Menormalisasi Kalimat bahwa Hidup Perlu Batasan. Review Limit oleh Giorgos Kallis

Standar
Menormalisasi Kalimat bahwa Hidup Perlu Batasan. Review Limit oleh Giorgos Kallis

Buku ini membahas letak kesalahan teori Malthus yang menyatakan pertumbuhan populasi berlangsung secara exponensial sangat cepat sementara pertumbuhan sumber pangan mengikuti angka aritmatika. Kesimpulan Malthus adalah persediaan pangan tidak akan pernah cukup bagi semua mulut di muka bumi.

Kallis bilang, cukup! Jika secara kolektif manusia membatasi diri untuk hidup secukupnya, tidak berlebihan dan tidak mengikuti napsunya. Keinginan tanpa batas itu adalah jargonya kapitalisme yang berusaha sebesar-besarnya mendapatkan keuntungan dengan segala cara termasuk menghancurkan lingkungan. Lalu kapitalisme hanya dapat dinikmati oleh sebagian manusia, ketidaksetaraan terjadi, ketidakadilan dan kekerasan atas nama kebutuhan tanpa batas itu terjadi.

Kembali dulu kita ke Malthus.

Kallis menceritakan kepada para ekonom dan juga aktivis lingkungan salah mengartikan Malthus. Menurut Malthus napsu seks tidak dapat dikendalikan karena itulah jumlah penduduk akan terus bertambah. Saya juga baru tahu setelah membaca buku ini bahwa Malthus itu adalah pendeta yang menolak alat KB tentu saja dia tak percaya populasi dapat ditekan. Seiring dengan waktu, semakin banyak pilihan alat KB dan secara sadar laki-laki dan perempuan tidak berkeinginan untuk memiliki anak.

Tetapi kan kenyataannya meskipun populasi dapat ditekan, toh kebutuhan dasar tidak secara rata bisa dirasakan oleh semua penduduk. Bahkan ketika teknologi hijau dianggap bisa menyelesaikan masalah lingkungan, tidak semudah itu di lapangan. Orang memang meninggalkan kendaraan pribadinya, tapi bukan beralih pada transportasi umum melainkan pada ojol dan taksol. Ketika aktivis lingkungan berubah menjadi tukang ramal yang memprediksi bakal kiamat karena perusakan lingkungan yang massif, para elit konglomerat berlomba-lomba investasi pada teknologi yang bisa membawa mereka keluar dari bumi, daripada memperbaikinya.

Kallis mengingatkan betapa sains juga tidak pernah netral. Target NDC 30% pada 2030 dan Zero Emission 2050 adalah political, hasil negosiasi politik. Membacanya menjadi sampai batas mana mereka bisa merusak bumi. Seolah-olah jika masih diambang toleransi mereka bisa terus mencemari bumi, melakukan semaunya. Padahal yang perlu diubah adalah perspektif tentang batas itu. Kalau kita mau sumber air tetap bersih dan layak pakai, maka Jangan Mencemarinya! Bukan pada pertanyaan, sampai mana bisa aku cemari. Sampai sini paham ya.

Sepanjang 129 halaman, buku ini menceritakan tentang limit, atau batasan dan bagaimana kita sebaiknya memberikan batasan terhadap apa dalam hidup. Yang membatasi kemerdekaan kita adalah kemerdekaan orang lain, yang membatasi keinginan kita adalah keinginan orang lain. Seharusnya kata dia, pembatasan itu bukan datang dari luar yang memiliki banyak kepentingan, bukan tentang NDC bukan tentang batas toleransi pencemaran atau udara bersih. Juga bukan bumi yang harus diselamatkan, tapi kita, manusia yang ada di dalamnya yang harus menyelamatkan diri dan masa depan manusia. Mengutip Mahatma Ghandi, hiduplah sederhana, agar orang lain bisa sekedar hidup. Live simply so others can simply live.

Membatasi pertumbuhan ekonomi salah satu di antaranya, agar ekonomi tak melulu dihitung dengan GDP tanpa batas atas dan sampai kapan. Batasan itu kita, secara kolektif bisa membuatnya. Meski agak absurd menurut saya, tapi ide Kallis perlu dipertimbangkan. Oh satu lagi yang membuat saya tertawa, justru kita harus bisa membuat batasan buat napsu di dalam diri karena kita diberi otak untuk berpikir dan mengendalikannya.

Karena batasan yang disebut Kallis sifatnya sangat subyektif lalu mengembangkan menjadi kolektif, ini yang sulit dibayangkan. Bagaimana membangun kesadaran besama atas batasan dan terhadap apa, itu juga bagian dari negosiasi politik yang tidak mungkin memuaskan semua pihak.

Di buku lain, In Defense of DeGrowth, Kallis akan menjelaskan lebih detail kenapa kita mesti membuat batasan dalam pertumbuhan ekonomi, bukan hal yang mustahil kata dia.

Painting Me and BTS. Happy Birthday V

Standar
Painting Me and BTS. Happy Birthday V

V birthday was yesterday, and like I promise myself; I would write something my personal experience as BTS ARMY. This year marking my first year as ARMY and they have change me a lot, “to be a better person,” like V line on Snow Flower. And today it is for V.

The very first member that caught myself is V, because my niece biased was V. She showed me lots of V picture and all I know was him (sorry Jin). On V’s last year birthday, I wanted to surprise my niece so I contribute to two V’s birthday project upon her name. One of them is still running, the playground Bintang Ungu V for unfortunate children in a slum area in Jakarta. We are aiming to have 7 in near future.

V and I not have much in common, except we both love classic jazz. He plays sax, I only enjoy it. Yesterday I was playing Jazz all day to celebrate his. V loves art, while I only recently reactivate my fingers again in paintings. Although I love to sketch, drawing as part of my healing moment, I don’t know much about painting and painter. V is so absurd, unpredictable kind of person and he does things whatever he pleases. Well, I slightly kind of that person too. When you live in the rule of algorithm, you do want to be random, and absurd as much as you can so the machine less likely to be sotoy – kepo – and predict your life. For example, a little thing I do is going to a bookshop and buy a hardcopy book without even mention it on the net.

Okay back to painting. Right, I do paintings a lot these days since less work and people are having vacations. I have times to just wandering around BTS songs and dive to their lyrics. Start with Jin’s songs, then it continues to other songs. So far, I have 9 paintings inspired by members and their songs and sketch their faces. This is a new experience for me. As a writer, I got trance of words all over my head and annoying my days until I write them down. It is also happened to me in painting. Pictures in my head, I become trance, possessed and not able to do anything right until I draw them. So weird.

Like V, I enjoy paintings just I am. So, when someone contact me to buy one, I was like panicking. I don’t want to monetize everything that I do for fun. Because once I took money for my paintings, I will be worry whether my next painting is good enough for anyone to see, to like and to buy. I want to be like V, I love colors and put stories in paintings instead of words like I used to. Not that I abandon my writing, but I want to explore my paintings these days.

Thank you, V, for inspiring me how to enjoy life through paintings and colors and be an absurd one is awesome. Someone once said “Nita you are so absurd!” and I used to take that word hardly, but now, I am happy when someone says that to me. You know what, I am absurd!

If you see this post V, these are my paintings and each painting tells a different story or stories inspired by BTS and BTS Members.

my room my gallery
Super Tuna Jin in the plastic ocean

Happy birthday V, have a pleasant, blast birthday and live life happily always!

10 Buku Terbaik 2021 Untuk Rekomendasi Bacaanmu di 2022

Standar

Hola, kita tiba lagi di akhir tahun.

Seperti tahun sebelumnya, saya akan kasih berikan 10 buku terbaik 2021 yang saya baca dan review di blog ini. Kamu cari sendiri aja lah ya linknya. Tahun ini agak berbeda dengan sebelumnya, karena fokus perhatian juga berubah. Tahun ini lebih banyak buku tentang Korea, Korea Selatan tepatnya dan Asia in general. Mungkin saya mulai merasa ada ketidakadilan dalam literasi dan narasi. Selama ini saya dicekoki banyak perspektif barat, global north dan kalau dibaca dan dipikirkan ulang justru mau nunjukin ketimpangan yang terjadi antara barat dan timur. Suara timur, suara global south tak banyak didengar, paling tidak oleh saya. Wei? Kenapa bisa begitu.

Saya rasa buku the Future is Asian – Parag Khanna itu titik balik perhatian saya, ditambah terjerumus bahagia dalam lubang kelincinya BTS. Saya merasa tahu sangat sedikit sekali tentang rumah saya sendiri, Asia. Sejarah adalah milik mereka yang menang, dominasi narasi selama ini memang dikuasai pemikiran barat. Saya beralih sebelum menjadi pembaca yang hanya paham satu perspektif, sebelum terlambat dengan kacamata kuda, iiihhiii

Sepanjang tahun ini ada banyak buku yang dibaca, sebagian tidak selesai karena tiba-tiba membosankan. Padahal saya ini adalah pembaca yang sabar – terbukti betah membaca novel novelnya Orhan Pamuk yang lamban itu. Nah kalau ada buku yang akhirnya saya tinggalin, kemungkinan membosankan atau saya ga nyampe otaknya, atau lost in translation.

Okay, inilah 10 buku terbaik yang saya baca tahun ini:

Kita mulai dengan fiksi, biar otak lebih kendur:

  1. I am a Cat – Soseki Natsume. Cerita yang penuh sarkasme terhadap budaya barat yang “dipaksakan” untuk diterima di masa modern Jepang pada era Meiji. Naratornya adalah seekor kucing gembil yang lucu. Ini buku klasik banget dan wajib dibaca. Apakah mengikuti budaya barat artinya kita jadi manusia modern?
  2. The Nine Cloud Dream – Kim Man-Jung. Kita dibawa di masa abad ke17, cerita tentang temptation, nafsu manusia ketika diberikan sebuah kehidupan ideal. Yang paling menarik adalah cerita dibalik menyusunan cerita ini ketika dimasa itu, cendikia tak bisa menulis cerita karena statusnya bakal turun di mata publik. Butuh dua abad berikutnya untuk mengkonfirmasi buku ini ditulis oleh Kim Man Jung, leluhurnya Kim Seokjin ceunah.
  3. Pachinko – Min Jin Lee. Kita dibawa ke masa pendudukan Jepang di Korea ketika kedua Korea masih satu dan belum dipecah oleh kepentingan barat. Cerita tentang satu keluarga tiga generasi Korea yang terpecah karena kemiskinan dan perjuangan mereka untuk menjaga keutuhan keluarga selama 100 tahun. Ini ajaib sih, ceritanya panjang tapi bisa bikin betah menyelesaikan buku 600an halaman.
  4. Before the Coffee Gets Cold – Toshikazu Kawaguchi. Cerita tentang kafe yang bisa menawarkan kesempatan untuk kembali ke masa lalu atau masa depan untuk menyampaikan pesan atau menyelesaikan masalah dalam hidup. Kamu harus kembali sebelum kopinya jadi dingin. Setiap bab mencairkan kantung air mata saya.

Non fiksi – sebagian besar sebenarnya terkait sama rencana studi saya, tapi tetap relevan buat kamu baca juga:

  • Change – Damon Centola. Buku ini menampar digital marketing strategist dan para pemuja media sosial dalam melakukan perubahan dan pemasaran produk. Dalam kesimpulannya Centola bilang ada tujuh faktor agar perubahan sosial itu bisa dilakukan dan media sosial itu cuma supporting tools aja. Sebagai makhluk sosial, rekomendasi dari lingkaran terdekat jauh lebih powerful daripada media sosial.
  • New Power – Henry Timms & Jeremy Hemans. Ini kebalikan dari Change. Tentu saja media sosial sangat powerful untuk membawa perubahan seperti gerakan Me Too dan Occupy Wall Street. Timms dan Hemans menjelaskan model koordinasi dan struktur organisasi di era digital yang organic dan loose.
  • Free Speech – Joshua Wong. Ini riil contoh bagaimana media sosial bisa digunakan dalam gerakan umbrella movement di Hongkong yang berlangsung selama beberapa tahun dan dimulai oleh anak berusia 14 tahun. Yang menarik dari cerita Wong adalah keresahan principal dari generasi Z dan Millenial tentang masa depan mereka. Bukan generasi kalengkaleng yang menerima pasrah, ini adalah generasi yang kritis.
  • Politics for The Love of Fandom – Hinck. Fandom yang seringkali distigma sebagai kelompok hura-hura, hedon dengan tingkat konsumerisme yang tinggi, di buku ini lebih melihatnya sebagai kelompok yang mampu membawa perubahan. Ada nilai-nilai yang dibagi, dipercaya oleh anggotanya dan menggerakkan mereka melakukan kebaikan.
  • LikeWar – Singer and Brooking. Dua penulisnya kebetulan IT savvy dan ahli strategis pertahanan yang melihat media sosial sebagai sebuah medan perang, antara cari perhatian, membentuk opini publik sampai menggerakkan aksi. Pada level tertinggi media sosial yang sudah dipersenjatai kepentingan mampu mengubah geopolitik dunia.
  • Consequences of Capitalism – Chomsky and Waterstone. Buku ini mengarahkan saya pada buku lain dan mempelajari apa yang dimaksud dengan Common Sense dan Common Consent. Dua wacana yang seolah menganggap wajar ketika Kapitalisme menguasai dunia bahkan jika berdampak pada kesenjangan di publik dan kerusakan alam.

Selamat berburu buku bagus ini di tahun depan. Semoga 2022 bisa lebih banyak buku keren yang dibaca. Tidak ada kata terlalu banyak membaca, karena pengetahuan itu tak terbatas, yang membatasi adalah isi kantong eeeaaa. Anyhow, baca lah sebanyak banyaknya agar tak mudah terjebak pada kebohongan orang lain, tak mudah dimanipulasi kepentingan tertentu. Tetaplah kritis ya. Chomsky bilang “read everything, read skeptically.”

Tetap Pelihara Ragu di Masa Perang Cari Perhatian Ini. Review LikeWar – P.W Singer dan Emerson T. Brooking

Standar
Tetap Pelihara Ragu di Masa Perang Cari Perhatian Ini. Review LikeWar – P.W Singer dan Emerson T. Brooking

Sebelum mulai saya harus cerita sedikit tentang review buku yang terlambat beberapa hari ini. Lesson Learned adalah begitu selesai harus segera ditulis biar nggak lupa dan keburu malas. Inilah yang terjadi dengan LikeWar ini. Saya struggling menemukan judul yang paling pas buat menggambarkan buku yang menarik ini.

LikeWar, menulisnya disambung oleh duo penulisnya. Seperti sebuah perang itulah yang ingin disampaikan oleh buku ini, tentang bagaimana media sosial dipersenjatai yang bukan hanya menyebabkan perang di dunia maya tapi juga terjadi di dunia nyata. Setelah lebih dari satu decade kehadiran media sosial yang semula ditujukan untuk menjaga relasi antar keluarga, kerabat berubah jadi medan perang opini yang menggerakkan aksi di dunia nyata dan mengubah geopolitik dunia. Sudah banyak kasus kekerasan yang terjadi dipicu oleh berita bohong yang ada di media sosial, apakah ini baru? Siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana bisa dihindari?

Rusia dengan Rusia Todaynya dibuat untuk meng-counter setiap berita buruk tentang Rusia, menyajikan sisi baik dari negara ini. Perang dingin sepertinya tak lagi usai, dia hanya berganti rupa. Perang opini berpindah di dunia digital, mulai dari spionase Rusia di pemilu Amerika masa Trump vs Hilary sampai ketika pesawat MH51 Malaysia hilang di langit Ukraina.  

Lalu ISIS memanfaatkan media sosial untuk merekrut dan membangun jaringan di seluruh dunia. Sampai hari ini tak ada intelejen dunia yang dapat memahami seberapa besar kekuatan mereka sebenarnya di dunia nyata.

Ketika setiap orang punya kekuatan media sosial di jarinya, tak cuma hanya menyebarkan kebaikan tapi juga mengacaukan dan memperburuk situasi. Saat serangan terjadi misalnya, lalu individu menyampaikan dan melaporkan dalam live tweet dilengkapi lokasi kejadian dan akhirnya dibaca oleh musuh.

Arab springs 2011 dimulai di Mesir dan menyebar ke jazirah arab lalu tetapi kemenangan yang didapat dari media sosial itu tak mampu bertahan lama. Ketika penguasa, pemerintah menggunakan senjata yang sama yaitu media sosial dan mengendalikannya secara penuh, authoritarian government kembali seperti Cina.

Amerika Serikat “terjebak” pada Amandamen Pertama mereka tentang penghormatan terhadap kebebasan berpendapat, kebebasan media dan petisi kepada pemerintah, dan tidak boleh ada undang-undang yang menghalanginya. Alhasil, Amerika hingga hari ini tak bisa berkutik untuk mengatur media sosial bahkan ketika Facebook menyebarkan Fake News saat pemilu, atau ketika datanya bocor dan dimanfaatkan oleh konsultan politik. Politik Amerika menurut penulis, paling rentan dikacaukan dan diintervensi pihak lain lewat media sosial.

Apakah ini pertama kali terjadi? Nah bagian ini menarik deh ada fake news di Amerika pertama terjadi di tahun 1722. New-England Courant adalah salah satu surat kabar pertama di Amerika, terdengar familiar ya, Courant – Koran. Surat kabar ini menerbitkan surat berjudul “Mrs. Silence Dogood” tapi penulisnya bukan perempuan tetapi anak magang berusia 16 tahun bernama Benjamin Franklin. Ini menajdinya Franklin sebagai bapak berita palsu di Amerika.

Lalu apakah semua yang ada di media sosial buruk? Tentu saja tidak. Dalam banyak hal, media sosial memberikan kekuatan (power) kepada setiap individu juga untuk berkontribusi pada kebenaran. Pemerintah cenderung melindungi kepentingannya dan menutupi informasi publik, tetapi lewat media sosial, individu bisa mengakses informasi dan menyebarluaskannya kembali kepada khalayak. Snowden memberikan kita informasi tentang data pribadi yang dicuri oleh pemerintah pada 2013. Julien Assage dan beberapa yang kemudian disebut sebagai hacker atau whistle blower, termasuk (damn aku lupa namanya) yang membongkar informasi tentang MH51 dan siapa yang seharusnya bertanggungjawab.

Media sosial sangat powerful memiliki kekuatan yang dahsyat yang jika tidak dikendalikan akan berpengaruh besar pada perubahan geopolitik dan kehidupan sosial seperi yang sebenarnya sudah terjadi. Publik terpolarisasi tapi yang tetap menjadi kaya dan berkuasa adalah para raksasa Silicon Valley yang bersembunyi di balik kebebasan berekspresi di media sosial. Mereka memang tercatat sebagai perusahaan Amerika tapi apa yang ditimbulkannya terasa di seluruh dunia.

Lalu bagaimana kita survive di era perang mencari perhatian dan opini ini? Tetaplah menjaga keraguan kata penulis. Saat meragu kita akan mencari kebenaran kedua, ketiga dan seterusnya. Justru disaat kita abai dan menerima begitu saja, saat itulah pengaruh Fake News dan Mis—informasi akan sangat mudah diterima pengguna media sosial. Literasi digital dan mengajak orang berpikir kritis tak bisa lagi ditawar jika tidak ingin generasi Z dan seterusnya terjebak lebih dalam dan panjang dalam medan perang ini.

Selamat membaca

Patuh Untuk Selamat Dalam Kehidupan Pabrik bernama Masyarakat. Resensi Earthlings – Sayaka Murata

Standar
Patuh Untuk Selamat Dalam Kehidupan Pabrik bernama Masyarakat. Resensi Earthlings – Sayaka Murata

Sejak kecil Natsuki percaya dia adalah alien yang nyasar di bumi. Dia selalu merasa tidak bisa fit in atau diterima oleh keluarganya. Ibunya selalu menyalahkannya untuk semua hal, ayahnya tak juga membelanya dan kakaknya pun demikian. Natsuki membangun dunianya sendiri, planet Popinpobapia adalah tempatnya berasal bersama dengan Piyut bonekanya dan suatu saat dia akan kembali. Natsuki tidak sendirian, Yuu yang juga tak pernah merasa disayangi sepenuhnya oleh ibunya merasa seperti manusia asing di bumi. Bersama mereka mengikat janji sejak kecil to survive no matter what di bumi sampai suatu saat kembali ke Popinpobapia.

Natsuki dipaksa ikut bimbingan belajar dengan seorang mahasiswa yang menjadi guru honorer di sekolah dasarnya. Satu hari guru yang jadi idola teman-teman sekelasnya itu memintanya tinggal setelah kelas selesai. Dengan alasan memperbaiki postur tubuhnya, laki-laki itu menggerayangi tubuh Natsuki termasuk meremas payudaranya. Natsuki kecil terpaku tak bisa berkutik, raganya seolah meninggalkan tubuhnya. Yang terjadi kedua kalinya Natsuki diminta datang untuk les tambahan di rumah guru ini. Dia tak bisa menolak karena guru ini menelpon orang tuanya dan meminta izin agar Natsuki belajar di rumahnya. Di sanalah Natsuki dipaksa melakukan oral dan sejak itulah mulut dan telinganya bukan lagi menjadi miliknya. Dia diancam untuk tidak bercerita kepada siapa pun, kalau pun bercerita, si guru bilang tak akan ada orang yang percaya.

Natsuki tak pernah lagi bisa merasakan rasa makanan di mulutnya, tak pernah bisa melakukan hubungan seksual bahkan ketika memiliki suami yang dia nikahi dengan persyaratan khusus. Natsuki dan Tomaya suaminya merasa sebagai bagian di luar masyarakat yang mereka sebut Factory, Pabrik dan rahim perempuan adalah mesin penghasil anak, keturunan dan pekerja yang membuat Pabrik terus berjalan. Keduanya memutuskan hidup bersama dalam status suami isteri tapi melakukan semuanya masing-masing seperti teman satu kosan.

Saya berhenti di sini sebelum spoiling lebih banyak.

Membaca novel singkat 247 ini, emosi saya naik turun. Momennya pas sekali dengan berita 12 santriwati diperkosa pemilik pesantren, gurunya yang sudah barang tentu menggadanggadang ayat suci, surga dan neraka ketika bicara berbusa-busa. Saya tak bisa membayangkan trauma yang dialami anak-anak perempuan korbannya yang akan menempel seumur hidup. Bahkan beberapa di antaranya hamil dari hasil perkosaan itu. Now tell me, how am I supposed to react?

Saya marah, kecewa luar biasa pada institusi pendidikan di Indonesia, termasuk pendidikan agama. Kita tak pernah terbuka bicara soal pendidikan seks, kita tak melindungi anakanak dengan benar. Ini kesalahan sistem. RUU PKS menggantung di DPR tak bisa menggantung si pelaku jahanam. Publik menempatkan korban sebagai pihak yang disalahkan, terlalu polos, terlalu naif, for God shake, they are just children! Bangsat.

Seharian ini emosi saya melonjaklonjak, bahkan meditasi tak sukses meredamnya. Saya membayangkan Natsuki Natsuki dalam dunia nyata, mereka merasa sebagai alien yang terasing dalam percakapan binatang bernama manusia. Bertahan bagaimana pun caranya, barangkali itu yang ada di kepala mereka saat ini. Kalau kepatuhan dan rasa takut mampu menyelamatkan nyawa mereka, anakanak itu pasrah. Orang tua bangsat macam guru pesantren itu yang tak pantas disebut manusia, bahkan binatang punya perasaan pada anak-anaknya.

Thank you 2021! It has been an awesome year

Standar
Thank you 2021! It has been an awesome year

Day 736 since the pandemic. I am keeping my journal; I am counting my days. Days of struggling to keep my sanity, guarding my mental health, while also enjoying life as much as I can. I live my life fullest because nothing is for granted, my life can be taken anytime, anywhere. When my time arrives, I shall not have regret at all.

2020 is the worst year ever in my life! That pandemic shit got me to my lowest point and so many times I called my beloved dad and my best friend Jon to take me away with them. I was struggling so hard, then I survived thanks with my former boss who helped me with financial issues. Thanks to my partner, though we fought through out the year, we proofed ourselves to stood still no matter what. And thanks to my friends who would not let me down by any chance.

2021 things are getting better. I can walk straight with my head up again. I found my smile and laugh again. Although pandemic worsen on the mid-year, we are among the lucky one to survive. We were struggling to got the vaccine though. We live only 3 hours from Jakarta, but we needed to queue in the crowded lines for six hours to get the vaccines, the ticket to survive. I learned a lot as a common people. Once I gave up my ID as Jakartans, I lost all the privilege as the Jakarta resident.  

Pandemic has taught me a lot about life management. I survived because of my long-term investment of friendships with my besties and network. I learn to save my money, no longer spent it on hedonism lifestyle that I used to had when living in Jakarta and Bali. I really picky on how I spent it. I have a better income this year. I manage to saving and paid my family debt, finally at last.

Life is good this year.

Mentally stable compare to a year before.  I have my happy pills and serotonin booster name Kim Seokjin and BTS. Whenever I am feeling down, I just turn their music on, re-watching their RUN-BTS, and other life show, and following their social media just to boost my mood. I even do painting because of Jin. You know how it feels to fall in love with a person over and over again and it gives you energy to enjoying life and being grateful just for breathing.

Once my mental health is stable and I am happy, my relationship with akang is also stronger and better so does to other member of the family. When I am happy, others will be happy. That’s what it means by love yourself first before you can share love to others.

I haven’t got a chance to apply school for my PhD. I am not making any excuses. I just have not found the right choice of university and moment to proceed the process. The proposal for research is done anyhow, and I know what I want to take. 2022, I should go for it! No more excuses.

If I can survive 2020, I can survive 2022 and hopefully even better than 2021! Thank you 2021, you are awesome.

Manusia Mahkluk Aneh yang Suka Mencipta Kesusahannya Sendiri. Review I am Cat – Natsume Soseki

Standar
Manusia Mahkluk Aneh yang Suka Mencipta Kesusahannya Sendiri. Review I am Cat – Natsume Soseki

Apa jadinya kalau kucing di rumahmu jadi pengamat yang kritis atas kehidupanmu dan terjebak dalam keseharianmu dan menceritakannya ulang dalam sebuah novel?

I am Cat, kucing tak bernama yang hidup bersama keluarga Sneaze saat beberapa kali dibuang oleh asisten rumah tangganya karena ketahuan mencuri makanan. Seaneh-anehnya sosok Sneaze, Cat mencintai masternya sepenuh hati. Ini cerita Cat, selama beberapa tahun mengamati kehidupan keluarga Sneaze dan percakapannya dengan kelima sahabatnya. Nama mereka terkesan aneh karena diterjemahkan sesuai artinya dalam bahasa Jepang yaitu Coldmoon, Waverhouse, Bouchamp, Suzuki, dan Singleman. Ada juga tokoh antagonisnya Goldfield dan isterinya Nose.

Yang paling keren dari buku setebal 470 halaman dan terbagi dalam tiga bagian ini adalah ditulis pada tahun 1905 – 1906 oleh Natsume Soeseki pada masa modernisasi di periode Meiji (1868 – 1912). Cerita yang disampaikan si Kucing ini lucu dan satir tentang pergulatan budaya barat yang dibawa oleh pendatang eropa dengan budaya tradisional Jepang.

Membaca buku ini bisa bikin saya tertawa terbahak-bahak loh cuma karena Cat nya tetiba nyangkut kepalanya di dalam bungkusan kue beras yang lengket di tenggorokannya. Atau ketika dia sambil memerhatikan tuannya yang ngedumel karena anak-anaknya, “master itu merasa tersiksa kadang-kadang oleh anak-anaknya. Manusia itu memang selalu membuat keputusan dan terjerembab dalam kesulitannya sendiir tanpa sebab,” padahal dia cuma mau bilang kalau tuannya nyesel punya anak.

Sneaze adalah seorang guru bahasa Inggris di sekolah dekat rumahnya. Guru yang tak punya rasa simpati dan empati pada semua cerita orang kecuali dirinya sendiri dan menderita penyakit lambung menahun. Sneaze menjadi referensi diskusi bagi teman-temannya ketika bicara tentang budaya barat. Dalam sebuah diskusi mereka membicarakan bagaimana orang eropa itu penuh kemunafikan. Ketika orang timur telanjang mereka katakan tidak beradab dan tidak bermoral. Tetapi saat malam tiba, baju-baju perempuan barat terbuka di sana-sini, lalu dimana nilai moral dan adab berpakaia itu ditempatkan?

Ketika Sneaze berurusan dengan polisi karena rumahnya digasak perampok, Sneaze memberikan penghormatan berlebihan pada polisi / detektif. Saat itu Bauchamp mengritiknya dengan mengatakan “mengapa mesti takut kepada mereka yang kita berikan kepercayaan dan kita gaji untuk menjaga kehidupan kita? Seharusnya mereka yang takut pada kita.” Nohok ga tuh

Buku ini juga menceritakan bagaimana uang kemudian membayar prinsip dan pertemanan. Ketika Nose Goldfield tersinggung pada Sneaze, mereka membayar Suzuki untuk membujuk Sneaze agar pindah dari komplek perumahan itu – mereka tetanggaan. Caranya ga tanggung-tanggung, membayar anak-anak sekolah main bola dan menendangnya sampai ke halaman Sneaze dan mengganggu ketenangan hidupnya.

Segala sesuatu menurut Goldfield bisa dibeli dengan uangnya, termasuk perjodohan anaknya dengan Coldmoon. Di sini sebenarnya inti masalah dari keseluruhan buku itu. Coldmoon adalah calon doktor fisika  yang punya jiwa seni, jika bisa memilih (dan akhirnya memang memilih) dia lebih ingin menulis puisi, memainkan biola. Suatu hari isteri Goldfield, Nose, datang ke rumah Sneaze yang sedang bersama Weaverhouse dan mengatakan anak perempuannya dan Coldmoon memadu kasih maka dia perlu tahu Coldmoon itu seperti apa sebelum menerimanya sebagai mantu. Goldfield hanya akan merestui keduanya kalau Coldmoon sudah mendapatkan gelar doktornya. Cerita mengalir seputar perjodohan ini dan konsekuensi yang diterima oleh Sneaze yang berusaha menentangnya. Tapi diakhir buku ketiga, barulah ketahuan bahkan Coldmoon tidak tahu menahu soal perjodohan ini. Dia tak kenal siapa Goldfield.

Di buku ketiga ini juga Weaverhouse membuat prediksi tentang masa depan peradaban manusia. Ingat ya ini buku ditulis masa restorasi Meiji dan dia bilang begini. Setiap orang akan mengutamakan individualismenya ketimbang keharmonisan hubungan antar manusia dan keluarga juga kerabat. Pada saat itu bahkan pernikahan bukan lagi sesuatu yang agung dan penyatuan dua jiwa menjadi satu. Tetapi laki-laki ya kebetulan saja sebagai suami dan perempuan kebetulan saja sebagai isteri tapi keduanya adalah individu yang berbeda. Pada masa itu setiap pernikahan akan berujung pada perceraian, keluarga besar yang tadinya hidup dalam satu atap akan terpecah menjadi keluarga-keluarga kecil. Orang tua akan jauh dari anak-anaknya.

Manusia akan mempertanyakan bagaimana caranya mati, dan ketika itu terjawab, sebuah masa penuh cerita bunuh diri akan terjadi. Tersial adalah mereka yang ingin mati tapi malah dikasih umur panjang dan hidup penuh penderitaan karena sakit.

Jangan tanya tentang penokohan perempuan dalam buku ini. Baik Nose dan Nyonya Sneaze adalah tokoh perempuan yang punya kekuatan bernegosiasi dalam rumah tangganya. Buku ini mengritik lagi-lagi filusuf barat seperti phytagoras yang menyebutkan perempuan sebagai sumber masalah bagi laki-laki, juga nietzche yang tak lebih dari jiwa-jiwa penuh keluh kesah dalam menjalani hidup. Di bagian tengah, Cat menertawakan sepuluh tahun masa buat Dante keluar dengan kata-katanya I think therefore I am, yang menurutnya, nenek gue juga bisa menyimpulkan begitu.

Buku ini harus dibaca dengan tenang, dan pelan-pelan. Sangat mudah untuk hilang konsentrasi karena ceritanya yang kompleks dan tokohnya yang banyak. Tapi bagaimana pun, kalau ada satu buku yang harus dibaca sepanjang hidup, saya rekomendasikan buku ini!

A Year with You BTS, A Lifetime Changing Experience. Happy Birthday JIN!

Standar
A Year with You BTS, A Lifetime Changing Experience. Happy Birthday JIN!

Happy birthday Kim Seokjin! Happy anniversary Nita of becoming BTS ARMY

Today is exactly a year after I officially claimed myself as BTS ARMY. I am about 44 years old in four months, a professional consultant in gender, environmental and media strategy and I received so much questions, if not being called as stereotyping as a fangirl. Are you not old enough to be a hysterical fangirl?

So what if I am being hysterical and consumptive? Do I hurt anyone by doing it? Do I ask your money to buy me a merchandise of BTS? Do I hurt your values by being a fangirl?

I wrote almost ten articles about BTS on this blog and its values with literature basis of analysis. First article is about Being Political with BTS on Jin’s Birthday, received 3447 views since 3 December 2020 and become the most views post I ever had. It does tell me that there are so many people out there want to know more about BTS and why they become the biggest boy band in the world after the Beatles and how they impacted the BTS-ARMY life, just like mine!

Personally, BTS has save my life from mentally ill because of the pandemic. They are here with me through my hard times with their comforting songs. I have friends and supportive families, but as they own life is busy, you can’t burden their life with your story all the time. Therefore, other than my books, my writings, my paintings or drawings, BTS is my comfort zone. There was a time when I got yelled by my mother-in-law so loud that if it was not because the BTS song played in my ear, I might go crazy and dragged me to the lowest point in life. That was my epiphany, a moment that I realize, they just save my life for real.

I decided to go back to school for PhD because of them, because I want to learn how the ARMY communicate with each other through social media to the real-life action and movement. What’s value they believe and share with each other, what’s the demographic in Indonesia, so on and so forth. So many questions that I have in mind that can be explain scientifically about BTS and BTS ARMY and then what the heck are you questioning my fangirling activities?

If today’s post sounds not scientific, it is because today is very personal to me. The day that I decided to became an ARMY, going back to school and be a better person. Within a year I was involve in so many BTS-ARMY projects, two pre-schools, forest planting, art exhibitions. I even started to do painting myself.

Particularly with Kim Seokjin, I saw me in him. You know that your idol is your mirror, yourself in a different kind of person, that’s exactly what I feel with Jin. When his sing “I’m the one that I should love,” that’s why I love him, I love myself. He is so random, warm-hearted, funny, crazy, foodies, free spirited, sometimes loud and sometimes so quiet, sometime out spoken and deep thinker. More or less, that’s me that I believe even the algorithm failed to read me.

We absorb energy and adjust to it. He knows how to make ARMY happy even if he has to embarrass himself with funny things like hair bun during the concert of PTD era. He is the mood, the happy pills for people around him. Being on stage and thousand of eyes can make him happy but at the same time exhausting because he is the energy absorber. He is the glue to different personality and his warm heart makes new people feel welcome and easily making friends with everyone. To those who knew me in person, that’s me. I know my super power of using a sincere smile and laugh to break the ice.

And to my other self, Happy Birthday! Stay happy, stay healthy and stay crazy. We need to keep crazy to survive in this madness of life. You have saved my life, but you need to also save yourself and remember you are loved my thousands of ARMY.

Thank you for having me in this new, full of sincere love of BTS ARMY. Let’s make a brighter, cooler and fun future for our Welcome Generation!

Apa itu konformitas? Apakah kita harus maksain diri untuk bisa diterima masyarakat? Review Convenience Store Woman – Sayaka Murata

Standar
Apa itu konformitas? Apakah kita harus maksain diri untuk bisa diterima masyarakat? Review Convenience Store Woman – Sayaka Murata

Kalau kamu perlu bacaan novel yang ringan, menyenangkan sekaligus mengusik ketenangan jiwamu, novel ini saya sangat rekomendasikan. Novel 163 halaman ini bisa banget dibaca dalam waktu beberapa jam saja.

Sayaka Murata mengusik saya dengan pertanyaan apa itu normality atau menajdi normal, atau konformitas? Buat saya yang “tidak normal” karena selalu mempertanyakan kenapa harus begini dan begitu, buku ini seperti menelanjangi saya dengan cara yang lucu. Masyarakat selalu menuntut setiap individu di dalamnya to be fit in, mengikuti aturan yang ada. Jika tidak, maka dianggap bukan anggota komunitas, antara dianggap tidak ada alias didiamkan seperti benda mati, atau diusir sekalian. Setiap kita “terpaksa” mencari kelompok-kelompok yang seradar atau memaksakan diri agar bisa diterima sekitar, ya karena kita memang makhluk sosial. Manusia seperti bukan kucing yang soliter, dia sejenis hewan komunal.

Keiko Furukura tidak pernah mengerti kenapa dia dianggap tak normal dan perlu disembuhkan oleh keluarganya agar bisa bertahan hidup di tengah masyarakat. Ketika di sekolah dasar seekor burung mati, ibunya bilang, “apa yang harus kita lakukan?” dia menjawab, “kita goreng, ayah kan suka.” Lalu semua orang memandangnya aneh. Dia bertanya, apa yang salah dengan jawabannya itu? Ketika dua kawan sekelasnya bertengkar, sementara yang lain berteriak agar mereka berhenti bertengkar, Keiko mengambil sapu dan memukul keduanya lalu pertengkaran berhenti. Orang tuanya dipanggil lagi ke sekolah dan Keiko tak habis piker dimana salahnya dia.

Dia tak ingin orang tuanya disalahkan karena tindakannya. Orang tuanya sangat baik padanya, ayah dan ibu dan adiknya sangat menyayangi dia, tak ada yang salah dengan mereka seperti yang selalu dituduhkan guru setiap kali dia melakukan hal yang dianggap salah.

Di usianya yang 36 tahun, Keiko masih hidup sendiri dan selama 18 tahun atau sejak dia kuliah, dia bekerja sebagai pekerja paruh waktu di sebuah toko serba-ada. Keiko menikmati hidupnya sesuai manual yang tertulis di buku, dia menyimak dan mengikuti apa yang dilakukan oleh kolega di tokonya. Kadang dia menyerap gaya bicara kawannya, dan cara berpakaian supervisornya. “Begitu barangkali seharusnya yang dipakai perempuan usia 36thn,” begitu pikirnya.

Hidupnya baik-baik saja, sampai ketika bertemu kawan-kawannya di luar toko. Mereka mulai mempertanyakan kenapa Keiko belum pernah punya pacar, kapan menikah, kenapa tidak bekerja yang “normal” seperti kebanyakan perempuan. Keiko menghapal jawaban yang disiapkan adiknya jika pertanyaan-pertanyaan seperti muncul, sampai ketika jawaban itu tak mempan.

Shirata lelaki yang sama “tak normal” nya dalam format berbeda dengan Keiko. Dia tak juga merasa diterima oleh masyarakat dengan “keanehan” cara berpikirnya. Mereka bertemu, sepakat untuk tinggal bersama tanpa harus ada ikatan demi menjawab tuntutan masyarakat. Shirata lelaki yang tujuan hidupnya hanya ingin rebahan selamanya, semua kebutuhannya dipenuhi dari honor Keiko sebagai pekerja paruh waktu. Keiko menganggapnya sebagai hewan peliharaan yang dia perlu kasih makan agar tetap hidup.

Sampai situ saja ya, silakan baca sendiri kelanjutannya.

Buku ini menarik karena punya cara berbeda dalam penyampaian pesannya. Lagi-lagi saya senang karena tak ada label tertentu yang disematkan kepada Keiko dan Shirata membuat saya berpikir saya mungkin Keiko dan Shirata at the same time. So fucking tired of what society demand us to do to say, to stay fit in. Murata tak mencoba menggurui ina inu, dia hanya mengalirkan cerita yang membuat pembacanya tersenyum sambil berpikir.

Ketenaran, Kekayaan dan Nafsu adalah Ketiadaan. Review The Nine Cloud Dreams – Kim Man-Jung

Standar
Ketenaran, Kekayaan dan Nafsu adalah Ketiadaan. Review The Nine Cloud Dreams – Kim Man-Jung

Sebelum menuliskan lengkap review ini, saya harus minta maaf di depan karena mungkin akan salah-salah nama yang disebut. Ada banyak tokoh dan karakter yang diceritakan dalam cerita 215 halaman dengan 23 halaman kata pengantar. Beberapa istilah dalam ajaran Budha juga sangat mungkin kelingsut dalam review ini. Maafkan

Kim Man – Jung adalah cendekia di abad ke17 di Korea. Di masa itu cendikia atau scholar itu ada tingkatannya dan yang paling tinggi adalah penulis sejarah dan penyair. Penulis fiksi biasanya menyamarkan namanya karena akan menjatuhkan status mereka dalam masyarakat sebagaimana pun populernya karya mereka. The Nine Cloud Dreams termasuk mahakarya literatur Korea yang pada abad 19 butuh upaya untuk menelusuri siapa pembuatnya, sampai akhirnya divalidasi kalau ini adalah karya Kim Man-Jung. Buku ini sudah dua kali diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan yang saya baca ini diterjemahkan oleh Heinz Insu Fenkl. Terjemahannya sangat indah, dan mudah dicerna kecuali pada bagian-bagian puisi karena bayangan saya pasti lebih indah dalam bahasa aselinya, bisa berima dan saling kait satu sama lain kalimat di dalamnya. Itulah sebab, selesai membaca buku ini, secara ambisius saya berharap bisa membaca dalam bahasa aselinya, atau paling tidak dalam bahasa Korea. Novel ini sendiri ditulis dalam teks bahasa Cina karena hangeul kan baru ditemukan kemudian.

Novel ini bercerita tentang biksu muda yang hidup dan belajar ajaran Buddha di pegunungan Lotus Peak selama 10 tahun, bernama Hsing-chen. Suatu hari dia melakukan perjalanan atas perintah gurunya dan di tengah jalan bertemu dengan delapan bidadari lalu terjadilah percakapan di antara mereka. Sepulangnya dari tugas, Hsing-chen tak bisa mengendalikan pikirannya dan terus terbayang-bayang kedelapan bidadari atau kalau dalam bahasa Inggrisnya peri itu. Ini adalah dosa dalam ajaran Buddha, dan Hsing-chen mendapatkan hukuman yang aneh. Menjalani kehidupan ideal bagi seorang laki-laki. Yang tidak dia ketahui adalah kedelapan peri itu juga dihukum karena mengganggu biksu muda ini.

 Hsing-chen terlahir kembali sebagai Shao-yu dari keluarga Yang yang bersinar karena ketampanannya dan kepintarannya. Pada usia 15 tahun, dia meninggalkan ibunya untuk ikut ujian CPNS kalau versi hari ini. Dalam perjalanannya dia bertemu reinkarnasi peri pertama yang menjadi anak seorang jenderal pemberontak, mereka jatuh cinta dan berjanji akan menikah. Ini janji pertama.

Dalam perjalanan berikutnya, Shao – yu beradu tanding kemampuan puisinya. Adalah jelmaan peri kedua yang menjelma sebagai perempuan penghibur, dialah yang akan menentukan pemenangnya dan si pemenang dapat tidur dengannya sebagai hadiah. Dengan puisi Willow yang dia buat untuk peri pertama itulah dia terpilih sebagai pemenangnya. Lalu mereka jatuh cinta dan saling mengikat janji. Ini janji kedua ya.

Ibunya pernah meminta dia segera menikah setelah lulus CPNS atas bantuan bibi-nya di ibukota kerajaan. Shao-yu punya selera tinggi, tidak tanggung yang diincarnya adalah perempuan yang dikabarkan tercantik di sana, putri seorang Menteri yang tidak pernah memunculkan wajahnya ke sembarang orang. Shao-yu melakukan trik sehingga dia bisa lihat anak Menteri dan jatuh cinta padanya. Ini jatuh cinta yang ketiga. Sang Menteri dengan senang hati melepaskan anak gadisnya karena Shao yu lulus ujian dengan peringkat pertama. Pertunangan diresmikan dan Shao-yu mendapatkan pelayan perempuan yang kemudian lagi-lagi dia jatuh cinta padanya. Jatuh cintanya yang keempat.

Pernikahan terus tertunda karena Shao-yu lalu terjebak urusan pemerintahan. Dia sukses meredam pemberontakan dari wilayah perbatasan karena merasa tidak diperhatikan oleh Kaisar. Dia sukses melawan pasukan Tibet dengan bantuan seorang pembunuh perempuan yang diutus membunuhnya yang malah berbalik mencintainya. Haiya, ini adalah jatuh cinta kelimanya.

Atas kesuksesannya Shao-yu diangkat menjadi Perdana Menteri Dengan statusnya ini, adalah Ibu Suri yang gemes menjodohkan putrinya Lin-Yang dengan Shao-Yu. Tetapi Lin-Yang tak ingin menyakiti putri Menteri tunangan Shao-Yu, dia bilang “pernikahan yang diawali dengan rasa sakit hati perempuan lain adalah tidak benar.” Ibu Suri lalu dengan brilian mengadopsi putri Menteri menjadi anaknya, dengan demikian tidak melanggar hukum karena keduanya adalah putri kerajaan yang tidak terpisahkan untuk berbagi suami. Maka demikian keputusan kerajaan, Shao-Yu memiliki dua isteri sah dan sementara ini empat selir, ditambah naik jabatan menjadi Adipati.

Dalam perjalanan hidupna, Shao Yu bertemu dengan dua lagi perempuan yang menjadi selirnya sehingga total enam selir dan dua isteri. Singkat cerita, mereka hidup bahagia dengan masing-masing isteri memberikan satu keturunan untuknya. Sampai di usia senjanya, Shao Yu memutuskan semua keduniawiannya yang sempurna untuk mengabdi pada Buddha.

Saat itulah dia bertemu kembali dengan gurunya dan tersadar bahwa semua keindahan hidup itu hanyalah ilusi, sebagai bentuk hukuman padanya. Shao-yu kembali menjadi Hsing-Chen yang kini memahami bahwa ketenaran, kejayaan, kekayaan dan kebahagian duniawi itu hanyalah ilusi yang telah diciptakan untuknya. Dalam ketiadaan dia menemukan ketenangan. Kedelapan peri itu pun mengabdi pada ajaran Buddha, mengganti pakaian mereka dengan jubah dan menggunduli kepala mereka. Hsing-Chen dan kedelapan peri mengabdi dan menyebarkan ajaran Buddha hingga pada waktunya mereka diterima surga.

Saya spoiler banget ya. Tapi kamu tetap harus baca dan ikutan terkesima seperti saya dengan kata-kata yang diterjemahkan dengan apik. Sebelum membaca novel ini, saya sudah riset lebih dulu review dari beberapa akademisi sastra dan juga aktivis perempuan. Salah satu yang saya ingat sekali, sebuah peringatan bahwa segala sesuatunya harus ditempatkan dalam konteksnya, yaitu abad 17 ketika poligami adalah sesuatu yang diterima dalam kehidupan bangsawan. Berat untuk tidak komentar tentu saja, kalau tahu pernikahan tidak boleh berdasarkan pada rasa sakit perempuan lain, terus kenapa tetap maksa nikah oi? Apa rasa cemburu bisa dimatikan dan dialihkan jadi rasa persaudaraan antar perempuan dalam sebuah rumah tangga dengan satu suami dan ketujuh perempuan lainnya? Setiap isteri dan selir punya ruangan masing-masing dalam kompleks rumah Shao-yu, yaloh ga perlu jauh-jauh jogging yak, cukup menyantroni setiap kamar dengan lari-lari kecil.

Terlepas dari itu semua, ini karya klasik yang tentu menarik untuk dibaca, melemparkan saya pada imajinasi kehidupan abad 17 di Korea dengan kehidupan kerajaan yang penuh intrik. Tanya dong kenapa saya pilih buku ini?

Kim Man Jung dikabarkan adalah leluhur Kim Seokjin, iya, kesayangan saya selama setahun ini, member dari BTS. Saya membayangkan Hsing-Chen aka Shao-yu adalah Kim Seokjin, apalagi ada kalimat dari salah satu perempuan itu bilang, “dia adalah laki-laki sempurna, yang akan sangat mudah kamu temui bersinar di antara kerumunan. Dia adalah phoenix di antara ayam-ayam” ((ayam-ayam))! Tetapi pada bagian dia berbagi cinta dengan kedelapan peri, saya berkali-kali jitak kepala, “amit-amin Jin, jangan begitu yak. Yaloh jangan sampai Jin.” Seperti time travelling, yang digambarkan Man-Jung di abad 17 adalah cicitnya Kim Seokjin di 2021, yang brilliant, bersinar, dan sangat kreatif dengan ide-idenya yang ajaib. Ah sudahlah… bacalah.