Belajar Lagi Fisika Tentang Realita. Review Reality Is Not What It Seems oleh Carlo Rovelli

Standar
Belajar Lagi Fisika Tentang Realita. Review Reality Is Not What It Seems oleh Carlo Rovelli

Kali ini menulis review buku Carlo Rovelli tak semudah dua bukunya yang pertama. Pertama, iya ini buku fisika. Saya pernah dapat angka bebek (2) waktu SMA kelas 1, padahal sewaktu SMP guru fisika, almarhum Pak Taryo adalah favorit saya. Kedua, selama membaca buku ini, banyak hal terjadi. Ayah mertua masuk ICU dan 8 hari kemudian meninggal dunia. Meskipun saya baca buku, hurufnya berlari-larian, tidak ada yang sempat nyangkut di kepala. Review kali ini saya singkat saja sesuai kemampuan memahami isi. Jika ada waktu baik, saya akan ulangi membacanya.

Inti buku ini ada pada gambar di bawah ini:

rovelli

Rovelli menjelaskan perjalanan fisikawan dalam menerjemahkan dunia mulai dari Newton, Faraday Maxwell, Einstein lalu ke Quantum Mekanik dan Quantum Relativity. Tapi di bab pertama, Rovelli mengajak kita kembali ke “akar” pemikiran tentang menjelajah alam semesta. Awal ketika filusuf mempertanyakan semesta. Adalah Democritus dari Abdera pada 494 BCE yang pemikirannya disederhanakan oleh Rovelli menjadi “seluruh semesta dibentuk oleh ruang yang tak terbatas yang di dalamnya adalah atom dalam jumlah tak terbatas, berlarian. Ruang tanpa batas. Tidak ada batas atas, bawah, tanpa pusat, tanpa batasan. Atom tidak punya kualitas di samping bentuknya. Tidak memiliki berat, warna atau rasa. “Dengan kesepakatan dia adalah manis, dia adalah pahit, panas, berwarna, tapi dengan jujur, atom dan kehampaan.”

Atom tidak dapat dipisahkan, atom adalah materi butiran dasar yang membentuk realitas. Tidak dapat dibagi-bagi dan semua hal terbuat dari atom.

Selanjutnya para fisikawan berangkat dari pemikiran Democritus dan mengembangkan penelitian secara fisika. Rovelli menjelaskan secara singkat perkembangan fisikawan mencari tahu tentang semesta. Newton menjadi landasan fisika modern dalam menjawab keinginantahuan tentang semesta bahwa semesta adalah ruang, waktu dan partikel. Lalu Faraday dan Maxwell melengkapi tentang partikel, bagaimana dia bergerak. Faraday dan Maxwell lah yang mengenalkan gelombang elektromagnetik yang kemudian menginspirasi penemuan radio, televisi, telepon dan lainnya yang menggunakan arus listrik. Lalu Einstein menyederhanakan ruang dan waktu menjadi ruangwaktu lalu pada perjalanan berikutnya Einstein kembali menyederhakan ruang waktu dan fields menjadi covariants fields dan partikels. Lalu seterusnya pada perkembangan fisika quantum mechanic dan quantum grativity. Pada Quantum Grativity, kemudian disebutkan kenyataan bahwa “waktu” itu tidak ada. Jika waktu tidak ada maka apa yang ada adalah quanta of field, waktu adalah quanta of field, ruang adalah quanta of field. Fields bergerak pada dirinya sendiri, tidak butuh ruang atau waktu.

Rovelli tak hanya menjelaskan perjalanan perkembangan penelitian fisika tentang semesta, tapi juga latar belakang para fisikawannya juga dan perdebatan di antara mereka. Salah satu yang menarik adalah Einstein dan seorang pastor Georges Lemaitre. Salah satu yang menjadi perdebatan mereka adalah apakah semesta berubah atau konstan? Lemaitre menyakini semesta ini mengalami pengembangan. Pada 14 juta tahun lalu, sebuah titik hitam yang disebut Lemaitre sebagai primodial atom. Titik hitam itu terus berkembang sampai akhirnya ledakan besar terjadi. Itulah yang sekarang disebut sebagai Big Bang. Einstein menolak ide Bing Bang dan semesta ini akan terus mengembang, tapi pada akhirnya Lemaitre benar.

Pertanyaan selanjutnya adalah, jika semesta ini adalah kumpulan atom yang terus bergerak dan berkembang, apa yang akan terjadi kemudian? Apa yang juga terjadi sebelum Big Bang, 14 juta tahun lalu? Rovelli menekankan fisika adalah ilmu yang akan terus berkembang. Tidak ada yang tetap dan konstan di dalam sains. Tidak perlu mencari hal baru dari data yang kosong sama sekali. Sains adalah tentang challenge atau menantang pemikiran awal seperti gambar di atas. Tidak usah ujug-ujug menciptakan hal yang benar-benar baru, kata Rovelli. Semesta ini sangat luas untuk diselami dan terus dipelajari.

Kalau situasi membaik, buku ini enak banget dibaca dan seharusnya bisa selesai dalam 3 hari saja. Rovelli membuat fisika begitu menyenangkan, meski saya skip beberapa halaman yang isinya rumus hahaha, saya menyeraaah kak. Tapi selebihnya, saya sangat menikmati buku ini. Rovelli juara lah!

Waktu adalah Kita. Review The Order of Time by Carlo Rovelli

Standar
Waktu adalah Kita. Review The Order of Time by Carlo Rovelli

Sebelum beranjak pada bukunya, saya cerita dulu ya. Beberapa tahun lalu, saya menyimpan perasaan selama 7 tahun lamanya. Tak pernah disampaikan, sampai akhirnya dia menikah. Setiap kali ada kesempatan, saya selalu merasa “belum waktunya.” Sejak saat itu, saya tidak lagi menunda waktu ketika menyatakan perasaan pada seseorang. What is the worst thing coming after exposing your feelings? A rejection right, but the wound, the shame will shall pass through time. Tapi “waktu” itu apa? Sejak saat itu, saya bilang pada diri sendiri, saya yang menentukan waktu, kapan waktu untuk melakukan apa, kapan waktu untuk berhenti melakukan apa.

Lalu saya bertemu dengan buku ini dan seisinya mengacaukan perasaan saya. Buku yang bagus adalah buku yang menantang kepercayaan awal, dan pengetahuanmu dan ini salah satunya. Tetapi saya sepakat dengan Rovelli, waktu adalah kita!

Menurut Rovelli, waktu itu tidak pernah benar-benar ada. Waktu adalah kita sebagai being, yang dibentuk dari sekumpulan cerita, peristiwa, tersimpan dikumpulan milyaran syaraf, kumpulan entropi yang bergerak dari masa lalu. Setiap kali kita menemukan satu hal, milyaran syaraf memutar ulang ingatan masa lalu, ditambah nilai-nilai yang membentuk perspektif, lalu jadilah masa kini. Sementara masa depan, tetap akan misteri. Waktu adalah kita yang memandang sesuatu berdasarkan perspektif kita sendiri. Sementara hari, jam, detik, adalah ukuran yang dibentuk untuk menyebut waktu.

Waktu bergerak lebih cepat di dataran tinggi atau pegunungan dibandingkan pantai. Rovelli menjelaskannya dengan smurf tua di pegunungan dan smurf muda di pantai. Waktu bergerak sesuai dengan lokasinya. Aristoles bilang waktu adalah perubahan, maka jika tidak ada yang berubah, ya berarti tidak ada waktu. Masa lalu dan masa depan membentuk sebuah cone atau kerucut, dia bergerak bebas dalam spacetime, dengan demikian bukan tidak mungkin jika yang disebut masa lalu akan kembali terjadi di masa depan. Tapi masa kini adalah perspektif kita tentang sekarang.

Rivolli memeringati pembaca kalau bahasa fisikanya terlalu rumit diterima, langsung saja pada bab 11 dan seterusnya. Di bab-bab terakhir, dia lebih banyak mengajak pembacanya untuk merenung tentang hidup. Jika “waktu” itu tidak ada, terus kita ini apa? Kita adalah refleksi dari teman-teman, pasangan, keluarga, dan orang lain yang memandang kita seperti apa. Tiga hal yang harus hadir dalam menentukan identitas “kita”:

  1. Tentang bagaimana kita melihat dunia dari sejumlah informasi yang kita elaborasi sendiri.
  2. Tentang relasi kita dengan sesama. Kita mengasah ide tentang “manusia” melalui interaksi dengan orang lain, karena kita adalah mahluk sosial. Kita melihat diri sendiri dari sekitar kita, ibu, teman dan kolega.
  3. Tentang memori, kenangan-kenangan yang membentuk “kita”. Untuk memahami diri sendiri berarti kita harus merefleksi waktu, tapi untuk memahami waktu, kita perlu refleksi pada diri sendiri. Saya hari ini adalah orang yang sama dengan kemarin.

Lalu waktu akan habis. Ada waktu lahir, ada waktu untuk mati. Ketakutan akan mati menurut Rivolli adalah kesalahan evolusi. Semua ada batasnya bahkan keberadaan umat manusia dan takut mati itu seperti takut terhadap realitas. Jadi buat apa takut?

Rivolli tidak takut, “I do not fear of death. I fear life in suffering” yang dia takut adalah hidup penuh penderitaan. Penderitaan adalah harapan yang tidak sampai, duka menjadikan kita manusia, begitu juga dengan cinta. Kematian buat Rivolli adalah “the sister of sleep” saudara tidur, saat kita menutup lama dan tidur untuk selamanya.

Betul, ini seperti bukan waktu yang tepat menyelesaikan buku di tengah ketakutan dunia akan corona virus. Saya mungkin seperti Rivolli, tak ingin diberi umur panjang, dicukupkan saja. Saya tidak akan bernegosiasi dengan kematian, ketika waktunya tiba. Kita memang akan mati, kalau tidak hari ini ya mungkin besok.

Setelah krisis korona ini selesai, saya akan membaca ulang buku ini dengan penuh kegembiraan… or not. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk kamu yang ingin tahu tentang waktu, tentang kita dalam perspektif quantum grativity dengan bahasa popular. Saya tidak seperti digurui pelajaran fisika, saya seperti sedang didongengi tentang kehidupan manusia yang fana. Mana ada buku fisika yang membuat saya menetaskan air mata karena ditulis begitu indah, seperti buku ini.

Day 5 note: Thank you for being “lazy”

Standar
Day 5 note: Thank you for being “lazy”

Back when I was in London doing my master, a friend said “we have the right to be lazy. The right of doing nothing.” Then the debate started. “That is unfair to others who work hard, and pay tax for your laziness.” The debate on and on and a friend closed it by saying, “being lazy is a personal right. Saying that is not fair would be the capitalist perspective that wants us to keep on living on a consumptive lifestyle”

Four years after the debate, I am here at home being forced to be “lazy” thanks to corona virus.

People might think that it is not that hard for me as I am being a freelancer for the past two years. But being freelancer does not mean working for home all the time. It means that could work everywhere, including in a café, where I can look for ideas while watching people talking. I like overheard people, it makes me smiling. I like watching people walking around my table, kids screaming, lovers arguing, a young shy and blushing cheek of love. I am an extrovert, I like being around people, real people. I can stay at home for like three days but then woosh… I call a motorcycle taxi and go somewhere for work, even to just read at the park, anywhere that I could see people.

Suddenly all these privilege has taken away, stay at home and please do whatever, if it means also to be lazy.

For the past 5 days, I become a cook. I cook all the time! I love cooking but it always consumed my time too much. I used to think cooking it’s like escaping from my stressful work, or complicated feelings. But now, kitchen has been taken almost like a quarter of day hour and it means less time for work.

Then the bed. It used to be so easy to just get off the bed in the morning and start my day with things and work. Now days, it holds me tightly and comfy that makes me hardly open my eyes. Then the Korean Drama, I watch Goo Yoo every day, like really every day for at least 2 hours! That is my reading hour!

Yesterday, we took our father to the hospital and his sugar blood raise to 900, meaning we being forced to meet the dangerous zone. Everything there might be infected, everyone there might be the carrier. But to be honest, for once, I was surrounded by people, and I feel relieve, yet to be said, I was happy. Then I feel bad again! Feeling bad for being happy.

This is the fifth day and I realized how hard it is for being lazy! It is a hard work for being lazy! But, if being “lazy” means saving people’s life, then I am so please to do so. I just need to pull myself together and keep productive. It is hard not seeing people, and not having people to talk. I don’t think social media can ever replace real life, real touch, real smile. But I have to keep myself isolated for other’s life, I might carry the virus for being such an active person, meeting lots of people on previous weeks.

Next week, I can be lazier as lesser work to do. All the clients had postponed the event and the deadline. No work to do means more Gong Yoo time (although I almost finish all of his movies and serial), more cooking, and reading time and I still have unfinished crochet.

At this moment my dear capitalist friends, being lazy could also means preparing a healthy labour assets for your next business, and saving more of health-insurance. You might lose some today, but you’ll gain more later, please think about it! people first, economy second.

Pencuri Buku Mencuri Kebahagian. The Book Thief oleh Markus Zusak

Standar
Pencuri Buku Mencuri Kebahagian. The Book Thief oleh Markus Zusak

Ada buku yang bisa membuat saya marah, kecewa, sedih, tertawa, secara parsial. Tapi buku ini bisa membuat emosi bercampur aduk dalam setiap babnya. Di bagian akhir, saya menangis tersedu-sedu seperti layaknya kehilangan orang dekat, dada sesak. Saya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Liesel si tokoh utama ketika dia melihat mayat Rudi. Liesel mencium bibir Rudi yang hambar bercampur debu sisa bangunan yang hancur oleh bom.

Sejujurnya ketika saya menerima buku ini sebagai hadiah dari kawan sewaktu bertemu di London, dan dia bilang ini setingnya masa Nazi dimulai di Jerman, saya sungkan membacanya. Cerita perang itu selalu menakutkan, potongan-potongan gambar di kepala saya tidak menyenangkan. Empat tahun setelah hari itu, saya membaca buku ini. Hanya seminggu, 553 halaman itu selesai dibaca dengan penuh tawa, marah, dan tangis tersedu-sedu.

Buku ini bercerita tentang Liesel si pencuri buku dan dinarasikan oleh “Kematian” yang menjumpai Liesel sebanyak tiga kali sepanjang kehidupan anak ini. Liesel berusia 11 tahun ketika adiknya meninggal di gerbong kereta, lalu ibunya dan dia berakhir di rumah orang tua asuh, Hans dan Rosa Huberman. Saat pemakaman adiknya itu dia pertama kali mendapatkan buku, petunjuk untuk melakukan pemakaman. Liesel tidak bisa membaca, tapi dia senang sekali buku. Ayah angkatnya Hans, perokok berat dan pemain arcodion yang mengajarinya membaca dengan sabar. Liesel si pencuri buku, menyembunyikan buku di tempat tidurnya dan setiap jam 3 pagi, ayah angkatnya akan menemaninya membaca. Membaca buku membuatnya bahagia, bahkan saat memeluknya erat.

Bagian paling membuat saya terkesan ketika Liesel masuk ke dalam perpustakaan milik Mayor Hermann (if I am not mistaken), itu seperti membawa saya terkesima di antara rak-rak buku. Jutaan kata berhamburan, bermain dan bersembunyi di balik buku. Persis seperti Liesel, saya drooling aka ngeces. Ketika harus memilih antara biscuit dan buku, Liesel memilih buku dan membiarkan perutnya lapar. Saat menuliskan ceritanya di jurnal di ruang bawah tanah, bom menghujani Himmel Strasse dan merenggut semua yang dikasihinya. Hans dan Rosa Hubermann, keluarga Steiner termasuk sahabatnya Rudi, dan para tentangnya.  Liesel selamat, dan hidup lama untuk melihat cucunya. Kematian menjumpainya di Sydney dan membawakan jurnal yang ditulisnya, The Book Thief.

Buku ini menceritakan 4 tahun perjalanan Liesel, si pencuri buku di Himmel Strase di masa-masa Hitler membangun kekuatan Nazi dan menyebarkan propaganda lewat Mein Kampf. Tentang Hans yang menyembunyikan Max, seorang Yahudi di basement mereka. Persahabatan Liesel dengan Max lewat buku sketsa yang dibuat Max dari lembaran Mein Kampf yang dicat putih menjadi lembaran baru. Tentang persahabatan abadi Rudi si rambut oranye dan Liesel. Perang dan kebencian yang tidak bisa dipahami oleh orang-orang Jerman. Terlebih, ini tentang Malaikat Pencabut Nyawa yang kewalahan untuk mengerti tentang manusia yang mendekati kematian lewat perang. Malaikat Pencabut Nyawa tak punya waktu istirahat, bahkan dia sendiri merasa dihantui oleh manusia.

Memilih Malaikat Pencabut Nyawa sebagai narrator saja sudah sangat menarik buat saya. Dia melihat semua yang terjadi di berbagai tempat para karakter berada, melintasi waktu. Bagaimana rasanya jadi pencabut nyawa yang bisa merasakan sedih ketika harus mengambil nyawa manusia. Orang baik, ringan rohnya saat dibawa malaikat, begitu kirakira yang disampaikan Kematian ketika membawa Hans, Rosa dan Rudi bersamanya.

Haish, saya mulai berkaca-kaca lagi.

Buku ini ditulis 2005. Iyes 15 tahun kemudian saya baru membacanya dan menjadi salah satu buku favorit. You need to find it yourself, the thrill and adventure of this book. I highly recommend it and it’s a must to read.

 

Cara Feminis Mencari Kebahagiaan – Review The H-Spot oleh Jill Filipovic

Standar
Cara Feminis Mencari Kebahagiaan – Review The H-Spot oleh Jill Filipovic

Saya pernah di suatu waktu dalam hidup ini berharap, jika reinkarnasi itu benar adanya, maka saya ingin dilahirkan sebagai laki-laki. Memori kecil saya merekam omongan papi yang berharap saya ini lelaki agar bisa menemaninya bekerja layaknya lelaki dan membawa nama orang tua. Sepanjang kebersamaan kami, saya berusaha agar dia bangga pada saya meski saya perempuan. Di beberapa hari sebelum kepergiaan papi, beliau mengacungkan jempol pada saya. Pada akhirnya dia tahu, bukan soal lelaki atau perempuan, tapi siapa yang berbuat lebih untuknya dan keluarga. Saya dengan cara saya sendiri, dan beliau bisa pergi dengan tenang meninggalkan keluarga, karena saya mampu dijadikan tumpuan.

Sementara mami, sepanjang hidup saya selalu didoktrin olehnya, “jadi perempuan harus mandiri, harus pintar, bekerja dan jangan pernah mengandalkan hidup pada lelaki.” Beliau mencegah saya menjadi dirinya yang pasrah bertahan dalam keluarga poligami, demi saya dan adik-adik bisa sekolah.

Pengalaman menjadikan saya seorang feminis dan saya bangga dengan itu.

Buku H Spot ini menguraikan keresahan saya secara gamblang. Perempuan, tempatnya “salah.” Menjadi ambisius dan mengutamakan karir, maka sekitar akan memicingkan mata, menyindir karena dalam nilai tradisional perempuan harus submissive, berada merendah di bawah lelaki. Jill memulai bukunya dengan bercerita tentang hubungan pertemanan dengan sahabat perempuan yang merenggang begitu lepas dari sekolah. Beberapa memilih jalur tradisional, selesai kuliah menikah, punya anak. Sebagian persahabatan merenggang setelahnya. Sisterhood seperti sebuah cerita dongeng, selalu ada yang membatasi itu di antara perempuan. Ada rasa iri yang dibangun oleh patriarki melihat perempuan lain “sukses.” Sukses yang dalam nilai tradisional adalah menjadi perempuan, dalam bahasa Indonesia wanita, wani ditoto, makhluk yang diatur oleh norma sosial yang dibangun oleh lelaki.

Perempuan tak menemukan kebahagiaannya secara individu karena selalu ditanamkan sudah alaminya perempuan itu lahir dengan keinginan merawat keluarga, suami, anak, dan orang tua. Perempuan lupa pada dirinya sendiri. Saya bertanya dalam status FB, “kapankah terakhir merasa bahagia? Lepaskan dulu status sebagai isteri, ibu dan anak. Mari bicara tentang kamu.” Jawaban para perempuan adalah, saat punya waktu untuk diri sendiri, sambil selonjor makan coklat, bisa olahraga sendirian atau saat membaca buku. Sesederhana itu. Perempuan selalu kebagian sibuk saat berkenaan dengan urusan rumah, kenapa coba? Kita lupa bahwa perempuan itu individu utuh yang memiliki cita-cita untuk dirinya sendiri. Perempuan seolah tak boleh memelihara mimpi apalagi menjadi ambisius untuk mewujudkan mimpinya. Perempuan tak bisa menikmati seks tanpa dicap “slut” atau menikmati makanan tanpa rasa takut kegemukan.

Buku H-Spot tidak sekedar mengajak perempuan untuk menjadi dirinya sendiri dalam mencari kebahagiannya. Perbedaan kelas ekonomi menghalangi perempuan meraih kebahagiaannya. Jill menulis ini dalam konteks masyarakat Amerika Serikat ya, yang tersegreasi secara tegas kelas menengah ke bawah dan kulit berwarna dengan perempuan putih dan berpendidikan.

Perempuan berkulit hitam dan miskin memiliki lebih banyak anak, dan mengalami obesitas. Akses pada kontrasepsi tidak murah bagi perempuan miskin dan nutrisi bukan jadi prioritas ketika memberikan makanan pada anak-anak, yang penting kenyang. Lingkaran kemiskinan akan terus berjalan jika intervensi politik tidak memerhatikan kondisi perempuan di dalamnya. Perempuan miskin dibuat sibuk mencari pekerjaan, tidak satu atau dua, tapi bahkan tiga pekerjaan sekaligus untuk menghidupi keluarga mereka. Jika pemerintah berpihak, harusnya memberikan akses perbaikan gizi bagi anak-anak miskin, memberikan fasilitas penitipan anak yang baik kepada anak-anak dengan ibu tunggal atau kedua orang tua bekerja. Termasuk juga menyediakan akses pendidikan setara, mudah diakses bagi semua anak.

Kenyataannya tak seperti itu. Perempuan dapat gaji / honor lebih rendah dari rekan lelaki, meninggalkan anak tanpa pengawasan menjadi pelanggaran hukum sementara si ibuk harus tetap bekerja untuk mereka bertahan. Sekolah di Amerika itu mahal, ada pinjaman studi yang harus dibayar mencekik leher. Kadang perempuan berkencan hanya untuk mendapatkan tenaga bantuan untuk mengawasi anak dan meringankan bayar sewa yang dibagi dua. Tapi tak jarang menghadirkan sosok lelaki di rumah justru mendatangkan bencana, kekerasan rumah tangga.

Lalu pemerintah Amerika Serikat dibawah pimpinan Clinton, George W. Bush dan diteruskan Obama mengalihkan tanggungjawab mereka pada “suami.” Dalam kebijakan kesejahteraan keluarga, negara memberikan budget khusus untuk memromosikan pernikahan dengan segala manfaatnya, tetapi prinsipnya melepaskan tanggungjawab menangani kemiskinan itu menjadi tugas suami. Negara meniadakan dan mengabaikan kondisi keluarga dengan ibu tunggal dan ibu sebagai kepala keluarga. Sound familiar yak, persis! You read my thought!

Perempuan-perempuan “hebat” yang menjadi dirinya sendiri adalah mereka yang bisa meraih pendidikan tinggi, pekerjaan mapan, dan itu adalah perempuan kulit putih. Jalannya tak akan semulus itu bagi perempuan berwarna pun ketika mereka bisa meraih pendidikan tinggi. Tapi tak sedikit juga perempuan kulit putih yang mundur dari karir mereka yang cemerlang karena begitulah norma sosial, budaya patriarki inginkan. Bahkan ketika memiliki pasangan yang mendukung mereka karir mereka, semua berubah ketika seorang anak hadir dalam kehidupan mereka. Negosiasi berulang, siapa yang akan merawat anak-anak dan berada di rumah, jawabannya tentu saja, lagi-lagi perempuan yang harus mengalah.

Padahal tidak perlu begitu.

Jill mencontohkan tiga negara, Swedia, Norwegia dan Finlandia yang sudah melandasi hukum mereka dengan nilai feminisme. Perempuan memiliki akses yang sama seperti laki-laki, bisa memilih tinggal di rumah atau bekerja, dan pemerintah memfasilitasi itu semua. Untuk perempuan bekerja, pemerintah menyediakan fasilitas penitipan anak yang baik dan memastikan anak-anak mendapat nutrisi cukup. Dukungan yang sama bisa juga diterima oleh ibu yang memilih di rumah. Prinsipnya keluarga menjadi tanggung jawab bersama lelaki dan perempuan. Keduanya harus berbagi peran sebagai pencari nafkah maupun ngurus rumah tangga. Salah satunya dengan memberikan cuti melahirkan kepada laki-laki dan perempuan enam bulan tanpa kehilangan gaji. Di negara-negara ini, jumlah anak-anak miskin rendah sekali.

Jill juga mengingatkan perempuan agar tidak menghilangkan dirinya dengan mengganti nama menjadi nama suaminya. Di Amerika begitu menikah sangat umum perempuan menggunakan nama suaminya. Di era digital ini, jejak nama gadis mereka dengan segala prestasi semasa sekolah atau bahkan saat berkarir menjadi hilang ketika mereka menikah dan mengubah nama dengan menyelipkan nama suami di belakang nama mereka.

Sesekali buang lah semua itu, status yang membelenggu perempuan untuk berperan sebagaimana harapan sekitar. Buang jauh-jauh keserahan menjadi gendut dan keinginan untuk makan yang membahagian. Sesekali jadilah diri sendiri, berbahagialah. Highlight buat saya dari buku ini, feminisme itu tentang membuat dan mengajak perempuan mampu memilih dengan kesadaran penuh dan dari dirinya sendiri.

Saat membaca buku ini, kebodohan terjadi. Tentang RUU Ketahanan Keluarga yang mengglorifikasi pernikahan, keluarga dan ibuisme. Trust me, di Amerika aja gagal undang-undang begini. Karena tidak semestinya negara mengatur peran lelaki perempuan bahkan anak, yang pemerintah harus lakukan adalah memastikan akses kebutuhan dasar, pendidikan, kesehatan dan lapangan pekerjaan itu terbuka untuk perempuan dan lelaki. Memastikan lingkungan yang aman dan sehat untuk anak-anak bertumbuh kembang, jangan lepas tangan atas nama “keluarga.” It never works!  Jika kamar anak dan orang tua terpisah, anak lelaki dan perempuan terpisah, apakah pemerintah sudah memenuhi tanggungjawab menyediakan “Papan” aka rumah yang terjangkau untuk semua termasuk keluarga miskin? Percaya lah, konsep menikah dan berkeluarga akan semakin tidak menarik bagi anak-anak milenial.

RUU Ketahanan Keluarga ini hadir bersamaan dengan RUU Cipta Kerja yang cilakalah buat saya mah. Sementara investasi digenjot, buruh semakin ditekan daya tawarnya, cuti melahirkan yang akan dikurangi, lalu kesejahteraan menjadi tanggung jawab lelaki sebagai suami. Selamat! Jika kedua RUU ini lolos, si miskin akan semakin terpuruk, hail yeah, semakin makmur mereka yang berkantong tebal.

Ketololan berikutnya adalah perempuan berenang akan hamil. Ujungnya segregasi fasilitas untuk perempuan dan laki-laki, semakin sempit perempuan berada di ruang public. Tolol ke bol-bol!

Indonesia, we are going backward! Selamat datang masa kegelapan. Maafkan kami Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika… Belanda memang pergi, tapi penjajah sebenarnya tidak…

Saya, Ibu Tanpa Anak

Standar

“A person’s a person, no matter how small.”

— Dr. Seuss

Adik saya sejak awal 20an selalu berencana menikah muda. Kata dia biar supaya mami, biar pas menjelang tua, anak-anak sudah besar. Bukan adik saya saja yang berniat punya anak-anak yang nantinya akan merawat mereka di hari tua.

Buat saya, itu terdengar egois. Kenapa menjadikan anak-anak sebagai perawatmu, sedangkan mereka tak pernah meminta untuk dilahirkan olehmu. Kenapa harus menghitungnya sebagai bentuk balas jasa, sedangkan merawat anak-anak adalah murni tanggungjawabmu sebagai orang tua. Apakah kamu sudah merawat anak-anakmu sebaik itu? Apakah sudah memerlakukan mereka sebagai individu yang juga punya kehidupannya sendiri?

Ketika Rajan dari buku The Third Pillar bilang kalau generasi tua akan menjadi beban bagi generasi sebelumnya, saya tersinggung. Saya tidak punya anak yang nanti “dipaksa” atau merasa “terpaksa” merawat saya, tapi saya tahu bagaimana harus menyiapkan masa tua tanpa menjadi beban bagi orang lain. Bukan Kakak Zi atau Septi, tapi saya dan akang akan menua dan mandiri.

Sejak pacaran sudah kami diskusikan, apa yang akan terjadi jika saya tidak punya anak, atau tidak ingin punya anak? Akang bilang, kita bisa adopsi jika kamu mau. Itu salah satu alasan kenapa saya memilihnya, karena kami menikah bukan untuk melanjutkan keturunan, tapi untuk bersama. Kalau Semesta memberi, itu akan jadi lain cerita, ya sudah, maka jadilah orang tua.

Adalah Dr. Tita dari Hermina Pasteur yang bilang, “anak bisa menjadi berkah, bisa juga membawa dosa.” Dan ketika dia bilang sebaiknya saya melupakan punya anak, iya, kaget diawal, tapi setelah dua tahun ini, saya justru lega. Barangkali memang sebaiknya tidak. Jika menikah dan punya anak adalah tujuan hidup saya, mungkin sudah beranak pinak lebih dari tiga hari ini. Tapi hidup saya bukan untuk itu. Saya punya keistimewaan untuk memutuskan mau diapakan tubuh ini. Saya memilih untuk sendiri selama 39 tahun, dan berkarir. Di luar sana, sahabat perempuan saya tak punya banyak pilihan atau terbawa pada tuntutan sekitarnya.

Setiap berita kelahiran adalah duka buat saya. Membayangkan apa yang akan terjadi pada bumi ini lima tahun dari sekarang, dada saya sesak. Kita tak punya cukup air bersih untuk semua, tak cukup lahan untuk ditinggali. Hari-hari tentang banjir, tentang anak-anak yang mati di kobangan bekas tambang, tentang paru-paru hitam karena polusi, tentang penyakit yang menyebar lintas batas. Secara ekologis, saya bahagia tak punya anak. Tak ingin membebani lagi bumi dengan menambah satu anak untuk hidup. Masa depan mereka telah kita rusak hari ini.

Lalu anak-anak perempuan yang disekolahkan tinggi hanya untuk diblur wajahnya. Itu membuat saya marah luar biasa. Perjuangan berdekade agar anak perempuan maju, hancur hanya untuk berada sekali lagi di belakang laki-laki, diburamkan dari ruang publik. Bahkan Kartini menangis dalam kubur.

Silakan sebut saya sok idealis. Saya ingin perempuan punya kemampuan memilih untuk dirinya sendiri, bahagia menjadi dirinya sendiri bukan dalam status sebagai anak, isteri atau ibu. Saya ingin anak-anak perempuan punya masa depan yang lebih baik dari kita hari ini, bisa lari kencang ketika bencana terjadi, berenang di lautan bebas, mendaki gunung ketika tsunami mengejar, berteriak kencang menyuarakan hatinya. Dan anak-anak itu tak perlu lahir dari rahim saya.

Selamat Hari Kasih Sayang, Para Mantan

Standar

“Time is a collection of events,” Carlo Rivolli

Yang kita punya adalah masa sekarang dan masa lalu, sebab masa datang memang misteri. Frame masa lalu datang sekali waktu karena memori tentang kejadian tidak pernah benar-benar menghilang dari otak. Sesekali dia datang, lalu menghadirkan pertanyaan “what if” bagaimana jika aku masih bersamamu.

Dalam tiga bulan terakhir, para mantan yang jumlahnya memang tak banyak itu muncul simultaneously. Mereka yang tak ada kontak belasan tahun lamanya tetiba terhubung kembali. Satu-satu frame waktu muncul, ada aku dan kamu, di masa lalu. Bahkan dengan dia yang memutuskan kontak dalam marah. Saya termasuk orang yang tidak ingin memutuskan kontak dengan siapa pun terutama yang pernah memberikan warna dalam hidup. Saya berutang padanya karena menjadikan saya hari ini. Tanpa pengalaman itu, saya tidak ada hari ini. To become today, you passed yesterday and there will not be tomorrow if I am not pass today, kalau pakai bahasa Inggris kenapa terbaca keren yak, padahal ya gitu deh.

Kemarin hari ulang tahunnya. Saya pernah meninggalkan pesan setiap tahun di hari itu hanya untuk berucap selamat dan tak dibalas, akhirnya saya berhenti, 12 tahun lalu. Kemarin, saya kirim lagi, spontan saja tanpa berharap dia akan membalas, tapi dalam 5 menit, pesannya sampai. Surprise! I analyze my own feeling through frame of the pass time that we had, all the memories come back. But that’s all, the memories did come back, the feeling is not.

Lalu saya ingat, beberapa bulan menjelang papi stroke dan tak pernah sembuh sampai meninggal, dia berkunjung ke semua sanak saudara dan kawannya. Di hari lebaran, tak pernah seingat saya, dia minta untuk diantar silaturahmi ke semua tetangga, bahkan ke tetangga lama, satu-satu pintu dia ketuk, bersalaman dan meminta maaf jika ada kesalahan. Beberapa hari kemudian, stroke ketiga menghajarnya. Di hari duka, semua yang didatanginya waktu itu, datang.

Apakah sama? Apakah semesta mengingatkan saya untuk menyelesaikan semua rasa penasaran dengan pertanyaan “what if” itu karena saya harus pergi? Apa silaturahmi itu ucapan selamat tinggal? Yang pasti, itu ucapan selamat tinggal pada rasa yang saya kira masih ada ternyata tidak. Saya tidak lagi perlu memelihara ketakutan akan sebuah pertemuan atau percakapan, ketakutan akan rasa saya sendiri. Karena pagi ini saya terbangun dengan hati yang lapang. Saya hari ini karena mereka kemarin, dan saya bahagia dengan apa yang punya dan putuskan.

Seorang yang datang dalam hidup bukan tanpa alasan, bukan kebetulan, tapi untuk memberi sebuah pelajaran. Untuk itu, saya berterima kasih untuk kamu dan kamu, yang pernah hadir dalam satu frame kehidupan saya. Thank you!

Eleanor Roosevelt said yesterday is history, tomorrow is mystery but today is a gift. Embrace your gift, happy valentine!