Review Zealot – The Life and Times of Jesus of Nazareth, oleh Reza Aslan. Ini Tentang Sejarah, Bukan Sekedar Persoalan Agama

Standar

Sebelum membaca buku Reza Aslan, Zealot ini, saya sempatkan membaca terlebih dahulu resensi bukunya, menonton berdebatan tentang buku ini lewat Youtube. Hal paling mendasar yang ditanyakan public kepada Reza Aslan adalah, siapa dia berani mempertanyakan tentang Ketuhanan Yesus Kristus?

Dengan tegas Reza menjawab, dia adalah sejarawan dan peneliti keagamaan dan kepercayaan dari sebuah universitas di Amerika, artinya dia adalah akademisi, semua yang dia tulis berdasarkan sumber yang bisa terpercaya. Karena itu pula Reza menegaskan dia menulis secara objektif sebagai sejarahawan dan bukan sebagai muslim yang diikuti nilai subjectivitas saat menulis. Reza pernah menjadi umat Kristiani dari aliran Evangelic dan pertanyaan tentang siapa Yesus dari Nazareth justru muncul sejak dia mengenal Yesus di usia 15 tahun.

Saya pribadi sempat ragu untuk membagi apa yang sudah saya baca dalam buku ini karena negeri ini sedang lebay soal kepercayaan orang lain. Semua merasa benar sendiri tanpa bisa memisahkan antara agama dan sejarah. Buku ini menarik sejak awal karena bertanya, siapa Yesus sebelum menjadi Yesus Kristus? Siapa Yesus dari Nazareth ini? Seperti yang Reza sampaikan di atas, saya juga hanya berani menyampaikan ulang apa yang dituliskan dalam buku ini, tak perlu mendebatnya, apalagi saya tak tahu banyak tentang agama Kristen.

Jauh sebelum nama Yesus muncul, Palestina adalah negeri yang dikuasai Kerajaan Roma kuno dan sebagian besar penduduk Palestina beragama Yahudi orthodok. Sebuah kuil besar terletak di kota Jerusalem yang menjadi pemujaan untuk tuhan mereka. Yang berkuasa di dalamnya adalah Pendeta di Kuil. Kerajaan Roma jelas mengerti untuk mengendalikan masyarakat agar tunduk pada mereka tak cukup dengan kekerasaan, tapi juga dengan doktrin keagamaan. Kerajaan bekerjasama dengan Kuil untuk ‘menindas’ rakyat. Sesembahan berlimpah harus dipenuhi oleh mereka yang ingin dibersihkan dari dosa. Yang menentang kuil, berarti menentang raja dan sebaliknya, hukumannya jelas disalib di puncak tertinggi di negeri ini. Kenapa? penyaliban mereka yang dianggap berdosa pada dua institusi ini punya tujuan; pertama, penyaliban lebih murah. Si pesakitan mati perlahan dan mayatnya tak perlu dikubur, dia akan habis dimakan binatang. Kedua, kematian perlahan dari dilihat semua rakyat adalah bentuk penjeraan bagi yang lain, agar mereka takut melakukan pelanggaran hukum.

Sebelum nama Yesus tersebut dalam Kitab Perjanjian Lama dan Baru, sangat sulit menemukan jati dirinya yang terbebas dari nilai-nilai dalam Gospel. Yang diperoleh Reza tentang sejarah masa sebelum Yesus adalah yang sempat ditulis oleh Roma sebagai bangsa penjajah. Sebelum Yesus, rakyat Palestina sudah berkali-kali memberontak untuk kemerdekaan, maafkan saya yang tak hapal satu persatu nama para pemimpinya.

Kita ke Nazareth. Desa ini saking kecilnya bahkan tak nampak dalam peta awal Palestina, bahkan jarang disebut dalam cerita Gospel, kecuali Bethlehem, Jericco dan Jerusalem. Sebagai manusia, Jesus pasti punya keluarga, ibu, bapak dan saudara lelaki dan perempuan, yang lagi-lagi tak disebut dalam sejarah dan Gospel kecuali dua nama James dan John juga perempuan bernama Magdalena yang ketiganya masuk dalam 12 pengikut awal Yesus. Nama anggota keluarga yang lain kemungkinan dihapus dalam sejarah karena mereka menolak mengikuti Yesus. Yesus itu beragama Yahudi, tapi dia menentang orang yang memanfaatkan ajaran Yahudi untuk kepentingan pribadi dan golongan. Lalu siapa Magdalena? Secara logika dan sejarah, lelaki seusia Yesus ketika itu harusnya sudah menikah, kecuali dia menempuh jalan selebasi, tapi hal ini juga tidak disebut dalam sejarah. Kecuali dalam beberapa sumber disebutkan kedekatan Magdalena yang melayani Jesus.

Lalu kenapa kemudian Yesus disalib? Dengan alasan yang sama bahwa Yesus menentang kekuasaan Kerajaan Roma dan Keserakahan Kuil yang menyengsarakan rakyatnya. Yesus disalib bersama dua orang lainnya, yang sepanjang sejarah diperdebatkan statusnya, apakah mereka pengikut Yesus atau bukan karena literature lain menyebut dua orang ini sebenarnya adalah pencuri biasa? Pedebatan itu Reza sampaikan dalam bukunya.

Kisah kebangkitan Yesus di hari ketiga kematiannya juga disampaikan, tapi literature yang Reza sampaikan sebagian besar berasal dari Gospel yang sulit dicari tandingan ‘kebenarannya’ apakah betul Yesus hidup kembali? Dalam artian sebenarnya hidup kembali atau yang dimaksudkan adalah ajarannya yang bangkit dan hidup semakin besar hingga menjadi agama terbesar di dunia hingga sekarang? Apakah itu juga yang menjawab pertanyaan tentang Kerajaan Tuhan akan segera tiba dan berwujud bahwa itu adalah kiasan dari kebesaran Kristiani di dunia saat ini?

Yang jelas kata Reza, Yesus yang beragama Kristen, Jesus The Christ baru muncul di 70.c.e lewat tulisan dan surat-surat dari Paul yang terangkum dalam Perjanjian Lama dan kemudian diklaim sebagai agama resmi Kerajaan Roma dan kini berkembang ke seluruh dunia dengan berbagai aliran.

Cerita Reza Aslan tentang Yesus dari Nazareth berakhir di sini. Pesannya jelas, dia tak ingin mendebat tentang kebenaran dalam ajaran agamanya tapi dia ingin memperkenalkan tokoh Yesus dalam sejarah. Sejarah yang dituliskan oleh mereka yang berkuasa….

Seorang kawan dari Palestina menuliskan komentar dalam postingan foto buku ini, dia bilang, ‘ waaah sekarang kamu membaca tokoh pemimpin Palestina paling berpengaruh dalam sejarah manusia.’ Luar biasa!

Membaca Yesus dari Nazareth seperti juga halnya membaca sejarah tentang Muhammad dalam sejarah Islam. Mereka sama-sama manusia yang menentang ketidakadilan, dan memperjuangkan kesejahteraan umat di manusia… dan akhirat (menurut kepercayaan masing-masing). Buku ini layak kamu baca, semoga segera ada yang menerjemahkannya dalam Bahasa Indonesia.

ZEALOT

Why I Still Write A Blog and Share Thoughts On Social Media?

Standar

To send a message

That’s what Snowden replied my tweet… yes that famous Edward Snowden. If the surveillance issues is matter why am I still on the wire? Because thoughts and knowledge are worth to share. Because I have the privilege to access better and higher education, great books and meet an amazing people with knowledge, while other don’t. However, education is the basic human right, as the freedom of expression does. So it is the mutual relationship between me and my readers and or my network. The more you share something, the more you learn new thing, and for me, especially, writing is my own way to keep my memories alive, to make myself immortal.

I am completely aware that I am no longer myself once I connect to the net. Anyone can track me down; some bad people can misuse my information and those fucking data miners can sold my data to the market. Nevertheless, you are who you are, algorithm insanely smart, but human is always dynamic and smarter (okay, if they only know) and you can always change your own pattern in life.  You find me different if you meet me in person. You can’t read me just by the line of my sentences on my blog or my social media posts. Hitherto, I am proud to be an impulsive and a random person, so to speak.

When my best friend told me to go back to campus as a lecture, I would love to. But, it is not possible to do so right now. Thus, I keep writing thoughts on my blog, share to my ‘echo-chamber’ while hopping they can share more to others. Hitherto, I consider writing is to remember and to keep my memories work. Hopefully, they are benefits for others. ‘ Reading is like breathing in, Writing is like breathing out’….

Happy reading

reading-is-like-breathing-in-writing-is-like-breathing-out-quote-1

Review The Shock Therapy – Naomi Klein_’Pasar Bebas dan Shock Therapy Yang Mengerikan’

Standar

Saya menemukan kembali buku The Shock Doctrine karya Naomi Klein yang sudah hampir setahun tersimpan dalam boks plastic. Pas banget momentnya saat di negara yang semuanya serba lebay ini, ada sebagian orang yang bernostalgia tentang indahnya zaman Orde Baru dan menginginkannya kembali. Ah kamu ini, buta sejarah, malas membaca, atau mungkin harga dirimu terbayar sudah?

Buku ini diawali tentang Milton Friedman, bapake Chicago School (yang selama saya membacanya selalu kepeleset dengan Chicago Bulls-tim basket asal Chicago xixixi) yang ingin sekali ideologi pasar bebasnya bisa hidup. Saya bukan ekonom dan tidak bisa menjelaskan secara detail apa yang dia teorikan dalam Neoliberalism. Yang saya bisa ringkaskan adalah Pasar dibuka secara bebas untuk swasta dan pemerintah tak bisa memasuki atau mengaturnya. Segala sesuatu biar pasar yang menentukan, penguasa berkuasa, bahkan atas negara (bikin saya keselek) bahkan apa-apa yang semula diatur negara harus diserahkan pada swasta dalam istilah privatisasi… ahai… inget ya masa-masa kita ribut tentang air yang diprivatisasi di Jakarta dengan dua operatornya, mata air yang dikuasai oleh perusahaan sementara warga sekelilingnya kekeringan… ah … masa itu belum lewat, kamu hanya perlu membaca koran pagi ini.

Ekonomi adalah science karena itu teorinya harus dipraktekkan, diujicoba. Maka negara pertama yang jadi laboratorium bagi Friedman adalah Chille, yang saat itu dipimpin dictator Augusto Pinochet ditahun 70-an. Ketika negara dalam krisis ekonomi, Friedman menawarkan sejumlah proposal rencana perbaikan, persis seperti dibicarakan di atas, apa-apa yang dimiliki negara harus diprivatisasi, dilelang dan swasta masuk. Siapa yang menghalangi rencana ini akan diculik, disiksa atau langsung dihilangkan.

Bab kedua dalam buku ini bicara tentang Penyiksaan (Torture) dengan sengatan listrik yang dimaksudkan agar si penderita jera, dan mengakui ‘kebenaran’ yang didoktrinkan padanya. Seorang psikiatri (saya lupa namanya – Cameron kalau nda salah) juga berperan mengujicoba teorinya tentang brainwashing, pencucian otak dengan sengatan listrik. Bagian ini terus terang mengerikan buat saya, persis yang digambarkan George Orwell 1984 yang juga dikutip dalam pembukaan bab ‘Kami akan menghabisi ‘kamu’ mengosongkan ‘kamu’ lalu mengisimu dengan yang baru.’

Apa yang terjadi di Chile, merambat ke Bolivia (yang ketika shock doctrine pasar bebas tidak berhasil dan mereka terpuruk secara ekonomi, Friedman dengan gampangnya mengusulkan – Ya sudah, jual Coca saja atau Kokain, pasanya di Amerika, dan yes,itu mendongkrak perekonomian Bolivia, yang pada tahun-tahun berikutnya Amerika datang seperti pahlawan melawan peredaran narkotika – war on drug) lalu ke Argentina, Brasil, Ekuador, Venezuela, yang kawasan ini disebut sebagai Southern Cone. Lalu mereka ke Asia.

Di Indonesia, penentang teori pasar bebas ini adalah Soekarno. Amerika melihat Soekarno sebagai ancaman yang harus disingkirkan… Voila, Soeharto muncul. Didukung CIA, Soeharto menyingkirkan Soekarno dan ketakutan terhadap Komunisme dilancarkan, hingga sekarang. Soeharto dapat pelajaran khusus tentang neoliberalisme, didikte langsung lewat rekaman kaset oleh ekonom ekonom UI dalan jaringan Barkeley Mafia. Satu-satu perusahaan asing muncul, Freeport lah yang paling besar mendapat porsi, hingga sekarang. Lagi-lagi mereka yang menentang pun dihilangkan…

Setelah Asia, lalu Eropa. Inggris mendapatkan angin untuk menerapkan neoliberalisme di masa Margaret Theacher berkuasa. Tapi tak semudah itu langkahnya, butuh musuh bersama untuk mendapatkan dukungan dari rakyat, Perang Falkland adalah jawabannya. Setelah Teacher mendapat kepercayaan dari rakyatnya, paham itu mulai masuk. Bahwa seseorang bertanggungjawab penuh pada dirinya sendiri, bukan negara. Harga-harga property mulai naik, serikat buruh memulai dipangkas perannya. Lalu Polandia, lalu Rusia di masa Yeltsin sampai Putin berkuasa.

Bagaimana teori ini bisa bergerak?

Diawali dengan pendidikan. Iyes. Pendidikan adalah bentuk doktrinisasi yang sebenarnya. Pengikut teori pasar bebas adalah murid-murid Milton Friedman yang berasal dari negara-negara yang disebut di atas. Mereka menjadi penasihat-penasihat ekonomi di negaranya.

Kemudian setelah negara dalam krisis ekonomi, muncullah dua organisasi penyelamat dunia, IMF dan World Bank yang siap mengucurkan pinjaman dengan SYARAT dan KETENTUAN berlaku, yaitu melepaskan kuasa negara pada sector-sektor yang mereka tahu persis menguntungkan seperti pertambangan dan energi, subsidi kesehatan dan pendidikan harus dipangkas karena dianggap membebani anggaran negara…. Sounds familiar sekarang ya? Oh iya, IMF dan World Bank tidak akan membantu negara yang mereka nilai tidak punya sumber daya menguntungkan.

Di Asia, hanya Malaysia yang saat itu dipimpin Mahathir Muhammad yang berani menolak ‘kebaikan’ IMF. Selebihnya terjebak dalam hutang yang diwariskan pada generasi berikutnya.

Apakah investasi IMF dan World Bank berhasil? Tidak selalu. Di negara-negara yang mereka kucurkan dananya itu malah bermasalah, korupsi besar-besaran seperti di Rusia dan Indonesia. Dananya dialirkan pada kroni-kroni mereka sendiri, bukan perusahaan multinasional seperti niatan semula. Sementara di dalam negara-negara dengan menerapkan teori ini, jurang pemisah antara kaya dan miskin ini luar biasa besar, penikmat kekayaan negara adalah mereka yang dekat dengan kekuasaan, rakyatnya tetap melarat, tingkat pengangguran tinggi dan pelanggaran ham tak terbilang.

Chicago Boys – penganut Chicago School butuh laboratorium baru untuk menerapkan langkah baru. Sebuah negara yang bisa di’bersihkan’ dan dibentuk baru. 11 September 2001 seperti sebuah jawaban. Amerika butuh musuh baru untuk kembali mendapatkan dukungan rakyatnya. War on Teror digadang-gadang. Adalah Donald Rusmfeld yang berhasil menjadikan ini sebagai ladang dagangan baru. Bisnis militer tak lagi berpusat pada penambahan jumlah manusia, tapi pada teknologi. Semua diprivatisasi. Kenapa negara harus merekrut sendiri tentaranya kalau ada outsource yang bisa menyediakan dan melatih mereka, perbandingannya ada 1 tentara ‘bayaran’ di antara 4 tentara pemerintah. Teknologi surveillance ditingkatkan. Di bab terakhir sebelum kesimpulan Naomi Klein bilang yang mendapatkan untung besar dalam pasar teknologi surveillance ini adalah Israel. Jargon Israel adalah ‘kita tak butuh perdamaian, tapi kita butuh pengamanan’. ‘Terorism’ jadi musuh utama dunia.

Iraq menjadi laboratorium berikutnya, seperti dibersihkan dari akar budaya mereka, Amerika dan sekutunya datang dengan tudingan membersikan senjata pembunuh massal yang dikemudian hari Tony Blair bekas Perdana Menteri Inggris mengakuinya sebagai kesalahan. Di Iraq, mereka menghancurkan warisan budaya dan museum-museum. Di dalam penjara Abu Gharaib, cendikia Irak diculik, dihinakan. Mereka dipaksa mengencingi al Quran, lalu diberi waktu makan ‘enak’ dengan Mc.Donald, menonton film-film Hollywood dan mengenalkan demokrasi sebagai sebuah ideologi yang jauh lebih baik daripada Islam. Sebagian yang dikeluarkan dari penjara dengan bilang, ‘penangkapanmu adalah kesalahan.’

Yup… saya menyebut WHAT THE FUCK berkali-kali selama membaca buku ini…

Tidak cukup dengan perang, Chicago Boys datang dalam bentuk ‘AID’ atau bantuan kemanusiaan ketika Shock dalam bentuk bencana alam datang, Tsunami 2005. Contoh yang diberikan oleh Naomi adalah Bangladesh. Ketika USAID datang dengan bantuan kemanusiaan, yang dimaksudkan adalah memindahkan para nelayan dari sebuah tempat yang kemudian disulap menjadi resort dan dikuasai kapitalis wisata. Bali adalah benchmark mereka… ya  ya… saya juga terkesima…

Satu bagian yang perlu juga saya bagi adalah tentang Israel. Kenapa Amerika tidak mungkin memberikan tekanan pada Israel sementara dunia menuntut mereka untuk menghentikan genosida pada bangsa Palestina? Penjelasan Naomi Klein mungkin menjadi jawabannya.

Salah Yeltsin yang membom parlemen Rusia tahun 1990an, dan membuat ribuan Yahudi di negara itu kabur ke Israel untuk mencari aman. Di antara pengungsi Yahudi ini adalah mereka orang-orang penting dan pintar semasa perang dingin dan dikemudian hari berguna untuk membangun Israel sebagai negara pengekspor teknologi keamanan terbesar di dunia dan Amerika sangat bergantung padanya. Sementara dengan banyaknya pengungsi ini tentu saja menimbulkan masalah social dan urusan tempat tinggal, mulailah urusan perebutan wilayah Palestina oleh Israel ini muncul. Tidak Cuma tanah yang direbut, tapi mereka juga menuntup akses ekonomi orang-orang Palestina di Israel dan karena mereka sudah merasa ‘dilindungi’ Amerika dan tidak bergantung pada negara-negara Arab lainnya, Israel tak merasa perlu membina hubungan baik dengan semenanjung Arab. Paham yak… boleh didebat… jadi selama Amerika punya pertalian pasar dengan Israel, selama itu pulak, siapa pun yang memimpin negara itu, tak bisa diharapkan untuk menuntaskan masalah Israel – Palestina.

Pada kesimpulannya Naomi bilang, yang bisa menyelamatkan sebuah negara adalah kekuatan dari dalam, kekuatan dan solidaritas rakyatnya sendiri.  Di Thailand, kapitalisme pariwisata tak sukses menyingkirkan korban tsunami karena negaranya bergerak cepat, rakyatnya saling membantu dan tak mengandalkan bantuan asing. (naomi tak mencontohkan Aceh sayangnya). Lalu di Southern Cone, negara-negara Amerika Selatan bersatu, mereka membuka pasar untuk wilayahnya sendiri. Menolak kehadiran IMF dan World Bank di kawasan ini dan mereka tidak lagi mengirimkan anak mudanya belajar ekonomi di Amerika. Mereka berdaulat.

Tidak semua hal jelek kan dari pasar bebas, tentu saja tidak, semua bisa didebatkan. Tanpa control pemerintah sama sekali, Pasar Bebas itu macam hutan belantara, yang besar yang berkuasa, keuntungan hanya milik sebagian orang. Lalu muncullah istilah Democrat Socialism, hanya sayangnya dibahas sedikit oleh Naomi Klein. Negara tetap berkuasa dan berdaulat sementara pasar tetap dibuka untuk investasi asing tapi tidak untung menguasai hal-hal yang berimplikasi pada kemaslahatan orang banyak terutama pendidikan dan kesehatan.

Sebagai penuntup, saya kutipkan Naomi Klein, ‘bahwa penikmat dan pengambil keuntungan sesungguhnya tak pernah benar-benar ada dalam medan perang’

btw, seperti rekomendasi dalam sampul belakang, buku ini memang seru dibaca di mana aja dan kapan saja. Terpengaruh oleh latar belakang Naomi yang jurnalis itu, bahasa yang dia gunakan juga sederhana dan sangat mudah dicerna.

 

the shock doctrine

 

 

Perjalanan Bukan Ukuran Kebahagiaan dan Rumah Tak Harus Bikin Putus Asa

Standar

Teramat pagi saya bangun hari ini, perkara hotel tempat menginap dindingnya terlalu tipis, jadilah saya mendengar semua yang terjadi di luar kamar. Lalu hasil selancar membunuh pagi menemukan sebuah artikel di Vice tentang generasi milineal yang bakal homeless atau tuna wisma dalam beberapa tahun ke depan. Di artikel tersebut disebut minimal generasi millennial harus punya gaji bulanan sekitar 9,5 juta rupiah, untuk kota Jakarta yang UMR 3.35 juta rupiah. Saya tersentuh secara pribadi, mengingat baru pekan ini berhasil menyelamatkan rumah yang saya cicil sudah 7 dari 15 tahun kredit dari proses lelang. Lagi-lagi saya merasa beruntung, semesta masih mempercayakan rumah itu sebagai rezeki saya. Biasanya tunggakan 3 bulan saja, rumah sudah masuk proses lelang. Saya menunggak 12 bulan karena tak sanggup mencicil dengan uang beasiswa selama di London. Ada harga tinggi untuk sebuah cita-cita, tapi semua itu berharga 😉

Saya mulai dengan cerita tentang gaji ideal 9.5 juta rupiah. Begini kakak. Sepanjang saya berkarir sebagai jurnalis dan juga pekerja social, gaji saya tertinggi saat bekerja kantoran antara tahun 2002-2015, paling tinggi adalah 8 juta rupiah. Anak sok idealis kalau kata kawan, makan tuh idealisme, selamanya miskin. Wah sering banget kata-kata itu muncul dari kawan-kawan yang sudah duduk di atas mobil mewah dan rumah bertingkatnya. Mengutip istilah kawan, keringat mereka yang mengkristal itu harganya tinggi. Sedang keringat saya, ya hanya menghasilkan bulir bulir nasi di rice cooker hahaha, edisi lebay.

Passion (biar keren) saya, dan banyak kawan-kawan yang bergerak di dunia yang sama, LSM dan Media Massa kadang dimanfaatkan oleh ‘Kapitalis Hijau’ atau Green Capitalist. Darimana tahunya? Pernah mencoba lihat jurang gaji yang besar dalam satu organisasi yang berlabel sosial? Di lembaga saya bekerja dulu, struktur organisasi di atas saya adalah langsung Direktur Utama. Gaji direktur saya ketika itu, 20 juta rupiah. Gaji saya 8 juta rupiah. Voila!! Di sebuah media di Indonesia, jadi produser atau editor dapat 10 juta, gaji produser eksekutif nya 25 juta rupiah. Seorang konsultan untuk lembaga social bisa bergaji 20 jutaan, tapi relawannya di lapangan bisa jadi cuma dikasih salamanan… kan relawan…

Ini ironi sebuah organisasi yang selalu berlindung pada label yayasan dan media massa juga bertameng pada kata ‘ini media, mana ada wartawan kaya’… cuk! Yang miskin memang jurnalis lapangannya yang kalau kata eci, upilnya jadi hitam karena kebanyakan di ojek kejar berita. Tapi  hanya tiga level di atas mereka bisa turun naik mobil pribadi… menurut ngana? Atau yang selalu bilang, DONOR nya sepi, tapi direkturnya masih bisa bermewahmewah bikin acara di hotel dan minum kopi di café.

Generasi Millenial yang belum mencapai usia 40an ini adalah korban-korban jargon ‘follow your Passion to find your happiness,’ Mereka yang bekerja mengikuti passion-nya, tentu saja dengan ‘senang hati’ dibudaki, karena idealisme nya melintasi realitas kebutuhan perut, pakaian dan tempat bernaung alias rumah.

Setelah sadar ga mungkin bisa beli rumah karena harganya terus tinggi, millienal yang tengil jadi korban jargon berikutnya, ‘home is the world’, ‘travel yourself to find true happiness.’ Pret lah! Ngana pikir biaya perjalanan dibayar pake daun? Lalu pakai kartu kredit dengan tawaran menarik untuk jalan-jalan kemanapun. Menurut saya, piknik ga harus ngabisin duit! Menghargai hal sekecil makanan di atas piringmu saat ini, sudah cukup untuk disebut piknik. Ngobrol dengan orang asing di sebelahmu dalam bus saat ini, adalah piknik. Belajar sesuatu yang baru setiap saat, berteman dengan orang baru setiap hari, adalah piknik. Taik kucing tentang piknik yang setiap kali kamu pulang, sibuk berhitung hutang atau sisa tabungan.

Sepanjang hidup, saya dan keluarga adalah orang kontrakan. Pindah satu rumah ke rumah lain, dari satu kamar ke kamar lain. Suatu saat saya ingin pulang ke rumah sendiri, yang saya bangun dari hasil keringat sendiri, tak perlu senilai kristal szaworski *halah susah ejaannya, cukuplah tempat saya berteduh. Selama bekerja saya sudah merasakan perjalanan sana sini, tiga kali makan di tiga tempat berbeda dalam satu hari, narik turun pesawat sudah seperti saat pilek, ingus turun naik. Setiap perjalanan memberi arti lebih dari sekedar foto di Instagram dan di facebook. tapi suatu hari, perjalanan fisik itu harus berhenti. Saya memulai petualangan dari sebagai anak kecil dari kampong kumuh di sudut Jakarta dengan membaca, bermimpi bagaimana rasanya duduk di atas pesawat, bobok di hotel mewah dan melihat pemandangan bawah laut. Saya ingin mengakhirinya dengan duduk nyaman di rumah sendiri, menulis kembali semua perjalanan ini dan membaginya dengan gadis cilik di mana pun mereka berada, bahwa mereka bisa bermimpi setinggi langit tanpa ragu untuk mewujudkannya.

Kamu, setiap perjalanan akan terhenti, dimana kamu akan berada saat itu? Jangan tinggalkan passionmu, tapi jangan lupakan juga masa depanmu. and being idealist is not necessary to make yourself suffer 🙂

Derawan

Piknik ke Danau Dua Rasa, Labuan Cermin

Standar

Menguping seorang kawan, jumlah wisatawan local ke Labuan Cermin tahun lalu adalah 40.000 orang. Iya masih wisatawan local yang datang karena nama Labuan Cermin belum sebeken Derawan, Maratua, Kakaban dan Sanglaki di telinga turis manca negara.

Jarak Tanjung Redep, ibukota Kabupaten Berau ke Labuan Cermin di Kecamatan Biduk-Biduk saja butuh waktu tempuh sekitar 6-7 jam lewat darat. Tapi kalau kebetulan sedang berlibur di Derawan, Labuan Cermin bisa dijadikan tujuan sambilan, karena cuma 3 jam pakai kapal motor atau speedboat dari Derawan.

Kebetulan saya sedang menuju lokasi proyek pembangunan listrik tenaga matahari Akuo Energy Indonesia dengan funding dari MCA-Indonesia di Teluk Sumbang, yang melewati Labuan Cermin. Saking seringnya mendengar nama ini, tak tahan juga untuk tidak mampir, sekalian melihat bagaimana masyarakat Biduk-Biduk sebenarnya bisa hidup dari eco-wisata, tanpa harus menjual tanah mereka pada perusahaan sawit atau semen.

labuan-cermin_01

Setelah kembali dari Teluk Sumbang (yang juga sangat indah, saya akan tulis berikutnya), kami melipir sebentar ke Danau Dua Rasa, Labuan Cermin. Air di permukaan danau ini rasanya tawar, tapi di bawahnya adalah aliran air asin. Airnya berwarna hijau ke biru-biruan, jernih seperti cermin, selain bisa lihat diri sendiri di permukaan air seperti Narcissus, kita bisa melihat dasar danau.

Sadar bahwa kampong ini menjadi tujuan banyak orang, warga kampong di sekitar Labuan Cermin mematut diri. Bersih tak ada sampah, toilet tersedia di beberapa sudut kampong untuk pengunjung berganti pakaian, dan ramah. Yang berbeda dengan kampong wisata lain yang pernah saya kunjungi, di sini saya tak merasa terganggu dengan pedagang souvenir atau juga pemilik kapal yang akan mengantar ke lokasi danau.

labuan-cermin_05

Begitu masuk lokasi wisata Labuan Cermin, saya hanya perlu menuju loket. 100 ribu rupiah untuk satu kapal dengan maksimal penumpang lima orang, ditambah biaya administrasi 7 ribu rupiah perkepala. Begitu selesai bayar, kami diantar ke dermaga kecil yang di sana sudah siap kapal mengantar kami ke danau. Hanya perlu waktu kurang dari 10 menit kami tiba di lokasi.

Pemandangan 10 menit di perjalanan juga tidak membosankan. Kiri kanan masih terjaga alamnya, rimbun hutannya.

labuan-cermin_00

Begitu sampai mata ini akan langsung jatuh cinta pada diri sendiri saat bercermin di airnya yang jernih. Mandi-mandi… apalagi yang ditunggu. Kalau bisa berenang, langsung saja nyebur. Saya yang tidak bisa berenang tapi jatuh cinta pada airnya Labuan Cermin ini langsung sibuk mencari sewaan pelampung dan ban untuk bisa mengapung. Harganya masing-masing 15ribu rupiah.

Oh iya, boleh mandi sepuasnya, kapal setia menunggu sampai kamu puas dan keriput karena kelamaan berendam.

labuan-cermin_03

Kabarnya sih ada penyu di Labuan Cermin, tapi kami tak bertemu satu pun. Tak apa, kami cukup puas menikmati air jernihnya yang dingin, pepohonan yang rimbun dan elang laut yang sibuk mencari makan di atas kepala kami.

labuan-cermin_04

Menuju Danau Labuan Cermin

Berau dapat ditempuh dengan menggunakan pesawat dari Balikpapan tapi karena perjalanan udara memakan waktu hampir 5 jam termasuk waktu menunggu dan transit, biasanya kami menginap satu malam di Tanjung Redeb, ibukota Berau. Di Tanjung Redeb, sebaiknya menyewa mobil untuk ke Kecamatan Biduk-Biduk. Untuk harga sewa 4WD, sekitar 2 juta rupiah perhari. Karena jarak tempuh yang 6 jam itu, sebaiknya menginap satu malam di penginapan di Kecamatan Biduk-biduk yang rata-rata hanya sekitar 85ribu rupiah sudah termasuk sarapan.

Wisata ke Berau memang mahal di ongkos perjalanan, tapi sekali perjalanan sebenarnya ada banyak yang bisa dilihat di Kecamatan Biduk-Biduk ini. Sebut saja dua lokasi air terjun dan satu goa di Kampung Teluk Sumbang, satu danau tempat penyu berkembang biak di Teluk Sulaiman. Bahkan kalau waktunya cukup, bisa lanjut ke Pulau Kaniungan milik kampong Teluk Sumbang.

Luangkan waktu sekitar empat hari untuk bisa menikmati satu kali perjalanan di Kecamatan Biduk-Biduk ini. Belum termasuk menu perjalanan ke Pulau Derawan, Maratua, Kakaban dan Sanglaki loh. Tapi kalau mau pengalaman yang tidak biasa, perjalanan ke Kecamatan Biduk-Biduk layak kamu coba.

labuan cermin_02.jpg

Tak Ada Perempuan di Pilkada DKI

Standar

Tidur akhir pekan saya kali ini sungguh terganggu usai menonton debat semalam. Saya kira tak akan ada hal baru yang ditanyakan karena jawaban semua paslon ya itu-itu aja sejak debat pertama. Apa pun pertanyaannya, jawabannya ga jauh dari perumahan apung yang dan 1 minyar untuk RW oleh Agus, foto cantik hasil  penggusuran bantaran kali dan KaliJodo yang jadi andalan Ahok, dan kartu Ok Oce yang jadi andalan Sandi serta dakwah Anies tentang Narkoba.

Begitu menyimak kembali text di layar TV tentang tema debat ‘ Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak’ saya langsung meradang. Seperti Jaka Sembung bawa golok, kaga nyambung G**…. Saya langsung sedih, sesedih sedihnya…

Belum selesai saya meringis melihat timeline FB saya yang bersih dari komentar soal penampilan moderator. Kalau moderatornya perempuan yaitu Ira Kusno, bukan isi debat yang muncul di status, tapi soal kecantikannya, usianya yang lebih dari 40 tahun dan status perkawinannya… what the fuck! Tidak ada satu timeline di FB yang mengomentari bagaimana cara Ira memimpin debat pertama yang menurut saya ketika itu terlalu grogi dan kaku dengan suara melengking yang bikin kuping saya terganggu. Sementara debat malam ini dipimpin oleh Alvito dan semua HANYA membahas isi debat! Tak ada yang mengomentari semakin klimisnya rambut Alvito, dan menurut saya Alvito lebih luwes memimpin debat.

Nyata betul bahwa perempuan cuma dianggap aksesoris layar kaca apapun latar belakang pendidikannya, segimana pun pintar dan berprestasinya dia!

Kembali ke tema debat tentang pemberdayaan perempuan malam ini.

Tidak ada dari tiga paslon yang keluar dengan program brilliant untuk melakukan pemberdayaan perempuan. Semuanya focus pada pemberdayaan PKK! Anies yang saya dengar sempat menyebut tentang banyaknya komunitas perempuan di DKI, eh sayang ujungnya meruncing lagi pada peran PKK!

Tidak ada yang salah dengan PKK, kecuali selama ini peran perempuan hanya dikerdilkan lewat PKK di ranah domestic! Mengurusi kesehatan anak dan membina keluarga. Itu artinya perempuan masih dianggap tak pantas ada di ranah public!!

Mpok Silvi saya rasa juga hanya dipasang sebagai templokan ada terlihat mewakili perempuan, padahal tidak sama sekali. Maaf ya mpok. Tidak apa apa. Bicara perempuan di panggung tadi malam, cuma ada Mpok Silvi, selebihnya lelaki, ga papa…mengutip teman-teman perjuangan, yang penting ada dulu aja nit, soal isi masih bisa dibenerin nanti… itu yang terjadi di kuota 30% perempuan di Parlemen!

Atau jangan-jangan pertanyaan tentang pemberdayaan perempuan juga hanya dimunculkan agar Nampak sebagai bentuk kepedulian tanpa tahu bahwa pertanyaan itu begitu sensitive?

Tentang bagaimana perempuan berdaya sebenarnya paling gampang melihat pada Gender Development Index, atau Indeks Pembangunan Gender, dia akan selalu hadir bersama dengan Indeks Pembangunan Manusia… oops, IPM ini sudah disebut padahal di debat satu. Tapi malam ini, para paslon lagilagi cuma focus pada:

  1. PKK
  2. Ahok yang marahin seorang ibuk – buat saya tak ada justifikasi untuk ini, apa pun alasannya.
  3. Foto dengan ibuk-ibuk sebagai indikasi kepedulian terhadap perempuan

Aaaahhh…. Saya sedih 😥

Dalam level nasional yang datanya diambil dari UNDP 2014  (http://hdr.undp.org/en/data) Indonesia ada di Medium Value of Indeks Pembangunan Manusia  dan dalam Indeks Pembangunan Gender masuk dalam grup 3  atau di Medium Equality dalam IPM antara perempuan dan laki-laki. Informasi apa saja yang ditampilkan dalam GDI?

  1. Jumlah kematian ibu melahirkan (kematian per 100.000 kelahiran)
  2. Jumlah usia perempuan melahirkan ( per 1000 perempuan berusia antara 15-19)
  3. Jumlah kursi di parlemen yang dimiliki perempuan. Tahun 2014 masih 17% dari 30% kuota nasional.
  4. Tingkat pendidikan perempuan
  5. Jumlah penyerapan tenaga kerja perempuan

Itu semua ada angkanya! Dari level nasional, semestinya semua paslon bisa dong melihat angka di tingkat provinsi lalu berdebat lah sesuai dengan tema yang ditentukan! Haloooo

Diluar dari 5 indikator di atas, persoalan perempuan lainnya adalah tentang KDRT – Kekerasan Dalam Rumah Tangga, yang mestinya sih datanya gampang dicari, ini Jakarta Om dan Tante! Tentang perburuhan anak, apa kabar anak-anak pemulung yang jumlahnya ribuan di Jakarta. Tentang Perdagangan Manusia terutama perempuan dan anak di Jakarta….

Semua datanya bisa dicari. Jadi pengen tahu bagaimana perasaan kawan-kawan LSM Perempuan di Jakarta yang seperti tak dianggap ini.

No! waktunya tidak akan cukup untuk menjelaskan hal di atas.. really?!

Ini bukan soal waktu yang tidak cukup untuk menjelaskan program nyata apa yang akan dilakukan para paslon untuk pemberdayaan perempuan. Ini soal ketiadaan perspektif gender pada ketiga pasangan calon Gubernur DKI yang bakal memimpin Jakarta, barometer pembangunan Indonesia. Menyedihkan!

Waktu pun habis untuk saling serang dan bertahan pada persoalan yang menyerang pribadi, bukan mendebat isi program. Sedih saya ketika bicara perempuan, mereka menunjuk pada istri dan ibu juga ketua PKK tok.

Sebagai perempuan belum akan berkeluarga, kritis dengan persoalan social dan politik, the wander lust, dan masih punya semangat untuk terus belajar, saya merasa tidak ada, tak terwakili dalam politik negeri ini.

gender-trap

Kopi dan Kita (5) _ (D)Espresso

Standar

Nada mengantri di depan kasir kedai kopi di kampus. Paul, barista, tersenyum menyambut Nada. ‘Regular soya capuccino with chocolate on top, right?’

‘Yes. You got it right Paul.’

Tanpa Nada ketahui, Mika sudah mengantri di belakangnya. ‘How come Paul knows your coffee better than me?’

‘Oh my God, not again. MIKA!’

‘Do you know my coffee Paul’ Teriak Mika pada Paul yang sedang meracik kopi pesanan Nada.

‘Yes sure do sir. You are Americano.’

Nada membayar dan pergi tanpa bicara pada Mika.

‘What now? Where are you going? Why do you so piss on me? Are we breaking up?

Nada membalikkan badan dan melotot…’Oh my God, you are such a pain in the ass!

Mika membututi Nada. Ini sudah hari ketiga sejak kejadian di Trafalgar Square, Nada menolak bicara padanya. Mika duduk di hadapan Nada

‘Look, I am sorry. Aku berlebihan.’

‘Memang.’

‘Jangan marah. Please. Aku tidak tahan kamu diam.’

‘I am not angry. Seperti kamu bilang, waktu kita terlalu sebentar untuk memelihara perasaan apa pun, termasuk marah.’

‘So are we cool?’

‘Yeah we are cool.’

‘I got seizure two nights ago, after sex.’

Nada hamper memuntahkan kopi dari mulutnya. Ini tidak mungkin terjadi. Dalam teori mana pun, sex buat tubuh relax. ‘How come?’

‘I know it was weird. It never happened before. I am sorry for her. She must be panic and I feel so bad for gave her trouble.’

‘She understands, you don’t want it to happen neither. You couldn’t help it. Where did happened? In her place?’

‘Yes. Before the ambulance arrive, I was awake and refuse to be taken to the hospital. I come back the next afternoon. She forced to taking care of me.’

‘I bet! Why you didn’t call me, I can pick you up from her place.’

‘You were angry with me. I really feel so lonely afterwards.’

Nina berdiri dan memeluk Mika.’I am sorry Mika. I promise, even if you are acting like a jerk, I will be angry of course, but I will keep talking to you.’

‘But I am not a jerk.’

‘Of course, you are not my dearest friend.’

‘Jangan pergi ya.’

‘Setiap kita akan pergi, pulang ke rumah masing-masing.’

‘I don’t want to hear that. Just don’t leave me. Stay.’

‘Hey, I am here for you… for now.’

Jemari Mika luka lagi, juga bibirnya. Dia menahan kejang.

 

Nada

Mari kuceritakan apa yang diderita Mika dan aku ingin dunia tahu agar aku tak sendirian menjaganya. Mika menderita epilepsy, dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal dengan ayan. Iya penyakit yang penderitanya sering banget dicemooh atau dibully, dianggap sebagai penyakit memalukan. Itulah sebab mereka yang menderita epilepsy memilih diam dan hanya bercerita pada satu atau dua orang. Mika bercerita padaku setelah serangannya kumat di Jakarta, di depan kawanku yang panik setelah mati karena tidak tahu apa yang terjadi padanya. Kalau aku tak paksa dia cerita, barangkali sampai hari ini aku dan Mika hanya teman biasa. Tapi karena aku memegang rahasianya, dan dia merasa nyaman untuk berceirta denganku, maka kami tak bisa dipisahkan.

Kejadian dia terserang epilepsy malam dia kencan, barangkali kesalahanku. Badannya memang relaks dan santai, tapi kepalanya tidak. Dia pikir aku marah tak mau bicara lagi padanya. Kamu tahu masalah dia terbesar apa? Over thinking! That is it! Terlalu banyak mikir hal yang tidak seharusnya dipikirkan, memperbesar masalah yang sebenarnya kecil saja. Aku tidak semudah itu marah pada siapa pun, lagian cuma personalan Soya Capuccino, ya elah… Inggris mau nge bom Syiria tuh besar. Brexit tuh masalah besar. Kalau cuma aku kesal karena seolah dia ingin menguasai waktuku, ya sudah lah, aku tidak pikir itu sebagai masalah. Gemas!

 

Mika

Dia pasti pikir masalah Soya Capuccino itu kecil. Buatku tidak. Kamu tahu bicara soal penyakit ayan itu tidak gampang, tidak semua orang bisa mengerti, tidak semua orang will stand by your side setelah mengetahui hal itu. Penyakit ini seperti kutukan buatku. Dalam banyak cerita kutukan bisa dicabut, epilepsy itu tidak. Aku tahu aku bisa mati kapan saja ketika serangan itu datang. Setiap kali serangan datang, ribuan sel di otakku mati. Aku tahu aku tak boleh tinggal sendirian ketika serangan itu datang, aku tidak boleh stress, aku harus bisa mengantisipasi serangan itu, karena sebenarnya penanda itu ada. Tapi aku tidak bisa, mungkin aku lemah. Nada itu menyebalkan, dia tidak mengerti bahwa aku tidak bisa ditinggal sendirian. Kalau dia tak bisa menemaniku, paling tidak jangan membuat aku tambah pusing.

Iya malam itu harusnya aku senang-senang. I did. But she was on my head, god damn it! Dia buat aku terus memikirkan bagaimana kalau dia berhenti bicara denganku sama sekali? Lalu siapa yang bakal menemani hari-hariku di sini? It is my fault I know. I cannot help it. Maksudku kan bercanda, kenapa dia sensitive sekali sih. Mungkin dia sedang PMS. Aku harusnya bisa juga membaca mood nya. Tapi kan dia… ah sudahlah…. Dia bersamaku sekarang.

 

Narator

Maaf menyelak, menurutku penting untuk menjelaskan apa itu epilepsy dan bagaimana si penderita maupun orang terdekatnya bisa berjaga-jaga sebelum kejang-kejang itu datang. Epilepsy atau ayan itu adalah kelainan pada syaraf yang membuat si penderita kejang-kejang, kehilangan kesadaran. Sering diasosiasikan seperti aktivitas listrik dalam otak dan biasanya memicu penyakit lainnya untuk muncul. Apa yang muncul kemudian dari kejang-kejang itu? Pada Mika adalah luka-luka, iyalah ketika kejang, tanpa sadar tangannya akan memukul-mukul, kakinya menendang. Lalu daya ingat berkurang, juga kemampuan untuk focus pada satu hal. Mood nya naik turun, mudah depresi dan cemas. Efek samping dari obat muncul dan berkurangnya kemampuan reproduksi. Terakhir, penyakit ini bisa menyebabkan kematian karena komplikasi antara kejang-kejang dan luka yang diderita.

Kematian!

Seharusnya Mika tahu kalau kejang-kejang itu akan datang.

 

Mika

I do know when it is about to come, thank you!

Narator

Jangan nyelak naratorlah… mau aku atau kamu yang menjelaskan?

Mika

Kamu saja. Cerita ini kan kamu yang punya.

 

Narator.

Thanks Mika. Jadi tanda-tanda kejang-kejang akan dialami oleh penderita epilepsy adalah perasaan yang aneh dan tidak bisa dijelaskan. Tiba-tiba mencium baru aneh, rasa yang aneh atau badan rasanya tidak jelas, bisa seolah-olah keluar dari ‘self’ diri sendiri. Ingatan yang loncat-loncat, sampai pada kejang di lengan, tangan dan seluruh badan, atau numbness, kebas, eh itu Bahasa pemakai narkoba, mati rasa, kepala pusing, dan lemas.

Bukan begitu Mika?

 

Mika

Yes. That is so true! Dan aku sudah pernah memberikan tanda-tanda ini pada Nada. She doesnot pay attention enough to me. Itu yang buat aku sedih, sakit hati. Nada harusnya mencatat ini, harusnya dia mencari tahu apa yang terjadi padaku, bahkan sebelum kejang-kejang itu datang. In the end of the day, you just have to realize that I am on my own, like always. Am I over thinking again? Bagaimana bisa aku memindahkan tanggungjawab hidupku pada orang lain. Nada punya hidupnya sendiri.

Tapi paling tidak, kamu mengerti kenapa Soya Capuccino itu bukan sekedar soya cappuccino buatku? Karena kalau aku depresi, aku ingin Nada relaks, dan membuat aku tenang. Tapi dia selalu tampak ‘sibuk’ untukku.

 

Nada

Please look everything from my side too. Aku tahu sesuatu bakal terjadi pada Mika setiap kali dia hilang konsentrasi ketika bicara denganku. Atau bahkan dia lupa apa yang terjadi kemarin, baru kemarin.  Suatu kali di kereta dia pernah bilang padaku kalau dia akan minta bantuan psikolog kampus untuk membantunya karena dia punya masalah dengan konsentrasi di kelas. Dia bilang ADHD, atau Attention Deficit Hyperactive Disorder, kesulitan untuk focus pada beberapa tugas dan subjek.

‘Loh bagus dong, artinya dalam satu waktu bisa kamu kerjakan semua hal.’

‘Itu beda Nada. Itu kemampuan multitasking. Sedangkan aku, tidak bisa mengerjakan satu hal sampai selesai, tidak ada satu pun bisa selesai kukerjakan. Essay semester kemarin, aku minta mundur sebulan tapi dengan rekomendasi psikolog kampus. Tapi hasilnya dong.’

‘Berapa?’

‘85’

‘What the fuck!’

Do you know how sad it is, tahu temanmu itu jenius tapi makin hari kemampuannya berpikir akan berkurang karena epilepsy? Sakit. Sedih!

ADHD nya itu bukan bawaan, yang bawaan adalah epilepsy-nya yang kemudian berdampak pada kemampuan Mika berkonsentrasi pada satu hal. Pantas saja dia suka mengusai meja di perpustakaan, tiba-tiba tak hanya buku, dia juga gelar kertas A3 untuk menggambar, lengkap dengan semua perlengkapannya. Tiga hal dia kerjakan bersamaan, tapi kemudian dia akan bilang, ‘Aku lelah. Jalan-jalan yuk.’

Aku merasa kalau sesuatu bakal terjadi pada Mika, tapi aku bisa apa? Kami tak tinggal bersama satu atap. Aku tidak bersamanya 24 jam. Sesuatu bisa saja terjadi padanya kapan saja.

 

‘Pindah ke Out of The Brew yuk.’

‘Kenapa? Sudah selesai baca bahan seminar besok?’

‘Belum. I need stronger coffee. Feeling Depresso’

‘Hahaha… the horrible feeling before coffee.’

 

otb_01

(Out of The Brew, London)