Monthly Archives: Juni 2015

Asik dan Tidak Asik

Standar

Menurutku, siapa juga bertanya menurutku apa, tapi kan ini blogku, suaraku, masalahmu jika tak setuju dengan menurutku. Jadi menurutku, ada beberapa jenis manusia di sekitarku. Ada yang asik secara bawaan, ada yang asik karena tahu persis di sana citranya dibangun, ada yang sok asik banget yang berupaya lebih keras daripada seharusnya. Semakin keras upayanya untuk terlihat asik, semakin ga asiknya dia dipandang, apalagi untuk digauli…. Diajak bergaul maksudnya, salah lagi aku bicara, bisa runyam orang berpendapat, padahal ya bodo amat, lah wong ini blogku, salahmu kenapa membaca tulisanku.

Asik menurutku adalah mereka yang sifatnya itu air, bisa mengikuti situasi yang ada, bisa seperti bunglon yang menyerupai dimana dia bergaul. Ada yang memang terlahir demikian, nyaman rasanya berada di antara orang ini, dia nyambung diajak ngomong apa aja, dan gaya seadanya.

Yang ga asik lah yang maksain biar dibilang asik. Misalnya, kalau dalam percakapan mendadak suaranya paling melengking di antara yang lain, biar kita nengok gitu dan memerhatikan apa yang dia bicarakan. Kalau lagi bicara tentang “derita” dia menjadi yang paling menderita seluruh dunia dan lalu bangkit se tinggi-tingginya lalu mulai berceramah… lu liat segalanya dalam hal yang positif dong, liat gue lah…

Padahal ya kawan, temennya positif itu ya negative. Bahkan untuk membentuk sebuah masyarakat yang teratur dibutuhkan kejahatan. Lupa itu teorinya siapa di ilmu sosiologi.

Berada di dekat makhluk sok asik ini, bakal membuatku merasa bahwa aku ada di dalam dunia kegelapan, I am in the dark ages and she or he is the savior, membawa pencerahan. Bahwa aku seperti orang yang selalu salah dan dia yang benar, aku yang selalu sedih dan dia selalu yang gembira.

Padahal ya kawan, ketika kamu merasa perlu marah, marah aja, ketika sedih ya nangis saja. Kamu kan manusia, berlakulah seperti manusia yang berkahi dengan emosi.

Lalu apa aku asik? Maaf belum survey ke temen-temen… yang pasti ketika aku marah, ya marah, ketika sedih ya menangis. Ketika tersakiti, aku akan diam, karena diam itu doa, karma itu ada… aish sadis… aku pasti orang paling ga asik sedunia… menurutmu.. tapi sekali lagi aku tidak peduli, kan ini blogku 🙂

Sepatu Lars Bapak

Standar

Bapakku polisi. Sejak kecil aku selalu bangga dengan bapakku yang polisi itu. Setiap kali ditanya akan jadi apa aku besar nanti? Jawabku dengan mapan, jadi polwan biar bisa gantikan bapak.

Setiap pagi sebelum diminta, aku sudah berlari ke dapur mengambil sepatu bapak dan semir berwarna hitam. Aku ingin begitu bapak selesai berpatut dengan seragamnya dan celana coklat yang dia sendiri setrika karena tidak percaya pada siapa pun, karena kata bapak, tidak ada yang bisa serapi dia mempertahankan garis di celana tugasnya, dia akan mendapati sepatunya yang mengilap setiap saat.

Sepatu lars bapak itu adalah hal lain yang aku sayang dari bapak. Di atas sepatu lars itu, aku pernah berdansa dengan bapak yang tinggi tegap dan sangat tampan. Aku menginjak sepatu lars bapak agar bapak bisa menggenggam tanganku sambil kami menari. Lagunya bisa apa saja, bahkan dengan dangdut kesukaan bapak.

1998, awal ketegangan kami. Bapak adalah petugas negara dan aku mahasiswa yang meletup-letup mengikuti perkembangan reformasi. Di rumah kami berdebat tanpa henti. Aku lebih senang kami tidak bertemu agar ibu tak ikutan pusing dengan debat panjang kami yang berakhir biasanya dengan bapak melempar asbak karena kalah berdebat denganku. Sebelum ini bapak tak pernah marah padaku, dan aku tak pernah melawannya, karena tidak ada yang perlu didebat. Sampai aku merasa besar, dewasa dan bisa menentukan pendapatku sendiri, entah benar atau tidak, kala itu, aku merasa sangat perlu berada di barisan mahasiswa yang menentang Soeharto. Bapak panik.

“Tidak perlu kamu ikut-ikutan mahasiswa lain. Uang kuliahmu itu pakai uang negara, bapakmu ini masih digaji negara. Ga usah macem-macem. Awas, ga usah ikutan demo.”
“Bapak dibayar negara, pakai uang pajak rakyat. Bukan oleh Soeharto pak. Kalau perlu bapak ikut sama aku berdemo.”

Kesal kusahuti omongannya, bapak berlalu sambil meninju pintu dapur hingga bolong.

Lalu kekerasan terjadi, mahasiswa terbunuh. Apakah bapakku ikut-ikutan mengusir kawan-kawanku di lapangan? Apakah bapakku ikut menginjak kawan-kawan dengan sepatu larsnya yang aku semir saban pagi itu?
Aku tidak berani bertanya, lebih tidak berani lagi mendengar jawabannya. Bagaimana jika semua itu benar, sepatu lars itu menyakiti temanku. Aku tidak lagi berani bilang, bapakku polisi, takut kawan-kawanku bertemu dengannya dan tahu apa yang dilakukan bapakku dengan sepatu larsnya.

Aku diam, kami tak lagi sedekat dulu. Sepatu lars itu menakutkan bagiku. Dia telah mengikuti bapakku kemanapun dia pergi. Sepatu itu menjadi saksi apa yang dilakukan oleh bapakku. Aku menolak menyemir sepatu lars itu.
2003, bapak pensiun dan jatuh sakit. Kata orang kena post power syndrome, biasanya bapak tidak punya waktu istirahat karena sibuk, kali itu bapak punya waktu istirahat dan bingung karena tidak punya kesibukan. Sakit mendekatkan aku kembali padanya. Bapak hanya mau ditemani aku saat dokter menyelipkan infus di balik kulit tipisnya. Bapak menggenggam erat tanganku ketika selang makan ditanam paksa lewat hidungnya. Sakit kata bapak.
Sepatu larsnya dekil. Tidak ada yang sempat menyemirnya karena ibu berbulan-bulan di rumah sakit dan aku sibuk mencari uang untuk menutupi biaya rumah sakit dan kebutuhan sehari-hari. Sepatu lars itu membisu di dapur ditemani semir hitam pasangannya.

“Bapakmu itu polisi yang baik, teramat jujur. Itulah yang membuatnya susah naik pangkat. Selamanya cuma jadi polisi lalu lintas tua yang ada berdiri di perempatan jalan, sampai paru-parunya bolong karena polusi. Siapa peduli.” Om Budi sahabat bapak sejak kecil menemaniku makan siang usai menjenguk bapak siang itu.
Aku hanya menarik napas mendengarkan ceritanya.

“Pernah sesekali kamu mengintip bagaimana bapakmu bekerja? Apa kamu tahu dia adalah polisi lalu lintas yang paling terkenal di wilayah ini? Wajahnya yang garang tidak sama dengan hatinya yang lembut. Bapakmu itu sahabat supir angkot karena tidak pernah menerima suap, tidak iseng menilang orang, dan dia melakukan apa yang mestinya dilakukan. Kamu boleh meragukan bapakmu yang polisi itu karena di luar sana lebih banyak polisi yang tidak benar. Barangkali bapakmu memang satu polisi yang jujur dari ratusan yang tidak. Harusnya kamu tidak meragukan integritas bapakmu sendiri. Kalau bapakmu tidak jujur, sudah kaya lah kau sejak kecil, bukan tinggal blusukan di petakan kumuh seumur hidupmu.”

Sejak hari itu sepatu lars bapak kembali mengilap. Dalam tidurnya, aku berbisik di kuping bapak, “cepatlah sembuh pak, aku mau menginjak sepatu bapak lagi dan kita berdansa pakai lagu Mansyur S.”

Bapak tersenyum, aku tahu dia mendengar suaraku.

Tapi pagi itu aku panic sepatu lars bapak hilang, hilang tanpa jejak. Dari semua barang di rumah sempit kami, hanya sepatu bapak yang hilang, lengkap dengan semirnya. Aku cari dari mulai dapur, ruang tengah, kamar tidur, sampai kamar mandi sampai ibu telpon.
“Bapakmu sudah pergi Yan.”

(Terinspirasi cerita akang tentang Pak Magrib, polisi di Cimahi, sahabat supir angkot dan terkenal di salah satu jalan. Mendahului tugas akang menulis artikel tentangnya :-))

Waktu Matahari Jingga dan Hujan Rintik-Rintik

Standar

Waktu itu matahari jingga di sebelah barat, sebentar lagi dia akan berganti tugas dengan bulan menemani kita yang masih betah berjam-jam berbicara tentang hidup, mimpi dan cinta. Kakimu tidak bisa diam, sebentar mengayun depan belakang sementara tanganmu menahan tubuh agar tak terperosok ke parit. Sejak dalam kandungan, ibumu cerita, bahwa kamu memang tak bisa diam. Mengidam kamu pun bikin repot bapak yang mencari kodok buduk di sawah, untuk dimasak. Membayangkannya saja aku sudah mual. Begitu lahir, masih kata ibu, suaramu melengking sama kerasnya dengan suara adzan subuh yang menggema lewat toa mushola. Dan ketika beranjak besar, saat kita sudah sering bersama berkejaran keluar masuk gang, ibumu sering marah dan memanggilmu “si pantat paku,”. Barangkali memang ada paku di pantatmu sampai kamu tak bisa diam begitu. Bapakmu pernah mengajak ayahku mencari orang pintar buat menyemburmu agar seperti anak perempuan lain, kalem dan lembut. Begitu kamu akan disembur, si orang pintar kau tending sampai terjungkal dari bangkunya. Dia pergi sambil memaki, “dasar anak setan.” Jadi mana yang lebih tepat, si pantat paku atau anak setan.
“Di, suatu saat nanti aku akan pergi ke Barat,” katamu sambil menunjuk ke arah matahari tenggelam.
“Ada apa di Barat? Kenapa tidak ke Timur, atau Utara atau Selatan,”kataku acuh
“Kata di tivi Di, segala yang datang dari Barat itu adalah yang modern, yang bagus-bagus.”
“Kalau di Timur?,” tanyaku
“Yah, sama aja dengan di sini. Ga ada bedanya. Aku ingin sesuatu yang berbeda saat aku dewasa nanti. Ga selamanya di sini, dan gini-gini aja.”
“Apa yang salah dengan yang gini-gini aja?” kali ini aku merasa tersinggung, karena tidak pernah terpikir olehku untuk meninggalkan tempat ini. Tempat ayah dan ibu membesarkanku dan semuanya terasa cukup saja. Sawah untuk digarap, rumah dengan pemandangan gunung Gede, apalagi yang aku ingin kecuali menghabiskan hidup di sini, penuh ketenangan. Tunggu, aku harus ubah pernyataanku terakhir. Ketenangan yang mana, kalau si pantat paku dan anak setan ini tidak bersamaku, mana bisa aku tenang.

Tiba – tiba dadaku berdebar, bagaimana kalau kamu suatu saat nanti benar-benar pergi ke Barat?

“Ga ada yang tahu salah atau benar kalau aku tidak ke Barat dan merasakan bedanya dengan di sini, ya kan?,”
Lalu si anak setan itu berdiri lalu meninggalkanku yang masih sibuk menenangkan jantung yang berdebar tak keruan. Bagaimana jika semesta mengabulkan keinginannya dan membawanya pergi dari hadapanku.
Waktu itu hujan deras ketika si pantat paku dan anak setan itu menggedor pintu rumah, kaosnya menempel di tubuh yang kuyup, jelas menampakan tubuhnya yang beranjak dewasa. Kali ini desirku berbeda. Senyumnya lebar, selebar Gunung Gede, dia sedang bahagia. Bahagia yang membuatku patah hati.

“Di, aku dapat beasiswa ke Amerika. Ke Amerika Di… ke Barat. Seperti cita-citaku selama ini. Aku akan berangkat tiga bulan dari sekarang Di. Aku berangkat Di.” Dia lalu memelukku erat, tapi segera pergi sebelum aku sempat membalas pelukan basahnya. Dia berlari berhamburan ke dapur, mendekap ibu dan mencium tangan bapak. Aku masih tertegun di depan pintu yang terbanting oleh angin.

Si pantat paku itu akan segera pergi, dan aku…

Sejak hari itu si pantat paku sulit sekali ditemui, dia lebih banyak di Jakarta mengurusi segala dokumen keberangkatannya. Sedang aku masih menghabiskan sore di parit yang sama dan memandangi matahari merah yang tak lagi sama, kadang terlalu merah, kadang buram di mataku yang berair.

“Kamu kemana aja sih Di? Ga pernah mengangkat teleponku? Kita tuh ga punya waktu banyak untuk sama-sama. Kamu ikut ke Jakarta ya, temani aku beresin segalanya. Aku tunggu di terminal Lebak Bulus ya?”
“Ga bisa Din, bapak lagi kurang sehat. Ibu kasian kalau harus mengurus sawah sendirian. Kamu kan tahu situasinya gimana di sini?,”

Waktu itu matahari merah dan hujan rintik-rintik ketika aku duduk di parit yang sama memandangi matahari merah yang tak lagi sama. Kamu sudah berangkat ke Barat malam tadi. Rombongan dari desa menemani bapak dan ibumu berangkat sejak kemarin. Ayah ibuku hanya bisa menitipkan teri kacang kesukaanmu. Aku tak sanggup melihatmu pergi.
Ibu tergopoh-gopoh mendekatiku dengan mata sembab dan hidung tersumbat.
“Di, pesawat Dina di. Ada di tivi, dan ibunya telepon… pesawat Dina hilang…”

Sore ini matahari merah teramat merah, aku bahkan tak sanggup lagi menatapnya. Parit sudah tertutup tanah longsor akibat hujan lebat minggu lalu. Sudah sebulan pesawatmu hilang tanpa kabar, kamu dimana anak setan? Sudah sampaikah di Barat seperti cita-citamu? Aku tak sempat menyampaikan debar di dada dan cita-cita sederhanaku, untuk mencintaimu apa adanya, bahkan dengan paku di pantatmu.

Pada Telepon Pintar

Standar

Perempuan berbadan mungil itu sejak dua jam lalu duduk di pojok kafe, sendirian. Sejak dia datang, wajahnya menunduk ke arah telepon pintarnya, ditutupi poni yang panjang dan rambut lurusnya yang terurai. Ingat film hantu Jepang, Sadako yang keluar dari televisi dan tidak mungkin hal yang sama terjadi di masa kini karena televisi sudah dipajang tinggi-tinggi di tembok, lalu dia kan terjatuh. Ah.. begitulah penampakan perempuan muda itu. Dia hanya ditemani secangkir kopi panas dan telepon pintar. Sesekali dia menyisip kopinya sebelum kembali tertunduk pada telepon pintarnya. Sesekali bahunya terakhir dan terdengar tawa pelan darinya.

Meja tetangga kiri dan kanan perempuan itu terus berganti, tapi dia bergeming. Lalu pelayan datang merapikan gelasnya yang sudah kosong, dia hanya menggeser lengannya sambil tetap tertunduk. Dia memesan kopi kedua bahkan tanpa melihat menu dan wajah pelayan.

Ketika matahari terbenam di ujung barat, dia mengangkat wajah dan langsung membuang jauh-jauh pandangan ke jendela memandangi semburat jingga sampai benar-benar hilang dari langit. Dia kembali tertunduk. Sesekali bahunya terangkat.

Pelayan mondar mandir tanpa berani menyapa seperti layaknya yang dilakukan terhadap pelanggan lain. Tidak ada yang mengenali perempuan itu, ini kali pertama mereka melihatnya datang ke kafe.

Lewat tiga jam di kafe itu, perempuan itu merapikan mejanya, memasukkan telepon pintarnya ke dalam tas. Rambut panjang dan lurusnya disibak lalu beranjak pergi meninggalkan dua lembar seratusan ribu rupiah tanpa meminta tagihan sebelumnya.

Pelayan itu berhasil menangkap wajah asli perempuan itu dengan mata sembabnya. Dia tak sedang tertawa tadi, dia menangis….