Monthly Archives: April 2013

KM 112

Standar

11.11 malam, langit tercerahkan oleh separuh rembulan yang mencuri cahaya mentari. Angin malam berhembus kencang menembus tulang. Sejauh mata memandang hanya terlihat pendar lampu dari gubuk-gubuk petani pengganti kunang-kunang. Sebuah mobil mungil yang beken disebut city car parkir di jembatan yang membelah Gunung Batu Datar di Kabupaten Purwakarta. Tak ada yang memerhatikan sesosok perempuan di samping kiri mobil mengarah ke Bandung sedang berdiri memandangi kegelapan.

Sepuluh menit kemudian dia berdiri di atas pembatas jembatan. Hanya perlu tepukan angin di bahunya dan dia terjun menuju kegelapan… menghilang.

**

Namanya Pagi dan aku Sugi. Kami bertemu dalam sebuah forum kepemudaan di Jakarta tiga tahun lalu. Dia duduk di sampingku, terus menerus menguap tanpa malu-malu menutup mulutnya yang menganga di tengah seorang motivator muda yang bicara berapi-api. Sudut mataku ikutan tertarik meliriknya saban kali dia menguap dan itu membuatku terganggu.

“Minum kopi dulu sana. Rasanya boleh meninggalkan tempat ini sebentar,” bisikku

“Ikut yuk cari udara segar. Muak gue denger para motivator ini bicara, macam sudah bener saja mereka jalani hidup,”katanya dengan volume sedikit tinggi dan melahirkan desisan seperti ular dari peserta lain.

Daripada bikin ribut, aku keluar ruangan lebih dulu dan Pagi mengikuti dari belakang. Dalam ruangan serba gelap dan lampu sorot hanya pada sang bintang, kami seperti laba-laba tak bersuara yang keluar dari sarang untuk memindai lawan. Tak ada yang keberatan kami tak ada.

“Agi.” Dia mejulurkan lengannya.

“Ugi.” Jawabku yang disambutnya dengan wajah keheranan, mata melotot dan mulut yang sekali lagi menganga. Sudah berapa kali kulihat deretan giginya yang bersih putih dan bibir penuhnya mungil itu.

“Bapak lu siapa namanya? Jangan-jangan kita sebenernya saudara.”

“Hahaha ga mungkin lah rasanya. Namaku Sugi Darmanto. Panggilanku Ugi.”

“Oooh, gue Puisi Pagi. Panggilan gue Agi. Bonyok gue sok romantis aja kasih nama begitu.”

“Nama itu doa, berterima kasih sama mereka yang menamaimu begitu. Ga ada orang tua yang memberikan nama anaknya dengan maksud buruk.”

“Ah rewel lu, macam motivator saja,” Agi menepak dadaku.

Singkat cerita, aku dan Agi menjadi dekat sebagai teman lalu naik peringkat menjadi sahabat. Setidaknya begitu menurutku. Kami begitu berbeda. Agi dengan gayanya yang metal dengan celana jins pensil yang menurutku sangat tidak masuk akal karena menyulitkan saat dia harus buang air kecil, melewati kobangan air atau sewaktu dia sholat, sesekali sih. Kalau sudah kesulitan dengan celana pensilnya dia akan seenaknya datang ke kamar kosku dan mengambil celana pendekku atau malah sarung tidurku. Lega katanya. Lalu kenapa dia memaksakan diri pakai celana jins pensil itu?

“Lu ga bergaul sih. Susah gue bilang sama lu kenapa celana pensil ini penting buat gue,”katanya sambil menarik turun celana jinsnya yang susah masuk apalagi keluar.

“Oi jangan melongo aja, bantuin tarikin jins gue dong ah.” Teriaknya.. selalu begitu dan selalu pula aku bantu dengan mata tertutup. Agi yang tak tahu malu, tak menganggapku lawan jenis yang bisa saja bernapsu padanya.

“Jins nyusahin ini kamu pakai cuma karena pacarmu si Bonar itu anak band Punk kan? Kenapa selalu menyusahkan diri hanya untuk orang lain Gi.”

“Susah gue cerita alasannya Gi, lu kan ga kenal cinta.” 

Selalu begitu.

Lain waktu Agi akan datang dengan kaos sepakbola klub Manchester United, padahal aku tahu Agi tak suka bola. Kami bisa bertengkar berebut remote televise hanya karena aku ingin menonton pertandingan sepakbola sementara dia ngotot menonton konser Aerosmith yang cakram bajakannya baru dia beli.

Sebelum kamu menyimpulkan hal buruk tentang kami, aku tegaskan kami tidak serumah. Aku tinggal di kamar kos pilihan Agi, campur dan pemilik rumah tak peduli siapa membawa siapa dan menginap berapa lama. Iya itu pilihan Agi, supaya dia bisa keluar masuk sekenanya. Bulanan kos ini Agi menyumbang seperempatnya, selebihnya ya aku. Dia tidak pernah menginap di kamar ini, tapi sering kali datang untuk sekedar lepas penat dari keluarganya, urusan pekerjaan atau cinta. Aku kantong sampah buat Agi.

“Tapi lu kantong sampah paling cakeup dan paling wangi dari semua kantong sampah yang ada,” Agi mencubit pipiku yang sudah gempal sejak lahir.

Aku sudah bilang kami berbeda kan? Agi yang sembrono dan aku yang teratur. Semasa kuliah, aku bergaul dengan para kutu buku di perpustakaan. Agi nongkrong di kantin balik semak sambil menghabiskan berbungkus-bungkus rokok  dan berbotol bir sambil membicarakan revolusi bangsa ini. Aku tak pernah bolos kuliah, Agi si tukang titip absen. Aku tak pernah punya pacar, entah karena aku terlalu gemuk dan tidak menarik buat perempuan mana pun atau aku saja yang tidak pernah punya keberanian untuk menyatakan cinta. Agi… semua lelaki bermimpi untuk menidurinya. Dia cantik, tak pernah punya standar tinggi untuk lelaki yang bisa memacarinya, asal dia suka, kenapa tidak. Aku bilang menidurinya, bukan mencintainya…. Entahlah, Agi mungkin terlihat gampangan, tapi aku tahu, dia rapuh di dalam.

Aku sudah bilang kan kalau aku ini teratur? Jam 10 malam adalah jam tidurku, selalu begitu. Sampai aku kenal Agi. Dia bisa jam 2 pagi menelponku dan bilang dia sudah sampai di gerbang kosanku. Dia cuma akan bercerita tentang langit yang membentang luas tanpa batas, bebas dan lepas. Sekali waktu dia berkhayal tentang dunia di balik awan, orang-orang kecil yang melompat tanpa beban dari satu gumpalan awan ke gumpalan yang lain. Dia menemukan ayahnya yang sudah tiada belasan lalu di balik awan, tersenyum dan mengajaknya pergi. Karena itu dia sering kali takut untuk tertidur dan bermimpi tentang dunia di balik awan dengan manusia mini dan ayahnya yang memanggilnya untuk datang. Agi akan bersembunyi di balik sarungku sambil terisak. Betapa pun dia mencintai ayahnya, dia lebih mencintai hidupnya sekarang, tak siap untuk pergi dan meninggalkan segalanya.

“Bokap tersayang, aku sayang Ugi. Kalau dia masih hidup, kenapa gue yang mesti diajak mati sih.”

“Ih kenapa gue yang dibawa-bawa sih Gi, ah.”

 

Baru enam bulan sejak kami lulus dan memasuki dunia kerja untuk pertamakalinya. Agi harus mengubah penampilan sesuai perintah atasan dan budaya kerja di daerah Sudirman Thamrin. Kalau dulu betisnya merasa kepencet jins pensil, sekarang betis itu harus rela dibalut stoking hitam seharian, kadang sampai malam. Kalau dulu jemari kakinya merintih karena sepatu boot, sekarang tumitnya menjerit menahan hak tinggi yang menopang badannya yang langsing. Yang membuat Agi menangis adalah waktu harus menggaris matanya dengan eye liner. Air matanya berlinang. Pipinya berlapis pelembab, alas bedak dan bedak lalu matanya ditiban eye shadow berwarna-warni. Aku terbahak-bahak waktu pertama kali melihatnya dengan riasan penuh, Agi seperti badut yang cantik.

“Cari duit ternyata susah ya Gi, gue mesti cemong begini buat bisa makan,” kata Agi di depan cermin kamar kosku.

Sementara Agi bekerja di tengah kota yang katanya metropolitan dengan semua modernitas semu, aku tetap memilih menjadi penulis dan menjadikan kamar kosku sebagai rumah merangkap kantor. Agi mulai mengurangi kunjungannya ke tempatku, barangkali dia sibuk. Semakin sedikit cerita yang dia bagi denganku dan semakin banyak yang dia sebar lewat sosial media. Aku merasa semakin jauh dengan Agi.  Kami berbeda dan sekarang semakin berbeda.

Agi tampil berganti-ganti pasangan dalam foto dengan berbagi pose yang dia unduh dalam laman facebooknya. Cerita yang tadinya dia bagi hanya untukku sekarang dia terjemahkan dalam status dan notes di facebook. Aku tak lagi istimewa. Bahkan kalau ayahnya kembali datang menjemputnya dalam mimpi, tentu Agi tak lagi bernegosiasi dengan mengatasnamakanku, barangkali nama yang lain.

Aku kehilangan Agi. Ugi dan Agi tak ada lagi.

Hari-hariku tanpa Agi adalah kertas dan perempuan. Iya aku tak lagi Ugi si pemalu dan hanya milik Agi. Ternyata tanpa Agi, aku berani memulai petualanganku sendiri. Bukan cinta. Mereka yang datang menyerahkan diri untuk puisiku, berharap aku mengabadikan cerita mereka dalam tulisan. Aku tak mencari cinta. Saban kali bercinta, di mataku hanya ada wajah Agi. Hatiku malu tapi tak kuasa menahan itu. Aku tidak tahu rasanya bercinta dengan Agi sahabatku sendiri, bagaimana Agi akan mendesah dan menggeliat. Sampai saat itu, aku akan kembali menjadi Ugi yang pemalu dan pengecut. Aku tak mungkin berani menghamburkan napsu untuk Agi kecuali itu kuyakin cinta. Seperti Agi bilang, aku tak kenal cinta, bagaimana aku tahu rasanya cinta. Yang pasti aku merindukan Agi, sakitnya sampai ke ulu hati.

**

“Ugi..kangen.. ngopi yuk,”

Blackberry message dari Agi dan aku tak membacanya sampai lima jam berikutnya. Aku tenggelam dalam tulisanku novelku. Aku sedang menanami hutan cerita aku dan Agi. Sejak pagi sudah kuputuskan untuk merangkum kisah Ugi dan Agi dalam sebuah cerita pendek. Kalau aku tak bisa menyatakan dan menyimpulkan perasaanku sendiri, barangkali kamu, pembaca, bisa membantuku. Tolong bantu deskripsikan apakah perasaanku ini adalah cinta?

“Agi? Maaf baru baca bbmmu, masih berminat minum kopi denganku?

Tak ada balasan.

“Agi… ada apa? Kamu dimana? Mau kujemput? Hari ini aku harus ke Bandung bertemu penerbitku, tapi bisa kutunda kalau memang kamu butuh aku.”

Lagi-lai tak ada balasan.

***

Sial betul perjalananku malam ini menuju Bandung. Baraya yang kutumpangi bermasalah, remnya berdecit saban kali supir menekan pedal. Peluh mengucur di punggung yang memaksaku terbangun, pendinginnya mati. Kami cuma bertiga di kursi penumpang. Lelaki di belakangku tak terpengaruh decit rem dan panasnya ruangan minibus ini, dia tetap tidur pulas sambil mendengkur keras.

10.30 malam kami dipaksa berganti Baraya menuju Cimahi. Perkiraan akan tiba di Bandung tengah malam. Kalau harus bermalam di Cimahi aku juga tak keberatan, tinggal pilih hotel paling murah yang ada di sana dan besok pagi bisa lanjut ke Setiabudi Bandung untuk bertemu dengan penerbitku. Mestinya aku bisa berangkat lebih awal selepas magrib misalnya, tapi aku menunggu balasan pesan dari Agi yang tak kunjung tiba.

Tak ada rasa curiga apa pun terhadap Agi, kupikir besok pagi tentu aku bisa tahu apa yang terjadi dengannya dari status di Blackberry Message, status facebook, atau di timeline twitternya. Agi yang dulunya introvert dan eksklusif hanya menceritakan padaku, sekarang seolah dunia perlu tahu apa yang dia rasa dan lakukan. Jadi kupikir tak perlu menunggu kabarnya lebih lama, aku berangkat ke Bandung.

Aku menikmati perjalanan sambil menatapi rembulan yang separuh bagiannya dilahap awan hitam di sebelah kananku. Aku takut berkedip, takut rembulan menghilang dari hadapanku. Benar saja. Sepersekian menit aku terlelap dan rembulan menghilang, dia berpindah ke sisi kiriku. Dinginnya menembus tulang, aku menarik syal coklat pemberian Agi tahun lalu lebih dekat ke leher.

Saban kali melintas Tol Cipularang di tengah gulita, aku selalu teringat pada Agi yang mencintai gelap. Menurut dia gelap penuh misteri, dia santun menerima semua duka, suka pun ketakutan, dia sepi yang menenggelamkan riuh, dia begitu tenang. “Aku ingin tenggelam buat di lautan, tapi dalam gelap.” Kata Agi di suatu waktu. Puisi Pagi, tanpa disadari dia memang lebih puitis daripada aku yang menelanjangi fakta dengan hanya memainkan kata. Agi tulus menelurkan rasa dalam kata, aku tidak.

“Apa jadinya kalau suatu saat aku keluar dari mobil ini  di pinggir tol lalu berlari memasuki semak terus ke hutan dalam gelap dan tak pernah kembali.” Kata Agi suatu kami sempat liburan bersama persis di hari ulang tahunku.

Aku cuma bilang,”gila kamu.” Dan dia menjawab tanpa menolehku,”karena gue gila kenapa kita bisa bertahan jadi sahabat, lu butuh cerita buat ditulis, gue butuh tong sampah.”

KM 97, Baraya Cimahi ini kembali berhenti. Untuk ketiga kalinya kami terpaksa berpindah Baraya yang kali ini ke tujuan seharusnya, Suropati. Di pinggir jalan kami beranjak keluar dari mobil dengan kantuk yang teramat berat. Jam 10.50 malam. Waktunya tidur menurut agendaku yang teratur.

Kali ini aku kebagian duduk di samping pintu, rembulan di sisi kiri dan aku merebahkan kembali kepala sambil menatapnya. Wajah Agi di permukaan rembulan dengan senyum bibir penuhnya yang mungil. Tulisan tentang kita, rasaku kepadamu harus segera selesai. Besok waktunya aku meyakinkan penerbit dengan draft awal tentang kita.

***

KM 112, jam 11.11 malam. Sebuah mobil menepi di pinggir jembatan yang menghubungkan dua bukit di Purwakarta. Sekelebat warna hijau metalik mobil itu mengingatkanku pada mobil Agi yang pernah mengantarkan kami ke Bandung sebelumnya. Nomor polisinya tak kelihatan.

“Kasihan sekali tengah malam mobilnya rusak begitu,” batinku.

11.45 malam KM 115. Aku merogoh saku untuk membaca pesan, yang mungkin ada. Kotak biru penanda pesan blackberry message, dari Agi.

“Ugi, aku pergi ya. Aku akan bertemu gelap. Aku sayang kamu.”

Agi pergi dan mayatnya tak pernah ditemukan di KM 112

 

Selamat Ulang Tahun Nita dan TUN

Standar

Kurang dari 2 jam lagi usia gue bertambah… dari 34 menjadi 35 tahun. Angka yang beberapa tahun lalu bikin parno karena merasa kesempatan untuk segala sesuatunya menjadi yang terakhir. Batasan cari kerja, beasiswa, menikah dan beranak pinak.

Tapi di 34 kemarin gue membuktikan semua ketakutan itu sia-sia. Di 34 tahun, untuk pertama kalinya gue mendaki gunung dan sampai di puncak gede. Orang lain melakukannya di usia belia, gue di tiga perempat senja. Di 34 tahun juga gue masih bisa dapat kerja baru, yang semua meragukan di semua peluang. Karena itulah gue sadar ketakutan akan usia itu sesungguhnya sia-sia… apa pun yang masih mau gue lakukan di dunia ini, pasti bisa gue capai. lagi-lagi usia cuma angka.

35 tahun…

Belum menikah apalagi punya anak, masih pecicilan seperti berpuluh tahun lalu, tetap bermimpi dan berambisi menjadi penulis yang lebih baik, menjelajah dunia, mencinta dan bercinta. Terus menjadi diri sendiri… semoga.

35 tahun

TUN lahir 27 April 2013, setelah diuleni sejak 2010 lalu. Kalau dia bayi, maka jadi samson lah dia. Terlalu lama di kandungan, mencari rumah yang sesuai untuk melahirkannya bukan perkara gampang untuk seorang penulis baru.

TUN adalah hadiah terbesar buat gue. Dia adalah jawaban dari semua mimpi untuk menjadi penulis. Tentu berharap kehadiran TUN bisa diterima pembaca tapi jika pun tidak, TUN tetap jelmaan dari semua kenangan, mimpi dan harapan. Setelah melahirkannya, gue berharap bisa menjadi “Tuhan” yang lebih baik. Menuturkan kisah dengan lebih baik.

Gue 35 tahun, TUN baru lahir. Seyakinnya gue untuk bisa melahirkan saudara TUN lainnya.

Mari sambut kedatangan TUN dalam dunia penulisan sastra – aih masih deg degan menyebutnya karya sastra, terlalu muluk. uhuk…

Dia akan lahir secara resmi 27 April 2013 pukul 19 di Jl. Hang Lekir 14A Jakarta Selatan.

cover tun

lalu bergabunglah dengan facebook page untuk Novel TUN… tempat berbagi cerita di balik proses penulisan TUN dan event terkait.

http://www.facebook.com/pages/Novel-TUN/

Semoga di 35 tahun ini, segalanya lebih indah dan membaik 😉

Sepatu Malam Minggu

Standar

Perempuan itu sibuk mengurai ikat rambutnya yang melintir tak karuan. Dia berdiri persis di tengah lobi studio XXI yang memaksa pasangan melepas gandengan tangan saat melintasinya. Dia bahkan bergeming ketika bahunya terdorong pengunjung yang datang. Beruntung satpam tak mengusilinya untuk pindah posisi ke bangku pengunjung.

“Ikat rambut tali telepon itu sulit sekali diurai sepertinya. Gue ganti yang baru aja neh.” Seorang lelaki berdiri di samping perempuan itu sambil menjulurkan bungkusan plastic transparan berisi ikat rambut berwarna pink.

Perempuan itu lagi-lagi bergeming, dia hanya melirik sepatu lelaki itu. Sepatu casual berbahan kanvas warna merah marun dann bercelana pendek. Pergelangan kaki sampai ke betis lelaki itu membuat hati perempuan itu berdesir. “Kaki yang indah, pergelangan yang sempurna.” Katanya dalam hati sambil tetap khusyu mengurai ikat rambutnya.

“Ini, ambil aja.” Lelaki itu menjejalkan bungkusan ikat rambut ke tangan perempuan tadi lalu buru-buru berlalu.

Perempuan itu menerima dengan gugup dan sebelum sempat mengangkat wajahnya, lelaki itu sudah menghilang di balik belasan pasangan yang datang memadati lobi bioskop. Dia tak sempat menangkap rupa lelaki itu, tapi dia mengingat dengan baik bentuk betis dan pergelangan kaki yang telapaknya dibalut sepatu kanvas merah marun. Oh iya, dia juga ingat celana pendek sedengkul berwarna khaki yang dipakai lelaki itu, selebihnya tak ada.

Malam minggu, malam yang ditunggu mereka yang berkasih. Memang tak ada consensus bersama yang mengatakan pacaran harus dilakukan di malam Minggu. Tapi begitulah yang terjadi entah sejak kapan, mereka yang saling mencinta meluangkan waktu untuk bersama menonton bioskop di Sabtu malam. Itulah pula yang membuat semua harga hiburan berbeda di Sabtu Malam, termasuk tiket bioskop. Tapi siapa peduli, namanya juga cinta, keluar sedikit uang tak mengapa.

Harusnya perempuan itu pun bertemu dengan kekasihnya malam ini untuk menonton film paling baru yang ditayangkan di bioskop. Selalu begitu di malam Minggu, dengan jadwal di awali dengan makan malam bersama, menonton film lalu pulang ke rumah, sesekali kekasihnya menginap. Tapi dalam beberapa malam Minggu terakhir, dia merasa hambar. Makan malam tak lagi dipenuhi dengan gelak tawa tapi dia dan kekasihnya sibuk dengan telepon pintar masing-masing.

Di seberang meja makan, dia menangkap kekasihnya bersemu membaca sebuah pesan entah dalam bentuk sms, blackberry message, mentioned di twitter atau entahlah…. Hatinya bilang, cuma cinta yang bisa membuat orang bersemu seperti itu. Lelaki tak beda dengan perempuan dalam soal cinta yang bisa membuat pipi mereka memerah tanpa kendali. Hatinya berdesir.

Empat tahun lalu, perempuan itu jatuh cinta pada kekasihnya karena betisnya. Pada sebuah pertandingan futsal persahabatan antar universitas yang berlangsung di kampusnya. Dia tak suka menonton bola, dia hanya datang menemani sahabatnya si penggila sepakbola. Sepanjang pertandingan perempuan itu hanya memandangi betis setiap pemain, sampai dia terpaku pada satu betis, milik lelaki yang kemudian dipacarinya selama empat tahun terakhir.

Saban malam minggu, dia dan kekasihnya tak pernah absen pergi ke bioskop. Kekasihnya akan menjemput dia dengan motor tuanya dan perempuan itu akan memeluk erat-erat punggung kekasihnya. Meletakkan telapak tangannya di dada si lelaki sambil berdoa semoga debar jantung lelaki itu tetap miliknya. Menciumi bau lelaki itu dan menyimpannya erat-erat di dalam kepala agar tak lupa. Dia merekam semua hal tentang lelaki itu, lekuk wajahnya, bau badannya, sampai suara langkahnya. Saat dia merasa tahu segala hal tentang kekasihnya, ternyata dia sama sekali tak kenal kekasihnya.

Malam minggu ini, perempuan itu dibuat menunggu berjam-jam di bioskop yang sama yang mereka kunjungi selama empat tahun terakhir. Dia sudah mati gaya. Semua sudut mal sudah dia jelajahi untuk membunuh waktu sambil menunggu kabar. Tak ada balasan bbm pun telepon balik dari kekasihnya.

Persis ketika dia memutuskan untuk menonton sendiri film malam ini, sebuah pesan tiba dari kekasihnya, bahwa cinta sudah selesai, dia tak bisa menjalani sesuatu yang sudah hilang. Kepalanya mendadak gagal, dia menggaruk tanpa hasil. Dia menarik paksa ikat rambutnya yang membuat ikat itu kusut. Dia keluar garis antrian dan sibuk mengurai ikat rambutnya sampai lelaki itu menghampiri dan memaksanya menerima ikat rambut berwarna pink dalam bungkusan plastic transparan. Lelaki bersepatu kanvas berwarna marun dengan pergelangan kaki dan betis yang sempurna. Hatinya berdesir.

Perempuan itu keluar lobi bioskop dengan mata yang terus membaca kaki semua orang, mencari lelaki dengan cirri yang diingatnya. Sekali lagi dia mengelilingi setiap sudut mal ini sambil terus menunduk, bahunya sakit karena terus bertabrakan dengan pengunjung lain, kupingnya panas dimaki orang yang merasa terganggu dengan aksinya. Perempuan itu tak peduli, dia hanya merasa perlu mencari lelaki dengan betis yang membuatnya berdesir.

Perempuan itu berhenti di sebuah taman yang dibangun untuk melengkapi mal ini. Dalam jarak lima puluh meter, dia menangkap warna marun dari sepatu kanvas yang membalut kaki dan menyisakan sedikit saja pergelangan kaki yang mengintip. Tapi dia takkan pernah salah menilai betis yang betulnya sempurna itu, betis yang kencang dan membulat karena banyak dilatih dengan mengayuh sepeda atau berlari. Lelaki itu duduk sendiri di bangku taman sambil meremas kedua telapak tangannya sendiri dengan gelisah.

Dengan ragu, perempuan itu menghampiri dan duduk di samping lelaki itu sambil terus menunduk. Dia menyodorkan kembali bungkusan plastic berisi ikat rambut berwarna pink itu.

“Maaf, saya tidak bisa menerima ini. Neh saya kembalikan.”

Lelaki itu terkejut dan menoleh ke arah perempuan yang sekarang duduk di sebelah kanannya. Dia tak menyambut plastic yang disodorkan perempuan itu.

“Baiklah kalau lu ga mau, ya buang aja.”

“Saya tidak bisa membuangnya karena ini milikmu.”

“Bukan. Milik orang lain.”

“Kalau gitu, kembalikan pada yang punya. Ini.” Perempuan itu menyodorkan lagi plastic itu

“Percuma. Gue udah ga kenal sama yang punya.”

“Berarti tadinya kenal? Maaf. Harusnya ga ikut campur.” Perempuan itu menarik bungkusan ke pangkuannya.

“Ga papa. Kita ga saling kenal jadi ga ada ruginya gue cerita. Bercerita sama orang yang ga kita kenal itu lebih menyenangkan daripada dengan sahabat yang suka sok tahu memberikan nasihat ga penting.”

“Kalau tidak mau cerita, tidak apa. Saya permisi.” Perempuan itu berdiri, sampai saat itu pun dia tak berani memandang pemilik betis indah yang membuat hatinya berdesir itu.

“Mau kemana?”

“Pulang.”

“Ga jadi nonton?”

“Ngga.”

“Gue mau cerita, masa lu pulang. Duduk sini deh sebentar, masih punya waktu kan?” lelaki itu menepuk bangku kayu di sebelahnya. Perempuan itu menurut.

“Tadinya ikat rambut itu buat cewe gue. Sesekali pengen romantis sama dia, karena belakangan dia selalu bilang pacaran sama gue seperti pacaran sama batu, lempeng, ga ada inisiatif, ga ada spontanitas bla bla bla… lu tahu lah, perempuan,” lelaki itu melirik sebelahnya sebelum meneruskan cerita. “Ga ngerti apa yang bikin dia uring-uringan begitu, gue pikir karena mau menstruasi aja. Tapi ternyata berlanjut. Jadi hari ini gue mau belajar jadi cowo romantis, pergilah gue ke toko beli ikat rambut. Menurut lu romantis ga?”

Perempuan itu tidak menyahut, dia cuma menunduk. Tak sekali pun menatap lelaki yang begitu semangat bercerita di sebelahnya. Perempuan itu mencuri waktu menutup mata dan mencium dalam-dalam bau badan lelaki itu lalu merekamnya.

“Anyway, begitu keluar toko, cewe gue sms, dia bilang putus. Sumpah, gue ga ngerti alasannya apa. Gue telepon ga dijawab, gue sms ga dibalas. Salah gue dimana? Tadinya gue mau nonton bioskop sendiri, tapi berasa bego. Rasanya kosong. Kalau gue tahu alasannya, gue pasti bisa berdebat, kalau beneran gue salah, gue punya kesempatan minta maaf. Ya sudah lah. Begitu gue mau cabut, gue liat lu lebih linglung dari gue. Ngelempengin iket rambut begitu aja ga kelar-kelar. Makanya gue kasih tuh ikat rambut baru. Begitulah. Nah lu kok bisa nemu gue di sini?”

“Saya cuma ingat sepatumu, mencarimu untuk mengembalikan ini.” Lagi-lagi perempuan itu menyodorkan plastic berisi ikat rambut pink.

“Buat lu aja. kan lu udah tahu ceritanya, jadi buat apa gue simpen. Mau cerita kenapa lu linglung di bioskop tadi?”

“Sama. Diputusin pacar tanpa alasan.”

“Kok bisa?”

“Ya ga tahu.”

“Hey, kenalan yuk. Sepertinya asik ngobrol sama cewe kayak lu, aneh.”

Perempuan itu tertawa ringan saja.

“Karena kamu dan saya nyaman bercerita dengan orang asing. Mari tetap menjadi asing. Tak usah menyebut nama. Saya selalu ada Sabtu malam di bioskop yang sama jam setengah tujuh malam. Jadi kalau mau cerita, temui saya di sana”  

Perempuan itu berdiri dan meninggalkan lelaki dengan betis indah itu yang terpaku bingung dan mulut menganga tanpa kata.

 

Cihampelas Walk 20 April 2013

 

Ke Laut Saya Kembali

Standar

Sudah dua tahun sejak dari Pulau Bintan, saya merindu laut. Angin yang berdesir, ujung ombak menjilati kaki dan lengketnya pasir putih, suara camar dan pandangan lepas cakrawala tanpa batas. Saya merasa bebas bersama lautan lepas. Meski mencintai gunung, lalu selalu bisa membawa jiwa saya hanyut bersamanya.

Perjumpaan saya dengan laut terjadi di Demak – Pantai Utara Pulau Jawa, tak cantik tapi boleh lah, 17 Maret 2013.

 

Image

Perjumpaan berikutnya di tepian Pasifik, ujung utara pulau Biak, 13 April 2013

 

Image

Image

Saya baru tahu Pulau Biak Papua ini cuma 9 jam terbang ke Honolulu, Hawaii. Sayang penerbangan internasional itu terhenti 2003 karena krisis ekonomi dunia dan kondisi politik Papua yang tak menentu. Industri wisata Biak mati suri.

Image

 

 

Image

Pantai Bosnik, saya pikir namanya Botsnic seperti Rusia, ternyata bukan. Pantai ini berdekatan dengan kepulauan Padaido, surganya terumbu karang di Papua selain Raja Ampat. Sampai 2003 ada hotel bintang 5 yang sekarang cuma jadi bangunan kosong dan penuh hantu – kata orang-orang sini. Sekarang turis lokal yang menikmatinya. Sayang waktu ke sana 15 April 2013, seorang anak robek kulit jempol kakinya karena beriris pecahan botol bir.

Perjumpaan dengan pantai mana pun selalu bisa mendesirkan kalbu. Seperti terpanggil untuk tenggelam bersamanya. Ada takut tapi lebih banyak rindu.

Image

 

Penjajah Itu Bernama Beras

Standar

Sejak kapan makan nasi? Memori saya mentok pada kelas tiga sekolah dasar, saat saya dikejarkejar mami untuk disuapi nasi. Adik saya Lina selalu makan nasi disisipi es kenyot sementara saya perlu dicekokin mami dengan mata melotot supaya mangap. Barangkali saat itu saya merasa tak doyan nasi, tapi tak bisa protes. Saya ingat teman sepermainan waktu kecil bernama Wawan yang takut banget sama butiran nasi, tapi dia doyan banget sama lontong.

Papi selalu bercerita masa susah saat dia kecil harus makan tiwul atau nasi jagung. Saya tanya waktu itu, enak ga pi? Dia bilang tak ada pilihan untuk bilang enak atau tidak, yang penting kenyang. Lalu beras yang beliau bisa berikan pada kami kemudian menjadi lambang penaikan status bahwa hidupnya sudah berubah lebih baik. Dan ketika saya tidak menghabiskan nasi di piring, dia akan sangat marah dan bilang,”banyak yang tak bisa makan di negeri ini, dan kamu buangbuang nasi.”
Lewat bangku sekolahan, saya belajar tentang Indonesia yang kaya dengan berbagai suku dengan makanan lokalnya. Ada sagu, singkong, keladi dan ubi. Lalu saya ketemu dengan Mama Loretta dari Nusa Tenggara Timur yang kembali pada sorgum, biji-bijian yang tak beda fungsinya dengan gandum. Lalu kenapa saya cuma kenal beras, perut ini hanya “dijajah” beras. Bahkan sebelum benarbenar belajar, saya cuma tahu sagu itu dipakai papi buat lem kanji saat menyetrika celana dinasnya supaya garis itu benarbenar lurus dan licin, dan dipakai mami untuk bikin pacar cina campuran kolak yang dijualnya saat ramadhan tiba.

Kendari 2004, pertama kalinya saya makan papeda. Nikmat! Dilanjut 2011 kemarin di Green Food Festival II, lagi Nikmat! Kemarin malam saya makan untuk ketiga kalinya di sini di Biak, Papua, tempat pohon sagu gagah bertumbuh di seluruh sudut pulau. Rasanya tetap sama, enak!

Minggu lalu saya bertemu kawan dari Pulau Wakatobi, dia bilang di sana beras hanya dimakan untuk dua alasan; pertama karena sakit dan berasnya dijadikan bubur, kedua kalau ada pesta pernikahan. Sehari-hari mereka makan keladi yang menurutnya jauh lebih mengenyangkan dan murah.

Perbincangan saya dengan kawan dari Wakatobi berlanjut soal berasisasi atau berasnisasi buat kami sama saja artinya, penjajahan lewat beras. Negara ini membuat patokan kesejahteraan dan gizi hanya pada asupan nasi, sehingga kata teman saya Putri, kalau ada pulau-pulau di Indonesia Timur bertanda merah dalam peta kerawanan pangan, itu karena patokannya adalah beras! Padahal makanan asli mereka bukan beras, tapi keladi, sagu, sorgom atau ubi.

Di Biak beras raskin dijual dengan harga 4ribu rupiah/kilogram, didatangkan dari Makasar. Bayangkan kalau musim ombak sedang tinggi atau karena cuaca kapal pengantar beras tak datang. Saya berkesempatan bercakap dengan saudara-saudara baru saya di Biak tentang beras.

Saya : “Kawan-kawan masih makan sagu sehari-hari?”
Papuans : “Tidak. Kami makan beras.”
Saya : “Kenapa beras?”
Papuans : “Pemerintah ajar kami makan beras.”
Saya : “Tapi enak mana beras dengan sagu?”
Papuans : “Ya ENAK SAGU.”
Saya : “Lalu kenapa tinggalkan sagu?”
Papuans : “Karena pemerintah ajar kami makan beras.”

Saya tersenyum miris. Beginikah cara bangsa ini dipaksa untuk bersatu?
IMG-20130414-00742