Let’s talk about knowledge and intellectual on BTS RM’s birthday

Standar
Let’s talk about knowledge and intellectual on BTS RM’s birthday

It has been a hot topic between me and friends about how much a trainer cost for one session. One name said he asks for five million rupiahs per hour, but unfortunately the program does not have that much for a trainer cost. I know it is not cheap to get knowledge, you pay for your college, books, time and energy and I would not be surprise if someone making money from it.

However, for someone who was living underprivilege once, I know how expensive education is. I used to sell my only gold necklace from my mom to buy a book, because no one I can borrow to. The only corruption my late father did was copy the original books for me to read at schools. My mom gave me money for one ticket to college and packs of meals for me to sell if I wish to return home. I spent nights to rewrite from the book that belong to my friend so I can re-read it again before the exam. I know that feeling, when you really want to learn something but have a very limited access to it.

I graduate bachelor with two scholarships and master with a very prestigious scholarship from UK Government. Now, that I have money to buy books and I spent millions monthly for books, I know it is part of my privilege that once I got thanks to scholarships. I am very aware that there are million girls and boys, people underprivilege that like me, knowledge enthusiast with limited access.

I got my knowledge, my skill “freely” and since then I promise myself to distribute what I have to everyone. Knowledge distribution is as important as knowledge production – Gramsci. Therefore, I never put price on my self when it comes to knowledge sharing. If my knowledge and skill can somehow help someone to change or benefits to something, that’s enough for me. Money can come afterward; sharing will never make me broke.

On knowledge and intellectual, I am with Gramsci, because our focus is about the change itself, how a narrative of knowledge can be produced and distribute by the intellectual in a social group. I am reading Gramsci’s Common Sense book at the moment but already captive by it. Although Gramsci is very open for anyone perspectives on what he means by intellectual, but what I understand is that intellectual is a vocational work on processing, producing and distributing knowledge, have the power to spread narratives and to change common or good sense of a group that they belong. Intellectual is never independent because knowledge produced from social interaction and narrative. Intellectual can also represent a group knowledge. Anyone can be an intellectual as long as he or she within his and her knowledge can make a change something or to maintain the status quo.   

Now let us meet Kim Namjoon, BTS member who also known as RM – Rap Monster. He has the highest IQ in the group with 148 score, had TOEIC score of 900 from 990, a bookworm and to me he is very political. He transferred and share his knowledge through lyrics of BTS songs, and his speech. He is the leader of BTS , he got the full power to create narratives that moves his people called ARMY. He has the knowledge, and he is an intellectual that Gramsci mention.

On 2018, RM lead BTS and speech at the UN General Assembly and said  “Tell me your story. I want to hear your voice, and I want to hear your conviction. No matter who you are, where you’re from, your skin colour, gender identity: speak yourself.” Those lines have been spread around the globe, stuck on ARMY’s mind and it does change life of ARMY’s. I must say that I know BTS also from his speech that my niece sent me. She herself change once she embraces Namjoon words. You can read his full speech here: https://www.unicef.org/press-releases/we-have-learned-love-ourselves-so-now-i-urge-you-speak-yourself

Youth has been seen as part of the exclusion social group. Youth is excluded from the process of decision making in political realm that most of the time related to their future. Youth voice is excluded from adult status quo in many issues. Nevertheless, as a social group, youth create and produce their own knowledge and narratives. They also produce organic intellectual that can speak on their behalf and I believe BTS is one of them.

If you study the inequality narratives and want to understand what anthropologist said subaltern narratives, then following and listening their life, is so fascinating. I am still learning about BTS and the realm that their create and how they become intellectuals for the ARMY-BTS relationship.

Time to say HAPPY BIRTHDAY KIM Namjoon, stay healthy and stay in power, you need it to make a bigger impact to your fellow youth. Lead us, lead them to create a better future for themselves and for all.

Perbedaan Fasilitator, Moderator, MC, dan Motivator

Standar
Perbedaan Fasilitator, Moderator, MC, dan Motivator

Setiap kali saya mengenalkan diri sebagai fasilitator, yang pertama terbayang oleh lawan bicara saya adalah moderator. Oh, nanti berarti Mbak-nya yang mengantarkan diskusi, menyimpulkan dan memancing tanya jawab dengan audiens kan? Bukan, kata saya, itu moderator, saya fasilitator. Lalu disambut jeda…. Silent… oh okay okay, jawabnya, padahal saya yakin belum okay di kepalanya. Begitu juga ketika dalam sebuah program dimasukan post fasilitator, tim keuangan lantas menyamakan honornya dengan mc dan moderator.

Lalu ada motivator. Seringkali yang ditunjuk sebagai moderator atau fasilitator malah terjebak jadi motivator, self-center, merujuk melulu pada dirinya lalu melontarkan petuah-petuah bijak. Mikropon itu memang dahsyat kekuatannya, seperti cincin dalam film Lord of The Ring. Siapa yang memegang mikropon, mendadak merasa punya superpower untuk memengaruhi orang lain. Jadi inget mantan satpam di kantor lama, dia paling seneng dikasih tugas check-sound lalu berakhir dengan kultum dan nyanyi-nyanyi gembira. Dia gembira, kami bengong.

Baiklah, saya akan coba dengan bahasa bayi menjelaskan dimana perbedaan Fasilitator, Moderator, MC dan Motivator.

Fasilitator. Arti paling sederhana adalah orang yang memudahkan proses. Biasanya saya diundang untuk membantu proses konsultasi publik yang pesertanya berasal dari beragam latar belakang. Fasilitator tugasnya mendapatkan tanggapan, masukan, ide dari semua orang secara inklusif dan partisipatif. Semua punya kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat dan didengarkan pendapatnya.

Fasilitator tidak boleh menggiring jawab pada tujuan tertentu, untuk sepakat atau tidak sepakat pada satu hal. Tapi memancing peserta untuk berpartisipasi penuh dalam tujuan pertemuan. Boleh merangkum jawaban tapi tidak boleh menyimpulkan. Fasilitator wajib menguasai berbagai tools atau alat kreatif yang memudahkan proses pengumpulan pendapat, mengajak orang terlibat dalam proses.

Moderator. Arti sederhananya moderasi atau menengahi. Ya betul, moderator hadir di tengah diskusi atau debat yang diadakan. Idealnya dalam sebuah diskusi narasumber yang dihadirkan mewakili perbedaan pandangan di publik, dan moderator berada di tengah-tengah. Moderator memastikan kedua perbedaan pandangan bisa dapat porsi yang seimbang. Merangkum dan membuat kesimpulan, menjadi bagian dari tugas moderator.

Meski tugasnya berbeda, fasilitator dan moderator wajib, fardhu kifayah untuk menguasai materi yang dibawakannya. Ini tidak bisa ditawar-tawar dan persiapannya tidak bisa dalam kebut satu malam. Keduanya harus membaca materi, mengubahnya menjadi narasi yang mengalir. Fasilitator dan Moderator harus mengenal narasumber dan audiensnya, menyesuaikan bahasa agar mudah dipahami oleh peserta atau audiensnya.

Karena itu saya sudah sebal kalau ada yang merendahkan profesi ini, persiapannya lama. Berat tahu! Dilan aja belum tentu sanggup memikulnya.

Lalu ada MC. MC atau master of ceremony, dia mengantarkan sebuah acara, perhelatan, seremoni. Yang harus dikuasai adalah panggungnya, dan agenda acara. Makdarit kalau agenda berubah dalam waktu sepersekian menit sebelum acara mulai, MC mukanya udah berlipat tujuh. Kalau ada yang salah penyebutan nama atau agenda acara, MC mempertaruhkan reputasinya di depan orang banyak loh.

Terakhir Motivator, tentu orang yang memotivasi audiens. Dengan pengalaman dan pengetahuannya seorang motivator akan bicara untuk menggerakkan audiens berbuat atau berpikir sepertinya. Ada banyak sekali motivator sekarang ini, kamu pasti lebih paham daripada saya.

Saya bukan motivator, da aku mah apa atuh. Sejak 2015, saya jadi fasilitator setelah lulus dari Inspirit Vibrant Fasilitator kelas. Bagaimana menguasai kelas, itu soal jam terbang, practice, practice and practice. Sampai hari ini saya masih belajar untuk kreatif agar kelas tidak membosankan, mengendalikan emosi sebelum kelas dimulai.

Selain jadi fasilitator, saya masih warawiri di dunia moderasi. Saat jadi moderator, saya akan kurang senyumnya karena harus konsentrasi menangkap percakapan narasumber. Prinsip yang saya pegang adalah moderator sebagai penengah bukan narasumber, jadi jangan sok pinter dari narasumbernya, atau menggiring percakapan agar menyepakati pendapat saya. My opinion is not matter, karena bukan di situ tugasnya.

Semua pekerjaan di atas adalah penampil dan harus bisa menampilkan “pertunjukan” yang terbaik. Menyiapkan mental dan fisik adalah bagian dari pekerjaan. Suara harus dieman-eman, banyak minum air putih, tempo harus dijaga – yang ini masih terus belajar, karena saya kalau ngomong merepet macam rapper. Tidur cukup sebelum tampil, bahasa tubuh harus diperhatikan, dan mental juga harus dijaga. Sebelum tampil, saya tidur cantik, minum kopi dan mendengarkan music yang enak. Sekalipun sekarang panggung itu virtual, saya tetap melakukan ritual yang sama. Mandi dan sikat gigi, penting bukan buat orang lain, tapi buat menaikan mood sendiri.

Ini bukan soal bakat, ini adalah skill atau keahlian yang bisa dipelajari dan menghasilkan cuan. Silakan dikuasai.

Feminisme dari kelompok marjinal dan hal-hal yang luput dari perjuangan. Review Hood Feminism – Mikki Kendall

Standar
Feminisme dari kelompok marjinal dan hal-hal yang luput dari perjuangan. Review Hood Feminism – Mikki Kendall

Mikki Kendall adalah feminist, berkulit hitam dan besar di lingkungan tempat tinggal kulit hitam. Adalah neneknya yang menanamkan prinsip semua anak dan cucu wajib punya pendidikan yang tinggi. Kendall kutu buku, sementara sebagian besar teman sebayanya putus sekolah lalu mengandalkan jalanan untuk bertahan hidup. Kendall tumbuh menjadi feminis  dari lingkungan termajinalkan dalam kehidupan Amerika Serikat.

Dalam buku ini Kendall mengritik gerakan mainstream feminis yang utamanya digawangi oleh kelompok feminis kulit putih. Kata dia sebagian besar gerakan feminism di Amerika gagal karena tidak melihat pada kepentingan kelompok marjinal, tapi gerakan ditujukan untuk mengamankan kenyamanan kelompok menengah dan kulit putih.

Kendall mengajak kita kenalan pada isu-isu yang tak disentuh oleh banyak gerakan mainstream. Saat kita bicara tentang kemiskinan, seringkali kita fokus bahwa kemiskinan adalah persoalan individual. Nope. Kemiskinan adalah sistem. Dalam kelompok marjinal, akses pada pendidikan, peningkatan ekonomi, terbatas. Di buku ini topik bahasan utama bukan langsung menyasar pada pendidikan, tapi tentang kepemilikan senjata. Di Amerika, orang boleh memiliki izin punya senjata, tapi lihatlah kelompok mana yang akhirnya menjadi korban dari kekerasan, brutalan polisi. Kelompok kulit berwarna menjadikan mereka sasaran empuk pada pemegang senjata, dan polisi.

Lalu tentang rasa lapar, ketika feminism bicara tentang hak-hak perempuan, mereka melupakan kenyataan tentang rasa lapar yang harus dipenuhi dengan cara apapun. Kendall pernah menjadi orang tua tunggal setelah bercerai dari suaminya yang abusive, dan dia harus antri kupon makanan untuk bertahan hidup bersama anaknya. Menjadi kepala keluarga tunggal buat perempuan tidak mudah, kalau dia harus bekerja untuk mencari nafkah, dia harus meninggalkan anak-anakya di rumah sendirian atau menitipkan pada pengasuh atau day care yang artinya tambahan biaya yang harus dipenuhi.

Tentang pendidikan, hak pada reproduksi, rumah justru ada di bagian-bagian akhir dibahas oleh Kendall. Dia mengajak pembaca untuk melihat gambaran yang lebih luas, tentang stigma, sistem yang membuat kelompok marjinal tak punya pilihan. Dia ingin mengajak lagi feminis melihat pada akar perjuangan, bahwa feminism adalah perjuangan untuk keadilan dan kesetaraan buat semua, melewati gender, race, status ekonomi dan sosial.

Ketika dia bicara tentang war on drug, memerangi narkoba, dia menyentil bagaimana mainstream media dan kebanyakan orang hanya melihat narkoba sebagai setan. Apakah kamu pernah tahu cerita anak-anak yang harus mencari uang untuk membantu ibu tunggalnya dan adiknya untuk bertahan ditambah nenek yang sakit-sakitan? Pernahkah kita tahu cerita di balik mereka yang terjebak dalam kejahatan?

Berkali-kali Kendall dalam buku ini menyebutkan betapa beruntungnya dia bisa bertahan hingga sekarang. Pendidikan yang ditanamkan neneknya, ibunya menyelamatkannya. Begitu juga dengan guru-guru yang melihat potensi di dirinya, keluarga besar yang menjaganya. Tapi ada banyak sekali anak perempuan yang tidak seberuntung dia.

Feminis yang lahir dan besar dengan pengalaman barangkali tidak sama dengan mereka yang menjadi feminis dengan buku. Kendall adalah feminis yang tak akan ragu untuk maju melawan ketidakadilan yang dia lihat di depan mata. Kita memang harus marah jika melihat dan tahu hal itu terjadi, lalu apa yang bisa kita lakukan untuk memastikan ketidakadilan bisa diubah menjadi keadilan? Kesetaraan dan keadilan buat Kendall adalah tentang akses yang sama untuk pemenuhan kebutuhan dasar.

Membaca buku ini seperti diajak jalan-jalan ke masa kecil saya yang juga besar dalam lingkungan padat penduduk di Jakarta Selatan. Rekan sebaya saya sebagaian besar yang laki-laki berakhir dengan narkoba, yang meninggal karena over dosis, meninggal di penjara karena digebukin, dan yang mati karena sakit menahun akibat obat. Rekan sebaya perempuan ada yang berakhir di jalanan, dari satu laki-laki ke laki-laki lain, yang meninggalkan sekolah karena hamil duluan. Papi dan mami saya sangat ketat menjaga agar saya tak terpengaruh pergaulan di rumah. Setiap pukul 19, papi akan berdiri di depan pintu memastikan saya kembali ke rumah dan jangan harap bisa keluar lagi.

Saya adalah Kendall yang beruntung punya orang tua yang menjaga ketat dan mendidik saya dengan keras. Di sisi lain, saya adalah anak dari isteri kedua, anak ke tujuh dari tiga belas bersaudara se ayah. Ayah saya punya 3 orang isteri. Ketika feminis dan kelompok Islam garis keras berdebat tentang poligami dalam sisi agama dan hak-hak perempuan, nyaris tidak ada yang meyentuh dan bertanya bagaimana anak-anak dari keluarga poligami ini bertumbuh secara fisik dan mental. Buat saya berat sekali percaya bahwa institusi pernikahan adalah perlu dan penting. Saya memang menikah atas kesadaran penuh dan pilihan sendiri tanpa tekanan siapa pun. Itu tidak terjadi sampai di usia 39 tahun, ketika saya yakin jika ada hal buruk terjadi, I can just packed my bag and leave, saya mampu berdiri di atas kaki sendiri. Sampai hari ini saya tetap bilang, pernikahan bukan kuncian buat bahagia, itu cuma satu pilihan dalam hidup dan pilihlah yang bijak untuk dirimu sendiri.

Feminisme saya lahir dari pengalaman, melihat kehidupan mami yang dipoligami, bertahan demi anak-anaknya yang sempat membuat saya murka karena dia bisa saja bahagia dengan berpisah dan kami anak-anaknya tetap akan baik-baik saja. Feminism saya lahir dari hidup di tengah lingkungan yang marjinal, anak-anak yang tak punya akses pada pendidikan karena miskin, ajaran agama dan budaya yang patriarki. Feminisme saya lahir dari pengalaman pernah dilecehkan di bis ketika seorang laki-laki meraba payudara saat saya tertidur, ketika tersadar dia langsung lari dan saya terpaku, diam, bingung dan merasa kotor. Bangsat itu semoga hidupnya tak pernah tenang.  Buku-buku tentang feminism baru saya baca ketika kuliah dan diskusi akademis.

Saya sepakat dengan Kendall, feminism bukan sekedar perbincangan dan hingar-bingar kampanye di sosial media, tapi buat aksi yang memastikan kita bisa menutup kesenjangan dan memastikan kesetaraan dan keadilan itu terjadi, sebuah gerakan yang memahami dan memenuhi kebutuhan di tingkat tapak.  

Using Pop Culture to Counter the Hegemonic. Notes for BTS Jungkook Birthday

Standar
Using Pop Culture to Counter the Hegemonic. Notes for BTS Jungkook Birthday

Since I fall happily into the BTS’s rabbit hole, I use them not only to make me happy (as Jin and RM told us to) but as my production means. Does it make me sounds academic?

I work around the issues of Gender and Social Inclusion and whenever I do the training or work or people recognize me as a feminist, there are some resistances, I can hear “sigh” from the audience even just looking at their changing faces. Why do we need to learn about gender? Are you trying to change our habit, beliefs and culture? Why is it so important for us to know the different between sex and gender? There is no such as a social exclusion in our community. Such a basic and common comment I have every time we have the session.

It is so challenging and for those who knows me well, I really love challenges, they make me feel alive and useful. So, the first important thing I prepare when I do the training or talking is an ice breaking. I tend to make myself “fool” and funny in front of everyone. Music is a universal language that can break any language barrier, after all, you can always find video with the lyric if you want to understand it. So, I use music one. For adult audience, I use dangdut, I use pop music. For young audience, BTS is on the playlist and I open for a request. I use premium Spotify – damn I should get a discount for using it for a good cause. Not just for a smile and a head banging session, you can challenge the audience with asking them about the message in the lyric, what issues are the singers wants to challenge? And you can find interesting answers. Making gender issues as public talks is fun, there is where you start, where I start. Here are some pictures to challenge the hegemonic of gender role, the patriarch culture. I put not only BTS, because they are not the only one who challenge the hegemonic.

skirt is neutral gender
everyone can cook

Currently, Indonesian officer has been busy repainting wall that being used by artists to spread their messages, a critique to the authorities. Followed by the respond from the government that if you have something to say, better to have a dialogue, how government is very open for one. What a polite argument, while at the same time, officers have been put the painters on the list to catch like a criminal. Is that how you treat people with some critiques? I know the hegemonic is very annoyed with Bansky’s and painters or artist who followed him. If the dialogue is open for every one equally dan fairly, they might not use the mural, and other art to send their message.  The more tense of pressure the authorities give, the more resistance they will get.

Why pop culture?

Pop culture has two characteristics; it is dynamically expressive, and it is accessible. Popular culture acts both as a means for us to have enjoyable and emotional experiences with characters, places, things, or situations that we may not otherwise experience—perhaps because they are not even real—and a means for us to define our social reality (Doveling et al. (2014). Emotions and mass media: an interdisciplinary approach. In Doveling, et al. (Eds.), Routledge Handbook of Emotions and Mass Media)

However, during my times talking about social inclusion how youth for example feeling being exclude from the public decision-making process while they feel “home” and belong around their groups as fandom. When we are talking about pop culture, it is not only about music, but also movies, sports, where their fans develop their own identity and values. So pop culture is not just about the mass-product of art but we can look at it from the social movement and politic perspectives as an agent of change. I am not saying like a changing behavior because it will take long times, but through this pop culture and fandom life, we can find the change of perspectives, identity and public discourses. Like countering the patriarch culture, erasing gender gap, and creating an equal and inclusion society is so big that is not happening in short time, even if the struggle has been running for decades. However, being able to make gender issues as a public talk and discourses, and people can recognize social exclusion while talking and taking a small step toward inclusion, is some of an achievement. And I prefer using pop culture in doing it, as means of production of consent. Using the same “weapon” to manufacture of consent. The hegemonic occupied the media mainstream, and maintaining the culture as status quo, while I and we can use the pop culture to counter it. And why not!

I should mention that it has been eight months since I fall happily and become an ARMY, an adult ARMY. I see how ARMY doing good things and the individual feelings that they do change how they thoughts and behave in daily life. One of my friend said “my husband is very supportive to me because he sees that being ARMY is changing me into a better person.”

If you read this article: https://www.koreaboo.com/news/turkey-government-investigating-kpop-threatens-traditional-values/ you will find how the hegemonic is feeling threat by pop culture, have we won yet? Nope, a long way to go. But at least it is there, the change is in everyone’s mind.

Time for me to go and leave your brain digest this mumbling thought of mine. Let me leave by saying Happy Birthday to the golden Maknae, Jeon Jungkook! I really love your kindness, duality, and your puppy eyes when you are excited on something or being zonk into your own world. I love your painting both the natural one and the abstract one. I don’t have to say that I love your voice anymore because I listen to yours and BTS every day! Stay healthy and happy JK, you deserve every second of happiness in life.

Selama profit yang dikejar, selama itu pula kerusakan akan terus terjadi. Review Consequence of Capitalism, Noam Chomsky dan Marv Waterstone.

Standar
Selama profit yang dikejar, selama itu pula kerusakan akan terus terjadi. Review Consequence of Capitalism, Noam Chomsky dan Marv Waterstone.

Saya akan memulainya dengan angka, bahwa ada lebih dari 800 pangkalan militer Amerika Serikat di seluruh dunia. Pertanyaannya adalah untuk apa? Melindungi siapa? Apakah keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat semata-mata untuk menjaga dunia tetap dalam koridor demokrasi, freedom, atau kemerdekaan siapa?

Buku Consequence of Capitalism yang ditulis Comsky dan Waterstone tidak diawali dengan menjawab pertanyaan di atas itu. Tapi mereka memulainya dengan pengertian tentang Common Sense, atau hal yang dianggap lumrah, wajar dan dapat diterima oleh publik. Keduanya tentu bicara dalam konteks pemerintahan negara Amerika Serikat tetapi tidak bisa lepas dari hegemoni global Amerika dan Eropa di dunia. Imperialisme di abad 17 – 19 sudah ganti rupa saja dengan penguasaan militer dan finansial dalam kerangka globalisasi. Barat yang melakukan imperialism dan menghancurkan kehidupan negara-negara bekas jajahan di Afrika, Asia dan Amerika Selatan, mereka juga yang menggaungkan kampanye tentang demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Kamu boleh menyebutnya ironi. Setelah Perang Dunia II, Amerika tak punya lawan dan melebarkan hegemoni dalam sebutan Great Area. Amerika merasa perlu melindungi dunia dari ancaman Rusia, bahkan saat Rusia nggak ngapa-ngapain and no where to be found – kata Chomsky. Sejak Perang Dunia II itu, Amerika tidak pernah berhenti berperang bahkan dalam satu tahun pun, dan itu seolah dianggap wajar.

Common Sense dipakai untuk kepentingan melindungi kekuatan hegemoni. Contohnya bahwa neoliberalisme adalah ideologi yang diterima di seluruh dunia, bahwa sukses atau tidaknya seseorang sangat bergantung pada dirinya sendiri, bukan orang lain, masyarakat apalagi negara. Bahwa demi menjaga demokrasi, maka Amerika Serikat “sah” saja mengirimkan tentaranya ke Vietnam, lalu di Afghanistan, Irak dan memusuhi Iran atau negara-negara yang diyakini membawa paham ideologi lain di luar demokrasi. “be with us or be our enemy.” Dengan bendera kampanye demokrasi, seolah Amerika sah untuk mengintervensi kedaulatan negara lain.

Apa hubungannya dengan kapitalisme? Inikan soal politik. Buku 344 halaman ini berisi sejarah, dokumen-dokumen rahasia yang baru bocor di kemudian hari, tentang kepentingan-kepentingan ekonomi di balik kampanye demokrasi global. Kepentingan apa yang ada di Irak? Iya betul minyak. Begitu juga dengan Venezuela, Amerika merasa perlu untuk melindungi sumber minyak bumi di sana, lalu didukunglah pemimpin boneka untuk kepentingan mereka. Persis di Indonesia 1965.

Untuk melindungi kepentingan ekonomi para pemain aka kapitalis itulah, perlu orang atau sekelompok orang yang mampu memberikan rasionalisasi terhadapnya. Industri kehumasan adalah bagian penting untuk menggaungkan kampanye, retorika, propaganda pemerintah melalui media. Militer dilibatkan tentu saja untuk melindungi itu semua melalui kekuatan senjata. Militer diperlukan bukan untuk melindungi warga dunia, tapi kepentingan ekonomi.

Awalnya C-M-C, komoditas dibuat untuk memenuhi kebutuhan manusia, yang kemudian ditukarkan dengan alat tukar bernama uang untuk membeli komoditas lain. Tapi ketika komoditas yang dihasilkan surplus, dan harus terjual untuk menghasilkan uang, maka di situ bermain promosi dan marketing yang membuat seolah komoditas itu sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi. Komoditas dihasilkan untuk menghasilkan profit, lalu diputar lagi untuk menghasilkan profit yang lebih besar, sampai ketika sampai komoditas jenuh dan tak laku di pasaran, muncullah investasi ghoib bernama investasi finansial. Begitu seterusnya dengan konsekuensi pada kerusakan lingkungan dan kehidupan sosial.  

Setelah perang dunia kedua, masa itu disebut masa keemasan kapitalisme, yang dikontrol oleh negara, serikat buruh memegang peranan penting dan pengusaha harus menjamin kesejahteraan buruh. Tentu saja itu tak banyak menguntungkan kapitalis. Common sense kemudian diacak-acak, resistensi muncul untuk membangun rasionalisme baru, neoliberalisme yang dikukuhkan Ronald Reagen di Amerika dan Margareth Thatcher di Inggris Raya. Tidak ada kelas dalam masyarakat, yang ada adalah individu dan negara tidak boleh membatasi pasar. Semua harga ditentukan oleh pasar. Yang terjadi kemudian sampai hari ini adalah jurang luas antara buruh dan CEO, antara perempuan dan laki-laki, si kaya dan si miskin. Kekayaan dunia bertumpuk pada sekelompok orang saja.

5 bab buku ini kita diajak jalan-jalan melintas waktu dan tempat, dan dua bab terakhir adalah tentang respon dan perlawanan juga perubahan sosial. Resistensi terjadi ketika apa yang seharusnya menjadi Common Sense ternyata tidak jadi Common Consent, pengetahuan umum tapi tidak kesepakatan umum. Ada kegelisahan di masyarakat tentang politik dan situasi ekonomi. Chomsky mengajak kita untuk kritis membaca, jika ingin tahu apa itu Common Sense, pantau headline di media massa, satu hari atau dalam seminggu. Apakah yang disampaikan seragam? Apakah sumber yang dikutip dan angle yang disampaikan sama? Jika iya, kamu masuk tahap Pretext, mempertanyakan hal tersebut, tidakkah janggal? Absurd dan ada apa di balik keseragaman berita itu? Lalu masuk ke tahap Reason, cari tahu alasan sebenarnya dari Common Sense itu, apa yang tidak diungkap dalam keseragaman itu?

Waterstone bilang, ketika ada respon, perhatikan apa respon itu untuk melakukan perubahan baru atau mempertahankan status quo? Ketika ada resistensi, selalu ada counter atau respon balik dari pemerintah untuk menggagalkan hal tersebut. Tapi jangan putus asa, resistensi sebesar Occupy Wall Street walaupun tidak menghancurkan kapitalisme, tapi setidaknya menjadikan kritik terhadapnya sebagai wacana umum di publik. Begitu juga dengan Black Lives Matter dan Gerakan lainnya. Perubahan sosial butuh waktu panjang, tapi bukan tidak mungkin. Kalau Neoliberalisme bisa jadi new Common Sense, bukan tidak mungkin Green New Deal juga akan dapat menjadi idealism perubahan baru. Pesannya, harus terus konsisten pada perjuangan. Eeaaa.

Saya pembaca setia Noam Chomsky, yang meskipun bukunya penuh depresi, tapi dia selalu berusaha menyelipkan harapan. Dia percaya selama masih ada orang-orang seperti AOC, Klein dan Sanders, resistensi terhadap hegemony dan ide-ide segar perubahan akan selalu muncul. Waterstone, saya baru tengok kemarin gambarnya di Google, nevertheless, cara dia menyampaikan kuliah yang ditranskrip dalam buku ini, sangat menarik dan lucu. Haish langsung merasa pengen kuliah lagi.

Kekuatan fandom menggerakkan politik sipil. Review Politics for the Love of Fandom by Ashley Hinck

Standar
Kekuatan fandom menggerakkan politik sipil. Review Politics for the Love of Fandom by Ashley Hinck

Semasa Green Radio mengudara, kami pernah punya acara “Suara Komunitas” menghadirkan komunitas dengan kegiatannya. Kami percaya komunitas-komunitas non formal ini punya kekuatan untuk menggerakkan massa, melakukan perubahan baik. Tetapi respon tak selalu positif memang, radio dianggap sebagai radionya komunitas, LSM ga ada duitnya. Dan begitulah.

Ketika dunia bergerak semakin liat, semakin cair meski dibatasi layar 14 inchi, perubahan justru terjadi dengan sangat cepat dan massif. Sekat-sekat institusi format semakin menghilang. Dulu pemuda ditemui di ruang Karang Taruna, sekolah dengan bangunan kaku seperti kanebo menjadi arena sosialisasi, begitu juga dengan institusi keagamaan. Tetapi hari ini, identitas seseorang semakin banyak, tak melulu dibatasi oleh gender, usia, agama, tingkat pendidikan, demografi umum yang kita temui di project.

Hari ini, setiap orang punya ruang nyamannya bersama kelompok yang membuat mereka merasa diterima apa adanya tanpa perlu bendera latar belakang yang membatasi ruang gerak. Namanya fandom, kelompok penggemar. Mereka punya nilai etik yang diusung, dan punya modalitas etika yang digunakan untuk mewujudkan kerangka etik yang mereka percaya.

Hinck, penulis buku ini adalah penggemar Harry Potter dan bergabung di klub penggemar, Harry Potter Alliance. Grup ini berhasil dalam kampanye yang membuat Warner Bros beli coklat dengan sistem fair trade. Di buku ini juga Hinck menghadirkan 4 cerita fandom lainnya. Klub penggemar AmericanFootball yang mengajak pemain dan penggemar menjadi mentor untuk anak-anak sekolah dasar. Ada youtuber untuk kutubuku, atau Nerd yang menjadi ajang saling berbagi. Greenpeace yang mengajak penggemar LEGO dewasa ALOF untuk menggagalkan kerjasama LEGO dengan SHELL, dan UNICEF dengan memanfaatkan penggemar Star Wars.

Apakah setiap Gerakan yang melibatkan fandom akan berhasil? Tentu tidak semudah itu malih. Seperti di atas dijelaskan, menggerakkan fandom harus paham dulu kerangka etika apa yang berlaku di kelompok mereka, lalu sesuaikan dengan modalitas apa yang mereka punya. Fandom adalah sekumpulan orang dengan obyek kesenangan yang sama. Untuk dapat memahami mereka, maka harus pula dapat memahami tentang obyek tersebut. Tidak bisa ujug-ujug hanya karena melihat fandom sebagai super kekuatan Gerakan sipil, serta merta mencari, membujuk dan menggaetkan mereka untuk kepentingan tertentu. Fandom berisikan orang-orang yang cerdas untuk memilah kesesuaian kampanye dengan etika mereka.

Selama ini fandom dianggap sebagai sekedar kelompok histeria, tetapi Hinck bilang sudah saatnya fandom dilihat sebagai sebuah kekuatan untuk melakukan perubahan. Jangan mocking atau melecehkan kekuatan besar para fan, yang dalam kelompoknya mereka belajar dan saling berbagi nilai, dan sikap politik tertentu.

Tetapi Hinck juga mencatat, dari keempat contoh yang dia ambil, tentu saja ada kelemahan. Fandom tidak semuanya “welcoming” terhadap fan baru. Seperti American Football, LEGO, Star Wars dan Nerdfighter didominasi oleh kulit putih dan laki-laki, maskulin. Fan kulit berwarna dan perempuan seolah dibatasi ruangnya dalam kelompok ini. Meski mereka menyangkal hal tersebut, tapi studi Hinck menemukan hal tersebut.

Saya sengaja tak detail membahas bagaimana proses engaging fandom untuk kepentingan politik, ngeri. Buku ini rada bahaya kalau di tangan partai yang sedang liar menggeliat cari dukungan.

Being political with BTS ARMY (part.2) and as the newpower of collective movement on the Happiest 8th Anniversary Bangtan! Thank you!

Standar
Being political with BTS ARMY (part.2) and as the newpower of collective movement on the Happiest 8th Anniversary Bangtan! Thank you!

Since I decided to go back to school for Phd, I fall myself happily in BTS rabbit hole. I follow BTS and ARMY ever since, every day. My Gmail sent me the alert daily of BTS, ARMY, Soft Power, Korean Hallyu. I think I have thousands of media and journal’s articles from 2019-2020, thousands digital artifacts of videos, photos and screenshoots from the social media related to them. I read books related to networked society, social movement, digital citizenship, civic participation, newpower, cultural studies, media studies and pop culture. All summarized in 10 pages of Phd proposal last month and yesterday I got my first peer review, and he said, make it short to just 5! Hahaha. But overall, he said the proposal is clear enough and exciting research plan. Hey, that is my very serious academic document I wrote since I graduate 5 years ago, so Yeaaay! Thank you Bangtan!

I am just a Baby ARMY, according to 7 months being ARMY, I still have lots to learn since they are celebrating 8th anniversary today. And for the past 8 years, I have read that BTS has changed millions of ARMY lives individually, how BTS has changed the way ARMY sees life and themselves. The word Love Myself is so powerful in changing their perspectives on themselves, self-acceptance and how it can break the neo-liberalism values of how each one of us forced to achieve certain standard of living in materialism matter.

I read studies how BTS and ARMY horizontal relationship as Namjoon the leader said, ARMY is their crew. Obviously, ARMY has been the key of BTS success in the past 8 years, years in Billboard chart, and Grammy nomination. ARMY has been protected BTS from malicious digital fraud that can make them hurt musically, including the clout action from parties. Not to mention the impact of ARMY as fandom economically toward BTS, Hybe and Big Hit as a corporation and South Korean as the nation.

Nevertheless, ARMY as community is also doing tons of impactful collective political movement. On Trump’s campaign, on Blacklives Matter. In Indonesia, my recent research count 600millions rupiahs ($ 49741.71) donation to flood and earthquake in January 2021. From May 2020 – February 2021, I made an early accounting of the projects, finding their worth to be IDR 1.013.356.305 ($72642.03) for various causes. This is only from the platforms Kitabisa.com and ARMY used various crowd funding platforms for their charity project.  BTS ARMY not only donates money but also donated 3500 pieces of clothes in February 2021, and more than 1000 books in March 2021 distributed to Women Prison in Bandung, managed and distributed by a sub-group of ARMY Indonesia, Bintang Ungu. The same group also built a kindergarten in a scavenger village. As a disclaimer, I am in the group of Bintang Ungu. Additional to that, ARMY has many branches of interest groups. ARMY learns Korean language with BANGTAN Academy for free, the network of BANGTAN Scholars helped ARMY with their studies and research. There is also group of ARMY focus on mental health and giving comfort to ARMY who need one, freely.

According to the last voluntary world census of ARMY 2020, they are 80 million ARMY in the world, and 20% of them are from Indonesia. Imagine how many ARMY who missed the census, I bet it is more than that. This is a huge power! And majority are Millenial and Z generation, the generation that can determine our future. As for Indonesia, I have to warns ARMY to really careful not being drag politically for any parties’ interest for presidential election 2024. We need to make ARMY clean as it is from any political party shit in Indonesia.

How BTS can have a really huge fandom around the world? I am not going to tell you the whole stories. But here are the principal tips I can give to you. Firstly, please go through their lyrics without prejudice. Listen carefully, read in English translation carefully all the songs or okay do it randomly. Understand what message that they try to send to youth, their generations. Secondly, please go through their videos off stage, RUN BTS, In the soop is my favorite, and Bon Voyage. You don’t need to watch them all, just do randomly. Thirdly, watch their interview with media. But bare in mind, of course, everything you see on media and social media has been curated for certain interest and that will make you want to go through the fourth tips. Fourthly, go through randomly to the conversation between ARMY on social media. Lastly, if you want to look serious or being academic, go through all articles, and journals. You might end up like me. BTS and ARMY are so fascinating relation, digital fandom community like no others.

My first article of BTS on this blog has the tittle of Being Political with BTS and at this moment has 1.943 views, I am not being clout since it is a very personal experiences with BTS but then I realize, there are lots of people out there who wants to learn about BTS. Therefore, I make the second part, more serious, did it look like more academic, no?

On this blog you can also find the article on how BTS impacted the media business. Everything with BTS sold out, including the BTS Meal that brought news attention couple days ago. Again, I don’t want to discuss the issue at the individual level as ARMY, but seeing it as the failure of the system. How business, economic priority failed to meet the health caution.

Happy 8th Anniversary BTS! Stay GOLD!

100 tahun sejarah Korea dalam cerita satu keluarga. Review Pachinko karya Min Jin Lee

Standar
100 tahun sejarah Korea dalam cerita satu keluarga. Review Pachinko karya Min Jin Lee

Pachinko. Saya bahkan tak tahu ini apa, tidak juga iseng mencari artinya. Saya terus membaca buku setebal 531 halaman tanpa menghitung acknowledgement dan preview buku lain, berharap saya akan menemukan arti Pachinko. And I did, di halaman kesekian ratus.

Dalam fiksi memang tak melulu harus menjelaskan definisi kata seperti non fiksi, selama ceritanya bisa mengalir, pembaca akan mudah memahami dan menemukan sendiri artinya. Begitu juga di buku ini. Tadinya saya berpikir Pachinko hanya sekedar judul, ternyata ini adalah nadinya cerita. Di Pachinko sejarah keluarga Baek mengalir. Butuh cerita satu keluarga untuk menjabarkan 100 tahun sejarah Korea, semenanjung yang dikuasai Jepang, dibelah oleh ideologi politik menjadi Utara dan Selatan dan imigran Korea di Jepang hidup dalam diskriminasi.

Cerita dimulai dari kehidupan seorang anak berkebutuhan khusus, kakinya menekuk. Tak ada keluarga yang mau punya menantu seperti itu kecuali keluarga Yunjin yang miskin dan menikahkan Yunjin agar mereka bisa makan. Yujin mencintai Hoonie dengan segala keterbatasannya, mengurus penginapan untuk nelayan yang mampir ke Busan. Lima kali Yujin keguguran sebelum melahirkan Sunja.

Anak perempuan yang hidup bahagia itu jatuh cinta pada lelaki dewasa dan hamil. Hansu sudah menikah di Jepang dan berharap Sunja mau menjadi simpanannya di Korea. Perempuan simpanan statusnya sangat rendah. Isak Baek, pendeta muda dengan penyakit TBC menikahi Sunja untuk menyelamatkan nama baiknya dan mereka hijrah ke Osaka karena Isak mendapatkan pekerjaan sebagai pendeta di sana.

Di sinilah cerita dimulai. Di Osaka, orang Korea seperti keluarga mereka hidup kumuh, bahkan berbagi ruang dengan babi. Satu rumah dua keluarga, Isak dengan Sunja, Yosep dengan Kyunghee, lalu lahir Noa dan menyusul adiknya Mozasu. Noa menyukai sekolah, menguasai semua pelajaran dan bercitacita kuliah. Mozasu sebaliknya, dia keluar dari sekolah dan bekerja di Pachinko, kemudian menjadi pebisnis hingga novel berakhir.

Pulang kembali ke Korea berarti mati kelaparan, perempuan-perempuan muda Korea yang berusaha kabur dari tekanan Jepang diimingi kehidupan baik di Manchuria, berakhir di rumah bordil. Di Jepang sendiri, orang Korea dianggap parasite, kotor dan rendahan. Tak banyak bisnis milik Jepang yang mau menerima orang Korea. Sementara Yosep, seperti juga lelaki dari budaya patriarki yang kental, merasa terhina jika dua perempuan di rumahnya membantu mencari nafkah, terutama setelah Isak Baek di penjara dan meninggal karena mempertahankan prinsipnya.

Ketika perang dunia kedua pecah, Amerika menghajar Jepang, di situlah tokoh Hansu, ayah kandung Noa muncul kembali dalam kehidupan Sunja dan keluarga. Hansu adalah Yakuza, kelahiran Jeju yang diadopsi pimpinan Yakuza dan menikahi anak bosnya. Hansu menyelamatkan keluarga ini dan mulai mengatur kehidupan Noa.

Belasan tahun kemudian, Noa tahu darah Yakuza mengalir di tubuhnya. Dia kabur, mengubah nama dan menjadi Jepang. Ketika Sunja menemuinya, kepahitan itu muncul kembali, Noa bunuh diri. Dia tak pernah bisa memaafkan keadaan yang membuatnya merasa kotor terlahir sebagai anak seorang Yakuza.

Kalau dipikir cerita berakhir di sini, ah tidak kawan. Masih ada cerita tentang anak Mozasu bernama Solomon yang akhirnya bisa sekolah tinggi di Colombia University Amerika. Ketika kembali, seperti harapan keluarga adalah bekerja di perusahaan asing dan terbebas dari stereotype orang Korea di Jepang. Bosnya seorang Jepang, yang awalnya baik tapi ternyata memanfaatkan Solomon. Solomon pun berakhir bekerja di Pachinko milik ayahnya. Sejujur apapun hidupmu, Pachinko punya stigma yang terlanjur buruk, ditambah darah Korea, selamanya keluarga Korea di Jepang tak pernah bebas dari prasangka.

Novel ini menceritakan peliknya perjuangan mencari identitas diri, apakah seseorang bisa dengan menolak siapa orang tuanya? Darimana dia berasal? Bisakah mengubah rupa, aksen bicara semudah mendapatkan identitas baru di atas dokumen resmi? Bisakah mengubah kultur yang hidup dalam keluarga, sebagai sebuah bangsa? Tak bisakah kita hidup sebagai pribadi as a person?

Novel ini juga bercerita banyak tentang perempuan dalam budaya Korea. Istilah Go-saeng berarti perempuan harus menderita sebagai anak, isteri, dan ibu, berkorban untuk anak, suami dan keluarga. Melakukan semua pekerjaan 24 jam, 7 hari seminggu demi keluarga dan nama baik keluarga. Kesalahan remaja Sunja membuatnya “dihukum” menderita sepanjang hidup, kehilangan Isak, Noa dan Yungjin ibunya, termasuk Honsu lelaki pertama yang singgah di hatinya. Ketika Sunja bertemu dengan calon cucu-mantu, Phoebe, orang Korea yang lahir dan besar di Amerika, perempuan mandiri, berpendidikan dan tak pernah masuk dapur, Sunja membatin “cukup sebenarnya buat perempuan mencintai dirinya sendiri, dan lalu membagi cintanya untuk keluarga, tanpa harus menderita.” Sunja melakukan pemberontakan sejak remaja, dia pergi ke pasar sendiri, dia mengungkapkan cinta, dia bekerja dan berjualan di pasar, dia mendidik anak-anaknya dengan baik. Satu-satuya kebahagian untuk Sunja adalah melihat anak-anaknya bahagia, dan setengah kebahagiaannya hilang ketika Noa mati.

Min Jee Lee adalah seorang Korea yang tinggal di Amerika. Dia butuh 24 tahun menyelesaikan novel dan it’s worth it every single page to read.

Menjelajah Waktu, Mengubah Rasa, Bukan Takdir. Review Before the Coffee Gets Cold – Toshikazu Kawaguchi

Standar
Menjelajah Waktu, Mengubah Rasa, Bukan Takdir. Review Before the Coffee Gets Cold – Toshikazu Kawaguchi

Kalau diberikan kesempatan untuk kembali ke masa lalu, apakah kamu akan ambil kesempatan itu? Meski kenyataan hari ini tidak akan berubah, meski harus mempertaruhkan nyawa karena waktu yang diberikan hanya sepanjang kopi masih hangat atau kamu akan terjebak di masa lampau selamanya, menjadi hantu. Menjelajah waktu hanya bisa dilakukan di bangku yang sama, untuk bertemu orang yang pernah berkunjung ke kafe itu.

Meski dengan persyaratan yang begitu rumit, toh Fumiko, Kohtake, Hurai dan Kei tetap menjelajah waktu. Empat cerita, empat orang menjelajah masa lampau dan masa depan menuntaskan rasa ingin tahu, dan rasa sesal yang tertinggal. Ada banyak hal yang ingin disampaikan tapi tak sempat terucap sampai waktu yang diberikan berlalu.

Novel ini mengangkat cerita sederhana tentang manusia dan rasa sesalnya, mengambil tempat di sebuah kafe kecil tanpa pendingin ruangan, tanpa jendela. Ada satu bangku yang ditempati hantu perempuan yang terjebak dalam waktu, tak bisa kembali karena terbawa perasaan ketika menjelajah waktunya di masa lalu.

Setiap bab membuat saya menangis meraung-raung sepertinya saya yang ada dalam cerita itu. Menampar saya betapa banyak hal yang tidak sempat terucap kepada sahabat dan ayah yang sudah lebih dulu pergi. Tak sempat menyampaikan terima kasih telah memberikan cerita dalam hidup saya. Bahkan di bab terakhir, kalau saja tidak membacanya di teras, saya tentu sudah meraung seperti sahur tadi. Akang sampai bingung melihat saya menangis seperti ditinggal mati kekasih hati. Iya tangis yang hanya bisa ditumpahkan orang yang tahu rasanya kehilangan.

Jangan biarkan waktu mengalahkanmu, kalau ada yang ingin kamu sampaikan pada seseorang, sampaikan sekarang sebelum semuanya terlambat. Jika tak bisa mengubah takdir, paling tidak kamu melanjutkan hidup tanpa rasa sesal dan penasaran.

Sukseslah novel 213 halaman dibaca hanya dalam 2 malam.

Generasi Millenial Lelah Hayati. Review Buku Can’t Even karya Anne Helen Petersen

Standar
Generasi Millenial Lelah Hayati. Review Buku Can’t Even karya Anne Helen Petersen

Buku ini memberikan batasan generasi milenial adalah mereka yang lahir 1981 – 1996. Dua generasi sebelumnya adalah X yaitu saya dan Bommers – orang tua saya dan kakek nenek dan seterusnya. Generasi milenial tertua saat ini berusia 40 tahun dan termuda adalah 35 tahun. Masa sedang sibuknya bekerja double shift siang malam, tanpa memerhatikan Kesehatan jiwa dan raga, demi membayar tagihan sekolah anak-anak, rumah, kendaraan, memenuhi tuntutan social agar tak turun kelas, dan mengurus orang tua. Betapa pun kerasnya melakukan usaha, tabungan tak kunjung kelihatan cukup untuk masa depan, demi anak-anak. Lalu pandemic datang tahun lalu mengacaukan semua agenda, sebagian dari kita bahkan kehilangan pekerjaan, semua mulai lagi dari nol. Anne Helen Petersen memulai bukunya dari cerita pribadinya, sebagai jurnalis lepas, akademisi yang belakangan baru menyadari betapa melelahkan hidupnya.

Sialnya tak banyak dari generasi milenial mengakui dirinya mengalami kelelahan luar biasa lahir batin, atau bahasa kerennya burnout. Dan ketika mengakui mereka depresi, stress dan burnout, obatnya selalu disematkan personal. Kamu kurang bersyukur, banyaklah berdoa, kembali pada agama, dan atau obat penenang. Mulai dari guru spiritual, psikolog, yogi dan para coach, motivator semua menumpukkan masalah Lelah hayati ini sebagai isu personal, bukan social. Padahal, akarnya ada di dalam kehidupan social yang sistemik, namanya kapitalisme.

Begini ceritanya. Dalam kapitalisme, yang dituntut adalah pertumbuhan atau growth, dengan seminimal mungkin ongkos produksi di dapat keuntungan sebesar-besarnya. Ada pergeseran paradigma, setelah great depresi tahun 1930-an, ekonomi menempatkan pekerja sebagai asset. Karena hanya dengan jaminan kesehatan yang baik, pensiun, pendidikan untuk anak-anak mereka, para pekerja bisa bekerja lebih produktif tanpa dibayang-bayangi tanggungan tersebut. Lalu Ketika neo-liberal muncul di tahun 80an, sentral kehidupan beralih pada individu. Bahwa individu termasuk pekerja bertanggungjawab atas dirinya sendiri.

Geser lagi ke akhir 90an sampai hari ini, gig economy menjadi perpanjangan dari liberalisme ekonomi. Kalau bisa diselesaikan oleh para pekerja lepas, untuk apa memelihara pekerja tetap? Passion menjadi jargon baru. Kalau kau bekerja sesuai passionmu, dibayar secukupnya okay lah, yang penting hati senang. Iming-iming kebebasan berkreasi, mengatur diri sendiri, mengatur jam kerja yang akhirnya terjebak pada pekerjaan tanpa jeda. Kebebasan itu bayarnya mahal, harus memikirkan asuransi kesehatan sendiri, atau jaminan pensiun. Dengan label freelance, orang melihatmu punya waktu banyak sampai tidak ada waktu pembeda antara urusan kerjaan dan pribadi. Apa itu weekend? Apa itu me time? Semua pekerja didorong untuk bekerja seperti kuda untuk bisa mencapai apa yang disebut sukses dalam bentuk materi. Apalagi saat pandemic ketika pekerjaan dibawa ke dalam rumah, tak ada lagi batasan urusan rumah tangga dan kerja. Semua menyatu.

Dulu standar lulus SMA cukup untuk bekerja di belakang meja, ketika semakin kompetitif, naiklah standar menjadi S1. Sekarang S2 apalagi lulusan luar negeri, barulah sedikit ada di atas angin di dunia yang semakin kompetitif. Apakah kemudian masalah selesai? Belum tentu malih.

Lalu milenial menikah. Buku ini bercerita, seprogresif-progresifnya pasanganmu, ketika urusan rumah tangga, tetap perempuan yang dijadikan andalan. Perempuan kemudian “dipaksa” memilih untuk mengurus rumah tangga atau bekerja. Kalau pun memilih bekerja, tetap dituntut agar keluarga diperhatikan. Alhasil, perempuan bekerja 24 jam, pasangan laki-lakinya?

Kalaupun kemudian pasangan sama-sama bekerja, mereka harus membayar pengasuh dan PRT untuk menjaga anak-anak dan mengurus rumah. Biayanya menjadi bertambah, kalau tidak ada pengasuh, penitipan anak juga tidak murah. Atau sekolah full-day, agar anak-anak tidak sendirian di rumah, biaya lagi dan itu tidak sedikit. Orang tua milenial lelah hayati lagi.  Ketika pertengkaran terjadi sampai pada perceraian, perempuan akan mendapat beban berlipat ganda karena pengasuhan biasanya jatuh pada perempuan sementara biaya tak jadi tanggungan bersama. Ini belum bicara tentang biaya pendidikan dan kesehatan anak-anak. Berapa anak? 1, 2 atau 3? Bahwa anak membawa rezekinya masing-masing? Ntar dulu, anak-anak juga tidak pernah minta dilahirkan dari rahim ibunya, melahirkan dan membesarkan mereka adalah tanggungjawab orang tua, yes.

Burnout lagi.

Bayangkan jika pendidikan anak-anak disokong negara secara adil, tidak perlu orang tua memilih swasta yang biayanya alakazim untuk pendidikan yang lebih baik, karena sekolah negeri pun punya kualitas yang sama. Kalau saja perempuan diperlakukan adil dalam penggajian dan dijamin tidak kehilangan pekerjaan karena cuti melahirkan atau harus absen mengurus keluarga yang sakit, tentu akan beda cerita. Kalau saja freelancer, pekerja gig economy seperti kontraktor IT, supir ojek online, kurir juga mendapatkan jaminan minimal standar minimum gaji, tentu mereka tidak menghabiskan 24 jam untuk memenuhi tuntutan hidup. Kalau saja budaya patriarki tidak dengan senang hati menyokong kapitalisme, dan jam kerja di luar dan di dalam rumah bisa secara adil dibagi oleh pasangan, tentu keseimbangan hidup itu bisa didapat.

Kapitalisme pada akhirnya akan mati, iya lah, ketika pada akhirnya generasi milenial tidak lagi punya waktu untuk memikirkan seks, menikah apalagi punya anak, akan hilang generasi pekerja di masa mendatang. Jepang, dan Korea, sudah mengalami angka penurunan kelahiran bayi yang signifikan, siapa lagi anak menyusul?

Milenial sudah mulai berontak, Fuck Passion Pay ME! Jangan mau lagi diembel-embeli tawaran sesuai passion lalu kamu dipaksa bekerja sampai mampus.

Buku ini sangat perlu dibaca oleh semua generasi. Bommers cenderung menyalahkan milenial dengan menyebut mereka sebagai generasi pemalas dan keras kepala. Hola om tante, milenial adalah hasil cetakan ajaran kalian loh. Apa yang mereka tampilkan sekarang tak lebih dari jawaban atas tuntutan yang disematkan kepada mereka sejak lahir. Belajarlah memahami.

Saya tutup review ini dengan lagu NO dari BTS, liriknya menggambarkan kelelahan luar biasa bagi generasi muda milenial dituntut kehidupan material, seperti boneka kayu yang dikendalikan orang dewasa, lalu siapa yang bertanggujawab?