Monthly Archives: Juli 2020

Day 140: Kurva Tingkat “Bahagia” Merangkak Naik

Standar

Angka kasus covid 19 di Indonesia sudah lebih dari 100.000 tapi makin hari, seolah orang makin tidak peduli. Yang masih percaya ini semua konspirasi juga banyak, yang paham tapi tetap abai lebih banyak lagi. Angka itu tidak menunjukkan angka sebenarnya, iyalah jelas, yang kantornya terdapat kasus juga ga akan lapor ke pemerintah karena nanti bisnisnya harus ditutup sementara. Begitulah, setiap hari, suguhan angka kematian makin banyak, terutama tenaga medis. Kalau ada tes kebohongan di setiap meja pendaftaran pasien baru di rumah sakit, barangkali itu mesin sudah jejeritan. Kita jadi hidup penuh dengan kebohongan kebohongan yang kalau konsisten bisa jadi kebenaran baru.

Saya tidak lagi menghitung hari dari lamanya di rumah karena pada dua minggu lalu saya terpaksa ke Jakarta untuk menyambung hidup. Begitulah. Buat mereka yang memang terpaksa menyambung hidup, kita cuma bisa berusaha menjaga agar tetap sehat, dan saya menghargai itu. Tapi yang abai cuma karena pengen hang out, pengen kelihatan keren bersama komunitasnya, mati aja lu. Beneran! Cengar cengir berkumpul, ngobrol, dedempetan, shit man, egois banget. Kita belum beranjak bahkan dari gelombang pertama bencana covid.

Buat saya pribadi hari ke 140, level “bahagia” mulai menanjak berkat beberapa hal. Pertama, karena Juli ini Alhamdulillah rezeki datang, pekerjaan baru muncul. Setidaknya tiga orderan ada bulan ini, bisalah buat bayar utang, cicilan dan menabung. Kedua, karena sibuk banget sama kerjaan, saya tak punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang selama ini bikin stress. Masak tapi ga dimakan keluarga itu bikin kesel. Hal remeh temeh yang hari-hari sebelumnya selalu bikin emosi, sekarang, saya tak punya waktu mikirin itu semua. Mau makan silakan, tidak ya ga masalah. Terdengar egois, tapi saya rasa, itu lebih baik. Kalau saya bahagia dengan diri sendiri, orang lain akan bahagia karena tak harus menghadapi omelan dan melihat saya cemberut. Ketiga, punya rencana itu bikin semangat untuk terus sehat, terus hidup. Saya masih punya keinginan untuk ina inu, yang paling utama, saya masih punya ibuk untuk ditengok, kakak zi dan septi untuk dijagain sampai besar. Mereka alasan kenapa saya harus sehat.

Setiap hari jurnal masih diisi, setiap hari ada hal baru yang bisa diceritakan dalam jurnal dan itu adalah adalah sejarah. Kalau membaca lagi tulisan di hari pertama sampai ke 130an, saya jadi tertawa sendiri. Kurva emosi saya naik turun. Awalnya bahagia punya waktu lebih bersama akang, lalu turun karena bosan, bingung, stress dan isi jurnal mei- juni adalah marah-marah. Lalu pada juni akhir, isinya mulai bikin senyum, kurvanya bergerak naik dan sekarang masih betah di atas. Untuk itu saya bersiap, guncangan akan selalu ada. Tapi saat itu terjadi, saya bisa bilang, “I have been through hell and back! Bring it on!”

Selamat Nita, kamu selamat sehat lahir batin sampai hari ini … makan enaaaakkk….

googleimage

foto:whatisconvert.com

Kalau Bumi Sudah Mandiri, Lalu Apa Peran Tuhan? Review A Brief History of Time karya Stephen Hawking

Standar
Kalau Bumi Sudah Mandiri, Lalu Apa Peran Tuhan?  Review A Brief History of Time karya Stephen Hawking

Rasanya judul itu pas untuk menggambarkan perdebatan hebat antara sains dan agama yang secara gamblang dihadirkan dalam buku ini oleh Hawking. Dia memang mempertanyakan peran Tuhan dalam mengatur semesta, karena setelah semesta terutama bumi diciptakan, lalu bumi berkembang dengan sendirinya, lalu peran Tuhan apa? dalam teori quantum grativity, ada prinsip ketidakpastian atau uncertainty, dan jika agama menempatkan Pencipta berperan dalam mengatur ketidakpastiaan itu, Hawking masih mempertanyakan bagaimana hal tersebut bisa dijelaskan dalam sains dan menuruti kaidah matematika dan fisika?

Sebelum membaca Hawking, saya lebih dulu membaca The Order of Time karya Carlo Rovelli dan sudah dibahas di blog ini. Jadi sangat sulit bagi saya untuk menuliskan review Hawking tanpa mencolek karya Rovelli. Keduanya fisikawan, keduanya bicara tentang penciptaan bumi dan semesta juga bicara tentang waktu tapi dengan gaya yang sangat berbeda. Rovelli, fisikawan yang juga pembaca filosofi, sedangkan Hawking justru menampar filosofi di buku ini seperti juga dia menampar agama, dengan gaya bahasanya yang lugas tapi lucu. Saya dibuat tertawa dalam beberapa kalimat yang dituliskan dan akan saya bagi dalam tulisan ini. Buat saya yang awam dan sama sekali jelek waktu pelajaran fisika, buku yang ditulis Rovelli lebih mudah dipahami karena hampir di setiap bab dia jelaskan dengan visual. Tapi Hawking tidak, dia menggambarkannya dalam kalimat. Ada satu yang membuat saya gemas, dia bilang, kita, ilmuwan tak harus menyederhanakan bahasa hanya untuk bisa dipahami public yang awam. Jiah toyor!

Rovelli lebih santun, dia menghindari perdebatan dengan agama, karena menurut dia, tak perlu didebatkan karena memang cara pandangnya berbeda. Itu saja.

Mari kembali pada apa yang ditulis Hawking. Big bang adalah penciptaan awal semesta, awal waktu, yang terjadi karena partikel-partikel mengembang dan terus mengembang hingga pada akhirnya terjadi ledakan terjadi. Kemudian semesta mendingin, bumi mendingin, dan kehidupan terjadi. Apakah selesai? Tidak, bumi itu seperti balon, dia terus mengembang hingga pada satu titik, dia akan mengerut lagi berhenti berkembang yang disebut Big Crunch, atau masa berakhirnya waktu. Kapan itu terjadi? Tidak dalam milyaran tahun ke depan kata Hawking. Karena bumi terus mengembang dan menghidupi dirinya sendiri, maka barangkali, ini dalam pikiran saya, bumi memang akan selalu membenahi dirinya sendiri termasuk saat dia merasa bebannya terlalu besar. Jangan-jangan bencana alam adalah bagian dari bumi beradaptasi dengan keserakahan manusia.

Kita tidak sendirian dalam semesta ini, ada galaksi lain yang juga mengalami hal yang sama. Punya mataharinya sendiri sebagai bintang terbesar yang memiliki kekuatan grativitasi yang menarik sekitarnya berputar mengelilinginya. Bintang itu punya bahan bakarnya sendiri, nuklir yang suatu saat akan habis lalu dia akan jatuh, salah satunya ke dalam lubang hitam atau black hole. Black hole itu, nothingness, ruang hampa yang memiliki gaya grativitasi yang sangat kuat yang menarik ke dalamnya. Yang sudah masuk tak lagi bisa keluar. Dalam ilustrasi kalimatnya, kalau seorang astronot ketarik ke dalam lubang hitam, anggap saja dia langsung menjadi spageti, hancur, hilang. Matahari juga pada suatu masa akan kehilangan bahan bakarnya yang panas membara, saat itu terjadi, semua planet yang mengelilinginya akan berhenti berputar dan saling menabrak. Lagi-lagi hal itu tak akan terjadi hingga milyaran tahun ke depan.

Semesta dan seisinya adalah partikel yang terbentuk sepasang bersama anti-partikel. Tapi keduanya saling berlawanan. Hawking menggambarkan begini, jangan sampai kamu dan anti-kamu bertemu, kalian berdua akan sama-sama menghilang. Nah ketika nyaris jatuh ke dalam lubang hitam, keduanya berusaha keluar. Seperti penjahat yang sama-sama dikejar polisi lalu bertemu di tengah. Anti partilkel atau partikel akan saling berlawanan dan menjauh, salah satunya bisa kabur melintasi batas luar lubang hitam, yang lainnya jatuh ke dalam.

Lalu yang menarik dari buku ini juga tentang perjalanan melintas waktu seperti dalam film-film Hollywood, apa mungkin? Hawking bilang karena menurut kuantum grativity tidak ada yang pasti, maka kemungkinan untuk melakukan hal itu tetap ada. Tapi buat apa? apa kita akan balik ke masa lampau untuk bilang ke Nazi, oi, kamu akan kalah, tapi kalau mau menang harus begini. Apakah kamu ingin membunuh kakekmu untuk mengubah nasibmu hari ini? Ini yang menarik dari Hawking, sebaiknya tidak mengubah hukum alam, sementara dia percaya tak ada yang stabil, dan penuh ketidakpastian semesta ini. Dia bilang, saya sih tidak mau time-travel ini beneran terwujud karena akan menguntungkan lawan-lawan saya.

Pada bab ke 11 dia mengingatkan untuk tidak perlu memaksakan satu teori bersama dalam menjelaskan semesta dan waktu. Ada banyak teori yang bisa digunakan oleh ilmuwan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengamatannya. Apakah menggunakan teori grativitasi yang melihat semesta dalam makro, atau dengan fisika kuantum yang melihatnya dalam mikro, partikel dan atom. Ada teori string yang dia sebut di dalam bab ini. Dia juga mengingatkan sebagai ilmuwan, tidak haram untuk mengakui kesalahan jika dalam penelitiannya memang salah, seperti Einstein dengan penelitiannya bahwa bumi ini statis. Sejauh ini, ilmuwan selalu berusaha menutupi kesalahannya dengan melakukan penelitian terus menerus untuk membuktikan terbalik daripada melompat pada hal dan temuan baru.

Begitu sepemahaman saya yang awam tentang semesta yang dijelaskan Hawking dalam buku ini. Bisa sangat berbeda dengan orang lain yang telah membacanya. Saya tidak akan mendebat itu, santai saja.  Setiap buku meninggalkan pesan dan kesannya tersendiri bagi pembacanya. Saya senang bisa tertawa-tawa bersama Hawking.

Gauri Dalam Kubangan Enceng Gondoknya. Review The Lowland karya Jhumpa Lahiri

Standar
Gauri Dalam Kubangan Enceng Gondoknya. Review The Lowland karya Jhumpa Lahiri

Kesulitan pertama saya menulis review fiksi karya Jhumpa Lahiri ini adalah menemukan judul yang tepat. Fokus saya ada pada tokoh utama dalam cerita ini Gauri yang punya karakter tak biasa muncul dalam sebuah cerita. Lahiri sukses mengganggu ketenangan saya membaca fiksi ini, mencoba menempatkan diri di posisi Gauri yang dalam kehidupan nyata tentu sudah menjadi bulan-bulanan makian. Dia menikahi kakak dari suaminya yang mati ditembak polisi tanpa pengadilan demi menyelamatkan bayinya. Setelah lahir dia meninggalkan bayi pada suami sambungnya karena tidak merasa menjadi bagian dari keluarga barunya. Gauri gagal mencintai suami sambung dan anaknya. Dia mengembara sendiri bersama sosok Udayan suaminya yang telah mati, menenggelamkan dirinya dalam studi filosofi berpanjang-panjang. Gauri menghabiskan hidupnya di Amerika sejak dibawa iparnya ke sana, hari-hari di perpustakaan, meneruskan kuliah S2 lanjut S3 sampai akhirnya menjadi professor filosofi jerman di sebuah universitas di California, sendirian.

Gauri bertemu Udayan yang berteman akrab dengan kakaknya Manash sesama penganut Marxist dan mengkiblatkan gerakan partai komunis India pada ajaran Mao di Tiongkok. Gauri mengagumi Udayan karena pemikiran kiri dan semangatnya membela orang miskin dan petani yang tertindas di desa-desa di India. Gauri menjadi bagian dari gerakan mereka yang pada akhirnya membenarkan segala macam cara bahkan dengan membunuh seorang polisi yang sedang mengantar anaknya sekolah saat dia tak bertugas. Polisi dianggap sosok representasi kekuasaan yang menindas. Gauri yang memberikan informasi kapan polisi itu sedang lengah. Udayan merakit bom yang melukai tangannya sendiri.

Gauri menyaksikan sendiri bagaimana polisi mengepung rumah mereka dan kolam eceng gondok tempat persembunyian Udayan sampai akhirnya suaminya menyerahkan diri dengan tangan di kepala. Ayah mertuanya bersimpuh mohon pengampunan polisi atas anaknya, dan tidak digubris. Udayan digiring kepada truk dan tidak pernah kembali. Saat itu Gauri sedang hamil dan Udayan tidak mengetahuinya.

Dalam masa berduka, Gauri bertemu dengan Subhash, kakak Udayan yang sedang mengambil studi doktoral di Amerika. Subhash melamar Gauri untuk menyelamatkannya dari orang tua yang tidak pernah menerima kehadiran Gauri di rumah itu. Orang tuanya sudah berencana untuk mengambil bayinya karena Gauri dianggap tak akan mampu menjadi orang tua. Subhash diingatkan ibunya bahwa Gauri tidak akan pernah mencintainya karena hanya ada satu Udayan.

Sepanjang pernikahannya Gauri merasa tersiksa setiap kali Subhash bicara dan menampakkan diri di depannya, gambaran Udayan hidup kembali. Perasaannya tak bisa dibohongi bahwa dia tak mencintai Subhash. Kehadiran Bela penyambung ikatannya dengan Udayan tak juga mengobati lukanya. Gauri tak merasa menjadi bagian dari kehidupan Bela dan Subhash yang sangat dekat. Ada iri, ada sedih dan marah melihat Bela menganggap Subhash sebagai ayah kandungnya. Gauri menjauh dan semakin menjauh seiring bertambah usia Bela. Suatu hari, Subhash menemukan Bela sendirian di rumah sementara Gauri berbelanja. Hari itu juga, Subhash memutuskan hubungannya dengan Gauri meski tetap berada di satu rumah.

Kesempatan meneruskan S3 menjadi jalan keluar Gauri dari rumah dan kehidupan Subhash dan Bela. Gauri hanya memesankan pada Subhash untuk menceritakan tentang Udayan pada Bela suatu hari nanti. Sejak kepergiaannya itu mereka tak lagi berkontak, meski sesekali Gauri mencari tahu Bela lewat internet dan anaknya seperti tak pernah ada.

Kepergian Gauri mengubah Bela sepenuhnya, ditinggal ibunya tanpa pesan, membuatnya besar dengan menghindar dari orang lain. Bela merasa dirinya penyebab semua kekacauan di rumah dan kepergian Gauri. Selesai kuliah Bela hidup nomaden, berpindah dari satu lahan pertanian ke pertanian lain. 20 tahun sebelum akhirnya memutuskan pulang ke rumah ayahnya, Subhash dalam keadaan hamil. Dia tetap tak ingin berkeluarga merujuk pada kehidupan orang tuanya yang tanpa cinta dan kepergian Gauri.

20 tahun kemudian mereka bertemu. Bela sudah menganggapnya mati.

Gauri menerima semua yang Bela katakana, tak ada hal yang bisa membenarkan keputusannya 20 tahun lalu. Gauri kembali ke Kolkata, dia tak pernah melepas paspor India –nya, untuk menemukan Udayan kembali, tapi tak ada.

Ada banyak sekali yang diceritakan Lahiri tentang India dan politik di tahun-tahun 60-70an. Tentang kelompok ekstrimis Naxalite – Maoist dimana Udayan menjadi salah satu pendukungnya. Kelompok ini terus menentang pemerintahan sah India dan melakukan aksi radikal hingga terror berdarah yang masih berlanjut hingga hari ini. Di bagian akhir buku, kita diajak mengakrabi rasa Udayan yang tadinya sangat percaya bahwa perjuangannya adalah untuk kebenaran, keadilan untuk semua. Sampai akhirnya dia merasa bersalah bahwa yang dia percaya dan yakini telah menyakiti isterinya Gauri, perempuan yang dia cintai sekaligus manfaatkan untuk perjuangannya. Udayan terus berbohong pada orang tuanya agar mereka tak terlalu khawatir. Udayan berbohong lewat surat-surat yang dikirimkannya pada Subhash, berbohong kalau dia tak lagi menjadi pendukung fanatic Naxalite. Dia ingin menyambung rasa kembali dengan kakaknya yang terpisah karena perbedaan pandangan politik.

Buku ini cukup lama saya bacanya, bukan karena tidak menarik. Ini perkara saya ingin berlama-lama membaca dan meresapi cerita di dalamnya. Damn, love it!