Monthly Archives: November 2015

Kenapa Saya Sangat Mencintai Perpustakaan Goldsmiths?

Standar

“Shall I see you again tomorrow, you’ll be here right?”

“Where are you sitting? I’ll come and join you in a minute.”

“Won’t be hard to find you, you are always here at the library.”

“Why you are always at the library?”

Itu pertanyaan dan pernyataan dari temen-temen saya di sini, di Goldsmiths, University of London. Daripada panjang lebar menjawab pertanyaan mereka, begini jawaban saya, ‘I am planning to occupy the Help Desk (office) and kick Kevin (the manager of the library) out of his job.’ Eh ternyata jawaban itu disebar dong ke teman-teman, ‘she is crazy,’ tentu saja sambil senyum-senyum.

How can I am not in love with this Library? It has everything I need and want.

Ini beberapa hal yang membuat saya jatuh cinta sama perpustakaan Goldsmiths

  1. Buka 24 jam
  2. Punya koleksi buku buanyak, tapi beberapa tetap saya harus cari di luar Goldsmiths
  3. Ada café yang kopinya kalau pakai soya milk bisa saya terima enaknya, cari makanan cina, Thailand, turki, semuanya tinggal ngesot. Supermarket juga, tempat nyari makanan nyaris kadaluarsa biar murah, bisa banget.
  4. Dekorasi perpus yang keceh. Sofa dimana-mana. Kalau Jumat malam, Sabtu dan Minggu, udah berasa kayak ruang tamu sendiri. Bisa baca buku sambil bobo boboan tanpa harus buka sepatu, badung lah.
  5. Internet kenceng 24 jam. Mau browsing, nonton film, denger music di youtube, lancar jaya.
  6. Pemandangan indah. Saya beritahu ya, Goldsmiths itu the coolest uni ever! setiap orang punya stylenya masing-masing. Gank lelaki bewok itu bejubel dan cakeup banget hilir mudik. Yang cool dan gayanya kayak Sherlock holmes juga banyak, long coat dan rambut licin. Yang modelnya Hozier, ikal berantakan dan bawa gitar kemana-mana di dalam kampus juga ada. Ceweknya ga kalah seru, berambut warna permen, kuning, pink, oranye, ungu, biru, lengkap. Distractiooon, kata temen… yeah I don’t mind at all!
  7. Ini ga cuma ruang belajar sendiri, tapi diskusi sampai pagi. Seru!
  8. Dan hangat, hangat ruangannya juga orang-orangnya. I make lots of friends just being there.

Saya memang tiap hari ada di perpustakaan, dari jam 11 siang bisa sampai jam 2 pagi. Sekali waktu pernah sampai jam 6 pagi dan selalu ada kawan di sana. Segala drama dalam hidup selama tiga bulan ini terjadi di perpustakaan. Kalau lagi kesel, ngumpet di ruang silent study, berusaha nahan nangis, pun kalau nangis ga boleh pake suara, nanti ganggu yang lain. Kalau lagi pengen curhat, tinggal tarik temen masuk ruang diskusi. Makan siang rame-rame di depan kafe atau di depan kantornya Kevin.

Target berikutnya, bawa sleeping bag menjelang deadline essay, supaya bisa bobo di sana kalau essay belum kelar dikerjakan….

library

Kemana Ekonomi Indonesia Bergerak? – Catatan Kuliah Politik Ekonomi

Standar

Ekonomi jelas bukan subjek yang saya suka, meski bekerja sebagai marketing dan dipaksa untuk membaca sedikit di media soal situasi ekonomi. Dosen kompol saya pun terpaksa membaca lebih banyak untuk tema ini, dia bilang, ini kali pertama ekonomi dibahas di kelas kami. Sama-sama belajar.

Sudah tahu tuh pasti kami diminta untuk menjelaskan apa yang terjadi di negara-negara masing-masing terkait politik ekonomi. Kuliah dimulai dengan menjabarkan perbedaan prinsip ekonomi Neoclassical dan Keynesian;

Kata kunci di Neoclassical; free-market, privatisasi, self-interest, rational, supply demand, invisible hand, supply side, shock doctrine

Kata kunci di Keynesian; state regulation, irrational market, full employment, economic stimulus – spend more to earn more, nasionalisasi, welfare state through tax, state intervention, demand site.

Jadi Indonesia ke arah mana Nita? Begitu tanya dosen saya dan 12 pasang mata siap mendengar jawaban dari anak yang berasal dari negara dengan 255,5 juta penduduk, great market.

Saya menatap lagi kata-kata kunci itu dan menjawab, ‘our country ‘forced’ to enter free-market, dengan pasar bebas ASEAN dan pertemuan Presiden dengan Obama untuk Trans Pacific Partnership, which actually I against to, karena ekonomi akan berpihak pada pasar, privatisasi terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Tapi di sisi lain, kami masih punya serikat buruh yang masih ‘kuat,’ pemerintah spending a lot untuk infrastruktur di Indonesia timur supaya memancing investor. Jadi kami ada di antara dua prinsip itu.’

Lalu dia menyimpulkan,”state capitalist” mungkin, lalu soal pajak, siapa yang menolak pajak dinaikan? Sebagian besar dari kami angkat tangan untuk beberapa alasan:

  1. Di tengah persaingan pasar bebas, penaikan pajak bukan opsi yang baik karena investor bisa angkat kaki. Buat Indonesia itu sudah terjadi, beberapa pabrik tutup dan pindah Vietnam. Saya melirik kawan dari Malaysia, meski dia bilang, ekonomi Indonesia sudah sangat bikin Malaysia ketar-ketir sih. Kawan dari Israel langsung protes, kalau negaranya besar, they will stay karena itu pasarnya. Saya jawab, pasar dalam arti konsumen, Indonesia cuma jadi outlet jualan, konsumerisme tapi ga jadi produsen, dimana untungnya? Tapi dalam kebijakannya, pemerintah yang baru akan berpihak pada produk lokal, semoga bener.
  2. Kawan dari Mexico berpendapat, pajak itu selalu dikorup oleh aparat, jadi darimana kita yakin bahwa pajak itu digunakan untuk kemakmuran rakyat… lalu diikuti dengan anggukan yang lain.

Pertanyaan yang juga menggelitik, jadi ekonomi itu science atau political practice? Cuma satu kawan dari Palestina yang menjawab itu science, lainnya sepakat ini murni politik interest, kita aja kadang yang diyakinkan dengan data statistic yang masih perlu ditanya keabsahannya, ini soal manusia. Iya ilmu sosial dong… hmm… temen dari Swedia senyum senyum…

Diskusinya emang mendasar banget soal ekonomi maklumlah kami dari jurusan komunikasi politik yang kepalanya cuma politik hahaha… diskusinya selalu balik kesana.

“Lalu siapa yang baca berita ekonomi di media? Kalau dari bahan bacaan media ekonomi itu cuma dikonsumsi oleh elit politik dan ekonomi dan pengusaha?” Cuma tiga dari 13 yang angkat tangan. Saya tidak.

Saya bilang,”when I was a journalist, I hate if I have to cover economic issue. As a reader I don’t give a damn about the stock market, but if it comes to issues that touches our basic needs kayak harga bahan bakar, kenaikan upah dan persediaan bahan pangan, saya rasa itu menarik buat saya dan banyak orang. Pergolakan politik juga seringkali dipicu oleh isu ini.”

Hari ini, baca komentar kawan tentang buruh yang tak tahu diri meminta kenaikan upah dan pengusaha yang membalasnya dengan penawaran pensiun dini, bikin ngeri dan sedih. Kalau buruh dilemahkan dan pengusaha diberikan sebebasbebasnya, dimana letak kesejahteraan itu berada? Menurutmu bisnis sudah berubah lebih manusiawi? Rasanya belum. Lihat di kasus sawit, begitu apinya mati, isunya penegakan hukumnya pun lalu senyap…. Tahun depan bakar lagi aja!

Free-market bukan jawaban satu-satunya untuk mensejahterakan rakyat, bukan pilihan terbaik juga. Kalau sempat carilah buku ini 23 Things They Don’t Tell You About Capitalism dari Ha – Joon Chang, kritik manis tentang free-market yang enak banget dibaca.

not-a-recession-yet

Deceiving the deceiver – Umberto Eco ‘Numero Zero’ (a review)

Standar

‘News doesn’t need to be invented,’ I said ,’All you have to do is recycle it.

Dottor Colonna- the main character – became paranoid when his colleague stubbed to death one night and believe the killers are looking for him for the information he has about the conspiracy theory around the death of Mussolini.

Then the story begin with two months preparation of a new style of newspapers that he is involved with other his professor from college that he never graduated from and couple of others journalist including Maia, an entertainment journalist who dreams to be a more serious journalist. But Maia always being underestimated because she is a woman with an entertainment journalist background wrote nothing but gossiping life of celebrity and horoscope. No matter makes sense her view is, the big boss always told her, ‘work on your horoscope.’

Do you know why the newspaper collapses? It is because they publish news that the reader already saw on TV a night before. To be survived on this business, newspapers need to be predicted what is going to happen in the next day, like the horoscope. Put ‘if’ and play with the scenario of conspiracy theory. And that’s how Braggadocio started his theory on Mussolini death, instead working on prostitution story that he being told to do.

First Maia against everything that her boss trying to do with the headline because everything seems to be lie. But Simei always said that the readers are not that smarts, they are just skimming the news and tend to forget what they are just read. Who cares if it’s truth of not? Who cares if the newspapers appeared with Julius Cesar murders years after, and someone named as the suspect. Journalist and the spies have the same common, they trained to tell lies.

All the information and investigation that Braggadocio did suddenly appeared on BBC Documentary, few weeks after his deaths. ‘Then who was it said the truth shall set you free? Truth will make every other revelation seems like a lie.’Maia said

And here comes the lines from Maia that really in to me, ‘We’re immune: whenever they tell us some new story or other, we say we’ve heard worse, and claim it’s false. If the United States, half of Europe’s secret services, and our government and the newspapers have all lied, why shouldn’t the BBC have also lied? The only serious concern for decent citizen is how to avoid paying taxes and those in charge can do what they like.’

As I am studying Political Communications and just passed the lectures about media effects, agenda-setting, priming and framing that located within a cognitive processing of understanding the news, reading this novel is like going back to my notes of the lecture. Fictions is not totally fictions, it helps me sometimes to understand more clearly the non-fiction reading pack from the class and its fun. And what Umberto Eco trying to describe how the media is just a part of the deceiver, people live in lie after all. How social media makes us happy while at the same time we given away our freedom of privacy, being surveillance by the nation. Not all the news is lie, not all media and journalist deceiving the audience. But how to get the truth from the deceiving world around us, is to read as much as you can, don’t believe in only one source, talk and discuss everything you have been reading and gathered different view as much as you can and also nothing is 100% correct in this view either.

Again, Umberto Eco made me impress and breaking my ‘reading’ schedule and I love it.

umberto eco

My First Snow! – #mycheveningjourney

Standar

First thing that I asked a friend when I came in London was, “will I see snow in London?” and he said, “Do you really want to have a snow? Anyway it’s rarely snow in London. You’ll be lucky if you have one.”

Well my friend, I am very lucky, as the snow fell on my roof when I woke up at 8 am this morning. I am so excited that I forgot the cold and took a picture of it. I smiled widely like the girl seeing her boyfriend across the street J I hope no one saw me, but who cares!

I came from 28-36 degrees country, lies on equator, warm and sunny country named Indonesia. It took me one an half month to adapt to 10 degrees and now 0 degrees! I slept with my skullcaps, scarf, socks, two layers t-shirts and a very nice vintage look jacket that I just bought yesterday and the heater is on! I know… it’s too much.. but read again first line of this paragraph hahaha.

The weather forecast said snow will fall on Friday night to Saturday. I saw two movies with Tahar Rahim on it and many of times keep looking on the window if the snow fell, until 2 am. It was nothing but the heavy icy rain. Feel slightly disappointed, but the forecast in UK rarely missed. And once again, they are so right, it is snow!!!

And before the snow, London had the tail of Storm Barney couple nights ago. I came back from the library midnight with the heavy wind blowing. I struggle to kept still and walked with dozen of garbage can falling in the wind. I felt like Neo from the Matrix dodging bullets in the slow motion. Anyway, there was a bus driver who stops and shouting from the window, “hey, come inside the bus, I will take you to the nearest place to your home.” Wow…. I was so surprised, but I declined the very nice offer as my flat just a few more meters. That was also unforgettable moment with weather in London.

And now… I have to keep myself ready for the coldest days in my life! Winter!! My very first winter…. I hope it would be a nice one for me, or I could just live under layers and layers of shirts that make me look like Baymax from the Big Hero!

Saya Feminist dan Perjuangan Yang Belum Usai – Catatan Film She’s Beautiful When She’s Angry

Standar

Film ini menunda saya bertemu dengan kawan-kawan yang sudah dijadwalkan sehari sebelumnya. Pesan di Whatsapp dari teman sekelas saya yang kebetulan lelaki tentang film ini yang sebenarnya membuat saya semangat untuk menonton. Seperti ditantang, if he cares, why don’t I. Saya tertarik tapi tidak sebegitu tertariknya dengan film ini sampai pesan itu datang dan semua rencana untuk makan malam dan juga nongkrong bareng teman sangat bisa ditunda.

shes-beautiful-when-shes-angry-screenshot1Setengah jam sebelum film diputar, mahasiswa Goldsmiths sudah mulai menduduki posisi masing-masing. Di awal saya sempat pesimistis dan menyangka kalau film ini ujungnya hanya akan dipenuhi oleh perempuanperempuan bergaya aktivis dan kawankawan lesbian. Tapi makin dekat ke menit dimulai, makin penuh, lelaki dan perempuan dalam jumlah yang seimbang. Ruangan kapasitas 300 orang itu penuh, sampai sebagian duduk di tangga dan tiduran di bawah layar, yang penting bisa nonton.

filmShe’s Beautiful When She’s Angry dibuka dengan kata sambutan singkat dari Kepala Jurusan Human Right, “Film ini penuh kontroversi, dan inilah yang menginspirasi perjuangan perempuan di seluruh dunia. Waktu itu angkatan kami hanya ikut-ikutan gerakan dan tidak menyangka bisa berdampak sebesar ini.”

She’s Beautiful When She’s Angry bercerita tentang sejarah kemarahan para perempuan cerdas yang berkumpul dan melakukan pergerakkan perempuan dari tahun 1966 – 1971. Film ini lugas menggambarkan beberapa isu kontroversi yang muncul selama perjalanan itu, isu rasial, pilihan seksualitas dan kepemimpinan yang muncul juga menangkap semangat perjuangan dengan penuh ketegangan, skandal dan cerita lucu yang menyertainya.

Perempuan ini ga melulu mereka yang ada di universitas, tapi perempuan biasa, ibu rumah tangga yang datang rapat dengan membawa anak-anak mereka. Perlu banget untuk dicatatkan dalam sejarah, Feminisme bukan perjuangan membenci lelaki, menolak institusi pernikahan dan juga memutus generasi dengan menolak beranak.

Feminisme sejak awal pergerakannya adalah perjuangan tentang kesetaraan hak dan kesempatan yang sama dengan lelaki, dilihat sebagai subject, individu dan bukan sebagai makhluk berbeda yang bernama perempuan. Penghormatan terhadap pilihan perempuan untuk tidak menikah dan tidak punya anak, memilih mencintai sesama. Salah satu tokoh perempuan dalam film ini mengatakan,”kalau kami benci pernikahan dan tidak ingin punya anak, kami tentu tidak memperjuangan Child Care, tempat penitipan dan perawatan anak di semua kantor, lingkungan rumah, sekolah. Kalau tidak peduli pada anak, kami juga tidak perjuangkan nutrisi yang baik untuk anak-anak kami. Semua itu kami lakukan. Kami berjuang untuk akses terhadap pil KB, seperti juga hak untuk dapat upah dan kesempatan mendapatkan pekerjaan yang sama dengan lelaki.”

Dalam salah satu dialog, seorang aktivis berkata,”Kenapa tidak ada penjelasan tentang efek dari pil KB? I am sick of men controlling our body.” Tuntutan itu berujung pada penjelasan tentang indikasi dan dampak kesehatan dari konsumsi pil KB.

Film ini juga bercerita kalau melahirkan anak dalam bagian dari “nasionalism,” meneruskan generasi ras tertentu. Seperti Nazi melakukan pemurnian ras, begitu juga perempuan digunakan sebagai mesin pencetak anak untuk meneruskan sebuah generasi, ras dan bangsa tertentu.
Di akhir film, sebuah event dilakukan merayakan 40 tahun perjuangan perempuan. Lalu para aktivis perempuan ini merefleksi bahwa perjuangan mereka sama sekali belum selesai. Di tengah dunia yang disebut modern, perempuan belum lagi mendapatkan hak yang diperjuangkannya.
Saya masih hidup di antara mereka yang mengagungkan pernikahan dan punya anak menjadikan perempuan utuh. Saya pernah ditempatkan dalam satu posisi hanya untuk memenuhi kuota perempuan dalam sebuah struktur. Saya seperti berjuang dua kali lebih berat untuk mendapatkan banyak hal yang saya dapat hari ini. Lalu akan selalu ada yang menimpali, “makanya berdua, menikah, agar beban terbagi.” Selalu kembali pada lingkaran yang sama… *sigh*

Dalam percakapan dini hari dengan kawan saya dari Serbia, kami berbagi situasi yang sebenarnya tidak jauh beda. Isunya sama, bahwa nikah adalah kuncian bahagia buat perempuan. Tapi saya bilang, “kita harus kembali lagi pada perjuangan awal. Yang kadang feminis suka lupa, saya juga, adalah menghargai pilihan kawan-kawan perempuan yang memang ingin menikah dan punya anak, itu saja. Kita lupa bahwa feminism adalah soal menghargai pilihan, selama pilihan itu bukan paksaan dan dibuat secara sadar dengan segala konsekuensinya.”

In the end before we finally slept, this is still a man’s world, patriarch system, but of course it won’t stop us from fighting for our right as a woman. I am a feminist and proud of it!

Apalagi begitu lihat porsi lelaki yang menonton film ini seimbang, kalau belum benar-benar jadi feminis paling tidak mereka mau peduli. Dan saya dengan manis merekam siapa-siapa saja lelaki yang hadir di pemutaran film malam tadi *kibasponi

She's beautiful_01

Bulan Kedua Penuh Drama – My Chevening Journey

Standar

Hola sudah dua bulan aja di UK, tepatnya di kota London. Bulan kedua ini udah ga ada drama nangis karena kangen rumah, karena jadwal kuliah mulai sibuk. Kalau bulan pertama sibuk beradaptasi dengan cara belajar yang bener dan daftar panjang bahan bacaan, bulan kedua ini sudah mulai focus milih bahan bacaan, cuma yang berhubungan sama essay yang bakal ditulis. Ketika udah focus sama pilihan tema essay, udah mulai enak tuh menata jadwal kapan mulai membaca, kapan riset bahan untuk contoh, nyusun draft tulisan dan kapan mulai nulis. Cuma ambil dua kuliah sih emang enak, ga dikejar setan untuk tugasnya, jadi bisa tenang meski tetap megapmegap di grammar waktu nulis. Tapi kata ibu Dierdre, my proof reader dan juga ibu semang, tulisan gue tidak terlalu buruk, dia hanya perlu melakukan perubahan sedikit aja. Horeee gue udah submit 1500 kata untuk latihan essay dan masih 4500 kata menanti, plus 6000 kata buat essay dari mata kuliah lain.

Drama dimulai itu karena mami sakit. Sediiih banget ga bisa menemani mami di rumah sakit. Tapi ini kan kami lagi sama-sama berjuang. Mami dengan ketiadaan gue, dan gue mengejar cita-cita, belajar di sini. Beruntungnya punya dua teman yang mau nemenin sampai pagi di perpustakaan, melewati malam galau.

Drama lainnya adalah dilamar kawan saat makan malam dan itu cuma becanda. Ahay… bayangin ya situasinya, makan malam dengan lilin menyala yang sendu dan lelaki di depan lu bilang,”will you marry me?” dan itu ternyata Cuma becanda. Habis lah tuh anak gue marahin, dude, that’s not cool at all. Jangan becanda dengan kata-kata keramat itu, someone might get hurt… ternyata dia bilang di negaranya hal itu biasa aja. Biasa kalau konteksnya lagi rame-rame gerombolan sama tementemen, bukan saat berdua lagi makan di restaurant bagus kaleee. Dasar bocah, dia becanda sama orang yang salah hahaha…

Mari beralih ke pencapaian terbesar bulan kedua ini… bisa pake eye liner sendiri doong. Biasanya eye liner adalah barang yang paling gue hindari karena sakit, selalu bikin gue nangis uhuk. Tapi tanpa bantuan sapa-sapa gue belajar pake eye liner and it’s not that hard ternyata. Kenapa gue akhirnya belajar pake eye liner? Karena kudu jaga stand, kudu cakeup dikit lah biar orang mau mampir ke stand kami.

Udah jalanjalan ke Brighton yang juga disebut London by the sea. Tapi jangan samain dengan pantai di Indonesia, kaga apple to apple deh, jauh. Ini beneran cuma pantai hitam yang gersang tapi kota kecilnya cantik dan hidup. Hampir mirip sama Bandung yang diisi oleh artis dan seniman, bikin betah. Lalu ke Cardiff, ibukota Wales yang juga cantik. Bersama Mba Ulil kami minum teh di kafe kecil depan kastil, ngobrol ngalur ngidul. Butuh empat jam perjalanan dari London menuju Cardiff dan ga cukup waktu 4 jam untuk keliling kota ini. I will stay overnight next January di Cardiff buat lihat lebih banyak.

Sudah jejingkrakan joget di penutupan WTC di booth Filipina, tapi lagi pengen banget karaokean buat teriak teriak. Kepingin ngewarnain rambut dengan warna permen, biru atau tosca dan lipstick merah. Gue menikmati dua bulan ini di London dan begitu merasa sudah adaptasi lebih baik, ternyata tinggal 10 bulan lagi di sini… I need more time please….

cardiff

Menjadi Minoritas di Tengah Kasus Terorisme

Standar

Yang datang setelah aksi terorisme adalah sentiment keagamaan, betapa melekatnya terorisme pada Islam. Bukan kawan di kampus yang kebetulan keren ini yang bikin khawatir, di luar sana, di luar gedung kuliah, di jalanan dan di media. Oh iya, media. Ketika media yang dijalankan oleh jurnalis yang harusnya cerdas dan berlogika, ujungnya Cuma memanasi situasi dengan juduljudul rasis bombatis, bahwa ini adalah perbuatan muslim, bahwa Islam mengajarkan umatnya membunuh.

Sedikit demi sedikit, meletup kasus diskriminasi terhadap kami yang muslim. Saya beruntung, tak berjilbab, dan kalau orang tak tanya, ga perlu saya tempel di jidat kalau saya ini muslim kan. Tapi sahabat saya yang berjilbab, mereka yang bernama dan berwajah arab, mereka akan disamaratakan dengan teroris. Kami berbagi kekhawatiran yang sama, tak hanya sesama kawan dari Indonesia tapi kawan-kawan muslim lainnya.

Terima kasih kau bangsat yang tak tahu bagaimana menghargai hidup, dan kamu yang hanya melihat hitam putih semua kasus. Terorisme bukan Islam, Islam adalah agama, muslim ada mereka yang menganut ajarannya. Mau berbusa, kamu tak bisa menjelaskan ini pada setiap orang. Media yang seharusnya bisa, malah Cuma mau ambil untung untuk dapat oplah berlimpah.

Kami sedang bergurau semalam, terbahak bahak membahas dildo ketika pesan berantai muncul di whatsapp group tentang ledakan dan tembakan di Paris. Kontan sunyi bar, semua tertunduk di hape masing-masing, dan diam.. sebentar kemudian, “did you read this? Man… shit.” Satu dua yang tahu saya muslim segera menenangkan saya, “no worries, we do know it has got nothing to do with the religion.”

Malam ini masih dapat pesan dari kawan sekelas, meminta maaf atas tampilan koran di negaranya italia yang sangat rasis dan mengancam islam. Tentu saja dia tak perlu meminta maaf tentang ini, selalu ada orang yang mengambil keuntungan dari kesusahaan dan itu diluar kontrolnya. Pesan dari kawan,”do not be afraid, that is exactly what they want from us.”

“An eye for an eye will make the whole world blind,”- Mahatma Gandhi

Teknologi Mengubah Kehidupan Sosial? Benarkah? – Catatan kuliah umum Anthony Giddens

Standar

Saya bukan fans Prof Anthony Giddens, tapi tentu saja pernah membaca tentangnya dan judul kuliah “Sociology and Digital Revolution,” menarik untuk diikuti. Beberapa hal yang catat dalam kuliah malam ini di antaranya, bahwa teknologi digital mengubah formasi kehidupan sosial dengan tiga hal yaitu internet, robotic dan computer super pintar. Salah satu yang paling terasa adalah ketika uang menjadi sebuah barang ilusi karena semua bergerak berputar secara elektronik. “Technology re-shaped the economy, social and politic- democracy.”

Dalam demokrasi, Giddens mengutip Robert Putnam yang mengatakan internet mendorong pada krisis demokrasi, ketika segala hal yang dilakukan oleh politisi, pemimpin negara menjadi gampang terpantau. Politik berjalan seolah menjadi lamban, politisi lebih kelihatan ketika membuat kesalahan. Pada satu dan lain hal, digital revolution can make democracy being threat karena pada akhirnya orang kehilangan kepercayaan pada politik…

Dalam ekonomi, kombinasi internet, computer super cepat dan robotic semakin membuat lapangan kerja yang menggunakan tenaga manusia berkurang, dalam beberapa tahun ke depan akan lebih banyak pekerjaan di tingkat kerah putih saja – white collar task, this is the threat of future profession.

Teknologi membuat perubahan dalam perang terhadap terorisme, cyber war, cyber crime bakal jadi hal yang paling menakutkan.

“Everything in social life has change, in a way that we don’t know how to accept, but its profound, transformation is happening. “ Lalu Giddens mengatakan sesuatu tentang singularity, tentang manusia yang akan tergantikan oleh mesin, ini bukan hal yang tidak mungkin. Bahkan di dunia kedokteran, genetik manusia sudah bisa digantikan berkat teknologi.

Kuliah ditutup dengan pesan, “take the advantage of it (digital revolution) but at the same time, simplify life, have a decent life to retain control of your own life from this (digital) invasion which subversively changed our emotion and identity.”

Tanpa mengurangi hormat saya pada Giddens, ada beberapa hal yang mengganggu di kepala, yang tak sempat tersampaikan karena waktunya pendek. Mengutip tokoh popular culture John Fiske, bahwa bukan teknologi yang mengubah kehidupan sosial, tetapi siapa yang mengendalikan teknologi dan pesan apa yang disampaikannya. Teknologi itu cuma cara. Dalam dunia yang dikuasai kepentingan politik dan bisnis, maka kita akan tahu siapa yang berkepentingan mengendalikan teknologi yang kita gunakan secara sadar maupun tidak.

Dan Stuart Hall bilang bahwa sebagai penerima pesan, manusia itu aktif kok, mencerna segalanya sesuatu dengan background budaya dan pendidikannya, tidak serta merta mudah dikendalikan oleh pesan yang disampaikan lewat teknologi itu.

Lalu kenapa juga demokrasi harus merasa terancam dengan kehadiran teknologi? Menurut saya ini adalah format baru yang bisa digunakan untuk menggairahkan partisipasi politik lewat cara-cara yang lebih mudah dan cepat. Dari turun ke jalan minta tandatangan, sudah ada petisi online. Ada banyak kasus petisi online lewat Change.org berhasil mengubah kebijakan pemerintah. Itu bentuk partisipasi politik yang nyata. Pendapat saya yang ini disampaikan dalam kuliah kemarin, pas prof saya merasa petisi online dan twitter itu bukan bentuk partisipasi politik. Berpikir baiknya, dia mengetes kami aja. Tapi dalam beberapa literature, masih banyak yang tradisional cara pikirnya bahwa partisipasi politik adalah datang memberikan suara pas pemilu atau berdebat secara tatap muka, demonstrasi di jalan. Belum lagi weblogging itu bentuk nyata dari penyataan sikap dari individu, warga negara terhadap sesuatu, terhadap yang urusannya dengan kehidupan politik.

Berbeda pendapat dengan dua orang besar itu rasanya gimana itu, rasanya otak ini akhirnya terstimulus untuk berpikir lebih jauh dan jauh lagi. Dalam ilmu sosial tidak ada teori yang serratus persen dianggap benar, harus begitu namanya manusia kan kompleks hidup dan cara pikirnya. Saya sedang merasa dapat energy baru untuk beneran belajar hahaha, selama ini ngapain ajaaa hahaha … makin haus untuk belajar… lalu tetiba kepikiran lanjut ke S3 (padahal essay aja bikin kepala cenut cenut)

giddens

Kapitalisme Wisata_Catatan Kecil Dari Kerjaan Jaga Stand :-)

Standar

“Can you recommend me only five stars hotel or cottages in Bali and Lombok for my client. I don’t want a low budget accommodation. Only five stars one.”

Bukan sekali dua kali saya menerima pertanyaan ini dari pengunjung di World Tourism Market yang berlangsung 2-5 November 2015 di London lalu. Buat saya yang biasa jalan-jalan dengan budget rendah, tidur dimana aja, bahkan kalau pun dibayarin kantor cuma mentok di hotel bintang tiga, pertanyaan itu susah dijawab. Syukurnya pernah jadi juri Green Hotel Indonesia 2012, kebagian menilai hotelhotel bintang empat dan lima yang pengen naik kelas dengan pencitraan sebagai hotel yang ramah lingkungan, jadilah saya yang insya Allah benar memberikan rekomendasi itu.

“Where is Bali? Is Indonesia part of Bali or Malaysia?”

Saban kali pertanyaan ini yang saya dapat, muka saya mendadak kencang. Tapi karena kebagian kudu jualan wisata, saya berusaha senyum dan segera membukakan peta Indonesia. Pelajaran geografi dimulai. “Well sir, Bali is a small part of Indonesia. We have 17.000 islands, 13.000 named and it might take you 50 years to explore each one of it. And Malaysia is our neighbor. Look at that big map Sir..”

“Do you know where the nicest beaches in Indonesia are?”

Saya akan menjawabnya dengan kembali membentangkan peta, mulai dari Sumatera dengan pantai Baratnya, ke pulau Jawa yang menghadap Samudera Hindia, sampai ke Nusa Tenggara lalu yang terbaik dan terbersih adanya di Timur Indonesia. Lalu pertanyaan mereka akan begini,

“But are there five stars hotel on these places you said?”

Ngok!

Selalu gagal paham sama orangorang yang menanyakan bagus atau tidaknya pantai dan pemandangan yang ada tapi maunya tinggal di dalam hotel bintang lima. Kalau cuma mau mendekam di hotel mah ngapain repot nyari pemandangan… tapi kan ya namanya lagi jualan, semua harus dijawab dengan senyum… sabar nita sabar…

Feel so great kalau ketemu sama yang sudah pernah ke Indonesia dan minta rekomendasi tempat yang Less Touristic, I would be happy to help and show them the hidden places from the west to the east Indonesia. Lalu mereka akan berbisik, “Thank you my dear, I hate this capitalist tourism. They make your country dirty, hate this drunken tourist who didn’t respect your culture.” Lalu orang orang ini saya akan kasih merchandise terkeren yang disediakan panitia hahaha…

Lalu teman saya bertanya, “who own these five stars hotel in Indonesia?” naively to say…. Foreigners… lalu dia bilang… shit man, your country is become sell by foreigners to foreigners… well like it or not, itulah yang terjadi.

Siapa juga bisa menyangkal kalau mereka punya strategi jualan yang lebih baik dan memberikan pelayanan bintang lima yang terbaik. Sebaliknya, perwakilan Indonesia yang dikirim pakai pajak negara kemari, malah pergi jalan-jalan keliling London, membuat janji bertemu dengan media maupun tour agency dari peserta yang hadir pun dilalaikan, cemberut kalau saya kasih kartu nama mereka, atau memperkenalkan mereka yang ingin bertemu dengan perwakilan board of tourism Indonesia. Mental birokrat kita man, bikin gemes setengah mampus… mereka ga tahu gimana harus jualan ketika harus jualan, maka tak heran, lagi-lagi yang menang adalah pemilik modal yang sebagian besar adalah pemodal asing. Lagilagi kita cuma jadi pesuruh di negeri sendiri…

Jujurnya saya merasa bersalah saban kali memberitahu mereka tentang lokasi wisata yang masih asri dan tersembunyi di Indonesia, takut dibikin kotor…

indonesia

Serbuan Cinta di Pasar Malam

Standar

Segerombolan pemuda tanggung merapat di antrian permainan semacam kemidi puter. Sebagian dari mereka sibuk bicara sambil menenggak bir di gelas plastik dan tangan kanan memegang pedang menyala warna warni. Tapi satu pemuda hanya memasang telinga mendengar percakapan itu dengan mata yang tak lepas dari gerombolan gadis tanggung yang juga berbaris di dalam antrian. Barangkali hatinya berharap si gadis menengoklah ke belakang, lalu tersenyumlah…

Dalam antrian lain di tempat jualan kopi dan coklat panas, berdiri di depan saya lelaki dengan jaket panjang mirip Sherlock, lengkap dengan syal dan memegang payung bergagang panjang. Di sebelahnya gadis cantik berjaket coklat. Usia mereka sekitar akhir dan pertengahan dua puluhan. Bercakap, saling menatap tapi tak saling menggenggam tangan. Bukan sahabat karena mereka berbicara dalam nada pelan, tidak maen tepok tepokan lalu ngakak bersama selayaknya saya dan sahabat lelaki saya. Rasanya mereka terjebak kencan buta yang diatur oleh sahabat mereka. Percakapan yang canggung. Tapi kalau si gadis tak suka, sayang sekali, lelaki ini sungguh mirip filmfilm lelaki Inggris yang sangat anggun dalam pakaian dan tindak tanduk, a real gentlemen.

Di tempat permainan lempar bola, seorang lelaki rela membayar 2×4 poundsterling untuk bisa menang dan memberikan boneka super besar pada calon kekasihnya. Iyalah ini Cuma ada saat proses pendekatan, lelaki maupun perempuan akan rela berkorban lebih banyak untuk menyenangkan calon pasangannya. Kalau sudah jadian, hmm… hitungannya akan lain lagi.

Di tempat yang sama, seorang bapak sibuk menenangkan anak gadisnya yang kecewa karena gagal mendapatkan boneka besar sebagai hadiah. Bapaknya gagal menjatuhkan enam kaleng susu dengan lemparan bola. Sementara bapak yang lain sibuk memoto anak gadisnya yang sumringah memegang hadiah boneka besar. Anak itu pasti bangga sekali pada ayahnya. Tetiba kangen papi…. Huhuhu …. Ayah adalah kekasih pertama untuk seorang anak perempuan.

Dua tiga keluarga yang lama tak bersua membuat janji menghabiskan beberapa jam di tempat ini. Mereka saling bertanya kabar, berapa anak sekarang dan bagaimana keadaan mereka, sambal menuang anggur di gelas kertas.

Di langit hujan bubuk mesiu dengan warna-warni ceria kembang api, mereka berpegang tangan, merapatkan badan dan berciuman…. Lalu sepi… aku hanya bisa merindumu…

kembang api