Category Archives: diary

Apa itu konformitas? Apakah kita harus maksain diri untuk bisa diterima masyarakat? Review Convenience Store Woman – Sayaka Murata

Standar
Apa itu konformitas? Apakah kita harus maksain diri untuk bisa diterima masyarakat? Review Convenience Store Woman – Sayaka Murata

Kalau kamu perlu bacaan novel yang ringan, menyenangkan sekaligus mengusik ketenangan jiwamu, novel ini saya sangat rekomendasikan. Novel 163 halaman ini bisa banget dibaca dalam waktu beberapa jam saja.

Sayaka Murata mengusik saya dengan pertanyaan apa itu normality atau menajdi normal, atau konformitas? Buat saya yang “tidak normal” karena selalu mempertanyakan kenapa harus begini dan begitu, buku ini seperti menelanjangi saya dengan cara yang lucu. Masyarakat selalu menuntut setiap individu di dalamnya to be fit in, mengikuti aturan yang ada. Jika tidak, maka dianggap bukan anggota komunitas, antara dianggap tidak ada alias didiamkan seperti benda mati, atau diusir sekalian. Setiap kita “terpaksa” mencari kelompok-kelompok yang seradar atau memaksakan diri agar bisa diterima sekitar, ya karena kita memang makhluk sosial. Manusia seperti bukan kucing yang soliter, dia sejenis hewan komunal.

Keiko Furukura tidak pernah mengerti kenapa dia dianggap tak normal dan perlu disembuhkan oleh keluarganya agar bisa bertahan hidup di tengah masyarakat. Ketika di sekolah dasar seekor burung mati, ibunya bilang, “apa yang harus kita lakukan?” dia menjawab, “kita goreng, ayah kan suka.” Lalu semua orang memandangnya aneh. Dia bertanya, apa yang salah dengan jawabannya itu? Ketika dua kawan sekelasnya bertengkar, sementara yang lain berteriak agar mereka berhenti bertengkar, Keiko mengambil sapu dan memukul keduanya lalu pertengkaran berhenti. Orang tuanya dipanggil lagi ke sekolah dan Keiko tak habis piker dimana salahnya dia.

Dia tak ingin orang tuanya disalahkan karena tindakannya. Orang tuanya sangat baik padanya, ayah dan ibu dan adiknya sangat menyayangi dia, tak ada yang salah dengan mereka seperti yang selalu dituduhkan guru setiap kali dia melakukan hal yang dianggap salah.

Di usianya yang 36 tahun, Keiko masih hidup sendiri dan selama 18 tahun atau sejak dia kuliah, dia bekerja sebagai pekerja paruh waktu di sebuah toko serba-ada. Keiko menikmati hidupnya sesuai manual yang tertulis di buku, dia menyimak dan mengikuti apa yang dilakukan oleh kolega di tokonya. Kadang dia menyerap gaya bicara kawannya, dan cara berpakaian supervisornya. “Begitu barangkali seharusnya yang dipakai perempuan usia 36thn,” begitu pikirnya.

Hidupnya baik-baik saja, sampai ketika bertemu kawan-kawannya di luar toko. Mereka mulai mempertanyakan kenapa Keiko belum pernah punya pacar, kapan menikah, kenapa tidak bekerja yang “normal” seperti kebanyakan perempuan. Keiko menghapal jawaban yang disiapkan adiknya jika pertanyaan-pertanyaan seperti muncul, sampai ketika jawaban itu tak mempan.

Shirata lelaki yang sama “tak normal” nya dalam format berbeda dengan Keiko. Dia tak juga merasa diterima oleh masyarakat dengan “keanehan” cara berpikirnya. Mereka bertemu, sepakat untuk tinggal bersama tanpa harus ada ikatan demi menjawab tuntutan masyarakat. Shirata lelaki yang tujuan hidupnya hanya ingin rebahan selamanya, semua kebutuhannya dipenuhi dari honor Keiko sebagai pekerja paruh waktu. Keiko menganggapnya sebagai hewan peliharaan yang dia perlu kasih makan agar tetap hidup.

Sampai situ saja ya, silakan baca sendiri kelanjutannya.

Buku ini menarik karena punya cara berbeda dalam penyampaian pesannya. Lagi-lagi saya senang karena tak ada label tertentu yang disematkan kepada Keiko dan Shirata membuat saya berpikir saya mungkin Keiko dan Shirata at the same time. So fucking tired of what society demand us to do to say, to stay fit in. Murata tak mencoba menggurui ina inu, dia hanya mengalirkan cerita yang membuat pembacanya tersenyum sambil berpikir.

Ketenaran, Kekayaan dan Nafsu adalah Ketiadaan. Review The Nine Cloud Dreams – Kim Man-Jung

Standar
Ketenaran, Kekayaan dan Nafsu adalah Ketiadaan. Review The Nine Cloud Dreams – Kim Man-Jung

Sebelum menuliskan lengkap review ini, saya harus minta maaf di depan karena mungkin akan salah-salah nama yang disebut. Ada banyak tokoh dan karakter yang diceritakan dalam cerita 215 halaman dengan 23 halaman kata pengantar. Beberapa istilah dalam ajaran Budha juga sangat mungkin kelingsut dalam review ini. Maafkan

Kim Man – Jung adalah cendekia di abad ke17 di Korea. Di masa itu cendikia atau scholar itu ada tingkatannya dan yang paling tinggi adalah penulis sejarah dan penyair. Penulis fiksi biasanya menyamarkan namanya karena akan menjatuhkan status mereka dalam masyarakat sebagaimana pun populernya karya mereka. The Nine Cloud Dreams termasuk mahakarya literatur Korea yang pada abad 19 butuh upaya untuk menelusuri siapa pembuatnya, sampai akhirnya divalidasi kalau ini adalah karya Kim Man-Jung. Buku ini sudah dua kali diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan yang saya baca ini diterjemahkan oleh Heinz Insu Fenkl. Terjemahannya sangat indah, dan mudah dicerna kecuali pada bagian-bagian puisi karena bayangan saya pasti lebih indah dalam bahasa aselinya, bisa berima dan saling kait satu sama lain kalimat di dalamnya. Itulah sebab, selesai membaca buku ini, secara ambisius saya berharap bisa membaca dalam bahasa aselinya, atau paling tidak dalam bahasa Korea. Novel ini sendiri ditulis dalam teks bahasa Cina karena hangeul kan baru ditemukan kemudian.

Novel ini bercerita tentang biksu muda yang hidup dan belajar ajaran Buddha di pegunungan Lotus Peak selama 10 tahun, bernama Hsing-chen. Suatu hari dia melakukan perjalanan atas perintah gurunya dan di tengah jalan bertemu dengan delapan bidadari lalu terjadilah percakapan di antara mereka. Sepulangnya dari tugas, Hsing-chen tak bisa mengendalikan pikirannya dan terus terbayang-bayang kedelapan bidadari atau kalau dalam bahasa Inggrisnya peri itu. Ini adalah dosa dalam ajaran Buddha, dan Hsing-chen mendapatkan hukuman yang aneh. Menjalani kehidupan ideal bagi seorang laki-laki. Yang tidak dia ketahui adalah kedelapan peri itu juga dihukum karena mengganggu biksu muda ini.

 Hsing-chen terlahir kembali sebagai Shao-yu dari keluarga Yang yang bersinar karena ketampanannya dan kepintarannya. Pada usia 15 tahun, dia meninggalkan ibunya untuk ikut ujian CPNS kalau versi hari ini. Dalam perjalanannya dia bertemu reinkarnasi peri pertama yang menjadi anak seorang jenderal pemberontak, mereka jatuh cinta dan berjanji akan menikah. Ini janji pertama.

Dalam perjalanan berikutnya, Shao – yu beradu tanding kemampuan puisinya. Adalah jelmaan peri kedua yang menjelma sebagai perempuan penghibur, dialah yang akan menentukan pemenangnya dan si pemenang dapat tidur dengannya sebagai hadiah. Dengan puisi Willow yang dia buat untuk peri pertama itulah dia terpilih sebagai pemenangnya. Lalu mereka jatuh cinta dan saling mengikat janji. Ini janji kedua ya.

Ibunya pernah meminta dia segera menikah setelah lulus CPNS atas bantuan bibi-nya di ibukota kerajaan. Shao-yu punya selera tinggi, tidak tanggung yang diincarnya adalah perempuan yang dikabarkan tercantik di sana, putri seorang Menteri yang tidak pernah memunculkan wajahnya ke sembarang orang. Shao-yu melakukan trik sehingga dia bisa lihat anak Menteri dan jatuh cinta padanya. Ini jatuh cinta yang ketiga. Sang Menteri dengan senang hati melepaskan anak gadisnya karena Shao yu lulus ujian dengan peringkat pertama. Pertunangan diresmikan dan Shao-yu mendapatkan pelayan perempuan yang kemudian lagi-lagi dia jatuh cinta padanya. Jatuh cintanya yang keempat.

Pernikahan terus tertunda karena Shao-yu lalu terjebak urusan pemerintahan. Dia sukses meredam pemberontakan dari wilayah perbatasan karena merasa tidak diperhatikan oleh Kaisar. Dia sukses melawan pasukan Tibet dengan bantuan seorang pembunuh perempuan yang diutus membunuhnya yang malah berbalik mencintainya. Haiya, ini adalah jatuh cinta kelimanya.

Atas kesuksesannya Shao-yu diangkat menjadi Perdana Menteri Dengan statusnya ini, adalah Ibu Suri yang gemes menjodohkan putrinya Lin-Yang dengan Shao-Yu. Tetapi Lin-Yang tak ingin menyakiti putri Menteri tunangan Shao-Yu, dia bilang “pernikahan yang diawali dengan rasa sakit hati perempuan lain adalah tidak benar.” Ibu Suri lalu dengan brilian mengadopsi putri Menteri menjadi anaknya, dengan demikian tidak melanggar hukum karena keduanya adalah putri kerajaan yang tidak terpisahkan untuk berbagi suami. Maka demikian keputusan kerajaan, Shao-Yu memiliki dua isteri sah dan sementara ini empat selir, ditambah naik jabatan menjadi Adipati.

Dalam perjalanan hidupna, Shao Yu bertemu dengan dua lagi perempuan yang menjadi selirnya sehingga total enam selir dan dua isteri. Singkat cerita, mereka hidup bahagia dengan masing-masing isteri memberikan satu keturunan untuknya. Sampai di usia senjanya, Shao Yu memutuskan semua keduniawiannya yang sempurna untuk mengabdi pada Buddha.

Saat itulah dia bertemu kembali dengan gurunya dan tersadar bahwa semua keindahan hidup itu hanyalah ilusi, sebagai bentuk hukuman padanya. Shao-yu kembali menjadi Hsing-Chen yang kini memahami bahwa ketenaran, kejayaan, kekayaan dan kebahagian duniawi itu hanyalah ilusi yang telah diciptakan untuknya. Dalam ketiadaan dia menemukan ketenangan. Kedelapan peri itu pun mengabdi pada ajaran Buddha, mengganti pakaian mereka dengan jubah dan menggunduli kepala mereka. Hsing-Chen dan kedelapan peri mengabdi dan menyebarkan ajaran Buddha hingga pada waktunya mereka diterima surga.

Saya spoiler banget ya. Tapi kamu tetap harus baca dan ikutan terkesima seperti saya dengan kata-kata yang diterjemahkan dengan apik. Sebelum membaca novel ini, saya sudah riset lebih dulu review dari beberapa akademisi sastra dan juga aktivis perempuan. Salah satu yang saya ingat sekali, sebuah peringatan bahwa segala sesuatunya harus ditempatkan dalam konteksnya, yaitu abad 17 ketika poligami adalah sesuatu yang diterima dalam kehidupan bangsawan. Berat untuk tidak komentar tentu saja, kalau tahu pernikahan tidak boleh berdasarkan pada rasa sakit perempuan lain, terus kenapa tetap maksa nikah oi? Apa rasa cemburu bisa dimatikan dan dialihkan jadi rasa persaudaraan antar perempuan dalam sebuah rumah tangga dengan satu suami dan ketujuh perempuan lainnya? Setiap isteri dan selir punya ruangan masing-masing dalam kompleks rumah Shao-yu, yaloh ga perlu jauh-jauh jogging yak, cukup menyantroni setiap kamar dengan lari-lari kecil.

Terlepas dari itu semua, ini karya klasik yang tentu menarik untuk dibaca, melemparkan saya pada imajinasi kehidupan abad 17 di Korea dengan kehidupan kerajaan yang penuh intrik. Tanya dong kenapa saya pilih buku ini?

Kim Man Jung dikabarkan adalah leluhur Kim Seokjin, iya, kesayangan saya selama setahun ini, member dari BTS. Saya membayangkan Hsing-Chen aka Shao-yu adalah Kim Seokjin, apalagi ada kalimat dari salah satu perempuan itu bilang, “dia adalah laki-laki sempurna, yang akan sangat mudah kamu temui bersinar di antara kerumunan. Dia adalah phoenix di antara ayam-ayam” ((ayam-ayam))! Tetapi pada bagian dia berbagi cinta dengan kedelapan peri, saya berkali-kali jitak kepala, “amit-amin Jin, jangan begitu yak. Yaloh jangan sampai Jin.” Seperti time travelling, yang digambarkan Man-Jung di abad 17 adalah cicitnya Kim Seokjin di 2021, yang brilliant, bersinar, dan sangat kreatif dengan ide-idenya yang ajaib. Ah sudahlah… bacalah.

Learning Empathy with BTS – Park Jimin on Jimin’s Birthday

Standar
Learning Empathy with BTS – Park Jimin on Jimin’s Birthday

If you can choose your own super power to have, please choose Empathy! Everyone born with it but not everyone mastering it. It takes effort to embrace and apply your empathy skill. But first, what is empathy?

Simon Baron – Cohen on his book Zero Degree of Empathy said that empathy is a double-minded, how a person can put someone else, read their feelings and emotion as well as read changes on someone’s behavior or attitude toward him. There at least 12 factors according to Baron-Cohen that can impacted empathy circuit; intention, physical state, hormone, neurology, genes – genetic, corrosive emotion, in-group/out group, conformity/obedience, early experience, cultural sanction, threat (fight/flight). So, when we interact with others, these 12 factors will work simultaneously and or complementary to each other in our brain. Some of us are lack the capability to control choices through these 12 factors.

However, I am not from biology nor phycologist background and more to social science, therefore, I believe that early experience, cultural values exposure are keys to develop empathy. I don’t believe that any biological modification in your brain or genes or hormone can change someone’s personality yet their empathy.

Nevertheless, I agreed with Baron-Cohen on his said that empathy is the only way, the super power to solve conflict and other human’s problems. Even if there is only 0.1 percent goodness in someone, be focus on it and humanized them then crime and bad attitude might erode. Therefore, nurturing and enhancing empathy is really important and must include in education curriculum and childcare including in political life. Only with empathy, we can live peacefully.

Introducing empathy starts from the early childhood and that’s why I am pleased to join Bintang Ungu, a BTS ARMY communities since December 2020. We are trying to apply and spread good things that we learn from BTS, especially their power of empathy. On 10 October 2021, we had an early celebration for BTS-Jimin birthday by launching a free school for toddler in the scavenger village, North Jakarta. This is the second school that we built and supported and will be five more as part of Project 7 – Welcome Generation. Early education is a foundation to build new generation who has empathy, confidence, self-resilience, love themselves and ready to take a lead in facing changes in the future.

On the event, I brought my niece with me because I know empathy is not a theory you need to remember, it is something you have to experience it. I hope she will nurturing her empathy toward others and become part of the empathic Welcome Generation just like Park Jimin.

Park Jimin has an angel heart and never hesitated to show it in public. Showing empathy and compassion is not necessary by talk and showering your counterpart with advices. Empathy is something you show by attitude, by holding hands, hugging or even just sit next to someone who need a companionship and support is enough. Those are things that Jimin does to members who need one. He never failed to be there for Taehyung, his soulmate, the 95’s. Jimin and Jin are chaotic duo when they are both live and always make me laugh so hard. Jimin lovingly taking care of JK the maknae. When he is being sarcastic, he doing it cutely and no one can ever be mad at him.

Park Jimin has been through hell when haters mocked him. He did extreme diet but not eating for days to lose weight. He is perfectionist when it comes to dancing and many times hurt himself that Taehyung said, 괜찮아 it’s okay not to be perfect all the time.

Let me end it here by saying Park Jimin, Happy Birthday! You are lovely, cutie and sexy. Please stay happy. Jimin-aaah 사랑 해요!

Let’s talk about knowledge and intellectual on BTS RM’s birthday

Standar
Let’s talk about knowledge and intellectual on BTS RM’s birthday

It has been a hot topic between me and friends about how much a trainer cost for one session. One name said he asks for five million rupiahs per hour, but unfortunately the program does not have that much for a trainer cost. I know it is not cheap to get knowledge, you pay for your college, books, time and energy and I would not be surprise if someone making money from it.

However, for someone who was living underprivilege once, I know how expensive education is. I used to sell my only gold necklace from my mom to buy a book, because no one I can borrow to. The only corruption my late father did was copy the original books for me to read at schools. My mom gave me money for one ticket to college and packs of meals for me to sell if I wish to return home. I spent nights to rewrite from the book that belong to my friend so I can re-read it again before the exam. I know that feeling, when you really want to learn something but have a very limited access to it.

I graduate bachelor with two scholarships and master with a very prestigious scholarship from UK Government. Now, that I have money to buy books and I spent millions monthly for books, I know it is part of my privilege that once I got thanks to scholarships. I am very aware that there are million girls and boys, people underprivilege that like me, knowledge enthusiast with limited access.

I got my knowledge, my skill “freely” and since then I promise myself to distribute what I have to everyone. Knowledge distribution is as important as knowledge production – Gramsci. Therefore, I never put price on my self when it comes to knowledge sharing. If my knowledge and skill can somehow help someone to change or benefits to something, that’s enough for me. Money can come afterward; sharing will never make me broke.

On knowledge and intellectual, I am with Gramsci, because our focus is about the change itself, how a narrative of knowledge can be produced and distribute by the intellectual in a social group. I am reading Gramsci’s Common Sense book at the moment but already captive by it. Although Gramsci is very open for anyone perspectives on what he means by intellectual, but what I understand is that intellectual is a vocational work on processing, producing and distributing knowledge, have the power to spread narratives and to change common or good sense of a group that they belong. Intellectual is never independent because knowledge produced from social interaction and narrative. Intellectual can also represent a group knowledge. Anyone can be an intellectual as long as he or she within his and her knowledge can make a change something or to maintain the status quo.   

Now let us meet Kim Namjoon, BTS member who also known as RM – Rap Monster. He has the highest IQ in the group with 148 score, had TOEIC score of 900 from 990, a bookworm and to me he is very political. He transferred and share his knowledge through lyrics of BTS songs, and his speech. He is the leader of BTS , he got the full power to create narratives that moves his people called ARMY. He has the knowledge, and he is an intellectual that Gramsci mention.

On 2018, RM lead BTS and speech at the UN General Assembly and said  “Tell me your story. I want to hear your voice, and I want to hear your conviction. No matter who you are, where you’re from, your skin colour, gender identity: speak yourself.” Those lines have been spread around the globe, stuck on ARMY’s mind and it does change life of ARMY’s. I must say that I know BTS also from his speech that my niece sent me. She herself change once she embraces Namjoon words. You can read his full speech here: https://www.unicef.org/press-releases/we-have-learned-love-ourselves-so-now-i-urge-you-speak-yourself

Youth has been seen as part of the exclusion social group. Youth is excluded from the process of decision making in political realm that most of the time related to their future. Youth voice is excluded from adult status quo in many issues. Nevertheless, as a social group, youth create and produce their own knowledge and narratives. They also produce organic intellectual that can speak on their behalf and I believe BTS is one of them.

If you study the inequality narratives and want to understand what anthropologist said subaltern narratives, then following and listening their life, is so fascinating. I am still learning about BTS and the realm that their create and how they become intellectuals for the ARMY-BTS relationship.

Time to say HAPPY BIRTHDAY KIM Namjoon, stay healthy and stay in power, you need it to make a bigger impact to your fellow youth. Lead us, lead them to create a better future for themselves and for all.

Perbedaan Fasilitator, Moderator, MC, dan Motivator

Standar
Perbedaan Fasilitator, Moderator, MC, dan Motivator

Setiap kali saya mengenalkan diri sebagai fasilitator, yang pertama terbayang oleh lawan bicara saya adalah moderator. Oh, nanti berarti Mbak-nya yang mengantarkan diskusi, menyimpulkan dan memancing tanya jawab dengan audiens kan? Bukan, kata saya, itu moderator, saya fasilitator. Lalu disambut jeda…. Silent… oh okay okay, jawabnya, padahal saya yakin belum okay di kepalanya. Begitu juga ketika dalam sebuah program dimasukan post fasilitator, tim keuangan lantas menyamakan honornya dengan mc dan moderator.

Lalu ada motivator. Seringkali yang ditunjuk sebagai moderator atau fasilitator malah terjebak jadi motivator, self-center, merujuk melulu pada dirinya lalu melontarkan petuah-petuah bijak. Mikropon itu memang dahsyat kekuatannya, seperti cincin dalam film Lord of The Ring. Siapa yang memegang mikropon, mendadak merasa punya superpower untuk memengaruhi orang lain. Jadi inget mantan satpam di kantor lama, dia paling seneng dikasih tugas check-sound lalu berakhir dengan kultum dan nyanyi-nyanyi gembira. Dia gembira, kami bengong.

Baiklah, saya akan coba dengan bahasa bayi menjelaskan dimana perbedaan Fasilitator, Moderator, MC dan Motivator.

Fasilitator. Arti paling sederhana adalah orang yang memudahkan proses. Biasanya saya diundang untuk membantu proses konsultasi publik yang pesertanya berasal dari beragam latar belakang. Fasilitator tugasnya mendapatkan tanggapan, masukan, ide dari semua orang secara inklusif dan partisipatif. Semua punya kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat dan didengarkan pendapatnya.

Fasilitator tidak boleh menggiring jawab pada tujuan tertentu, untuk sepakat atau tidak sepakat pada satu hal. Tapi memancing peserta untuk berpartisipasi penuh dalam tujuan pertemuan. Boleh merangkum jawaban tapi tidak boleh menyimpulkan. Fasilitator wajib menguasai berbagai tools atau alat kreatif yang memudahkan proses pengumpulan pendapat, mengajak orang terlibat dalam proses.

Moderator. Arti sederhananya moderasi atau menengahi. Ya betul, moderator hadir di tengah diskusi atau debat yang diadakan. Idealnya dalam sebuah diskusi narasumber yang dihadirkan mewakili perbedaan pandangan di publik, dan moderator berada di tengah-tengah. Moderator memastikan kedua perbedaan pandangan bisa dapat porsi yang seimbang. Merangkum dan membuat kesimpulan, menjadi bagian dari tugas moderator.

Meski tugasnya berbeda, fasilitator dan moderator wajib, fardhu kifayah untuk menguasai materi yang dibawakannya. Ini tidak bisa ditawar-tawar dan persiapannya tidak bisa dalam kebut satu malam. Keduanya harus membaca materi, mengubahnya menjadi narasi yang mengalir. Fasilitator dan Moderator harus mengenal narasumber dan audiensnya, menyesuaikan bahasa agar mudah dipahami oleh peserta atau audiensnya.

Karena itu saya sudah sebal kalau ada yang merendahkan profesi ini, persiapannya lama. Berat tahu! Dilan aja belum tentu sanggup memikulnya.

Lalu ada MC. MC atau master of ceremony, dia mengantarkan sebuah acara, perhelatan, seremoni. Yang harus dikuasai adalah panggungnya, dan agenda acara. Makdarit kalau agenda berubah dalam waktu sepersekian menit sebelum acara mulai, MC mukanya udah berlipat tujuh. Kalau ada yang salah penyebutan nama atau agenda acara, MC mempertaruhkan reputasinya di depan orang banyak loh.

Terakhir Motivator, tentu orang yang memotivasi audiens. Dengan pengalaman dan pengetahuannya seorang motivator akan bicara untuk menggerakkan audiens berbuat atau berpikir sepertinya. Ada banyak sekali motivator sekarang ini, kamu pasti lebih paham daripada saya.

Saya bukan motivator, da aku mah apa atuh. Sejak 2015, saya jadi fasilitator setelah lulus dari Inspirit Vibrant Fasilitator kelas. Bagaimana menguasai kelas, itu soal jam terbang, practice, practice and practice. Sampai hari ini saya masih belajar untuk kreatif agar kelas tidak membosankan, mengendalikan emosi sebelum kelas dimulai.

Selain jadi fasilitator, saya masih warawiri di dunia moderasi. Saat jadi moderator, saya akan kurang senyumnya karena harus konsentrasi menangkap percakapan narasumber. Prinsip yang saya pegang adalah moderator sebagai penengah bukan narasumber, jadi jangan sok pinter dari narasumbernya, atau menggiring percakapan agar menyepakati pendapat saya. My opinion is not matter, karena bukan di situ tugasnya.

Semua pekerjaan di atas adalah penampil dan harus bisa menampilkan “pertunjukan” yang terbaik. Menyiapkan mental dan fisik adalah bagian dari pekerjaan. Suara harus dieman-eman, banyak minum air putih, tempo harus dijaga – yang ini masih terus belajar, karena saya kalau ngomong merepet macam rapper. Tidur cukup sebelum tampil, bahasa tubuh harus diperhatikan, dan mental juga harus dijaga. Sebelum tampil, saya tidur cantik, minum kopi dan mendengarkan music yang enak. Sekalipun sekarang panggung itu virtual, saya tetap melakukan ritual yang sama. Mandi dan sikat gigi, penting bukan buat orang lain, tapi buat menaikan mood sendiri.

Ini bukan soal bakat, ini adalah skill atau keahlian yang bisa dipelajari dan menghasilkan cuan. Silakan dikuasai.

Feminisme dari kelompok marjinal dan hal-hal yang luput dari perjuangan. Review Hood Feminism – Mikki Kendall

Standar
Feminisme dari kelompok marjinal dan hal-hal yang luput dari perjuangan. Review Hood Feminism – Mikki Kendall

Mikki Kendall adalah feminist, berkulit hitam dan besar di lingkungan tempat tinggal kulit hitam. Adalah neneknya yang menanamkan prinsip semua anak dan cucu wajib punya pendidikan yang tinggi. Kendall kutu buku, sementara sebagian besar teman sebayanya putus sekolah lalu mengandalkan jalanan untuk bertahan hidup. Kendall tumbuh menjadi feminis  dari lingkungan termajinalkan dalam kehidupan Amerika Serikat.

Dalam buku ini Kendall mengritik gerakan mainstream feminis yang utamanya digawangi oleh kelompok feminis kulit putih. Kata dia sebagian besar gerakan feminism di Amerika gagal karena tidak melihat pada kepentingan kelompok marjinal, tapi gerakan ditujukan untuk mengamankan kenyamanan kelompok menengah dan kulit putih.

Kendall mengajak kita kenalan pada isu-isu yang tak disentuh oleh banyak gerakan mainstream. Saat kita bicara tentang kemiskinan, seringkali kita fokus bahwa kemiskinan adalah persoalan individual. Nope. Kemiskinan adalah sistem. Dalam kelompok marjinal, akses pada pendidikan, peningkatan ekonomi, terbatas. Di buku ini topik bahasan utama bukan langsung menyasar pada pendidikan, tapi tentang kepemilikan senjata. Di Amerika, orang boleh memiliki izin punya senjata, tapi lihatlah kelompok mana yang akhirnya menjadi korban dari kekerasan, brutalan polisi. Kelompok kulit berwarna menjadikan mereka sasaran empuk pada pemegang senjata, dan polisi.

Lalu tentang rasa lapar, ketika feminism bicara tentang hak-hak perempuan, mereka melupakan kenyataan tentang rasa lapar yang harus dipenuhi dengan cara apapun. Kendall pernah menjadi orang tua tunggal setelah bercerai dari suaminya yang abusive, dan dia harus antri kupon makanan untuk bertahan hidup bersama anaknya. Menjadi kepala keluarga tunggal buat perempuan tidak mudah, kalau dia harus bekerja untuk mencari nafkah, dia harus meninggalkan anak-anakya di rumah sendirian atau menitipkan pada pengasuh atau day care yang artinya tambahan biaya yang harus dipenuhi.

Tentang pendidikan, hak pada reproduksi, rumah justru ada di bagian-bagian akhir dibahas oleh Kendall. Dia mengajak pembaca untuk melihat gambaran yang lebih luas, tentang stigma, sistem yang membuat kelompok marjinal tak punya pilihan. Dia ingin mengajak lagi feminis melihat pada akar perjuangan, bahwa feminism adalah perjuangan untuk keadilan dan kesetaraan buat semua, melewati gender, race, status ekonomi dan sosial.

Ketika dia bicara tentang war on drug, memerangi narkoba, dia menyentil bagaimana mainstream media dan kebanyakan orang hanya melihat narkoba sebagai setan. Apakah kamu pernah tahu cerita anak-anak yang harus mencari uang untuk membantu ibu tunggalnya dan adiknya untuk bertahan ditambah nenek yang sakit-sakitan? Pernahkah kita tahu cerita di balik mereka yang terjebak dalam kejahatan?

Berkali-kali Kendall dalam buku ini menyebutkan betapa beruntungnya dia bisa bertahan hingga sekarang. Pendidikan yang ditanamkan neneknya, ibunya menyelamatkannya. Begitu juga dengan guru-guru yang melihat potensi di dirinya, keluarga besar yang menjaganya. Tapi ada banyak sekali anak perempuan yang tidak seberuntung dia.

Feminis yang lahir dan besar dengan pengalaman barangkali tidak sama dengan mereka yang menjadi feminis dengan buku. Kendall adalah feminis yang tak akan ragu untuk maju melawan ketidakadilan yang dia lihat di depan mata. Kita memang harus marah jika melihat dan tahu hal itu terjadi, lalu apa yang bisa kita lakukan untuk memastikan ketidakadilan bisa diubah menjadi keadilan? Kesetaraan dan keadilan buat Kendall adalah tentang akses yang sama untuk pemenuhan kebutuhan dasar.

Membaca buku ini seperti diajak jalan-jalan ke masa kecil saya yang juga besar dalam lingkungan padat penduduk di Jakarta Selatan. Rekan sebaya saya sebagaian besar yang laki-laki berakhir dengan narkoba, yang meninggal karena over dosis, meninggal di penjara karena digebukin, dan yang mati karena sakit menahun akibat obat. Rekan sebaya perempuan ada yang berakhir di jalanan, dari satu laki-laki ke laki-laki lain, yang meninggalkan sekolah karena hamil duluan. Papi dan mami saya sangat ketat menjaga agar saya tak terpengaruh pergaulan di rumah. Setiap pukul 19, papi akan berdiri di depan pintu memastikan saya kembali ke rumah dan jangan harap bisa keluar lagi.

Saya adalah Kendall yang beruntung punya orang tua yang menjaga ketat dan mendidik saya dengan keras. Di sisi lain, saya adalah anak dari isteri kedua, anak ke tujuh dari tiga belas bersaudara se ayah. Ayah saya punya 3 orang isteri. Ketika feminis dan kelompok Islam garis keras berdebat tentang poligami dalam sisi agama dan hak-hak perempuan, nyaris tidak ada yang meyentuh dan bertanya bagaimana anak-anak dari keluarga poligami ini bertumbuh secara fisik dan mental. Buat saya berat sekali percaya bahwa institusi pernikahan adalah perlu dan penting. Saya memang menikah atas kesadaran penuh dan pilihan sendiri tanpa tekanan siapa pun. Itu tidak terjadi sampai di usia 39 tahun, ketika saya yakin jika ada hal buruk terjadi, I can just packed my bag and leave, saya mampu berdiri di atas kaki sendiri. Sampai hari ini saya tetap bilang, pernikahan bukan kuncian buat bahagia, itu cuma satu pilihan dalam hidup dan pilihlah yang bijak untuk dirimu sendiri.

Feminisme saya lahir dari pengalaman, melihat kehidupan mami yang dipoligami, bertahan demi anak-anaknya yang sempat membuat saya murka karena dia bisa saja bahagia dengan berpisah dan kami anak-anaknya tetap akan baik-baik saja. Feminism saya lahir dari hidup di tengah lingkungan yang marjinal, anak-anak yang tak punya akses pada pendidikan karena miskin, ajaran agama dan budaya yang patriarki. Feminisme saya lahir dari pengalaman pernah dilecehkan di bis ketika seorang laki-laki meraba payudara saat saya tertidur, ketika tersadar dia langsung lari dan saya terpaku, diam, bingung dan merasa kotor. Bangsat itu semoga hidupnya tak pernah tenang.  Buku-buku tentang feminism baru saya baca ketika kuliah dan diskusi akademis.

Saya sepakat dengan Kendall, feminism bukan sekedar perbincangan dan hingar-bingar kampanye di sosial media, tapi buat aksi yang memastikan kita bisa menutup kesenjangan dan memastikan kesetaraan dan keadilan itu terjadi, sebuah gerakan yang memahami dan memenuhi kebutuhan di tingkat tapak.  

Using Pop Culture to Counter the Hegemonic. Notes for BTS Jungkook Birthday

Standar
Using Pop Culture to Counter the Hegemonic. Notes for BTS Jungkook Birthday

Since I fall happily into the BTS’s rabbit hole, I use them not only to make me happy (as Jin and RM told us to) but as my production means. Does it make me sounds academic?

I work around the issues of Gender and Social Inclusion and whenever I do the training or work or people recognize me as a feminist, there are some resistances, I can hear “sigh” from the audience even just looking at their changing faces. Why do we need to learn about gender? Are you trying to change our habit, beliefs and culture? Why is it so important for us to know the different between sex and gender? There is no such as a social exclusion in our community. Such a basic and common comment I have every time we have the session.

It is so challenging and for those who knows me well, I really love challenges, they make me feel alive and useful. So, the first important thing I prepare when I do the training or talking is an ice breaking. I tend to make myself “fool” and funny in front of everyone. Music is a universal language that can break any language barrier, after all, you can always find video with the lyric if you want to understand it. So, I use music one. For adult audience, I use dangdut, I use pop music. For young audience, BTS is on the playlist and I open for a request. I use premium Spotify – damn I should get a discount for using it for a good cause. Not just for a smile and a head banging session, you can challenge the audience with asking them about the message in the lyric, what issues are the singers wants to challenge? And you can find interesting answers. Making gender issues as public talks is fun, there is where you start, where I start. Here are some pictures to challenge the hegemonic of gender role, the patriarch culture. I put not only BTS, because they are not the only one who challenge the hegemonic.

skirt is neutral gender
everyone can cook

Currently, Indonesian officer has been busy repainting wall that being used by artists to spread their messages, a critique to the authorities. Followed by the respond from the government that if you have something to say, better to have a dialogue, how government is very open for one. What a polite argument, while at the same time, officers have been put the painters on the list to catch like a criminal. Is that how you treat people with some critiques? I know the hegemonic is very annoyed with Bansky’s and painters or artist who followed him. If the dialogue is open for every one equally dan fairly, they might not use the mural, and other art to send their message.  The more tense of pressure the authorities give, the more resistance they will get.

Why pop culture?

Pop culture has two characteristics; it is dynamically expressive, and it is accessible. Popular culture acts both as a means for us to have enjoyable and emotional experiences with characters, places, things, or situations that we may not otherwise experience—perhaps because they are not even real—and a means for us to define our social reality (Doveling et al. (2014). Emotions and mass media: an interdisciplinary approach. In Doveling, et al. (Eds.), Routledge Handbook of Emotions and Mass Media)

However, during my times talking about social inclusion how youth for example feeling being exclude from the public decision-making process while they feel “home” and belong around their groups as fandom. When we are talking about pop culture, it is not only about music, but also movies, sports, where their fans develop their own identity and values. So pop culture is not just about the mass-product of art but we can look at it from the social movement and politic perspectives as an agent of change. I am not saying like a changing behavior because it will take long times, but through this pop culture and fandom life, we can find the change of perspectives, identity and public discourses. Like countering the patriarch culture, erasing gender gap, and creating an equal and inclusion society is so big that is not happening in short time, even if the struggle has been running for decades. However, being able to make gender issues as a public talk and discourses, and people can recognize social exclusion while talking and taking a small step toward inclusion, is some of an achievement. And I prefer using pop culture in doing it, as means of production of consent. Using the same “weapon” to manufacture of consent. The hegemonic occupied the media mainstream, and maintaining the culture as status quo, while I and we can use the pop culture to counter it. And why not!

I should mention that it has been eight months since I fall happily and become an ARMY, an adult ARMY. I see how ARMY doing good things and the individual feelings that they do change how they thoughts and behave in daily life. One of my friend said “my husband is very supportive to me because he sees that being ARMY is changing me into a better person.”

If you read this article: https://www.koreaboo.com/news/turkey-government-investigating-kpop-threatens-traditional-values/ you will find how the hegemonic is feeling threat by pop culture, have we won yet? Nope, a long way to go. But at least it is there, the change is in everyone’s mind.

Time for me to go and leave your brain digest this mumbling thought of mine. Let me leave by saying Happy Birthday to the golden Maknae, Jeon Jungkook! I really love your kindness, duality, and your puppy eyes when you are excited on something or being zonk into your own world. I love your painting both the natural one and the abstract one. I don’t have to say that I love your voice anymore because I listen to yours and BTS every day! Stay healthy and happy JK, you deserve every second of happiness in life.

Selama profit yang dikejar, selama itu pula kerusakan akan terus terjadi. Review Consequence of Capitalism, Noam Chomsky dan Marv Waterstone.

Standar
Selama profit yang dikejar, selama itu pula kerusakan akan terus terjadi. Review Consequence of Capitalism, Noam Chomsky dan Marv Waterstone.

Saya akan memulainya dengan angka, bahwa ada lebih dari 800 pangkalan militer Amerika Serikat di seluruh dunia. Pertanyaannya adalah untuk apa? Melindungi siapa? Apakah keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat semata-mata untuk menjaga dunia tetap dalam koridor demokrasi, freedom, atau kemerdekaan siapa?

Buku Consequence of Capitalism yang ditulis Comsky dan Waterstone tidak diawali dengan menjawab pertanyaan di atas itu. Tapi mereka memulainya dengan pengertian tentang Common Sense, atau hal yang dianggap lumrah, wajar dan dapat diterima oleh publik. Keduanya tentu bicara dalam konteks pemerintahan negara Amerika Serikat tetapi tidak bisa lepas dari hegemoni global Amerika dan Eropa di dunia. Imperialisme di abad 17 – 19 sudah ganti rupa saja dengan penguasaan militer dan finansial dalam kerangka globalisasi. Barat yang melakukan imperialism dan menghancurkan kehidupan negara-negara bekas jajahan di Afrika, Asia dan Amerika Selatan, mereka juga yang menggaungkan kampanye tentang demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Kamu boleh menyebutnya ironi. Setelah Perang Dunia II, Amerika tak punya lawan dan melebarkan hegemoni dalam sebutan Great Area. Amerika merasa perlu melindungi dunia dari ancaman Rusia, bahkan saat Rusia nggak ngapa-ngapain and no where to be found – kata Chomsky. Sejak Perang Dunia II itu, Amerika tidak pernah berhenti berperang bahkan dalam satu tahun pun, dan itu seolah dianggap wajar.

Common Sense dipakai untuk kepentingan melindungi kekuatan hegemoni. Contohnya bahwa neoliberalisme adalah ideologi yang diterima di seluruh dunia, bahwa sukses atau tidaknya seseorang sangat bergantung pada dirinya sendiri, bukan orang lain, masyarakat apalagi negara. Bahwa demi menjaga demokrasi, maka Amerika Serikat “sah” saja mengirimkan tentaranya ke Vietnam, lalu di Afghanistan, Irak dan memusuhi Iran atau negara-negara yang diyakini membawa paham ideologi lain di luar demokrasi. “be with us or be our enemy.” Dengan bendera kampanye demokrasi, seolah Amerika sah untuk mengintervensi kedaulatan negara lain.

Apa hubungannya dengan kapitalisme? Inikan soal politik. Buku 344 halaman ini berisi sejarah, dokumen-dokumen rahasia yang baru bocor di kemudian hari, tentang kepentingan-kepentingan ekonomi di balik kampanye demokrasi global. Kepentingan apa yang ada di Irak? Iya betul minyak. Begitu juga dengan Venezuela, Amerika merasa perlu untuk melindungi sumber minyak bumi di sana, lalu didukunglah pemimpin boneka untuk kepentingan mereka. Persis di Indonesia 1965.

Untuk melindungi kepentingan ekonomi para pemain aka kapitalis itulah, perlu orang atau sekelompok orang yang mampu memberikan rasionalisasi terhadapnya. Industri kehumasan adalah bagian penting untuk menggaungkan kampanye, retorika, propaganda pemerintah melalui media. Militer dilibatkan tentu saja untuk melindungi itu semua melalui kekuatan senjata. Militer diperlukan bukan untuk melindungi warga dunia, tapi kepentingan ekonomi.

Awalnya C-M-C, komoditas dibuat untuk memenuhi kebutuhan manusia, yang kemudian ditukarkan dengan alat tukar bernama uang untuk membeli komoditas lain. Tapi ketika komoditas yang dihasilkan surplus, dan harus terjual untuk menghasilkan uang, maka di situ bermain promosi dan marketing yang membuat seolah komoditas itu sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi. Komoditas dihasilkan untuk menghasilkan profit, lalu diputar lagi untuk menghasilkan profit yang lebih besar, sampai ketika sampai komoditas jenuh dan tak laku di pasaran, muncullah investasi ghoib bernama investasi finansial. Begitu seterusnya dengan konsekuensi pada kerusakan lingkungan dan kehidupan sosial.  

Setelah perang dunia kedua, masa itu disebut masa keemasan kapitalisme, yang dikontrol oleh negara, serikat buruh memegang peranan penting dan pengusaha harus menjamin kesejahteraan buruh. Tentu saja itu tak banyak menguntungkan kapitalis. Common sense kemudian diacak-acak, resistensi muncul untuk membangun rasionalisme baru, neoliberalisme yang dikukuhkan Ronald Reagen di Amerika dan Margareth Thatcher di Inggris Raya. Tidak ada kelas dalam masyarakat, yang ada adalah individu dan negara tidak boleh membatasi pasar. Semua harga ditentukan oleh pasar. Yang terjadi kemudian sampai hari ini adalah jurang luas antara buruh dan CEO, antara perempuan dan laki-laki, si kaya dan si miskin. Kekayaan dunia bertumpuk pada sekelompok orang saja.

5 bab buku ini kita diajak jalan-jalan melintas waktu dan tempat, dan dua bab terakhir adalah tentang respon dan perlawanan juga perubahan sosial. Resistensi terjadi ketika apa yang seharusnya menjadi Common Sense ternyata tidak jadi Common Consent, pengetahuan umum tapi tidak kesepakatan umum. Ada kegelisahan di masyarakat tentang politik dan situasi ekonomi. Chomsky mengajak kita untuk kritis membaca, jika ingin tahu apa itu Common Sense, pantau headline di media massa, satu hari atau dalam seminggu. Apakah yang disampaikan seragam? Apakah sumber yang dikutip dan angle yang disampaikan sama? Jika iya, kamu masuk tahap Pretext, mempertanyakan hal tersebut, tidakkah janggal? Absurd dan ada apa di balik keseragaman berita itu? Lalu masuk ke tahap Reason, cari tahu alasan sebenarnya dari Common Sense itu, apa yang tidak diungkap dalam keseragaman itu?

Waterstone bilang, ketika ada respon, perhatikan apa respon itu untuk melakukan perubahan baru atau mempertahankan status quo? Ketika ada resistensi, selalu ada counter atau respon balik dari pemerintah untuk menggagalkan hal tersebut. Tapi jangan putus asa, resistensi sebesar Occupy Wall Street walaupun tidak menghancurkan kapitalisme, tapi setidaknya menjadikan kritik terhadapnya sebagai wacana umum di publik. Begitu juga dengan Black Lives Matter dan Gerakan lainnya. Perubahan sosial butuh waktu panjang, tapi bukan tidak mungkin. Kalau Neoliberalisme bisa jadi new Common Sense, bukan tidak mungkin Green New Deal juga akan dapat menjadi idealism perubahan baru. Pesannya, harus terus konsisten pada perjuangan. Eeaaa.

Saya pembaca setia Noam Chomsky, yang meskipun bukunya penuh depresi, tapi dia selalu berusaha menyelipkan harapan. Dia percaya selama masih ada orang-orang seperti AOC, Klein dan Sanders, resistensi terhadap hegemony dan ide-ide segar perubahan akan selalu muncul. Waterstone, saya baru tengok kemarin gambarnya di Google, nevertheless, cara dia menyampaikan kuliah yang ditranskrip dalam buku ini, sangat menarik dan lucu. Haish langsung merasa pengen kuliah lagi.

Kekuatan fandom menggerakkan politik sipil. Review Politics for the Love of Fandom by Ashley Hinck

Standar
Kekuatan fandom menggerakkan politik sipil. Review Politics for the Love of Fandom by Ashley Hinck

Semasa Green Radio mengudara, kami pernah punya acara “Suara Komunitas” menghadirkan komunitas dengan kegiatannya. Kami percaya komunitas-komunitas non formal ini punya kekuatan untuk menggerakkan massa, melakukan perubahan baik. Tetapi respon tak selalu positif memang, radio dianggap sebagai radionya komunitas, LSM ga ada duitnya. Dan begitulah.

Ketika dunia bergerak semakin liat, semakin cair meski dibatasi layar 14 inchi, perubahan justru terjadi dengan sangat cepat dan massif. Sekat-sekat institusi format semakin menghilang. Dulu pemuda ditemui di ruang Karang Taruna, sekolah dengan bangunan kaku seperti kanebo menjadi arena sosialisasi, begitu juga dengan institusi keagamaan. Tetapi hari ini, identitas seseorang semakin banyak, tak melulu dibatasi oleh gender, usia, agama, tingkat pendidikan, demografi umum yang kita temui di project.

Hari ini, setiap orang punya ruang nyamannya bersama kelompok yang membuat mereka merasa diterima apa adanya tanpa perlu bendera latar belakang yang membatasi ruang gerak. Namanya fandom, kelompok penggemar. Mereka punya nilai etik yang diusung, dan punya modalitas etika yang digunakan untuk mewujudkan kerangka etik yang mereka percaya.

Hinck, penulis buku ini adalah penggemar Harry Potter dan bergabung di klub penggemar, Harry Potter Alliance. Grup ini berhasil dalam kampanye yang membuat Warner Bros beli coklat dengan sistem fair trade. Di buku ini juga Hinck menghadirkan 4 cerita fandom lainnya. Klub penggemar AmericanFootball yang mengajak pemain dan penggemar menjadi mentor untuk anak-anak sekolah dasar. Ada youtuber untuk kutubuku, atau Nerd yang menjadi ajang saling berbagi. Greenpeace yang mengajak penggemar LEGO dewasa ALOF untuk menggagalkan kerjasama LEGO dengan SHELL, dan UNICEF dengan memanfaatkan penggemar Star Wars.

Apakah setiap Gerakan yang melibatkan fandom akan berhasil? Tentu tidak semudah itu malih. Seperti di atas dijelaskan, menggerakkan fandom harus paham dulu kerangka etika apa yang berlaku di kelompok mereka, lalu sesuaikan dengan modalitas apa yang mereka punya. Fandom adalah sekumpulan orang dengan obyek kesenangan yang sama. Untuk dapat memahami mereka, maka harus pula dapat memahami tentang obyek tersebut. Tidak bisa ujug-ujug hanya karena melihat fandom sebagai super kekuatan Gerakan sipil, serta merta mencari, membujuk dan menggaetkan mereka untuk kepentingan tertentu. Fandom berisikan orang-orang yang cerdas untuk memilah kesesuaian kampanye dengan etika mereka.

Selama ini fandom dianggap sebagai sekedar kelompok histeria, tetapi Hinck bilang sudah saatnya fandom dilihat sebagai sebuah kekuatan untuk melakukan perubahan. Jangan mocking atau melecehkan kekuatan besar para fan, yang dalam kelompoknya mereka belajar dan saling berbagi nilai, dan sikap politik tertentu.

Tetapi Hinck juga mencatat, dari keempat contoh yang dia ambil, tentu saja ada kelemahan. Fandom tidak semuanya “welcoming” terhadap fan baru. Seperti American Football, LEGO, Star Wars dan Nerdfighter didominasi oleh kulit putih dan laki-laki, maskulin. Fan kulit berwarna dan perempuan seolah dibatasi ruangnya dalam kelompok ini. Meski mereka menyangkal hal tersebut, tapi studi Hinck menemukan hal tersebut.

Saya sengaja tak detail membahas bagaimana proses engaging fandom untuk kepentingan politik, ngeri. Buku ini rada bahaya kalau di tangan partai yang sedang liar menggeliat cari dukungan.

Being political with BTS ARMY (part.2) and as the newpower of collective movement on the Happiest 8th Anniversary Bangtan! Thank you!

Standar
Being political with BTS ARMY (part.2) and as the newpower of collective movement on the Happiest 8th Anniversary Bangtan! Thank you!

Since I decided to go back to school for Phd, I fall myself happily in BTS rabbit hole. I follow BTS and ARMY ever since, every day. My Gmail sent me the alert daily of BTS, ARMY, Soft Power, Korean Hallyu. I think I have thousands of media and journal’s articles from 2019-2020, thousands digital artifacts of videos, photos and screenshoots from the social media related to them. I read books related to networked society, social movement, digital citizenship, civic participation, newpower, cultural studies, media studies and pop culture. All summarized in 10 pages of Phd proposal last month and yesterday I got my first peer review, and he said, make it short to just 5! Hahaha. But overall, he said the proposal is clear enough and exciting research plan. Hey, that is my very serious academic document I wrote since I graduate 5 years ago, so Yeaaay! Thank you Bangtan!

I am just a Baby ARMY, according to 7 months being ARMY, I still have lots to learn since they are celebrating 8th anniversary today. And for the past 8 years, I have read that BTS has changed millions of ARMY lives individually, how BTS has changed the way ARMY sees life and themselves. The word Love Myself is so powerful in changing their perspectives on themselves, self-acceptance and how it can break the neo-liberalism values of how each one of us forced to achieve certain standard of living in materialism matter.

I read studies how BTS and ARMY horizontal relationship as Namjoon the leader said, ARMY is their crew. Obviously, ARMY has been the key of BTS success in the past 8 years, years in Billboard chart, and Grammy nomination. ARMY has been protected BTS from malicious digital fraud that can make them hurt musically, including the clout action from parties. Not to mention the impact of ARMY as fandom economically toward BTS, Hybe and Big Hit as a corporation and South Korean as the nation.

Nevertheless, ARMY as community is also doing tons of impactful collective political movement. On Trump’s campaign, on Blacklives Matter. In Indonesia, my recent research count 600millions rupiahs ($ 49741.71) donation to flood and earthquake in January 2021. From May 2020 – February 2021, I made an early accounting of the projects, finding their worth to be IDR 1.013.356.305 ($72642.03) for various causes. This is only from the platforms Kitabisa.com and ARMY used various crowd funding platforms for their charity project.  BTS ARMY not only donates money but also donated 3500 pieces of clothes in February 2021, and more than 1000 books in March 2021 distributed to Women Prison in Bandung, managed and distributed by a sub-group of ARMY Indonesia, Bintang Ungu. The same group also built a kindergarten in a scavenger village. As a disclaimer, I am in the group of Bintang Ungu. Additional to that, ARMY has many branches of interest groups. ARMY learns Korean language with BANGTAN Academy for free, the network of BANGTAN Scholars helped ARMY with their studies and research. There is also group of ARMY focus on mental health and giving comfort to ARMY who need one, freely.

According to the last voluntary world census of ARMY 2020, they are 80 million ARMY in the world, and 20% of them are from Indonesia. Imagine how many ARMY who missed the census, I bet it is more than that. This is a huge power! And majority are Millenial and Z generation, the generation that can determine our future. As for Indonesia, I have to warns ARMY to really careful not being drag politically for any parties’ interest for presidential election 2024. We need to make ARMY clean as it is from any political party shit in Indonesia.

How BTS can have a really huge fandom around the world? I am not going to tell you the whole stories. But here are the principal tips I can give to you. Firstly, please go through their lyrics without prejudice. Listen carefully, read in English translation carefully all the songs or okay do it randomly. Understand what message that they try to send to youth, their generations. Secondly, please go through their videos off stage, RUN BTS, In the soop is my favorite, and Bon Voyage. You don’t need to watch them all, just do randomly. Thirdly, watch their interview with media. But bare in mind, of course, everything you see on media and social media has been curated for certain interest and that will make you want to go through the fourth tips. Fourthly, go through randomly to the conversation between ARMY on social media. Lastly, if you want to look serious or being academic, go through all articles, and journals. You might end up like me. BTS and ARMY are so fascinating relation, digital fandom community like no others.

My first article of BTS on this blog has the tittle of Being Political with BTS and at this moment has 1.943 views, I am not being clout since it is a very personal experiences with BTS but then I realize, there are lots of people out there who wants to learn about BTS. Therefore, I make the second part, more serious, did it look like more academic, no?

On this blog you can also find the article on how BTS impacted the media business. Everything with BTS sold out, including the BTS Meal that brought news attention couple days ago. Again, I don’t want to discuss the issue at the individual level as ARMY, but seeing it as the failure of the system. How business, economic priority failed to meet the health caution.

Happy 8th Anniversary BTS! Stay GOLD!