Monthly Archives: Maret 2016

Mungkin mereka terpaksa pilih DIE karena tak punya kesempatan buat ADAPT!

Standar

Sainsbury dekat rumah punya empat kasir. Saban kali membayar belanjaan mba dan mas kasir akan bertanya, ‘hi how are you? Do you need a bag?.’ Lalu diakhhiri dengan kalimat, ‘thank you, enjoy your day.’ Pasti, itu semua cuma basabasi dan template dari bagian pekerjaan ‘service,’ tapi paling tidak saya sebagai pelanggannya akan menyapa balik, sedikit basa basi kembali. Lalu sebulan kemarin, empat mesin ‘self check-out’ dipasang di Sainsbury. Sesuatu berubah. Saya tidak perlu menyapa mba dan mas kasir karena bisa langsung bayar, self service dan pergi. Ga ada lagi basa basi, lebih jauh dari itu shift kerja mereka mungkin berubah, jumlah mas dan mba kasir mungkin juga mengecil. Sapa butuh manusia kalau mesin sudah bisa sendiri bekerja. Di Indonesia, ga ada lagi Emma Teana yang menjaga tol dengan senyum manis karena semua tinggal tab, berangkaaat…. Berapa banyak jumlah pekerja yang dihemat dari penggunaan mesin otomatis itu?

Terus masalahnya dimana? Tanya teman saya. ‘Gue sih menikmati banget kemudahan hidup karena teknologi ini. Tinggal telpon makanan datang, semuanya tersedia di hape.’  Saya ingat jawaban singkat ketika itu, ‘karena kenyamanan yang kita punya ga rata dinikmati orang, karena masih ada ketidakadilan soal teknologi.’

Siapa yang menyangkal kalau teknologi memudahkan hidup, akses informasi berlimpah ruah, efisiensi tenaga dan waktu karena semua tersedia. Tapi pernahkah menengok ke isu lain, semisal tenaga kerja?

Teknologi tidak serta merta membuka kesempatan kerja  bagi semua yang jumlah terus bertambah. Dalam kuliah yang penuh depresi tentang globalisasi, DR. Gholam Khiabany memaparkan angka yang bikin nyesek. Apple meraup profit milyaran dollar dengan hanya mempekerjakan 700ribu orang di seluruh dunia. Facebook Cuma punya 4000 pekerja dengan profit jutaan dollar ameriki. Dan whatsapp meraup 19 juta dollar dengan hanya 55 orang. Apa yang bisa disimpulkan? Iyap.. perusahaan berbasis teknologi pun ga membuka peluang cukup banyak buat lapangan kerja.

Karl Marx bilang, kelas pekerja itu adalah mereka yang jauh dari sumber produksi, sebut teknologi salah satunya, dan mereka harus menjual ‘labour’ (tenaga buruh) untuk bisa bertahan hidup. Dan jumlahnya tak terkira. Ini masalah sosial yang ada di depan mata.

Tidak semudah itu untuk bilang, ADAPT or DIE…. Some people have no choice but to DIE because they are literary cant ADAPT! Karena kesempatan buat mereka menikmati pelayanan sosial macam tersedianya lapangan pekerjaan yang layak buat semua orang, ga semua orang punya kesempatan mengecap pendidikan yang tinggi karena mahal setengah mampus, dan ga semua orang punya akses ke teknologi, even if they do, sebagian orang tidak sempat tengok hape karena harus bekerja cari makan!

Paling gampang emang menyalahkan orang miskin (definisi global MDG’s adalah hidup dibawah $2 perhari, sila dikoreksi)  sebagai biang masalah, seperti itulah yang diingini pemerintah dan orang bisnis. Mereka Cuma dianggap beban negara dan perusahaan. Bahwa kegagalan hidup menjadi tanggung jawab pribadi, kurang usaha, kurang motivasi… oh betapa bahagianya jadi motivator dengan trend macam ini… padahal sejak zaman dulu kita diajari untuk gotong royong, the community does better together.

Kekerasan yang terjadi hari ini tetap ga bisa dibenarkan, tapi tolong tengok masalah dibalik itu. Ga adil rasanya untuk bilang mereka sombong, mereka sekumpulan orang bodoh nan angkuh juga vandal. Itu tidak menyelesaikan masalah, fakta bahwa setoran naik sementara penumpang menurun jumlahnya, dan biaya hidup terus tinggi…

Ini masalah bersama, mari pikirkan bersama.

sainsbury selfcheckout

Kelasnya Usai, Sisa Rindu Menderu Pada Kawan Sejurusan – catatan enam bulan #cheveningjourney

Standar

Setahun itu sekejap. No lie dude, a year of study is nothing! Time flies dan sekarang kelasnya selesai. Dua term masing-masing 10 kelas itu sudah selesai. Hari ini kelas terakhir, terakhir pula melihat professor saya yang selalu bilang… mmm… mmm…. Profesor yang baik hati, very well organized. Dibanding semua jurusan, professor saya yang juga ketua jurusan ini sangat rapi mengatur semuanya. Kelas lain masih belum mikirin disertasi, kami sudah harus mengajukan draft proposal November 2015 lalu. Saat yang lain masih menunggu degdegan siapa nama supervisor disertasi, professor saya sudah mengumumkan sebelum kelas termin kemarin kelar. Lalu saya dapat supervisor disertasi yang super duper demanding. Taun lalu, anak bimbingannya dapat nilai disertasi terbaik sekampus 95! Jadilah saya dan dua anak bimbingannya yang baru seperti barang pertaruhan… kudu mempertahankan nilai itu… Mateeee….. Yang lain mikir proposal aja belum, saiah sudah harus nulis 3000 ribu literature review… dan proposal 2000 kata kelar dua minggu sebelum deadline. Panilknya sudah selesai buat saya.

Lalu selesai juga kelas yang diisi 14 anak dari 12 negara. Kami mungkin orang yang di luar kelas dimusuhin karena kepala kami penuh sama urusan politik, dan demen berdebat. Apa aja didebatin, diomongin panjang lebar. Kami bisa saling membentak di dalam kelas lalu cekikikan di pub. I miss you all, already! Ini adalah sebaikbaiknya kelas yang pernah saya dapat sepanjang sejarah hidup di sekolah. Setiap anak dalam kelas kami unik, kepada mereka saya belajar banyak. Saya yang tertua, Asher panggil saya, Tante of the class. Dia anak ausie yang khawatir Indonesia bakal menjajah ausie suatu saat hahaha. Yang termuda adalah Amanda dari Amiriki, kalau liat anak Punk yang kutu buku ya ini dia. Ada Dan, politisi muda, kiri blas. Ngomongnya sih lembut, tapi somehow, kebaca keras kepalanya. Juan, yang paling pinter di kelas, paling bersahabat, penenang di tengah debat. Maria dan Inbal, ga pernah mau kalah dalam berdebat. Dan yang lainnya… haduuh… haduh… saiah kangen mereka. Rasanya kelas kami ini adalah yang paling unik dibanding sebelumsebelumnya.

Bulan keenam, saya lebih dekat dengan kawan-kawan yang lain dari sebelumnya. Saya adalah Foucault dan sahabat saya adalah Bordieu. Kami menyapa berdasarkan aliansi teori, halah! Sebenarnya sih biar gampang kalau nanya, si Foucault itu ngomong apa aja sih, atau apa sih yang dimaksud sama Bordieu soal anu…

Saya merasa lebih menikmati perjalanan studi dan kehidupan pribadi. Kalau di awal, sibuk menjadi orang baik dan perhatian untuk semua teman. Sekarang, terserah kalian, sakareupmu ae. Saya tidak bisa selalu menjadi orang yang baik, kembali lagi menjadi Nita yang judes dan cuek. Saya berteman tapi tidak mau dijadikan tempat bergantung siapa pun. I have my own life though. Makin jarang mengontak siapa pun atau mencari kawan. Toh sudah enam bulan, mereka tahu dimana mencari saya…. di perpustakaan. Dan pun tahu, I will see you tomorrow… tanpa nanya, dimana? Datang ke perpus ga? Yaaa… I am always here J

Enam bulan lagi… lets make the most of it J

Bisa kok hidup dengan 3 Pounds Perhari #cheveningjourney #tips

Standar

Soal makanan, sebenarnya saya paling ga suka diatur. Demen makan enak, ga perlu makan besar. Tapi kebiasaan buruk yang saya lakukan adalah buang-buang sisa makanan. Kan demen banget belanja bahan makanan tuh, numpukin banyak banget sayur, daging, tahu dan kawan-kawan lauk pauk lainnya. Sementara bisa aja malas meraja, daripada masak mending beli, apalagi kalau udah ngumpul sama temen, ‘eh makan yuk, ada resto baru di sana tuh, di sini tuh…’ dan kalau udah makan di luar, habislah minimal 5 pound sekali makan, sampe semahalnya saya makan adalah 16 pound sekali makan. Anjrit mahal banget, emaaaang…. Pantesan saiah bangkrut blas bulan ini. Sementara bahan makanan yang sudah saya beli, kadang sudah saya masak, jadi ga kemakan dan berakhir di tong sampah… kebiasaan paling buruk!! *tampar saiah*

Tetiba, teman saya datang bawa bekal makan siang yang dia beli di Sainsbury; sebungkus dedaunan 1 pounds, 1 bungkus irisan daging kalkun 1 pounds, dan dua roti @30p. Lalu dia bilang, ‘begini caranya berhemat, bisa makan 3 kali dengan hanya 3 pounds.’

Berhubung saya sedang kepepet, salah perhitungan belanja dan jajan, lalu miskin mendadak, maka saran dari kawan saya ini sangat masuk akal. Pekan lalu saya hanya habis belanja 24 pounds untuk 7 hari makan, itu artinya @3 pound 3 pence perhari. Apa saja yang saya beli?

  1. Roti 1 pounds, bisa buat 5 hari
  2. Dedaunan 2 bungkus
  3. Isian berupa kornet, keju dan potongan ayam
  4. Tomat
  5. Apel
  6. Susu
  7. Telor paket 10 biji
  8. Sarden

Masih bisa beli deterjen 2 kilo dan pewangi 1 liter loh, perlengkapan perempuan dan kantong tempat sampah organic. I was so amazed of myself this week. I survive with only 24 pounds.

Ga bosen makan sandwich terus? Dikombinasi dung. Kalau udah 2kali sandwich biasanya saya makan nasi sama telor ceplok, atau mie instan, atau pake sarden. Kalau mau jajan diatur aja palingan 1-2x aja makan di luar dan ga lebih dari 5 pounds. Setiap hari saya bawa bekal 2 tangkep sandwich, ya biasanya lapar melanda di tengah antara makan siang sama makan malam. Lalu bawa kopi sendiri, lumayan berhemat 1 pounds 65 pence, meski kadang kangen sama kopi buatan Paul si barista, jadi jajan deh, seminggu sekali.

Yang paling rumit hidup di London adalah menolak ajakan begaul dari temen. Tapi percaya deh itu bisa diatur, apalagi kalau essay dan disertasi udah deket deadline, banyak alasan buat stay away dari segala macam ajakan yang bakal menipiskan persediaan uang bulanan. Yang paling susah dihindari justru Amazon dan toko buku murah… yaaa sudahlah. Mending ga usah makan enak daripada ga bisa beli buku yang susah didapat di Indonesia.

A Photo From Home

Standar

I used to have a juggling life. I love to have my life in danger that somehow made me respect life even more. Its like having 9 souls like a cat. My previous office got bombed, my friend got bombed, standing on the top of the mud volcano in Sidoarjo made me so small, had breast tumor surgery; when a storm hit us on the ocean from Sikuai Island, when a murder pointed his finger to me and said… I know you were spying on me for days, when phone caller threat me because we were supporting anti-pornography law movement, there…

Then I had a quiet life in Bandung, so quiet and akang who always taking care of me, always giving me love and tenderness. Then Sarongge, the farm, the village and humble villagers who always make me feel home.

Then London made me realize how miss I am to my juggling life. Meeting new friends and learning new things about and from them are also exciting. When my friend said Indonesia is too small for me, somehow I feel that is true. So tiring to see how people back home still has narrow-minded, where colors of life have only two, black and white, while my colors are so bright, full of a pattern because the universe is  differs. It makes me want to fly even higher and far far away from Indonesia, from home.

I have been talking about this before, but couldn’t deny the temptation of flying higher is still there. I can work for an international organization. I can send myself to another part to the world doing things that I love to do, volunteering, social work, covering stories, anything.

But this photo, a photo of people that I work with back home makes me miss home more than ever. As much as I want to fly higher, my feet need a ground to stand, I need to have a home and it will not be my fancy backpack. My home in Sarongge needs me, my friends need me… unless if you guys say that you don’t need me back hahaha….

home

I miss home…

 

A day of happiness is …

Standar

… a day when I made the best taste of omelet with a horrible presentation. But my Land Lady said it wasn’t your fault, it was the bad pan that you used.

… a day when my professor emails me to re-send the essay rather than nagging me how stupid I was to put the wrong file.

… a day when I got a phone call from one of the organizations and I got my chance to do an internship with them, doing video production, woohoo…

… a day when Paul the barista re-opened the cashier just for me and gave me a discount for tea and sandwich. He said, so nice to see you around again… Lesson Learned… make friends with everyone… listen… everyone!!

… a day when Edward Snowden, my second favorite man in the universe, replied my tweet! I love you, man!!! You are my hero!

… a day when I see your smile…. Your humble and sincerely smile!!

…a day to remember… thank you!!!

Donald Trump, Leonardo Dicaprio dan Tere Liye – Uang, Megaphone, Moment dan Pengikut

Standar

Sepekan kemarin, timeline facebook saya penuh dengan tiga nama ini. Memanfaatkan momentumnya masing-masing, mereka yang suka dan tidak suka pada tiga nama ini berebut ingin ikutan dapat panggung untuk komentar. Saya juga ah…

Takut ekspektasi pembaca berlebihan, saya wanti-wanti dari awal yak bahwa saya bukan penggemar Leonardo Dicaprio, bukan pembaca Tere Liye apalagi punya hak suara buat Donald Trump. Yang saya akan bahas di sini murni pendapat pribadi dari pengalaman urusi kampanye lingkungan dan isu sosial, bergaul dengan aktivis dan cuap-cuap di media radio. Secara kebetulan sedang belajar political communication dengan teori-teori ajaibnya Foucault, Chomsky, Bordieu, Hall dan lain-lain. Apa mereka masih relevan dipakai teori dan pandangannya, bisa jadi.

Menurut teori, sebuah kampanye bisa berhasil kalau memiliki

  1. Momentum
  2. Megaphone – media
  3. Money – sumber daya
  4. Followers

Dua hal pertama adalah yang utama, momentum yang pas dan disorot media. Fans dan follower bisa jadi sama menurut saya. Tapi Bordieu dengan Semiotik teorinya dan Hall dengan Coding dan Decoding pasti akan bilang, gal ah, fans dan follower ga sebegitu dongo nya mengikuti semua yang disampaikan oleh siempunya megaphone. Proses menerima pesan sangat tergantung pada latar belakang penerima, budaya, pendidikan, sosial ekonomi dan situasi politik dimana si penerima pesan berada. Tapi dalam konteks propaganda yang disampaikan Chomsky bisa jadi membuat kekuatan atau power mengengkang si penerima pesan seperti yang disebut Foucault.

Lalu apa yang dipunya ketiga nama di atas? Iyap… semuanya yang dibutuhkan untuk didengar, diperhatikan, kalau bisa diikuti apa yang pernah mau. Untuk meningkatkan ‘awareness’ didengar adalah kunci utama.

Culture of Celebrity kata Antropolog menciptakan sebuah ilusi yang diamini pengikutnya. Leonardo dengan semua filmnya, Donald Trump yang dianggap bicara apa adanya tentang apa yang dirasa oleh Amerika (rasisme, islamophobia, Cuma salah dua dari hal ajaib yang dia sampaikan) dan Tere Liye dengan bukunya. Mereka ‘mencipta’ dan jutaan mengamini.

Suatu hari sebuah status facebook tertulis begini, ‘ceu gue udah ngerjain itu bertahuntahun, mentang mentang situ artis dan ngomongin hal yang sama, seolaholah jadi hal baru deh.’ Atau teman debat saya bilang, ‘apa dampaknya pidato 30 detik Leo di Oscar soal perubahan iklim?’

Dampaknya akan sama terlihat seperti para aktivis dan orang pintar sejagat nusantara terganggu dengan status Tere Liye pekan lalu, yang bilang kaum sosialis tidak berjasa pada negeri ini melawan penjajah. Beraninya pun dia menyuruh kita semua membaca, sementara dia luput mengingat sejarah, pingin ciwit rasanya. Tapi begitulah… Tere Liye kadung punya ribuan pembaca setia, ingat pembaca setia yang mengikuti dan terharu dengan setiap kata di dalamnya. Apa mau bilang bahwa semua pengikutnya adalah orang bodoh yang sama-sama dengannya tidak mengerti sejarah? Rasanya tidak adil untuk bilang begitu.

Faktanya, mereka yang sudah populis itu ya didengar. Yang suka kawan-kawan aktivis lupa adalah menjadi populis. Sewaktu jadi jurnalis, paling eneg kalau ketemu sama peneliti yang bahasanya di langit, susah cuy membuatnya membumi dan bisa dimengerti mahluk bernama manusia. Harusnya dipahami bersama, tingkat pendidikan kita ga sama, coba sederhana sikit kalau bicara itu semudah music pop dan film Hollywood kalau perlu. Sejauh ini yang dicipta adalah music yang sukar dicerna telinga, buku yang bikin keringetan dan berkerut, tapi kalau ga dibaca, ntar dibilang terlalu bodoh ga ngerti isinya, bikin film senengnya yang berbau bombastis dan menimbulkan polekmik sosial yang kadang ga lebih dari buah tangan public relation. Contoh paling sederhana menyampaikan pesan penting misalnya Banksy deh, atau Notaslimboy, comedian kita.

Ketika saya dan teman-teman seperjuangan di isu perubahan iklim sampai berbusa bertahuntahun ya gitu-gitu aja, lalu Leonardo bicara ini di podium Oscar, buat saya sih, anugrah. Semua media mengutip, semua organisasi lingkungan besar berseri. Ga ada dampak langsung emang, ga seperti hujan lalu badan kita basah. Membuat orang lain melirik dan mendengar adalah penting, urusan bertindak adalah pekerjaan berikutnya. Btw FYI, Leonardo sudah sama bawelnya dengan kita sejak 2007 di Bali. Terlepas dia kemudian terbang keliling dunia membuang emisi, telanjang bersama para model di Yact mahalnya, so what… kalau Cuma 1% penghasilannya yang dia sumbang buat hutan Indonesia, itu perlu diapresiasi.

Yang perlu kita ‘takuti’ adalah orang ajaib semacam Donald Trump ini, isi kepala kosong, mulut maut tapi sialnya punya semua yang dibutuhkan dalam sebuah kampanye. Atau Tere Liye yang masih perlu sama-sama belajar sejarah lagi yaaa maasss…

Yang perlu sama-sama kawan pintar lakukan, kenapa kita tak belajar dari mereka, menjadi populis, menguasai megaphone, supaya pesan kampanye tersampaikan dengan baik dan tidak melulu tersampaikan di lingkaran yang sama, itu lagi itu lagi. Misionaris dikit dong, rekrut anak muda untuk berpikir progresif dan terbuka para perubahan, pro pluralisme dan demoraktis. Sudah bukan saatnya diam. Lihatlah, barangkali karena kita terlalu banyak diam, lalu tetiba negeri ini dikuasai para bigot yang menyebarkan ketakutan. Takut LGBT, takut patung, takut pada belahan dada…

Leonardo-DiCaprio-UN