terhadapnya. Menutup paksa warung = mematikan rezeki orang lain, bukankah itu juga dilarang. Dimana hatimu?

Status saya hari ini adalah bentuk keputusasaan dan marah saya padamu yang berubah menjadi delusional karena fanatisme berlebihan pada agama atau pada negara. Saya menulis “Jangan sampai nasionalisme dan agama mengubahmu menjadi setan. Kamu adalah manusia, maaaa nuuu sssiaaa dengan daging, darah, dan hati…. Oh saya lupa…. Otak!

Kalau tuhan memerintahkan saya untuk membenci orang lain atau bahkan membunuh orang lain, maka biarlah neraka tempat saya berada nanti…. Saya hanya ingin percaya pada nilai kemanusiaan, trying my best not to hurt anyone.

Editorial The Guardian hari ini mengatakan pembunuhan Jo Cox adalah serangan pada kemanusiaan, idealism dan demokrasi (http://www.theguardian.com/commentisfree/2016/jun/16/the-guardian-view-on-jo-cox-an-attack-on-humanity-idealism-and-democracy?CMP=share_btn_tw) …. Jo Cox bukan cuma politisi yang menjadi anggota parlemen Inggris, tapi dia juga dikenal sebagai perempuan idealis yang percaya pada nilai toleransi, multikultur…

To those whoever dreams to have purity of race, blood, nationality and religion…. FUCK YOU!

 

 

It’s like Ramadhan for ‘dummies’ – cerita Ramadhan di London

Standar

Makan siang saya disingkirkan Marcio, kawan dari Brasil. ‘Kamu kan ga boleh makan?,’ katanya. Saya sedang haid, boleh liburan puasa… lalu dijawabnya, ‘It’s like Ramadhan for dummies. Jadi kalau lagi haid, kamu ga puasa?’

Marcio yang ada di depan saya waktu puasa hari pertama. Dia khawatir liat saya ga makan dan minum berjam-jam, ‘yakin ga papa?.’ 18 jam 44 menit…. Buat temanteman non-muslim di sini, ini namanya self-torturing, menyiksa diri sendiri.

‘So tell me what is the goal of fasting?,’ kata kawan saya dari Amerika. Saya bilang, salah satunya untuk belajar empati terhadap orang lain yang kesusahan. Lalu dia senyum,’rasanya gue bisa belajar empati tanpa harus menyiksa diri.’ Hihihi, ga mudah dimengerti memang buat mereka yang baru ketemu Muslim, tapi mau tahu minimal tentang apa yang saya lakukan.

Pas jam 5 sore … ‘ you look dead!’

Tempat nongkrong saya tentu saja perpustakaan, dan bulan ini hampir semua kawan kembali ke sini buat nyelesaian disertasi, eh baru mulai sih. Ada mereka di sekeliling saya bikin 18jam beneran ga berasa, eh boong ding, berasa di empat jam terakhir deh. Lalu mereka akan makin sibuk bertanya tentang Islam tentang puasa.

‘Please eat something, I don’t want to see you fainted in front of me.’
Tentu saja ga pingsan, sebenarnya puasa itu berat di tiga hari pertama, hari keempat dan seterusnya serasa ringan karena mulai terbiasa.

Mereka minta maaf kalau mau makan dan minum di depan saya. Saya bilang,’no need to say sorry. Been doing this for 30 years, makanan dan minuman ga akan bikin saya ngiler. Liat cowo lucu baru tuh, susah untuk ga ngelirik.’

‘Jadi apa aja yang ga boleh dilakukan?’
‘No drink, no meals, no sex.’
‘what no sex? Im not going to fast ever!’
*ngikik

Belum lagi saya bilang, emosi harus dijaga, ga boleh marah karena bisa ngurangin nilai puasa. Lalu jadilah bulan-bulanan dipancing emosi, untuk sabar *halah…

‘Joao, no drink for me this month, okay?’ kata saya kepada sahabat yang suka banget nyulik ke pub selesai kami belajar.
‘Paul, im so sorry, won’t be able to have your coffee. Im fasting.’

Lalu tetiba mereka bilang, ‘we lost your fun side, you r so dull for a month.’ Hahahaha tentu saja mereka becanda lah. Mereka menghormati saya dan keputusan buat puasa yang bahkan sebagian kawan muslim di sini ga melakukannya, this 18 fucking hardest hours…

Majd dari Maroko bilang dia ga pernah sahur, minum sampe kembung dari buka puasa sampai menjelang subuh. Beuh itu mah bikin males, ntar pipis melulu.

Begitu waktunya buka puasa, mereka ikut sibuk karena sebagian sengaja nahan makan malamnya supaya bisa ikutan makan bareng saya. Mengharukan sekaliiii…. Andrew, sahabat dari Malaysia malah mengajukan diri buat beliin saya makanan, duduk yang manis aja nita, kamu mau apa? saya yang beli, katanya. Soalnya di Malaysia dia sudah biasa menyiapkan buka puasa buat tementemen muslimnya.

Karena mereka tahu saya puasa, begitu tiba waktunya mens, saya seperti kudu kasih pengumuman ulang. Hoi saya mens, boleh liburan puasanya. Jangan heran kalau saya makan dan minum lagi yaaa…

‘Horee, I miss having lunch with you…’ sorak Amanda, kawan dari Amerika… jiaaaah….

Mereka gat ahu islam itu kayak apa, jadi ga ada yang dummy soal Islam. Ga tahu bukan berarti bodoh kan. Saya tidak menjelaskan panjang lebar, saya cuma kebagian menjelaskan secara fisik bahwa puasa sebenarnya membuat saya lebih merasa sehat dan hemat. Punya alasan kuat buat menolak datang ke party atau ke pub 🙂

Perempuan Yang Selalu Bertanya ‘Kenapa?’

Standar

Tidak ada yang istimewa hari itu bagi Jimmy. Seperti hari-hari sebelumnya, membosankan. Di depan layar 13 inci dengan pekerjaan yang sama, gunting, sambung potongan film yang dibuatnya berbulan-bulan lalu. Pekerjaan yang tak kunjung tuntas, satu dan lain perkara selalu datang bersamaan.

‘Kamu bahagia?’

Sebuah pesan masuk di aplikasi Whatsapp nya. Lagi-lagi perempuan yang sama, yang menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan aneh yang sering datang tiba-tiba. Pertanyaan yang membuatnya sontak bingung dan berhenti sejenak dari kegiatannya. Barangkali cuma itu hiburan yang dia miliki, dipaksa berpikir untuk hal yang tidak terduga. Beberapa hari lalu pertanyaan perempuan itu adalah, ‘Bagaimana cara melukiskan malam dengan bulan separuh dan lampu-lampu gedung yang berpendar dari kejauhan?’. Lain hari sewaktu dia menggambar untuk tugas akhir, perempuan itu di sampingnya, menatapi gambarnya dengan mulut yang tak berhenti bertanya, ‘kenapa tangannya di situ, kenapa wajahnya cuma setengah, kenapa perempuan itu berbuntut?’. Dia terus menggambar sementara perempuan itu terus bertanya. Barangkali dia memang tak butuh jawaban.

‘Kamu habis minum? Kenapa tanya soal aku bahagia? Bahagia atas apa?’, jawab Jimmy dalam teks whatsappnya

‘Enggak abis minum. Cuma pertanyaan acak aja.’

‘Kalau gitu, boleh engga dijawab dong?’

‘Ya sudah, engga papa juga.’

Berbeda dengan rentetan pertanyaan sebelumnya yang Jimmy jawab kadang cuma dengan senyum dan dibalas senyum tanpa protes oleh perempuan itu, kali ini dia tak tenang.

‘Ada apa?,’ Jimmy melemparkan khawatirnya

‘Engga ada apa-apa.’

‘Kamu selalu bertanya hal-hal aneh tanpa menjelaskan kenapa. Sekarang ada apa?’

‘Engga ada apa-apa. Cuma hormone aja. Lagi mens neh.’

‘Hahahaha okay. Baik-baik ya.’ Teks terakhir Jimmy hari itu sebelum dia kembali meneruskan pekerjaannya.

Mereka bertemu di kampus, sama-sama mengejar gelar dengan harapan sama, barangkali gelar bisa membukakan jalan untuk masa depan yang lebih baik. Bukan pasangan kekasih, hanya teman istimewa. Berbagi mimpi, berbagi rahasia… Jimmy kepadanya dan tidak sebaliknya. Perempuan itu menyimpan semua misterinya sendiri dan Jimmy merasa tak perlu bertanya banyak untuk menghormati privasinya. Dia hanya menyediakan bahu ketika perempuan itu tetiba menggedor pintu kos nya dan menangis tanpa menjelaskan apapun yang terjadi. Jimmy hanya tahu sangat sedikit tentang perempuan itu yang selalu pasang wajah gembira dan tersenyum pada siapa pun. Tentang perempuan yang usianya lima tahun lebih tua, memiliki pekerjaan yang tetap di kampung halamannya, seorang akuntan dan studi ini semacam liburan panjang dengan harapan setelah kembali promosi menanti. Perempuan mandiri yang sedikit gila dengan mimpinya tentang negara tanpa pemerintahan, bagaimana menciptakan bahagia tanpa harus diperbudak materi.

‘Tidak mungkin lah hidup bebas materi. Kita bisa bahagia kalau semua kebutuhan material terpenuhi,’ Jimmy berargumen

‘Bisa kok. Kebutuhanku cuma untuk makan tiga kali sehari, aku engga butuh baju baru karena masih ada. Pun kalau butuh beli barang loakan aja.’

‘Aku engga bisa. Aku butuh hiburan, aku mau nonton opera, pameran seni, pergi nonton pertandingan langsung sepakbola, liburan ke sana sini, aku perlu wiski. Semua itu perlu uang. Karena itu aku kerja lebih keras daripada kamu yang habiskan waktu dengan buku.’

‘Kalau dengan buku aku bisa bahagia kenapa tidak.’

‘Well, Congratulation. There you go, you have found your happiness and I haven’t.’

Padahal selalu begitu, percakapan mereka selalu berakhir dengan argumentasi, ketidaksepahaman untuk banyak hal. Tapi itu tak pernah menghentikan percakapan yang berlangsung saban hari, dari pagi sampai menjelang pagi lagi. Lewat whatsapp atau bertatap muka. Kalau pun berjeda berjam-jam tanpa balas, keduanya tahu itu karena kesibukan, entah kerja, kuliah atau ketika Jimmy sedang kencan.

‘Aku jatuh cinta’. Kata perempuan itu sambil tengkurap di lapangan rumput kampus.

‘Entar juga hilang.’ Jawab Jimmy sambil lalu, di sebelahnya menikmati matahari siang yang tumben terik dan lapangan dipenuhi mahasiswa bertelanjang dada atau dengan tank top saja. Biar matahari membakar kulit, gelap itu eksotis.

‘Gimana kalau perasaannya engga hilang?’

‘Gimana kalau hilang?,’Jawab Jimmy yang dibalas dengan tendangan kecil. ‘Es krim yuk?’

Sebelum keduanya berubah pikiran, mereka terbirit-birit membereskan buku dan jaket yang berubah jadi alas tidur di atas rumput. Mereka berlari menuju stasiun kereta, berganti lagi dengan kereta lain.

‘Kita mau kemana sih sebenarnya?’, perempuan itu akhirnya bertanya

‘Hahaha ke Camden.’

Camden itu jauhnya hampir satu jam dari kampus mereka, dan kelas dimulai setengah jam dari keberangkatan mereka. Siapa peduli. Bukan soal es krim dua setengah poundsterling yang sebenarnya bisa dibeli di truk yang mangkal di depan kampus, mereka hanya ingin meneruskan percakapan mulai dari hal sederhana sampai seperti biasanya, pertanyaanpertanyaan ajaib perempuan yang membuat Jimmy harus berpikir keras menjawabnya. Pertanyaan-pertanyaan ajaib yang bakal dirindunya setelah kuliah ini berakhir dan mereka kembali ke hidup di kampung halaman masing-masing. Jimmy menikmati pertanyaan-pertanyaan itu, menikmati perempuan gila yang selalu bisa diculiknya untuk kabur sejenak dari layar 13 inci dan tugas-tugas kuliah yang menumpuk.

Camden yang tak pernah sepi dari turis, mereka berdesak-desakan mengantri makan siang, berjejer di tengah gerimis untuk es krim, mengitari Camden Market yang menjual barang antic. Cekikikan di dalam Cyberdog Store yang menjejerkan semua pakaian dan perlengkapan futuristic dengan music trence yang membuat badan dan kepala bergodek. Seperti diskotek berbalut toko, atau toko dengan sentuhan diskotek, music, lampu berkelapkelip dan dua penari di sudut lantai dua mengikuti music yang berdentum. Di lantai bawah menjajakan semua perlengkapan permainan di atas kasur, semua yang biasanya dilihat di film dewasa. Mereka tertawa…

Petualangan tak berhenti di sana, batal kembali ke kampus, lompat ke atas bus yang pertama mereka lihat, Hampstead Heath, salah satu taman dengan keanekaragaman hayati terbesar di London. Jimmy membawanya kesana karena perempuan itu penggemar Chris Martin dari Coldplay, dan musisi itu sering terlihat jogging di Hampstead Heath. Perempuan itu berlari ke sana kemari seperti kijang yang melompat-lompat bahagia.

Jimmy merasa tak perlu mengenal perempuan itu lebih dalam hanya untuk membuat perempuan itu tersenyum dan tertawa bahagia.

‘Hey guys, ada yang terjun dari atas gedung kampus malam ini?’ pesan yang sampai di grup Whatsapp Jimmy

What? Siapa? Kenapa? Kok bisa? Ada apa? Stresskah? Masa sih engga bisa diomongin sama temen kalau stres karena tugas kampus. Jangan pada bunuh diri yaa…. Dan lain-lain…. Pesan bertubi-tubi datang. Jimmy mulai tak enak hati.

‘Nicky, are you there? Are you okay?’ Jimmy mengirimkan pesan. Tanpa balas. Dia menelpon hape perempuan itu, tak diangkat.

Pesan elektronik baru dia periksa beberapa jam kemudian, dari Nicky.

‘Hey Jimmy…. Terima kasih sudah membuatku tertawa selama ini. Terima kasih sudah menjadi teman yang sangat baik. Pertanyaan tadi sebenarnya untukku, dan semua pertanyaan yang seringkali aku sampaikan sebenarnya untukku sendiri. Barangkali aku ingin hidup lewat hidupmu, lewat mimpimu, lewat semangatmu. Tapi aku sampai pada kesimpulan, itu hidupmu, bukan aku. Lalu aku bertanya, kenapa harus cara ini yang aku ambil? Jawaban terakhirku, Kenapa Tidak. No worries Jimmy, I am happy.’

Perpustakaan Goldsmiths, London, 14 Juni 2016

Cyberdog

Review: CHAVS by Owen Jones – Ketika Penggemar KW Menjadi Bahan Candaan dan Hinaan

Standar

Buku ini diawali dengan pertanyaan, kemiskinan itu salah siapa?

Jawaban paling mudah adalah, kemiskinan itu salah pribadi, sudah bodoh, pemalas pulak. Lupa kita bahwa masalah kemiskinan adalah masalah sosial, artinya ga semudah telunjukmu jalan-jalan tunjuk sana sini atau diri sendiri sebagai biang masalah. Ini masalah yang harus diselesaikan dari setiap sudut.

Di awal termin musim semi, asdos Promotional Culture, Emily bilang, kalau mau tahu soal kehidupan sebenarnya di Inggris, bacalah Chavs!. Buat saya yang datang jauuh dari Indonesia, melihat Inggris adalah sebuah negara luar biasa maju dan makmur, rakyatnya ‘mungkin’ lebih bahagia daripada di Indonesia. Tapi kalimat pembuka itu menampar saya dan beberapa kali tertampar begitu membacanya sampai akhir lalu babak belur. Persepsi saya dan banyak orang tentang Inggris menjadi salah besar. Dalam bagian akhirnya, Owen Jones memberikan judul, Broken Britain, bahwa mereka sedang dalam masalah besar di dalam negeri. Bahwa kelas pekerja, working class dalam buku ini disebut, tetap menjadi bagian dari masyarakat yang tidak punya suara tapi selalu dijadikan make-up politic untuk mendapatkan suara di pemilu.

Sounds familiar ya… iya lah… politik sana sini sama aja, dan masyarakat cuma jadi penonton.

Chavs adalah istilah yang dipakai untuk mengolok-olok kaum pekerja yang miskin dan Cuma mampu pake barang KW.

“Those labelled ‘chavs’ became frequently ridiculed for failing to meet lofty middle-class standards in what they wore, or how they ate.’- page 114

Ketika Owen bicara tentang kelas pekerja, ini bukan immigrant loh, ini semua kelas pekerja termasuk warga asli Inggris. Mereka yang bekerja lebih panjang untuk upah yang belum tentu lebih baik, sebagai pelayan di restaurant, di Sainsbury, di pom bensin, buruh pabrik. Mereka yang harus berhadapan dengan tingginya pajak penghasilan dan terutama tempat tinggal. Mereka yang katanya diwakili oleh Partai Buruh tapi ternyata, di bagian Broken Britain, just like any other political party, itu semua hanya identitas, suara mereka tetap tak berarti. Apalagi dimasa Tony Blair, dengan New Labour nya, yang lebih ramah pada industry daripada pekerjanya.

Lalu ketika mereka ingin pakai barang trendi macam Burberry tentu saja tak sanggup kecuali pakai barang KW, dan itu jadi barang olok-olok, CHAVS… tapi di saat bersamaan memakai Burberry KW jadi semacam trend mode, bangga jadi chavs… sampai Burberry sendiri mengubah strategi marketing mereka gegara ini, turun pasar dooong.

Lapangan pekerjaan tidak sebanding dengan jumlah pekerja yang terus bertambah. Sana sini pabrik tutup karena memindahkan pabrik ke asia atau afrika tentu lebih murah. Sementara yang ditinggal kelabakan untuk meneruskan hidup. Perempuan muda memilih menikah dan punya anak untuk bisa dapat tunjangan. Angka pengguna narkotika di kantong-kantong kemiskinan terus tinggi karena depresi terhadap situasi yang ada. Sound familiar lagi ya…

Owen ‘menyalahkan’ dogma Margaret Thatcher – Thatcherism dimana:

‘The wealthy were adulated. All were now encouraged to scramble up to social ladder, and be defined by how much they owned. Those who were poor or unemployed had no one to blame but themselves. To be working class was no longer something to be proud of, never mind to celebrate. Old working-class values, like solidarity, were replaced by dog-eat-dog individualism. No longer could working-class people count on politicians to fight their corner.’ – page 71

Dan kalau nasib orang ditentukan oleh kelakuan dan bukan latar belakang ekonomi, kata David Cameron

‘What matter most to a child’s life chances is not the wealth of their upbringing but the warmth of their parenting – Cameron claims.’

Lalu kata Owen Jones, tentu saja ini cara aman paling aman untuk keluar dari tanggungjawab politik. ‘If you think the solution to poverty is parents being nicer to their kids, when why would it matter if you cut people’s benefits?(page 77)

Owen Jones menggambarkan bagaimana working-class tetap dimiskinkan secara politik. Mulai dari keberpihakan pemerintah pada bisnis, menjegal langkah serikat pekerja untuk membela hak buruh, memberikan intesif pajak aka pemotongan pajak sebesar-besarnya pada bisnis sementara di lain pihak, memotong tunjangan kesehatan, meningkatkan pajak tempat tinggal, memangkas anggaran pendidikan, adalah cara mereka melanggengkan kemiskinan yang sudah ada.

Owen mengingatkan setiap orang punya cultural capital yang diturunkan dari keluarganya. Mereka yang terlahir dari keluarga menengah ke atas dan terpelajar dengan koneksi orang tua yang banyak, sekalipun tak selalu bersinar dalam sisi mana pun, seorang anak masih bisa ‘aman’ menjalani masa depannya. Sebaliknya mereka yang terlahir dari keluarga pekerja yang miskin, orang tua tak punya pendidikan yang cukup jangankan untuk membangun jejaring, mereka hanya bisa memberikan kehidupan untuk hari ini, maka anak-anaknya cenderung akan hidup tak lebih baik dari orang tua mereka. Tentu saja selalu ada pengecualian pada kasus-kasus anak-anak yang berhasil bersinar dan keluar dari lingkaran kemiskinan.

Isunya makin kompleks ketika kemudian imigran dipersalahkan atas semakin sempitnya lapangan kerja, bahwa mereka mengancam keberadaan white working class, bahwa mereka merampas hak pribumi. Semakin dikipas oleh partai politik BNP  (partai nasionalis) misalnya. Dalam konteks menjelang pemilu Brexit, isu imigran makin kencang dihembuskan sebagai alasan buat Inggris keluar dari Uni Eropa.

Yang juga menarik adalah bagaimana media ikutan bersalah telah menyudutkan kaum pekerja yang miskin ini. Tentu saja semuanya kembali ke latar belakang si Jurnalis ini. Kalau jurnalisnya berasal dari keluarga menengah keatas, berpendidikan sarjana dari universitas terkenal yang mahal dan hidupnya nyaman, apa yang bisa diharapkan untuk mereka menuliskan kemiskinan dalam porsi yang berimbang? Tau apa mereka soal kemiskinan?

Sebagai kontribusi dari buku ini, Owen menyarankan salah satu yang bisa dilakukan tentu saja membuka lapangan kerja yang bisa menyerap sebanyak-banyaknya pekerja. Tentu ini Cuma satu dari banyak hal yang bisa dilakukan tapi kembali pada kebijakan politik di Inggris.

Sebagai tambahan informasi, Owen Jones adalah kolumnis di The Guardian, kelahiran 1984, lulusan Oxford. Buku Chavs ditulis setelah melakukan investigasi, mewawancarai anggota parlemen, warga mewakili working class dan middle class, pejabat pemerintah, politisi, bisnis dan jurnalis. Tulisannya jujur, penuh kemarahan, straight forward aka tidak berbunga-bunga. Highly recommended, and im waiting for his second book to read, The Establishment.

CHAVS

Review: 1984 – George Orwell – 2+2=5

Standar

Saiah pernah menulis tentang 1984 sebelumnya yang mendatangkan mimpi buruk di awal-awal membacanya. Akhirnya butuh sebulan untuk menyelesaikan buku ini, bukan karena malas, tapi karena tersela tumpukan buku wajib kuliah yang harus dituntaskan untuk disertasi.

Sejak kata pengantar, buku ini sudah mengesankan buat saya. Ketika ditulis, buku ini fiksi dan bukan manual untuk pemerintah manapun mengaplikasikannya. Tapi buku yang ditulis Orwell tahun 1940an itu jelas memberikan gambaran mengerikan tentang apa yang terjadi di masa sekarang. Jadi ingat Bang Benjamin Suaeb dengan lagu kompor bleduk yang melampui masanya, tentang Jakarta yang tenggelam banjir.

Orwell dengan detail menggambarkan bagaimana pemerintah merekayasa kenyataan yang diterima ‘pasrah’ oleh warganya, tanpa tanya. Bahwa 2+2=5 adalah benar adanya. Tentang Ministry of Love memastikan bahwa tidak ada penyimpangan dari warga untuk mencintai the Big Brother – tokoh misteri yang sampai di akhir buku tidak jelaskan rupanya, mungkin dia O’Brien sendiri, tokoh antagonis yang maha kejam.

Orwell jelas Foucauldian, ya Tuhan kirain setelah essay ga nyebut lagi nama ini, dia bercerita bagaimana kita hidup dalam sebuah panapticon raksasa. Panapticon itu penjara melingkar, bayangkan kita di ruang kaca dan diamati oleh petugas di seberangnya. Kita justru diberitahu bahwa kita memang diawasi dalam setiap gerak, supaya kita menjadi patuh. Bahkan Tought Police bisa membaca pikiran yang menyimpang dari aturan yang dibuat pemerintah the Big Brother. Setiap orang bahkan anggota keluarga bisa melaporkan siapa pun yang kedapatan atau dicurigai punya maksud untuk menentang Big Brother.

Seperti Foucault bilang, setiap kekuatan pasti akan mendapati tantangan, begitu juga Big Brother. Winston mempertanyakan segalanya, pertanyaan adalah bentuk awal dari sebuah tantangan. Bersama Julia, kekasihnya, mereka bergabung dalam gerakan bawah tanah untuk menentang Big Brother. Sampai keduanya ditangkap, dipenjara, disiksa.

Terlalu mudah membuat orang mati kata O’Brien. Kesalahan Nazi adalah membunuh terlalu banyak orang yang membuat mereka dibenci, lalu kekuatan lain bersatu menghancurkan mereka. Big Brother menggunakan teknik berbeda, menyiksa sampai batas yang terendah yang bisa diterima manusia sehat. 32 gigi dewasa hanya ditinggalkan sebagian di mulut, kemampuan menahan lapar dan dahaga diuji berharihari, lebam seluruh badan. Tapi Winston tak dibiarkannya mati melainkan tanya jawab berisi propaganda. Kebencian menjadi sebuah cinta. Stockholm Syndrome, kecintaan pada penculik, penyiksa terjadi pada Winston. Di akhir cerita, Winston mengakui puluhan tahun sia-sia meragukan cinta Big Brother padanya.

Mengerikan! Betul mengerikan. Bagian pertama buku ini bercerita tentang bagaimana Big Brother bekerja, memantau setiap detail aktivitas dan pikiran warganya – atau begitulah dia ingin kita percaya, tentang sejarah adalah milik dia yang berkuasa, menuliskan masa lalu, sekarang dan nanti, tentang mereka yang dihilangkan dari sejarah, bahkan tidak pernah ada, tentang bahasa yang direkayasa. Bagian pertama buku ini membuat saya tiga kali dapat mimpi buruk, tentang perang dan saya terjebak di dalamnya.

Bagian dua, kisah cinta Winston dan Julia. Tentang pemufakatan bersama untuk melakukan pemberontakan. Bagian ketiga, tentang Winston yang ditangkap dan disiksa. Bahwa Winston dan Julia saling mengkhianati dengan menjual nama mereka untuk menyelamatkan diri. Julia bilang, ‘pada akhirnya setiap orang hanya mementingkan dirinya sendiri.’ Tentang Winston yang menerima kenyataan dan kecintaannya pada Big Brother.

Bagian akhir ini membuat saya mimpi lagi. Saya ada di posisi Winston, saya merasakan sakitnya karena disiksa dan harus menerima kenyataan yang tak sepaham dengan isi kepala dan nurani. Sampai ketika saya dibebaskan seseorang yang saya yakin O’Brien dan keluar dari pintu belakang MI6 (karena saban minggu lewat tempat ini barangkali).

Ini buku fiksi yang luar biasa, tidak akan lengkang oleh waktu karena sejarah selalu berulang. 1984 tak bisa dikatakan basi karena kisah di dalamnya terus terjadi. ngeriiii….

ORWELL