Ruang Gema dalam Media Sosial dan Perubahan Politik

Standar
Ruang Gema dalam Media Sosial dan Perubahan Politik

Salah satu kritik terhadap gerakan sosial di media sosial adalah munculnya ruang gema, artinya kita hanya bersuara di kamar sendiri, terhadap teman-teman sendiri yang sudah sepaham, kita yakin kita benar karena ada di kelompok yang sama. Ini sik sebelum ramai media sosial juga sudah sering terjadi, dalam diskusi-diskusi yang undangannya public tapi pesertanya adalah kawan berkawan. Atau pemilihan narasumber yang adalah teman dekat. Tidak masalah selama yang disampaikan memang sesuai tema, selama goalnya tercapai.

Tapi dalam media sosial, echo chamber atau ruang gema justru memersempit makna dan tujuan awal media sosial. Kita cenderung berkawan dengan teman-teman sepaham, bicara tentang hal-hal sepaham, menggaungkan tujuan yang sama. Begitu kritiknya.

Tunggu dulu…

Ruang gema mungkin terjadi saat menyangkut ideology. Ketika legitimasi religious dalam pemilihan presiden dan gubernur dki muncul, iya betul, kita begitu terbelah. Semua berisik di ruangnya masing-masing. Cebong dan kampret. Kita mengotak-kotakan diri menjadi yang paling suci dengan bawa-bawa akhirat dengan mereka yang realistis menapak di bumi (tidak juga melupakan langit tentu saja)

Gema itu masih terasa. Pemimpin yang terpilih atas legitimasi kaum religi selalu jadi bulan-bulanan kaum realis yang tidak lagi bisa realistis. Apa saja menjadi “salah” dan merasa perlu dikritik. Kebencian menutup logika.

Lalu..

Situasi politik selalu berubah-ubah, begitu juga manusianya. Bahkan algoritma tidak akan bisa membaca perubahan itu. AI tidak sepandai itu, karena memang manusia yang menciptakannya.

Setelah pemilu presiden selesai, dulu serombongan orang yang berada di gerbong yang sama, dalam ruang gema yang sama, mulai lagi berubah. Sebagian merapat pada kekuasaan dengan niat awal “mengawal” dan sebagian mengawal dan mengritisi dari luar lingkaran kekuasaan. Pilihan moral sudah ditentukan masing-masing.

Saya masih ingat sekali ucapan kawan, “lu harus masuk dalam sistem untuk bikin perubahan atau mengawal perubahan yang sudah baik. Ga cukup di luar teriak-teriak.” Pertanyaan saya kala itu, “kalau sudah masuk terus tidak bisa mengawal atau buat perubahan gimana mas?” dia jawab, “yang penting kita usaha dulu.”

Saban kali perubahan politik terjadi, saban kali saya melihat perubahan terjadi pada kawan saya. Yang dulunya menggebu-gebu idealismenya, sekarang menghilang. Mereka yang ada dalam lingkaran sekarang seperti fangirling, seperti aku dengan Benedict Cumberbatch, diehard lah, ga ada yang salah dengan Ben.  Untunglah Ben bukan presiden, mungkin aku akan seperti mereka…

Tetapi ini masalah rakyat, bukan sekedar keterkaguman pribadi, ini masalah empati. Ini dia yang membuat saya dilarang kawan seorang konsultan politik untuk ada di dunia politik praktis, karena politik praktis = bisnis kapitalis, perhitungan untung rugi itu harus jelas. Barangkali kawan-kawan ini sudah masuk dalam jargon kapitalis “Don’t bite the hand that feed you” EVEN WHEN YOU KNOW YOU ARE NOT A DOG! Atau “don’t pee the well that you drink water from” EVEN IF YOUR WELL FULL WITH SHIT!

Dalam ruang gema saya saat ini, kembali terpecah. Mereka yang pernah saya kagum, ternyata ga lebih dari anjing yang tak mungkin menggigit tangan tuannya. Padahal kalau kamu bekerja, kamu menukar ide, tenaga + waktu dengan uang. Bukan jiwa yang kau tukar. Maka tetaplah jadi jiwa-jiwa yang bebas, beretika dan empati.

Kalau ada yang meminta saya menutup akun-akun yang tak sepaham, saya tidak mau. Saya tidak ingin memuaskan algoritma tentu saja, bukan kamu. AI yang dibanggakan oleh sejagat itu, tetap tidak akan bisa membaca perubahan politik, pola dan tingkah manusia di dalamnya. Tidak ada sains yang bisa menjelaskan tentang SOUL kecuali menyerah pada istilah energi.

foto: daily sabah- google

Iklan

Perempuan Harus Berpolitik. Review “Attack of the 50ft. Women” oleh Catherine Mayer

Standar
Perempuan Harus Berpolitik. Review “Attack of the 50ft. Women” oleh Catherine Mayer

Pada sebuah pertemuan Women of the World Festival di London, 2015, Mayer berbicara tentang bagaimana perjuangan perempuan selama ini hanya bersuara di ruang-ruang pertemuan, dalam diskusi tertutup dengan mereka yang sebenarnya sudah sepaham. Harusnya feminis bisa keluar dari chambernya, menyentuh hal-hal nyata yang ada di public. Bagaimana caranya? Bikin partai politik!

Mayer ditantang untuk membuat partai politik, Women’s Equality Party, partai kesetaraan perempuan. Kenapa berpartai? Agar bisa berpartisipasi dalam demokrasi dengan jalur formal, merebut kursi dan membuat kebijakan yang berpihak pada kesetaraan dan keadilan gender. Kekuatannya mejadi lebih solid untuk melakukan perubahan, begitu niatnya. Partai ini digawangi Mayer dan Sandi Toksvig dan seluruh manifesto kebijakan resmi diperkenalkan pada public pada 20 Oktober 2015.

Buku “Attach of the 50ft.Women” adalah perjalanan Mayer untuk memulai karir politik yang sesungguhnya. Latar belakang Mayer adalah jurnalis. Dalam buku ini dia memulainya dengan cerita tentang perempuan yang digambarkan sebagai Scarlet Johansson yang menjadi raksasa dan menguasai dunia. Perempuan harus ada di atas untuk dapat didengar, begitulah kira-kira, caranya ya itu tadi lewat politik.

Jatah kursi 30% dalam parlemen memang sudah ada dan seringkali dikritik karena perempuan yang terpilih tidak menyuarakan keberpihakan pada kesetaraan dan keadilan gender. Tentu tidak semua perempuan punya perspektif gender yang baik, yang melanggengkan patriarki karena hidup dan bertumbuh dalam lingkungan tersebut, juga lebih banyak. Tapi dengan memberikan ruang 30%, itu artinya memberikan kesempatan yang baik buat suara perempuan didengar. Tugasnya kemudian adalah memastikan bahwa mereka yang duduk di sana punya perspektif gender yang baik. Women’s Equality Party menjadi salah satu channel untuk memastikan hal tersebut kejadian.

Tetapi dalam perjalanannya tidaklah mudah. Feminisme adalah wacana kelas menengah ke atas, mereka yang berpendidikan dan di dalam kalangan feminis juga terpecah belah lagi, antara penganut first wave dan second wave feminism. Sementara di dunia yang dibatasi dengan warna kulit, maka perempuan berwarna tidak merasa disertakan dalam banyak diskusi dan perjuangan, apalagi kalau perjuangan itu dikomandani oleh perempuan kulit putih, berpendidikan dan berkelas. Apakah sosok itu mewakili “minoritas”? tantangan terbesar bagi WEP adalah memastikan semua yang termajinalkan, perempuan dengan kulit berwarna – perempuan hitam dan latin juga asia, dan disabilitas di antaranya, bisa sama-sama terangkul.

Tapi mengajak perempuan masuk dalam partai saja, itu sebuah pekerjaan berat. Perempuan khawatir tidak bisa membagi perannya dengan baik antara berpolitik di luar rumah dengan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga. Perempuan khawatir berpolitik dan disorot media akan memengruhi kehidupan rumah tangganya terutama tumbuh kembang anak-anak. Perempuan penyintas masih berkutat dengan traumanya, perempuan karir memilih menyelamatkan karirnya daripada politik, dan seterusnya.

Dalam penyusunan manifesto WEP, Mayer salah satunya belajar dari negara-negara skandinavia terutama Islandia yang sudah memberikan upah setara laki-laki dan perempuan, memberikan cuti kelahiran yang sama bagi ibu dan bapak tanpa kehilangan gaji mereka. Tetapi jangan kenalkan feminisme katanya di Islandia, justru karena mereka tidak merasa perlu membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan.

Soal bisnis, jumlah perempuan di pucuk jabatan masih sangat rendah. Padahal dalam banyak bukti (silakan baca sendiri di dalam bukunya), perempuan terbukti lebih hati-hati dalam memberikan keputusan penting tidak secara emosional dan akhirnya merugikan perusahaan. Keputusan berdasarkan hormone itu mitos, kata Mayer. Perempuan memiliki kemampuan dan kapasitas yang sama dengan laki-laki yang dibutuhkan adalah kesempatan dan perubahan cara pandang. Sebagian besar perempuan harus berlaku seperti “laki-laki” agar bisa diterima dalam lingkungannya, padahal tidak perlu seperti itu, perempuan harus menjadi diri sendiri, dunia yang harus mengubah cara pandangnya terhadap perempuan.

Buku ini menarik buat saya yang belum lama belajar secara teori sebagai feminis, selama ini saya feminis karena pengalaman. Banyak hal menyentil kita kaum feminis yang berkutat terus menerus pada level wacana dan tidak praktis, salah satunya dengan berpolitik.

Lebih jauh tentang WEP, silakan meluncur ke https://www.womensequality.org.uk/

Pelajaran Kehumasan dan Jurnalisme Dasar Dari Kasus Livi Zheng

Standar
Pelajaran Kehumasan dan Jurnalisme Dasar Dari Kasus Livi Zheng

Disklaimer dari awal ya, saya punya lebih 10 tahun pengalaman sebagai jurnalis, belajar tentang Komunikasi Politik dan di dalamnya ada kelas tentang Promotional Culture atau budaya promosi. Di kelas itu saya belajar tentang kerjaan konsultan politik dalam kehumasaan dan lobi-lobi. Pengalaman kerja juga mengharuskan saya sedikit banyak belajar tentang kehumasan. Saya penggemar Michele Foucault yang bilang power atau kekuatan atau kekuasaan itu tidak melulu tentang opresi, atau paksaan. Knowledge atau pengetahuan adalah salah satu amunisi kita untuk mempraktikan kekuasan atas orang lain, memengaruhi orang lain untuk percaya, tunduk pada apa yang kita inginkan.

Nah kasus Livi Zheng adalah kemampuan PR- kehumasan yang ada di belakangnya untuk mempengaruhi media arus utama untuk memercayai apa yang mereka tulis dan selanjutnya membuat public percaya pada penokohan Livi Zheng. Kasus ini adalah kemenangan PR atas media yang gagal melakukan tugas utamanya sebagai the watchdog, pengawal, pengawas demokrasi dengan etika jurnalisme yang ketat soal pemberitaan. Livi Zheng bukan politisi, bukan pejabat, tapi justru di sana pintu masuk kita, lalu bagaimana dengan politisi yang memermak wajahnya setiap saat menjadi orang baik yang membawa kesejahteraan rakyat, bayangkan kerja keras tim PR di belakangnya dan betapa mudahnya media bisa “ditipu,” dan sebagai rakyat jelata dah apalah kita, harus terus skeptis membaca apa yang ditangkap mata.

Pilih angle yang tepat dan rilis yang mudah dikutip.

Hal pertama yang sering kami diskusikan di kelas adalah tentang “soundbite” pilih kalimat yang mudah dikutip media, apapun yang ditanya oleh jurnalis yang sekarang makin malas bertanya, maka beri jawaban yang sama. Kita tentu ingat kata-kata yang sering diucap oleh SBY “Saya Prihatin” atau Presiden Jokowi dengan kata “Sontoloyo” nya, dan Livi dalam wawancara terakhir yang saya baca di beritagar, mengulang kata “ada datanya, nanti saya beri.” Terus berulang dan muncul di media, diperdengarkan di berita macam kaset kusut atau CD looping. Itu bukan kesengajaan, itu by design. Contoh lainnya coba ingat lagi apa yang sering diucapkan oleh Prabowo Sandi sepanjang musim kampanye kemarin.

Kedua, pilih angle yang tepat. PR Livi memainkan penokohan Livi sebagai anak muda, sutradara muda Indonesia yang mendunia, mampu menembus Hollywood. Di tengah suasana yang memuakan seputar politik, tokoh Livi adalah angin segar bukan, pengalih perhatian politik. Dengan iming-iming Oscar dan Hollywood, Indonesia yang da apalah kita, yang selalu merasa inferior terhadap apa saja yang datang dari barat, langsung membelalak, oh iyes! Indonesia hebat, good news from Indonesia.

Ketiga, pilihan konteks. Setelah pilih angle, pilih konteks waktu, kapan yang paling tepat menyebar rilis. Moment itu disebut di atas, saat orang muak dengan politik, menyajikan Livi adalah kesegaran baru, “harapan baru” bahwa Indonesia hebat.

Keempat, koneksi. Seperti warung padang yang memasang foto tentara atau restaurant dengan papan panjang tandatangan artis dan pejabat, maka mencitrakan seseorang hebat adalah dengan siapa dia terlihat public. Dalam kasus Livi, dia ada di sebelah Luhut Panjaitan, Tito Karnavian, Jusuf Kalla, Anies Baswedan.

Sederhananya gini loh, kalau hanya bikin film profil kota atau kabupaten, ada banyak rumah produksi dan sutradara Indonesia yang biasa buat ini. Tapi karena ini ada title sutradara Hollywood, baik politisi, pejabat pun memanfaatkan pencitraan yang sama. Iyes.

 

Rendahnya perhatian pada Berita Hiburan

Berita hiburan selalu menarik untuk diklik oleh pembaca, meski isinya tak kurang banyak tentang gossip. Bagaimana Nikita Mirzani kawin cerai itu lebih penting tampil di media daripada cerita perjuangan dia sebagai perempuan kepala rumah tangga, orang tua tunggal yang membesarkan ketiga anaknya sendirian. Oh tentu itu tidak menarik Isabela. Atau ketika Syahrini berbulan-bulan menghiasi berita hiburan kita, mulai cerita rebutan laki, sampai isi tasnya yang rasanya sinting kalau ada yang ingin tahu. Tapi itu click bait buat media.

Berita hiburan sering dianggap “remeh” oleh redaksi, hanya hiburan, sehingga mungkin sangat longgar dalam pengawasannya. Di lapangan, jurnalis hiburan seringkali tidak dianggap sebagai jurnalis, karena hanya menulis gossip. Lalu naik tingkat ketika menjadi jurnalis budaya, bicara tentang film, pertunjukan seni dan budaya. Tapi lagi-lagi dimana posisinya? Ada di halaman belakang, ada di sidebar, atau di acara sempilan. Intinya, nyaris berita hiburan tak dianggap serius

Lalu semua media mengangkat sosok Livi Zheng, take it for granted.

Di dunia yang serba cepat, rilis yang mudah anglenya bagus, tokohnya bagus, waktunya tepat, dan mudah dikutip, langsung cus, naik berita. Dalam beberapa kesempatan tidak Cuma berita hiburan, bahkan berita pun hanya mengandalkan rilis yang dikirim oleh lembaga tertentu tanpa ada upaya untuk verifikasi. Kalau perlu rilis itu dipotong menjadi beberapa berita pendek lagi supaya angka visitor dan viewer naik. Kalau hanya mengandalkan rilis, jadi jurnalis rilis aje.

Ketika media arus utama menampilkan Livi Zheng, maka serta merta media lainnya juga seperti laron, beramai-ramai menaikan informasi tentangnya. Semua menelan mentah-mentah, tanpa verifikasi di awal. Lagi-lagi saya sih curiganya karena kepengen cepat, kepengen click naik, dan ini berita hiburan…

Sampai ketika seorang dengan nama palsu menulis tentang Livi di Geotimes, dan ditangkap cantic oleh Tirto lalu berbondong-bondong media yang sebenarnya ikutan bersalah itu mencuci tergesa-gesa muka yang terlanjur kecipratan air kotornya sendiri. Sampai lupa sebenarnya, media mana saja yang paling awal memberitakan soal ini?

Buat saya ini skandal jurnalisme Indonesia, kalau dianggap kecil, kamu salah. Bayangkan ini bisa sangat mungkin terjadi pada penokohan lain, politisi atau pejabat public. Media yang kita harapkan menjadi rujukan kebenaran ternyata gagal menjalankan hal paling sederhana, 5W +1 H, gagal bertanya, gagal memverifikasi berita rilis.

Media tidak seharusnya membeda-bedakan kualitas berita, politik, lingkungan dan hiburan. Kualitas jurnalisnya harus selevel dong, harus punya kemampuan yang sama, tetap kritis pada informasi. Pelatihan jurnalisme investigasi harus berlaku untuk semua desk berita, tak terkecuali.

Di tengah digitalisasi informasi, ini saatnya merefleksi istilah FAST, karena FAST and FALSE itu FATAL! Mau cepet eh salah. Ih gemes.  Jangan lagi kecolongan deh ah. Malu!

Penting! Berlatih Mendengar dan Menyimak

Standar
Penting! Berlatih Mendengar dan Menyimak

Setiap orang ingin berbicara, setiap orang ingin didengar pendapatnya, masukannya, tapi berapa orang yang mampu mendengar dan menyimaknya? Kita tidak sedang membicarakan tentang kekuasaan ya ketika pemegang kekuasaan hanya merasa perlu menyampaikan gagasan dan keputusan tanpa mau mendengarkan masukan atau bahkan bertanya kepada “bawahannya.”

Beberapa hari lalu ahli Bahasa Ivan Lanin mengingatkan saya tentang kemampuan berbahasa itu termasuk dengan kemampuan menyimak. Mendengar tapi dengan memerhatikan apa yang sampai di telinga.

IMG_20190828_045709

sumber: twitter Ivan Lanin @ivanlanin

Dalam modul yang saya kembangkan untuk kelas Perempuan Menulis, salah satu unsur penting ketika belajar menulis adalah melatih kemampuan mendengar. Kita tidak bisa menulis dengan baik tanpa melakukan pengamatan, yang dilakukan dengan menggerakan seluruh indera, salah satunya dengan telinga. Ada latihan untuk mendengar dengan seksama lawan bicara, tanpa menyela, tanpa suara, hanya mendengarkan selama 10 menit. Ternyata memang tak mudah belajar mendengar tanpa berkomentar, orang itu gatel banget mau komentar tentang banyak hal, bahkan tanpa diminta. Pernahkah kamu suatu hari ingin sekali curhat, sekedar curhat, tapi curhatmu belum kelar, lawan bicaramu langsung interupsi dengan menceritakan “deritanya” yang lebih menderita dari ceritamu sampai akhirnya kamu lupa pada curhatmu sendiri? Begitulah…

Melatih kemampuan mendengar itu banyak gunanya.

01_MODUL Menulis Untuk Diri Sendiri

Saya rasa sejak 2012, saya memang sedikit banyak berubah. Latihan mendengarkan orang lain itu dimulai ketika harus memilih fellow Ashoka. Selama tiga hari, saya harus tinggal bersama calon fellow, bertanya sejumlah pertanyaan kunci dan mendengarkan penjelasan mereka, sedetail mungkin karena hanya ada 3 hari, dan semua harus menjawab kriteria yang diwajibkan ada oleh Ashoka. Latihan itu sangat berguna kemudian di hidup saya selanjutnya. Kalau kemudian kawan mulai merasa saya sedikit curhat, karena ternyata mendengarkan orang lain curhat dan bercerita itu lebih menarik. Cerita saya biarlah sesekali muncul dalam tulisan dan percakapan. Menguping itu kerjaan saya, headphone atau earphone itu kadang mati hanya untuk mendengarkan apa yang diomongin meja sebelah.

Mendengar menambah pengetahuan, menyimaknya membuat saya kreatif mencipta karakter-karakter dalam cerita dalam tulisan, berguna saat dibawa ke kelas Perempuan Menulis. Mendengarkan kawan-kawan di Lapas Perempuan cerita tentang apa saja yang ada di sana, membuat saya punya segudang ide cerita baru.

Pekerjaan saya sekarang pada akhirnya memakai kemampuan mendengar itu. Sebagai orang lapangan, tugas saya sebagian besar bukan hanya menyampaikan program, tapi mendengarkan apa yang menjadi harapan, usulan, tantangan yang dialami warga. Sama-sama memetakan potensi untuk menghadapi tantangan. Kunciannya ada pada sama-sama menemukan kekuatan, tapi kemudian menyusun strategi yang bisa dilakukan untuk mengatasi tantangan.  Semua itu sekali lagi ga bisa kejadian tanpa kemampuan menyimak. Tapi menyimaklah lagilagi dengan kritis, tidak menerima semua hal yang didengar secara mentah-mentah, pilah lagi, tanya lagi, mosok sih? Kenapa begini, kenapa begitu? Jadilah orang dengan penuh pertanyaan MENGAPA sampai kamu dapat jawaban yang memuaskan.

Makin hari makin banyak orang dengan muncungnya yang makin maju karena keseringan bicara, mari kita ambil ceruk yang sangat dibutuhkan dunia, mendengar dan menyimak.

Layang-layang

Standar
Layang-layang

Merah putih, tersangkut di pohon randu. Benang melayang-layang, menari ditiup angin. “Geli ah,” kata daun yang tersentuh ujung benang. “Tolong singkirkan benang ini. Batang bergeraklah?” kembali teriak daun. Kecuali ada angin sangat besar, atau gempa bumi, batang bergeming.

Tidak seperti tiang bendera yang di depan rumah yang tak kokoh bendera berkibar. Agar terlihat sangat nasionalis, masing-masing rumah berlomba memasang bendera paling besar, dan paling bersih. Tapi tiang, hanya tiang bambu, yang meleyot ke kiri dan  ke kanan sesuai angin bergerak meniup bendera. Kalau tiang patah dan bendera terjatuh, maka jatuhlah harga diri pemilik, bahkan bangsa dan negara ini lalu baku hantam. Harga diri itu dimana? Di bendera atau di hati manusia?

Layang-layang berusaha bergerak, menghamba pada angin untuk membawanya pergi. Dia tak sanggup mendengar gerutu daun yang geli tersentu benangnya. Andai dia bisa melepaskan diri dari benang. “Jangan, aku masih ingin dekat denganmu,” kata benang. “Tanpa aku, kamu tak artinya. Tanpa aku, kamu tak bisa menari bersama angin, tak bisa menyenangkan hati anak-anak.” Layang-layang meliuk tubuhnya. “Jangan banyak bergerak, nanti bilahmu patah, kertasmu robek,” kata batang. Batang bertindak bijak, tak memihak daun tempatnya memasak makanan bersama matahari, dan tak juga memaksa tamu tak diundang itu untuk segera pergi.

“Pohon ini, rumah bersama. Untukmu daun, untukmu layang,” kata batang.

“Rumah bersama. Lihat siapa mayoritas di sini. Layang-layang hanya benda mati tanpa guna setelah putus hubungan dengan pemiliknya. Tapi kami… kami ini daun-daun yang menghidupimu batang.”

“Aku pun tak ingin tersangkut di sini bersamamu daun-daun cerewet,” kata layang-layang kesal. Dia bergerak semakin keras. Kertas robek sebagian.

“Berhenti bertengkar. Ketenangan bersama kita tinggal bergantung pada angin. Jika dia datang tak hanya layang-layang yang akan pergi, tapi kau juga daun.”

“Iya tapi paling tidak, yang akan rontoh hanya daun-daun yang tak lagi berguna.”

“Begitukah caramu berterima kasih daun muda? Menyebut kami tidak berguna? Kami yang gugur akan menjadi pupuk baru untukmu. Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia,” daun tua merapatkan tubuhnya erat-erat pada batang yang bijak.

“Tapi manusia hanya bisa mencipta sesuatu yang sia-sia, seperti layang-layang,” kata daun muda

“Kau sombong daun muda. Tak tahukah kamu, layang-layang membawa kebahagiaan bagi anak-anak, orang tua, dan mempererat hubungan orang tua dan anaknya. Layang-layang bukti kreasi manusia dalam warna dan bentuk,” panjang lebar layang-layang berkata dengan bangga.

Simbol merah putih di tubuhnya juga bukan tanpa sebab, dia merasa bahkan lebih hebat dari bendera yang berkibar raya dan ramai hanya beberapa kali dalam setahun, dihormat tanpa paham apa arti hormat sebenarnya. Layang-layang tersenyum, paling tidak, merah putihnya pernah beberapa kali memenangkan aduan layang-layang. Dia pernah beberapa kali pindah tangan, sampai angin membawanya terlalu tinggi untuk bisa diraih anak-anak. Dia merindukan tawa anak-anak yang mengejarkannya, “aku dapat, aku dapat,” sambil dipeluknya erat-erat layang-layang.

Dari jauh terdengar daun-daun bergesek kencang, ribut, batang saling mengingatkan untuk tetap kuat bertahan, akar jangan menyerah, tetaplah mencengkeram bumi. Daun saling berpelukan, tak ingin terpisah. Daun tua berteriak, waktunya untuk berpisah… “selamat tinggal batang pohon yang bijak.”

Dan layang-layang… “aku bebas” diikuti sisa benang yang ikut menari bersama angin. “Hati-hati benang, jangan kau tersangkut di antara daun cerewet lagi.”

Layang-layang mendarat di antara kaki manusia yang berderam keras, menghentak bumi, membuatnya kotor. Manusia-manusia berlarian, berteriak memaki dengan sebutan binatang. Semua karena bendera yang kabarnya terjatuh terjerembab di atas tanah, batang yang patah, entahlah… lalu manusia harganya berubah serendah hewan karena bendera.

“Seharusnya kita tetap bersama daun cerewet daripada manusia buruk rasa,” benang terbenam terinjak sepatu lars.

Terus Lakukan, Seni itu Soal Kamu, Bukan Orang Lain – Review Keep Going by Austin Kleon

Standar
Terus Lakukan, Seni itu Soal Kamu, Bukan Orang Lain – Review Keep Going by Austin Kleon

Saya tidak pernah pede menunjukkan gambar saya, sampai sahabat saya, alm. Jonathan Kebe yang memang artis itu, bilang, terus saja menggambar, tidak  ada orang yang berhak bilang gambar kamu jelek. Seni itu subyektif, it is about you and you only! Art supposed to make you happy and not to please others.

Austin Kleon penulis Keep Going menyakin saya kembali soal menggambar. Meluangkan waktu untuk menggambar adalah melatih diri untuk mengamati sekitar. Kita terlalu sibuk mematut diri di sosial media, emosi tingkat dewa setiap kali membaca dan menonton berita, lupa untuk merawat kewarasan diri sendiri. Seni, menggambar, menulis atau apapun, membuat kita berhenti sendiri, mengamati dan bahkan bersyukur pada apa yang kita dapat hari ini, saat ini.

Buang hapemu, tinggalkan di ruang lain, dan ambil waktu bersama diri sendiri, buat ruangmu sendiri. Kalau lupa caranya bermain, hire anak kecil untuk mengajarimu bermain. Gambar itu bisa apa saja bentuknya, apa saja! Be creative….

007_ed

Membaca dan langsung memratekkan apa yang diobrolin Kelon di bukunya, maka inilah hasilnya… cerita perjalanan saya kemarin.

001_ed

004_ed

Setan itu takut pada udara segar. Saya meluangkan waktu, jalan kaki menelusuri hutan di Tahura – Taman Hutan Raya, Juanda Bandung. Membuang jauh-jauh setan jenuh, dan hasilnya buku Keep Going selesai dibaca, setelah sebelumnya Free Radical dan memulai buku baru. Saya menggambar! Itu yang paling penting buat saya.

005_ed

Keep Going bilang, be VERB dan bukan NOUN. Kamu bukan seniman jika tidak punya karya seni. Teruslah berkarya, dan biarkan orang lain yang menempelkan “status” “profesi” itu padamu. Dan jangan biarkan seni yang membahagiakanmu termonetasi di ruang sosial media oleh “Like” dan “Comment” sesuatu yang menjadi hobi biarlah menjadi hobi, jika dia bergeser menghasilkan uang, maka dia menjadi pekerjaan dan pekerjaan akan selalu membuatmu tertekan. Jika hobimu menjadi pekerjaan, cari hobi lainnya.

006_ed

Saya itu tidak pernah beli buku motivasi sendiri, semuanya hadiah dari orang. Keep Going adalah hadiah dari sahabat saya Mike. Kalau Keep Going bisa membuat saya langsung praktek, kamu tahu dong artinya apa?

To My Dearest Scientist – Review the Free Radical by Michael Brooks

Standar
To My Dearest Scientist – Review the Free Radical by Michael Brooks

Dear you

When I saw you graduated and got your PhD in Applied Physic at your age of 20 something, I was so proud. You are closer to your biggest dream, to become a professor and win the Nobel Prize. You had been a scientist; you love science so much. I remember the time you showed me a drip of water on a hot pan that can dance following the music, you were explaining passionately and I was like … eh… okay… it was interesting but I just did not have any clue how it happened. My physic was love in Tennis, zero by number. Well, don’t blame me, blame to the most un-interesting teacher I had in highschool because I was one of the best in physic and biology during junior high. Nevertheless, I believed you will get what you wanted, a Nobel Prize.

Years past, I knew you were struggling with your experiments and live as a scientist. Just like the Free Radical said, scientist struggling with ethics, and funding, yet, fame that pushed them so hard to be creative whatever it takes, a radical one, an anarchist they become. Scientist just like an artist, the book says, some of them took drugs, hallucinogen to get them to the creative phase of thoughts. Others believe a spirit in a name like magic for Einstein or God for Faraday and Galileo that had guide them to their discovery. Ethic, what ethic? Law and ethic cannot follow science, curiosity, the excitement for discovery, the creativity. And if all scientists must follow ethics, then there is no discovery at all!  they broke the law and ethic, experimenting things on themselves, cut themselves, breath dangerous gas, drank bacteria, diving to reach the human limit, in other to find truth of their hypothesis. Barry Marshall said “there is an occasion where it is more easy to forgive than to get permission,” on his diary before he drank a bottle of bacteria to find the effect of spiral bacteria.

Scientists are not always an idealist person. To survive they might sell their soul to the funding, and broke the ethic. In the book, there is a story of a scientist (I forgot his name) must do what the funding want, to proof that MMR vaccine does cause a behavior chance like autism. He took blood sample of boys in his son birthday, which is very un-ethical, but then he must admit that he didn’t find what the funding want. Another point that interested to me is the fact that you, the scientist has to be an activist in the name of humanity, be political. Carson, biologist who found that the pesticide with DDT is harmful to ecosystem, killing bird, butterfly and bees, she was alone in a fight against the pesticide companies. Then Rowland and Molina who found that CFC was killing our atmosphere, they were banned for giving any lecture for a decade, or Hansen who found spoke out loud about the green-house effect to climate change and being arrested for giving protest. I love the quote from Michael Nelson of Michigan State University “When scientists rejected advocacy as a principle, they reject a fundamental aspect of their citizenship… and rejecting one’s responsibility as a citizen is unethical.” Michael Brooks closing his book with some interesting statements that if we want more scientific progress, we need to release more rebels, more outlaws, more anarchists. The time has come to celebrate the anarchy, not to conceal them.

The book touches my heart as it reminds me of you. While reading it, my mind wandering, how radical you were, are you an anarchist one, how funding had made you feel, how is your road to Nobel Price, etc.

I knew one thing, and I have to admit that it broke my heart when I found that you are working as a Finance Manager at one of the biggest transportation company in the world. I was devastated, and I knew you were more devastated than I did. I understand you have your own reason, and I assumed not dare to ask that it was not an easy decision to take. But life is a journey, and in one of those journey you might find your way back to your biggest dream, a Nobel Prize. Nevertheless, getting a Novel Prize, in my believe, not supposed to be the end goal of a scientist, but how to make a better place for a human being does. A friend said once you are a journalist, you are always be a journalist, I believe it applies to a scientist too… you will always be a passionate person to discover something, a good observer, doing experiment, curios all the time, and you might do anarchy things in a certain point of life to proof that you are right.

Until then…. Be happy and enjoy your life!

Huge hug

Your dearest friend