Monthly Archives: Januari 2020

Hati-hati Dengan Harapanmu. Alam Bawah Sadar Tak Pernah Tertidur. Review Before You Know It – John Bargh

Standar
Hati-hati Dengan Harapanmu. Alam Bawah Sadar Tak Pernah Tertidur. Review Before You Know It – John Bargh

Buku ini bercerita tentang bagaimana unconscious atau izinkan saya menggunakan kata “alam bawah sadar” bekerja melengkapi alam sadar dalam hidup manusia. Akan lebih mudah menjelaskan isi buku ini dalam cerita, pengalaman yang secara “tidak sadar” saya alami dan akhirnya paham, bahwa begitu cara alam sadar bekerja.

Sejak 2011, saya fans berat Benedict Cumberbatch. Poster Ben ada di tembok kos, ada di wallpaper hape dan note, juga desktop. Saya mendengarkan suara Ben dalam audiobook yang dia bacakan, dan menonton semua film yang dia bintangi. Semua hal terkait Ben, ada saja cantolannya dalam hidup saya. Cita-cita saya, hanya ingin bertemu langsung dengan Ben

Ternyata mimpi itu terinternalisasi di alam bawah sadar, yang kemudian mendorong alam sadar saya untuk melakukan usaha dengan segenap perhatian agar terwujud. Jadilah pada 2014, saya nekat ikut melamar beasiswa Chevening dan memilih London, karena akan lebih besar kesempatan saya bertemu Ben jika di London. Saya tidak les bahasa Inggris (awalnya), sepanjang 2014, saya mendengarkan Ben bicara pagi dan malam, membiasakan diri untuk mendengarkan aksen Inggris. Hasilnya nilai saya 6.5 untuk IELTS. Saya berangkat ke London dan September 2015, saya menonton aksi panggung Ben dalam Hamlet dan Oktober 2015, saya ketemu langsung dengan Ben untuk dapat tandatangannya. Apakah itu tanpa usaha? Tentu harus tetap diusahakan. Saya keluar 65 poundsterling untuk tiket yang dilepas orang dan berdiri 3 jam dalam dingin di belakang panggung menunggu Ben menyapa penggemarnya.

Tadinya saya pikir hidup ini mengalir begitu saja, ternyata tidak. Semua dijelaskan dalam buku ini. Ketika kita punya keinginan, alam bawah sadar itu bekerja memberikan kisi-kisi langkah yang harus dilakukan. Nah tergantung alam sadar kita yang memutuskan, akan diambilkah jalan itu. Biasanya alam sadar justru memaksa kita menimbang berbagai hal, baik buruk, untung dan ruginya. Perjalanan saya sampai bertemu Ben itu masuk dalam kategori yang Bargh sebut, “intended goal” harapan yang ditargetkan, karena itu upaya yang dilakukan juga jelas hingga mewujud.

John Bargh juga mengatakan agar tidak meremehkan mimpi saat itu, atau inspirasi yang keluar saat di toilet. Itu bukti alam bawah sadar kita tidak pernah tidur justru sangat aktif ketika kita telah menyelesaikan “tugas” dengan alam sadar atau kesadaran penuh. Thinks out of the box, itu adalah berpikir dengan alam bawah sadar.

Manusia punya sifat alami yaitu survival (bertahan hidup) melalui makan minum dan berperang memertahankan makanannya, juga bereproduksi. Segala yang dilakukan kita, tak lebih untuk kembali pada sifat alami itu, tetapi hidup menjadi lebih berwarna dengan alam bawah sadar. Kita juga diberikan sifat meniru atau chameleon-like, tanpa sadar menjadi mirip dengan seseorang yang dekat dengan kita. Saya rasa, saya bisa kasih contoh juga di sini. Sepanjang saya ingat, sore adalah waktu menyebalkan buat saya karena harus bikinkan ayah teh poci, pisang goreng atau telor asin. Tiga hal itu tidak bisa saya jelaskan apa yang membuat ayah tergila-gila padanya. Tetapi setelah beliau meninggal, saya yang kemudian menyukai pisang goreng dan telor asin, sesekali teh poci. Kita meniru tanpa sadar, termasuk meniru perilaku akang- suami saya yang OCD. Sebelumnya saya orang yang senang berantakan, tapi setelah menikah, rapi itu ternyata lebih menyenangkan.

Karena sifat peniru yang alami itu, kita harus berhati-hati, terutama dalam menggunakan media sosial. Newsfeed di Facebook misalnya, bisa bertahan dilihat orang lain selama tiga hari. Riset menemukan, dalam tiga hari itu, status yang ditulis dapat memengaruhi mood pembacanya, negative atau positif. Kita akan cenderung menuliskan hal positif dalam statusnya jika dia terekspose postingan positif dari orang lain, begitu juga sebaliknya. Sifat meniru, atau mimicking, tidak perlu kedekatan secara fisik, dan ini yang terjadi di media sosial.

Buku yang ditulis 289 halaman ini, seru! Penulisnya social-psychologist dan penggemar Led Zeppline. Dia bilang, music sangat memerangaruhi alam bawah sadar selama penulisan buku ini. Saya sepanjang membaca buku ini pun begitu, sedikit-sedikit refleksi ke belakang, kenapa saya memilih A dan bukan B. Sepanjang hidup, hanya ada tiga lembaran, masa lalu yang tersembunyi, masa kini yang juga tersembunyi dan masa depan yang tersembunyi – ini bagian bab yang dibuat oleh Bargh. Yang terjadi hari ini, tidak pernah lepas dari masa lalu, dan yang akan terjadi kemudian, dirancangnya bisa hari ini. Sekali lagi, hati-hati ketika menyusun harapan tetaplah pada harapan baik.

Tentang mengubah kebiasaan: membaca buku

Standar
Tentang mengubah kebiasaan: membaca buku

Mumpung baru hari kedua 2020, yuk berubah menjadi lebih baik, termasuk semakin banyak baca. Di tengah derasnya arus informasi digital, sulit membedakan mana yang benar mana yang salah, mana fakta mana rekayasa. Tapi dengan membaca buku, kita bisa jena sejenak dari news snacking atau mengudap informasi singkat untuk menyerapnya lebih baik.

Kawan bilang, baca dua halaman aja sudah ngantuk. Kalau bukunya ga asik memang begitu. Ada dua buku setidaknya yang sampai hari ini saya tidak pernah beranjak dari 4 halaman yaitu Menggarami Burung Terbang – Sitok Srengenge dan Satanic Verses – Salman Rushdie. Saya berhenti membaca karena tidak merasa paham mau dibawa kemana itu tulisan. Padahal pada banyak buku lain, saya termasuk yang senang berpetualang dan bertahan meski 5 halaman pertama bisa sekali bikin kening saya berkerut-kerut. Hmm… di sini saya tidak bisa menjelaskan alasannya, kenapa pada satu buku saya mudah menyerah sementara di buku lain, saya berani berpetualang meski membosankan di awal.

Jangan menjadikan membaca sebagai beban. Membaca itu soal kebiasaan. Seperti dalam ungkapan “membaca itu seperti menarik napas, menulis itu menghembuskan napas.” Tidak ada cerita orang bisa menulis tanpa membaca dan akan jadi kebiasaan kalau secara konsisten dilakukan. Beberapa tips sederhana:

  1. Pilih buku yang kamu suka, bukan karena harus kecuali sedang studi. Tapi pilih buku yang memang genrenya kamu suka, bisa fiksi atau non-fiksi. Kalau untuk fiksi, saya rewel dan setia, hanya membaca karya penulis yang idola hahaha, ga mau ambil risiko beli mahal terus ga suka.
  2. Setiap hari membaca selama 2 jam, minimal! Sebar saja pengaturan waktunya. Biasanya 1 jam pagi, dan 1 jam malam menjelang tidur.
  3. Buku dibawa setiap saat. Kalau kita terekspose buku setiap saat, mau ga mau akan dibuka dan dibaca. Saya bawa buku ke toilet, sambil ngeden, dapatlah 1-2 halaman. Sambil nunggu cucian direndam 15 menit, dapat lah 5 halaman.
  4. Bangun kesadaran sendiri, kalau tidak membaca buku, saya kehilangan sesuatu hari itu. Saya membaca karena saya merasa bodoh dan haus pengetahuan.

Kalau kemudian ada yang bilang membaca itu keren, itu mah bonus *kibas jilbab. Yang paling penting kamu membaca karena sudah jadi kebiasaan saja. Tapi, kata opa Noam Chomsky, baca apa saja tapi baca dengan skeptis, artinya jangan berhenti untuk bertanya, kenapa begini dan kenapa begitu, oh iya? Betul ga sik? Sependapat atau tidak dengan penulisnya. Membaca tidak sekedar selesai dengan membaca, tapi memahami maksud dan bertanya lagi dan lagi, itu yang disebut literasi. Baca, pahami dan kalau bagus, amalkan.

Buku yang bagus buat saya adalah yang bisa memberikan pengetahuan, wawasan, pengalaman dan petualangan baru. Terlebih lagi buku yang bisa meninggalkan kesan dan menggerakkan saya untuk menjadi lebih baik, eh bukan buku motivasi yak, ini buku apa saja. Sementara menuliskan kembali resensi atau review di blog ini selain niat berbagi, lebih dari itu, melatih saya untuk merekam dan menuliskan ulang buku yang saya baca. Buku setebal 500 halaman misalnya, harus bisa saya tulis ulang dalam 1500 kata, maka saya hanya akan ambil materi yang benar-benar saya suka, perlu dan diperlukan untuk dibagi.

Mengiri kematian

Standar

Aku ceritakan satu rahasia tergelap dalam hidupku hanya padamu. Aku merindukan kematian. Ketika datang melayat, aku tidak menangisi jenazah atau berduka pada yang ditinggal. Aku berduka untuk diriku sendiri, kenapa aku masih berada di bumi dan hidup. Aku menangis karena iri pada mereka yang telah pergi. Curang! kenapa kau duluan yang pergi sementara aku harus tinggal di sini? Kenapa kau yang akan tetap abadi, sementara aku harus menua terlebih dahulu dan sakit, lalu merasa kesepian. Kenapa kau yang dipilih pulang lebih dulu dan bukan aku? Kata orang, orang baik memang pergi lebih dulu. Apa itu artinya aku jahat?

Angin dingin berhembus, menembus jaket bulu angsa bekas yang aku beli loakan. Kopi panas kadung dingin hanya dalam hitungan tak sampai lima menit. Big ben berdentang, pukul 10 pagi. Turis lalu lalang mengabadikan momen dan merekam suara menara jam bernuansa gothic dari abad ke 16 itu.

Waktu. Kau dengar itu? Buatmu waktu telah selesai, kelar. Suka tidak suka, kamu pergi meninggalkan kenangan atas suka dan duka. Enak sekali. Sementara aku, harus melaluinya setiap menit. Tersenyum sementara aku ingin marah. Kadang aku marah pada hal yang tidak salah, supaya dikira bersolidaritas, bersimpati.

Kamu tahu kenapa kamu mati dan aku masih hidup?

Seorang gelandangan menatapku penuh tanya. Aku terlalu kencang bicara dalam bahasa yang dia tak paham, sambil memegang kopi dan menangis. Air mataku dibawa terbang angin yang dingin.

Kenapa selalu dingin di sini?

Memegang sesuatu yang hangat di tangan dan makan atau minum hangat dapat menggantikan dinginnya kehidupan sosial. Begitu kata riset. Bullocks! Bagaimana bisa mendapatkan yang hangat di tengah cuaca dingin begini. Kamu enak, sudah selesai. Tak lagi merasakan dingin berkepanjangan, panas yang menyengat, banjir dimana-mana, kekurangan air, kekurangan makan. Hal-hal buruk yang datang karena kebodohan kita manusia, dan aku merasakannya hari ini, atau besok, sementara kau tidak. Kau yang tidak peduli buang sampah pada tempatnya, tidak pernah bawa mug sendiri, kemana-mana bawa kendaraan pribadi, lalu kau mati duluan? Enak sekali. Aku hidup untuk menderita karena kau.

Angin berhembus di telingaku, hangat dan aku tersentak

“Kalau kau pikir kematian itu menyenangkan, mati lah sekarang. Pernahkah bertanya, apakah aku ingin mati atau hidup? Kita yang tidak pernah minta dan ditanya kapan ingin dilahirkan dan kapan ingin dimatikan. Hiduplah seperti kau akan mati besok, tapi jangan simpan irimu dalam-dalam. Karena sejujurnya, aku ingin terus hidup menemanimu.”

Lalu aku menangis sejadi-jadinya.