Amerika (Bukan Lagi) Tanah Impian. Ketidakadilan Sosial Dapat Dihindari, Jika Mau. Review #7 The Great Divide Joseph Stiglitz

Standar
Amerika (Bukan Lagi) Tanah Impian. Ketidakadilan Sosial Dapat Dihindari, Jika Mau. Review #7 The Great Divide Joseph Stiglitz

Jujur ketika memegang buku ini saya sudah dengan asumsi bahwa Stiglitz ini berpikiran kanan, kan dia pernah bekerja sebagai ketua ekonomnya World Bank. Kenapa saya beli? Karena membaca tak bisa hanya melulu mengukuhkan apa yang sudah jadi idealismenya kita, harus dong melihat dari banyak sisi, supaya pemahaman tentang satu hal bisa kumplit.

Anyway, ternyata Stiglitz berpikiran kiri. Lahir di sebuah kota industry membuatnya peka pada nasib buruh. Lalu Malcom X yang dia hadiri ceramah publiknya membuat dia belajar banyak tentang diskriminasi yang dialami orang kulit hitam dan masyarakat miskin. Stiglitz pikir ketika dia memilih kuliah di jurusan ekonomi, dia bisa memperbaiki situasi ternyata salah besar katanya. Dia dikeliling oleh orang-orang yang sangat percaya Pasar akan menyelesaikan kesenjangan sosial yang terjadi, Pasar akan membuka peluang yang sama bagi semua orang. Tidak saudara-saudara. Pasar tak bisa bergerak sendiri tanpa campur tangan pemerintah, dan kesenjangan sosial yang terjadi tidak melulu kesalahan hitungan ekonomi tapi lebih banyak didominasi oleh kesalahan pengambilan keputusan dan kepentingan politik.

Stiglitz hidup untuk melihat bagaimana Amerika yang tadinya menjadi tanah impian bagi banyak orang justru sedang menghancurkan dirinya sendiri dan masa depannya. Ketika resesi ekonomi 2008 terjadi, seperti juga Great Recession and Depression 1997 dan 1920an, yang dibantu pertama oleh Amerika yang kemudian menjadi contoh salah oleh banyak negara dunia lainnya adalah, menyelamatkan perbankan dan stimulus kepada pengusaha. Niatnya sih baik kalau perbankan diselamatkan artinya diberikan stimulus untuk memperbaiki ekonomi, kalau pengusaha dibantu dengan mengurangi pajak mereka, pengusaha akan kembali menginventasikannya pada perekonomian dalam negeri. Faktanya tidak. Stiglitz mengakui kesalahan yang diperbuat oleh World Bank, IMF dan Amerika yang suka memaksakan reformasi ekonomi dan membuat negara yang tadinya baik-baik saja malah perlahan mengalami kehancuran.

Saya kaget membaca 1 dari 12 orang di Amerika tidak dapat mengakses makanan, seperlima anak di sana hidup dalam kemiskinan. Anak muda terjebak hutang sekolah / kuliah hingga berpuluh tahun setelah mereka lulus, itu pun baru bisa dibayarkan kalau mereka punya pekerjaan. Sebagian besar tenaga kerja bekerja paruh waktu bukan karena pilihan, tapi terpaksa karena tak banyak lowongan pekerjaan tetap. Infrastruktur di Amerika tidak pernah diperbaiki dan ditambah (entah sejak kapan). Sementara anggaran kesehatan dan pendidikan dipotong, Amerika memberikan anggaran teramat besar pada militer untuk perang Irak-Iran, Irak Kuwait dan Afghanistan. Diskriminasi terus terjadi terhadap perempuan, dan orang dengan kulit berwarna. Di sisi lain 1 persen orang kaya atau elit di Amerika hanya membayar 15 persen dari penghasilannya kepada negara, dan menikmati 93 persen pemasukan antara tahun 2009-2010. Dengan situasi ini, Amerika adalah negara dengan kesenjangan sosial, dan inequality opportunities atau kesenjangan dalam kesempatan hidup terbesar di antara negara-negara maju dunia.

Stiglitz ngeri membayangkan apa yang akan terjadi dengan Amerika di masa depan. Perbaikan harus segera dilakukan terutama di sektor, infrastruktur, teknologi, pendidikan dan kesehatan. Anak-anak tidak boleh hidup dalam kemiskinan. Mereka tidak pernah bisa memilih orang tuanya yang miskin, karena itu negara harus hadir untuk membantu pemenuhan kebutuhan dasar anak-anak untuk pendidikan dan kesehatan. Orang tuanya yang terjebak dalam hutang cicilan rumah (housing buble 2008) harus diputihkan agar mereka bisa menyisihkan penghasilan untuk kesejahteraan keluarga. Model hutang pendidikan harus diputihkan agar tidak semakin menjerat anak-anak muda. Bagaimana mereka bisa berpikir kreatif dan meningkatkan potensinya jika harus memikirkan cicilan yang belum tentu sesuai dengan penghasilan. Sebagai gambaran saja, cicilan hutang pendidikan ini tidak serta merta hangus ketika si anak meninggal, orang tua harus meneruskannya hingga lunas. Menggairahkan kembali aktivitas asosiasi buruh yang dilemahkan sejak Reagan. Asosiasi inilah yang dapat membuat posisi tawar buruh terhadap perusahaan kuat. Yang di atas, 1 persen orang elit itu jangan lagi diberikan potongan pajak, mereka harus bayar pajak sesuai ketentuan, sesuai porsinya. Pajak itulah modal utama pemerintah untuk membangun infrastructure, berinvestasi dalam pendidikan dan riset, teknologi dan kesehatan. Stimulus paling tepat adalah membangkitkan kemampuan orang untuk melakukan demand terhadap sebuah produk ekonomi. Seseorang dengan income terbatas, tentu tidak berpikir untuk mengeluarkan melakukan transaksi pembelian, ekonomi akan macet. Teori dasar ini tetap berlaku dari zaman pertanian, industry bahkan di masa pelayanan service saat ini. Tidak ada demand, supply akan macet. Menciptakan demand adalah dengan memperbaiki situasi ekonomi yang ada.

Aset terbesar sebuah negara adalah manusia di dalamnya. Menghormati warga dengan pemenuhan hak-haknya akan menstimulus mereka untuk keluar dengan potensi terbaiknya dan itu modal perbaikan ekonomi. Ketidakadilan dalam ekonomi akan melahirkan ketidakstabilan politik di sebuah negara. Dan ini akan seperti lingkaran setan jika tidak diputus secepatnya. Keputusan itu ada di tangan pemerintah.

Oh ya Stiglitz bilang Growth atau pertumbuhan harus dimaknai bukan sekedar dari pertumbuhan ekonomi yang diwakili oleh GDP, tapi tentang pertumbuhan sosial, kesejahteraan masyarakat juga termasuk di dalamnya tentang lingkungan yang terjadi. Stiglitz yakin Growth tetap bisa dicapai secara berkelanjutan. Menjaga dan menyelamatkan lingkungan, manusi dan ekonomi bisa dilakukan bersamaan. Ini sangat berbeda dengan Hickle yang menggaungkan DeGrowth untuk memperbaiki lingkungan dan manusia di dalamnya.

425 halaman ini jika tanpa diganggu kerjaan sebenarnya selesai satu minggu saja hahaha. Bahasa yang digunakan sederhana dan insya Allah mudah dimengerti awam. Kata suami, iyalah harus begitu, dia kan ekonom, dia tahu kalau pakai Bahasa ajaib, bukunya ga akan laku J haish iya juga.

Iklan

Tim Avenger Jin. Review #6 Two Year Eight Months & Twenty-Eight Nights oleh Salman Rushdie

Standar
Tim Avenger Jin. Review #6 Two Year Eight Months & Twenty-Eight Nights oleh Salman Rushdie

Sebagai penonton setia serial Avenger dari Marvel – beneran tanpa sengaja ternyata saya menonton hampir seluruh film Marvel karena secara hiburan tanpa mikir, ini asik – maka buku ini sama menyenangkannya. Tapi ini Salman Rushdie, yang tetap dengan muatan pesan di dalamnya meski ditulis dengan sederhana dan komikal. Dibandingkan buku-buku Salman Rushdie lainnya, cerita ini paling mudah ditangkap. Masih dengan fantasi jin dan dunia atas – kalau dunia masih disebut sebagai dunia bawah, tentang kekuatan gelap dan terang dan mempertanyakan Tuhan.

Tuhan hadir ketika manusia berada dalam ketakutan tanpa jawaban atasnya. Apakah Tuhan itu beneran ada atau tidak, tergantung siapa dan darimana melihatnya. Bangsa Jin tak merasa diciptakan oleh Tuhan, dan kalau manusia percaya pada kekuatan yang tak masuk akal mereka, maka jin bisa menjadi Tuhan bagi mereka.

Adalah Dunia, jin perempuan yang kesemsem dengan pria bumi seorang filsafat yang terkenal Ibn-Rushd. Seorang Yahudi yang terpaksa menyembunyikan nama dan ke-Yahudiannya ketika Islam berkuasa di negerinya. Dunia mencintai Ibn-Rushd karena kepandaiannya tetapi dia tak pernah diakui sebagai isteri yang sah dan keturunan mereka tak mewarisi nama Ibn-Rushd. Keturunan mereka menyematkan nama Dunia menjadi kaum Duniazat dengan ciri tak memiliki lubang telinga. Sebagai keturunan jin, mereka yang terpilih memilki kekuatan. Inilah tim Avenger Duniazat, keturunan Dunia dan Ibn Rushd.

Dunia bukan jin perempuan biasa, dia adalah putri penguasa jin putih yang sepanjang hidupnya berusaha membuktikan diri kepada ayahnya bahwa anak perempuan setara dengan anak laki-laki. Ayah tak pernah menganggapnya ada, selalu menyesal karena tak punya anak laki-laki. Sampai di sini saya tertohok, sangat dekat dengan kisah sendiri dududu… Dunia sangat senang membaca, dan itu dianggap aneh karena dia perempuan. Ayahnya ingin punya anak laki-laki yang menguasai senjata dan strategi perang, maka Dunia mempelajari itu. Tapi itu tak cukup menyenangkan ayahnya, karena ayahnya tetap berharap punya anak laki-laki yang bisa diajak berburu bareng. Dunia belajar menguasai taktik berburu.

Sang ayah mati dibunuh Zumurud, pangeran dari kaum jin hitam yang bisa berubah menjadi monster menakutan dan membisikkan keburukan dan kejahatan kepada manusia. Zumurud ingin menguasai dunia jin hitam dan putih juga dunia bawah – bumi. Tak hanya dikuasai ambisi menjadi penguasa, Zumurud dilandasi kecemburuan karena Dunia memilih manusia bumi ketimbang bangsa Jin sebagai pasangannya. Zumurud dibantu tiga jin andalannya menakuti manusia dan berjanji untuk menghabisi kaum Duniazat.

Dunia, sebagai ibu mesti terpisah bergenerasi dari keturunan, tak rela keturunannya dihabisi Zumurud, dan dia dipenuhi dendam atas kematian sang ayah. Dunia turun ke bumi mengumpulkan keturunannya yang memiliki kekuatan petir seperti dirinya, menguasai grativitasi bumi alias bisa melayang-layang dan mengetahui dimana keberadaan seseorang yang tak terlihat mata.  Mereka berjuang bersama untuk mengalahkan kekuatan jahat dari jin hitam.

Begitu kirakira cerita yang disajikan oleh Salman dalam buku ini. Seperti marvel, tapi lebih berisi karena Salman mengisinya dengan keresahan betapa manusia tak lagi punya waktu untuk mencerna segala suatu yang diterima panca indera. Manusia menyukai hal yang serba instan, menuruti napsu binatangnya, serakah dan ingin menguasai sesuatu yang sifatnya materi. Sangat mudah bagi bangsa jin untuk mempengaruhi manusia seperti ini.

Buat saya, Salman Rushdie adalah pendongeng yang luar biasa. Saya bisa larut membaca tulisan-tulisannya, diajak menjelajah dunia yang baru. 286 halaman habis dalam empat hari, wohoo.

Buat Kesunyian, Kendalikan Kebisingan Hidup

Standar
Buat Kesunyian, Kendalikan Kebisingan Hidup

Ini masuk bulan ketiga telepon pintar saya bisu bahkan tak bergetar sama sekali dan saya justru menemukan ketenangan di sana. Saya tidak perlu merasa bersalah karena lamban memberikan respon ketika telepon bergetar yang bisanya ditujukan untuk pesan kepada saya pribadi dari grup WA atau dari WA. Mungkin karena saya bukan orang penting, sebagian besar pesan yang masuk pribadi itu memang tidak terlalu penting. Saya tidak perlu merasa bersalah karena tidak mengangkat telepon dari seseorang di sana – yang semakin jarang terjadi karena orang lebih senang berkirim pesan teks daripada bicara langsung.

Lawan bicara saya boleh tersinggung karena mungkin merasa tak dianggap penting oleh saya. Tetapi kawan, begitu saya membuka telepon dan melihat pesan, secepat itu pula saya akan membalas yang penting-penting itu. Saya bukan orang pelit, kalau sangat penting, saya lebih milih menelpon daripada berlama-lama mengetik dan menunggu balasan.

Ini adalah bagian saya mengendalikan kebisingan hidup. Saya yang kendalikan telepon itu, bukan sebaliknya. Saya yang menentukan mana yang lebih penting untuk dijawab dan tidak, bukan telepon itu. Coba deh tengok lagi WA Group, lebih banyak yang pentingnya atau sebaliknya? Lebih banyak diskusi ha ha ha hi hi hi daripada hal substantive. Sangat perlu buat menghibur diri, seringkali saya menikmati tapi berusaha untuk tidak nimbrung. Hanya WA Group dengan sahabat yang saya rajin ikut berkomentar, karena kami saling berjauhan dan saling merindu. Dari hampir belasan WA Group, hanya tiga yang saya aktif di dalamnya. Selebihnya? Ngabisin baterai aja sik, tapi selama tidak mengganggu hal pribadi, saya biarkan saja, demi jejaring.

Kemarin di hari Nyepi, saya sengaja mematikan data internet di telepon dan menghabiskan hari dengan membaca dan bekerja. Hasilnya adem beneran.

Bukan satu dua kali sebenarnya saya mematikan data internet. Toh waktu kerja di pedalaman, saya sangat menikmati kehilangan sinyal. Dua minggu kemudian baru membalas semua hal dari WA, email dan telepon. Tetapi ceritanya beda kalau ada di kota, begitu bisingnya dan besarnya gangguan untuk ikutan terlibat diskusi di sosial media, yang kadang ya ga penting-penting amat. Di musim politik ini semua ingin terlibat, dan terlihat “pandai,” ya ya ya… saya senyum aja… monggo silakan nikmati, mumpung musimnya berpesta yang katanya demokrasi.

Sosial media saya diusahakan hanya isi ngademi, dan kalau bisa melucu karena hari-hari ini orang tidak lagi bisa melucu tanpa nyinyir. Saya memilih jadi doer daripada talker, mengerjakan apa yang bisa dikerjakan di lapangan, bukan sekedar bicara-bicara. Kalau pun masih ada di sosial media, itu untuk mengabarkan hal baik, ada banyak kerja baik yang dilakukan orang baik di luar sana, bukan di sosial media. Dan ternyata membuat sunyi dan mengendalikan kebisingan itu sangat perlu, buat hidup adem.

Di telepon genggam saya yang paling penting adalah Spotify tetap hidup, yang lain bonus saja.

Belajar Mengapresiasi Orang Lain

Standar
Belajar Mengapresiasi Orang Lain

“Appreciation can make a day, even change a life. Your willingness to put it into words is all that is necessary.” —Margaret Cousins. Appreciation means to increase in value.

Orang Indonesia ini susah sekali mengapreasi kawan, rekan kerja apalagi yang tidak berhubungan dekat, seperti pejabat. “Untuk apa mengapresiasi dia, lah emang dia dibayar untuk itu,” begitu kira-kira jawaban seorang kawan. Padahal sedikit saja apreasi dengan ucapan “good job sis,” “welldone,” “wah keren,” atau langsung dengan ucapan “terima kasih yaa, kerja yang keren,” sambil nepuk bahu atau salaman, akan sangat berarti loh bagi si penerima. Buat saya pribadi, diapreasiasi hasil kerja dan prosesnya itu jauh lebih berarti dari sekedar nilai rupiah.

Karena kita hidup di lingkungan yang tidak apreasiatif, kadang kita jadi jengah sendiri kalau tiba-tiba menerima ucapan baik, bukannya bilang terima kasih, kita malah membalas dengan “waah tumben muji, minta goceng? Atau traktiran?” kita cenderung menjadi buruk sangka, bahwa orang muji ada maunya, orang apreasiatif justru malah akan menambah kerjaan buat kita.

Tapi jangan berhenti untuk mengapreasiasi orang atas pekerjaan dan usahanya, bukan sekedar hasil, tapi juga proses yang mungkin dia lalui dengan susah payah. Berapa banyak kita kehilangan kawan kerja dan sahabat karena kita less-apresiatif padanya? Refleksi sendiri aja. Dan saya percaya karma, apa yang kau tebar itu yang kau tuai. Kalau selalu berkata positif, mengapreasi orang, suatu saat akan datang pada kita orang yang membangkitkan semangat. Seperti kemarin, pekerjaan yang pernah saya lakukan hampir dua tahun silam, ternyata diapreasiasi seseorang lewat tulisannya. Mengharu biru. Saya tidak menyangka hal kecil itu bisa sangat berkesan buat seseorang. Saya melakukan yang sama, insya Allah tetap menghargai dan mengapresiasi kerja orang lain, sahabat dan rekan saya.

Di tahun politik, apresiasi semakin terkikis, kalah dengan harga politik. Mereka yang memang sudah kerja dengan baik, kurang diapresiasi karena berdiri berlawanan pilihan politik. Geez broh, sis, jijik tahu ga sik. Apapun pilihan politiknya, ya sudah sik, kalau dia sudah bekerja baik, akui saja, apresiasi lah. Apakah terlalu berat untukmu menerima kenyataan orang bekerja lebih baik darimu?

Cerita Para Perampok Hak Rakyat. Review #5 The Panama Papers oleh Bastian Obermayer dan Frederik Obermaier

Standar
Cerita Para Perampok Hak Rakyat. Review #5 The Panama Papers oleh Bastian Obermayer dan Frederik Obermaier

Selama membaca buku ini, saya diingatkan kawan bahwa honor akan dikenakan pajak, jangan lupa juga untuk laporan pajak akhir Maret ini. Lalu di ATM, saldo tinggal 163ribu semalam. Seberapa pun keras bekerja, selalu terasa kurang. Tapi sebagai orang yang insya Allah beragama, saya cuma bisa bilang, Alhamdulillah, mungkin memang segini dicukupkannya.

Sementara itu…. Buku Panama Papers ini mengungkapkan betapa jahatnya orang-orang yang berada di tataran elit, para penguasa, pengusaha dan mereka sama biadabnya dengan teroris, bandar narkoba, pembunuh bayaran, penjual senjata perang, dan perampok barang seni yang ada di dunia. Mereka menyembunyikan harta yang seharusnya kena pajak di negaranya masing-masing, kleptocrats, para birokrat yang merampok kekayaan negerinya lalu disembunyikan di luar negeri dengan nama samaran. Dalam 11.5 juta dokumen yang dibocorkan dari Mossack Forsesca, ada ratusan nama pejabat dan kroninya dari timur tengah, negara yang tak pernah sepi dari perang, menyimpan kekayaan sementara rakyatnya berbondong-bondong mengungsi dan makan dari belas kasih orang lain. Assad dari Syiria, dengan saudara-saudaranya memiliki harta berlimpah yang ditanam di perusahaan asing dengan nama berbeda.

Saya tidak mengulas satu-satu kasus yang dijelaskan di buku ini, kamu baca sendiri. Tapi bagaimana buku ini bikin saya semakin mual dengan system yang korup, sosialis pada elit dan penguasa, sementara sama rakyatnya perhitungan sekali. Catatan si pembocor dokumen dengan nama Jhon Doe, selama politik masih mengemis pada pengusaha kotor, selama itu pula system pemerintahan apa pun akan berjalan dengan korup. Tidak ada pengusaha yang berinvestasi gratis pada politik. Tak heran kalau pun insentif pajak sudah diberikan, mereka masih juga bawa kabur apa yang seharusnya diserahkan kembali pada rakyat. Mual!

Mau apa pun system pemerintahannya, mulai yang demokratis seperti Islandia, sosialis seperti Rusia, bahkan komunis ala Cina, nama-nama penguasa mereka tersangkut dalam Panama Papers karena systemnya sudah korup, manusianya serakah.

Ini adalah dokumen yang dibocorkan kepada jurnalis, terbesar dalam sejarah jurnalisme dunia, setelah wikileaks dan snowden. Melibatkan lebih dari 400 jurnalis dari 80 negara yang mempertaruhkan nyawa mereka ketika ikut menerbitkan berita investigasi nama-nama yang disebut dalam Panama Papers. Pemerintahan dunia kelabakan menanggapi ini, padahal segala aturan tentang pencucian uang, penuntasan terorisme, sebutkan saja, semuanya sudah ada. Tapi selama ada perusahaan biadab seperti Mossack Forseca, didukung PR dan para pengacara busuk, mereka akan terus mendukung perbuatan jahat berkedok investasi. Tapi di era teknologi 4.0. tak ada yang bisa disembunyikan, akan selalu ada data yang bocor di dunia maya. There is no place to hide. Kita akan terus menyaksikan kejahatan-kejahatan finansial yang terbongkar. Masih akan ada orang-orang seperti Snowden, dan John Doe. Dalam kata penutupnya John Doe bilang, ”we live in a time of inexpensive, limitless digital storage and fast internet connection that transcend national boundaries. It doesn’t take much to connect the dots: from start to finish, inception to global media distribution, the next revolution will be digitized. Or perhaps it has already begun.”

Lalu saya kembali menyiapkan arsip potongan pajak, saya tahu kewajiban sebagai warga negara, bukan maling seperti mereka.

Menjadi freelancer, tanpa dukungan keluarga adalah kemustahilan

Standar

Ini bulan ketujuh saya menjadi pekerja lepas atau freelancer. Setiap orang punya alasan berbeda kenapa memilih jalan yang kadang terasa sunyi dan sepi, karena apa-apa harus diputuskan sendiri. Buat saya yang ekstrovert dan terbiasa berdiskusi dengan kawan, ini berat kadang terasa. Tapi bagaimana lagi, keputusan sudah diambil. Saya menjadi pekerja lepas karena alasan kesehatan, obat yang harus saya konsumsi membuat mood saya naik turun dan kesehatan sudah pasti menurun juga. Jadilah pekerjaan lepas dipilih, juga untuk lebih dekat dengan suami dan keluarga.

Tapi menjadi pekerja lepas sekali tak mudah. Tidak semudah kita bilang, okay lah, besok gue mau berhenti dari rutinitas dan kembali menjadi diri sendiri, memilih pekerjaan yang gue suka. Tak semudah itu Ferguso. Kecuali kamu hidup sendirian dan hanya untukmu sendirian.

Saya adalah tulang punggung keluarga. Menjadi freelancer butuh dukungan tidak Cuma dari suami tapi dari ibu dan adik-adik saya. Sayangnya itu ternyata tak tuntas dibicarakan terutama dengan keluarga besar dari pihak saya. Walhasil, kelojotan juga cuy.

*Tarik napas

Sampai hari ini saya tidak menyesali keputusan menjadi pekerja lepas, karena memang “harus” dan perlu, setelah bertahun-tahun menjalani kerja rutin. Saya senang karena menjadi dekat dengan suami, yang fully support untuk apa pun yang saya kerjakan. Tapi ternyata untuk keluarga besar, itu tidak. Seperti tertuduh sebagai orang egois yang tidak lagi memerhatikan keluarga, begitulah yang saya rasa saat ini. “Keluarga tidak makan idealism,” “Lulusan S2 luar negeri, blangsak hidupnya”

Itu tidak disampaikan, tapi tahu itu yang ditujukan pada saya.

Jadi kalau cita-citamu menjadi pekerja lepas, pikirkan kembali. Kalau hidupmu hanya untuk diri sendiri, nikmatilah bebasmu. Tapi kalau ada tanggungan, bebasmu akan terikat kerinduan pada order. Freelance yang full-time, pekerja lepas yang bekerja rodi.

Pastikan semua lingkaran pendukungmu mendukung keputusanmu untuk jadi pekerja lepas dan bersedia mengubah hidup sederhana mengikuti pemasukanmu yang kadang naik, kadang turun. Jika tidak … *Tarik napas…

Memahami dan Bagaimana Berhadapan Dengan Kekuasaan Ala Chomsky. Understanding Power: The Indispensable Chomsky. Review #4

Standar
Memahami dan Bagaimana Berhadapan Dengan Kekuasaan Ala Chomsky. Understanding Power: The Indispensable Chomsky. Review #4

Chomsky pemikir yang luar biasa. Latar belakangnya ilmu bahasa atau Linguistik, tapi wawasannya melampaui itu semua, politik, media, ekonomi politik, semua dipahami dan disampaikannya dalam bahasa yang sederhana. Kekuatan Chomsky menjelaskan perihal tentang kekuasaan disampaikannya dalam bentuk contoh peristiwa yang dianalisa. Tapi dalam buku ini pula, Chomsky bilang “jangan pernah percaya penuh pada siapa pun dan apapun, bahkan saya. Kamu harus bisa menerima informasi dengan skeptis, teruslah bertanya dan bertanya. Apakah saya bisa percaya kamu? Darimana kamu mendapatkan informasi itu? Akuratkah?”

Semua pertanyaan dan diskusi, seminar, kuliah umum dan wawancara sepanjang tahun 1989-1999 yang kemudian ditranskrip, dikumpulkan dan diedit oleh Peter R. Mitchell dan John Schoeffell. Keduanya adalah pembela umum yang bekerja di New York, Amerika Serikat.

Yes, opa Chomsky, begitu panggilan sayang saya pada orang keren ini, memberikan pandangannya dari sudut kehidupan politik di Amerika Serikat. Seperti Chomsky pesankan, saya memang hanya mengambil contoh yang relevan dan dekat dengan Indonesia, misalnya pandangan Chomsky pada kasus invasi dan pembunuhan massal oleh tentara Indonesia terhadap orang Timor Timur,1975. Tak ada satu pun media di Amerika Serikat yang memberitakan tentang ini, tak ada. Dan bagaimana media Amerika mempengaruhi media dunia, maka begitulah yang terjadi, berita tentang ini tak ada, sampai ketika Aditjondro mempublikasi penelitian selama 20 tahunnya tentang peristiwa ini. Amerika baru bersikap. Yang terjadi adalah tentang keterlibatan Amerika Serikat dalam pemerintahan Indonesia di masa orde baru, betapa Indonesia begitu takluk pada perintah Amerika Serikat. Chomsky bahkan mengatakan “we can almost told me to do anything we like” wuiiih…. Apakah itu masih berlaku pada pemerintahan pasca orde baru? Hmm….

Dalam menjawab bagaimana media membentuk demokrasi, Chomsky kembali mengingatkan lima filter ketika media memberitakan sebuah berita (pembaca bisa menengok pada Review #3). Media itu pabrik yang membentuk bagaimana kita “sepakat” pada satu isu. Mereka yang berkepentingan seperti pemerintah mengguyur informasi di kepala kita melalui media dengan banyak kutipan, rilis, untuk membuat kita percaya bahwa yang mereka lakukan adalah “benar”. Apalagi yang dibutuhkan dalam sebuah system pemerintahan, kecuali masyarakat yang patuh.

Lalu bagaimana kita sebagai individu bersikap? Chomsky menggarisbawahi bahwa setiap kita, individu adalah makhluk yang harus mampu berpikir dengan caranya sendiri. Pendidikan harusnya melibatkan siswanya untuk berpikir dengan caranya sendiri, berpikir kritis. Tugasnya pendidikan adalah menawarkan bahan bacaan tanpa harus bersikap bahwa inilah yang terbaik. Biarkan siswa mencernanya sendiri. Begitu juga dengan orang dewasa. Baca, baca sebanyak mungkin. Bukan tentang buku apa yang kalian baca, kata Chomsky, tapi bagaimana kalian membacanya. Bacalah dengan sikap skeptic. Jangan mudah percaya. Biasakan kritis.

Tentang aktivisme sesuatu yang menurut saya menarik. Chomsky bilang, aktivisme bukan sekedar membangun kesadaran, bukan tentang penyadartahuan terhadap suatu isu. Tapi bagaimana bisa melakukan sesuatu perubahan yang nyata. Penyadartahuan bukan hanya dengan menyodorkan banyak materi, tapi sebuah pengalaman akan mengasah lebih tajam pengetahuan orang. Termasuk juga tentang kekuasaan. Tak perlu membaca buku tentang politik dan kekuasan, cobalah terjun, berhadapan langsung dengan sebuah masalah yang melibatkan para penguasa, kamu akan tahu, paham dan bisa bereaksi. Untuk melakukan sebuah perubahan, kamu harus melintasi batasmu … “Push yourself to the limit, then you will find your own limit and why it becomes your limit and how to handle it,” begitu pesannya.

Ada orang-orang yang memilih untuk tetap berada di zona nyamannya meski hati kecilnya sadar ada sesuatu yang salah dan perlu diperbaiki. Chomsky bilang, biarkan saja. Mereka mungkin memilih beraksi dalam bentuk berbeda misalnya dengan memberikan dana pada sebuah pergerakan aktivis, itu juga sebagai sebuah aksi yang baik.

“Anda punya dua pilihan. Satu berasusmsi yang terburuk, dan lalu anda bisa jamin itu bakal kejadian. Kedua, asumsikan ada sebuah harapan untuk perubahan, yang mungkin bisa terjadi kalau anda membantu mewujudkan harapan untuk perubahan itu. Berikan pilihan ini pada orang baik yang masih bingung mau melakukan aktivisme seperti apa.” Kata Chomsky soal aktivisme.

Tapi yang terjadi di lapangan aktivis bergerak sendiri-sendiri, apakah ini akan melakukan perubahan sistemik? Kata Chomsky, meski kecil, iya! Untuk membuat sebuah perubahan yang lebih besar, perlu sebuah momentum politik. Perlu orang-orang yang ditunjuk bersama sebagai “tokoh” yang menggerakkan massa lebih besar, karena itulah muncul Malcom X salah satunya. Dia bukan tokoh yang bergerak sendirian, ada tim di belakang layar yang sering sekali tidak pernah tercatat dalam sejarah. Dan terpenting dalam melakukan sebuah perubahan, mengerti kekuasaan itu ada di mana? Tidak cukup dengan berteriak di jalanan, tapi harus ada tim khusus yang melobi mereka pemegang kekuasaan, seperti anggota parlemen, media, bahkan pejabat. Memang tidak mudah, tapi pelajari dimana letak kekuasaan itu berada.

Chomsky juga ditanya, lantas anda ini dosen, peneliti atau aktivis? Chomsky bilang, semuanya saling bertalian. Dia merasa sebagai aktivis melalui penelitiaannya. Seorang akademisi tidak boleh menghabiskan hidupnya berhadapan dengan riset saja tanpa pergi ke lapangan, berbicara dengan banyak orang, dan melakukan aktivisme.

Kira-kira begitulah yang disampaikan Chomsky di dalam buku yang lumayan tebal ini. Ada banyak cerita menarik bagaimana Amerika ada di belakang pemerintahan Amerika Selatan, Rusia, Palestina – Israel dan juga perang Timur Tengah hingga perang tariff dagang.

Chomsky berulang kali mengatakan, kekuasaan itu ada untuk kepentingan elit, siapa itu? Mereka yang menguasai ekonomi, membuat ekonomi sebagai isu yang lebih penting dari apapun, termasuk Hak Asasi Manusia. Untuk melihat bagaimana keberpihakan penguasa pada pengusaha, rajin-rajinlah membaca lembar ekonomi dan bisnis di koran atau menyimak di televise. Membosankan! Sengaja, kata Chomsky. Begitulah Bahasa kekuasaan dibuat agar rakyatnya tetap bodoh.

Haiya jangan bodoh, yuk rajin baca… dengan skeptis.