Adalah Mitos Influencer Bisa Melakukan Perubahan Sosial. Review Change karya Damon Centola

Standar
Adalah Mitos Influencer Bisa Melakukan Perubahan Sosial. Review Change karya Damon Centola

Pasti masih segar diingatan ketika vaksin anticovid pertama kali disuntikan di Indonesia, salah duanya adalah Presiden dan influencer Raffi Ahmad. Harapan mengajak influencer adalah untuk meyakinkan publik bahwa vaksin itu penting dan aman. Lalu publik dibikin kecewa ketika beberapa jam setelah vaksin, Raffi berkerumun dengan tamunya di rumah dan diunggah di sosial media. Long story short, kalau sekarang kemudian vaksin justru diperebutkan oleh warga, apakah itu artinya Raffi berhasil meyakinkan vaksin aman?

Tidak semudah itu prosesnya Fergusso. Perubahan sikap seseorang menurut Damon Centola dalam bukunya Change bukan seperti virus covid yang menular hanya karena kita berdekatan tanpa perlindungan dengan pembawa virus. Penularan perubahan sosial itu rumit prosesnya dan jangka panjang. Kalau yang dituju sekedar informasi, iya betul, menggunakan strategi Shotgun, sekali tembak lewat berbagai saluran informasi adalah tepat. Menggunakan silver bullet strategy dengan influencer juga tepat. Tapi jika yang dituju adalah perubahan sikap, manusia itu makhluk sosial yang dipengaruhi sekitarnya sebelum berubah. Orang berubah disebabkan beberapa faktor, yaitu informasi dan contoh yang berulang-ulang disampaikan atau redundant, relevan dengan kebutuhan atau nilai-nilainya, peer pressure atau tekanan rekan sebaya, melihat contoh dari orang lain yang berhasil berubah, dan ketika ada social reinforcement, perubahan yang dipaksakan dengan otoritas pemeritahan misalnya. Perubahan perilaku juga membutuhkan waktu dalam proses difusinya. Bukan hanya karena dia selegram atau influencer akan mampu dipercaya followernya dan diikuti tindak tanduknya lalu perubaha terjadi dalam semalam. No no no… Fergusso lelah.  Dalam contoh Google Glass yang disebutkan dalam buku ini, penggunaan influencer malah bisa jadi backfire atau senjata makan tuan bagi gagasan itu sendiri. Influencer bisa juga jadi antipati pada gagasan baru dan menyebarkan ketidaksepahamannya ke orang lain, akibat terburuk adalah mematikan gagasan baru tersebut.

Buku ini semacam refleksi buat saya yang dikelilingi dua kelompok penting di ruang publik. Kelompok jurnalis dan media yang percaya, berita yang disiarkan massive dan terbuka adalah perlu untuk melakukan perubahan. Kelompok lainnya tempat saya bergaul adalah aktivis lingkungan dan perempuan yang selama ini seperti berteriak di ruangan sendiri, berkutat di fishing-netnya sendiri perubahan yang ingin dicapai memakan waktu bertahun-tahun tapi sulit sekali menunjukkan progresnya. Apa yang sudah benar dan apa yang salah dalam strateginya?

Buat Centola, saya adalah individu yang ada di outer-rim, di periphery narrow-bridge yang dapat membawa ide gagasan ke jembatan yang lebih besar, saya justru aset yang dapat mempertemukan kepentingan dua kelompok ini, jurnalis/media dan NGO. Ketika kawan-kawan aktivis ingin melakukan perubahan, mereka perlu mengikutkan orang-orang yang bisa menjembati gerakan mereka dengan kelompok berbeda, agar gerakan bisa dibawa keluar dari lingkaran sendiri, mencapai tipping-point dan perubahan pun terjadi. Pun sebaliknya, media sangat mungkin melakukan framming untuk sebuah perubahan dan tanpa framming untuk “tujuan baik” perubahan juga akan sulit tercapai karena berita seperti ratusan peluru yang dilepaskan bebas tanpa tujuan, publik  kewalahan menghadapi informasi berlimpah.

Pada konteks tertentu, perubahan sosial dalam dilakukan dengan strategi snowball yaitu memilih tempat yang tepat untuk inkubasi gagasan baru, jika berhasil ini dapat direplikasi ke tempat lain dan seterusnya hingga mencapai tipping pointnya dan perubahan itu sustain. Contoh yang dia berikan dalam buku ini adalah perubahan pola tani di mozambique, dan pemasangan solar atap di lingkungan perumahan di Jerman. Orang itu sifatnya meniru, melihat contoh yang konsisten dilakukan dan relevan dengannya.

Soal relevansi gagasan baru, ini akan beririsan dengan bias, tidak ada network yang netral. Setiap orang pasti punya nilai-nilai sendiri yang dia percayai, tentu bukan perkara mudah mengubah nilai orang, tapi mungkin ga? Mungkin. Cina menggunakan kekuasaan pemerintah, otoriter, tapi untuk perubahan sosial dalam arti yang lebih kecil, kita harus menemukan orang yang ada di ujung network itu, atau periphery, yang masih punya kontak dengan network di luar lingkarannya. Orang-orang ini yang bisa dilibatkan sebagai bagian dari infrastruktur perubahan.

Yang paling penting, buku ini mengajak kita berkenalan dengan komunitas terdekat, mengenali mereka dan kebutuhannya, dan temukan relevansi gagasan baru yang kita tawarkan dengan nilai-nilai yang sudah duluan ada. Fokus pada tempat khusus untuk inkubasi, bukan pada selebriti.  

Centola bukan tech-solutionist meski bicara tentang riset complex contagion dengan nodes-nodes dalam network society yang rumit dengan rumus matematika dan bikin saya megap-megap. Aselinya dia seorang sosiolog yang percaya, teknologi itu gimana manusia yang mengoperasikannya, membangun komunikasi dan interaksi di antara penggunanya. Buku ini penting dibaca untuk kawan-kawan aktivis agar kita tak melulu ephoria di lingkaran sendiri.

Kembali ke paragraph awal, silakan refleksikan sendiri, kalau hari ini kamu sudah menerima vaksin, apakah itu karena Raffi Ahmad?

BTS is not virus, it is a social network. Note on SUGA’s birthday

Standar
BTS is not virus, it is a social network. Note on SUGA’s birthday

A week ago, an announcer of Radio Bayern3 said that BTS is like a corona virus just because he does not like BTS’s covering a song of Coldplay, Fix You on MTV Unplugged. He really got fucked up when BTS ARMY made him a twitter trending for days because of it. Well I tell you what Mathias, you are scientifically wrong by calling BTS a virus because they are nothing like it. BTS is a social network, you should read more.

People don’t just admiring BTS because they are viral and today become the biggest boyband in the world. You can track why someone become an ARMY within their own network. In social network theory there are strong ties network and weak ties network. Yeah, I just read the book “Changes” in fact only two chapter so far, but I really got into it and trying to explain BTS from  the angle of social network.  One is never been a passive receiver of a message, a new idea, or new information. People negotiate within self, using their culture capital, values and will be convince only by their strong ties network such as families, best friends, or someone that they looked up to. Once they accept the new idea or new things, and its redundance in their life, it become a norm and values that they integrated into. Those processes are definitely taking more times than corona virus where you can get it from just sitting next  to a stranger. That is also explain why “viral” is become a myth in social network theory.

BTS is NOT just a one time wonder, or a one night magical boyband (they are boys but not in a band) but it took them almost 8 years to be where they are now. When they are signing an extended campaign of Love Myself with UNICEF, they knew exactly what is the first thing to start and where to start. Like Jin said, since the first time they involve in the campaign, first thing he did was to love himself first. To really implemented what it means to “love myself”, and how it has make him more happy and enjoying life as he is today. Those experiences that he is aiming to share with ARMY and the world through this campaign.

What does it says then? It means, just because BTS is worldwide artist, it does not means that everything they say will be accepted by ARMY and others. But since they made themselves as a good examples in implementing the campaign itself, that convince the ARMY to follow their steps. Using the theory of #newpower, the strong ties probably related to super participants that is ARMY and weakties is represent by participant which is fans. Since the ARMY is the one who redundance the message of the campaign within their real life network, the campain of LOVE MYSELF will become a new norm, and changing behavior of ARMY and their network.

Do I get “contagious” by social media that tells BTS is a viral or by my strong ties network? The second one obviously. I am the one who don’t give a shit about what is viral on social media, and only notice things that being brought by my strong ties network such as best friends, close colleagues and family. My niece is ARMY, nevertheless, I wasn’t convince by her because she failed to explain who is BTS in deeper meaning, but it was my best friend Sarie who was playing their music for three days while we were on a trip and she kept explaining  5W1H about BTS. Since then, I started to listen to BTS and going to the rabbit hole and I stay here.

So if you are ARMY reading this note, you might want to remember how you got to BTS in the first place? Who convince you to love them like you are now? who are in your strong ties network also BTS ARMY?

This note is being post on Suga’s birthday. Happy Birthday SUGA the coolest member in BTS, I still like you even if in the next life you chose to be a stone, you still become the coolest stone in the planet. We make a special activity on your birthday, we open a book donation called Book for 2nd Chance. The books go to Women and Children Prison in Bandung because books become their refuge and give them a healing time, also because we believe in second chance in life that must be better than today.

Do you know my name?

Standar

She is still sitting on the same chair like yesterday and the other day before.

Her eyes are wandering around through the dark and thick scenery deep into the bamboo forest,

She is smiling and blushing. Her bread chick turn to tomatoes, fresh red.

She is alone, like yesterday and the other day before.

But she is not lonely. She is content with herself and here I am, longing to just say hi to her.

She is smiling, her eyes are talking to thin air.  What does she sees?

Oh her glass is empty.  This is it, my chance to talk to her. Just her little smile should be enough to bring me to heaven. I would not dare to ask for more.

She raise her glass, my turn to pour her wine like yesterday and the other day before. Same time, same type, same ethernal scenery.

Just one smile is enough to take me to heaven

“Thank you, Jin. Take a break and have a sit with me. I could use a company tonight.”

….

Padma Hotel, Bandung, 260221

pic: goodhousekeeping

Becoming BTS ARMY; from “I” to “We”. Happy Birthday J-Hope

Standar
Becoming BTS ARMY; from “I” to “We”. Happy Birthday J-Hope

On May 5, 2019, BTS concluded their first Speak Yourself concerts, at the Rose Bowl in Los Angeles. BTS leader Rap Monster – Kim Namjoon, said

“Wherever you’re from, whatever you speak, however old you are, in this Rose Bowl, tonight we are one. We speak the same thing. We speak the same voice. We speak the same language. This is community, what we call community… Let’s keep speaking the same language.”

What it means to be part a community name BTS ARMY?

When I started my birthday notes celebrating BTS member’s birthday with Jin on December 4, 2020, I was not part of the ARMY. I was just the fan, admiring their music and my knowledge of BTS and the ARMY is shallow. It was just my 2 weeks since I listen to them. Jin, then who became my inspiration to really fall into their rabbit hole and not only that, I just finish my introduction part for PhD proposal because and about BTS ARMY.  

It did not take a long time to choose the identity as ARMY of BTS. Identity is the product of identification. It is about taking side, taking place. (About) who I am and where I stand to speak from the place to act from place.. . Identity is a moving process making (Stuart Hall)

You are probably asking, but why?

My first note was thanking Jin for saving my niece life, and now, I must thank them for saving mine. Someone I respect was shouting out loud to me at my face. In my normal time, I probably will feel devastated, lost, cried and turn to hate the person. But I wasn’t, I was distracted by BTS’s song on my ear than somehow comfort me. They took me into a different reality, where I feel safe and happy.

That’s a very psychological effect that I had from listening BTS. Nevertheless, when I do my research about them, we do speaking on the same language of love and respect. My idealism values are connected to them that make me easily to love them as musician, artists, as a person of each member and as a team.

Once I identify myself to their values, it is easier to make an action. Identity is a source for action as Stuart Hall said. My first action was looking how I can contribute for V’s birthday. That is how I got introduced to Bintang Ungu, a group of ARMY for V as V coined the icon of Purple love – Borahae. Together we support one kindergarten in a poor neighborhood in North Jakarta. We are not only fund  the operational but also involve in creating the program based on what BTS values, to love our-self, respect, and nurturing empathy both for children and their parents. That’s awesome, right!

If BTS ARMY is a community like RM said, and it feels just right, then it is part of the network society where Manuel Castells said being shaped by information and communication technology when communicated the shared values. We took our private communication through public realm through social media and organizing ourselves when we do the collective action. Do BTS tells us to? Nope, the main difference between BTS and other idols is that, they do not need to tell us to do explicitly. According to the study on BTS ARMY movement for #MatchAmillion during Black Lives Matter campaign 2020, Park et al, found that ARMY was moved by BTS’s example of manners and deep meaning of their lyrics. Related to their findings, I do feel being part of the ARMY community is also comforting. We shared laughter, appreciate each other, we share knowledge and information as also doing social collective action.

Being a fangirling at the age of 40ish is something that seems ridiculous to others. But I am not a shame, I am proud instead. Because I don’t see us as a common fandom, we are community, we make movement and hopefully able to change society. As our members are adult, parents of the future generation, we do learn about a good parenting through the BTS’ values, as simple as treat our children with empathy and respect.

I leave it here …

I would like to say Happy Birthday to my bias wrecker Jung Ho Seok – Jhope! You are the sunshine to ARMY with that bright smile and happy face. You are bringing hope to everyone, to believe in yourself. You are following your passion to be a dancer despite the disagreement of your parents, because you believe in what you love in life. Keep shining brightly!

Tidak Ada Kata Terlalu Muda Untuk Sebuah Perjuangan. Review UnFree Speech – Joshua Wong

Standar
Tidak Ada Kata Terlalu Muda Untuk Sebuah Perjuangan. Review UnFree Speech – Joshua Wong

Ini adalah buku paling cepat saya baca. Jika tidak diselingi pekerjaan dan ekstrakurikuler lain, buku setebal 258 halaman ini bisa selesai dalam satu malam. Joshua Wong bercerita dengan bahasa paling sederhana yang bisa dipahami oleh siapa pun. Membaca surat-suratnya yang ditulis di dalam penjara anak-anak dan selama beberapa hari di sel penjara orang dewasa membawa saya masuk ke dalam dunianya. Bagaimana anak muda yang mulai aktif berpolitik sejak usia 14 tahun ini bertahan hingga sekarang di usianya di pertengahan 20an? Bagaimana memelihara idealisme yang sangat mudah bergeser seiring dengan bertambah usia dan semakin banyak tuntutan sosial dan keluarga yang membebani perjalanan hidup anak muda?

Ketika bicara anak muda atau pemuda, izinkan saya memakai ukuran usia 15-28 tahun dalam standar PBB. Saat bekerja dengan Ashoka, saya mengenal anak-anak yang usianya mulai dari 12 tahun tahun sudah punya keinginan untuk berbuat sesuatu buat sekitarnya. kids are amazing indeed. Karena itu kalau ada yang bilang “anak-anak Cuma ikut-ikutan dan tidak punya keinginan pribadi melainkan disetir oleh orang dewasa,” aku bisa meradang. Saya bisa membuktikan anak-anak ini punya keinginannya sendiri, mimpinya sendiri, orang tua hanya perlu mendukung dan mendampinginya.

Joshua Wong salah satu buktinya. Kalau ditanya apa keluarga memengaruhi dia? Jelas iya. Ayahnya bekerja sebagai IT dan aktif di kegiatan gereja, sementara ibunya adalah seorang aktivis. Orang tuanya menikah beberapa hari setelah kejadian Tianammen dan memutuskan untuk membatalkan pesta perkawinan untuk menghormati peristiwa itu. Cerita itulah yang mulai menggerakkan Joshua kecil. Dia takkan tahan melihat ketidakadilan di sekitarnya. Joshua bukan anak “cemerlang”, dia berjuang melawan disleksianya. Di usia 14 tahun, pas SMP, dia mulai berpolitik, lewat page facebook, dia mengajak siswa lain protes soal makanan di kantin sekolahnya. Ketika orang tuanya dipanggil pihak sekolah, ibunya bilang “bukan salah anak saya, dia hanya menyuarakan apa yang dirasanya sebagai kebenaran. Jika kamu menghukumnya, sekolah ini justru akan dapat citra buruk.” Tidak perlu saya ajak kamu membayangkan reaksi orang tua kebanyakan ya.

Di usia 15 tahun lah, aktivitas politiknya membesar. Dia menggagas Scholarism, menolak kebijakan pendidikan nasional di Hong Kong yang merujuk pada doktrinisasi komunis China. Dia berhasil menggerakkan ratusan orang turun ke jalan. Lalu untuk kali pertama, dia ditahan kepolisian. Dari protes tentang kebijakan pendidikan, Scholarism berkembang menjadi gerakan Umberella Movement menentang undang-undang ekstradisi, bahwa orang Hong Kong bisa diadili di Cina dan itu artinya peluang mendapatkan peradilan yang adil semakin tipis.

Perjuangan di jalanan itu penting, tapi strategi harus diperkuat dengan masuk dalam sistem. Damn sound so familiar hahaha. Lalu bersama tiga orang penggerak Umberella Movement, Joshua membentuk partai Demosisto, berjuang memasukkan Nathan sebagai calon legislatif dan sebagai partai anak muda, mereka berjuang lebih keras untuk kampanye. Nathan berhasil masuk dalam legislatif sebagai anggota legislatif termuda dalam sejarah Hong Kong di usianya yang baru 22 tahun. Joshua bilang “Beat them in their own game!” I will keep that in mind, Josh.

Perjuangan Umberella Movement dari protes damai berubah menjadi lebih keras dan radikal, why? Karena perjuangan damai mereka ternyata tak mampu menggerakkan pemerintah untuk berubah dan tidak didengar. Mereka sudah menitipkan satu orang di legislatif tapi kemudian didiskualifikasi karena Nathan menolak menghormati simbol-simbol Cina. Joshua, Nathan dan Alex kembali ditangkap, ditahan dan didakwa bersalah untuk Umberella Movement karena menentang pemerintahan yang sah.

Bagian paling menggetarkan buat saya adalah ketika Joshua Wong merefleksikan perjuangannya mempertanyakan idealismenya sendiri. Apakah dia begitu egois dalam berjuang sehingga membahayakan keluarga besar mereka? Apakah perjuangannya sejak usia 14 tahun berdampak? Dalam penjara, Joshua menerima ribuan surat dari seluruh dunia, dari anak-anak yang terinspirasi atas perjuangannya sampai orang tua yang merasa terpanggil untuk ikut berjuang bersama anak-anaknya. Membaca surat-surat itu membuat Joshua yakin dia telah ada di jalan yang benar.

Di saat rekan seusianya belajar di kampus dan setelah lulus bersiap untuk bekerja dan menerima slip gaji pertama mereka, Joshua menulis jurnalnya di dalam penjara. Tapi dia sangat percaya bahwa perjuangan membela demokrasi ini sangat penting, bukan hanya untuk dia saat ini, tapi pada 2045 ketika usianya 50 tahun, dia ingin anak-anaknya dan cucunya bangga pada perjuangannya. Dia telah berjuang, sekuat-kuatnya.

Di akhir bukunya, dia meminta anak-anak muda untuk tidak diam karena masa depan mereka sangat mudah diatur dan diputuskan orang dewasa tanpa mereka sadari. Bahwa perjuangannya di Hong Kong adalah perjuangan bersama dunia untuk menjaga demokrasi dan kemerdekaan anak-anak saat ini dan masa depannya.

Setelah menutup buku ini, saya kembali ke belakang, apa yang terjadi pada saya di usia 15 tahun? Yang saya ingat, saat itu saya dijewer mami dari sekolah sampai rumah karena ada satu nilai merah di rapor. Saya selalu juara kelas selama sekolah, angka merah adalah aib. Papi saya bilang “kawinkan saja kalau susah diatur dan malas sekolah. Buat apa orang tua investasi pada anak perempuan kalau yang diharapkan malah begitu.” Saya rasa saat itulah saya menjadi feminis, bahwa anak-anak perempuan punya hak untuk sekolah tinggi, bahkan saat melakukan satu kesalahan. Hey, everyone makes mistake right, tapi menikah di usia sangat muda semacam hukuman untuk masa depan yang lebih baik.

Kekuatan Masa Depan Adanya di Kamu. Partisipasi, Keterlibatan, Kolaborasi adalah Kunci Mengubah Politik. Review #newpower by Henry Timms dan Jeremy Heimans

Standar
Kekuatan Masa Depan Adanya di Kamu. Partisipasi, Keterlibatan, Kolaborasi adalah Kunci Mengubah Politik. Review #newpower by Henry Timms dan Jeremy Heimans

Dengan segala kelemahannya, saya masih percaya pada demokrasi yang menempatkan kekuasaan terbesarnya pada rakyat dan prinsip satu orang satu suara dan tidak ada yang ditinggalkan. Sialnya demokrasi yang berjalan menanggalkan prinsip dasar dan kekuasaan yang kemudian hanya ada pada segelintir orang dalam kelompok elit baik dalam politik, sosial maupun ekonomi. Sial betul!

Itu adalah bentuk kekuatan lama (Old Power) yang terstuktur, tersentralisasi dan dikelola top-down. Setelah pemilu, begitu jauh rakyat bisa mencampuri bagaimana negara ini berjalan. Rakyat hanya jadi domba yang digiring ke sana kemari dan penonton di sebuah konser politik. Jangan heran, jika kemudian tingkat partisipasi politik terus rendah dalam pemilu, tingkat kepercayaan publik terutama generasi muda pada institusi juga rendah termasuk pada media.

Karakter generasi muda yang hidupnya dikelilingi kemajuan teknologi informasi, digital, sudah berubah. Mereka ingin terlibat penuh dalam setiap proses kehidupan, politik, ekonomi dan sosial. Mereka berbagi, semua orang menjadi pintar, semua tahu, semua bisa. Mereka ingin diakui keberadaannya dan diapresiasi atas apa yang dilakukan, dihargai dirinya. Jiwa “founder” itu muncul di hampir setiap diri anak muda. Kamu tidak bisa membendungnya. Daripada melawan arus perubahan, kenapa tidak mencoba merangkul perubahan itu, merangkul jiwa-jiwa muda penuh gejolak dan kritis ini.

Buku #newpower ini memberikan perspektif lain dari sekedar eforia era digital dan pesimistis terhadap slacktivisme, aktivis pemalas. Buku yang dibuat oleh dua aktivis digital #GivingTuesday dan #GetUp! Ini buat saya keren banget. Keduanya meyakinkan gerakan di sosial media bisa membuat perubahan, bisa mengubah sebuah kebijakan, tapi ada syaratnya.

Gerakan digital itu harus mengikuti prinsip ACE – Actionable, Connected dan Extensible. Sebuah gerakan yang bisa membuat perubahan tidak seliat dan fleksible itu, tapi tetap harus punya struktur dalam arti jelas target sasaran dan value yang dibawa. Harus bisa dilaksanakan oleh siapa pun, terkoneksi dan dekat dengan partisipan. Struktur dalam gerakan digital itu seperti segitiga; pemilik platform atau penggagas gerakan, partisipan yaitu mereka yang tingkat partisipasinya lebih rendah dan super –partisipan, mereka yang sangat aktif berpartisipasi, baru kemudian ini bisa jalan.

Nah yang buku ini juga menjawab kritikan tentang “buble” yang jadi kelemahan gerakan digital. Menurut mereka, segitiga struktur movement itu harus nge-blend dan masuk dalam arena politik secara umum artinya tetap harus melibatkan media, NGOs yang terlibat dalam isu yang sama, institusi pemerintahan, publik secara umum dan akademisi. Segitiga itu menjadi sebuah lingkaran yang saling terkait untuk bisa mengubah sesuatu lebih nyata. Kita memang tidak bisa berteriak di gelembung yang sama untuk berubah, tapi tetap harus melibatkan pihak di luar gelembungnya.

Saya kasih contoh BTS yak, karena kebetulan sedang riset tentang mereka. Sekali pun anggota BTS tidak mau dibilang gerakannya politis, tapi dengan nilai yang dibawa, mereka bicara di media, dan di depan sidang PBB, tentu saja gerakan mereka politis. Partisipan mereka ARMY, superparticipant mereka salah satunya One in Army, ada juga Bangtan Scholars, dan di Indonesia, saya tergabung dalam Bintang Ungu, kami mengembangkan karakter di salah satu PAUD di Jakarta.

Akan sangat mudah platform digital yang dibangun dengan partisipasi massa bergeser ke arah old power, seperti Facebook dan Uber. Begitu investasi masuk dan tuntutan bisnis, gaya-gaya leadershipnya mulai top-down deh, dan melupakan super-partisipan dan sharing powernya. Selain dalam dunia bisnis, #newpower juga mengubah peta politik.

Barack Obama yang memulainya dengan mass participation movement, dengan Yes We Can, pada akhirnya kekuatannya bergeser di pemilihan keduanya. Pendukung yang tadinya relawan dijadikan sumber pemasukan lewat donasi. Donald Trump dimulai dengan membayar massa untuk kampanyenya, ketika “seolah-olah” didukung beneran dan dengan kalimat kontroversinya, malah jadi beneran memang.

Yang menarik adalah Podemos, yang dimulai dengan kemuakan akademisi di Spanyol terhadap kekuatan lama yang korup, mereka melakukan movement menolak pemerintahan. Dalam waktu dua bulan, gerakan ini menjadi partai politik, memunculkan satu tokoh, dan mampu menggerakkan massa turun ke lapangan dan dalam 2 tahun, mereka mendominasi kursi di parlemen. Macron juga dibahas dalam buku ini. Ketika politik bergeser menggunakan kekuatan baru dengan kekuatan partisipasi massa dan menjadi populer, yang perlu dijaga adalah sejauh mana mereka akan konsisten pada gerakannya dan merangkul massanya. Yang terjadi sebagian besar, massa kembali ditinggalkan.

Kekuatan baru masih sangat messy, berantakan dan perlu diperbaiki sana-sini. Bapak internet, Tim Berness Lee masih berjuang dengan proyek Solid nya untuk menjawab keresahan soal privacy. Solid akan membuat kita punya kontrol tentang data yang mau kita beri dan rahasiakan. Tetapi kekuatan baru membuat saya percaya, bahwa demokrasi itu masih bisa diperbaiki, partisipasi publik itu masih bisa dibangun. Infrastruktur digital memang masih sangat tidak adil, hanya sebagian yang bisa menikmatinya, tapi dari yang sebagian itu, tugas kita selanjutnya adalah menciptakan full-stack society. Sebuah masyarakat, komunitas, dan peradaban yang setiap orang di dalamnya berdaya, mampu mempraktikan kekuatan yang dimilikinya lewat jempol, paham pada apa yang dia lakukan dan punya keyakinan yang sama untuk melakukan perubahan ke arah lebih baik. Sound utopia? Semua juga dimulai dari mimpi kan.

Buku ini membuat saya ingat betapa bahayanya 3 tahun ke depan, ketika kekuatan lama bakal memanfaatkan “kekuatan baru” cuma untuk kepentingan politik menjelang 2024, setelah itu, lagu lama lagi. Jadi kita hanya punya waktu 3 tahun ini untuk belajar lebih kritis dan berdaya agar tak mudah diperdaya politik.

BTS is GOOD for your (print media) business. A piece on V – Kim Taehyung birthday

Standar
BTS is GOOD for your (print media) business. A piece on V – Kim Taehyung birthday

I was sitting on my terrace that morning when TIME Magazine arrived. I was in a hurry to unboxing the package that I have been waiting for two weeks and paid like 25K rupiahs more than the usual price. It said due the high demand and they need to printed local.

I was nervous because the cover was not BTS but Kamala Haris and Joe Biden. First I thought they sent me the wrong package, I was nervous. Then on the second page, it said BTS “the Entertainer of the Year” horeee, my heart pumped!  

To be honest, I am totally less interest to read about Kamala Haris and Joe Biden as Person of The Year. I am not going to spent my money on Time just to read them, no matter, how being political I am. Still, I am not interested enough to buy something that is not close related and relevant to me these days. I can read about them online.

But this is BTS! Period.

According to Brandwatch Consumer Research on January 2020, there are 48 million unique authors mentioning BTS online from January 2013 – December 2019. If they are real Army then there are 48 army groups (48 millions soldiers). With 2,199,192,809 mentions or in averages 1,004,197 mention daily!

I am one of them to be certain – oh well, since November 2020.

Anyway, BTS ARMY is a huge market. Just like me, they might not need to read the whole content of the magazine, they just want to collect them for the sake of BTS’s pictures. Time Magazine put BTS on 4 pages (including 1 page with a whole picture), propably only about 3000 words but it sold fast and I was on the second batch of waiting list for the magazine. Imagine how much revenue Time get for one edition with BTS cover and they have been on TIME for like 4 times.

BTS is a  good news for the almost collaps printed media. Put them on cover, boom, the sales rocketed like Burj Kalifa.

I am not making it up.

CNN Business came with the report on 18 December 2020. Variety, WSJ Magazine and Esquire are among those who harvesting revenue from BTS. Variety printed 30% more copies than usual with BTS on the cover. WSJ Magazine came with the statement “[d]ue to overwhelming demand” to reprint its November issue. Esquire typically sells 20,000 copies per issue at domestic retailers and ended up printing an additional 20,000 copies for the US, along with 34,000 copies for South Korea, where they typically sell 100 copies, and another 2,000 copies for Japan.

My friend purchased the Esquire from Amazon and all the way from USA to Indonesia. I did search on e-commerce Tokopedia to look for the price, and all put Pre-Order mode with the full-payment price around hundreds of rupiah and transported from USA or India. Coming soon for January 2021, BTS Army is looking forward for RollingStone and Dicon. For Rolling Stone the Pre-Order has been sold out already on Tokopedia. *clap, clap, clap

It is interesting to see how media has been using BTS for their business because usually is the other way around. Through out BTS history, mainstream media has been ignored them, worst sometimes been direspect them as the “outsider”. BTS does not bigger because of the conventional media, they are bigger because of their great strategy of business of horizontal connectivity with their Army through social media. It is the power of the Army that has push them to the surface of world “domination” (Jin said the world domination was not on their plan, and they just want to be respected). Once they are on the Billboard chart and speech on the UN, mainstream media put attention on them and look for the news worthy of BTS. The media wait for the momentum to publish the news of BTS, and as they predicted, BTS keep making a good momentum with awards, and Billboard Chart. We are all waiting for the Grammy announcement on January 2021 and BTS once again will dominating news.

I am not critizing anything. I am pretty sure a magazine like TIME put BTS article with news-worthy angle so does Esquire that emphasis the story around masculinity value that has been presented by BTS, or Variety with the issue of mental health and WSJ with IPO of Big Hit on October 2020. I just wish the media can dig more than just what already been discuss by others. Go deeper and look for more interesting angles of BTS, because from two months rough research I did, there are so much you can get from BTS and the Army. Put them as the subject with news worthy, help them to spread their value and not just because it is good for your business. Really.

Today is V, the stage name of Kim Taehyung, birthday. Among other members, he is the first visual that everyone can click and remember when they saw BTS for the first time. To me, V is also most interesting figure among them with his visual style. He breaks so many conventional and mainstream rules of what gender looks like. He wears make up, he loves women clothes and accessories. He makes everything looks neutral and everything fit perfectly on him. He has these duality that can be totally different but minggle at the same time. On the stage, I find V with his strong sex appeal but once I watch him on Run BTS or Bon Voyage or any live stream he has, he is just like a baby, a cute normal boy from my neighborhood.

He is impressive in term of art, easy to spot it on his lyrics, music, voice, paintings and his visual arrangement for the group. I am excited to wait for his Mixtape. He has this old soul and his music of classic jazz and soul is so close to mine. He coined Purple Heart or Borahae to express love from BTS to Army and vice versa. Today he will be 25 on Korean age or 24 years and it is going to be a long journey to come for V to reach all of his dream than what he already has.  With his assets, he is going to be bigger then today.

Happy birthday V, borahae. 

Rekomendasi buku 2020 yang bisa kamu baca 2021

Standar
Rekomendasi buku 2020 yang bisa kamu baca 2021

and they will annoyed you somehow.

1. Less is More – Jason Hickel. Tidak ada cara lain buat menyelamatkan masa depan bumi kecuali kita semua ambil jeda dari segala sesuatunya. Kita harus nge – set ulang cara kita berpikir, hidup dan bekerja. (https://nroshita.wordpress.com/…/berusaha-sekedarnya…/)

2. Humble Pi – Matt Parker. Matematika itu pelajaran paling saya musuhi waktu sekolah. Membaca buku ini membuat saya menyesal kenapa tidak serius belajar matematika karena semua yang ada di sekitar ini bisa dijelaskan olehnya. saya menyalahkan guru saya yang ga asik sih. Parker menjelaskan matematika dalam bahasa yang paling asik, btw, dia guru SMA loh. damn kenapa dulu bukan dia guru saya. (https://nroshita.wordpress.com/…/kesalahan-matematika…/)

3. Frenemies – Ken Auleta. Matinya agensi periklanan saat ini karena bersaing dengan para juragan digital seperti facebook, amazon dan lainnya. ya mati aja lu kalau ga mau kreatif dan beradaptasi (https://nroshita.wordpress.com/…/orang-tak-suka-iklan…/)

4. Human Network – Matthew O Jackson. Hello Kaum Privilese, ini buku tentang kamu. Mau sekeren apapun kamu kalau tidak punya status di masyarakat, susah sekali untuk maju. Semua ditentukan darimana kamu berasal (https://nroshita.wordpress.com/…/status-sosial…/)

5. Wellbeing, Resilience, and Sustainability – Jonathan Joseph, and J. Alister McGregor. Buku yang bakal mengganggu sekali buat kamu yang bergerak seperti saya di isu development. Kita ini beneran mau melakukan perubahan sesuai kebutuhan lapangan atau cuma pesanan donor cuy? (https://nroshita.wordpress.com/…/tiga-mantra-suci…/)

6. The Future is Asian – Parag Khanna. Buku terakhir tahun ini yang saya baca. Kita punya kesempatan untuk mendominasi politik dan ekonomi dunia, tapi secara bersamaan kita juga punya tantangan untuk menentukan, siapa sih sebenarnya orang Asia itu? https://nroshita.wordpress.com/…/masa-depan-milik…/

Segitu dulu…

Review buku di blog saya yang paling banyak dikunjungi tahun ini:

1. How Democracy Dies, tentu karena Anies

2. Manufacturing Consent – Noam Chomsky

3. Satanic Verses – Salman Rushdie

4. Metamorphosis Franz Kafka

5. The Book Thief oleh Markus Zusak

Masa Depan Milik Orang Asia. Review the Future is Asian – Parag Khanna

Standar
Masa Depan Milik Orang Asia. Review the Future is Asian – Parag Khanna

Dua minggu lalu saya mampir ke Periplus. Niatnya jelas, hanya jalan-jalan karena baru saja beli dua buku dari toko yang sama via admin. Di toko, saya yang mulai ngefans dengan BTS tertarik majalah Time edisi kolektor dengan sampul BTS. Tapi saya hitungan, apakah saya sebegitu cintanya dengan BTS sampai rela menghabiskan sekian ratus ribu? Kecuali ada alasan kuat untuk membeli majalah itu. Saya beralih ke rak buku keluaran terbaru dan menemukan buku ini The Future is Asian. What a…

Keluar toko dengan dua majalah dengan sampul BTS dan tiga buku baru dan senyum mencrang di wajah. Saya tahu di sinilah semuanya akan dimulai. Buku ini akan membuka jalan untuk melihat Asia dengan cara berbeda dari sudut bernama BTS. Begitu sudah sederetan rencana lanjut studi S3 tuh muncul.

Buku ini secara umum menyenangkan untuk dibaca dan memberikan banyak insight baru yang selama ini, kita disajikan cerita tentang Asia dari kacamata barat. Khanna membukanya dengan sejarah Asia. Oh iya, kata Asia itu warisan kolonialisme ya, harap pahami. Begitu juga dengan istilah Timur Tengah. Asia itu luasnya hampir 2/3 daratan bumi dataran Rusia, Cina, hingga Australia, melintasi sebagian Turki, Iran, Irak, Qatar, lalu di Asia Selatan. Sejak ratusan tahun lalu, Asia menguasai peradaban, ilmu sains sampai perdagangan sutera dan rempah. Sejarah besar itu bergeser ketika Eropa menguasai revolusi industri dengan mesin uap dan mulainya penjelahan dan penjajahan. Hingga perang dunia kedua, bom nuklir yang meyudahi dan membuka perang dingin ideologi antara patron Rusia dengan komunisme dan Amerika Serikat beserta sekutunya Eropa, Canada dan Australia dengan ideologi demokrasinya.

Post kolonialisme, negara-negara di Asia berusaha untuk bangkit membenahi dirinya sendiri. Indonesia dan beberapa negara asia dan afrika menyatakan diri dalam kumpulan non-block karena tak ingin terjebak pada patron Rusia dan Amerika. Hingga hari ini pun, sebenarnya baik demokrasi maupun komunisme yang ada di Asia tidak hitam putih seperti yang digambarkan dalam teks-teks pandangan barat. Selalu ada penyesuaian dengan nilai nasional dan secara umum, negara-negara di Asia sangat menghormati kekuatan hubungan kekeluargaan dan komunitas. Sekalipun berbeda budaya, nilai di negara masing-masing, ancaman buat Asia bukan pada ideologi tapi pada teritori seperti kawasan semenanjung korea, laut cina selatan, perbatasan Pakistan India adalah di antara kawasan-kawasan yang selalu dalam situasi tegang. Amerika, adalah penyedia layanan terutama keamanan bagi negara-negara di kawasan ini. Itu pun perannya semakin terkikis karena masing-masing negara punya caranya sendiri untuk mempekuat pertahanan. Asia kata Khanna, tidak punya ambisi untuk menjajah negara lain, seperti eropa dan amerika, buat Asia respek sudah cukup, untuk tidak saling ganggu.

Asia ini populasinya 5 juta orang dengan usia ratarata masih berada di usia produktif yaitu sekitar 20-30 tahun. Sementara belahan dunia lain seperti eropa dan amerika mengalami isu aging yaitu berkurangnya generasi muda sebagai angkatan kerja, Asia masih berlimpah. Sekalipun Jepang dan Cina punya isu yang sama, tetangga mereka seperti Indonesia, Filipina dan negara-negara Arab bisa menutupi kekurangan tenaga kerja di masa depan.

Bicara tentang generasi muda Asia, isu ideologi tidak lagi jadi perhatian. Hubungan antar budaya semakin liat melebihi teritori. Khanna menyebutkan ekspor budaya dari India, Korea Selatan, Cina dan Jepang membuat prejudice – prejudice generasi sebelumnya semakin terkikis. Salah satu contoh yang menarik adalah semakin banyak generasi muda Jepang yang belajar di Korea karena pengaruh K-Pop dan mereka tak lagi peduli pada prasangka dan permusuhan yang selama ini dipelihara orang tua mereka. Asimilasi lewat perkawinan antara negara juga melunturkan sekat di antara negara-negara Asia.

Asianomics berbeda dengan neoliberalisme atau kapitalisme ala barat. Pasar buat Asia bukan master tapi partner, neomerchantalisme adalah model yang dilakukan oleh Cina. Kapitalisme yang dibayang-bayangi oleh kekuasaan pemerintahan. Negara-negara asia semakin mempererat hubungan di antara mereka terutama pada sektor pangan dan energi karena kebutuhan asia adalah yang terbesar di dunia yaitu 80%. Investasi Cina di Afrika dan Eropa semakin besar, sebaliknya Uni Eropa masih jadi investor terbesar di Asia Tenggara disusul Jepang dan Cina. Asia selalu menemukan cara untuk membangun hubungan pasar dengan negara lain tanpa perlu merasa takut dimusuhi Amerika.

Secara keseluruhan buku Khanna ini memberikan gambaran positif tentang masa depan Asia dan orang-orang Asia untuk mendominasi geopolitik dan ekonomi dunia. Saking positifnya ya, buat saya Khanna ga begitu sensitif terhadap isu yang juga besar di asia terutama tentang pelanggaran hak asasi manusia dan perubahan iklim, kecuali kalau dia lihat dua isu juga hanya bagian dari atensi barat saja. Di bab 9 saya mulai terganggu dengan alternatif yang dia tawarkan, bahwa kalau Asia sebenar-benarnya ingin besar, maka model demokrasi yang sekarang ini harus diubah. Itu betul, demokrasi Asia itu demokrasi oligarki, menguntungkan kelompok tertentu, keluarga, nepotisme, demokrasi yang corrupt dan bahwan demokrasi barter, beras sekarung ditukar suara di kotak pemilu. Tapi usulan techocracy sebagai pengganti demokrasi buat saya mengganggu terutama karena contoh yang diberikan adalah Singapura dan Cina yang catatan tentang HAM nya bukan sekedar isu sampingan. Bagaimana teknologi penilik aka surveillance dia anggap mampu menyelesaikan korupsi karena kemudian pemerintahan bisa berjalan secara transparan buat saya juga mengerikan. Bagaimana dengan hak privasi orang, kebebasan berpendapat, berekspresi dan bagaimana teknologi juga membuat jurang ketidakadilan bagi warga negara juga harusnya dia sentil di dalam buku ini. Menyelesaikan masalah negara tidak bisa selesai dengan satu sisi, mengambil teknokrat sebagai pemimpin dan mengatur negara dengan teknologi, manusia kan bukan mesin, budaya liat terus berubah. Ini seperti sebuah benturan dari keseluruhan buku dari bab awal, begitu di bab terakhir, saya seperti merasa antiklimaks, gubrak. Nevertheless, ini buku penting dibaca untuk membuka perspektif berbeda terutama untuk yang selama ini hanya membaca teks-teks dari perspektif barat.

Kembalikan Komunikasi Politik Pada Jalurnya. Review Media, Democracy and Social Change oleh Aeron Davis, Natalie Fenton, Des Freedman, Gholam Khiabany

Standar
Kembalikan Komunikasi Politik Pada Jalurnya. Review Media, Democracy and Social Change oleh Aeron Davis, Natalie Fenton, Des Freedman, Gholam Khiabany

Buku ini ditulis oleh empat dosen favorit saya saat studi S2 di Goldsmiths University of London 2015 – 2016. Tentu saja saya bias, karena bukan hanya saya akan bilang buku ini bagus tapi juga sangat perlu untuk dibaca. Buku ini jadi bacaan wajib buat kamu yang bergerak seputar isu politik, dan media.

Saat membaca buku ini, pilkada berlangsung dan pemenangnya sudah bisa ditebak. Distribusi kekuatan politik sangat terbatas pada keluarga penguasa. Saya cukup ehem aja. Lalu media utama hingar bingar tapi tak berani kritis, sekedar mencari click bait untuk bisa bertahan hidup. Hampir dalam waktu berdekat, seorang kawan yang biasa menuliskan newsletter seputar isu hutan bertanya betapa susahnya mendapatkan berita tentang lingkungan di media arus utama. Jawaban saya, lihatlah pemilik medianya, apakah bagian dari perusak lingkungan yang sedang kamu monitor itu? dia lalu tertawa. Komunikasi politik kita sudah buruk rupa sejak dikuasai para influencer dan buzzer sementara media arus utama ompong sebagai pilar demokrasi.

Membaca buku ini memang seperti mengantarkan saya kembali ke ruangan kelas. Keempat dosen saya itu tidak pernah bawa buku dan memaksa kita membaca di kelas. Bacaan itu sudah diberikan di awal semester dengan kalender bahasan mingguan. Jadi dosen hanya datang dengan sebuah pertanyan besar. Misalnya seperti di bagian satu, tentang berpikir kritis yang ditulis Fenton. Berpikir kritis itu apa sih? Kritis itu artinya explanatory – bisa dijelaskan, practical – bisa diterapkan, dan normative- berpikir normatif sesuai dengan norma yang berlaku. Kita bisanya berpikir kritis hanya terbatas pada penjelasan atau teori tapi ga bisa diterapkan apalagi disesuaikan dengan konteks yang ada.

Buku ini mengritik bagaimana para intelektual merayakan berlebihan kemajuan teknologi informasi, dunia digital untuk melakukan sebuah perubahan. Tapi mereka lupa, siapa yang memegang kekuasaan dan kekuatan di balik itu? apa motif politik dan ekonomi yang dimiliki oleh para penguasa IT dan apakah mereka merasa ikut bertanggungjawab telah memecah belah  publik saat Brexit di Inggris Raya dan Pemilu Amerika yang memenangkan Trump? Bagaimana dengan mereka yang tidak punya akses pada internet? big data yang dirayakan semua orang itu hanya infrastruktur, sebuah alat untuk menyampaikan pesan. Tapi pesan apa dan kepada siapa, itu harus jadi titik kritis kita. Bahwa big data itu meluaskan ketidakadilan bahkan rasisme itu sudah banyak dibahas oleh para pemilkir. Tapi yang suka lolos dari perhatian adalah peran pemerintah. Di dalam demokrasi, apapun yang terjadi, pemegang kekuasaan tertinggi kan tetap pemerintah, maka kembalikan semua ini kepada “power” dimana kekuasaan itu berasal dan berada? Bahwa tidak ada yang akan lolos dari dampak sebuah kebijakan publik yang dibuat, karena itu tidak mungkin kita bisa abai terhadap apa yang mereka lakukan.

Masih tentang infrastruktur media, yaitu kekuatan digital, aktivisme klik, kita harus kritis pada semua gerakan sosial yang muncul di media sosial. Adakah yang benar-benar berdampak dan berkelanjutan? Sebut saja #blacklivesmatter #metoo #occupywallstreet apakah benar telah sampai mengubah sebuah kebijakan yang berdampak luas dan dalam jangka waktu lama?

Aeron Davis di bab 5 mempertanyakan peran partai politik sebagai kendaraan demokrasi. Apakah demokrasi bisa berjalan tanpa partai politik yang sudah bergeser fungsinya menjadi manajemen artis – istilah ini dari saya ya? Partai politik dikuasai oleh konsultan politik yang lebih sibuk menyiapkan persona politikus ketimbang menyerap aspirasi lokal yang mereka wakili dan menyiapkan agenda politik. Ketika kampanye pemilu dilakukan, dana partai politik habis untuk membeli media kampanye ketimbang turun ke lapangan untuk melakukan diskusi publik. Apakah teknologi tidak cukup untuk menyerap aspirasi? Pernahkah kita tanya, apakah pertemuan virtual itu memungkinkan setiap orang bicara dan didengarkan seperti prinsip utama demokrasi?

Tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan dan partai politik turun dratis di negara penganut demokrasi. Jika tidak ada perubahan dilakukan dari pola operasional partai politik, maka bukan tidak mungkin revolusi dan pembangkangan publik akan terus terjadi. Sudah waktunya berpikir tentang alternatif perbaikan sistem demokrasi yang ada.

Buku ini tidak memberikan alternatif untuk kembali ke sistem sosialisme secara gamblang, tapi secara kritis mengingatkan kita kembali pada prinsip awal demokrasi, tentang keadilan bersama, bahwa kekuasaan tertinggi ada pada rakyat dan demokrasi bukan melulu tentang pemilu, harusnya demokrasi itu adalah sebuah pilihan gaya hidup yang dipraktikan sehari-hari. Tapi siapa yang kemudian menguasai kekuasaan? Dalam sistem demokrasi dengan prinsip neoliberalisme, media hanya sebuah enabler untuk propaganda. Media menjadi alat melanggengkan kekuasaan yang dimiliki oleh kelompok yang sama dengan penguasa ekonomi.

Tawaran solusi dari buku ini adalah kembalikan kekuasaan utama itu pada publik, distribusi kekuasaan kepada skala yang lebih kecil yaitu komunitas. Bagaimana media bisa dimiliki bersama oleh stakeholdersnya – atau publik melalui kooperasi agar nilai jurnalistik tidak dikuasai kepentingan pemilik modal. Media harus berani kritis dan kembali untuk kepentingan publik, mereka yang tidak memiliki kekuasaan atau kekuataan bahkan tertinggal, terpinggirkan kepentingannya. Partai politik kembali ke lapangan untuk menyerap aspirasi lokal konstituen yang diwakilinya. Sedangkan para akademisi dan kaum intelek, harus ikut memberikan solusi bukan dengan menjaga jarak dari publik, tapi terlibat untuk kepentingan bersama. Sangat mudah bagi akademisi terjerumus dalam jurang politik dan perebutan kekuasaan, tapi  mereka harus kembali pada cita-cita mulia untuk “menentang” hegemony kekuasaan, berani bicara benar dan membela kepentingan publik.

Buku ini belum masuk ke Indonesia tapi bisa dibeli online di periplus.com butuh 40 hari kerja untuk bisa ke tanganmu dari London. Ahai tepat sekali, emisi saya dari buku ini besar sekali.