200 Hari Menjaga Kewarasan

Standar
200 Hari Menjaga Kewarasan

Hore! Sampai di hari ke 200 masa pandemi, saya masih waras, sehat lahir dan batin. Saya masih di sini, dikelilingi oleh orang-orang tercinta, suami, kucing, tanaman, keluarga Cimahi dan Cinere, para sahabat yang selalu saling menjaga dan kerabat, sanak saudara juga kolega. Saya diberkati satu ponakan/anak baru, Azki yang hari ini usianya genap 1 bulan. Jadilah anak-anak karantina yang kuat, tabah dan penjaga bumi yang setia setelah semua ini berakhir.

Sama sekali bukan perkara mudah untuk menjaga kewarasan dan kesehatan fisik sepanjang 200 hari ini. Pernah muncul keinginan untuk menyudahi rumah tangga, pernah ingin pergi dari semua hal dan memulai lagi dari awal lagi segalanya. Merasa putus asa, merasa tak akan sanggup melalui semua ini. Semakin orang menyarankan sabar, kembali pada tuhan dan meditasi, semakin saya merasa terpuruk. Gaslighting dari sekitar, bahwa saya begitu lemah, cengeng, pendosa itu nyata. Bahwa kalau saya kalah dan menyerah, itu semata-mata salah saya. Meski tak langsung bilang ke saya, tapi menyatakan bahwa, it is not that bad to stay home, is one of the gaslighting that you give to others. Karena tak semua orang merasa hal yang sama. Begitu sedikit waktu yang dipunya, semakin jauh dari diri sendiri. Harusnya tidak seburuk ini, seharusnya saya bisa bangkit, kita semua bisa bangkit dan embracing this change.

Saya tak sendiri, 64,3% masyarakat mengalami cemas dan depresi karena Covid-19, begitu kata Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dikutip dari Tirto.id Juli 2020, angkanya bisa jadi hari ini semakin tinggi. Bagaimana tidak cemas, bapil yang dulu penyakit harian yang dianggap biasa, sekarang bisa jadi awal kematian. Mulai dari tak bisa tidur, kehilangan minat terhadap apapun, kekhawatiran akan tertular, khawatir pada kesehatan ibu dan mami yang sudah tua. Setiap hari akang pergi untuk sekedar beli ina inu seperti dia pergi ke medan perang, barangkali sama perasaannya saat melepas saya kerja ke Jakarta. Ketika Azki lahir, antara bahagia dan kesedihan luar biasa, bahwa dunia tak sedang baik-baik saja nak, bagaimana kami harus menyiapkan masa depan yang lebih baik untukmu besok hari.

Air mata jatuh tak terbilang banyak dan seringnya. Setiap hari ada saja berita duka mampir di media sosial. Dekat atau tidak dengan orang itu, saya tetap merasa sesak. Begitu dekat virus itu di sekitar saya. Kita tak lagi bisa melacak darimana datangnya dan kapan dia akan membawa kita pergi. Ini seperti cerita Venom, virus mencari “host” yang tepat untuk tumbuh bersama dengan manusia, jika tidak, dia akan memakan habis sel-sela di dalam tubuh calon hostnya. Hari ini dunia mencatat 1 juta orang meninggal karena COVID-19. Al fatihah untuk semua, semoga Allah mencukupkan surga untuk semua.

Saya marah. Marah pada politisi yang menjadikan pandemi sebagai taman bermain kekuasaan. Tertawa-tawa di atas kematian satu per satu nyawa warganya. Menganggap remeh sejak awal, mengatasi pandemi dengan ekonomi bagi-bagi kuasa, menyerahkan urusan kesehatan pada intel bukan medis, kenapa tak sekalian tembak aja virusnya bersama manusia si penderita. Saya marah pada politisi yang tetap berkumpul tanpa masker dan tertawa-tawa mengabadikan momen. Saya marah karena bukan pil penyelamat yang diutamakan tapi pilkada yang dijalankan. Bahwa virus ini menunjukkan wajah aseli kekuasaan negeri yang tak peduli pada masa depan warganya. Saya marah sampai kehabisan kata. Kalau besok saya tiada, bukan karena saya tak berdaya, tapi saya ditiadakan oleh sistem yang gagal mempertahankan saya untuk tetap ada.

Kesalahan Matematika Sehari-hari . Humble PI – Matt Parker

Standar
Kesalahan Matematika Sehari-hari . Humble PI – Matt Parker

Suatu hari dalam sebuah acara seminar bersama mahasiswa, kawan bertanya pada temannya, “sejak sekolah saya selalu bertanya, apa sih gunanya belajar matematika. Selain tentang angka, menambah, mengurangi, membagi dan mengalikan, apa gunanya? Kayak trigonometri, emang ditanya bagaimana mengukur tinggi gunung dalam sehari-hari?”

Setelah membaca Humble Pi, saya jadi tersenyum sendiri. Setiap hari adalah matematika, secara kita sadari atau tidak. Bukan sekedar belanja, jajan dan mengukur jarak dari rumah ke lokasi meski bisa lihat aplikasi. Bagaimana jalan dibangun, dan bola disepak, itu semua dihitung dengan cermat pakai rumus matematika. Lalu saya merasa menyesal tak belajar matematika secara serius dulu waktu sekolah. Saya suka, tapi sekitar saya tak menyemangati saya untuk meneruskan itu. seperti Matt Parker, si penulis buku ini bilang, ahli matematika atau mathematican itu bukan orang pintar dengan angka dan melihat matematika itu hal mudah, justru sebaliknya. Dia adalah orang yang melihat matematika sebagai barang yang sulit dipecahkan dan dia tak boleh menyerah karenanya. Barangkali di situ, saya orang yang gampang menyerah.

Parker ini bekas guru SMA di Australia yang migrasi ke Inggris. Pada bagian propabilita, dia bercerita bagaimana setiap hari memberikan PR kepada siswanya untuk melempar koin sebanyak 100x. Hitung berapa kali gambar kepala dan buntut atau ekor yang ada di atas.  Dari PR itu saja, kata Parker, dia bisa lihat berapa anak yang curang dengan hanya memasukan angka, dan mereka yang jujur melakukannya sebanyak 100x. Manusia itu sulit disuruh random, jadi akan selalu kelihatan berpola dan itu yang diterjemahkan dalam algoritma. Saya manggut-manggut membacanya. Iya juga. Hidup kita itu sangat mudah ditebak dan terjebak dalam rutinitas.

Masih dalam probabilita, Parker menantang istilah “memang sudah jodoh dan takdir” dengan hitungan matematika. Contoh yang dia ambil, pasangan yang bertemu di waktu dewasa ternyata pernah punya sejarah ada di foto yang sama ketika mereka sama-sama kecil. Keduanya tak saling kenal waktu kecil dan ada di frame sama sebuah foto di kerumunan. Apakah itu artinya jodoh? Parker bilang, itu probabilita. Kita tergabung dalam 1 komunitas besar bernama masyarakat, ada berapa jumlah anggotanya, dan hitung berapa kemungkinan kita bertemu satu sama lain? Semakin kecil jumlah angka pembaginya, semakin besar angka kemungkinan itu. Saya lagi-lagi tertampar. Saya bertemu dengan suami di sebuah percakapan di grup regional Bandung. Ada sekitar ratusan orang di sana, maka bisa dihitung berapa besar kemungkinan saya bicara dengannya lalu menjadi dekat. Dia yang seharusnya orang asing, ternyata tidak juga. Kakaknya ternyata kawan dari Eci karena mereka satu kampus di Bandung. Secara matematika, kita tak pernah benar-benar “asing” satu sama lain.

Parker juga menceritakan bagaimana kita tak boleh meremehkan hitungan teknis dalam sebuah benda karena bisa mengundang bahaya. Tentang jembatan yang tidak dihitung dengan baik kekuatannya menampung kendaraan dan gerakan yang melintas, menyebabkan dia ambruk. Tentang mur jendela pesawat yang lepas lalu manajer yang tak menemukan mur yang seharusnya lalu menambalnya dengan mur yang ukurannya paling dekat. Bedanya hanya sepersekian milimeter tapi kesalahan itu mengakibatkan jendela pesawat lepas saat di udara.

Parker juga memprotes gambar sepakbola yang menjadi marka lalu lintas di Inggris. Sepakbola itu hanya digambar dengan hitungan asal, semuanya bergambar pentagon atau prisma segilima yang kalau menurut matematika itu tidak mungkin menjadi bola kecuali permainan menggunakan bola berbentuk donat. Bola dalam permainan sepakbola adalah hitungan jumlah petagon dan hexagon.

Parker mengkritik excel yang “semena-semena” membulatkan angka desimal sementara angka desimal yang banyak di belakang koma itu tetap angka dan punya nilai. Kita juga telah salah menghitung hari dalam setahun karena sistem pembulatan ini.

Buku ini juga didesain ajaib dalam halaman yang dihitung mundur. Buka lembar pertama itu adalah angka 314 lalu mundur hingga halaman 1. Saya langsung merasa pening, bagaimana bisa mengutip buku ini dengan “benar” kalau halamannya tidak biasa dibuat.  Lalu pengantar itu disebut sebagai bab “ZERO” dan daftar isi tentang desimal ya dibuat desimal. Antara 9 ke 10 itu ada 9, 01 dan seterusnya. Buku ini seru karena tidak pernah bertemu dengan model penyusunan seperti ini. Buku yang mengajak saya memerhatikan hal-hal “kecil” sekitar kita tapi punya dampak yang besar. Saya jadi semakin mencintai angka lebih dari sekedar deretan angka di rekening bank.

Hening yang Terbit Tanpa Keriaan

Standar
Hening yang Terbit Tanpa Keriaan

Hening novel kedua saya akhirnya muncul di Google Playbook dan masih berstatus Pre-Order karena jadwal resmi terbitnya adalah 13 September 2020 nanti. Siapa yang menentukan, ya saya sendiri, namanya juga Self-Publishing featuring Google Playbook. Setelah Hening saya munculkan di Facebook, ada banyak pesan bertanya, bagaimana caranya? Kasih tahu ga ya? 🙂

Hening itu novel yang sangat personal buat saya. Bagian mana yang paling dekat sama saya, tentu akan terasa oleh pembacanya. Ada satu bagian tentang persahabatan semasa kecil dengan seorang kawan yang sekarang sudah meninggal dan saya merasa harus diabadikan dalam sebuah cerita. Kepada kawan ini saya berhutang banyak, dia yang menemani saya dewasa, dan saat dia meninggal saya sedang tak ada di sisinya. Novel ini saya dedikasikan untuk sahabat kecil saya Imron Rosadi.

Hening juga terbit tanpa gegap gempita dan keriaan seperti TUN 2013 lalu. Seperti namanya, novel ini terbit dalam Hening. Sejak awal pandemi ramai dan kita semua mendekam di rumah saja Maret lalu, saya sudah bilang pada calon penerbitnya, “Ra, Hening mau gue terbitin e-book aja ya.” Alasan pertama karena saya memang tak ada modal untuk mencetak secara hardcopy. Alasan kedua yang tak kalah pentingnya, ya supaya orang ga usah bela-belain ke toko buku cuma buat Hening, atau saya mesti ke TIKI dan kawankawannya untuk mengirimkan buku pada pemesan. Jangan sampai ada acara peluncuran buku yang offline supaya ga kumpul orang-orang dan yang penting, e-book lebih mudah diakses siapapun dimanapun. Belajar dari TUN yang diminta oleh kawan di Amerika terus saya manyun lihat harga ekspedisinya.

Hening adalah antitesis saya yang mencoba melawan kejayaan Google. Pada akhirnya saya menyerah pada Google karena memang memudahkan semua hal yang saya sebut di atas. Menerbitkan Hening sama sekali ga keluar uang, hanya butuh 12 hari deg-degan menunggu keputusan hasil review Google untuk legalitasnya dan mencegah plagiat. Di Google Playbook saya bisa membaca pergerakan uang masuk, ada berapa yang laku. Bukan pada jumlah uangnya, tapi pada transparansi proses transaksinya. Meski saya sedang bunuh diri dengan memasukkan rekening dalam rekaman big data mereka. *tetep. Kenyamanan memang harus dibayar sangat mahal dengan privasi dan saya sadari itu.

Beberapa bulan sebelum Hening terbit, kawan bertanya “mana yang lebih penting, uangnya atau pembacanya? Hasil penjualan atau karena pengen dibaca banyak orang?” terus terang sampai hari ini saya belum bisa membayangkan akan bergantung hidup dari menulis novel, meski pada 2045 saya berharap bisa menjadi Haruki Murakami Indonesia, boleh dong bermimpi. Tapi kalau kemudian membagikan gratis Hening atau menaruhnya di WordPress begitu saja, akan rentan diambil dan diklaim jadi karya orang lain. Saya sedang mencegah orang lain berbuat curang. Terinspirasi itu baik, mencontek dan plagiat itu haram! Maka dengan Google Playbook, hak cipta saya terlindungi lewat kode GGKey dan bukan ISBN – karena ISBN hanya diberikan kepada penerbitan terdaftar, saya lagi-lagi pejuang kesepian tssaaah, mau nulis the lone fighter. Hening memang jadi percobaan buat saya untuk mandiri, self publishing, ya bukan siapa-siapa, tidak punya massa yang bisa digerakkan untuk membelinya. Semacam tantangan, kalau selama ini saya membantu orang berstrategi jualan, kalau  jualan karya sendiri, bisa nggak ya? dan sampai hari ini belum nyusun strateginya dooong.. *toyor

Untuk yang ingin menerbitkan buku lewat Google Playbook, silakan masuk dulu ke aplikasi itu dan ikuti saja petunjuknya, Mbak Google hadir untuk memudahkan kita kok dengan bayaran privasi, please note it.

Sedikit promosi lagi, Hening adalah tentang kegelisahan para mantan aktivis 98 yang kecewa pada jalannya reformasi yang lamban terwujud. Masuk sistem dong supaya bisa melakukan perubahan, tapi nyatanya, tak ada. Cerita tentang Stockholm Syndrome, orang-orang yang jatuh cinta pada para penculiknya, para penguasa yang dulu mereka caci maki tapi berbalik “jatuh cinta”. Tentang mata-mata yang ada di sekitar kita.

Yang sudah baca tolong tinggalkan komen di sini atau dimana yang bisa saya baca ya. Please jangan memberikan komentar semata hal baik karena saya takkan bisa berkembang dengan pujian, hidung saya saja nanti yang akan kembang kempis. Saya mau jadi Haruki Murakami, bantu nyok…perjalanan masih jauh banget.

Di ini linknya ya https://books.google.co.id/books?id=xAb5DwAAQBAJ&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=false (tetap promosi)

Perjalanan Melahirkan Novel Ketiga

Standar

Setiap kali menulis novel, meski baru ketiga, selalu ada pengalaman yang menarik dan berbeda satu sama lain. Di novel perdana TUN yang berhasil membuat pembacanya gemes di ujung cerita, kesel sama tokoh perempuan yang menye itu, yang artinya saya berhasil membangun karakter, saya lebih banyak terjebak pada riset. Kritik yang membangunkan saya adalah, too much detail! Kayak jurnalis lu. Novel pertama itu “pesanan” seorang kawan di Myanmar yang ingin saya mengenalkan cerita Mynamar di Safron Revolusi, tentu saja dengan balutan cinta agar mengalir dan menarik, kesampaean ga ya?

Novel kedua, Hening, sempat tertunda selama 5 tahun. Kali ini bukan kebanyakan riset, tapi saya jatuh cinta pada karakter yang dibuat, anjrit banget. Tapi saat menjaga jarak dengan tokoh fiksi ini, saya malah terbawa kehidupan nyata, ya kerja, ya sekolah. Setelah duduk manis di depan laptop dan diniatkan banget untuk menulis, eh kelar tuh semuanya dalam waktu satu bulan. Semua memang tergantung niat. Tssaaah.

Novel yang baru lahir setengah jam yang lalu, masuk dalam generasi karantina, novel covida. Kelamaan di rumah, membuat saya banyak marah, emosi naik turun, sering naiknya daripada turun dan semua itu harus disalurkan. Salah satu yang saya targetkan adalah menyelesaikan satu novel.

Bulan Mei, menuliskan kerangka awal dalam folder tersendiri di laptop. Saya biasa membuat judul awal supaya cerita tetap fokus pada judul dan ga meleber kemana-mana. Mei – Juli tidak maju-maju dari bagian I. Ternyata menulis di masa karantina tidak lebih mudah daripada menulis Hening saat sibuk kerja menderu. Di masa karantina ini pergulatannya pada kewarasan dan perjuangan menjaga emosi. Hari-hari di tempat yang sama, tak ada orang-orang yang lalu lalang yang biasanya menambah inspirasi. Novel ketiga ini beneran lahir di dalam gua, subuh buta, sendirian, penuh emosi di luar cerita. Drama di dunia nyata yang kadang bikin saya ingin banting laptop, tapi tentu merasa rugi. Kacau lah pokoknya, ada ratusan alasan untuk menyerah.

Persis ketika ingin menyerah, teman memberikan hadiah, ikutan workshop Kaizen Writing bersama Dee Lestari di Agustus ini. Kata pertama dari Dee yang akhirnya benar-benar menampar saya, dan membangunkan lagi semangat yang hampir mati, adalah TAMAT! Percuma tuh mengaku penulis tapi tak pernah menamatkan cerita. Sebuah karya baru akan jadi karya kalau dia mencapai kata TAMAT! Bagaimana mencapai kata Tamat itu yang disampaikan Dee dalam workshop ini dan saya tidak akan mengulasnya dengan detail. Kamu harus ikutan dan merasakan sendiri perjalanannya. TAMAT itu bukan deadline, tapi birthdate – sebuah kelahiran.

Dari Dee saya belajar untuk berpikir sistematis, menangkap dan merawat ide dengan penuh kasih sampai dia membentuk menjadi sebuah karya tulisan, apapun itu. Istilah kalkulator kata juga jadi salah satu yang paling menohok. Jadi yang harus dilakukan di awal adalah menentukan kapan tanggal kelahiran sebuah karya aka memunculkan kata TAMAT, dan berapa banyak kata yang ditarget. Lalu untuk pengerjaannya, hitung mundur dari target kata dan dibagi berapa hari kerja yang mau dilakukan.

Untuk bayik ketiga bernama sementara “Kala Kelabu di London” ini hari lahir ditargetkan 31 Agustus 2020 dengan jumlah kata 40.000. Saya berani menargetkan waktu itu karena sudah punya modal awal dan sisa jumlah kata dibagi perhari dengan target 1000 kata dan bekerja 2 jam perhari. Tapi setelah dijalani, ternyata kecepatan menulis fiksi saya adalah 1000 kata per jam! Woohoo, tapi dengan catatan bebas distraksi. Alhasil, bayik ketiga lahir lebih cepat, hari ini 17 Agustus 2020, hari kemerdekaan Indonesia ke 75 tapi isinya totally bukan tentang kemerdekaan, dan dengan jumlah 43.838 kata.

Rasanya plong, hampa, persis seperti saat kelar baca sebuah buku yang menarik. Terus apalagi ya? Dee bilang, tinggalkan saja dulu, biar kata-kata itu berfermentasi sebelum masuk ke proses penyuntingan awal. Pas! Minggu ini banyak libur, ya libur kerja, ya libur menulis. Saya mau bersenang-senang setelah bayik ini menguras banyak emosi dan penuh drama selama pengerjaannya.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya mau menjawab beberapa kawan yang juga ingin menulis tapi ga kelar-kelar, boro-boro kelar, masih dalam angan malah. Jiah… gini loh, memulai itu memang sulit, tapi jangan terus ga dijalanin. Tulis saja dulu, tulis semua yang ingin kamu tulis. Tapi karena ini menulis untuk orang lain, bikin kerangka agar tak melebar dan bukan sekedar tulisan bebas. Dee mengajari saya untuk berprasangka baik dengan pembaca, artinya tidak semua hal detail perlu saya tulis dan jelaskan. Ini bukan jurnal ilmiah. Juga jangan memikirkan tanggapan orang lain tentang tulisanmu. Sebuah karya itu subjektif kok, tergantung selera orang. Buat A mungkin karyamu seringan kapas dan memuakkan, ih biar sih, ga usah dibaca. Buat B, karyamu mengubah cara pandangnya soal dunia, tssaaah.

Buat saya, menulis adalah mengabadikan kenangan. Setiap novel yang saya tulis selalu ada cantolan kenangan yang ingin saya abadikan, dan tentu saja dibalut imajinasi. Bayik ketiga, saya buka rahasia, memang ditujukan untuk bercerita tentang epilepsi dan demensia. Dua hal yang sangat dekat dengan saya beberapa tahun ini. Kedekatan dengan tema bisa merugikan, tapi buat saya lebih banyak menguntungkan karena ada rasa yang hidup di dalam tulisannya.

Okay waktunya bersenang-senang, makan enak….buku peta cerita

Manusia Bukan Tikus Percobaan. Review Lab Rat karya Dan Lyons

Standar
Manusia Bukan Tikus Percobaan. Review Lab Rat karya Dan Lyons

Biasanya saya tak berasumsi sebelum membaca tuntas, tapi membaca bab-bab pertama buku ini, saya berasumsi Dan Lyons ini bombers yang memang ga sanggup ada di kehidupan milienial dan generasi Z yang cepat, berlari, hajar, minta maaf kemudian. Lyons ini dalam bayangan saya adalah staf atau bahkan manajer yang tua yang gagap teknologi, tidak tahu bagaimana “Mute” microphone dan letak kamera pada laptop. Persis cerita-cerita kawan di awal Work From Home saat semua harus beradaptasi dengan teknologi secara cepat. “Oi matiin dulu mic nya kalau ga ngomong,” “oi, matiiin kamera. Lu ngupil ditonton semua orang,” dan seterusnya.

Tapi kemudian saya jelas berubah pikiran dong, itulah fungsinya buku bukan, mengubah asumsi. Lyons menggambarkan bagaimana kejamnya kehidupan di perusahaan perusahaan start ups berbasis teknologi di Silicon Valley. Prinsip Move Fast, Break Things itu terjadi juga dalam tim kerja. Turn over yang tinggi dianggap sebagai konsekuensi dari bisnis yang bergerak serba cepat ini, gaslighting membuat si karyawan merasa bahwa kesalahan sepenuhnya ada di dirinya, dibuat merasa bodoh dan tak berguna dan tak mampu bersaing dengan mereka yang muda. Soal pesangon jangan ditanya, tak ada. Tak ada asuransi, tak ada kepastian masa depan, apresiasi itu taik kucing. Manusia-manusia di dalam start-ups kata Lyons tak ubahnya tikus-tikus percobaan di laboratorium. Berbagai eksperimen dijejalkan kepada mereka, manajemen start-ups memaksa orang mengikuti pola yang berubah-ubah sesuai anjuran para konsultan manajemen start-ups yang tak juga melihat karyawan sebagai manusia tapi sebuah beban produksi yang harus dipacu agar profit tercapai.

Apa sih tujuan orang keluar dari perusahaan lama lalu membuka bisnis sendiri? Freedom, kebebasan untuk berkreasi dan bebas dari tekanan rutinitas terlebih karena ingin menjadi manusia seutuhnya. Tapi begitu perusahaan mulai jalan, mereka persis berlaku seperti mantan-mantan bosnya. Angka bunuh diri dan depresi sangat tinggi di Silicon Valley dalam usia mereka yang tergolong muda, dan itu menyedihkan.

Ada banyak start-up yang mencoba melawan arus dan mereka biasanya punya latar belakang bukan elitis, yaitu kulit putih, menengah ke atas dan lulus Stanford. Ada dua yang masih saya ingat yaitu Q dan Basecamp yang mencoba tetap membuat usaha mereka bisa memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pegawainya. Kalau bos mu bertanya tentang keluarga, anak atau pasanganmu, bahkan hapal nama anakmu, dia adalah bos yang bener. Memanusiakan bawahannya dan menganggap perusahaan sebagai sebuah usaha bersama dan setiap anggotanya merasakan hasilnya. Ini berbeda dengan start-up umumnya yang bilang “kita ini tim bukan keluarga,” man, itu salah banget. Justru dengan memerlakukan staf sebagai anggota keluarga, lalu mereka menganggap sebagai rumah bersama, maka mereka akan bersungguh-sungguh mempertahankan rumah dari keruntuhan, caranya? Bekerja lebih produktif dan kreatif. Sebaliknya memperlakukan karyawan sebagai budak, itu hanya akan membuat karyawan muak, bekerja tidak efektif, lebih sering sakit daripada sehat. Cepat atau lambat perusahaan akan terdampak. Mengganti saban saat karyawan itu bukan jawaban, ongkosnya justru lebih besar, training lagi, mentoring lagi, dan biaya rekrutmen yang ga juga murah. Coba hitunglah.

Sepanjang saya sejarah kerja, saya pernah bertemu dengan berbagai tipe manajemen perusahaan. Di satu perusahaan, ada OB yang hanya sanggup bekerja setengah hari. Dia dimaki-maki dan berhenti persis ketika jam makan siang. Habis itu kan repot cari pengganti dong. Atau sebuah lembaga yang setiap bulan selalu ada yang cabut dengan berbagai alasan. Waktu awal saya pikir mungkin jiwa muda ingin pindah-pindah kerja, tapi bukan itu juga ternyata. Bukan mental tempe kenapa seseorang cabut dari perusahaan yang penuh tekanan. Hal utama penyebab orang keluar bukan kerjaannya tapi bagaimana manajemen berlaku. Ketika teknologi informasi yang seharusnya memudahkan hidup orang malah sebaliknya. Di luar jam kerja, pesan-pesan kerjaan itu berlimpah ruah. Mau tidak mau orang diajak bekerja selama 24 jam. Belum lagi berbagi kalender, Lyon dalam buku ini cerita, berbagi kalender itu buat orang seenaknya menentukan kapan kita bisa bertemu hanya karena agenda di dalam kalender kita masih kosong.

Lab Rat mengingatkan saya pada perjuangan kawankawan menolak Omnibus Law, Ciptakarya yang membuat manusia-manusia hanya sebagai budak kapitalis untuk kepentingan ekonomi nasional. Investasi masuk tidak serta merta penciptaan lapangan kerja terjadi, keuntungan investasi dan ekonomi selama ini berkutat di ujungnya saja, buruh tetap kelaparan, tetap cilaka. Cari sendiri gih penjelasan lengkapnya, sudah banyak ditulis orang.

Lyon menjelaskan ada revolusi dalam ideology kapitalisme. Kita kembali ke tujuan orang kenapa kita berbisnis, persis pertanyaan di paragraph atas. Jika kita membuka usaha untuk memberikan lapangan pekerjaan, maka pastikan itu terjadi. Jika membuka usaha untuk menyelesaikan masalah sosial, maka dalam konteks sosial entreprise atau SE, masalah sosial dan profit dengan margin yang cukup bisa terjadi. Berapa pembagiannya? Lyon tak menjelaskan, tapi karena ini bidang kerja saya, maka saya beritahu ya, porsinya 50+1% keuntungan itu harus kembali pada isu sosial yang ingin diselesaikan. Cukup senang membaca ASHOKA disebut di dalam buku ini sebagai salah satu pelopor SE di dunia loh. Saya pernah bekerja dengan mereka selama 2.5 tahun dan berkenalan dengan fiosofi yang mereka percayai bahwa bisnis sosial itu bukan untuk profit tapi untuk menyelesaikan masalah sosial sembari bisa menghidupi manajemen di dalamnya. Hidup secukupnya…

Sekali lagi saya diingatkan betapa beruntungnya pernah bekerja dengan manajemen yang memanusiakan buruh di dalamnya. Setiap tim yang saya bekerjasama adalah keluarga, jika sudah begitu ada rasa tanggungjawab penuh untuk saling bantu, saling ajak untuk maju. Di KBR misalnya, kami adalah keluarga besar yang saling dukung. Memecah dalam grup-grup kecil perkawanan yang dipertemukan dalam manajemen yang sama, tadinya rekan kerja, dan sampai hari ini malah jadi supporting saya terbaik.

Anak-anak milenial startups, terbukalah untuk mengambil pola-pola lama yang tak seluruhnya buruk. Pernahkah kalian bikin family gathering? Tahu siapa nama pasangan temanmu? Dan kapitalisme tak sepenuhnya buruk, I have to bite my own tongue for this one hahaha, meski berganti rupa kapitalisme dnegan nama-nama cantic seperti decent capitalism, green capitalism, sampe terakhir conscious capitalism, tetap saja capitalism is for profit. Tapi masih ada orang yang menggunakan kapitalisme untuk membantu orang lain, lagi, skalanya tak harus jetar seperti Uber, dan Facebook atau Amazon dan Apple, dalam SE everything starts small, dan keep it small.

Day 140: Kurva Tingkat “Bahagia” Merangkak Naik

Standar

Angka kasus covid 19 di Indonesia sudah lebih dari 100.000 tapi makin hari, seolah orang makin tidak peduli. Yang masih percaya ini semua konspirasi juga banyak, yang paham tapi tetap abai lebih banyak lagi. Angka itu tidak menunjukkan angka sebenarnya, iyalah jelas, yang kantornya terdapat kasus juga ga akan lapor ke pemerintah karena nanti bisnisnya harus ditutup sementara. Begitulah, setiap hari, suguhan angka kematian makin banyak, terutama tenaga medis. Kalau ada tes kebohongan di setiap meja pendaftaran pasien baru di rumah sakit, barangkali itu mesin sudah jejeritan. Kita jadi hidup penuh dengan kebohongan kebohongan yang kalau konsisten bisa jadi kebenaran baru.

Saya tidak lagi menghitung hari dari lamanya di rumah karena pada dua minggu lalu saya terpaksa ke Jakarta untuk menyambung hidup. Begitulah. Buat mereka yang memang terpaksa menyambung hidup, kita cuma bisa berusaha menjaga agar tetap sehat, dan saya menghargai itu. Tapi yang abai cuma karena pengen hang out, pengen kelihatan keren bersama komunitasnya, mati aja lu. Beneran! Cengar cengir berkumpul, ngobrol, dedempetan, shit man, egois banget. Kita belum beranjak bahkan dari gelombang pertama bencana covid.

Buat saya pribadi hari ke 140, level “bahagia” mulai menanjak berkat beberapa hal. Pertama, karena Juli ini Alhamdulillah rezeki datang, pekerjaan baru muncul. Setidaknya tiga orderan ada bulan ini, bisalah buat bayar utang, cicilan dan menabung. Kedua, karena sibuk banget sama kerjaan, saya tak punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang selama ini bikin stress. Masak tapi ga dimakan keluarga itu bikin kesel. Hal remeh temeh yang hari-hari sebelumnya selalu bikin emosi, sekarang, saya tak punya waktu mikirin itu semua. Mau makan silakan, tidak ya ga masalah. Terdengar egois, tapi saya rasa, itu lebih baik. Kalau saya bahagia dengan diri sendiri, orang lain akan bahagia karena tak harus menghadapi omelan dan melihat saya cemberut. Ketiga, punya rencana itu bikin semangat untuk terus sehat, terus hidup. Saya masih punya keinginan untuk ina inu, yang paling utama, saya masih punya ibuk untuk ditengok, kakak zi dan septi untuk dijagain sampai besar. Mereka alasan kenapa saya harus sehat.

Setiap hari jurnal masih diisi, setiap hari ada hal baru yang bisa diceritakan dalam jurnal dan itu adalah adalah sejarah. Kalau membaca lagi tulisan di hari pertama sampai ke 130an, saya jadi tertawa sendiri. Kurva emosi saya naik turun. Awalnya bahagia punya waktu lebih bersama akang, lalu turun karena bosan, bingung, stress dan isi jurnal mei- juni adalah marah-marah. Lalu pada juni akhir, isinya mulai bikin senyum, kurvanya bergerak naik dan sekarang masih betah di atas. Untuk itu saya bersiap, guncangan akan selalu ada. Tapi saat itu terjadi, saya bisa bilang, “I have been through hell and back! Bring it on!”

Selamat Nita, kamu selamat sehat lahir batin sampai hari ini … makan enaaaakkk….

googleimage

foto:whatisconvert.com

Kalau Bumi Sudah Mandiri, Lalu Apa Peran Tuhan? Review A Brief History of Time karya Stephen Hawking

Standar
Kalau Bumi Sudah Mandiri, Lalu Apa Peran Tuhan?  Review A Brief History of Time karya Stephen Hawking

Rasanya judul itu pas untuk menggambarkan perdebatan hebat antara sains dan agama yang secara gamblang dihadirkan dalam buku ini oleh Hawking. Dia memang mempertanyakan peran Tuhan dalam mengatur semesta, karena setelah semesta terutama bumi diciptakan, lalu bumi berkembang dengan sendirinya, lalu peran Tuhan apa? dalam teori quantum grativity, ada prinsip ketidakpastian atau uncertainty, dan jika agama menempatkan Pencipta berperan dalam mengatur ketidakpastiaan itu, Hawking masih mempertanyakan bagaimana hal tersebut bisa dijelaskan dalam sains dan menuruti kaidah matematika dan fisika?

Sebelum membaca Hawking, saya lebih dulu membaca The Order of Time karya Carlo Rovelli dan sudah dibahas di blog ini. Jadi sangat sulit bagi saya untuk menuliskan review Hawking tanpa mencolek karya Rovelli. Keduanya fisikawan, keduanya bicara tentang penciptaan bumi dan semesta juga bicara tentang waktu tapi dengan gaya yang sangat berbeda. Rovelli, fisikawan yang juga pembaca filosofi, sedangkan Hawking justru menampar filosofi di buku ini seperti juga dia menampar agama, dengan gaya bahasanya yang lugas tapi lucu. Saya dibuat tertawa dalam beberapa kalimat yang dituliskan dan akan saya bagi dalam tulisan ini. Buat saya yang awam dan sama sekali jelek waktu pelajaran fisika, buku yang ditulis Rovelli lebih mudah dipahami karena hampir di setiap bab dia jelaskan dengan visual. Tapi Hawking tidak, dia menggambarkannya dalam kalimat. Ada satu yang membuat saya gemas, dia bilang, kita, ilmuwan tak harus menyederhanakan bahasa hanya untuk bisa dipahami public yang awam. Jiah toyor!

Rovelli lebih santun, dia menghindari perdebatan dengan agama, karena menurut dia, tak perlu didebatkan karena memang cara pandangnya berbeda. Itu saja.

Mari kembali pada apa yang ditulis Hawking. Big bang adalah penciptaan awal semesta, awal waktu, yang terjadi karena partikel-partikel mengembang dan terus mengembang hingga pada akhirnya terjadi ledakan terjadi. Kemudian semesta mendingin, bumi mendingin, dan kehidupan terjadi. Apakah selesai? Tidak, bumi itu seperti balon, dia terus mengembang hingga pada satu titik, dia akan mengerut lagi berhenti berkembang yang disebut Big Crunch, atau masa berakhirnya waktu. Kapan itu terjadi? Tidak dalam milyaran tahun ke depan kata Hawking. Karena bumi terus mengembang dan menghidupi dirinya sendiri, maka barangkali, ini dalam pikiran saya, bumi memang akan selalu membenahi dirinya sendiri termasuk saat dia merasa bebannya terlalu besar. Jangan-jangan bencana alam adalah bagian dari bumi beradaptasi dengan keserakahan manusia.

Kita tidak sendirian dalam semesta ini, ada galaksi lain yang juga mengalami hal yang sama. Punya mataharinya sendiri sebagai bintang terbesar yang memiliki kekuatan grativitasi yang menarik sekitarnya berputar mengelilinginya. Bintang itu punya bahan bakarnya sendiri, nuklir yang suatu saat akan habis lalu dia akan jatuh, salah satunya ke dalam lubang hitam atau black hole. Black hole itu, nothingness, ruang hampa yang memiliki gaya grativitasi yang sangat kuat yang menarik ke dalamnya. Yang sudah masuk tak lagi bisa keluar. Dalam ilustrasi kalimatnya, kalau seorang astronot ketarik ke dalam lubang hitam, anggap saja dia langsung menjadi spageti, hancur, hilang. Matahari juga pada suatu masa akan kehilangan bahan bakarnya yang panas membara, saat itu terjadi, semua planet yang mengelilinginya akan berhenti berputar dan saling menabrak. Lagi-lagi hal itu tak akan terjadi hingga milyaran tahun ke depan.

Semesta dan seisinya adalah partikel yang terbentuk sepasang bersama anti-partikel. Tapi keduanya saling berlawanan. Hawking menggambarkan begini, jangan sampai kamu dan anti-kamu bertemu, kalian berdua akan sama-sama menghilang. Nah ketika nyaris jatuh ke dalam lubang hitam, keduanya berusaha keluar. Seperti penjahat yang sama-sama dikejar polisi lalu bertemu di tengah. Anti partilkel atau partikel akan saling berlawanan dan menjauh, salah satunya bisa kabur melintasi batas luar lubang hitam, yang lainnya jatuh ke dalam.

Lalu yang menarik dari buku ini juga tentang perjalanan melintas waktu seperti dalam film-film Hollywood, apa mungkin? Hawking bilang karena menurut kuantum grativity tidak ada yang pasti, maka kemungkinan untuk melakukan hal itu tetap ada. Tapi buat apa? apa kita akan balik ke masa lampau untuk bilang ke Nazi, oi, kamu akan kalah, tapi kalau mau menang harus begini. Apakah kamu ingin membunuh kakekmu untuk mengubah nasibmu hari ini? Ini yang menarik dari Hawking, sebaiknya tidak mengubah hukum alam, sementara dia percaya tak ada yang stabil, dan penuh ketidakpastian semesta ini. Dia bilang, saya sih tidak mau time-travel ini beneran terwujud karena akan menguntungkan lawan-lawan saya.

Pada bab ke 11 dia mengingatkan untuk tidak perlu memaksakan satu teori bersama dalam menjelaskan semesta dan waktu. Ada banyak teori yang bisa digunakan oleh ilmuwan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengamatannya. Apakah menggunakan teori grativitasi yang melihat semesta dalam makro, atau dengan fisika kuantum yang melihatnya dalam mikro, partikel dan atom. Ada teori string yang dia sebut di dalam bab ini. Dia juga mengingatkan sebagai ilmuwan, tidak haram untuk mengakui kesalahan jika dalam penelitiannya memang salah, seperti Einstein dengan penelitiannya bahwa bumi ini statis. Sejauh ini, ilmuwan selalu berusaha menutupi kesalahannya dengan melakukan penelitian terus menerus untuk membuktikan terbalik daripada melompat pada hal dan temuan baru.

Begitu sepemahaman saya yang awam tentang semesta yang dijelaskan Hawking dalam buku ini. Bisa sangat berbeda dengan orang lain yang telah membacanya. Saya tidak akan mendebat itu, santai saja.  Setiap buku meninggalkan pesan dan kesannya tersendiri bagi pembacanya. Saya senang bisa tertawa-tawa bersama Hawking.

Gauri Dalam Kubangan Enceng Gondoknya. Review The Lowland karya Jhumpa Lahiri

Standar
Gauri Dalam Kubangan Enceng Gondoknya. Review The Lowland karya Jhumpa Lahiri

Kesulitan pertama saya menulis review fiksi karya Jhumpa Lahiri ini adalah menemukan judul yang tepat. Fokus saya ada pada tokoh utama dalam cerita ini Gauri yang punya karakter tak biasa muncul dalam sebuah cerita. Lahiri sukses mengganggu ketenangan saya membaca fiksi ini, mencoba menempatkan diri di posisi Gauri yang dalam kehidupan nyata tentu sudah menjadi bulan-bulanan makian. Dia menikahi kakak dari suaminya yang mati ditembak polisi tanpa pengadilan demi menyelamatkan bayinya. Setelah lahir dia meninggalkan bayi pada suami sambungnya karena tidak merasa menjadi bagian dari keluarga barunya. Gauri gagal mencintai suami sambung dan anaknya. Dia mengembara sendiri bersama sosok Udayan suaminya yang telah mati, menenggelamkan dirinya dalam studi filosofi berpanjang-panjang. Gauri menghabiskan hidupnya di Amerika sejak dibawa iparnya ke sana, hari-hari di perpustakaan, meneruskan kuliah S2 lanjut S3 sampai akhirnya menjadi professor filosofi jerman di sebuah universitas di California, sendirian.

Gauri bertemu Udayan yang berteman akrab dengan kakaknya Manash sesama penganut Marxist dan mengkiblatkan gerakan partai komunis India pada ajaran Mao di Tiongkok. Gauri mengagumi Udayan karena pemikiran kiri dan semangatnya membela orang miskin dan petani yang tertindas di desa-desa di India. Gauri menjadi bagian dari gerakan mereka yang pada akhirnya membenarkan segala macam cara bahkan dengan membunuh seorang polisi yang sedang mengantar anaknya sekolah saat dia tak bertugas. Polisi dianggap sosok representasi kekuasaan yang menindas. Gauri yang memberikan informasi kapan polisi itu sedang lengah. Udayan merakit bom yang melukai tangannya sendiri.

Gauri menyaksikan sendiri bagaimana polisi mengepung rumah mereka dan kolam eceng gondok tempat persembunyian Udayan sampai akhirnya suaminya menyerahkan diri dengan tangan di kepala. Ayah mertuanya bersimpuh mohon pengampunan polisi atas anaknya, dan tidak digubris. Udayan digiring kepada truk dan tidak pernah kembali. Saat itu Gauri sedang hamil dan Udayan tidak mengetahuinya.

Dalam masa berduka, Gauri bertemu dengan Subhash, kakak Udayan yang sedang mengambil studi doktoral di Amerika. Subhash melamar Gauri untuk menyelamatkannya dari orang tua yang tidak pernah menerima kehadiran Gauri di rumah itu. Orang tuanya sudah berencana untuk mengambil bayinya karena Gauri dianggap tak akan mampu menjadi orang tua. Subhash diingatkan ibunya bahwa Gauri tidak akan pernah mencintainya karena hanya ada satu Udayan.

Sepanjang pernikahannya Gauri merasa tersiksa setiap kali Subhash bicara dan menampakkan diri di depannya, gambaran Udayan hidup kembali. Perasaannya tak bisa dibohongi bahwa dia tak mencintai Subhash. Kehadiran Bela penyambung ikatannya dengan Udayan tak juga mengobati lukanya. Gauri tak merasa menjadi bagian dari kehidupan Bela dan Subhash yang sangat dekat. Ada iri, ada sedih dan marah melihat Bela menganggap Subhash sebagai ayah kandungnya. Gauri menjauh dan semakin menjauh seiring bertambah usia Bela. Suatu hari, Subhash menemukan Bela sendirian di rumah sementara Gauri berbelanja. Hari itu juga, Subhash memutuskan hubungannya dengan Gauri meski tetap berada di satu rumah.

Kesempatan meneruskan S3 menjadi jalan keluar Gauri dari rumah dan kehidupan Subhash dan Bela. Gauri hanya memesankan pada Subhash untuk menceritakan tentang Udayan pada Bela suatu hari nanti. Sejak kepergiaannya itu mereka tak lagi berkontak, meski sesekali Gauri mencari tahu Bela lewat internet dan anaknya seperti tak pernah ada.

Kepergian Gauri mengubah Bela sepenuhnya, ditinggal ibunya tanpa pesan, membuatnya besar dengan menghindar dari orang lain. Bela merasa dirinya penyebab semua kekacauan di rumah dan kepergian Gauri. Selesai kuliah Bela hidup nomaden, berpindah dari satu lahan pertanian ke pertanian lain. 20 tahun sebelum akhirnya memutuskan pulang ke rumah ayahnya, Subhash dalam keadaan hamil. Dia tetap tak ingin berkeluarga merujuk pada kehidupan orang tuanya yang tanpa cinta dan kepergian Gauri.

20 tahun kemudian mereka bertemu. Bela sudah menganggapnya mati.

Gauri menerima semua yang Bela katakana, tak ada hal yang bisa membenarkan keputusannya 20 tahun lalu. Gauri kembali ke Kolkata, dia tak pernah melepas paspor India –nya, untuk menemukan Udayan kembali, tapi tak ada.

Ada banyak sekali yang diceritakan Lahiri tentang India dan politik di tahun-tahun 60-70an. Tentang kelompok ekstrimis Naxalite – Maoist dimana Udayan menjadi salah satu pendukungnya. Kelompok ini terus menentang pemerintahan sah India dan melakukan aksi radikal hingga terror berdarah yang masih berlanjut hingga hari ini. Di bagian akhir buku, kita diajak mengakrabi rasa Udayan yang tadinya sangat percaya bahwa perjuangannya adalah untuk kebenaran, keadilan untuk semua. Sampai akhirnya dia merasa bersalah bahwa yang dia percaya dan yakini telah menyakiti isterinya Gauri, perempuan yang dia cintai sekaligus manfaatkan untuk perjuangannya. Udayan terus berbohong pada orang tuanya agar mereka tak terlalu khawatir. Udayan berbohong lewat surat-surat yang dikirimkannya pada Subhash, berbohong kalau dia tak lagi menjadi pendukung fanatic Naxalite. Dia ingin menyambung rasa kembali dengan kakaknya yang terpisah karena perbedaan pandangan politik.

Buku ini cukup lama saya bacanya, bukan karena tidak menarik. Ini perkara saya ingin berlama-lama membaca dan meresapi cerita di dalamnya. Damn, love it!

Hari Ke 100 Dalam Karantina – Merayakan Kewarasan

Standar

Hari ini adalah hari ke 100 dalam karantina karena Covid-19. 100 hari tanpa bertemu Mami, adik dan ponakan saya di Jakarta. Saya pernah tak jumpa mereka 365 hari saat sekolah, tapi kali ini rasanya setiap hari seperti hari terakhir. Mungkin besok dan seterusnya tak lagi bisa jumpa.

Ini juga kali pertama saya bersama Akang sejak kami pacaran, 9 tahun silam. Kali pertama bersama 100×24 jam! Beruntung kami menumpang di rumah ibu yang punya banyak ruangan, jadi secara teknis saya tak bertatap muka sepanjang 24 jam itu. Akang lebih banyak di rumah utama, saya di kamar tamu yang disulap jadi tempat kerja. Kami berjumpa di meja makan atau sesekali bertemu di lorong dan istirahat siang di kamar, baru bertemu lagi malam hari.

100days_room 01

Ini adalah ruang saya untuk tetap terkoneksi dengan dunia luar dan semesta. Ruang kerja, mushola dan tempat yoga

Sejak memutuskan menikah, kami bersepakat saya akan berada lebih banyak di ruang publik aka luar rumah dan Akang menguasai ruang privat, aka di dalam rumah. Sesekali Akang kumpul dengan teman-teman klub motornya yang dia dirikan sejak 1997 waktu masih piyik di bangku SMA, dan sampai hari ini masih aktif. Sampai Covid -19 mengubah semuanya. Kami berada dalam satu bangunan rumah, berbagi kehidupan 24 jam selama 100 hari ini. Sekali dua kali kami bertengkar, tak saling tegur berhari-hari. Belajar berkompromi dengan orang di luar diri sendiri memang tak mudah. Ada banyak hal baru dan selalu baru saya temui dari Akang setiap hari. Cinta tentu saja, tapi hidup jelas tak melulu soal cinta.

100 hari yang tak mudah menjaga kewarasan. Setelah bertahun-tahun merawat bapak yang stroke dan tak bisa bicara, di hari 8 sejak PSBB dilaksanakan 14 Maret 2020, bapak masuk rumah sakit. Dipindahkan ke ruang ICU dan meninggal dunia 27 Maret 2020. Saat berduka yang sepi tanpa sanak saudara dan keluarga juga sahabat memeluk dan menyemangati kami. Ibu menangis, Akang semakin pendiam dan saya merasa semakin kesepian, dan bingung dalam bersikap. Ada banyak hal buruk terlintas di kepala, saya mau kabur saja ke Jakarta. Untung hal itu urung dilakukan.

Kehilangan pencaharian tak terbilang. Dalam hitungan saya, keuangan kami hanya bertahan sampai 2 bulan saja. Saya pencari nafkah utama dan Akang tentu saja semakin sulit kalau harus mencari pekerjaan di luar di hari-hari ini. Jika sampai akhir bulan kedua saya masih belum berpenghasilan, maka semua aset harus segera digadaikan, kata saya. Utang keluarga, cicilan rumah dan premi asuransi menanti untuk dibayar saban bulan, bagaimana kepala tak rasa ingin pecah. Tapi Tuhan itu memang maha baik. Dia mengirimkan orang baik yang memberikan saya bantuan selama dua bulan dan tunjangan hari raya. Hidup tak bisa mengandalkan orang lain tentu saja. Pekerjaan ada satu dua orderan untuk kami bertahan, tetap bekerja dari rumah. Setiap hari buka laptop dan membuat target pekerjaan, kalau tak ada yang berbayar, ya kerjakan proyek pribadi. Setiap hari menulis dua tiga halaman fiksi, menulis blog, menuliskan ide, apa saja, saya mau bilang pura-pura sibuk, tapi begitu yang saya percaya, nanti juga akan datang rezeki kalau tetap usaha.

Ketika Ramadhan, hati ini sudah dimantapkan untuk sepenuhnya berserah dalam ibadah. Lalu hormon manja yang kelamaan di rumah itu mengamuk, saya dibuat mens 25 hari + 10 hari tambahan setelah dari dokter. 35 hari! Seperti diombang-ambing, emosi saya nyaris lepas kendali. Akang tak kurang dimaki, meski dalam hati. Benci datang dan pergi, pada Akang, terlebih pada diri sendiri. Saya semakin menarik diri dari obrolan keluarga dan bersembunyi di ruang kerja dan di sosial media. Ada hari-hari saya mengumpat kenapa masih diberi hidup, kenapa tak dijemput pulang?

Ibu-ibu di lapas menertawakan saya, manalah sekarang kita berbeda. Kita sama, hanya beda bentuk kurungan. Di sana mereka berhitung hari, begitu pun saya. Setiap kita punya penjaranya sendiri, buat saya 100 hari ini adalah “penjara” yang tak pasti kapan waktu akan bebas. Semakin hari, semakin berat, semakin mati gaya karena untuk “bebas” dari Covid 19 makin hari makin jauh dari harapan. Iya jauh dari harapan, karena setiap hari orang yang seharusnya bisa menahan diri di rumah, malah liar di luar sementara angka penderita bertambah 1000.  Apakah saya akan bertahan di 100 hari ke depan?

Bangun tidur hari ini rasanya berbeda. Tumben, hari ini saya terbilang bangun kesiangan, 6.30 dari biasanya pukul 4.30. Saya terbangun yang mimpi yang membuat saya sesak napas, karena saya kabur dari patroli polisi yang menangkapi orang tanpa masker. Dalam mimpi saya sama sekali lupa pakai masker. Terbangun terengah-engah dan akang di sisi kiri saya tersenyum, sementara Unin di kaki saya mengulet dengan kuku tajam mencengkram kaki. Okay saya bangun!

Hari ke 100, saya menarik napas dan menghembuskannya. Saya masih hidup, bersyukur dibangunkan di sisi Akang dan Unin, tapi kenapa? Pasti ada alasan kenapa saya dipilih untuk bertahan sementara yang lain tidak. Kenapa saya masih bangun dengan penuh kesadaran akan napas, akan hidup, tapi yang lain tidak? Apa yang membuat saya terpilih untuk satu hari lagi menjalani hidup, sementara yang lain tidak? Apa yang semesta inginkan dan titipkan pada saya hari ini?

100days_me

Swafoto di hari ke 100, sehabis peregangan dengan wajah merah sisa peluh dan belum mandi.

Covid mengajari saya untuk tidak semata-mata menerima anugerah hidup tanpa memaknai pesannya. I stop taking life for granted. Saya tahu selalu ada alasan di balik sesuatu. Jika Tuhan masih memercayakan kehidupan pada saya, artinya ada kewajiban yang harus lakukan, untuk menjadi manusia, untuk memberi manfaat.

Covid adalah badai yang semua orang hadapi di waktu bersamaan, tapi bagaimana kita menghadapinya, setiap kita berbeda. Sekoci saya, ya segini ini, penuh dengan gelombang dan pengaman seadanya. Saya belajar banyak untuk tidak mengukur orang lain dengan cara “saya” karena setiap kita punya cara berbeda.

Hari ini saya merayakan hari ke 100 ini bersama Akang dan Ibu. Hanya Hokben paket murah meriah tapi cukup untuk merayakan kewarasan! Saya ingin meninggalkan jejak digital sebagai pengingat bahwa pada suatu masa saya hebat, masih hidup dan melewati masa sulit 100 hari ke belakang dan insya Allah dengan kekuatan yang bertambah, saya akan bisa bertahan di 100 hari berikutnya dan berikutnya dan berikutnya!

Libur Dari “Work From Home” Untuk Menjaga Kewarasan

Standar
Libur Dari “Work From Home” Untuk Menjaga Kewarasan

Bekerja dari atau di rumah bukan berarti pekerjaan lebih santai. Buat saya pekerjaan jadi berlipat ganda dan saya membaca status kawan-kawan, justru bisa separoh hari sudah 6 meeting online dilakukan. Kalau sedang menumpuk dan mendekati deadline, bisa sangat saya tidak masak, bahkan tidak mandi sampai waktu magrib. Selepas magrib, badan tidak bisa bohong, letihnya luar biasa.

Buat buruh lepas seperti saya, sekalinya kosong, kosong sekali. Sekitar lima sampai tujuh agenda fasilitasi batal karena korona, tapi Alhamdulillah ada aja rezeki yang nyangkut. Bener kata orang, rezeki itu selalu ada, yang tak selalu sama rupanya. Dua minggu terakhir, sesak napas, tidak berjeda sama sekali, termasuk di akhir pekan.

Alhasil, pekan ini saya bertekad untuk liburaaaan!!

Saat klien minta laporan, saya bilang, “aku liburan bos, nanti ya.” Lalu dia tanya, wong kerja dari rumah, liburan kemana? Masih psbb. Saya bilang yang liburan isi kepalanya. Niat seminggu tak buka laptop, hari keempat akhirnya buka laptop. Lah kalau laporan tidak diselesaikan, invoice tak cair, bulan depan apa kabar dapur?

Liburan 3 hari dari urusan pekerjaan itu sangat membantu untuk merefresh ulang mental dan raga. Bagaimana caranya liburan dari WFH? Gampang, kata saya, yang harus dihentikan sementara adalah keinginan buka laptop, pekerjaan itu sungguh sesuatu yang tak pernah usai, pasti selalu ada meski kadang datangnya tak bersamaan. Sementara pikiran dan badan harus istirahat supaya ada tenaga untuk melanjutkan pekerjaan berikutnya. Saat karantina sekarang yang sangat dihindari adalah kelelahan, fatigue, stress yang berujung pada sakit fisik. Jadi sebisa mungkin berusahalah untuk sehat. Laptop ditutup tapi telepon terus bergetar urusan kerjaan. Tips saya kemarin, sama, saya bilang kalau akan saya kerjakan setelah liburan usai. Dijawab harus, supaya klien tak menanti. Tapi jawab saja kalau masih liburan.

Seperti hari-hari sebelumnya, saya selalu usahakan meninggalkan pekerjaan pada pukul 17.00 atau 17.30 paling lambat dan setelahnya usahakan untuk tidak mikirin pekerjaan. Waktunya bersantai, baca buku, main kucing, ngobrol sama akang, merajut, nonton film receh. Apa saja yang bisa bikin kepala adem. Nah ketika liburan tiga hari kemarin, pagi sekali sudah berkebun, bersih rumah, dan membaca buku. Saya juga libur masak karena masak sudah seperti rutinitas ketimbang mengerjakan hobi. Saya olahraga yoga jadi lebih panjang dan tenang. Itu juga penting buat hilangkan stress.

Setelah tiga hari off, hari keempat setelah yoga, saya buka laptop. Ceritanya pas meditasi, tibatiba ide muncul. Dilemma! Kalau tak segera ditulis ide itu akan raib, apakah ide yang sama akan muncul besok ketika liburan usai? Belum tentu. Itulah sebab saya buka laptop dan mengerjakan yang muncul dalam meditasi. Saat itu saya bilang, okay 3 hari cukup lah untuk liburan, waktunya cari kerja. mengerjakan laporan dan mewujudkan ide. Paling tidak dalam 3 hari kemarin, saya dicass, badan lebih enak dan pikiran lebih tenang.

Kamu rasanya juga perlu deh liburan dari work from home. Kalau lihat flyer webinar di sosial media, bawaannya pengen diikuti semua, tapi lama-lama lelah. Saat work from home ini memang waktu yang tepat untuk membaca kebutuhan tubuh yang selama ini dipaksa buat bekerja. Ingat yo hidup ini bukan hanya tentang pekerjaan dan cicilan, liburan tetap perlu. Mulailah dengan mematikan sejenak isi kepala dari pekerjaan dan menikmati sekecil apapun kebaikan yang kamu temui hari ini.

gambar – google/vox