Monthly Archives: Oktober 2020

Realitas Kapitalis – Review Buku Capitalist Realism – Mark Fisher

Standar
Realitas Kapitalis – Review Buku Capitalist Realism – Mark Fisher

Membaca buku ini saya tertohok. Bukan karena bentukannya pdf dengan huruf semi kecil yang bikin mata juling  – tidak bisa digedein kalau pakai kindle – tapi 75 halaman yang bikin saya merasa semua realita yang saya temui harian itu sama sekali tidak alami. Bahkan udara yang saya hirup di pagi hari, tak lagi murni karena sudah bercampur dengan emisi dari kendaraan yang lalu-lalang di jalan raya hanya 50 meter dari rumah. Bahwa hujan dengan intensitas tinggi saban hari di Cimahi dan tanaman di pot saya menangis lalu mati dalam busuk, itu juga tidak alami. Kalau bukan karena campur tangan manusia, iklim masih bisa terbaca.

Kapitalisme begitu mengakar dalam kehidupan kita sehari-hari sampai membentuk realitas yang kita “embrace” sebagai sebuah hal yang natural terjadi. Setiap semester kita mendapatkan rapor nilai pekerjaan yang kalau pun hasilnya sudah sangat keren, pasti ada tulisan “akan lebih keren kalau…” tidak ada pernah ada kata cukup “enough is never enough” kata Fischer. Di dunia pendidikan pun begitu, murid bukan lagi penerima manfaat, sekolah adalah bisnis. Murid bayar untuk ilmu yang didapat, kualitas ditentukan biaya yang dikeluarkan. Lalu anak-anak pun dipaksa untuk mencapai predikat yang menjadi standar bukan lagi melihat pada kebutuhannya pribadi.

Bahwa kesehatan jiwa menjadi salah satu produk baru kapitalis. Berjembreng produk untuk meningkatkan kewarasan dan menjaga kesehatan jiwa. Bahwa kegilaan adalah konsekuensi pribadi yang tidak mampu mengikuti “kenormalan”yang ada. Bahwa mengejar kekayaan, profit adalah konsensus bersama dalam dunia ciptaan. “Kesembuhan” itu bukan dengan perbaikan sistem sosial dan ekonomi tapi dengan menyalahkan pribadi penderitanya.

Fischer mengambil tagline “is there no alternative” ini memplintir slogan pro pasar terkenal dari  Margareth Thatcher “There is no alternative”.  Pada bagian akhir dia mengatakan, ada alternatif yang harus berarti untuk dipikirkan sekecil apapun gagasan itu dan biarkan itu bergulir dalam setiap perdebatan.

Dalam penjelasannya tentang realita ciptaan kapitalisme ini dia banyak mengutip Slavoj Zizek dan paling nyangkut di kepala ketika kutipan Zizek tentang bagaimana melawan neoliberalisme dan kapitalisme adalah untuk terus hidup dinamis. Kapitalisme dan neoliberalis menuntut orang hidup dalam aturan-aturan yang menguntungkan pasar. Manusia laksana zombie di pabrik yang bekerja terus untuk produksi masal. Salah satu cara menjadi orang yang pintar dan memberontak dari sistem ini adalah dengan meninggalkan rutinitas itu, teruslah berubah, teruslah mencari hal baru.

Yang cukup mengganggu kenyamanan saya adalah pernyataan Fischer, bahwa sebenarnya kapitalisme / neoliberalis dan marxisme itu ga beda sama sekali. Ini semua tentang kontrol, dan aktornya saja yang berbeda. Kalau dalam kapitalisme kontrol itu ada pada pemegang kapital yang diartikan pasar, marxisme bilang kapital itu bertumpak pada pemerintah. Bagaimana mereka mengendalikan rakyat, ya sama saja.

Kapitalisme / neoliberalis menempatkan pemerintah itu seperti pengasuh anak, yang kalau anaknya nakal dan ada apa-apa  terjadi dengan si anak manja bernama pasar, maka pemerintah aka pengasuh yang disalahkan dan dihukum. Pemerintah yang harus pasang badan menyelamatkan pasar, mengasuh baik-baik pasar sebagaimana pun buruknya dan merugikan rakyat.

Pada Marxisme, pemerintah itu macam orang tua otoriter yang merasa paling tahu apa yang terbaik buat anaknya aka pasar dan rakyat. Tidak perlu pakai diskusi, mereka akan memutuskan segalanya.

Fischer adalah guru dan fellow peneliti di Goldsmiths UoL saat buku ini ditulis 2009 dan mengambil penjelasan dalam buku dengan menggunakan film dan musik, karena Fischer fokus pada studi budaya. Dua diantaranya Fisher mengambil contoh film Children of Men dan Wall-E.

Fischer meninggal bunuh diri karena depresi pada 2017. Sedih.  

Saya lampirkan link youtube untuk mendapatkan gambaran tentang buku ini https://www.youtube.com/watch?v=3IXvaFCauLw

Perdebatan Tentang DeGrowth dan Pembelaan Terhadapnya. Review In Defense of Degrowth – Giorgos Kallis

Standar
Perdebatan Tentang DeGrowth dan Pembelaan Terhadapnya. Review In Defense of Degrowth – Giorgos Kallis

Bergulat dengan isu lingkungan sejak 2008, masih baru terbilang, dan ketemu istilah wirausahawan sosial sampai impact investor, jujur saja, belum membuat saya puas untuk bilang, kita bisa melindungi alam dengan model ini. Berulangkali bertemu orang baik yang akhirnya menyerah pada sistem kapitalisme, ujungnya mengejar profit daripada memperbaiki kondisi sosial yang jadi niat awal. Bertemu dengan penggerak komunitas yang selalu mengajak komunitas berproduksi tapi  luput membangun market yang harusnya dibentuk di lingkungan sendiri dulu sebelum membuka peluang ke luar. Lalu bertemu dengan pasar tapi akhirnya menuntut komunitas untuk berproduksi massal meski harus mengacaukan kestabilan sosial dan alam sekitarnya. Begitu terus seperti lingkaran setan.

Mencari bacaan alternatif tentang isu lingkungan dalam sudut pandang ekonomi dan politik mengantarkan saya bertemu Kate Raworth, lalu Jason Hickel, Stiglitz dan terakhir Giorgos Kallis. Sebelum baca bukunya, saya sudah follow twitternya yang banyak bahas tentang DeGrowth. Ga heran, memang dia yang me-coined atau menginisiasi istilah degrowth yang bikin kuping para Growth – Fetish gerah dan jengah. Seolah-olah tidak ada alternatif sistem ekonomi lain selain kapitalisme vs sosialis. Kalau menentang kapitalisme artinya adalah sosialis. Tidak semudah itu menilainya Fernando. Kenapa pula kita mesti terpaku bahwa kapitalis adalah yang terbaik, kenapa kita tak berpikir beyond capitalism atau istilah lainnya adalah post-capitalism.

Kalau kamu rajin membaca, diskusi tentang alternatif di luar kapitalisme itu sudah banyak dibahas dari sisi politik, pun sosial dan ekonomi. Dasarnya cuma satu, kalau kita tidak mengubah perilaku ekonomi atau istilah kerennya business as usual kayak hari ini, perubahan iklim akan memusnahkan manusia dan seisinya. Kita butuh 40 planet buat selamat supaya kamu bisa tetap hidup nyaman seperti hari ini. Kalau mau bumi ini selamat, mau tidak mau kita memang harus memikirkan alternatif lain. Ga bisa terus menerus dininabobokan dengan peningkatan ekonomi dari pendapatan kotor atau GDP yang berimplikasi pada perbaikan kualitas hidup dan pelestarian alam. What a bullshit idea?! Sejak kapan 1 % GDP menyelamatkan at least 1% hutan tropis dunia? Pertanyaannya justru untuk 1% GDP berapa hutan yang gundul dan beralih fungsi untuk perkebunan dan pertambangan? Berapa besar cadangan fosil yang diangkat dari perut bumi dan berapa yang tersisa untuk anak-anak nanti?

Di buku ini Kallis memaparkan perdebatannya dengan para growth-fetish yang mengatakan degrowth sebagai bentuk utopia lain, sebuah mimpi indah yang tidak punya dasar penghitungan. Dalam pembelaannya Kallis bilang, degrowth memang sebuah ide yang masih harus  terus dichallenge, dan diperbaiki tapi bukan sebuah hal yang mustahil dilaksanakan. Degrowth lahir dari pandangan Eropa Selatan seperti Spanyol, Barcelona dan Yunani yang berusaha untuk selamat dari kriteria ekonomi eropa barat dan Amerika. Bahwa degrowth bisa diawali dalam scope komunitas dengan alternatif sistem ekonomi seperti sharring bukan rental ekonomi, barter, charity yang ditujukan untuk peningkatan kualitas hidup atau well-being dan juga memberikan kesempatan alam untuk memperbaiki dirinya. Mengambil secara tidak berlebihan. Mengukur kesejahteraan ekonomi bukan dari GDP yang tidak pernah berujung, tapi dari tingkat kebahagiaan warganya melalui peningkatan kesehatan dan kualitas pendidikan.

Ada 35000 peserta dalam seminar degworth di Leipzig beberapa tahun lalu dan setiap tahunnya ada ratusan anak muda mendaftar di Universitas Barcelona hanya untuk belajar memahami Degrowth. Apa itu artinya? Artinya ada banyak orang di luar sana yang gelisah seperti Kallis, termasuk saya, bahwa kita tidak bisa lagi mempertahankan sistem ekonomi yang gagal dalam mengatasi kerusakan lingkungan dan gagal meningkatkan kesejahteraan orang banyak.

Baru mengunduh foto ini, seseorang di twitter menulis “Indonesia janganlah ikut-ikutan ngomongin degrowth….” Saya kasih senyum aja. Kenapa tidak? Kenapa takut pada ide-ide baru yang menggoncang kenyamananmu? Kapitalisme bukan agama dan GDP bukan ayat suci yang haram dipertentangkan. GDP anak kemarin sore, lahir setelah perang dunia I, dunia aja berubah, mosok dia tidak boleh berubah?

Minggu 1 Menjadi Vegan

Standar
Minggu 1 Menjadi Vegan

Pekan lalu tiba-tiba saya merasa sangat bosan dengan hidup di masa pandemi yang mulai berpola. Adalah jadi rutinitas setelah subuh baca buku lalu yoga dan menyiapkan makanan hari itu. Pukul 9 atau 10 pagi baru mengerjakan tugas kantor sampai sore. Diulangi saban hari begitu. Akhir pekan jadwal jadi relawan ina inu. Semula menjadi pelarian dari suntuk ada di rumah, belakangan lagi-lagi terasa jadi rutinitas. Saya memang gampang bosan, jadi di sela yang rutin harus mencari sesuatu yang baru, apa saja. Bahkan sesederhana pakai jam tangan padahal ga kemana-mana.

Tapi minggu lalu memang mulai lagi uring-uringan karena bosan. Apalagi yang mau jadi target dalam hidup selama karantina? 1 novel publish, adiknya sedang proses cetak. Baca buku sudah, nonton drakor saban malam. Apalagi?

Suatu pagi di 11 Oktober kemarin, saya memutuskan untuk menantang diri sendiri menjadi Vegan, artinya tidak makan apapun yang bersumber dari hewan. Tidak susu, telor dan madu. Dua terakhir itu favorit saya banget. Tapi seperti cinta yang suatu saat harus dilepas, maka saya memutuskan untuk coba melepaskan cinta saya pada telor dan madu. Berat banget.

Hari ini jadi minggu pertama saya vegan. Bagaimana rasanya? Ringan saja ternyata. Saya tidak begitu rindu telor, apalagi ayam, daging dan ikan. Saya hanya kangen mie instant. Meski belum ada karya ilmiah yang membuktikan jadi vegan hidup tenang aka lebih kalem, saya  merasa begitu sih. Momennya pas banget dengan riuhnya Omnibus Law, perang narasi di media sosial yang biasanya bikin saya spaneng, kali ini tenang. Barangkali saya terlalu tua untuk marah, atau terlalu lelah untuk berdebat, atau paling mungkin karena sejak awal sudah menebak mau dibawa kemana narasi-narasi liar ini. Dalam tenang, saya tetap melawan. Investasi setiap hari 2-3 jam cuma untuk melototi narasi yang beredar, membaca referensi, buat saya adalah cara saya melawan. Tapi saya simpan energi untuk tidak berdebat dengan mereka yang otaknya sudah tersumbat rupiah dan kekuasaan. Bicara pada mereka ga akan menang, karena adalah tugas mereka untuk konsisten membela penguasa, bahkan kalau nurani mereka mengakui ada yang tidak beres. Kasih senyum sama jempol aja. Tidak perlu didebat, ada waktunya kita berdebat dan melawan lagi.

Satu minggu berlalu menjadi vegan, apakah saya akan teruskan? Rasanya begitu. Barangkali dengan sesekali cheating makan telor, mau dan mie instant 😉 itulah sebab saya tidak mau mengatakan alasan menjadi vegan karena idealisme. Saya hanya lagi ingin belajar jadi vegan saja.

Berusaha Sekedarnya, Hidup Secukupnya, Mengambil Seperlunya. Review Less is More – Jason Hickel

Standar
Berusaha Sekedarnya, Hidup Secukupnya, Mengambil Seperlunya. Review Less is More – Jason Hickel

2016, saya secara khusus didatangi seorang bekas ketua adat dayak di Berau. Saat itu saya bertugas untuk membangun komunikasi dengan masyarakat, merancang aktivitas ekonomi apa yang bisa dilakukan jika kampung punya listrik 24 jam. Kami membangun pembangkit listrik tenaga matahari di kampung ini. Beliau dengan nada tinggi – saya tidak menganggapnya sebagai kemarahan- dia bilang “listrik itu hanya akan membawa keburukan di kampung kami. Kalau sudah terang orang akan malas bekerja, dan mengurus kampungnya. Akan banyak keburukan dibanding kebaikan.” Saya mengingat betul kata-kata beliau, dan ironi sebuah pembangunan memang persis yang dia khawatirkan. Anak-anak tak beranjak dari depan televisi, bapak dan ibu lebih banyak berdebat hal yang jauh dari lingkungan mereka, informasi selalu datang dari pusat. Televisi menunjukkan standar hidup baru yang mereka seharusnya tak merasa perlu. Biasanya juga menanak nasi pakai tungku kayu atau gas jika dekat akses pada gas, tapi sekarang mereka berlomba beli magicom atau magic jar. Sisi baiknya tak perlu saya sebut, teman-teman pembaca akan bilang ya kan bisa belajar sampai malam, mata tak rusak karena terang dan bisnis bisa jalan. Iya benar, tugas kami adalah memastikan agar listrik tak hanya dikonsumsi berlebihan tapi juga mampu mendukung ekonomi masyarakat. Tiga tahun setelahnya, saya diprotes kawan, karena warga akhirnya memang berhemat listrik, perusahaan listrik kampung morat-marit untuk bertahan. Saya sih merasa menang di sisi itu.  

Tiga jam dari kampung, di kota Kabupaten Berau, Tanjung Redep, listrik bisa mati sampai lima kali dalam sehari padahal tongkang pengangkut batubara melewai Sungai Segah saban saat. Produksi batu bara mereka bukan buat mensejahterakan warganya atau minimal memastikan listrik menyala deh. Tapi dibawa ke Jawa juga diekspor sebagai pendapatan daerah. Ini hanya contoh tentang pembangunan dalam skala kecil, skala kabupaten.

Buku Less is More ini memang akan mengganggu kenyamanan pembacanya yang sudah terbiasa dilenakan oleh jargon pembangunan ekonomi atau naiknya GDP sama dengan peningkatan kesejahteraan rakyatnya. Padahal tidak. Beberapa negara dengan GDP tinggi, mengalami ketidaksetaraan ekonomi dan sosial yang lebar di antara rakyatnya, angka bunuh diri yang tinggi, kesehatan buruk. Belum lagi tentang kerusakan lingkungan yang terjadi akibat konsumsi energi yang besar. Emisi yang dihasilkan oleh negara maju 30x lipat dari negara berkembang. Buat mereka mudah saja menurunkan emisi, yaitu mengalihkan produksi ke negara berkembang. Membuat kerusakan di negara lain dengan investasi dan negara berkembang pemuja GDP tentu saja akan girang agar tingkat ekonomi mereka naik, meski semu. Sound familiar ya.

Ada banyak gerakan penyelamatan bumi dilakukan, tapi percuma kalau Hickel kalau kita tidak menyelesaikan akar masalahnya, kapitalisme dan pemujaan berlebihan pada GDP. Upaya penyalamatan lingkungan hanya akan jadi kedok buat kapitalis selama dibelakangnya diembel-embeli “growth” ada green growth, ada blue growth. Hickel menjelaskan sejarah awal Kapitalisme dan GDP muncul, silakan baca sendiri. Tapi intinya gini, kapitalisme adalah sistem ekonomi yang bukan hanya mengejar profit tapi bagaimana menginvestasikan profit untuk menghasilkan double profit dan begitu seterusnya yang ditunjukkan dengan GDP. Tanpa batasan, tanpa mempertimbangkan kerusakan ekologis sekitarnya. Untuk menghasilkan profit maka produksi harus massal, buruh murah dan membangun sebesar-besarnya konsumsi. Bagaimana membuat market / konsumen, dengan iklan yang memanipulasi manusia agar selalu merasa kurang. Kapitalisme merusak ekosistem yang akan merugikan manusia, hutan yang gundul dan  botak karena tambang mengakibatkan banjir, menggusur manusia dari rumah dan penghidupannya. Lalu konflik akibat migrasi manusia yang mencari kehidupan baru akan terus terjadi. Sepanjang sejarahnya, kapitalisme selalu diikuti oleh kolonialisasi yang hanya berganti rupa.

Lalu apa yang harus dilakukan? Kalau tidak bisa berhenti melakukan aktivitas ekonomi, maka pelankan jalannya. Ada gerakan baru yang namanya De-Growth. Seorang kawan bertanya, lah kalau ga bertumbuh lalu bagaimana perekonomian mbak? Begini prens.

Degrowth adalah tentang de-kolonialisasi, de-enklosur atau bebas dari pembatasan kepentingan masyarakat, de-komodifikasi dari barang yang harusnya milik umum seperti kesehatan dan pendidikan, dan de-intensifikasi pekerjaan dan hidup. Semua ini dimulai dengan mengambil lebih sedikit dari biasanya. Degrowth ini diinisiasi pada ekonom ekologis yang ingin memastikan bahwa perilaku ekonomi berada pada batas toleransi bumi. Mengambil tidak lebih dari apa yang bisa dihidupkan kembali dalam ekosistem, menghasilkan sampah tak lebih dari apa yang bisa diserap kembali oleh bumi. Ekonomi yang mengubah perspektif dari exchange –value menjadi use-value, sesuai dengan kebutuhan yang ada. Mengukur ekonomi tidak menggunakan GDP tapi pada pendekatan well-being, tingkat kebahagian masyarakat. Absurd? Enggak juga, sudah ada matriks nya kok, world happiness index, sustainability index – silakan google.

Kalau dibilang utopia, ya nggak juga. Negara seperti Costa-Rica, New Zealand, Buttan, dan Denmark sudah memulainya. Itu sih negara kecil, tapi artinya bisa dimulai dari yang kecil kan?

Ada lima cara yang harus dilakukan untuk memulai sistem ini:

  1. Hentikan produksi barang dengan masa pakai yang singkat. Ini biasa dilakukan pada barang-barang elektronik yang umur pakainya singkat dan sengaja diproduksi begitu agar pabrik terus menghasilkan barang baru. Di eropa muncul gerakan “hak untuk memperbaiki” atau right to repair barang-barang elektronik yang rusak.
  2. Kurangi iklan. Iklan ditujukan untuk memanipulasi pikiran, memunculkan kecemasan berlebihan bahwa kita selalu merasa kurang sehingga harus beli sesuatu untuk kita merasa lebih baik. Iklan memang ditujukan agar konsumsi meningkat.
  3. Beralih dari “ownership” atau kepemilikan, menjadi “usership” atau pemakaian bersama. Contoh paling sederhana adalah budaya berbagi transportasi, kita pernah punya nebengers. Tidak perlu lah satu anggota keluarga punya satu alat transportasi.
  4. Hentikan Sampah Makanan. Beberapa negara melarang sampah makanan masuk ke pembuangan akhir karena sampah makanan bisa diolah menjadi organik. Perancis dan Italia melarang supermarket membuang sampah makanannya, begitu juga di Korea Selatan.
  5. Turunkan skala industri yang merusak alam. Contoh yang diberikan adalah peternakan sapi yang merusak hutan amazon padahal kebutuhan daging bisa diubah ke protein nabati.

Di penghujung bukunya, Hickel mengajak kita berkenalan dengan masyarakat adat yang selama ini hidup menyatu dengan alam. Kita bukan penguasa alam, kita bagian dari alam itu sendiri. Saya tidak berenang di sungai, saya adalah sungai. Kita adalah bagian dari ekosistem jadi kalau kita merusaknya, maka sebenarnya kita sedang merusak hidup kita sekarang dan masa depan.

Butuh 4 jam buat saya menuliskan review buku ini. Pikiran saya terdistraksi oleh narasi-narasi perdebatan tentang demonstrasi penolakan Omnibus Law yang undang-undang aselinya hingga tulisan ini selesai pun, belum dipublikasi. Luar biasa. Tapi prinsipnya tidak berubah, Omnibus Law ditujukan untuk memudahkan investasi dengan meringankan izin usaha termasuk melonggarkan prinsip perlindungan terhadap lingkungan. Ironi.

We cannot save the world by playing by the rules. Because the rules have to be changed – Greta Thunberg

Kulitmu, Pelindungmu. Biarkan Dia Bekerja Alami. Review Clean – James Hamblin

Standar
Kulitmu, Pelindungmu. Biarkan Dia Bekerja Alami. Review Clean – James Hamblin

Saat menulis ini, saya belum sikat gigi, apalagi mandi. Baru sekedar cuci muka. Hari-hari bekerja dari rumah yang sudah masuk 202 hari ini membuat saya jarang mandi, cukup sekali sehari dan keramas, kecuali setelah keluar rumah dan bertemu banyak orang. Ternyata tidak sering mandi ya tak papa juga. Saya juga semakin jarang pakai perawatan kulit; pelembab wajah, badan dan tangan, apalagi deodoran, kecuali kalau keluar rumah dan bertemu banyak orang. Ternyata ya, saya pakai itu semua buat orang lain, menghormati mereka bukan sekedar merawat tubuh saya sendiri. Begini cerita lengkap dari buku itu.

Clean ditulis oleh James Hamblin, dia dokter dan pengajar di Yale School of Public Health. Dia juga penulis untuk the Atlantic. Untuk menulis buku ini, dia mewawancarai banyak pakar kesehatan kulit, produsen perawatan kulit dari industri besar sampai rumahan. Gaya bahasanya asik banget, seperti dia ada di depan saya dan berkata, “kalau kamu jijik saya membahas anus, boleh dilewati bagian ini. Tapi anus itu bagian penting dalam tubuh kita, coba sebut anus-anus, lagi dan lagi, lebih kencang sampai kamu bisa menerima anus di kepalamu.” Jiaah iseng amat.

Buku ini ditulis sebelum pandemi, sebelum kita seperti kesurupan cuci tangan dan mengoleskan sanitizer ke tangan setiap saat, ke tubuh, ke pakaian dan semua yang ada di sekitar kita. Sebelum kita mandi setiap saat, keramas setiap saat, dan mencampur air mandi dengan antiseptic. Kita “rela” membunuh mikroba baik demi mencegah virus COVID-19, kita lupa pada kekuatan tubuh untuk menangkal itu semua tanpa mengurangi semua protokol kesehatan yang disarankan. Kita memang lebih senang “mematikan” mikroba baik daripada membuatnya tetap sehat dengan tidak bertemu banyak orang jika tak perlu sekali dan menjaga jarak. Membersihkan tubuh saja memang tak jadi syarat utama mencegah covid tanpa disertai masker dan jaga jarak toh.

Anyhow, Hamblin sudah tidak mandi selama 5 tahun terakhir dan dia merasa sehat-sehat saja. Pasangannya bilang kalau sekarang dia bau seperti manusia, bukan wangi artifisial yang biasa kita semprotkan atau oleskan di kulit. Mandi versi Hamblin cukup membasuh ketiak, selangkangan dan kaki, di sini sumber-sumber bau dari mikroba tubuh terbesar. Selebihnya hanya pelengkap.

Tubuh ini kawan, adalah sebuah ekosistem yang kalau kamu ganggu keberadaannya satu saja, akan merusak keseimbangan. Di permukaan kulit ada mikroba-mikroba yang hidup berdampingan dengan manusia, mereka melindungi kita dari patogen luar tubuh dan menyebabkan kita sakit. Bengkak dan bernanah adalah mekanisme tubuh untuk melawan patogen jahat yang ingin masuk ke dalam tubuh. Kita berbagi mikroba dengan pasangan yang tinggal sekamar, dengan anak-anak bulu yang hidup bersama kita. Semakin beragam kita punya mikroba, semakin baik pertahanan tubuh menghadapi patogen yang mungkin datang.

Anak-anak yang dibebaskan berlarian di alam dan tumbuh bersama alam akan punya risiko lebih rendah untuk kena asma atau eksim ketimbang anak-anak kota yang terisolasi dalam ruangan tertutup. Obat paling murah untuk tetap sehat adalah dengan membuka jendela rumah, membiarkan udara masuk dan mikroba baik datang, dengan catatan polusi udara masih bisa ditoleransi.

Perubahan lingkungan sekitar akan sangat berpengaruh pada perubahan ekosistem dalam tubuh kita. Semakin padat penduduk perkotaan, semakin sempit ruang gerak dan semakin sedikit kita terpapar matahari, maka semakin rentan kita kena penyakit.

Sayangnya pendekatan kesehatan yang menjadi trend saat ini adalah personal care, individualistik yang nilainya sangat mahal. Jika saja itu dialihkan untuk perbaikan kesehatan lingkungan, tentu kesehatan tidak menjadi ekslusif milik mereka yang punya uang tapi semua orang. Jika ingin mengurangi beban anggaran kesehatan, yang kita butuhkan adalah investasi pada taman-taman kota, toilet umum yang bersih dan sehat dan air bersih.

Tentang personal care yang narasinya selalu bisa membuat kita merasa “jelek” sukses menguras kantong dan merusak apa yang tubuh berikan dengan baiknya. Sebut saja collagen yang disuntikan ke dalam kulit, apa perlu? Tidak! Kalau collagen diminum itu lebih bodoh lagi karena dia hanya akan mengalir sebagai kencing tidak ada hubungannya dengan kulit. Lalu triclosan yang ada pada sabun antiseptik, FYI ya, itu sudah masuk dalam list bahan berbahaya di Amerika. Menyuntikan probiotik atau lactobasilus ke dalam tubuh dan kulit juga hanya akan mengganggu kesehatan tubuh kita sendiri. Kalau kamu sekarang merasa gampang sekali kena penyakit, coba refleksi dulu seberapa sering kita mengganggu keseimbangan ekosistem dalam tubuh sendiri?

Wangi, bersih, dan mulus, itu bahasa dagang, begitu juga dengan segala macam perawatan tubuh dengan label natural. Dia tak menyarankan semua orang berhenti mandi atau meninggalkan semua perawatan tubuh di kamar mandi dan di meja rias, tapi mengajak kita untuk menyadari apakah kita benar-benar membutuhkan? Apa yang terjadi kalau kita berhenti pakai parfum, apakah pheromone alami kita akan  serta merta gagal memikat pasangan?

Tentu saja apa yang dikatakan oleh Hamblin harus dikembalikan pada konteks pribadi dan sekitar kita. Semisal ya, kalau dia ga mandi 5 tahun tapi tinggal di Broklyn yang tidak selembab Jakarta, masih Okay lah. Sewaktu sekolah di London, musim panas adalah siksaan buat saya. Bus kota tanpa jendela terbuka dan orang-orang yang jarang mandi, baunya semerbak mengacaukan keseimbangan otak saya, mual. Lalu ada orang-orang terlahir dengan kulit sensitif dan memang sakit yang perlu perawatan khusus dalam dampingan medis.

Selebihnya, buku ini memang mengajak saya refleksi, memang tak banyak perawatan tubuh yang saya punya. Terakhir mencoba cuci muka yang direkomendasikan kawan malah berakhir dengan kulit kering, akhirnya saya berikan ke orang lain. Kulit wajah saya nyaris tak pernah tersentuh make up kecuali pelembab dan bedak, itupun kalau harus keluar rumah saja. Cuci muka pakai sabun aja, nyaris jarang. Sabun mandi di rumah adalah buatan ibu-ibu sarongge menggunakan minyak kelapa. Setiap kali kulit terasa kering, saya oleh pakai vco. Murah dan ternyata memang saya tak perlu barang mahal, kulit saya masih terasa mulus, kencang dan saya sehat.