Merpati Tak Bisa Dilacak. Cerita Big Brother Dalam John Wick 3

Standar
Merpati Tak Bisa Dilacak. Cerita Big Brother Dalam John Wick 3

Menonton John Wick selalu melelahkan, melihatnya berlari ke sana ke sini, lalu aksi tembak menembak dan silat, ciaat… ciat… tapi sialnya, tetap menarik. Buat penggemar John Wick, barangkali apa yang akan saya ceritakan menjadi hal yang sudah diketahui, tapi buat saya yang tidak mengikuti secara seksama, cerita John Wick 3 ini menarik, dalam kaitannya dengan rezim Big Brother di era 4.0 yang katanya sekarang sudah masuk 5.0.

High Table yang tinggalnya di Casablanca itu kok bisa tahu ya tentang apa saja yang dilakukan para elit di New York yang memberi bantuan pada John Wick? Kalau setingannya adalah dunia modern, itu di kantor administrasi High Table setingnya jadul abis, dengan telepon rumahan yang diputar dan dipencet, dan mikropon zaman Ella Fritzgerald bernyanyi. High Table adalah Big Brother yang tahu semua hal bahkan ketika Bowery King memberikan waktu tujuh menit bagi John Wick selamat, diberi hukuman tujuh sayatan. Darimana High Table tahu?

Sampai ketika Adjudikator High Table mendatangi King saat King sedang main dengan merpatinya, saya paham High Table is the Big Brother, he watches all, redensasi surplus perilaku (menurut buku Surveillance Capitalism). King bilang, “merpati, tak bisa dilacak, tak bisa ditelusur, tak bisa disadap” (kecuali ada chip penanda sik, kata saya dalam hati). Merpati sejak zaman dahulu dikenal sebagai burung pintar pengantar pesan yang bisa terbang ratusan kilometer dan kembali ke rumahnya. Bagaimana caranya, entahlah, saya perlu riset lagi tentang itu. Lewat merpati, King berharap tak bisa dilacak oleh High Table, karena selama alat yang digunakan tersambung dengan kabel, percakapan, gerak gerik, bahkan mimic wajah, bisa disadap, disaring lalu dibuat asumsi dan prediksi langkah orang selanjutnya.

Apa yang terjadi di film itu sudah terjadi di alam nyata, apa yang sedang saya tuliskan ini, saat diposting ke wordpress, maka akan terekam, terbaca, dan dikategorikan, si nita ina inu. Saya sangat aware tentang hal itu, tapi tidak bisa dihindari. Apakah saya perlu berkirim merpati untuk berbagi ide dan pikiran kepadamu? Di dunia tanpa Consent – tanpa persetujuan kita sebagai individu untuk bersedia dilacak- kita hanya perlu paham apa yang disebut oleh John Wick sebagai “Perbuatan dan Konsekuensi”

Selebihnya, John Wick mau bilang, “jangan main-main dengan keluarga pemilik anjing,” lalu saya berbisik pada akang di sebelah saya, “I would do the same if anyone hurt my Unin J” tentang Indonesia di dalam film, iya bagus kok untuk menarik pasar Indonesia. Begitu Wick bilang “sampai jumpa” penonton histeris, uye! Dan cuma musuh dari Indonesia yang matinya tidak mengerikan loh di film ini, kenapa? Barangkali kalau dipecahkan kepalanya, orang Indonesia akan keluar bioskop *halah

Iklan

Bulan Bebersih Hati, Sayang Jejak Digital Tak Semudah Itu Dihapus

Standar
Bulan Bebersih Hati, Sayang Jejak Digital Tak Semudah Itu Dihapus

Politik membuat mulut ini, jari ini, hati ini, begitu panas untuk berkomentar. Maunya kalau tak ditahan, memaki kawan yang hari-hari isi statusnya hanya untuk memprovokasi , tapi diam artinya membiarkan hal yang salah terus berlanjut. Setahun loh, setahun! Saya pikir ujian kesabaran adanya di kemacetan Jakarta yang sekarang sudah sedikit longgar, terima kasih MRT. Tapi ternyata, ujian kesabaran terbesar itu adanya di media sosial. Narasumber yang dulu sempat disalutkan, kemarin menulis di twitter dengan ucapan “Pantat lo!” haish mamak, nilainya terjun bebas di kepala, maaf kawan, saya malu pernah memujamu.

Saya belajar untuk menahan diri tidak berkomentar, tidak ikutan mencela kubu manapun, tapi yang tidak bisa saya tahan jika ada yang bawa-bawa agama untuk membenarkan tindakannya, mengatasnamakan ulama karbitan youtube sebagai yang paling benar. Dan itu banyak! Yaiyalah banyak. Kalau sebatas merasa benar untuk dirinya sendiri, baiklah, tapi kalau sudah memaki orang lain adalah kafir, saya unfollow langsung. Maaf saya pikir kamu manusia, eh ternyata merasa jadi Tuhan.

Setahun ini, berapa banyak fitnah dibuat? Berapa kali mulut memaki? Berapa kali jari membagi berita bohong?

Ramadan tiba, bulannya bebersih hati, bebersih diri, menundukkan kepala dalam-dalam meminta ampunan atas segala kelakuan. Tapi kawan, Google tak semudah Allah menghapus dosa. Jejak digitalmu tertinggal di sana, merekam bagaimana Bahasa kau gunakan, fitnah kau lemparkan. Google merekam siapa kamu sebenarnya. Bahkan ketika kamu menghapuskan postinganmu di media sosial, Google, Facebook, masih menyimpan rekamannya.

Allah itu maha baik, menghapus dosamu, membuatmu kembali fitri di Idul Fitri nanti, insya Allah. Tapi menjadi Jamaah Facebokiyah, Googliyah, tidak semudah itu! Terlanjur sudah kamu dicatat pernah melakukan apa, tendensi melakukan apa dikemudian hari, gaya hidupmu, kemana kamu pergi, pakaian yang kamu pilih, kata-kata yang kamu gunakan. Maka jangan heran, jika hanya makian yang kamu lontarkan, makian pula yang kamu dapat.

Contoh sederhana ya, saya mencari jilbab satu kali saja di Google search, maka sejak dua bulan terakhir, timeline saya penuh dengan iklan jilbab, pakaian syari dan semua terkait jilbab. Saya check in di bandara ngurah rai bali, maka iklan yang muncul mulai tempat dugem, liburan sampai toko bikini di Bali.

Kamu mencari kondom untuk dipakai bersama isteri sahmu di online shop, karena malu beli langsung di apotik atau di warung nyaman macam indomart, selamanya kamu dicatat sebagai orang yang aktif melakukan aktivitas seksual, dokter kandungan, sampai tes HIV gratis mungkin yang berikutnya akan muncul di semua laman digitalmu. Kamu menyukai video kekerasan, teriakan hina dina ustad youtubemu, maka itulah yang tertinggal di jejak digitalmu. Selamat! Kamu boleh panic sekarang.

Kita ini kawan, cuma remah roti di dalam jaringan operasional perusahaan digital yang menambang informasi serinci-rincinya hidup kita sehari-hari, lalu mereka olah, jual ke pengiklan dan dikembalikan lagi ke kita. Semacam berjalan di lorong supermarket, hanya saja kali ini barang yang ditawarkan berdasarkan apa yang pernah kita klik, kita check in, kita lihat, kita pindai, kita beli.

Saya bukan penceramah, saya tidak punya pesan moral yang perlu ditinggalkan untukmu. Saya hanya bisa memberikan gambaran nyata tentang apa yang kamu lakukan, itulah yang akan kamu terima. Seperti Karma, silakan percaya atau tidak. Dunia digital membuat kita harus lebih hati-hati, sangat hati-hati tentang perkataan, perbuatan karena mereka bahkan bisa memprediksi apa yang akan kita lakukan di masa depan.

Allah maha pemaaf, manusia harus mengikutinya, tapi Google dan Media Sosial…. Mau teriak minta dilupakan sama siapa? Pergilah ke Eropa, karena baru mereka yang punya undang-undang untuk minta dilupakan oleh Google, The Right to Be Forgotten, sila pelajari.

Selamat berpuasa!

Sekolah Negeri Untuk Membangun Empati dan Toleransi

Standar

Saya dibesarkan di sekolah negeri, sejak SD sampai kuliah, S1 dan S2. Dari SD ke SMP dan SMA lanjut UI itu berasa bangga sekali kalau bisa keterima di sekolah negeri yang persaingannya ketat, sangat ketat. Tetapi zaman berubah ketika kawan-kawan seangkatan saya mulai punya anak, lalu mereka berlomba-lomba menyekolahkan anaknya di sekolah swasta yang mereka percaya punya sistem pendidikan yang jauh lebih baik daripada sekolah negeri. Sewaktu kakak Zi beranjak dari TK ke SD, kami pun begitu, saya, adik saya (ibunya Zi) dan mami. Entahlah kenapa akhirnya kami bertiga yang menjadi penentu arah pendidikan di keluarga Lina, adik saya, mungkin karena kami bertiga punya peran sama penting untuk membesarkan Zi.

Saya dan Lina survei ke beberapa sekolah swasta, mulai yang umum sampai yang membawa nilai agama. Secara finansial, harganya menakjubkan, puluhan juta. Pulang dari sana, kami selalu tertawa miris sambil minum kopi, “rumah masih ngontrak, sekolah jutaan begitu, darimana duitnya na?” akhirnya, kami diskusi lagi lebih dalam dengan mami, sebenarnya apa sih yang dicari dari sebuah sekolah? Mami mengajak kami kembali ke masa kecil dulu. Pertanyaan mendasarnya adalah, apakah sekolah negeri begitu buruknya? Kalian berdua itu besar di sekolah negeri, ada yang salah sama itu? Kamu ga jadi kamu sekarang kalau ga di sekolah negeri, mami dan papi mana sanggup menyekolahkan kalian di swasta, tapi sekolah negeri pun tak seburuk itu.

Di tengah zaman yang terpolarasasi oleh agama, umatnya merasa agamanya adalah yang paling baik di antara lain, maka buat kami penting untuk membawa Zi untuk kenal dengan anak-anak dari latar belakang agama berbeda. Sekolah negeri punya itu. Tidak sempurna, pasti, karena sempurna itu punyanya…. Allah…. Pinterr… tapi di sekolah negeri, dia bertemu dengan anak-anak lain beragama Kristen, Hindu, Budha, sampai Konghucu. Syukurnya kami ada di sebuah kecamatan yang beragam. Dekat rumah ada Pura Bali, dia tahu ada yang beda di sekitarnya, kita tinggal mengisi pengetahuannya tentang Hindu dan budaya Bali. Sesekali dia pulang dengan cerita tentang anak-anak sekelasnya yang suka bilang kafir, di sana peran orang tua penting menjelaskan tentang hal yang paling sering disalahgunakan ini.

Di sekolah kakak bertemu dari anak orang kaya sekali yang semua perlengkapan sekolahnya bermerk Smiggle. Saya dan kakak Zi sama-sama buta tentang merek yang ternyata terkenal mahal ini. Untungnya anak itu bangga sekali dengan Eiger di tas punggungnya. Seperti saya, dia memerhatikan fungsi bukan gengsi. Di sekolah itu, kakak zi berteman dengan anak-anak yatim piatu, anak-anak single parent yang ayahnya mengantar saban pagi, lalu pergi ke kantor dan menitipkan pada ojek langganan untuk menjemput, anak-anak tukang cuci pakaian, sampai anak-anak dari bapak dan ibu kantoran. Dia belajar mengasah empatinya di sana.

Di kelas dengan 30 anak dan satu guru, tentu kita bisa bilang, gurunya tidak akan mungkin memerhatikan satu persatu anak. Ya tidak perlu juga sik sebenarnya, biarlah anak-anak itu tahu bagaimana berkompetisi sehat, tidak perlu merasa “dimanja.” Anak-anak sekolah negeri diajar “keras” memang, semua dipukul rata. Belajar berdasarkan kurikulum yang berat itu, tapi kan itu sama dengan swasta toh, UN juga sama kok. Kalau perlu tambahan pelajaran agar tidak tertinggal, anak-anak bisa ikut les di luar sekolah, atau malah dengan gurunya sendiri.

Bunda Yani, guru Zi, bukan tipikal guru favorit saya. Tapi dia juga tak sepenuhnya buruk. Setiap hari memberikan PR yang tujuannya bukan sekedar tambahan pelajaran. Dalam setiap kesempatan di WA Group dia mengingatkan orang tua untuk membantu anaknya menyelesaikan PR. Menurut dia, PR itu jembatan paksaan komunikasi orang tua dan anaknya, belajar bersama dan tanggungjawab bersama. Kalau ada anak yang tidak mengerjakan PR, Bunda Yani ini akan memotret anaknya dan bilang kira-kira begin pesan yang ingin dia sampaikan “orang tua bertanggungjawab atas anaknya, bukan saya saja.”

Bagi saya terutama, kakak Zi belajar banyak dari sekolah negerinya, dia mengasah empati, belajar toleransi dalam sosialisasinya sehari-hari. Soal pelajaran, bukankah kita sebenarnya sepakat ini nomor sekian, bahwa mengasah emotional intelligent adalah penting daripada hanya intellectual intelligent. Saya senang kakak Zi mendapatkan nilai 100 di matematika, and she does great in math, tapi saya bangga dengan ceritanya yang tidak lagi mau naik jemputan, karena supirnya selalu merasa agama dia terancam. Buat kakak Zi, itu bukan konsumsinya, buat dia tidak penting curhatan macam itu, yang penting dia dari rumah ke sekolah sampai ke rumah lagi dengan selamat. Sejak minggu lalu, dia pilih naik ojek, mesti kehujanan, “tas ku (eiger) keren deh mey, buku ku hanya lembab tapi ga becek, ga tembus air.”

Jadi dua tahun lagi kakak Zi akan kemana? Kami tetap bersepakat untuk mengusahakan dia masuk sekolah negeri unggulan. Mengasah empati dan toleransi adalah pelajaran seumur hidup, di rumah, di sekolah dan di manapun dia bergabung, yang paling penting, kami menjaga lingkungan keluarga besar sekitarnya tetap berada di jalur yang Insya Allah memberikannya contoh yang baik tentang empati dan toleransi.

Goodbye 40!

Standar

I started my 40 with bleeding, abnormal uterus the doctor said. Got through the curettage surgery and have to take one tablet a day of provera ever since, until when? For the rest of my life, perhaps. Awesome right?! I have to say goodbye to the intention of having children. God knows what is the best for me, and that is all I can say to myself. And yes, I have three elderly that me and Akang have to taking care of, so let’s just forget about our want to have a baby. Isabel Allende on Japanese Lover said, one has to have a goal in life, it is the best cure for all ills.

In my 40, I surrender my soul to the universe. To be honest, I started to stop thinking about myself, I stop being selfish and trust the universe for everything that I have right now and the future. It does not mean that I don’t have a vision or target in life, I do! But I know when to run for it, to pause and to stop. Everything has its own time! See, I become more spiritual being, I become Rumi! Well, not really… anyhow, I am enjoying myself, my world, and my surrounding.

Once I surrender my soul to the universe and stop being selfish, I become sincerer of sharing my times and my life with others. I chose to be with my friends at the women prisoner for the women writing class than attending a meeting with UK MP’s two weeks ago, and I am letting go the chance to get more money by attending an invitation this Friday, again to be with the class. It is okay, I can always find another way to get a money, but I can never turn back the time that I might find surprise and happiness when I am with friends in the class.

Again, God keep all the good things for me.

On my last days of 40, God gives me happiness. I was taking a medical check-up last week, things I was afraid of, afraid of the fact that I might have a tumor inside my uterus or in my breast, afraid I might be feeling down than I ever been. But, the result is great! I am clean from those things that I was afraid of. That is the best early present for me.

And today, two girls from my class won the writing competition and it is a national level… How can I am not happy will all these blessings in my 40! Instead of the juggling moment in life, I prefer to look at and remember only the best ones on my last day of 40.

Thank you 40! And I am excited to have my 41 and all those coming surprises in life.

And here is the picture of me enjoying my last day of 40 with Bali Dancing Class, damn I look so sexy with that stagen, I have waist 🙂

Pinggangku

 

 

Terapi si Unin

Standar

Rumah ini sepi, hanya ada dua lansia, saya dan suami. Percakapan di antara kami berempat tak jauh-jauh dari soal beli obat, masak kalau sempat, beli lauk dan pampers untuk bapak. Bapak stroke dan diabet, berjalan sudah diseret, suara tak lagi jelas. Karena itulah bapak lebih banyak diam. Ibu, beliau punya jantung, dan dadanya akan sakit kalau terlalu lelah. Suami aku, Kang Iwan yang menjaga mereka berdua dan saya, si tukang jalan dan jarang di rumah. Antara Jakarta dan bandung. Sepi.

Sampai si Unin datang. Kucing buduk dengan luka di telinga itu ditemui akang di depan rumah, setelah sebelumnya menjerit-jerit tak bisa turun dari atas loteng persis saat hujan menderas. Tetangga yang menurunkan kucing kecil itu, kami memberikannya makanan. Unin termasuk kucing yang sopan, diberi makan bukan berarti mau dipegang apalagi dibawa pulang. Butuh satu bulan sampai Unin mau masuk sendiri ke dalam rumah kami. Masih tanpa suara, kami yakini pita suaranya rusak sewaktu dia menjerit-jerit di atas loteng itu.

Unin_01_ed

Sejak kehadiran si Unin, rumah ini tampak berbeda. Topik pembicaraan kami bertambah, “si Unin berak di depan kamar tuh,” “si Unin ga berhenti makan,” Unin ina inu… Sesekali terdengar Ibu berbicara dengan Unin, dengan nada tinggi, biasanya karena si Unin muterin kaki minta makan. Bapak, bapak yang diam itu sesekali tertawa melihat Unin guling-guling main dengan dengan keset pintu, atau berteriak sekuatnya karena Unin menyeruduk masuk ke kamarnya. Dan Akang, setiap kali saya pergi ke luar kota, dia akan rajin mengirimkan foto Unin terkini. Dia punya mainan baru, mengurus si Unin, selain sibuk dengan orang tua dan mainan hape (ini yang paling bikin sebel).

Sementara saya, hari ini saja dibuat jengkel oleh Unin. Pok coy dari tiga batang benih, tinggal satu. Akang bilang, daunnya digigit-gigit Unin, batangnya dia garuk. Lalu jemuran, Unin tertangkap tangan sedang guling-gulingan dengan jaket kesayangan saya. Dia garuk jaket itu dari jemurannya hingga jatuh ke lantai. Belum sempat dicek apakah jaket itu jadi bolong karena kuku si Unin. Unin si penguasa keset dan sandal, kukunya keluar setiap kali ada yang mengambil sandal.

Unin_02_ed

Unin adalah berkah buat saya dan akang.  Unin membawa warna baru di rumah kami, Unin membuat bapak dan ibu tertawa. Unin menjadi alasan baru kami bangun pagi, memberikannya makan dan mengajaknya main. Buat kami, Unin bukan sekedar hewan peliharaan, dia menjadi anggota keluarga yang menyatukan kami dalam kata yang sama…. UNIIIIIN… baong lah kamu mah!

Unin_03_Ed

Asah Cara Berpikir Kritis di Era Polusi Informasi. Review #8 The Perils of Perception by Bobby Duffy

Standar
Asah Cara Berpikir Kritis di Era Polusi Informasi. Review #8 The Perils of Perception by Bobby Duffy

Pikiran negative, memori buruk menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran berlebihan akan membawa kita membuat keputusan yang buruk dan membentuk persepsi yang salah. Emosi mengontrol pikiran, itu memang iya, tapi manusia kan ga bodoh, kesimpulan Duffy, kita akan selalu bisa berubah, tergantung bagaimana kita mau membuka diri pada hal yang baru, mencerna realita berdasarkan fakta.

Bobby Duffy adalah direktur sebuah lembaga survey internasional yang bermarkas di London, IPSO. Ilmu statistic adalah makanan dia sehari-hari. Era polusi informasi dimana informasi sangat mudah diakses, tanpa susah mencari, kita dipaparkan oleh informasi yang diframe untuk kepentingan tertentu bahkan algoritma menyajikan informasi berdasarkan history pencarian kita. Kita dipaksa untuk diasah kembali pengetahuan statistic (yang sangat bikin saya stress waktu kuliah dulu), berpikir kritis saat berhadap dengan informasi.

Dalam penelitian sosialnya tentang “misperception” di 13 negara selama 4 tahun yang dituangkan dalam buku ini, menyimpulkan banyak hal menarik. Bahwa kita tidak pernah menghitung bahwa punya itu mahal, dari asuransi kesehatan, pendidikan dan jiwanya. Kita cenderung ingin kelihatan sama dengan orang kebanyakan bahkan lebih baik. Kita sangat percaya kalau kita kelebihan berat badan dan percaya gula itu buruk. Terorisme itu mengancam, imigran bakal merebut kehidupan layak yang pribumi punya dan pemimpin saat ini sebaiknya diganti dengan yang lebih kuat, itu adalah misperception yang dicetak oleh media dan sosial media. Politisi dan jurnalis adalah profesi yang paling tidak dipercaya berdasarkan hasil survey mereka di 13 negara tersebut.

Tidak ada satu resep khusus untuk menangkal misperception di era post-truth, sebagaimana para ahli psikologi, sosial dan komunikasi percaya, latar belakang pendidikan bukan satu-satunya factor yang menentukan cara kita berpikir. Tapi ada emosi, pengalaman yang membentuk cara kita melihat sesuatu. Konteks politik dan kebebasan berekspresi suatu negara juga berpengaruh. Hal-hal negative sangat mudah nyangkut di kepala kita, dan media sangat paham itu. “When it bleeds it leads” dan “Simplify then exaggerate” adalah model media, mereka memang harus menyodorkan rating dan jumlah pembaca untuk menyakinkan pemilik modal dan para pengiklan. Sementara sosial media mencuri informasi pribadi kita, membaca kebiasaan, dan menjualnya kepada pengiklan, pemodal termasuk politisi yang lalu “menghajar” kita dengan informasi yang dibentuk berdasarkan cara kita memilih informasi untuk menguatkan opini yang kita punya.

Kita punya kecenderungan untuk mencari informasi sesuai dengan pilihan hati untuk menguatkan opini sendiri. Then break your bubble, keluar dari tempurungmu, cari informasi lain di luar kebiasaan, termasuk bergaul dengan sebanyak-banyaknya kelompok termasuk yang selama ini kamu takutkan untuk bergaul. Contoh dari saya, semisal kamu tidak pernah bergaul dengan temanteman LGBT dan kamu sangat percaya “mereka menular” coba deh, keluar dari kepercayaanmu sejenak dan berteman dengan mereka. Mereka manusia biasa sepertimu dan tidak menular loh. Menakut-nakuti orang tentang bahaya perubahan iklim tidak akan serta merta membuat public berubah dan melakukan aksi penyelamatan bumi. Relevansi dengan konteks, kedekatan perlu, memberikan contoh positif jauh lebih efektif daripada memberikan informasi yang menimbulkan ketakutan.

Bobby Duffy mengajurkan agar media and news literacy, bersama dengan political knowledge juga critical thinking dan statistic harusnya menjadi bagian dari kurikulum pendidikan dasar. Mengajarkan orang tua berpikir kritis dan statistic sudah terlambat, tapi untuk membuat generasi mendatang pandai membaca dengan kritis, maka lakukan sejak dini! Para pencinta fakta dan data, sempurnakan mereka dengan cerita. Storytelling itu penting karena kita adalah binatang yang bercerita dan itu akan lebih menggugah isi kepala orang untuk menerima informasi.

A Feminist, A Breadwinner and A Panini  

Standar
A Feminist, A Breadwinner and A Panini  

Beberapa hari lalu sempat membaca dua artikel yang membuatku tersenyum-senyum. Aih begitu dekat. Yang pertama, apakah sebuah pernikahan menggagalkanmu menjadi seorang feminis? Artikel kedua tentang generasi panini, itu lembaran daging digenjet di antara roti. Perempuan seperti roti lapis, memenuhi semua keinginan yang ada di sekitarnya, termasuk dirinya sendiri.

Aku rasa keduanya bertalian.

Menikah adalah keputusan sesadar-sadarnya yang aku buat di usia dewasa, 39 tahun. Sudah dengan menimbang bahwa aku tak lagi muda, kemungkinan besar tidak bisa punya anak. Dengan suami yang menjadi perawat atau caretaker kedua orang tua yang sudah dengan penyakit tuanya, stroke dan jantung. Sadar bahwa akhirnya aku yang jadi breadwinner untuk keluarga kecilku, dan keluarga besar. Bahkan dengan pertanyaan yang dalam dan sering aku utarakan, memastikan ibuku rela melepaskanku menikah, karena itu artinya aku tak bisa penuh menjaganya. Lalu beliau bilang, iya, demi kebahagiaanmu, menikahlah.

Maka dengan semua konsekuensi itu, aku menikah. Hari paling indah buat kami berdua. Sekeliling kami tak habis pikir kenapa kami berdua bersepakat menikah sementara secara materi belum terlihat cukup. Aku percaya pada kata-kata ibu, rezeki itu Allah yang punya. Itu saja. Maka Bismillah, semua dijalani.

Sepanjang dua tahun ini, ada saja yang harus kami berdua lalui. Kerja sedang asik, gaji lumayan untukku, tapi konsekuensinya jauh dari suami. Tibatiba dokter bilang, aku tidak boleh hamil kalau tidak mau meningkatkan risiko kanker serviks. Maka keputusan terbesar adalah keluar dari pekerjaan tetap, supaya sehat lahir batin, dekat dengan suami dan hidup sesederhana mungkin.

Tapi ternyata itu berat. Sebagai breadwinner, sungguh berat untuk memenuhi kebutuhan keluarga kecil plus ditambah ibu yang mulai menua dan sakit-sakitan. Tapi bekerja penuh sudah tidak mungkin lagi, kecuali aku menaruh risiko kesehatan terganggu, artinya ibu dan aku bisa jadi sama-sama tumbang, artinya lagi suami akan mengurus dua orang tua dan aku. Risiko itu tak bisa aku ambil. Yang paling berat saat menjadi freelancer yang juga breadwinner adalah ketika kebutuhan datang, dan tak ada cukup dana di tabungan. Itu saat paling sedih. Obatnya, ya kembalikan lagi pada Tuhan.

Panini… aku seperti lembaran daging yang tergenjet roti.

Lalu apa hubungannya sebagai feminis? Aku mau bilang, sejak membuat keputusan menikah, itu adalah sikap feminisku. Tidak ada paksaan, murni memutuskan secara pribadi dengan menimbang semua konsekuensi termasuk menjadi pencari nafkah utama. Feminism memandang hubungan yang setara suami dan isteri, dan kami berdua melakukan itu. Tidak ada penyesalan ketika saya menjadi breadwinner dan suami tinggal di rumah mengurusi orang tua. Bahkan dalam situasi seperti roti panini, kami berdua hanya bisa senyum, “kamu mau naik pangkat,” kata suami. Kita berdua sayang. Aku tidak bisa melakukan semua ini, tidak bisa menjadi diri sendiri, berkarya sebagai pribadi kalau tidak ada dukungan dari suami yang luar biasa. Dia membebaskanku menjadi apa yang aku mau. Batasan yang dia berikan hanya satu, “jaga kesehatan.”

Menikah dan tetap menjadi feminis itu sangat mungkin terjadi, lagi-lagi kuncinya ada di pasangan yang bisa memandangmu sebagai rekan setara, seorang sahabat yang memandangmu sebagai individu. Kami berdua berbagi meski tidak dalam bentuk materi, tapi saling mendukung. Mengakui sekalikali bahwa aku sedih, merasa berat menjadi panini, adalah obat. Tidak perlu untuk selalu menampakan diri sebagai perempuan hebat, kalau sedih ya sedih saja, kalau marah ya marah lah pada keadaan. Ketika sedang merasa lemah, aku akan bilang lemah, cape dan pengennya berhenti. Dengarkan saja, tidak harus berkoar-koar “You can do it Nita” of course I can do it, but it does takes time. Tidak semua hal harus dilakukan saat bersamaan, bahkan embracing your weakness will make you stronger. Apalagi pasangan di samping punya prinsip yang sama, memandang kita adalah setara dan sejalan. Itu yang membuat aku kuat, sebagai feminis, sebagai breadwinner dan panini J