The Invisible Me

Standar
The Invisible Me

God loves me that She plays with me all the time,

Throw me down because She knew I would climb and stand up many times,

God loves me that She puts me in trouble,

Because She knew I would pass and become a hero on my own.

 

But dear God,

What if I stop climbing?

Are you going to stop loving me?

What if I stop saving myself?

Are you start hating me?

 

I am on my way to make myself invisible to the world,

Because being visible is hurting me badly,

I know how much You want to play with me,

But I just want to stop and rest myself.

 

I am making myself invisible,

Because being visible will only make me look worse than I am already am.

 

I am shouting myself down,

Because shouting out will only hurt others that I love, although they might not love me back.

 

I am invisible, please let me be!

Iklan

Panggilan Kematian

Standar

Adzan Isya baru selesai berkumandang, dan menjelang Qomat, pengurus masjid mengumumkan “telah berpulang kehadirat Allah SWT, Bapak Rahmat yang beralamat di Jalan Dukuh No.5, RT 02 RW 03..”

Anto menghembuskan napas panjang. Satu hari ini sudah tiga pengumuman kematian yang disampaikan dari masjid yang sama. Para tukang gali kubur dan pemandi jenazah panen honor, begitu juga dengan rombongan pengajian laki-laki dan perempuan. Jika keluarga mampu, dua kelompok dihadirkan lepas shalat ashar untuk perempuan dan kelompok laki-laki di malam hari, kadang selama tiga hari berturut-turut, kadang tujuh hari. Tukang masak juga ketiban sedikit rezeki hari ini hingga tujuh hari mendatang.

Anto menghembuskan napas panjang kedua kalinya, apakah keluarganya akan mampu memberi makan para pengaji yang datang, apalagi untuk membekali mereka? Berapa yang akan datang dan berapa di antara yang datang melatunkan doa dengan ikhlas dan bukan berharap berekat? Apakah keluarganya cukup punya uang untuk biaya pemandian, gali kubur, sewa keranda, tenda dan lubang kubur yang katanya bisa seharga lima juta satu paket itu? Apakah sanggup keluarganya membayar iuran sekitar dua ratus ribu rupiah agar kuburnya nanti tetap bersih dan memastikan tidak dipakai orang lain.

Jakarta kian sempit, jika tak membayar rutin, kavling bisa saja dipakai orang. Dia akan mati, dan menjadi tulang belulang, tak ada lagi kesempatan untuk memrotes karena ditiban jenazah baru. Tapi apakah keluarganya rela kehilangan tanda dimana dia dikubur? Atau apakah mereka akan berkunjung rutin di hari raya dan berkirim doa?

Anto memejamkan mata menahan sakit di dada, di kepala, di kakinya, dan di seluruh tubuh. Dia sangat yakin Tuhan sedang menghukumnya dengan memberikan sakit tak berkesudahan. Sudah sembilan tahun stroke menghajar tubuh bagian kiri lalu pindah ke kanan, ditambah diabetes yang membatasinya makan manis, kesukaannya. Semua jenis gula tebu diganti Si Minah atas perintah Aditya anak satu-satunya dengan pemanis buatan yang tak karuan rasanya itu. Anto merasa hidup hanya membuat orang lain susah. Dian isterinya terlalu lelah merawat Anto hingga lupa kesehatannya sendiri, jantung merenggut nyawanya saat shalat subuh. Sekarang tinggal Adit, anak satu-satunya yang sibuk mencari nafkah untuk pengobatan dan perawatan Anto, membayar semua tagihan listrik, dan air juga gaji Minah.

Dia titipkan iri kepada tiga tetangganya yang mati berbarengan hari ini. Sulis, Rahmat dan Tito adalah teman mainnya sejak kecil di kampung yang berubah menjadi komplek perumahan itu. Mereka masih di sana, menghabiskan masa tua di komplek yang kini hanya diisi para pensiunan. Rapat RT lebih mirip ajang curhat para orang tua yang kehilangan penglihatan, pendengaran, yang diabetes, darah tinggi sampai kanker. Ajang rapat RT menjadi pertemuan saling berbagi resep sehat sampai nama rekomendasi dukun ampuh yang mengobati segala macam penyakit dari vertigo sampai sipilis.

“Kamu jangan terlalu khawatir dengan dunia To. Matimu susah nanti,”Sulis menepuk pundaknya semalam saat rapat RT berlangsung. “Kita ini sudah tinggal waktunya menunggu panggilan untuk mati. Sudah selesai tugas di dunia. Biarlah anak-anak mandiri. Percayakan masa depan mereka pada mereka sendiri, bukan kita lagi.”

Siapa sangka Sulis meninggalkannya pagi tadi, serangan jantung. Tiga ring di jantungnya tak mampu menghalau malaikat maut. Disusul Tito yang sudah dua minggu koma di rumah sakit, lalu malam ini, Rahmat, dia jatuh di kamar mandi pagi tadi saat mendengar pengumuman dari masjid tentang kematian Sulis. Hanya hitungan jam, Rahmat menyusul sahabatnya ke alam kubur.

“Dit,” Anto menyapa anaknya lewat telpon

“Iya Pak. Bapak kenapa? Bapak menangis?” Adit mulai mengkhawatirkan Anto

“Besok kamu pulang?”

“Insya Allah pak. Adit pulang bawa kejutan nanti.”

“Apa Dit, sekarang saja, mumpung bapak masih ada waktu.”

“Bapak masih punya banyak waktu e. Jangan bikin Adit khawatir ah.”

“Maafkan bapak ya Dit, selalu membuatmu khawatir.”

“Bapak iki, ada apa?”

“Nda apa-apa. Besok kamu pulang jangan lupa ke makam om Sulis, om Tito dan om Rahmat.”

Belum sempat Adit bertanya ada apa dengan mereka, telpon mati, dia tak bisa menghubungi bapaknya lagi. Perasaan Adit tak keruan. Malam itu juga dia cari tiket kereta untuk kembali ke Jakarta.

Anto tersenyum bahagia, air matanya seketika mengering. Sulis, Rahmat dan Tito sudah menunggunya di pagar rumah.

Kehilangan Ingatan Sekarang, Menemukan Kenangan Masa Lalu. Review The Mysterious Flame of Queen Loana – Umberto Eco

Standar
Kehilangan Ingatan Sekarang, Menemukan Kenangan Masa Lalu. Review The Mysterious Flame of Queen Loana – Umberto Eco

Suatu hari Yambo terbangun dan kehilangan semua ingatannya, termasuk isterinya Paola yang telah menemaninya selama empat decade. Yambo terbangun di usia 60 tahun dan merasa seperti bayi yang baru lahir, semuanya terlihat baru. Paola yang seorang psikolog merelakan suaminya pergi ke rumah masa kecilnya untuk menemukan kembali dirinya. Petualangan Yambo dimulai di sana.

Hal kecil yang tersangkut pada kenangan di otaknya akan menggetarkan tubuhnya, “a mysterious flame” dia memberinya istilah. Di rumah masa kecilnya di Solara, Yambo menemukan kembali kenangan masa kecilnya. Yambo yang menghabiskan waktunya dari buku ke buku, dia nyaris hapal semua buku yang pernah dibacanya. Tentang kakeknya yang anti fasis di masa Musolini, dan bagaimana kakeknya pernah dipaksa meminum minyak lalu pada kesempatan lain dia berhasil membalas dendamnya. Tentang ibu dan bapak, serta adiknya Ada.

Waktu berlalu, Yambo tak sekedar menemukan jati dirinya yang kutu buku, lebih dari itu. Dia pernah menjadi “pembunuh” dua orang Jerman saat perang dunia pertama terjadi. Masa-masa menentang fasisme Musolini. Yambo berkawan dengan Granola yang kemudian mati dengan leher tergorok, dan mempertanyakan Tuhan itu siapa? Apakah Tuhan dan Setan sebenarnya satu zat? Apa itu kebebasan kalau pada akhirnya manusia dibatasi pada perbuatan dosa dan pahala?

Hidup Yambo seakan tertulis sebagaimana buku-buku yang dibacanya. Perjalanan Yambo sebagai anak laki-laki yang mempelajari sendiri seksualitas lewat buku-buku dewasa yang dia beli diam-diam atau dia curi dari toko buku kakeknya. Dan perjalanan cinta Yambo kepada Lila yang mengukung hidupnya. Sepanjang dia hidup dan bercinta, yang dia cari adalah Lila, gadis 18 tahun yang membuatnya jatuh cinta dan rela menunggu seumur hidup. Yang membuat Yambo limbung lalu pingsan hingga kehilangan ingatan adalah ketika Giani sahabatnya bercerita bahwa perempuan yang dia cari seumur hidup itu telah meninggal.

Jalan cerita ini lamban dan melompat-lompat, kadang terjebak di satu cerita yang saya lupa sambungannya dimana. Buku ini kaya cerita tentang literature tahun 1930-an hingga 1990an lengkap dengan ilustrasinya, tentang buku anak-anak. Tentang masa pubertas anak laki-laki, tentang seksualitas dari kacamata anak laki-laki. Tentang filsafat hidup.

449 halaman, buatmu yang mencintai petualangan dan roman, buku ini menarik untuk dibaca. Deep and funny.

Menikah Bukan Cita-cita

Standar
Menikah Bukan Cita-cita

Dalam beberapa kesempatan bertemu anak muda, setiap kali kami tanyakan cita-cita, mereka menjawab, menikah! Sebagai fasilitator, saya tidak berhak bilang, itu salah dan benar. Hanya bilang bilang, “selain itu? Mosok ga kepengen sekolah lagi, punya ina inu.” Ada mba, punya anak… haiya… tepok jidat.

Di luar kegiatan, baru saya bisa bilang, menikah bukanlah bagian dari cita-cita. Kenapa? Karena menikah adalah bagian dari hidup itu sendiri, seperti juga sakit dan mati. Adakah orang yang bercita-cita mati? Ada, tapi itu di luar nalar dan kebiasaan. Kamu bisa menargetkan akan menikah di usia kurang dari 30 tahun, tapi itu bukan sekali lagi cita-cita karena jodoh cuma tuhan yang tahu, itu kan kita sudah sepakat, kalau beragama. Tidak menikah juga bukan cita-cita, tapi keinginan dan keputusan. Tidak ada yang salah dengan menikah atau tidak menikah. Ada saatnya, keputusan bisa berubah. Saya menikah di usia 39, apakah menikah jadi cita-cita? Ga lah, ada selusin lebih cita-cita yang mau saya wujudkan, ternyata di tengah jalan bertemu jodohnya, menikah deh. Ada kawan menikah saat telah pensiun, ada kawan yang menikah setelah lulus sma. Silakan saja, tapi cita-citamu tak selesai di sebuah pernikahan.

Saya jadi ingat pesan almarhum pak Sutopo atau Pak Topo, jubir BNPB, “bukan soal berapa lama kita hidup, tapi berapa besar yang bisa kita perbuat untuk orang banyak.” Nah coba camkan itu baik-baik. Apakah hidupmu selesai dengan menggantungkan cita-cita menikah? Apakah menikah bisa membantu orang banyak? Kata mereka yang percaya poligami iya, tapi berapa banyak mereka yang poligami menikahi nenek-nenek dan janda-janda tua? Bohonglah itu.

Saat menikah, cita-citamu bisa sangat mungkin bergeser. Dulu kamu sangat idealis, ingin berbuat ina inu, berbuat lebih untuk membantu orang banyak. Tapi begitu menikah, tuntutan hidupmu pun berubah dan harusnya memang begitu, mendahulukan kesejahteraan keluarga menjadi yang utama. Lingkaran orang-orang idealis yang besar, kian hari kian sempit, anak-anak muda yang idealis kian hari hanya berpikir untuk menikah, punya anak, dan lalu…

Kecuali, kamu punya pasangan yang mendukung idealismu, itu berarti kamu beruntung karena ada dua kepala, dua tenaga untuk berbuat kebaikan. Ada tim untuk bisa berbuat banyak, mewujudkan cita-citamu, pasangan yang tidak membuatmu mundur tapi justru mendukung cita-citamu untuk maju. Dan mencari pasangan yang tepat ini jauh lebih susah daripada mewujudkan cita-citamu untuk orang banyak. Kamu akan melewati berkali-kali patah hati, jatuh bangun seperti lagu dangdut, karena itulah do not waste your time to find the right one, habis hidupmu Cuma untuk mencari cinta. Mending ya, berbuat kebaikan, wujudkan cita-citamu, membantu orang lain yang banyak, when you spread LOVE, you’ll find love. Itulah kenapa menikah bukan cita-cita, jadikan menikah bagian dari perjalanan hidup.

Perempuan Di Balik Jeruji, Siapa Peduli?

Standar
Perempuan Di Balik Jeruji, Siapa Peduli?

Suatu hari saya berkesempatan menghadiri sebuah pertemuan internasional bicara tentang investasi terhadap perempuan. Bahwa perempuan harus diberikan akses penguasaan asset dan permodalan agar mandiri, untuk itu kita harus bantu dan dengan kemajuan teknologi akan mudah diakses oleh mereka bla blab la… yang sangat bagus menurut saya, tentu saja setuju. Tapi ketika bicara tentang perempuan mana yang dimaksud, tentu saja lain cerita.

Perempuan yang bisa mengakses teknologi permodalan adalah perempuan yang sudah dipapari oleh kemajuan teknologi, minimal punya kemampuan menguasai telepon pintar. Dan itu tidak termasuk Nai yang tidak bisa membaca dan menulis, atau Herlina deh yang lebih muda tapi tak lancar membaca. Telepon genggam buat mereka adalah untuk telepon, dan foto-foto. Untuk dapat sinyal saja, lokasi yang 8 jam dari ibu kota kabupaten Berau, Tanjung Redep itu seperti gelombang laut, datang dan pergi sesuka hati. Dua hari lalu Herlina telpon tapi tak sempat saya angkat, hingga hari ini, telponnya tak bisa saya hubungi balik, sinyal sedang hilang di Teluk Sumbang.

Perempuan yang bisa mengakses teknologi permodalan adalah perempuan yang sudah terpapar teknologi DAN bebas mengaksesnya. Itu tidak termasuk para perempuan di balik jeruji yang hampir satu tahun ini berkawan dengan saya lewat kelas Perempuan Menulis. Telepon pintar termasuk barang haram di dalam penjara, kalau ketahuan! Tetapi siapa yang mau menanam modal pada perempuan dengan status narapidana? Tanya saya di depan forum. Tak ada yang menjawab.

Perempuan adalah perempuan, untuk Nai, perempuan dari adat Basap yang sudah berusia 87 tahun, atau N yang berstatus warga binaan di lapas perempuan Bandung, mereka harusnya punya hak yang sama untuk menjadi mandiri dengan mengakses permodalan yang digadang-gadang adalah bentuk perjuangan feminisme di negeri ini. Tapi lagi-lagi semua itu cuma barang dagangan, pencitraan. Siapa yang benar-benar mau nama merk lembaganya menempel pada jeruji besi?

Melihat kawan-kawan di lapas begitu bersemangat menulis, berkarya dan menyusun mimpi, saya patah hati. Bagaimana caranya agar mereka bisa memiliki kesempatan yang sama dengan perempuan di luar sana yang bebas dari stigma? Sebagian dari mereka masih memiliki keluarga yang mampu memodali mereka, tapi sebagian besar tidak. Beberapa kali pertemuan T absen, D bilang, T sibuk kerja serabutan untuk bisa bertahan hidup di lapas sembari mengumpulkan modal agar keluar nanti dia bisa usaha. Beberapa kali jatuh sakit, sampai akhirnya seorang napi kaya mempekerjakannya sebagai asisten, tapi ya itu, T tak bisa seenaknya ikut ina inu, tergantung bos memberikannya waktu, termasuk ikut kelas ini. Padahal di kelas saya, T yang paling rajin dan semangat menulis. Sekali lagi saya patah hati.

Saya terpaksa beberapa kali minta maaf karena keinginan untuk bisa hadir saban minggu dan punya papan madding yang bagus untuk memperlihatkan karya mereka, terpaksa tertunda. Beberapa kali mengajukan proposal kegiatan, gagal, sementara kas pribadi saat ini baru mampu mengongkosi saya bolak balik dua minggu sekali jika tak ada kerja mendesak, untuk bertemu mereka. Jangankan untuk menjanjikan permodalan setelah keluar dari sana. Satu-satunya mimpi untuk bisa melanjutkan hidup tanpa terjerumus kesalahan yang sama adalah membuka usaha sendiri karena bekerja pada organisasi lain, mereka sudah patah arang karena stigma. Kalau mimpi tak kunjung hasil, kata Kezia, banyak yang kembali ke penjara karena hidup tak terlalu susah, makan gratis dan punya atap.

Perempuan adalah perempuan, apa pun statusnya saat ini. Saya dan kamu bisa saja sial, ada di tempat yang salah, bergaul dengan orang yang salah, terjebak kesalahan dan berakhir di balik jeruji, sekali lagi, siapa peduli? Kalau kamu mau perempuan mandiri, jangan pandangi statusnya, kalau kamu memperjuangkan hak perempuan, maukah kau berada di sebelah saya untuk membantu mereka?

Beyond Make Up, Lebih Dari Sekedar Cantik

Standar
Beyond Make Up, Lebih Dari Sekedar Cantik

Suatu hari saya menyampaikan kekesalan kepada mami setelah diputusin pacar, bukan soal diputusinnya tapi karena lelaki itu bilang, “orang Sunda cuma bisa dandan dan boros,” betulkah begitu mam? Sambil tetap menggoreskan pensil alis di alisnya yang tipis, mami saya tersenyum, “terus kenapa kalau suka dandan? Orang berdandan itu untuk menyenangkan diri sendiri kok repot, terus orang mau apa kalau tahu kita punya masalah? Bisa bantu?”

Soal stereotype tentang orang Sunda, biarlah dibahas orang lain, tapi kata-kata mami itu nyangkut sampai hari ini. Saya bukan orang yang suka dandan, karena merasa tak perlu, cukup pelembab muka biar ga kering, ditambah bedak dan lipstick, selesai. Karena tak suka dandan, dan merasa tak perlu, maka saya tak peduli para merk make up semahal apapun. Buat saya, yang penting cocok dan nyaman untuk dipakai.

Saya paham ada perempuan-perempuan yang menjadi korban “beauty made by capitalist” beauty made by commercial” memutihkan kulit sampai mengorbankan diri kena kanker kulit karena ingin cantik sesuai standard iklan di televisi dan majalah kecantikan. Saya tahu mereka yang rela mengeluarkan delapan puluh persen penghasilannya hanya untuk make up karena memang tuntutan pekerjaan mereka. Saya pernah bertengkar dengan salah satunya, “lu tuh mestinya dandan waktu ketemu klien, biar mereka senang,” lalu saya menjawab, “the product is not ME! But my work” itu saja. Saya gagal jualan salah satu produk make up multi-level marketing karena tidak bisa menyakinkan orang dengan tampilan saya yang polos-polos saja. Kalau tentang perawatan badannya saya bisa, kalau make up nya saya nyerah.

Cukup lama saya ingin bertemu dengan perempuan lain yang berdandan karena memang untuk dirinya sendiri, bukan karena tuntutan pekerjaan atau karena ingin memenuhi kriteria cantik buatan agency marketing dan para kapitalis make up, selain ibu saya tentu saja. Sampai saya berjumpa dengan beberapa kawan baru. Terlepas dari lima belas lapis perawatan dan make up yang dia lakukan setiap hari, yang membuat saya menganga, saya paham, make up is part of her self-defense mechanism dari kehidupan di luar dirinya yang dia anggap mengancam, self-trauma healing dari kesedihan yang dialaminya. Make up memang membantunya bersembunyi dari masalah and she does not want to be found! Ya udah, terima saja tanpa menghakimi.

Setelah hampir setahun bertemu dan berkawan dengan perempuan-perempuan di lapas perempuan Bandung, saya semakin paham, make up membantu mereka beradaptasi dengan situasi. “Kalau waktu di luar gue dandan karena pengen terlihat menarik, sekarang di sini gue dandan ya karena gue pengen dandan.” Begitu saja.

Mami mengajari saya untuk memahami make up sebagai topeng menutupi masalah dan itu soal pilihan, termasuk saya yang memilih untuk polos-polos saja. Berhentilah menghakimi penampilan orang lain, berhentilah untuk kepoin perempuan di balik make up nya, terima itu sebagai pilihan hidupnya. Yang boleh dilakukan adalah memberikan pilihan-pilihan tentang kesehatan agar tak termakan jargon produk alami padahal tidak, agar tak mengorbankan kesehatannya sendiri.

Lewat tulisan ini, saya ingin berterima kasih untuk para donator yang memberikan make up sisa dan yang tak terpakai kepada kawankawan warga binaan di lapas perempuan Bandung. Sumbangan make up ini sangat berarti buat teman-teman di sana, lebih dari sekedar untuk tampil cantik saat naik pentas, tapi untuk hari-hari berhadapan dengan sepi.

Ketika Kapitalisme Pemindai Merasa Seperti Tuhan yang Membentuk Perilaku Makhluknya. Saatnya Untuk Bilang “No More!” – Review The Edge of Surveillance Capitalism oleh Shoshana Zuboff

Standar
Ketika Kapitalisme Pemindai Merasa Seperti Tuhan yang Membentuk Perilaku Makhluknya. Saatnya Untuk Bilang “No More!”  – Review The Edge of Surveillance Capitalism oleh Shoshana Zuboff

Selamat datang di era modernisasi ketiga dalam sejarah manusia modern, Shoshana Zuboff menyebutnya sebagai information civilization, atau peradaban informasi. Dalam era ini, kita hanya organisme yang diupayakan agar informasi pribadi tentang kita sebagai organisme dieksploitasi, disedot, dicerna dan dibentuk agar kita menjadi organisme baru sesuai keinginan kapitalis pemindai atau yang dia sebut sebagai The Big Other. Seperti Tuhan memindai makhluknya, The Big Other sangat percaya, dengan teknologi, perilaku manusia bisa dibentuk, sesuai kebutuhan. Individu adalah bahan baku untuk kepentingan dan keuntungan si kapitalis pemindai, siapa mereka? Google dan Facebook. Dua perusahaan internet ini adalah subjek utama penelitian Zuboff yang ditulis dalam buku The Edge of Surveillance Capitalism setebal 525 halaman. Kalau di zaman revolusi industry dan neoliberal yang dieksplotasi adalah nature atau alam, maka di era kapitalisme pemindai, yang dieksploitasi adalah human nature, atau sifat, karakteristik dan perilaku manusianya.

Bagan di bawah menjelaskan proses penambangan surplus perilaku kita sebagai user. Penjelasan singkatnya, user – kita pengguna internet, terutama semua yang terkoneksi dengan Google dan Facebook, secara sadar dan lebih banyak tidak, menyerahkan semua informasi tentang kita kepada mereka. Tentang kemana saja kita pergi, berapa lama, apa yang kita makan, dengan siapa kita pergi, pilihan pakaian kita seperti apa dan seterusnya. Setiap kita membuka internet, ada remah-remah digital yang tertinggal, bahkan itu adalah bahan mentah bagi industry mereka. Lalu perilaku yang terkumpul dalam Big Data kemudian diolah dan dijual kepada klien, seperti retail marketing fashion, perbankan, asuransi, kamu bisa melanjutkan sendiri. Mereka yang memerlukan informasi tentang target mereka, resiko peminjaman kredit dan resiko pemberian asuransi misalnya.

Maka jangan heran, seperti kita berjalan di lorong supermarket, yang bukan tanpa sengaja Rinso misalnya ditaruh di rak paling atas sejajar dengan mata agar mudah terlihat, dan itu ada harga yang harus dibayar. Maka seperti itulah kehidupan kita di internet. Ketika membuka facebook, iklan yang muncul adalah berdasarkan pilihan kita sebelumnya, atau dimana kita memberikan titik lokasi atau check in. Kalau saya check in di Bali, langsung iklan Facebook bermunculan bikini dan tempat rekreasi. Atau catatan digital terakhir saya di traveloka mencari tiket, maka iklan google selanjutnya yang muncul saban saya buka laman berita misalnya adalah harga tiket murah. Saya diarahkan untuk membeli ina inu berdasarkan remah digital saya sebelumnya.

zuboff_02

Setiap kapitalis pemindai memberikan jargon yang sama, hidup lebih mudah, hidup nyaman bersama teknologi, berbagi informasi adalah bentuk kepedulian dan sebagainya. Tetapi yang terjadi kemudian, kita tidak punya ruang privasi atau pribadi. Televisi sekarang menonton kita, jendela rumah memindai kita, radio mendengarkan percakapan kita, lampu mencatat langkah kita. Apakah kita punya tempat untuk bersembunyi di sebuah rumah pintar yang semuanya dikendalikan oleh teknologi? Tidak!

Pembentukan perilaku melalui teknologi, sudah diimpikan oleh Skinner, seorang psikolog behaviorist yang lewat percobaannya terhadap tikus percaya kalau dengan rancangan tertentu kita bisa mengendalikan perilaku seseorang. Big Other, kapitalis pemindai mewujudkan mimpi itu hari ini.

Ketika Brexit dan Donald Trump menang dengan cara membombardir media sosial dengan berita palsu, Google dan Facebook dituntut, karena mereka tidak memindai mana yang palsu dan tidak. Bagi kapitalis pemindai, semua berita dalam News Feed adalah sama, apakah itu hasil produk jurnalistik investigasi, atau berita dari situs abal-abal penghasil hoax. Bagi mereka sama. Termasuk siapa pun klien yang bayar Google dan Facebook untuk pasang iklan. 2017, Google harus membayar denda di Amerika karena terbukti bersalah menyebarluaskan hoax saat masa kampanye Donald Trump dengan banyaknya iklan rasisme dan hate speech terhadap kaum tertentu. Terorisme menyebarluaskan pahamnya termasuk melalui media sosial. Secara teknologi mereka sebenarnya bisa menghalau itu kata Zuboff, tapi untuk kepentingan ekonomi, itu tidak dilakukan.

Ketika Google Street View diprotes di Spanyol, munculkan game Pokemon yang membuat penggunanya berlarian ke sana ke sini mengejar pokemon, sementara perusahaan pembuatnya mencatat lokasi dan area sekitar pokemon berada.

Zuboff sangat kaya teori dalam penjelasan tentang Kapitalis Pemindai ini, mulai dari sisi behaviorist – Skinner, Hannah Arendt seorang filusuf politik yang menulis tentang totalitarian, George Orwell dengan kisah 1984 sampai dari sisi ekonomi, Adam Smith, Hayek, dan Piketty. Kapitalisme tidak hilang, dia hanya berubah bentuk, dan seperti sejarah sebelumnya, kepentingan ekonomi membentuk politik yang ada. Zuboff menegaskan, ketika totalitarian memaksa kesetiaan individu, maka instrumentarianism (kekuatan menggunakan instrument yaitu teknologi) yang dituntut dari individu adalah keterbukaan informasi. Kekuasaan digunakan oleh totalistarian sebagai alat terror, sementara oleh instrumentarianism digunakan sebagai “kepemilikan” untuk kemudian kerelaan dalam modifikasi perilaku.

Di akhir penjelasannya Zuboff menolak kalau disebut kita tak bisa menghindar dari ketergantungan terhadap teknologi yang membuat kita “nyaman.” Kata dia, setiap unicorn punya pemburunya sendiri. Ada banyak gerakan untuk menolak kapitalisme pemindai, ada gerakan atau friksi yang menghalau mereka melalui teknologi lainnya, sambil sebagian lainnya terus melakukan advokasi untuk undang-undang yang melindungi hak pribadi atau privasi pengguna dan sekaligus memaksa para kapitalis ini membuka akses informasi terhadap pemanfaatan data yang ditambang dari penggunanya.

Zuboff menutup bukunya dengan kalimat “Those who would try to conquer human nature will find their intended victims full of voice, ready to name danger and defeat it. This book is intended as a contribution to that collective effort… No More! Let this be our declaration.”