Monthly Archives: Maret 2019

A Feminist, A Breadwinner and A Panini  

Standar
A Feminist, A Breadwinner and A Panini  

Beberapa hari lalu sempat membaca dua artikel yang membuatku tersenyum-senyum. Aih begitu dekat. Yang pertama, apakah sebuah pernikahan menggagalkanmu menjadi seorang feminis? Artikel kedua tentang generasi panini, itu lembaran daging digenjet di antara roti. Perempuan seperti roti lapis, memenuhi semua keinginan yang ada di sekitarnya, termasuk dirinya sendiri.

Aku rasa keduanya bertalian.

Menikah adalah keputusan sesadar-sadarnya yang aku buat di usia dewasa, 39 tahun. Sudah dengan menimbang bahwa aku tak lagi muda, kemungkinan besar tidak bisa punya anak. Dengan suami yang menjadi perawat atau caretaker kedua orang tua yang sudah dengan penyakit tuanya, stroke dan jantung. Sadar bahwa akhirnya aku yang jadi breadwinner untuk keluarga kecilku, dan keluarga besar. Bahkan dengan pertanyaan yang dalam dan sering aku utarakan, memastikan ibuku rela melepaskanku menikah, karena itu artinya aku tak bisa penuh menjaganya. Lalu beliau bilang, iya, demi kebahagiaanmu, menikahlah.

Maka dengan semua konsekuensi itu, aku menikah. Hari paling indah buat kami berdua. Sekeliling kami tak habis pikir kenapa kami berdua bersepakat menikah sementara secara materi belum terlihat cukup. Aku percaya pada kata-kata ibu, rezeki itu Allah yang punya. Itu saja. Maka Bismillah, semua dijalani.

Sepanjang dua tahun ini, ada saja yang harus kami berdua lalui. Kerja sedang asik, gaji lumayan untukku, tapi konsekuensinya jauh dari suami. Tibatiba dokter bilang, aku tidak boleh hamil kalau tidak mau meningkatkan risiko kanker serviks. Maka keputusan terbesar adalah keluar dari pekerjaan tetap, supaya sehat lahir batin, dekat dengan suami dan hidup sesederhana mungkin.

Tapi ternyata itu berat. Sebagai breadwinner, sungguh berat untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil plus ditambah ibu yang mulai menua dan sakit-sakitan. Tapi bekerja penuh sudah tidak mungkin lagi, kecuali aku menaruh risiko kesehatan terganggu, artinya ibu dan aku bisa jadi sama-sama tumbang, artinya lagi suami akan mengurus dua orang tua dan aku. Risiko itu tak bisa aku ambil. Yang paling berat saat menjadi freelancer yang juga breadwinner adalah ketika kebutuhan datang, dan tak ada cukup dana di tabungan. Itu saat paling sedih. Obatnya, ya kembalikan lagi pada Tuhan.

Panini… aku seperti lembaran daging yang tergenjet roti.

Lalu apa hubungannya sebagai feminis? Aku mau bilang, sejak membuat keputusan menikah, itu adalah sikap feminisku. Tidak ada paksaan, murni memutuskan secara pribadi dengan menimbang semua konsekuensi termasuk menjadi pencari nafkah utama. Feminism memandang hubungan yang setara suami dan isteri, dan kami berdua melakukan itu. Tidak ada penyesalan ketika saya menjadi breadwinner dan suami tinggal di rumah mengurusi orang tua. Bahkan dalam situasi seperti roti panini, kami berdua hanya bisa senyum, “kamu mau naik pangkat,” kata suami. Kita berdua sayang. Aku tidak bisa melakukan semua ini, tidak bisa menjadi diri sendiri, berkarya sebagai pribadi kalau tidak ada dukungan dari suami yang luar biasa. Dia membebaskanku menjadi apa yang aku mau. Batasan yang dia berikan hanya satu, “jaga kesehatan.”

Menikah dan tetap menjadi feminis itu sangat mungkin terjadi, lagi-lagi kuncinya ada di pasangan yang bisa memandangmu sebagai rekan setara, seorang sahabat yang memandangmu sebagai individu. Kami berdua berbagi meski tidak dalam bentuk materi, tapi saling mendukung. Mengakui sekalikali bahwa aku sedih, merasa berat menjadi panini, adalah obat. Tidak perlu untuk selalu menampakan diri sebagai perempuan hebat, kalau sedih ya sedih saja, kalau marah ya marah lah pada keadaan. Ketika sedang merasa lemah, aku akan bilang lemah, cape dan pengennya berhenti. Dengarkan saja, tidak harus berkoar-koar “You can do it Nita” of course I can do it, but it does takes time. Tidak semua hal harus dilakukan saat bersamaan, bahkan embracing your weakness will make you stronger. Apalagi pasangan di samping punya prinsip yang sama, memandang kita adalah setara dan sejalan. Itu yang membuat aku kuat, sebagai feminis, sebagai breadwinner dan panini J

Amerika (Bukan Lagi) Tanah Impian. Ketidakadilan Sosial Dapat Dihindari, Jika Mau. Review #7 The Great Divide Joseph Stiglitz

Standar
Amerika (Bukan Lagi) Tanah Impian. Ketidakadilan Sosial Dapat Dihindari, Jika Mau. Review #7 The Great Divide Joseph Stiglitz

Jujur ketika memegang buku ini saya sudah dengan asumsi bahwa Stiglitz ini berpikiran kanan, kan dia pernah bekerja sebagai ketua ekonomnya World Bank. Kenapa saya beli? Karena membaca tak bisa hanya melulu mengukuhkan apa yang sudah jadi idealismenya kita, harus dong melihat dari banyak sisi, supaya pemahaman tentang satu hal bisa kumplit.

Anyway, ternyata Stiglitz berpikiran kiri. Lahir di sebuah kota industry membuatnya peka pada nasib buruh. Lalu Malcom X yang dia hadiri ceramah publiknya membuat dia belajar banyak tentang diskriminasi yang dialami orang kulit hitam dan masyarakat miskin. Stiglitz pikir ketika dia memilih kuliah di jurusan ekonomi, dia bisa memperbaiki situasi ternyata salah besar katanya. Dia dikeliling oleh orang-orang yang sangat percaya Pasar akan menyelesaikan kesenjangan sosial yang terjadi, Pasar akan membuka peluang yang sama bagi semua orang. Tidak saudara-saudara. Pasar tak bisa bergerak sendiri tanpa campur tangan pemerintah, dan kesenjangan sosial yang terjadi tidak melulu kesalahan hitungan ekonomi tapi lebih banyak didominasi oleh kesalahan pengambilan keputusan dan kepentingan politik.

Stiglitz hidup untuk melihat bagaimana Amerika yang tadinya menjadi tanah impian bagi banyak orang justru sedang menghancurkan dirinya sendiri dan masa depannya. Ketika resesi ekonomi 2008 terjadi, seperti juga Great Recession and Depression 1997 dan 1920an, yang dibantu pertama oleh Amerika yang kemudian menjadi contoh salah oleh banyak negara dunia lainnya adalah, menyelamatkan perbankan dan stimulus kepada pengusaha. Niatnya sih baik kalau perbankan diselamatkan artinya diberikan stimulus untuk memperbaiki ekonomi, kalau pengusaha dibantu dengan mengurangi pajak mereka, pengusaha akan kembali menginventasikannya pada perekonomian dalam negeri. Faktanya tidak. Stiglitz mengakui kesalahan yang diperbuat oleh World Bank, IMF dan Amerika yang suka memaksakan reformasi ekonomi dan membuat negara yang tadinya baik-baik saja malah perlahan mengalami kehancuran.

Saya kaget membaca 1 dari 12 orang di Amerika tidak dapat mengakses makanan, seperlima anak di sana hidup dalam kemiskinan. Anak muda terjebak hutang sekolah / kuliah hingga berpuluh tahun setelah mereka lulus, itu pun baru bisa dibayarkan kalau mereka punya pekerjaan. Sebagian besar tenaga kerja bekerja paruh waktu bukan karena pilihan, tapi terpaksa karena tak banyak lowongan pekerjaan tetap. Infrastruktur di Amerika tidak pernah diperbaiki dan ditambah (entah sejak kapan). Sementara anggaran kesehatan dan pendidikan dipotong, Amerika memberikan anggaran teramat besar pada militer untuk perang Irak-Iran, Irak Kuwait dan Afghanistan. Diskriminasi terus terjadi terhadap perempuan, dan orang dengan kulit berwarna. Di sisi lain 1 persen orang kaya atau elit di Amerika hanya membayar 15 persen dari penghasilannya kepada negara, dan menikmati 93 persen pemasukan antara tahun 2009-2010. Dengan situasi ini, Amerika adalah negara dengan kesenjangan sosial, dan inequality opportunities atau kesenjangan dalam kesempatan hidup terbesar di antara negara-negara maju dunia.

Stiglitz ngeri membayangkan apa yang akan terjadi dengan Amerika di masa depan. Perbaikan harus segera dilakukan terutama di sektor, infrastruktur, teknologi, pendidikan dan kesehatan. Anak-anak tidak boleh hidup dalam kemiskinan. Mereka tidak pernah bisa memilih orang tuanya yang miskin, karena itu negara harus hadir untuk membantu pemenuhan kebutuhan dasar anak-anak untuk pendidikan dan kesehatan. Orang tuanya yang terjebak dalam hutang cicilan rumah (housing buble 2008) harus diputihkan agar mereka bisa menyisihkan penghasilan untuk kesejahteraan keluarga. Model hutang pendidikan harus diputihkan agar tidak semakin menjerat anak-anak muda. Bagaimana mereka bisa berpikir kreatif dan meningkatkan potensinya jika harus memikirkan cicilan yang belum tentu sesuai dengan penghasilan. Sebagai gambaran saja, cicilan hutang pendidikan ini tidak serta merta hangus ketika si anak meninggal, orang tua harus meneruskannya hingga lunas. Menggairahkan kembali aktivitas asosiasi buruh yang dilemahkan sejak Reagan. Asosiasi inilah yang dapat membuat posisi tawar buruh terhadap perusahaan kuat. Yang di atas, 1 persen orang elit itu jangan lagi diberikan potongan pajak, mereka harus bayar pajak sesuai ketentuan, sesuai porsinya. Pajak itulah modal utama pemerintah untuk membangun infrastructure, berinvestasi dalam pendidikan dan riset, teknologi dan kesehatan. Stimulus paling tepat adalah membangkitkan kemampuan orang untuk melakukan demand terhadap sebuah produk ekonomi. Seseorang dengan income terbatas, tentu tidak berpikir untuk mengeluarkan melakukan transaksi pembelian, ekonomi akan macet. Teori dasar ini tetap berlaku dari zaman pertanian, industry bahkan di masa pelayanan service saat ini. Tidak ada demand, supply akan macet. Menciptakan demand adalah dengan memperbaiki situasi ekonomi yang ada.

Aset terbesar sebuah negara adalah manusia di dalamnya. Menghormati warga dengan pemenuhan hak-haknya akan menstimulus mereka untuk keluar dengan potensi terbaiknya dan itu modal perbaikan ekonomi. Ketidakadilan dalam ekonomi akan melahirkan ketidakstabilan politik di sebuah negara. Dan ini akan seperti lingkaran setan jika tidak diputus secepatnya. Keputusan itu ada di tangan pemerintah.

Oh ya Stiglitz bilang Growth atau pertumbuhan harus dimaknai bukan sekedar dari pertumbuhan ekonomi yang diwakili oleh GDP, tapi tentang pertumbuhan sosial, kesejahteraan masyarakat juga termasuk di dalamnya tentang lingkungan yang terjadi. Stiglitz yakin Growth tetap bisa dicapai secara berkelanjutan. Menjaga dan menyelamatkan lingkungan, manusi dan ekonomi bisa dilakukan bersamaan. Ini sangat berbeda dengan Hickle yang menggaungkan DeGrowth untuk memperbaiki lingkungan dan manusia di dalamnya.

425 halaman ini jika tanpa diganggu kerjaan sebenarnya selesai satu minggu saja hahaha. Bahasa yang digunakan sederhana dan insya Allah mudah dimengerti awam. Kata suami, iyalah harus begitu, dia kan ekonom, dia tahu kalau pakai Bahasa ajaib, bukunya ga akan laku J haish iya juga.

Tim Avenger Jin. Review #6 Two Year Eight Months & Twenty-Eight Nights oleh Salman Rushdie

Standar
Tim Avenger Jin. Review #6 Two Year Eight Months & Twenty-Eight Nights oleh Salman Rushdie

Sebagai penonton setia serial Avenger dari Marvel – beneran tanpa sengaja ternyata saya menonton hampir seluruh film Marvel karena secara hiburan tanpa mikir, ini asik – maka buku ini sama menyenangkannya. Tapi ini Salman Rushdie, yang tetap dengan muatan pesan di dalamnya meski ditulis dengan sederhana dan komikal. Dibandingkan buku-buku Salman Rushdie lainnya, cerita ini paling mudah ditangkap. Masih dengan fantasi jin dan dunia atas – kalau dunia masih disebut sebagai dunia bawah, tentang kekuatan gelap dan terang dan mempertanyakan Tuhan.

Tuhan hadir ketika manusia berada dalam ketakutan tanpa jawaban atasnya. Apakah Tuhan itu beneran ada atau tidak, tergantung siapa dan darimana melihatnya. Bangsa Jin tak merasa diciptakan oleh Tuhan, dan kalau manusia percaya pada kekuatan yang tak masuk akal mereka, maka jin bisa menjadi Tuhan bagi mereka.

Adalah Dunia, jin perempuan yang kesemsem dengan pria bumi seorang filsafat yang terkenal Ibn-Rushd. Seorang Yahudi yang terpaksa menyembunyikan nama dan ke-Yahudiannya ketika Islam berkuasa di negerinya. Dunia mencintai Ibn-Rushd karena kepandaiannya tetapi dia tak pernah diakui sebagai isteri yang sah dan keturunan mereka tak mewarisi nama Ibn-Rushd. Keturunan mereka menyematkan nama Dunia menjadi kaum Duniazat dengan ciri tak memiliki lubang telinga. Sebagai keturunan jin, mereka yang terpilih memilki kekuatan. Inilah tim Avenger Duniazat, keturunan Dunia dan Ibn Rushd.

Dunia bukan jin perempuan biasa, dia adalah putri penguasa jin putih yang sepanjang hidupnya berusaha membuktikan diri kepada ayahnya bahwa anak perempuan setara dengan anak laki-laki. Ayah tak pernah menganggapnya ada, selalu menyesal karena tak punya anak laki-laki. Sampai di sini saya tertohok, sangat dekat dengan kisah sendiri dududu… Dunia sangat senang membaca, dan itu dianggap aneh karena dia perempuan. Ayahnya ingin punya anak laki-laki yang menguasai senjata dan strategi perang, maka Dunia mempelajari itu. Tapi itu tak cukup menyenangkan ayahnya, karena ayahnya tetap berharap punya anak laki-laki yang bisa diajak berburu bareng. Dunia belajar menguasai taktik berburu.

Sang ayah mati dibunuh Zumurud, pangeran dari kaum jin hitam yang bisa berubah menjadi monster menakutan dan membisikkan keburukan dan kejahatan kepada manusia. Zumurud ingin menguasai dunia jin hitam dan putih juga dunia bawah – bumi. Tak hanya dikuasai ambisi menjadi penguasa, Zumurud dilandasi kecemburuan karena Dunia memilih manusia bumi ketimbang bangsa Jin sebagai pasangannya. Zumurud dibantu tiga jin andalannya menakuti manusia dan berjanji untuk menghabisi kaum Duniazat.

Dunia, sebagai ibu mesti terpisah bergenerasi dari keturunan, tak rela keturunannya dihabisi Zumurud, dan dia dipenuhi dendam atas kematian sang ayah. Dunia turun ke bumi mengumpulkan keturunannya yang memiliki kekuatan petir seperti dirinya, menguasai grativitasi bumi alias bisa melayang-layang dan mengetahui dimana keberadaan seseorang yang tak terlihat mata.  Mereka berjuang bersama untuk mengalahkan kekuatan jahat dari jin hitam.

Begitu kirakira cerita yang disajikan oleh Salman dalam buku ini. Seperti marvel, tapi lebih berisi karena Salman mengisinya dengan keresahan betapa manusia tak lagi punya waktu untuk mencerna segala suatu yang diterima panca indera. Manusia menyukai hal yang serba instan, menuruti napsu binatangnya, serakah dan ingin menguasai sesuatu yang sifatnya materi. Sangat mudah bagi bangsa jin untuk mempengaruhi manusia seperti ini.

Buat saya, Salman Rushdie adalah pendongeng yang luar biasa. Saya bisa larut membaca tulisan-tulisannya, diajak menjelajah dunia yang baru. 286 halaman habis dalam empat hari, wohoo.

Buat Kesunyian, Kendalikan Kebisingan Hidup

Standar
Buat Kesunyian, Kendalikan Kebisingan Hidup

Ini masuk bulan ketiga telepon pintar saya bisu bahkan tak bergetar sama sekali dan saya justru menemukan ketenangan di sana. Saya tidak perlu merasa bersalah karena lamban memberikan respon ketika telepon bergetar yang bisanya ditujukan untuk pesan kepada saya pribadi dari grup WA atau dari WA. Mungkin karena saya bukan orang penting, sebagian besar pesan yang masuk pribadi itu memang tidak terlalu penting. Saya tidak perlu merasa bersalah karena tidak mengangkat telepon dari seseorang di sana – yang semakin jarang terjadi karena orang lebih senang berkirim pesan teks daripada bicara langsung.

Lawan bicara saya boleh tersinggung karena mungkin merasa tak dianggap penting oleh saya. Tetapi kawan, begitu saya membuka telepon dan melihat pesan, secepat itu pula saya akan membalas yang penting-penting itu. Saya bukan orang pelit, kalau sangat penting, saya lebih milih menelpon daripada berlama-lama mengetik dan menunggu balasan.

Ini adalah bagian saya mengendalikan kebisingan hidup. Saya yang kendalikan telepon itu, bukan sebaliknya. Saya yang menentukan mana yang lebih penting untuk dijawab dan tidak, bukan telepon itu. Coba deh tengok lagi WA Group, lebih banyak yang pentingnya atau sebaliknya? Lebih banyak diskusi ha ha ha hi hi hi daripada hal substantive. Sangat perlu buat menghibur diri, seringkali saya menikmati tapi berusaha untuk tidak nimbrung. Hanya WA Group dengan sahabat yang saya rajin ikut berkomentar, karena kami saling berjauhan dan saling merindu. Dari hampir belasan WA Group, hanya tiga yang saya aktif di dalamnya. Selebihnya? Ngabisin baterai aja sik, tapi selama tidak mengganggu hal pribadi, saya biarkan saja, demi jejaring.

Kemarin di hari Nyepi, saya sengaja mematikan data internet di telepon dan menghabiskan hari dengan membaca dan bekerja. Hasilnya adem beneran.

Bukan satu dua kali sebenarnya saya mematikan data internet. Toh waktu kerja di pedalaman, saya sangat menikmati kehilangan sinyal. Dua minggu kemudian baru membalas semua hal dari WA, email dan telepon. Tetapi ceritanya beda kalau ada di kota, begitu bisingnya dan besarnya gangguan untuk ikutan terlibat diskusi di sosial media, yang kadang ya ga penting-penting amat. Di musim politik ini semua ingin terlibat, dan terlihat “pandai,” ya ya ya… saya senyum aja… monggo silakan nikmati, mumpung musimnya berpesta yang katanya demokrasi.

Sosial media saya diusahakan hanya isi ngademi, dan kalau bisa melucu karena hari-hari ini orang tidak lagi bisa melucu tanpa nyinyir. Saya memilih jadi doer daripada talker, mengerjakan apa yang bisa dikerjakan di lapangan, bukan sekedar bicara-bicara. Kalau pun masih ada di sosial media, itu untuk mengabarkan hal baik, ada banyak kerja baik yang dilakukan orang baik di luar sana, bukan di sosial media. Dan ternyata membuat sunyi dan mengendalikan kebisingan itu sangat perlu, buat hidup adem.

Di telepon genggam saya yang paling penting adalah Spotify tetap hidup, yang lain bonus saja.

Belajar Mengapresiasi Orang Lain

Standar
Belajar Mengapresiasi Orang Lain

“Appreciation can make a day, even change a life. Your willingness to put it into words is all that is necessary.” —Margaret Cousins. Appreciation means to increase in value.

Orang Indonesia ini susah sekali mengapreasi kawan, rekan kerja apalagi yang tidak berhubungan dekat, seperti pejabat. “Untuk apa mengapresiasi dia, lah emang dia dibayar untuk itu,” begitu kira-kira jawaban seorang kawan. Padahal sedikit saja apreasi dengan ucapan “good job sis,” “welldone,” “wah keren,” atau langsung dengan ucapan “terima kasih yaa, kerja yang keren,” sambil nepuk bahu atau salaman, akan sangat berarti loh bagi si penerima. Buat saya pribadi, diapreasiasi hasil kerja dan prosesnya itu jauh lebih berarti dari sekedar nilai rupiah.

Karena kita hidup di lingkungan yang tidak apreasiatif, kadang kita jadi jengah sendiri kalau tiba-tiba menerima ucapan baik, bukannya bilang terima kasih, kita malah membalas dengan “waah tumben muji, minta goceng? Atau traktiran?” kita cenderung menjadi buruk sangka, bahwa orang muji ada maunya, orang apreasiatif justru malah akan menambah kerjaan buat kita.

Tapi jangan berhenti untuk mengapreasiasi orang atas pekerjaan dan usahanya, bukan sekedar hasil, tapi juga proses yang mungkin dia lalui dengan susah payah. Berapa banyak kita kehilangan kawan kerja dan sahabat karena kita less-apresiatif padanya? Refleksi sendiri aja. Dan saya percaya karma, apa yang kau tebar itu yang kau tuai. Kalau selalu berkata positif, mengapreasi orang, suatu saat akan datang pada kita orang yang membangkitkan semangat. Seperti kemarin, pekerjaan yang pernah saya lakukan hampir dua tahun silam, ternyata diapreasiasi seseorang lewat tulisannya. Mengharu biru. Saya tidak menyangka hal kecil itu bisa sangat berkesan buat seseorang. Saya melakukan yang sama, insya Allah tetap menghargai dan mengapresiasi kerja orang lain, sahabat dan rekan saya.

Di tahun politik, apresiasi semakin terkikis, kalah dengan harga politik. Mereka yang memang sudah kerja dengan baik, kurang diapresiasi karena berdiri berlawanan pilihan politik. Geez broh, sis, jijik tahu ga sik. Apapun pilihan politiknya, ya sudah sik, kalau dia sudah bekerja baik, akui saja, apresiasi lah. Apakah terlalu berat untukmu menerima kenyataan orang bekerja lebih baik darimu?