Kepunahan Agama Dan Manusia, Bacaan Dewasa – Review Origin oleh Dan Brown #31

Standar

Buat computer geek dan pembaca Homo Deus karya Yuval Noah Harari, cerita petualangan Robert Langdon ini pasti akan mudah ketebak. Langdon seperti mengemas ulang Homo Deus dalam bentuk cerita fiksi, tentang agama akan mati, lalu ilmu pengetahuan akan berkuasa, membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada, manusia akan punah dan yang berkuasa berikutnya adalah super human. Tadinya buatan manusia, tapi kemudian manusia akan dikuasai lalu punah. Sejarah berulang, evolusi Darwin juga.

Masih sama dengan sebelumnya, Dan Brown menguji keimanan dengan ilmu pengetahun, bahwa agama dan sains akan terus berusaha saling menguasai, lalu ada korban atas hal menurut Langdon punya rumahnya masing-masing. Copernicus berhasil mematahkan argument kaum bumi datar yang mengatakan bahwa bumi pusat tata surya, dia datar dan kapal yang akan berlayar keujung dunia. Kaum agamis harus menerima kenyataan bahwa bumi bulat, bahwa bumi bergerak bersama planet lain mengitari matahari, bahwa bumi memiliki bulan sebagai satelit yang mengitarinya. Darwin dengan teori evolusinya menjawab apakah adam dan hawa sebagai nenek moyang manusia.

Origin menceritakan tentang Edmond Kirsch, peneliti, computer geek dan juga art enthusiast (pecinta Gaudi, William Black dan Winston Churchill) menemukan jawaban atas dua pertanyaan utama dalam hidup ini. Darimana manusia berasal dan kemana kita akan pergi? Lalu dia mati ditembak veteran angkatan laut Spanyol, Avila, ditengah presentasinya tentang jawaban itu, sebelum benar-benar menunjukan hasil temuannya.

Selalu ada perempuan di samping Langdon tentu saja, tapi kali ini dia tak jahat seperti di cerita The Symbol (spoiler alert!). Dia, Ambra Vidal, calon ratu Spanyol yang dilamar Pangeran Julian di sebuah acara televisi, iya kali dia jawab ‘engga’ di depan jutaan mata dan memalukan kerajaan Spanyol. Ambra ini keren tokohnya, She is her own Woman, kata pangeran. Tidak siapa pun, bahkan pangeran dapat mengatur dirinya. Selain perempuan, pasti ada tokoh pembunuhnya, seorang fanatic, yang merasa benar jika membunuh atas nama tuhan. Ada teori konspirasi.

Tapi Origin kekinian sekali setingannya. Ada PR kerajaan spanyol Martin, perempuan yang masih muda, techno-savvy, terperangkap dalam teori konspirasi. Ada tokok Winston, A1 ciptaan Kirsch yang menjadi asisten pribadinya, E-Wave, superficial intelligent yang membantu Kirsch mencari jawaban atas dua pertanyaannya tersebut. Kalau buku ini di filmkan, yang mengisi suara Winston, harusnya Benedict Cumberbatch 😉 pas.

Darimana kita berasal? Teori Big Bang menjawab bagaimana bumi yang berusia 90 juta tahun ini terjadi, tapi tak juga bisa menjawab, bagaimana mengisi bumi ini dengan kehidupan? Dengan manusia? Lalu kemana kita akan pergi? Kirsch memprediksi manusia akan punah 2050. Dalam teori energi, kita akan punah menjadi energi, lalu tergantikan oleh teknologi, super human. Teknologi yang kita ciptakan untuk membantu kehidupan kita, lalu menguasainya, suatu saat nanti.

Dimana posisi agama? Kalau Bishop Bena bilang harusnya bisa berdampingan, agama menjadi partner spiritual sains tanpa harus menentangnya. Tapi kata Langdon, pemuja agama harus dulu mengakui bahwa agama Berjaya melewati dua jalan, yang gelap, pemaksaan, pembunuhan atas nama Tuhannya dan jalan terang yang memberikan kedamaian. Sains harusnya bisa menutup jalan gelap itu.

Dan Brown membawa saya pada petualangan Langdon yang menyenangkan, jalan-jalan ke Barcelona dan Madrid, mengunjungi museum, mengenalkan seniman modern setelah sebelumnya kita selalu dibawa pada seniman di zaman renaissance.  Barangkali itu yang selalu membuat saya menunggu karya Dan Brown. Kekuatannya ada pada riset yang detail. Bagian paling membosankan bagi saya justru ketiga Kirsch mempresentasikan karyanya puanjang lebar, tiga bab dalam buku ini adalah miliknya. Aih… barangkali saya tak ingin diajak mikir terlalu dalam di buku ini, hayolah… atau barangkali Brown tak berhasil menerjemahkan sains rumit itu dalam bahasa fiksi sederhana, terjebak dalam risetnya.

Brown selalu membawa banyak tokoh dan cerita dalam petualangan Langdon, tapi tentu saja itu hanya untuk mengalihkan perhatian. Focus saja pada dua atau tiga tokoh di sekitar Langdon yang paling dia ceritakan, maka dia lah otak ‘kerusuhan’ cerita.

456 halaman dalam lima hari kerja… iya segitu serunya lah, tapi ini bacaan dewasa, buat kamu yang berpikiran sempit, baiknya tak membaca buku ini … dan buku ini membuat saya ingin kenalan lebih jauh dengan Winston Churchill, tokoh yang paling banyak dikutip dalam cerita.

origin resize

Iklan

Menolak Saja Tidak Cukup – Naomi Klein. Review #30

Standar

No Is Not Enough merangkum tiga buku Klein sebelumnya, No Logo, Shock Doctrine, This Changes Everything dalam personafikasi Donald Trump. Trump kata Klein adalah superbrand of evil, semua hal yang dia sebutkan di dalam tiga buku sebelumnya ada di dalam Trump, ketika dia terpilih. Trump the superbrand of evil, seorang yang mengatakan ‘Saya KAYA! Saya akan menyelesaikan masalahmu, saya akan memberikanmu pekerjaan.’ Pekerjaan yang selama dalam kampanyenya disebut telah direbut dari warga kulit putih oleh kaum imigran. Trump yang menyebut muslim adalah teroris dan orang meksiko adalah pemerkosa. Trump yang bisa mencomot kemaluan perempuan mana saja, kapan saja dia mau. Trump adalah segala keburukan yang menakutan, xenophobic, rasis, bigot dan lelaki yang suka merendahkan perempuan. Trump, presiden Amerika serikat. Apakah Trump mewakili manusia Amerika? Tidak, bahkan pelantikannya pun tak banyak dihadiri warga Amerika. Protes demi protes terus dilakukan, impeachment disiapkan. Kata Klein, ini Shock bentuk baru, tak harus ditakukan, tapi harus dilawan.

George Orwel di 1984 menuliskan fiksi tapi seolah menjadi manual bagi pemerintah authoritarian dan istilah Big Brothers tepat digunakan di masa digital ketika Amerika, Cina dan mungkin saja Indonesia memantau warganya lewat kegiatan mereka di dunia maya. Maka buku ini NO is Not Enough juga mestinya bisa dijadikan manual apa yang bisa kita lakukan untuk melawan kapitalisme, neo kapitalisme yang terus merusak lingkungan. Apakah demi peningkatan ekonomi sekarang, masa depan anak-anak kita dipertaruhkan? Mestinya pembangunan tak harus mengorbankan lingkungan, keduanya bisa jalan beringinan. Kalau strateginya tepat.

Klein bagian dari mereka yang percaya bahwa pembangunan bisa dilakukan dari tingkat lokal, komunitas, membiarkan masyarakat lokal mandiri justru manfaat bagi dua hal, peningkatan ekonomi dan perlindungan lingkungan. Mandiri secara energi adalah salah satu kuncian melawan kerusakan lingkungan oleh perusahaan energi fosil yang selama ini menguasai politik dunia. Jerman dan Denmark melakukannya. 30% energi Jerman disuplai dari energi terbarukan yang dikembangkan secara desentralisasi, dan persentasenya terus meningkat. Hampir 80% energi Denmark disuplai dari matahari dan angin. Kerjasama bilateral daripada multilateral menjadi strategi yang lebih baik untuk mengontrol kerusakan.

Perlawanan black lives matter, march for science, occupy dan gerakan feminisme, jangan berhenti. Tetaplah disuarakan, tetaplah menjadi populis, sambil menyiapkan strategi nyata perubahan kebijakan di tingkat pemerintahan. Cape, iyalah, kata Klein. Tapi mereka yang melakukan kerusakan, tidak pernah cape untuk terus merusak atas nama peningkatan ekonomi.

Klein bukan ekonom yang membuncah ruah omongan dengan data statistic yang membuat membacanya merasa bodoh karena tak mengerti angka. Percayalah saya membaca buku yang ditulis Younis Varouskis, bekas Menteri keuangan Yunani yang menolak austerity dan kucuran dana dari Bank Central Eropa, pusing, iya saya bodoh,ga ngerti soal ekonomi, syurkur Younis memberikan alasan paling masuk akal kenapa dia menolak itu. Pilihannya, memberikan kekayaan pada satu persen kapitalis dunia, atau menyelamatkan kedaulatan bangsa dan ekonomi kerakyatan di masa depan, meski jalan ke sana pelan-pelan.

Buku ini bercerita tentang bagaimana kita sampai pada hari ini dan membuat Trump terpilih. Ada andil kita di sana, dengan membiarkan kerusakan terus terjadi, dengan membiarkan segelintir orang menikmati kekayaan dan merugikan orang lain, yang termarjinalkan termasuk alam sekitar.

Klein seorang ibu yang menginginkan anaknya untuk bisa melihat alam yang hijau royo royo, bermain dengan ikan saat menyelam, menikmati terumbu karang. Barangkali mimpi Klein tak sama dengan orang tua kapitalis, entah apa yang mereka tabungkan untuk masa depan anaknya selain warisan dan membesarkan mereka seperti keluarga trump, semua selesai dengan kekayaan. Horanga kayah.

Tapi sebelum kita bergerak melawan kerusakan, pastikan kita mengalahkan Trump dalam diri kita sendiri, kata Klein. Trump adalah kumpulan pribadi jahat yang hadir dalam setiap diri kita. Pernah kita rasis? Pasti pernah. Pernah kita serakah? Iya. Xenophobic? Bigot? Melecehkan perempuan? Iya… kalau kita tak ingin melihat Trump menguasai dunia, kalahkan dia di dalam diri sendri.

Melihat dari gaya penulisannya, Klein penuh emosi di buku ini. Kalau di tiga buku sebelumnya dia mengeluarkan banyak kutipan narasumber, di sini, lebih banyak analisa dia. Tapi seperti Michael Stipe di cover belakang bilang, siapa yang paling tepat mewakili uneg uneg selain Klein yang sudah menuliskan tentang Shock Doctrine, Perubahan Iklim dan kapitalisme lewat logo. Risetnya belasan tahun bukan hal yang sembarangan untuk diabaikan.

Semoga bukunya bisa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia supaya kita bisa menikmatinya bersama.

Gali Lobang Tutup Lobang, Tikus Mati Terpendam. Review: And The Weak Suffer What They Must by Yanis Varoufakis #29

Standar

Harus ada disclaimer di awal tulisan, bahwa saya bukan ekonom, pengamat ekonom, atau jurnalis deks ekonomi. Dulu ketika masih jadi jurnalis, siksaan terberat buat saya adalah ketika waktunya ditaruh di isu ekonomi. Saya pasti telpon coordinator liputan, misu-misu minta dipindah. I have no clue of economic issue. Jadi review ini berdasarkan kedekatan saya dengan buku dan dari pandangan saya sebagai orang awam, eh, paling ga ini ditulis dari sisi politik ekonomi. That’s it…

Sejak kuliah di London, mulailah terasa, bahwa keindahan eropa yang terlihat dari rumah saya di Indonesia, itu seperti ‘palsu’. Mereka sama ‘susah’ nya dengan kita di sini. Hanya saja nilai mata uang mereka lebih tinggi dari kita, jadi dengan 1euro atau 1 poundsterling, bisa beli bakwan sama gerobaknya. Di eropa, pemangkasan anggaran untuk kepentingan umum itu nyata, harga rumah melambung, kebutuhan sehari-hari tinggi, dana pension, pendidkan dan kesehatan dipangkas, lapangan pekerjaan berkurang karena pabrik-pabrik ditutup dan dialihkan ke cina karena biaya produksi rendah.

Di bangku kuliah, kebetulan Goldsmiths UoL berhaluan kiri, seringkali diwanti kalau Inggris dan Eropa berada dalam krisis ekonomi. Tinggal pengumuman, pengakuan resmi saja untuk bilang ‘ ya kita sedang krisis’. Hampir dalam banyak diskusi, kesimpulannya adalah sistem bank sentral yang salah. Mengandalkan perbankan dalam pembangunan ekonomi seperti sebuah boomerang yang sedang balik menyerang.

Yanis Varoufakis menjadi orang yang paling sering disebut-sebut sebagai tokoh perlawanan terhadap sistem bank sentral dan uni eropa. Saat menjabat sebagai Menteri Keuangan Yunani 2015, selama lima bulan dia bernegosiasi dengan Uni Eropa untuk penghapusan utang Yunani supaya negara itu bisa memulai dari awal untuk memperbaiki ekonominya. Di buku berjudul ‘And The Weak Suffer What They Must?’, dia menceritakan perjalanan karirnya sebagai ekonom yang kemudian ditunjuk sebagai Menteri Keuangan, seperti kudu membuktikan apa yang selama ini dia ajarkan di kelar. Membantu negaranya keluar dari krisis ekonomi. Buku ini bercerita tentang sejarah dimulai dari perang dunia pertama dan kedua, dimana Amerika bersedia untuk menghapus hutang Jerman dan Inggris demi misi dolarisasi di eropa. Atas inisiatif Jerman dan Perancis, ide tahun 1950-an 1960an untuk menyatuhkan eropa dengan menghadang dolarisasi kemudian terwujud. Jadinya eurosisasi di daratan eropa barat. Negara lemah seperti Italia, Spanyol, Irlandia, Islandia, dan Yunani, dibuat bergantung pada uni eropa untuk suntikan dana / hutang untuk mendongkrak ekonomi mereka. Kalau salah satu dari negara lemah ini terpuruk, hutang baru disuntikan banyak-banyak, tapi dengan syarat yang cukup berat, austerity, memotong pengeluaran negara untuk kepentingan public, seperti Pendidikan dan kesehatan, karena dianggap membenani anggaran nasional negara itu. Yanis, menolak! Hasil lima bulan bernegosiasi dengan Eurogroup, adalah penolakannya untuk memangkas dana pension, kesehatan dan Pendidikan di negaranya, Yunani.

246 halaman buat saya yang tidak tertarik membahas ekonomi tentu menjadi sangat berat. Buku ini sempat diselingi 2 buku fiksi sebanyak 1200 halaman in total. Kening berkerut karena saya harus bisa memahami konteksnya. Tapi kalau saya memutar angle pemahaman dengan melihatnya dari sisi politik, buku ini jadi sangat menarik.

Apa yang membuat Eropa mau bergabung dalam Uni Eropa? Setiap negara punya kedaulatan sendiri, punya sejarahnya sendiri, dan kepentingan kelompok. Kenapa mereka mau menyerahkan kedaulatan itu untuk kepentingan ekonomi ‘bersama’? Setiap negara ‘harus’ menyerahkan RAPBN negaranya kepada parlemen uni eropa di Brussel untuk direview, yang somehow, mereka punya hak untuk mengintervensi kebijakan ekonomi nasional anggotanya.

Di halaman 201, Younis menuliskan hal yang membuat saya gemetar.

‘However, a united Europe based on free trade, free capital movements, common labour laws and a single currency is unfortunately as compatible with a Nazi agenda as it is with a progressive, humanist, internationalist one.’

Uni Eropa adalah cita-cita yang pernah dipunya Nazi, hanya dalam bentuk yang lebih baik. Buku ini juga menjelaskan dampak negative dari persatuan eropa yang memunculkan sikap ultra nasionalis, neo-nazi dan rasisme. Ketakutan kaum ‘pribumi’ akan ancaman kaum imigran yang merebut hak mereka atas ekonomi. Satu persatu yang Varoufakis ceritakan dalam buku ini menjadi kebetulan yang nyata… ‘history repeat itself’ katanya.

Jika diteruskan ada tiga hal yang akan terjadi:

  1. Tidak ada bangsa eropa yang bebas selama demokrasi negara lain dilanggar
  2. Tidak ada negara eropa yang berdaulat selama negara lain menyangkal kedaulatan itu
  3. Tidak ada negara eropa yang bisa berharap untuk maju dan sejahtera jika yang lain terus mendesak yang lemah pada situasi depresi.

Varoufakis mengusulkan untuk pembubaran Uni Eropa, karena apa pun yang terjadi di benua ini bakal berpengaruh pada perekonomian Amerika dan dunia, mengganggu stabilitas ekonomi di Jepang dan Cina. Pertaruhannya terlalu besar jika diteruskan.

‘I think we can pull it off. But Not without a break from Europe’s past and a large democratic stimulus that the fathers of the European Union might have disapproved of.’

Aih leganya bisa menyelesaikan buku yang satu ini 😛

yanis varoufakis

Selalu Sukab, Perempuan Berbibir Merah, Basah dan Setengah Terbuka, Senja dan Cinta Dalam Cerita SGA #28

Standar

Tidak biasanya saya mereview buku berbahasa Indonesia, apalagi fiksi, da aku mah apa atuh. Kamu bisa baca sendiri karena berbahasa Indonesia dan fiksi itu subjektif sifatnya. Tapi ini Seno Gumira Adjidarma, Seno kawan, Seno! Saya tidak menulis ini untuk kamu, tapi lebih untuk diri sendiri supaya tak lupa, kenapa sampai hari ini saya tetap jatuh cintanya dengan cerita-cerita Mas SGA.

Mampir sejenak Sabtu lalu sebelum nonton Thor: Ragnarok, ke toko Gramedia. Pertimbangan saya itu buanyak kalau soal buku, tidak sembarang buku saya beli. Saya ini setia, hanya pada pengarang yang duluan saya cinta atau atas rekomendasi orang terpercaya, baru saya akan beli bukunya. Seno Gumira Adjidarma, tidak pernah gagal menangkap mata, hati dan dompet saya. Begitu melihat Antologi Cerpen SGA, langsung saya beli, ga pake berpikir dua kali. Apalagi itu Antologi Cerpen hampir setua saya usianya. Bayangkan, bersamaan dengan ibu ngebrojolin saya, Mas Seno sudah mencetak karyanya di Kompas, di usianya yang 20an. Lalu saya besar bersama karya-karyanya. Jadi secara tidak langsung, Mas Seno seperti ayah buat saya.

Jatuh cinta pertama saya dimulai di kumpulan cerpen bertajuk Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta. Kang Dion, bekas bos saya di MStri, tahun 2000an, yang menyodorkan buku itu ke saya. Kamu akan menyukai buku ini, katanya. Lah iya, segampang itu saya jatuh cinta pada cerita Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta. Barangkali karena cerita itu persis seperti yang saya alami, ketika itu. Menanti jawaban kekasih di ujung gagang telepon umum, berkoin-koin habis untuk mendapatkan kepastian. Anak-anak zaman sekarang tidak merasakan sensasi menanti cinta di kotak telepon umum. Setelah membaca cerpen itu, kenangan cinta-cintaan zaman SMP, SMA sepotong-sepotong hadir. Saya ingat, sering senyum-senyum sendiri saban kali melihat kotak telepon umum yang sekarang tidak ada lagi. Di London, kotak telepon umum itu sudah jadi mesin ATM atau toilet umum gelandangan.

Sepotong Senja Untuk Pacarku. Cinta itu bisa bikin orang egois, mencuri senja untuk kekasih hati tanpa peduli pada orang lain yang juga membutuhkannya. Memanipulasi senja agar orang lain tak kehilangan, dan kekasih tetap dapat.

Hujan, Senja dan Cinta itu nyesek. Saya percaya bahwa saya adalah perempuan yang selalu diikuti hujan. Kemana pun, dimana pun. Barangkali seperti dalam cerita SGA, ada lelaki yang tahu bahwa saya pecinta hujan, maka dia mengirimkan hujan tak henti kemana pun saya pergi. Saya juga pecinta Senja, yang mungkin disediakannya untuk saya saking cintanya dia pada saya. Cinta… SGA benar, cinta harus dirayakan meski menyisakan luka. Tapi hanya mereka yang pernah merasakan luka karena cinta yang bisa merayakan luka dan cinta.

Sukab, lelaki yang selalu muncul dalam cerita SGA. Sukab yang suka selingkuh dalam cerita Sukab dan Sepatu, Sukab tukang bangunan yang istrinya, Asih, diperkosa ramai-ramai, dalam cerita Tragedi Asih Istrinya Sukab. Dan semua perempuan dalam cerita SGA, selalu muncul berbibir merah, basah dan setengah terbuka.

SGA licin bercerita tentang korupsi, pembunuhan misterius terhadap mereka yang bertato yang sial menyandang stigma sebagai penjahat, tentang penculikan aktivis, sampai pembunuhan Munir. Membaca SGA, membaca sikap politiknya dan saya senang berada di tempat yang sama dengannya.

819 halaman ini selesai dalam 3 hari, yap, sebegitu licin semuanya mengalir.

SGA

 

Bekerja dari Kafe atau dari Kamar? #lifeaftermarriage

Standar

Diskusi pendek lewat whatsapp dengan suami pagi ini menggelitik. Ini hari Minggu, tapi saya memilih untuk mulai menyicil laporan bulanan, enaknya dimana ya? Di kafe atau di kamar kosan aja? Saya dan suami tinggal berjauhan,saya di Bali dan suami di Cimahi. Pertanyaan itu tidak pernah muncul ketika masih berstatus lajang, tapi sekarang cerita berbeda. Bukan karena harus minta izin, tapi lebih riil dari itu, perhitungan tentang anggaran. Kan sekarang segala sesuatu yang berimplikasi pada anggaran keluarga harus dipertimbangkan toh. Artikel ini, sekaligus menjawab, apa yang beda setelah menikah? Apalagi saya baru menikah di usia 39 tahun, segalanya menjadi penuh perhitungan matang.

‘Bah, mending di Starbak atau di kafe langgananku? Kalau di starbak, sudah ketebaklah aku mau apa. Seselepetan dari pantai dan bisa makan siang di resto ayam selimutan aka fried chicken terdekat.’

‘Di kamar aja, kalau mau terkontrol.’

‘Kalau di kamar, berarti makan lewat gofood, yang pilihannya lebih banyak dan aku bisa lebih kalap. Jatuhnya sama dengan makan di café. Terus, rugi di koneksi internet, lalu godaan boboknya lebih banyak.’

‘Lah ya udah, bobok aja. Minggu ini.’

‘Kalau bobok, tugasku ga selesai dong.’

Mau pergi kemana pun hari ini, saya sempatkan sarapan di kamar untuk berhemat minimal di pos sarapan. Naik gojek kemanapun hari ini, jatuhnya 15 ribu rupiah. Beruntung karena tinggal di tengah, kearah pantai manapun kisarannya 15-20 ribu rupiah, sekali jalan, ya 40 ribu PP lah paling mahal. Kalau di café setarbak itu palingan terbaca, Americano 35K, kue 35K dan bisa duduk sampai bego, ya palingan nambah satu minuman lagi (biasanya teh) jadinya total sekitar 150K. Kalau di café langganan yang harganya lumayan dan pilihannya banyak itu, kirakira habis 200 – 300K. Sama-sama dengan internet koneksi lancar tapi makanan lebih enak, pemandangan manusianya lebih asik, tempatnya lebih cozy. Daan akhirnya saya memutuskan ke sini.

Suami membalas dengan ikon *sigh

Budget bagian mana neh yang harus dihemat setelah pulang ke rumah? 😉

resize

Banggalah Jadi Anak Kampung

Standar

Tulisan ini buat kamu anak-anak Teluk Sumbang, Merabu dan Long Beliu. Saya tulis karena terus terang saya iri pada kalian yang lahir, besar dan hidup di Kampung.

Saya lahir dan besar di Jakarta, dari keluarga menengah. Barangkali kalau bapak tidak berbini tiga, hidup keluarga kami bisa berharta lebih. Tak harus banting tulang siang malam bekerja untuk biaya kuliah sendiri, si bungsu ga perlu ngosek WC di rumah sakit dan mal pusat perbelanjaan untuk bisa selesaikan kuliah D3 nya. Terlebih, barangkali kami tak perlu gotong sana-sini perlengkapan rumah, dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya, yang penting ada atap berlindung dari hujan dan panas, juga ada karpet buat selonjoran tidur.

Tapi kalau waktu berbalik dan semua terjadi seperti di atas, barangkali saya tidak bersama kalian sepanjang setahun ini. Barangkali saya jadi orang songong seperti si Budiman yang melempar sampah dari mobilnya lalu nonjok orang yang menegurnya. Barangkali juga saya hanya jadi anggota kelas menengah ngehek yang cuma bisa teriak kritik, nyinyir dari sosial media sambil minum kopi di kafe mewah, dan merasa paling pintar lewat jempolnya. Atau saat ini barangkali saya jadi orang kaya yang frustasi dengan sistem Pendidikan di Indonesia lalu mengirimkan anak-anak saya sekolah dan hidup di luar negeri. Kalau semua menjadi seperti ‘saya,’ lalu bagaimana kita bisa manfaat jadi manusia? Kata sahabat saya, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang memberi manfaat pada sekitarnya.

Maka dari itu, saya berterima kasih buat bapak dan ibu yang membesarkan saya dengan segala keprihatinan. Kata bapak, tidak ada warisan yang bisa diberikan kecuali bertumpuktumpuk buku dan kesempatan sekolah yang tinggi. Tapi ya itu tidak mudah, dulu ibuk bernada tinggi dan meyakinkan bapak untuk memberikan kesempatan saya sekolah, karena awalnya bapak seperti kebanyakan orang tua lain yang besar di dunia di mana lelaki punya derajat lebih tinggi, saya dicukupkan sampai SMA lalu menikah dan sibuk di dapur. Untunglah ibuk pasang badan buat saya. Dia bilang, perempuan harus sekolah tinggi, berpendidikan dan mandiri, supaya tak bergantung pada laki-laki.

Tarrraaa, jadilah saya hari ini.

Saya hanya beruntung hidup dan besar di Jakarta dan punya kesempatan untuk sekolah lebih tinggi, meski itu harus dilalui berdarah-darah pula (lebaaayy). Tapi percayalah kota tak seindah yang kalian lihat di sinetron. Kejam! Bahkan urusan sendal jepit yang selalu hilang terutama saat sholat Jumat, bisa bikin emosi terpancing dan berantem dengan teman sendiri. Iyalah, barang murah tapi kok ya ga pada mau beli sendiri. Yang saya mau bilang, kami di kota selalu hidup penuh curiga satu sama lain. Ga santai.

Saya iri dengan kalian yang bisa meninggalkan motor dan kuncinya di pinggir jalan. Bejo naik motor pak Boy ke mushola untuk ambil motornya, lalu pulang dengan motornya sendiri lalu meninggalkan punya pak Boy di sana.

Saya iri dengan kalian yang makan dari kebun sendiri. Pohon kelor yang jadi pagar rumah dan daunnya jadi sayur bening. Mau makan ikan tinggal mancing di sungai dan laut. Mau makan telur ayam, tinggal kejar kejaran sama ayam di kolong rumah.

Bisa bangun pagi jam berapa pun, tanpa diburu-buru jadwal kereta, atau jam kantor. Punya rumah yang sampai lelah membersihkannya karena besaaar. Sementara kami di kota, ngepel saja mentok sana sini saking sempitnya. Harus cicil rumah 15-20 tahun, bahkan kalau mau tren macam apartemen, sudah bayar mahal, kamar itu Cuma bisa ditempati selama 30 tahun.

Jangan setel tv yang penuh tawaran jajanan. Tas Hermes itu sampah, tas rotan kalian itu kehidupan, ada cerita tentang manusia, budaya dan alam di balik tas rotan yang dianyam ibu-ibu sambil menunggu anaknya pulang sekolah atau sambil merumpi.

Gaji yang dinanti saban akhir bulan, Cuma melambaikan salam selamat tinggal. Dia pindah ke rekening lain untuk bayar utang. Sampai mati, anak kota selalu diikuti hutang.

Hutan baja di Jakarta itu lebih menyeramkan daripada hutan penuh pohon, lintah dan binatang lainnya di Kampungmu. Binatang berakal bernama manusia itu bisa lebih jahat daripada macan pohon sekali pun. Licik, yang langkahnya susah ditebak. Iya betul, masih banyak orang baik di kota, tapi kehidupan keras di kota kadang membuat kami lupa bahwa kami manusia. Hidup kami seperti robot yang disetel dari waktu ke waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup yang ‘diada-adakan’. Bayangkan betapa bodohnya orang kota kawan. Sudah tahu macet di jalan, mereka tak berhenti beli mobil. Marah-marah karena macet yang mereka bikin sendiri. Bodok bodok lah.

Saya akan kembali ke Jakarta beberapa bulan dari sekarang. Saya dimasa galau penuh pertanyaan, sanggup ga ya kembali ke kehidupan yang keras itu? Tapi tak seperti kamu yang masih ada pilihan, pilihlah untuk tetap di kampung, berkarya dan bermanfaat untuk kampung. Itu rumahmu, akarmu di sana. Jangan mudah percaya pada mereka yang datang dari antah berantah dengan janji membawa kesejahteraan versi mereka. Kalian sudah sejahtera! Ambil saja ilmunya, tapi jangan menjual diri, tanah dan rumahmu pada siapa pun.

Banggalah Jadi Anak Kampung, seperti saya bangga sekali pada kalian. Terima kasih untuk semua pelajaran hidup yang kalian berikan pada saya, untuk jadi orang yang tahu bersyukur pada apa yang kita dapat hari ini, saat ini.IMG-20170930-WA0027[1]

 

IMG-20171010-WA0016[1]

Sihir Arundhati Roy Dalam Kisah Pencarian Kebahagian. Review The Ministry of Utmost Happiness by Arundhati Roy #27

Standar

Tilo masih memakai cincin perak yang diberikan Musa setelah bertahun-tahun mereka berpisah. Pada satu pertemuan, Musa menceritakan kisah isteri dan anaknya yang mati ditembak tentara India. Kisah yang tak pernah diketahui Tilo sebelumnya. Percakapan yang sangat mungkin terjadi di antara mereka, sebagai kekasih dan bekas kekasih, pernah sedekat saudara, bekas teman sekelas. Jadi sekalipun salah satu terluka, itu karena dia sangat pantas dicintai. Soal hati, keduanya seperti memiliki hutan, sarang mereka yang penuh kedamaian.

 

Tapi tentu saja, Arundhati Roy tak semudah itu membuat kita terlena dengan kisah cintah Tilo dan Musa. Butuh 7 bab, 200 an halaman sebelum masuk ke dalam kisah mereka yang dipenuhi ketegangan, ikutan marah dan sedih. Musa adalah pejuang pembebasan Khasmir yang ingin berdiri sendiri dari Pemerintah India, sementara Tilo adalah orang India tulen. Musa adalah buronan tentara India, dengan tuduhan sebagai teroris. Musa yang memegang kendali jadwal dan jalan bagaimana mereka bisa bertemu. Di antara mereka ada Naga dan Bipta, bekas kawan sekelas dan sepermainan yang sama-sama mencintai Tilo. Sampai akhir cerita, cinta Tilo hanya pada Musa.

Buku setebal 447 halaman ini  harus dihabiskan dalam satu kali masa membaca, sebab kalau tidak, akan sangat mudah untuk tersesat dalam alur maju mundur yang dibuat Roy dan banyaknya tokoh yang terlibat dalam cerita. Focus saja pada Tilo, Musa, Naga, lalu Anjum, Zainab dan Sadam. Di awali dengan kisah Anjum atau yang semula Aftab, cerita tentang Hijrah, atau LGBT sebagai gender ketiga yang diakui di India. Sepanjang Roy bercerita tentang Anjum, saya tertawa dalam ironi. Dia lahir saat lampu padam, dan si dukun memberitahukan bahwa jenis kelamin dia adalah laki-laki, seperti yang diinginkan oleh ayah dan ibunya. Beberapa minggu kemudian, ibunya menemukan fakta bahwa anaknya memiliki vagina. Pada usia belasan tahun, ibunya baru membuka rahasia pada ayahnya kalau Aftab bukan laki-laki tulen, dia memiliki vagina. Aftab berganti Anjum saat dia bergabung dengan kelompok waria di sudut kumuh kota Delhi. Hijrah adalah sebutan untuk Anjum dan kawan-kawan. Mereka bisa hidup tenang karena kepercayaan di India, mengganggu Hijrah hanya akan membawa nasib sial.

Roy berhasil membuat saya tersihir dengan cerita ini dan membuat saya tak bergeser darinya sepanjang akhir pekan ini. Luasnya jangkauan cerita yang ingin disampaikan oleh Roy, tentang gentrifikasi di India, pemukiman kumuh di Delhi, tentang kehidupan waria, tentang pemisahan India dan Pakistan yang di lapangan tak juga selesai, memisahkan keluarga besar dalam dua agama, Hindu dan Islam. Tentang kasta yang menghalangi Bipta memperjuangkan cinta untuk Tilo. Tentang sekutu antara Jurnalis dan Penguasa, bagaimana Naga menjadi jurnalis kenaamaan dengan berita ekslusif yang disiapkan oleh Bipta sebagai agen intelejen pemerintah India.

Seperti sihir Roy di God of Small Thing, sihir kali ini mampu menyudahi penantian saya atas karya fiksinya selama bertahun-tahun. You did it again Arundhati Roy, such a great story teller.

Saya sudahi dengan mantra Gayatri yang worth to share dan perlu diamini:

Om bhur bhuvah svaha

Tat savitur varenyam

Bhargo devasya dhimahi

Dhiyo ya nah procadayat

O God, thou art the giver of life / Remover of pain and sorrow/ Bestower of Happiness/ O Creator of universe/ May we receive thy supreme sin-destroying light/ May thou guide our intellect in the right direction

resize