Being political with BTS ARMY (part.2) and as the newpower of collective movement on the Happiest 8th Anniversary Bangtan! Thank you!

Standar
Being political with BTS ARMY (part.2) and as the newpower of collective movement on the Happiest 8th Anniversary Bangtan! Thank you!

Since I decided to go back to school for Phd, I fall myself happily in BTS rabbit hole. I follow BTS and ARMY ever since, every day. My Gmail sent me the alert daily of BTS, ARMY, Soft Power, Korean Hallyu. I think I have thousands of media and journal’s articles from 2019-2020, thousands digital artifacts of videos, photos and screenshoots from the social media related to them. I read books related to networked society, social movement, digital citizenship, civic participation, newpower, cultural studies, media studies and pop culture. All summarized in 10 pages of Phd proposal last month and yesterday I got my first peer review, and he said, make it short to just 5! Hahaha. But overall, he said the proposal is clear enough and exciting research plan. Hey, that is my very serious academic document I wrote since I graduate 5 years ago, so Yeaaay! Thank you Bangtan!

I am just a Baby ARMY, according to 7 months being ARMY, I still have lots to learn since they are celebrating 8th anniversary today. And for the past 8 years, I have read that BTS has changed millions of ARMY lives individually, how BTS has changed the way ARMY sees life and themselves. The word Love Myself is so powerful in changing their perspectives on themselves, self-acceptance and how it can break the neo-liberalism values of how each one of us forced to achieve certain standard of living in materialism matter.

I read studies how BTS and ARMY horizontal relationship as Namjoon the leader said, ARMY is their crew. Obviously, ARMY has been the key of BTS success in the past 8 years, years in Billboard chart, and Grammy nomination. ARMY has been protected BTS from malicious digital fraud that can make them hurt musically, including the clout action from parties. Not to mention the impact of ARMY as fandom economically toward BTS, Hybe and Big Hit as a corporation and South Korean as the nation.

Nevertheless, ARMY as community is also doing tons of impactful collective political movement. On Trump’s campaign, on Blacklives Matter. In Indonesia, my recent research count 600millions rupiahs ($ 49741.71) donation to flood and earthquake in January 2021. From May 2020 – February 2021, I made an early accounting of the projects, finding their worth to be IDR 1.013.356.305 ($72642.03) for various causes. This is only from the platforms Kitabisa.com and ARMY used various crowd funding platforms for their charity project.  BTS ARMY not only donates money but also donated 3500 pieces of clothes in February 2021, and more than 1000 books in March 2021 distributed to Women Prison in Bandung, managed and distributed by a sub-group of ARMY Indonesia, Bintang Ungu. The same group also built a kindergarten in a scavenger village. As a disclaimer, I am in the group of Bintang Ungu. Additional to that, ARMY has many branches of interest groups. ARMY learns Korean language with BANGTAN Academy for free, the network of BANGTAN Scholars helped ARMY with their studies and research. There is also group of ARMY focus on mental health and giving comfort to ARMY who need one, freely.

According to the last voluntary world census of ARMY 2020, they are 80 million ARMY in the world, and 20% of them are from Indonesia. Imagine how many ARMY who missed the census, I bet it is more than that. This is a huge power! And majority are Millenial and Z generation, the generation that can determine our future. As for Indonesia, I have to warns ARMY to really careful not being drag politically for any parties’ interest for presidential election 2024. We need to make ARMY clean as it is from any political party shit in Indonesia.

How BTS can have a really huge fandom around the world? I am not going to tell you the whole stories. But here are the principal tips I can give to you. Firstly, please go through their lyrics without prejudice. Listen carefully, read in English translation carefully all the songs or okay do it randomly. Understand what message that they try to send to youth, their generations. Secondly, please go through their videos off stage, RUN BTS, In the soop is my favorite, and Bon Voyage. You don’t need to watch them all, just do randomly. Thirdly, watch their interview with media. But bare in mind, of course, everything you see on media and social media has been curated for certain interest and that will make you want to go through the fourth tips. Fourthly, go through randomly to the conversation between ARMY on social media. Lastly, if you want to look serious or being academic, go through all articles, and journals. You might end up like me. BTS and ARMY are so fascinating relation, digital fandom community like no others.

My first article of BTS on this blog has the tittle of Being Political with BTS and at this moment has 1.943 views, I am not being clout since it is a very personal experiences with BTS but then I realize, there are lots of people out there who wants to learn about BTS. Therefore, I make the second part, more serious, did it look like more academic, no?

On this blog you can also find the article on how BTS impacted the media business. Everything with BTS sold out, including the BTS Meal that brought news attention couple days ago. Again, I don’t want to discuss the issue at the individual level as ARMY, but seeing it as the failure of the system. How business, economic priority failed to meet the health caution.

Happy 8th Anniversary BTS! Stay GOLD!

100 tahun sejarah Korea dalam cerita satu keluarga. Review Pachinko karya Min Jin Lee

Standar
100 tahun sejarah Korea dalam cerita satu keluarga. Review Pachinko karya Min Jin Lee

Pachinko. Saya bahkan tak tahu ini apa, tidak juga iseng mencari artinya. Saya terus membaca buku setebal 531 halaman tanpa menghitung acknowledgement dan preview buku lain, berharap saya akan menemukan arti Pachinko. And I did, di halaman kesekian ratus.

Dalam fiksi memang tak melulu harus menjelaskan definisi kata seperti non fiksi, selama ceritanya bisa mengalir, pembaca akan mudah memahami dan menemukan sendiri artinya. Begitu juga di buku ini. Tadinya saya berpikir Pachinko hanya sekedar judul, ternyata ini adalah nadinya cerita. Di Pachinko sejarah keluarga Baek mengalir. Butuh cerita satu keluarga untuk menjabarkan 100 tahun sejarah Korea, semenanjung yang dikuasai Jepang, dibelah oleh ideologi politik menjadi Utara dan Selatan dan imigran Korea di Jepang hidup dalam diskriminasi.

Cerita dimulai dari kehidupan seorang anak berkebutuhan khusus, kakinya menekuk. Tak ada keluarga yang mau punya menantu seperti itu kecuali keluarga Yunjin yang miskin dan menikahkan Yunjin agar mereka bisa makan. Yujin mencintai Hoonie dengan segala keterbatasannya, mengurus penginapan untuk nelayan yang mampir ke Busan. Lima kali Yujin keguguran sebelum melahirkan Sunja.

Anak perempuan yang hidup bahagia itu jatuh cinta pada lelaki dewasa dan hamil. Hansu sudah menikah di Jepang dan berharap Sunja mau menjadi simpanannya di Korea. Perempuan simpanan statusnya sangat rendah. Isak Baek, pendeta muda dengan penyakit TBC menikahi Sunja untuk menyelamatkan nama baiknya dan mereka hijrah ke Osaka karena Isak mendapatkan pekerjaan sebagai pendeta di sana.

Di sinilah cerita dimulai. Di Osaka, orang Korea seperti keluarga mereka hidup kumuh, bahkan berbagi ruang dengan babi. Satu rumah dua keluarga, Isak dengan Sunja, Yosep dengan Kyunghee, lalu lahir Noa dan menyusul adiknya Mozasu. Noa menyukai sekolah, menguasai semua pelajaran dan bercitacita kuliah. Mozasu sebaliknya, dia keluar dari sekolah dan bekerja di Pachinko, kemudian menjadi pebisnis hingga novel berakhir.

Pulang kembali ke Korea berarti mati kelaparan, perempuan-perempuan muda Korea yang berusaha kabur dari tekanan Jepang diimingi kehidupan baik di Manchuria, berakhir di rumah bordil. Di Jepang sendiri, orang Korea dianggap parasite, kotor dan rendahan. Tak banyak bisnis milik Jepang yang mau menerima orang Korea. Sementara Yosep, seperti juga lelaki dari budaya patriarki yang kental, merasa terhina jika dua perempuan di rumahnya membantu mencari nafkah, terutama setelah Isak Baek di penjara dan meninggal karena mempertahankan prinsipnya.

Ketika perang dunia kedua pecah, Amerika menghajar Jepang, di situlah tokoh Hansu, ayah kandung Noa muncul kembali dalam kehidupan Sunja dan keluarga. Hansu adalah Yakuza, kelahiran Jeju yang diadopsi pimpinan Yakuza dan menikahi anak bosnya. Hansu menyelamatkan keluarga ini dan mulai mengatur kehidupan Noa.

Belasan tahun kemudian, Noa tahu darah Yakuza mengalir di tubuhnya. Dia kabur, mengubah nama dan menjadi Jepang. Ketika Sunja menemuinya, kepahitan itu muncul kembali, Noa bunuh diri. Dia tak pernah bisa memaafkan keadaan yang membuatnya merasa kotor terlahir sebagai anak seorang Yakuza.

Kalau dipikir cerita berakhir di sini, ah tidak kawan. Masih ada cerita tentang anak Mozasu bernama Solomon yang akhirnya bisa sekolah tinggi di Colombia University Amerika. Ketika kembali, seperti harapan keluarga adalah bekerja di perusahaan asing dan terbebas dari stereotype orang Korea di Jepang. Bosnya seorang Jepang, yang awalnya baik tapi ternyata memanfaatkan Solomon. Solomon pun berakhir bekerja di Pachinko milik ayahnya. Sejujur apapun hidupmu, Pachinko punya stigma yang terlanjur buruk, ditambah darah Korea, selamanya keluarga Korea di Jepang tak pernah bebas dari prasangka.

Novel ini menceritakan peliknya perjuangan mencari identitas diri, apakah seseorang bisa dengan menolak siapa orang tuanya? Darimana dia berasal? Bisakah mengubah rupa, aksen bicara semudah mendapatkan identitas baru di atas dokumen resmi? Bisakah mengubah kultur yang hidup dalam keluarga, sebagai sebuah bangsa? Tak bisakah kita hidup sebagai pribadi as a person?

Novel ini juga bercerita banyak tentang perempuan dalam budaya Korea. Istilah Go-saeng berarti perempuan harus menderita sebagai anak, isteri, dan ibu, berkorban untuk anak, suami dan keluarga. Melakukan semua pekerjaan 24 jam, 7 hari seminggu demi keluarga dan nama baik keluarga. Kesalahan remaja Sunja membuatnya “dihukum” menderita sepanjang hidup, kehilangan Isak, Noa dan Yungjin ibunya, termasuk Honsu lelaki pertama yang singgah di hatinya. Ketika Sunja bertemu dengan calon cucu-mantu, Phoebe, orang Korea yang lahir dan besar di Amerika, perempuan mandiri, berpendidikan dan tak pernah masuk dapur, Sunja membatin “cukup sebenarnya buat perempuan mencintai dirinya sendiri, dan lalu membagi cintanya untuk keluarga, tanpa harus menderita.” Sunja melakukan pemberontakan sejak remaja, dia pergi ke pasar sendiri, dia mengungkapkan cinta, dia bekerja dan berjualan di pasar, dia mendidik anak-anaknya dengan baik. Satu-satuya kebahagian untuk Sunja adalah melihat anak-anaknya bahagia, dan setengah kebahagiaannya hilang ketika Noa mati.

Min Jee Lee adalah seorang Korea yang tinggal di Amerika. Dia butuh 24 tahun menyelesaikan novel dan it’s worth it every single page to read.

Menjelajah Waktu, Mengubah Rasa, Bukan Takdir. Review Before the Coffee Gets Cold – Toshikazu Kawaguchi

Standar
Menjelajah Waktu, Mengubah Rasa, Bukan Takdir. Review Before the Coffee Gets Cold – Toshikazu Kawaguchi

Kalau diberikan kesempatan untuk kembali ke masa lalu, apakah kamu akan ambil kesempatan itu? Meski kenyataan hari ini tidak akan berubah, meski harus mempertaruhkan nyawa karena waktu yang diberikan hanya sepanjang kopi masih hangat atau kamu akan terjebak di masa lampau selamanya, menjadi hantu. Menjelajah waktu hanya bisa dilakukan di bangku yang sama, untuk bertemu orang yang pernah berkunjung ke kafe itu.

Meski dengan persyaratan yang begitu rumit, toh Fumiko, Kohtake, Hurai dan Kei tetap menjelajah waktu. Empat cerita, empat orang menjelajah masa lampau dan masa depan menuntaskan rasa ingin tahu, dan rasa sesal yang tertinggal. Ada banyak hal yang ingin disampaikan tapi tak sempat terucap sampai waktu yang diberikan berlalu.

Novel ini mengangkat cerita sederhana tentang manusia dan rasa sesalnya, mengambil tempat di sebuah kafe kecil tanpa pendingin ruangan, tanpa jendela. Ada satu bangku yang ditempati hantu perempuan yang terjebak dalam waktu, tak bisa kembali karena terbawa perasaan ketika menjelajah waktunya di masa lalu.

Setiap bab membuat saya menangis meraung-raung sepertinya saya yang ada dalam cerita itu. Menampar saya betapa banyak hal yang tidak sempat terucap kepada sahabat dan ayah yang sudah lebih dulu pergi. Tak sempat menyampaikan terima kasih telah memberikan cerita dalam hidup saya. Bahkan di bab terakhir, kalau saja tidak membacanya di teras, saya tentu sudah meraung seperti sahur tadi. Akang sampai bingung melihat saya menangis seperti ditinggal mati kekasih hati. Iya tangis yang hanya bisa ditumpahkan orang yang tahu rasanya kehilangan.

Jangan biarkan waktu mengalahkanmu, kalau ada yang ingin kamu sampaikan pada seseorang, sampaikan sekarang sebelum semuanya terlambat. Jika tak bisa mengubah takdir, paling tidak kamu melanjutkan hidup tanpa rasa sesal dan penasaran.

Sukseslah novel 213 halaman dibaca hanya dalam 2 malam.

Generasi Millenial Lelah Hayati. Review Buku Can’t Even karya Anne Helen Petersen

Standar
Generasi Millenial Lelah Hayati. Review Buku Can’t Even karya Anne Helen Petersen

Buku ini memberikan batasan generasi milenial adalah mereka yang lahir 1981 – 1996. Dua generasi sebelumnya adalah X yaitu saya dan Bommers – orang tua saya dan kakek nenek dan seterusnya. Generasi milenial tertua saat ini berusia 40 tahun dan termuda adalah 35 tahun. Masa sedang sibuknya bekerja double shift siang malam, tanpa memerhatikan Kesehatan jiwa dan raga, demi membayar tagihan sekolah anak-anak, rumah, kendaraan, memenuhi tuntutan social agar tak turun kelas, dan mengurus orang tua. Betapa pun kerasnya melakukan usaha, tabungan tak kunjung kelihatan cukup untuk masa depan, demi anak-anak. Lalu pandemic datang tahun lalu mengacaukan semua agenda, sebagian dari kita bahkan kehilangan pekerjaan, semua mulai lagi dari nol. Anne Helen Petersen memulai bukunya dari cerita pribadinya, sebagai jurnalis lepas, akademisi yang belakangan baru menyadari betapa melelahkan hidupnya.

Sialnya tak banyak dari generasi milenial mengakui dirinya mengalami kelelahan luar biasa lahir batin, atau bahasa kerennya burnout. Dan ketika mengakui mereka depresi, stress dan burnout, obatnya selalu disematkan personal. Kamu kurang bersyukur, banyaklah berdoa, kembali pada agama, dan atau obat penenang. Mulai dari guru spiritual, psikolog, yogi dan para coach, motivator semua menumpukkan masalah Lelah hayati ini sebagai isu personal, bukan social. Padahal, akarnya ada di dalam kehidupan social yang sistemik, namanya kapitalisme.

Begini ceritanya. Dalam kapitalisme, yang dituntut adalah pertumbuhan atau growth, dengan seminimal mungkin ongkos produksi di dapat keuntungan sebesar-besarnya. Ada pergeseran paradigma, setelah great depresi tahun 1930-an, ekonomi menempatkan pekerja sebagai asset. Karena hanya dengan jaminan kesehatan yang baik, pensiun, pendidikan untuk anak-anak mereka, para pekerja bisa bekerja lebih produktif tanpa dibayang-bayangi tanggungan tersebut. Lalu Ketika neo-liberal muncul di tahun 80an, sentral kehidupan beralih pada individu. Bahwa individu termasuk pekerja bertanggungjawab atas dirinya sendiri.

Geser lagi ke akhir 90an sampai hari ini, gig economy menjadi perpanjangan dari liberalisme ekonomi. Kalau bisa diselesaikan oleh para pekerja lepas, untuk apa memelihara pekerja tetap? Passion menjadi jargon baru. Kalau kau bekerja sesuai passionmu, dibayar secukupnya okay lah, yang penting hati senang. Iming-iming kebebasan berkreasi, mengatur diri sendiri, mengatur jam kerja yang akhirnya terjebak pada pekerjaan tanpa jeda. Kebebasan itu bayarnya mahal, harus memikirkan asuransi kesehatan sendiri, atau jaminan pensiun. Dengan label freelance, orang melihatmu punya waktu banyak sampai tidak ada waktu pembeda antara urusan kerjaan dan pribadi. Apa itu weekend? Apa itu me time? Semua pekerja didorong untuk bekerja seperti kuda untuk bisa mencapai apa yang disebut sukses dalam bentuk materi. Apalagi saat pandemic ketika pekerjaan dibawa ke dalam rumah, tak ada lagi batasan urusan rumah tangga dan kerja. Semua menyatu.

Dulu standar lulus SMA cukup untuk bekerja di belakang meja, ketika semakin kompetitif, naiklah standar menjadi S1. Sekarang S2 apalagi lulusan luar negeri, barulah sedikit ada di atas angin di dunia yang semakin kompetitif. Apakah kemudian masalah selesai? Belum tentu malih.

Lalu milenial menikah. Buku ini bercerita, seprogresif-progresifnya pasanganmu, ketika urusan rumah tangga, tetap perempuan yang dijadikan andalan. Perempuan kemudian “dipaksa” memilih untuk mengurus rumah tangga atau bekerja. Kalau pun memilih bekerja, tetap dituntut agar keluarga diperhatikan. Alhasil, perempuan bekerja 24 jam, pasangan laki-lakinya?

Kalaupun kemudian pasangan sama-sama bekerja, mereka harus membayar pengasuh dan PRT untuk menjaga anak-anak dan mengurus rumah. Biayanya menjadi bertambah, kalau tidak ada pengasuh, penitipan anak juga tidak murah. Atau sekolah full-day, agar anak-anak tidak sendirian di rumah, biaya lagi dan itu tidak sedikit. Orang tua milenial lelah hayati lagi.  Ketika pertengkaran terjadi sampai pada perceraian, perempuan akan mendapat beban berlipat ganda karena pengasuhan biasanya jatuh pada perempuan sementara biaya tak jadi tanggungan bersama. Ini belum bicara tentang biaya pendidikan dan kesehatan anak-anak. Berapa anak? 1, 2 atau 3? Bahwa anak membawa rezekinya masing-masing? Ntar dulu, anak-anak juga tidak pernah minta dilahirkan dari rahim ibunya, melahirkan dan membesarkan mereka adalah tanggungjawab orang tua, yes.

Burnout lagi.

Bayangkan jika pendidikan anak-anak disokong negara secara adil, tidak perlu orang tua memilih swasta yang biayanya alakazim untuk pendidikan yang lebih baik, karena sekolah negeri pun punya kualitas yang sama. Kalau saja perempuan diperlakukan adil dalam penggajian dan dijamin tidak kehilangan pekerjaan karena cuti melahirkan atau harus absen mengurus keluarga yang sakit, tentu akan beda cerita. Kalau saja freelancer, pekerja gig economy seperti kontraktor IT, supir ojek online, kurir juga mendapatkan jaminan minimal standar minimum gaji, tentu mereka tidak menghabiskan 24 jam untuk memenuhi tuntutan hidup. Kalau saja budaya patriarki tidak dengan senang hati menyokong kapitalisme, dan jam kerja di luar dan di dalam rumah bisa secara adil dibagi oleh pasangan, tentu keseimbangan hidup itu bisa didapat.

Kapitalisme pada akhirnya akan mati, iya lah, ketika pada akhirnya generasi milenial tidak lagi punya waktu untuk memikirkan seks, menikah apalagi punya anak, akan hilang generasi pekerja di masa mendatang. Jepang, dan Korea, sudah mengalami angka penurunan kelahiran bayi yang signifikan, siapa lagi anak menyusul?

Milenial sudah mulai berontak, Fuck Passion Pay ME! Jangan mau lagi diembel-embeli tawaran sesuai passion lalu kamu dipaksa bekerja sampai mampus.

Buku ini sangat perlu dibaca oleh semua generasi. Bommers cenderung menyalahkan milenial dengan menyebut mereka sebagai generasi pemalas dan keras kepala. Hola om tante, milenial adalah hasil cetakan ajaran kalian loh. Apa yang mereka tampilkan sekarang tak lebih dari jawaban atas tuntutan yang disematkan kepada mereka sejak lahir. Belajarlah memahami.

Saya tutup review ini dengan lagu NO dari BTS, liriknya menggambarkan kelelahan luar biasa bagi generasi muda milenial dituntut kehidupan material, seperti boneka kayu yang dikendalikan orang dewasa, lalu siapa yang bertanggujawab?

Adalah Mitos Influencer Bisa Melakukan Perubahan Sosial. Review Change karya Damon Centola

Standar
Adalah Mitos Influencer Bisa Melakukan Perubahan Sosial. Review Change karya Damon Centola

Pasti masih segar diingatan ketika vaksin anticovid pertama kali disuntikan di Indonesia, salah duanya adalah Presiden dan influencer Raffi Ahmad. Harapan mengajak influencer adalah untuk meyakinkan publik bahwa vaksin itu penting dan aman. Lalu publik dibikin kecewa ketika beberapa jam setelah vaksin, Raffi berkerumun dengan tamunya di rumah dan diunggah di sosial media. Long story short, kalau sekarang kemudian vaksin justru diperebutkan oleh warga, apakah itu artinya Raffi berhasil meyakinkan vaksin aman?

Tidak semudah itu prosesnya Fergusso. Perubahan sikap seseorang menurut Damon Centola dalam bukunya Change bukan seperti virus covid yang menular hanya karena kita berdekatan tanpa perlindungan dengan pembawa virus. Penularan perubahan sosial itu rumit prosesnya dan jangka panjang. Kalau yang dituju sekedar informasi, iya betul, menggunakan strategi Shotgun, sekali tembak lewat berbagai saluran informasi adalah tepat. Menggunakan silver bullet strategy dengan influencer juga tepat. Tapi jika yang dituju adalah perubahan sikap, manusia itu makhluk sosial yang dipengaruhi sekitarnya sebelum berubah. Orang berubah disebabkan beberapa faktor, yaitu informasi dan contoh yang berulang-ulang disampaikan atau redundant, relevan dengan kebutuhan atau nilai-nilainya, peer pressure atau tekanan rekan sebaya, melihat contoh dari orang lain yang berhasil berubah, dan ketika ada social reinforcement, perubahan yang dipaksakan dengan otoritas pemeritahan misalnya. Perubahan perilaku juga membutuhkan waktu dalam proses difusinya. Bukan hanya karena dia selegram atau influencer akan mampu dipercaya followernya dan diikuti tindak tanduknya lalu perubaha terjadi dalam semalam. No no no… Fergusso lelah.  Dalam contoh Google Glass yang disebutkan dalam buku ini, penggunaan influencer malah bisa jadi backfire atau senjata makan tuan bagi gagasan itu sendiri. Influencer bisa juga jadi antipati pada gagasan baru dan menyebarkan ketidaksepahamannya ke orang lain, akibat terburuk adalah mematikan gagasan baru tersebut.

Buku ini semacam refleksi buat saya yang dikelilingi dua kelompok penting di ruang publik. Kelompok jurnalis dan media yang percaya, berita yang disiarkan massive dan terbuka adalah perlu untuk melakukan perubahan. Kelompok lainnya tempat saya bergaul adalah aktivis lingkungan dan perempuan yang selama ini seperti berteriak di ruangan sendiri, berkutat di fishing-netnya sendiri perubahan yang ingin dicapai memakan waktu bertahun-tahun tapi sulit sekali menunjukkan progresnya. Apa yang sudah benar dan apa yang salah dalam strateginya?

Buat Centola, saya adalah individu yang ada di outer-rim, di periphery narrow-bridge yang dapat membawa ide gagasan ke jembatan yang lebih besar, saya justru aset yang dapat mempertemukan kepentingan dua kelompok ini, jurnalis/media dan NGO. Ketika kawan-kawan aktivis ingin melakukan perubahan, mereka perlu mengikutkan orang-orang yang bisa menjembati gerakan mereka dengan kelompok berbeda, agar gerakan bisa dibawa keluar dari lingkaran sendiri, mencapai tipping-point dan perubahan pun terjadi. Pun sebaliknya, media sangat mungkin melakukan framming untuk sebuah perubahan dan tanpa framming untuk “tujuan baik” perubahan juga akan sulit tercapai karena berita seperti ratusan peluru yang dilepaskan bebas tanpa tujuan, publik  kewalahan menghadapi informasi berlimpah.

Pada konteks tertentu, perubahan sosial dalam dilakukan dengan strategi snowball yaitu memilih tempat yang tepat untuk inkubasi gagasan baru, jika berhasil ini dapat direplikasi ke tempat lain dan seterusnya hingga mencapai tipping pointnya dan perubahan itu sustain. Contoh yang dia berikan dalam buku ini adalah perubahan pola tani di mozambique, dan pemasangan solar atap di lingkungan perumahan di Jerman. Orang itu sifatnya meniru, melihat contoh yang konsisten dilakukan dan relevan dengannya.

Soal relevansi gagasan baru, ini akan beririsan dengan bias, tidak ada network yang netral. Setiap orang pasti punya nilai-nilai sendiri yang dia percayai, tentu bukan perkara mudah mengubah nilai orang, tapi mungkin ga? Mungkin. Cina menggunakan kekuasaan pemerintah, otoriter, tapi untuk perubahan sosial dalam arti yang lebih kecil, kita harus menemukan orang yang ada di ujung network itu, atau periphery, yang masih punya kontak dengan network di luar lingkarannya. Orang-orang ini yang bisa dilibatkan sebagai bagian dari infrastruktur perubahan.

Yang paling penting, buku ini mengajak kita berkenalan dengan komunitas terdekat, mengenali mereka dan kebutuhannya, dan temukan relevansi gagasan baru yang kita tawarkan dengan nilai-nilai yang sudah duluan ada. Fokus pada tempat khusus untuk inkubasi, bukan pada selebriti.  

Centola bukan tech-solutionist meski bicara tentang riset complex contagion dengan nodes-nodes dalam network society yang rumit dengan rumus matematika dan bikin saya megap-megap. Aselinya dia seorang sosiolog yang percaya, teknologi itu gimana manusia yang mengoperasikannya, membangun komunikasi dan interaksi di antara penggunanya. Buku ini penting dibaca untuk kawan-kawan aktivis agar kita tak melulu ephoria di lingkaran sendiri.

Kembali ke paragraph awal, silakan refleksikan sendiri, kalau hari ini kamu sudah menerima vaksin, apakah itu karena Raffi Ahmad?

BTS is not virus, it is a social network. Note on SUGA’s birthday

Standar
BTS is not virus, it is a social network. Note on SUGA’s birthday

A week ago, an announcer of Radio Bayern3 said that BTS is like a corona virus just because he does not like BTS’s covering a song of Coldplay, Fix You on MTV Unplugged. He really got fucked up when BTS ARMY made him a twitter trending for days because of it. Well I tell you what Mathias, you are scientifically wrong by calling BTS a virus because they are nothing like it. BTS is a social network, you should read more.

People don’t just admiring BTS because they are viral and today become the biggest boyband in the world. You can track why someone become an ARMY within their own network. In social network theory there are strong ties network and weak ties network. Yeah, I just read the book “Changes” in fact only two chapter so far, but I really got into it and trying to explain BTS from  the angle of social network.  One is never been a passive receiver of a message, a new idea, or new information. People negotiate within self, using their culture capital, values and will be convince only by their strong ties network such as families, best friends, or someone that they looked up to. Once they accept the new idea or new things, and its redundance in their life, it become a norm and values that they integrated into. Those processes are definitely taking more times than corona virus where you can get it from just sitting next  to a stranger. That is also explain why “viral” is become a myth in social network theory.

BTS is NOT just a one time wonder, or a one night magical boyband (they are boys but not in a band) but it took them almost 8 years to be where they are now. When they are signing an extended campaign of Love Myself with UNICEF, they knew exactly what is the first thing to start and where to start. Like Jin said, since the first time they involve in the campaign, first thing he did was to love himself first. To really implemented what it means to “love myself”, and how it has make him more happy and enjoying life as he is today. Those experiences that he is aiming to share with ARMY and the world through this campaign.

What does it says then? It means, just because BTS is worldwide artist, it does not means that everything they say will be accepted by ARMY and others. But since they made themselves as a good examples in implementing the campaign itself, that convince the ARMY to follow their steps. Using the theory of #newpower, the strong ties probably related to super participants that is ARMY and weakties is represent by participant which is fans. Since the ARMY is the one who redundance the message of the campaign within their real life network, the campain of LOVE MYSELF will become a new norm, and changing behavior of ARMY and their network.

Do I get “contagious” by social media that tells BTS is a viral or by my strong ties network? The second one obviously. I am the one who don’t give a shit about what is viral on social media, and only notice things that being brought by my strong ties network such as best friends, close colleagues and family. My niece is ARMY, nevertheless, I wasn’t convince by her because she failed to explain who is BTS in deeper meaning, but it was my best friend Sarie who was playing their music for three days while we were on a trip and she kept explaining  5W1H about BTS. Since then, I started to listen to BTS and going to the rabbit hole and I stay here.

So if you are ARMY reading this note, you might want to remember how you got to BTS in the first place? Who convince you to love them like you are now? who are in your strong ties network also BTS ARMY?

This note is being post on Suga’s birthday. Happy Birthday SUGA the coolest member in BTS, I still like you even if in the next life you chose to be a stone, you still become the coolest stone in the planet. We make a special activity on your birthday, we open a book donation called Book for 2nd Chance. The books go to Women and Children Prison in Bandung because books become their refuge and give them a healing time, also because we believe in second chance in life that must be better than today.

Do you know my name?

Standar

She is still sitting on the same chair like yesterday and the other day before.

Her eyes are wandering around through the dark and thick scenery deep into the bamboo forest,

She is smiling and blushing. Her bread chick turn to tomatoes, fresh red.

She is alone, like yesterday and the other day before.

But she is not lonely. She is content with herself and here I am, longing to just say hi to her.

She is smiling, her eyes are talking to thin air.  What does she sees?

Oh her glass is empty.  This is it, my chance to talk to her. Just her little smile should be enough to bring me to heaven. I would not dare to ask for more.

She raise her glass, my turn to pour her wine like yesterday and the other day before. Same time, same type, same ethernal scenery.

Just one smile is enough to take me to heaven

“Thank you, Jin. Take a break and have a sit with me. I could use a company tonight.”

….

Padma Hotel, Bandung, 260221

pic: goodhousekeeping

Becoming BTS ARMY; from “I” to “We”. Happy Birthday J-Hope

Standar
Becoming BTS ARMY; from “I” to “We”. Happy Birthday J-Hope

On May 5, 2019, BTS concluded their first Speak Yourself concerts, at the Rose Bowl in Los Angeles. BTS leader Rap Monster – Kim Namjoon, said

“Wherever you’re from, whatever you speak, however old you are, in this Rose Bowl, tonight we are one. We speak the same thing. We speak the same voice. We speak the same language. This is community, what we call community… Let’s keep speaking the same language.”

What it means to be part a community name BTS ARMY?

When I started my birthday notes celebrating BTS member’s birthday with Jin on December 4, 2020, I was not part of the ARMY. I was just the fan, admiring their music and my knowledge of BTS and the ARMY is shallow. It was just my 2 weeks since I listen to them. Jin, then who became my inspiration to really fall into their rabbit hole and not only that, I just finish my introduction part for PhD proposal because and about BTS ARMY.  

It did not take a long time to choose the identity as ARMY of BTS. Identity is the product of identification. It is about taking side, taking place. (About) who I am and where I stand to speak from the place to act from place.. . Identity is a moving process making (Stuart Hall)

You are probably asking, but why?

My first note was thanking Jin for saving my niece life, and now, I must thank them for saving mine. Someone I respect was shouting out loud to me at my face. In my normal time, I probably will feel devastated, lost, cried and turn to hate the person. But I wasn’t, I was distracted by BTS’s song on my ear than somehow comfort me. They took me into a different reality, where I feel safe and happy.

That’s a very psychological effect that I had from listening BTS. Nevertheless, when I do my research about them, we do speaking on the same language of love and respect. My idealism values are connected to them that make me easily to love them as musician, artists, as a person of each member and as a team.

Once I identify myself to their values, it is easier to make an action. Identity is a source for action as Stuart Hall said. My first action was looking how I can contribute for V’s birthday. That is how I got introduced to Bintang Ungu, a group of ARMY for V as V coined the icon of Purple love – Borahae. Together we support one kindergarten in a poor neighborhood in North Jakarta. We are not only fund  the operational but also involve in creating the program based on what BTS values, to love our-self, respect, and nurturing empathy both for children and their parents. That’s awesome, right!

If BTS ARMY is a community like RM said, and it feels just right, then it is part of the network society where Manuel Castells said being shaped by information and communication technology when communicated the shared values. We took our private communication through public realm through social media and organizing ourselves when we do the collective action. Do BTS tells us to? Nope, the main difference between BTS and other idols is that, they do not need to tell us to do explicitly. According to the study on BTS ARMY movement for #MatchAmillion during Black Lives Matter campaign 2020, Park et al, found that ARMY was moved by BTS’s example of manners and deep meaning of their lyrics. Related to their findings, I do feel being part of the ARMY community is also comforting. We shared laughter, appreciate each other, we share knowledge and information as also doing social collective action.

Being a fangirling at the age of 40ish is something that seems ridiculous to others. But I am not a shame, I am proud instead. Because I don’t see us as a common fandom, we are community, we make movement and hopefully able to change society. As our members are adult, parents of the future generation, we do learn about a good parenting through the BTS’ values, as simple as treat our children with empathy and respect.

I leave it here …

I would like to say Happy Birthday to my bias wrecker Jung Ho Seok – Jhope! You are the sunshine to ARMY with that bright smile and happy face. You are bringing hope to everyone, to believe in yourself. You are following your passion to be a dancer despite the disagreement of your parents, because you believe in what you love in life. Keep shining brightly!

Tidak Ada Kata Terlalu Muda Untuk Sebuah Perjuangan. Review UnFree Speech – Joshua Wong

Standar
Tidak Ada Kata Terlalu Muda Untuk Sebuah Perjuangan. Review UnFree Speech – Joshua Wong

Ini adalah buku paling cepat saya baca. Jika tidak diselingi pekerjaan dan ekstrakurikuler lain, buku setebal 258 halaman ini bisa selesai dalam satu malam. Joshua Wong bercerita dengan bahasa paling sederhana yang bisa dipahami oleh siapa pun. Membaca surat-suratnya yang ditulis di dalam penjara anak-anak dan selama beberapa hari di sel penjara orang dewasa membawa saya masuk ke dalam dunianya. Bagaimana anak muda yang mulai aktif berpolitik sejak usia 14 tahun ini bertahan hingga sekarang di usianya di pertengahan 20an? Bagaimana memelihara idealisme yang sangat mudah bergeser seiring dengan bertambah usia dan semakin banyak tuntutan sosial dan keluarga yang membebani perjalanan hidup anak muda?

Ketika bicara anak muda atau pemuda, izinkan saya memakai ukuran usia 15-28 tahun dalam standar PBB. Saat bekerja dengan Ashoka, saya mengenal anak-anak yang usianya mulai dari 12 tahun tahun sudah punya keinginan untuk berbuat sesuatu buat sekitarnya. kids are amazing indeed. Karena itu kalau ada yang bilang “anak-anak Cuma ikut-ikutan dan tidak punya keinginan pribadi melainkan disetir oleh orang dewasa,” aku bisa meradang. Saya bisa membuktikan anak-anak ini punya keinginannya sendiri, mimpinya sendiri, orang tua hanya perlu mendukung dan mendampinginya.

Joshua Wong salah satu buktinya. Kalau ditanya apa keluarga memengaruhi dia? Jelas iya. Ayahnya bekerja sebagai IT dan aktif di kegiatan gereja, sementara ibunya adalah seorang aktivis. Orang tuanya menikah beberapa hari setelah kejadian Tianammen dan memutuskan untuk membatalkan pesta perkawinan untuk menghormati peristiwa itu. Cerita itulah yang mulai menggerakkan Joshua kecil. Dia takkan tahan melihat ketidakadilan di sekitarnya. Joshua bukan anak “cemerlang”, dia berjuang melawan disleksianya. Di usia 14 tahun, pas SMP, dia mulai berpolitik, lewat page facebook, dia mengajak siswa lain protes soal makanan di kantin sekolahnya. Ketika orang tuanya dipanggil pihak sekolah, ibunya bilang “bukan salah anak saya, dia hanya menyuarakan apa yang dirasanya sebagai kebenaran. Jika kamu menghukumnya, sekolah ini justru akan dapat citra buruk.” Tidak perlu saya ajak kamu membayangkan reaksi orang tua kebanyakan ya.

Di usia 15 tahun lah, aktivitas politiknya membesar. Dia menggagas Scholarism, menolak kebijakan pendidikan nasional di Hong Kong yang merujuk pada doktrinisasi komunis China. Dia berhasil menggerakkan ratusan orang turun ke jalan. Lalu untuk kali pertama, dia ditahan kepolisian. Dari protes tentang kebijakan pendidikan, Scholarism berkembang menjadi gerakan Umberella Movement menentang undang-undang ekstradisi, bahwa orang Hong Kong bisa diadili di Cina dan itu artinya peluang mendapatkan peradilan yang adil semakin tipis.

Perjuangan di jalanan itu penting, tapi strategi harus diperkuat dengan masuk dalam sistem. Damn sound so familiar hahaha. Lalu bersama tiga orang penggerak Umberella Movement, Joshua membentuk partai Demosisto, berjuang memasukkan Nathan sebagai calon legislatif dan sebagai partai anak muda, mereka berjuang lebih keras untuk kampanye. Nathan berhasil masuk dalam legislatif sebagai anggota legislatif termuda dalam sejarah Hong Kong di usianya yang baru 22 tahun. Joshua bilang “Beat them in their own game!” I will keep that in mind, Josh.

Perjuangan Umberella Movement dari protes damai berubah menjadi lebih keras dan radikal, why? Karena perjuangan damai mereka ternyata tak mampu menggerakkan pemerintah untuk berubah dan tidak didengar. Mereka sudah menitipkan satu orang di legislatif tapi kemudian didiskualifikasi karena Nathan menolak menghormati simbol-simbol Cina. Joshua, Nathan dan Alex kembali ditangkap, ditahan dan didakwa bersalah untuk Umberella Movement karena menentang pemerintahan yang sah.

Bagian paling menggetarkan buat saya adalah ketika Joshua Wong merefleksikan perjuangannya mempertanyakan idealismenya sendiri. Apakah dia begitu egois dalam berjuang sehingga membahayakan keluarga besar mereka? Apakah perjuangannya sejak usia 14 tahun berdampak? Dalam penjara, Joshua menerima ribuan surat dari seluruh dunia, dari anak-anak yang terinspirasi atas perjuangannya sampai orang tua yang merasa terpanggil untuk ikut berjuang bersama anak-anaknya. Membaca surat-surat itu membuat Joshua yakin dia telah ada di jalan yang benar.

Di saat rekan seusianya belajar di kampus dan setelah lulus bersiap untuk bekerja dan menerima slip gaji pertama mereka, Joshua menulis jurnalnya di dalam penjara. Tapi dia sangat percaya bahwa perjuangan membela demokrasi ini sangat penting, bukan hanya untuk dia saat ini, tapi pada 2045 ketika usianya 50 tahun, dia ingin anak-anaknya dan cucunya bangga pada perjuangannya. Dia telah berjuang, sekuat-kuatnya.

Di akhir bukunya, dia meminta anak-anak muda untuk tidak diam karena masa depan mereka sangat mudah diatur dan diputuskan orang dewasa tanpa mereka sadari. Bahwa perjuangannya di Hong Kong adalah perjuangan bersama dunia untuk menjaga demokrasi dan kemerdekaan anak-anak saat ini dan masa depannya.

Setelah menutup buku ini, saya kembali ke belakang, apa yang terjadi pada saya di usia 15 tahun? Yang saya ingat, saat itu saya dijewer mami dari sekolah sampai rumah karena ada satu nilai merah di rapor. Saya selalu juara kelas selama sekolah, angka merah adalah aib. Papi saya bilang “kawinkan saja kalau susah diatur dan malas sekolah. Buat apa orang tua investasi pada anak perempuan kalau yang diharapkan malah begitu.” Saya rasa saat itulah saya menjadi feminis, bahwa anak-anak perempuan punya hak untuk sekolah tinggi, bahkan saat melakukan satu kesalahan. Hey, everyone makes mistake right, tapi menikah di usia sangat muda semacam hukuman untuk masa depan yang lebih baik.

Kekuatan Masa Depan Adanya di Kamu. Partisipasi, Keterlibatan, Kolaborasi adalah Kunci Mengubah Politik. Review #newpower by Henry Timms dan Jeremy Heimans

Standar
Kekuatan Masa Depan Adanya di Kamu. Partisipasi, Keterlibatan, Kolaborasi adalah Kunci Mengubah Politik. Review #newpower by Henry Timms dan Jeremy Heimans

Dengan segala kelemahannya, saya masih percaya pada demokrasi yang menempatkan kekuasaan terbesarnya pada rakyat dan prinsip satu orang satu suara dan tidak ada yang ditinggalkan. Sialnya demokrasi yang berjalan menanggalkan prinsip dasar dan kekuasaan yang kemudian hanya ada pada segelintir orang dalam kelompok elit baik dalam politik, sosial maupun ekonomi. Sial betul!

Itu adalah bentuk kekuatan lama (Old Power) yang terstuktur, tersentralisasi dan dikelola top-down. Setelah pemilu, begitu jauh rakyat bisa mencampuri bagaimana negara ini berjalan. Rakyat hanya jadi domba yang digiring ke sana kemari dan penonton di sebuah konser politik. Jangan heran, jika kemudian tingkat partisipasi politik terus rendah dalam pemilu, tingkat kepercayaan publik terutama generasi muda pada institusi juga rendah termasuk pada media.

Karakter generasi muda yang hidupnya dikelilingi kemajuan teknologi informasi, digital, sudah berubah. Mereka ingin terlibat penuh dalam setiap proses kehidupan, politik, ekonomi dan sosial. Mereka berbagi, semua orang menjadi pintar, semua tahu, semua bisa. Mereka ingin diakui keberadaannya dan diapresiasi atas apa yang dilakukan, dihargai dirinya. Jiwa “founder” itu muncul di hampir setiap diri anak muda. Kamu tidak bisa membendungnya. Daripada melawan arus perubahan, kenapa tidak mencoba merangkul perubahan itu, merangkul jiwa-jiwa muda penuh gejolak dan kritis ini.

Buku #newpower ini memberikan perspektif lain dari sekedar eforia era digital dan pesimistis terhadap slacktivisme, aktivis pemalas. Buku yang dibuat oleh dua aktivis digital #GivingTuesday dan #GetUp! Ini buat saya keren banget. Keduanya meyakinkan gerakan di sosial media bisa membuat perubahan, bisa mengubah sebuah kebijakan, tapi ada syaratnya.

Gerakan digital itu harus mengikuti prinsip ACE – Actionable, Connected dan Extensible. Sebuah gerakan yang bisa membuat perubahan tidak seliat dan fleksible itu, tapi tetap harus punya struktur dalam arti jelas target sasaran dan value yang dibawa. Harus bisa dilaksanakan oleh siapa pun, terkoneksi dan dekat dengan partisipan. Struktur dalam gerakan digital itu seperti segitiga; pemilik platform atau penggagas gerakan, partisipan yaitu mereka yang tingkat partisipasinya lebih rendah dan super –partisipan, mereka yang sangat aktif berpartisipasi, baru kemudian ini bisa jalan.

Nah yang buku ini juga menjawab kritikan tentang “buble” yang jadi kelemahan gerakan digital. Menurut mereka, segitiga struktur movement itu harus nge-blend dan masuk dalam arena politik secara umum artinya tetap harus melibatkan media, NGOs yang terlibat dalam isu yang sama, institusi pemerintahan, publik secara umum dan akademisi. Segitiga itu menjadi sebuah lingkaran yang saling terkait untuk bisa mengubah sesuatu lebih nyata. Kita memang tidak bisa berteriak di gelembung yang sama untuk berubah, tapi tetap harus melibatkan pihak di luar gelembungnya.

Saya kasih contoh BTS yak, karena kebetulan sedang riset tentang mereka. Sekali pun anggota BTS tidak mau dibilang gerakannya politis, tapi dengan nilai yang dibawa, mereka bicara di media, dan di depan sidang PBB, tentu saja gerakan mereka politis. Partisipan mereka ARMY, superparticipant mereka salah satunya One in Army, ada juga Bangtan Scholars, dan di Indonesia, saya tergabung dalam Bintang Ungu, kami mengembangkan karakter di salah satu PAUD di Jakarta.

Akan sangat mudah platform digital yang dibangun dengan partisipasi massa bergeser ke arah old power, seperti Facebook dan Uber. Begitu investasi masuk dan tuntutan bisnis, gaya-gaya leadershipnya mulai top-down deh, dan melupakan super-partisipan dan sharing powernya. Selain dalam dunia bisnis, #newpower juga mengubah peta politik.

Barack Obama yang memulainya dengan mass participation movement, dengan Yes We Can, pada akhirnya kekuatannya bergeser di pemilihan keduanya. Pendukung yang tadinya relawan dijadikan sumber pemasukan lewat donasi. Donald Trump dimulai dengan membayar massa untuk kampanyenya, ketika “seolah-olah” didukung beneran dan dengan kalimat kontroversinya, malah jadi beneran memang.

Yang menarik adalah Podemos, yang dimulai dengan kemuakan akademisi di Spanyol terhadap kekuatan lama yang korup, mereka melakukan movement menolak pemerintahan. Dalam waktu dua bulan, gerakan ini menjadi partai politik, memunculkan satu tokoh, dan mampu menggerakkan massa turun ke lapangan dan dalam 2 tahun, mereka mendominasi kursi di parlemen. Macron juga dibahas dalam buku ini. Ketika politik bergeser menggunakan kekuatan baru dengan kekuatan partisipasi massa dan menjadi populer, yang perlu dijaga adalah sejauh mana mereka akan konsisten pada gerakannya dan merangkul massanya. Yang terjadi sebagian besar, massa kembali ditinggalkan.

Kekuatan baru masih sangat messy, berantakan dan perlu diperbaiki sana-sini. Bapak internet, Tim Berness Lee masih berjuang dengan proyek Solid nya untuk menjawab keresahan soal privacy. Solid akan membuat kita punya kontrol tentang data yang mau kita beri dan rahasiakan. Tetapi kekuatan baru membuat saya percaya, bahwa demokrasi itu masih bisa diperbaiki, partisipasi publik itu masih bisa dibangun. Infrastruktur digital memang masih sangat tidak adil, hanya sebagian yang bisa menikmatinya, tapi dari yang sebagian itu, tugas kita selanjutnya adalah menciptakan full-stack society. Sebuah masyarakat, komunitas, dan peradaban yang setiap orang di dalamnya berdaya, mampu mempraktikan kekuatan yang dimilikinya lewat jempol, paham pada apa yang dia lakukan dan punya keyakinan yang sama untuk melakukan perubahan ke arah lebih baik. Sound utopia? Semua juga dimulai dari mimpi kan.

Buku ini membuat saya ingat betapa bahayanya 3 tahun ke depan, ketika kekuatan lama bakal memanfaatkan “kekuatan baru” cuma untuk kepentingan politik menjelang 2024, setelah itu, lagu lama lagi. Jadi kita hanya punya waktu 3 tahun ini untuk belajar lebih kritis dan berdaya agar tak mudah diperdaya politik.