Monthly Archives: Juli 2017

Lalu Datanglah Agama Baru Bernama Dataisme – Homo Deus- A Brief History of Tomorrow

Standar

Apa yang membuat manusia merasa superior atas alam dan seisinya? Apa yang membedakan manusia dengan serigala, paus, harimau? Apa yang terjadi besok, apakah manusia akan hilang dari muka bumi?

Pertanyaan-pertanyaan dasar yang muncul di dalam buku Homo Deus, sejarah tentang masa depan yang ditulis oleh Yuval Noah Harari. Buku yang dia tulis sebelumnya berjudul Sapien menggambarkan sejarah tentang manusia, siapa kita, kenapa manusia modern berhasil menyingkirkan saudara-saudara kita sebelumnya? Ada enam jenis manusia dalam sejarah, terakhir adalah Neaderthal yang disingkirkan oleh manusia modern. Di bagian akhir Homo Deus, Harari wanti-wanti ini bukan buku ramalan, dia hanya menggambarkan apa yang sebenarnya sedang terjadi dan apa saja yang mungkin terjadi berdasarkan hal tersebut.

Buku ini menarik dibaca karena menyederhanakan bahasa sains yang ngejelimet bahkan setelah turun di National Geographic. Saya menyukai gaya penulisannya yang dilengkapi dengan banyak contoh dan pertanyaan-pertanyaan sederhana dan membumi. Buat saya yang bukan berlatar belakang sains pasti seperti IPA, tentu saja ini berkah.

Harari membeberkan kenyataan bahwa sains dan agama selalu bertentangan tapi juga selalu beiringan. Agama menyebutkan manusia memiliki kelebihan karena memiliki ruh yang ditiupkan Tuhan ke dalam raga manusia. Tapi dalam sejarah ilmu pengetahuan pasti, para ilmuwan tidak bisa menemukan kehadiran ruh dalam tubuh manusia. Iya, manusia memiliki akal, tapi tak ada ruh seperti juga hewan lainnya. Lalu ruh itu apa?

Satu-satunya alasan yang bisa membuat manusia merasa superior dari hewan adalah kemampuannya menulis, tentang sejarah keberadaannya. Tanpa itu, manusia tak lebih dari hewan yang bisa dijelaskan secara keilmuwan tentang kemampuan raganya beradaptasi dengan kehidupan.

Di buku ini Harari menjelasan perjalanan dogma yang membuat manusia hidup sebagai makhluk social dengan normanya yang diatur dalam agama sebagai imagined order, lalu paham politik seperti komunisme, liberalisme dan humanisme. Liberalisme – Humanis adalah kita hari ini, bahwa kita memiliki kebebasan individu yang mutlak, bebas memilih, bebas berpikir bahwa dunia ini bergerak karena kemampuan kita pribadi sebagai manusia. Or is it?

Lalu datanglah dimana dimana Tuhan baru bernama Data itu muncul. Tuhan atau Dewa yang lahir dari Silicon Valley, yang mengumpulkan data untuk kemudian diolah dan dikembalikan sebagai ‘pilihan’ yang tersedia untuk manusia. Data adalah sumber kehidupan. Data lebih tahu daripada diri kita sendiri. Data mengontrol kehidupan kita sebenarnya. Bahwa manusia tak lebih dari algoritma yang bisa diatur tentang pengalamannya, emosinya dan keputusannya. Facebook dan Google tahu lebih banyak tentang diri kita dan masa depan daripada kitab suci yang dibuat oleh manusia ratusan tahun silam.

Pada akhirnya manusia akan tergantikan oleh manusia-manusia super dengan intelejensia super, yang Harari sebut sebagai Homo Deus. Kita akan musnah, kecuali jika terus mengupgrade dan mengupdate semua informasi dan data yang tersebar bebas di dunia maya dan nyata. Tapi bahkan ilmuwan tak membaca jurnal setiap saat, lalu kita?

Kalimat-kalimat yang tertulis di sampul belakang buku sangat menarik untuk dicatat:

  • You are more likely to commit suicide than be killed in conflict
  • You are more at risk of obesity than starvation
  • Equality is out – immortality is in.

Semakin canggih teknologi, semakin tinggi kesenjangan yang terjadi di dunia. Karena teknologi mahal harganya yang hanya bisa dinikmati oleh WEIRD – Western, Educated, Industrialised, Rich and Democratic society yang tidak mewakili sampel manusia secara keseluruhan.

Baca aja deh, Homo Deus ini ga cocok buat kamu yang bersumbu pendek karena ada banyak yang menyinggung soal ulama, pendeta dan rabi yang tidak berguna bagi kesejahteraan dan kebahagian manusia karena hanya menjual ‘khayalan’ dan tidak memberikan kontribusi pada kehidupan kecuali sejarah tentang kekerasan.

#21

IMG_20170721_213907

5 years To Answer Yeah, Why Not!

Standar

We have been together for more than 5 years, to be exact, will be 6 years in this coming October. We have been through many thing, ups and downs in our relationship. I was so angry at him once, he was so angry with me as well. However, we stick together. Hey, what is a relationship without a fight and arguing once awhile.

Our love was not kind of love at the first sight. It grows through times, days, months and years. We are not always together physically. I always flying around Indonesia and London for a year while he waited for me patiently. I think we can say in those 5 years is only a few months we are together. Long Distance Relationship is something that we both always have.

It is the longest relationship I have in life. I moved town just to be closer to him, although in the end, job drag me away most of the time from him. My friend Dewi once said, you must be in love deeply with him, since you left your family and friends in Jakarta. It turned out to be right.

It was his message that struck me first, ‘I couldn’t imagine myself without you. I always feel it is you that I want to spend my life with.’ It was his eyes that convince me next, I found love deeply like I ever see one in my life before.

Those were the moment that made me say to him,’ Let’s do it! Let’s get married this coming months.’ And he said… yeah WHY NOT!

We agreed to have it in a very sacred and a modest way; just families and closest friends of us. Less than 100 people in a small restaurant, in a small city of Cimahi. We decided the date just because…

I love you Iwan Rahardie Setyawan to Jupiter and back, because the moon is too close to us, you said. I am taking this challenge of marriage life with you, happily. And excited to have this new adventure with you. Let’s ride this life together.