Kota Itu Dibangun Untuk Siapa? Review buku Happy City oleh Charles Montgomery

Standar

Saya lahir dan dibesarkan di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, persis melipir dari wilayah pemukiman orang berada Pondok Indah. Saya lihat bagaimana Pondok Pinang dan Pondok Indah berubah. Dulu kami selevel, kampung gebruk namanya, tapi gebruk digusur, berubah jadi kawasan elit Pondok Indah.  Semakin besar, keterikatan saya dengan kota Jakarta memudar, karena kota ini semakin padat, semakin besar, tapi juga semakin tak membuat hidup saya nyaman. Lebih banyak terjebak di jalan karena macet, yang harusnya bisa ditempuh dalam 1 jam, kadang bisa sampai 3 jam. Buang waktu, buang tenaga, lebih lagi buang uang. Seringkali saya harus menunggu sampai ‘jalanan sepi’ supaya tak terjebak macet, tapi nunggunya di kafe, tarraaa ya habislah berapa pun besar gaji saya tiap bulannya. Biaya hidup tinggi. Ketidakbahagiaan saya ini by design! Karena untuk kesekian kalinya saya mempertanyakan, Jakarta ini buat siapa sih sebenarnya?

Happy City, buku dengan 327 halaman karya Charles Montgomery mengajak saya mengenal kembali tentang Kota, tempat saya lahir dan dibesarkan, bahkan mengajak lagi untuk mempertanyakan bahagia itu apa?

Tinggal di kota yang cantik, semuanya serba dipermudah, fasilitas lengkap, tapi tak murah. Polusi bikin kita sering sakit, sering check-in di dokter. Menunggu sepi di kafe, bukan satu dua gelas habis. Commute atau pergi dari rumah ke lokasi aktivitas di tengah kota bikin stress, commuting lebih dari 45 menit berdampak pada tekanan darah tinggi, sakit kepala, stress dan begitu sampai di lokasi aktivitas semangat langsung drop. Mau tinggal di tengah kota? Ya bukan level semua orang. Hanya mereka yang berduit yang bisa menikmati kota.

Kota yang bikin bahagia menurut Enrique Penalosa adalah kota yang bisa memperlakukan penghuninya sebagai manusia, menghargai mereka sebagai manusia. Bahagia adalah keadilan atau equality, tidak ada kelompok yang merasa ditinggalkan karena pembangunan. Bahagia adalah kebebasan bergerak kata Montgomery, semua keperluan ada dalam jangkauan berjalan kaki atau paling tidak naik sepeda. Bahagia bisa diintervensi melalui penataan kota, urban design. Bahagia itu bukan ditentukan oleh status sosial tapi nilai dari keakraban hubungan antar tetangga, kerabat dan kolega. Kapan terakhir berkumpul untuk rapat RT membahas kerja bakti? Apakah kamu tahu nama tetangga di sebelah rumah? Apakah kalian saling mencurigai dalam lingkungan bertetangga? Apakah anak-anakmu bebas bermain dan berlari di sekitar rumah tanpa khawatir tertabrak motor atau mobil? Kalau iya, sebaiknya pindah.

Montgomery mencontoh perubahan radikal yang dilakukan oleh Penalosa untuk kota yang dipimpinnya Bogota, Colombia. Dia menyingkirkan mobil yang hanya bermanfaat untuk kalangan tertentu dan memperbanyak jalur sepeda dan ruang terbuka hijau yang membuat semua orang bisa berinteraksi. Mengubah pandangan bahwa sepeda adalah ikon orang miskin menjadi sebuah trend dan kebutuhan. Hasilnya nyata, angka kecelakaan lalu lintas turun drastis begitu juga tingkat kejahatan di jalanan. Penalosa bilang rasa adil itu itu bukan soal pendapatan yang sama, tapi perlakukan yang sama bisa dinikmati semua penghuni kota lainnya. Selama ini pejalan kaki dan pesepeda membayar pajak yang digunakan untuk memperlebar jalan, yang hanya dinikmati oleh pemilik kendaraan bermotor. Sepeda dan pejalan kaki selalu terpinggirkan. Ketidakadilan akan berbuntut pada kejahatan.

Buku ini juga mencontohkan bahwa tidak memiliki kendaraan bermotor adalah sebuah kebebasan. Bebas dari beban pajak, biaya perawatan, sampai urusan parkir. Kalau kendaraannya kredit, pusing lagi mikirin cicilannya. Saya jadi ingat perkataan kawan saat kami bersama menikmati layanan Go-Car, ‘orang yang masih ada di belakang setir itu miskin, apalagi belinya dengan kredit. Yang orang kaya itu ya kami, bisa gonta-ganti mobil, dijemput dan diantar ke tempat tujuan.’

Mau mengubah kehidupan kota menjadi lebih baik? Ga usah nunggu kebijakan dari pemerintah yang seringkali ingkar pada janji politiknya. Mengutip Filusuf Perancis, Henri Lefebvre, kalau kamu tinggal dan berbagi lingkungan dengan orang lain, secara alami kamu punya hak untuk berpartisipasi untuk mengubah masa depannya. Montgomery memberikan beberapa contoh di bab terakhirnya, Save Your City, Save Yourself, salah satunya mencat kota di Portland Oregon. Sederhana ya, tapi bagaimana aksi itu dilakukan bersama dan membangun kebersamaan itulah yang paling penting.

Intinya sih, Montgomery mengingat kembali pentingnya gotong royong dan silaturahmi dalam kehidupan perkotaan untuk meningkatkan kebahagian individu di dalamnya dan itu semua bisa ‘dipaksakan’ lewat tata kota yang dibangun untuk manusia, bukan kepentingan pasar / kapitalis.

Happy City

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s