Category Archives: review buku

Merebut Kembali Sejarah Peradaban Islam di Masa Lalu. Review #28 Lost Islamic History by Firas AlKhateeb

Standar
Merebut Kembali Sejarah Peradaban Islam di Masa Lalu. Review #28 Lost Islamic History by Firas AlKhateeb

Buku ini ditulis oleh Firas AlKhateeb seorang guru sejarah Islam di Sekolah Menengah Atas di Inggris dengan alasan yang menurut dia, anak-anak dan umum perlu tahu banyak tentang sejarah islam. Selama ini, sejarah ditulis dan dipelajari oleh Barat, sepertinya dunia baru dimulai di masa renaisanse atau kelahiran kembali pada 1500an. Setelah membaca buku ini, yang lahir kembali mestinya hanya kejayaan Yunani Kuno dengan filsafatnya, karena sebelum 1500an, Barat berada di bawah kekuasaan Islam. Sebelum 1500an, Barat terpecah atas ego kerajaan masing-masing yang dalam buku Saladin dari John Mann hanya dipersatukan dalam Crussade atau perang salib, merebut Jerussalem yang dikuasai oleh Islam di bawah Saladin.

Kembali ke buku yang memang ditujukan untuk umum terutama murid SMA nya, bahasa yang digunakan juga jadi sangat mudah dicerna. Buku ini merangkum secara garis besar dari awal geografis Arab yang panas, gersang, masyarakat yang berpindah mengikuti dimana air berada untuk mereka bercocoktanam. Salah satu yang dicatat dari budaya Arab yang nyaris tak pernah berubah adalah saat mereka menerima seseorang menjadi tamu di rumahnya, mereka akan melindungi tamu ini selama 3 hari, bahkan dengan nyawa sekalipun. Begitu mereka menghormati dan melindungi tamunya.

Disusul kemudian dengan permulaan munculnya Islam yang dibawa oleh Muhammad di tahun 600an. Pribadi Muhammad, keluarga sampai beliau menerima wahyu diceritakan dalam buku ini, secara garis besar. Islam membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan di Arab dengan sifatnya yang egaliter, melindungi fakir miskin, perempuan dan anak yatim, yang selama ini dijadikan sebagai produk perbudakan. Kisah berlanjut sepeninggal Muhammad dan umat Islam dipimpin oleh Kalifah yang juga sahabat nabi, orang-orang pertama yang menerima Islam sebagai agama mereka; Abu Bakar, Umar, Usman dan menantu Muhammad, Ali. Pemilihan Kalifah pemimpin umat sudah diwarnai ketegangan sejak awal karena nama menantu Muhammad, Ali terus tersingkir, padahal dia adalah yang paling dekat secara tali kekeluargaan. Tapi begitulah Islam dibangun, kepemimpinan dibangun bukan berdasarkan pada tali kekeluargaan tapi pada kesepakatan memilih orang yang dianggap sanggu memimpin, berdasarkan kemampuan dan kepribadiannya. Setelah Usman terbunuh, tuduhan meruncing pada pengikut Ali. Untuk menghindari ketegangan antar umat, Ali memindahkan ibukota dari Medina ke Kufa, Iraq. Ini yang menjadi cikal bakal perpecahan aliran dalam Islam, Sunni dan Syi’ah yang berarti Partai Ali. Perpecahan politik yang berujung pada perbedaan cara pandang menjalankan Islam.

Sejarah berlanjut ketika bermunculan negara-negara Islam di semenanjung Arab dan terus menyebarkan Islam ke dataran asia, eropa sampai rusia. Islam mencapai masa keemasannya di masa pemerintahan Abbasid sekitar abad ke sembilan. Abbasid menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, memerintahkan semua buku diterjemahkan dalam bahasa Arab dan menghargai buku seperti emas dan membangun House of Wisdom atau Rumah Kebijaksanaan atau boleh sebut Rumah Pengetahuan. Bahasa Arab menjadi bahasa pengantar dan pemersatu perbedaan budaya, selama dia beragama Islam, maka bahasa yang digunakan adalah bahasa Arab. Di masa keemasan ini juga, matematika, kedokteran, astronomi, geografi, dan fisika berkembang. Berbeda dengan masa Yunani Kuno yang menitikberatkan pada filsafat, pada masa ini, Islam mengembangkan metode keilmuan moderen, dengan observasi dan percobaan atau eksperimen sebelum mengambil kesimpulan.

Muhammad Ibn Musa al-Khwarizmi berkontribusi mengembangkan aljabar sebagai subyek unik dari matematika yang memiliki sifat praktis untuk digunakan sehari-hari. Omar Khayam juga seorang ahli matematika yang mengembangkan metode Cubic Equations meski lebih dikenal di dunia barat dengan puisinya tentang cinta dan dunia mistik. Nama lainnya adalah Al – Battani (hidup di abad ke 10) yang mengembangkan trigonometri.

Di dunia astronomi, al-Biruni menegaskan teori Ptomely dari Yunani tidak sepenuhnya terbukti karena tidak menyertakan perhitungan gerakan bumi pada sumbunya. Jauh sbeelum Christopher Columbus menemukan ‘dunia baru’ untuk membuktikan bahwa dunia ini bulat, Ibn Batuta di tahun 1300an sudah berlayar sejauh 170.000 kilometer melintasi Afrika Barat, India, Cina dan Asia Tenggara. Dimasa kekhalifahan Abbasid, menggunakan trigonometri dan geometri, berhasil mengukur diameter bumi yang lebih akurat dari masa Yunani kuno. Bumi berdiameter 12.728 km dan lingkar bumi adalah 39,968km yang dengan satelit modern luasnya adalah 40.074km. Ini luar biasa. Dengan pengukuran yang tepat, seluruh umat Islam di dunia sujud pada arah kiblat yang sama yaitu Mekkah.

Dari dunia kedokteran, nama Muhammad ibn Zakariya al – Razi yang mengumpulkan semua keilmuannya dalam ensiklopedi “The Virtuous Life”. Al Razi menganggap tugasnya sebagai pekerjaan suci untuk menolong orang lain bahkan musuh sekalipun tanpa imbalan seperser pun. Nama berikutnya yang terkenal sampai benua eropa adalah Ibnu Sina atau Avicenna dan bukunya The Canon of Medicine menjadi referensi kedokteran di eropa. Ibnu Sina menekankan bahwa penyakit hanya bisa disembuhkan lewat pengobatan medis bukan mistis. Ibnu Sina juga mendahului Freud dan Jung dalam hal hubungan kesehatan mental dan fisik.

Di dunia fisika, ada nama Ibn al-Haytam yang dalam bukunya Book of Optics menegaskan kalau cahaya bergerak menurut garis lurus. Ibn al-haytam memberikan dasar penemuan dari Camera Obscura yang dalam perkembangan modern bisa menangkap gambar. Kutipan Ibn al-Haytam tentang ilmu pengetahuan yang dia tekuni

“I constantly sought knowledge and truth, and it became my belief that for gaining access to the effulgence and closeness to God, there is no better way than that of searching for truth and knowledge.”

Setelah Ibn al-Haytam, ilmuwan Muslim terus mengembangkan pengetahuannya, tapi kemudian gerak mereka menjadi terbatas oleh situasi politik. Peperangan antar kerajaan islam memecah belah umat di semenanjung Arab dan juga serangan Kaisar Genghis Khan yang membakar habis semua buku-buku pengetahuan juga menghancurkan House of Wisdom di Irak. Itulah mengapa tak banyak lagi sejarah yang bisa digali tentang peradaban Islam.

Buku ini juga menceritakan perkembangan tentang ilmu agama dalam fiqh, aqidah, sufism, dan shi’ism dengan berbagai perdebatan di dalamnya. Sebagian besar penerjemahannya dipengaruhi lagi-lagi kepentingan politik. Mulai abad ke sepuluh sampai tiga belas, Islam berturut-turut menghadapi tantangan dari kelompok Syiah, Tentara Suci Crusade dari Eropa dan Mongol – Genghis Khan, sementara di antara kerajaan Islam sendiri saling berebut kekuasaan. Saladin berhasil memersatukan Islam saat menghadapi tentara perang suci eropa. Lalu Ottoman Turki, juga mampu mengembalikan kejayaan Islam dengan penguasaan wilayah eropa sampai Rusia. Di Vienna mereka tertahan Rusia dan pelan-pelan mengalami kemunduran begitu juga ke Islaman. Di Turki, generasi mudanya mulai ke-barat-baratan dan menganggap Islam ketinggalan zaman dan pemerintahan dinasti ottoman penuh dengan korupsi, mereka lakukan revolusi dan memproklamirkan diri sebagai negara sekular.

Buku ini juga menuliskan bagaimana Islam yang menghormati pemeluk agama lain seperti Kristen dan Yahudi, bahkan melindungi mereka. Itu sudah diajarkan sejak Nabi Muhammad di Medina, lalu diturunkan pada Abu Bakar dan para kalifah lainnya, termasuk saat Saladin di Perang Suci dan juga Ottoman saat menguasai Eropa. Islam yang egaliter, pajak berupa zakat yang dimanfaatkan sebaikbaiknya untuk orang banyak, pendidikan yang dijunjung tinggi dan kesehatan gratis menjadi alasan agama ini menyebar pesat ke seluruh dunia. Politik pecah belah yang mempartisi umat di seluruh dunia. Beberapa daerah Muslim di India memisahkan diri karena ketakutan akan pengaruh politik Hindu, menjadi negara baru, Pakistan. Inggris memecah belah Palestina dengan memberikan tanah untuk Yahudi eropa menetap di Palestina sejak 1918, berbekal The Balfour Declaration. Inggris menguasai jika tidak sebut mengacaukan peta politik di Timur Tengah sepanjang abad ke 20.

Review The Shock Therapy – Naomi Klein_’Pasar Bebas dan Shock Therapy Yang Mengerikan’

Standar

Saya menemukan kembali buku The Shock Doctrine karya Naomi Klein yang sudah hampir setahun tersimpan dalam boks plastic. Pas banget momentnya saat di negara yang semuanya serba lebay ini, ada sebagian orang yang bernostalgia tentang indahnya zaman Orde Baru dan menginginkannya kembali. Ah kamu ini, buta sejarah, malas membaca, atau mungkin harga dirimu terbayar sudah?

Buku ini diawali tentang Milton Friedman, bapake Chicago School (yang selama saya membacanya selalu kepeleset dengan Chicago Bulls-tim basket asal Chicago xixixi) yang ingin sekali ideologi pasar bebasnya bisa hidup. Saya bukan ekonom dan tidak bisa menjelaskan secara detail apa yang dia teorikan dalam Neoliberalism. Yang saya bisa ringkaskan adalah Pasar dibuka secara bebas untuk swasta dan pemerintah tak bisa memasuki atau mengaturnya. Segala sesuatu biar pasar yang menentukan, penguasa berkuasa, bahkan atas negara (bikin saya keselek) bahkan apa-apa yang semula diatur negara harus diserahkan pada swasta dalam istilah privatisasi… ahai… inget ya masa-masa kita ribut tentang air yang diprivatisasi di Jakarta dengan dua operatornya, mata air yang dikuasai oleh perusahaan sementara warga sekelilingnya kekeringan… ah … masa itu belum lewat, kamu hanya perlu membaca koran pagi ini.

Ekonomi adalah science karena itu teorinya harus dipraktekkan, diujicoba. Maka negara pertama yang jadi laboratorium bagi Friedman adalah Chille, yang saat itu dipimpin dictator Augusto Pinochet ditahun 70-an. Ketika negara dalam krisis ekonomi, Friedman menawarkan sejumlah proposal rencana perbaikan, persis seperti dibicarakan di atas, apa-apa yang dimiliki negara harus diprivatisasi, dilelang dan swasta masuk. Siapa yang menghalangi rencana ini akan diculik, disiksa atau langsung dihilangkan.

Bab kedua dalam buku ini bicara tentang Penyiksaan (Torture) dengan sengatan listrik yang dimaksudkan agar si penderita jera, dan mengakui ‘kebenaran’ yang didoktrinkan padanya. Seorang psikiatri (saya lupa namanya – Cameron kalau nda salah) juga berperan mengujicoba teorinya tentang brainwashing, pencucian otak dengan sengatan listrik. Bagian ini terus terang mengerikan buat saya, persis yang digambarkan George Orwell 1984 yang juga dikutip dalam pembukaan bab ‘Kami akan menghabisi ‘kamu’ mengosongkan ‘kamu’ lalu mengisimu dengan yang baru.’

Apa yang terjadi di Chile, merambat ke Bolivia (yang ketika shock doctrine pasar bebas tidak berhasil dan mereka terpuruk secara ekonomi, Friedman dengan gampangnya mengusulkan – Ya sudah, jual Coca saja atau Kokain, pasanya di Amerika, dan yes,itu mendongkrak perekonomian Bolivia, yang pada tahun-tahun berikutnya Amerika datang seperti pahlawan melawan peredaran narkotika – war on drug) lalu ke Argentina, Brasil, Ekuador, Venezuela, yang kawasan ini disebut sebagai Southern Cone. Lalu mereka ke Asia.

Di Indonesia, penentang teori pasar bebas ini adalah Soekarno. Amerika melihat Soekarno sebagai ancaman yang harus disingkirkan… Voila, Soeharto muncul. Didukung CIA, Soeharto menyingkirkan Soekarno dan ketakutan terhadap Komunisme dilancarkan, hingga sekarang. Soeharto dapat pelajaran khusus tentang neoliberalisme, didikte langsung lewat rekaman kaset oleh ekonom ekonom UI dalan jaringan Barkeley Mafia. Satu-satu perusahaan asing muncul, Freeport lah yang paling besar mendapat porsi, hingga sekarang. Lagi-lagi mereka yang menentang pun dihilangkan…

Setelah Asia, lalu Eropa. Inggris mendapatkan angin untuk menerapkan neoliberalisme di masa Margaret Theacher berkuasa. Tapi tak semudah itu langkahnya, butuh musuh bersama untuk mendapatkan dukungan dari rakyat, Perang Falkland adalah jawabannya. Setelah Teacher mendapat kepercayaan dari rakyatnya, paham itu mulai masuk. Bahwa seseorang bertanggungjawab penuh pada dirinya sendiri, bukan negara. Harga-harga property mulai naik, serikat buruh memulai dipangkas perannya. Lalu Polandia, lalu Rusia di masa Yeltsin sampai Putin berkuasa.

Bagaimana teori ini bisa bergerak?

Diawali dengan pendidikan. Iyes. Pendidikan adalah bentuk doktrinisasi yang sebenarnya. Pengikut teori pasar bebas adalah murid-murid Milton Friedman yang berasal dari negara-negara yang disebut di atas. Mereka menjadi penasihat-penasihat ekonomi di negaranya.

Kemudian setelah negara dalam krisis ekonomi, muncullah dua organisasi penyelamat dunia, IMF dan World Bank yang siap mengucurkan pinjaman dengan SYARAT dan KETENTUAN berlaku, yaitu melepaskan kuasa negara pada sector-sektor yang mereka tahu persis menguntungkan seperti pertambangan dan energi, subsidi kesehatan dan pendidikan harus dipangkas karena dianggap membebani anggaran negara…. Sounds familiar sekarang ya? Oh iya, IMF dan World Bank tidak akan membantu negara yang mereka nilai tidak punya sumber daya menguntungkan.

Di Asia, hanya Malaysia yang saat itu dipimpin Mahathir Muhammad yang berani menolak ‘kebaikan’ IMF. Selebihnya terjebak dalam hutang yang diwariskan pada generasi berikutnya.

Apakah investasi IMF dan World Bank berhasil? Tidak selalu. Di negara-negara yang mereka kucurkan dananya itu malah bermasalah, korupsi besar-besaran seperti di Rusia dan Indonesia. Dananya dialirkan pada kroni-kroni mereka sendiri, bukan perusahaan multinasional seperti niatan semula. Sementara di dalam negara-negara dengan menerapkan teori ini, jurang pemisah antara kaya dan miskin ini luar biasa besar, penikmat kekayaan negara adalah mereka yang dekat dengan kekuasaan, rakyatnya tetap melarat, tingkat pengangguran tinggi dan pelanggaran ham tak terbilang.

Chicago Boys – penganut Chicago School butuh laboratorium baru untuk menerapkan langkah baru. Sebuah negara yang bisa di’bersihkan’ dan dibentuk baru. 11 September 2001 seperti sebuah jawaban. Amerika butuh musuh baru untuk kembali mendapatkan dukungan rakyatnya. War on Teror digadang-gadang. Adalah Donald Rusmfeld yang berhasil menjadikan ini sebagai ladang dagangan baru. Bisnis militer tak lagi berpusat pada penambahan jumlah manusia, tapi pada teknologi. Semua diprivatisasi. Kenapa negara harus merekrut sendiri tentaranya kalau ada outsource yang bisa menyediakan dan melatih mereka, perbandingannya ada 1 tentara ‘bayaran’ di antara 4 tentara pemerintah. Teknologi surveillance ditingkatkan. Di bab terakhir sebelum kesimpulan Naomi Klein bilang yang mendapatkan untung besar dalam pasar teknologi surveillance ini adalah Israel. Jargon Israel adalah ‘kita tak butuh perdamaian, tapi kita butuh pengamanan’. ‘Terorism’ jadi musuh utama dunia.

Iraq menjadi laboratorium berikutnya, seperti dibersihkan dari akar budaya mereka, Amerika dan sekutunya datang dengan tudingan membersikan senjata pembunuh massal yang dikemudian hari Tony Blair bekas Perdana Menteri Inggris mengakuinya sebagai kesalahan. Di Iraq, mereka menghancurkan warisan budaya dan museum-museum. Di dalam penjara Abu Gharaib, cendikia Irak diculik, dihinakan. Mereka dipaksa mengencingi al Quran, lalu diberi waktu makan ‘enak’ dengan Mc.Donald, menonton film-film Hollywood dan mengenalkan demokrasi sebagai sebuah ideologi yang jauh lebih baik daripada Islam. Sebagian yang dikeluarkan dari penjara dengan bilang, ‘penangkapanmu adalah kesalahan.’

Yup… saya menyebut WHAT THE FUCK berkali-kali selama membaca buku ini…

Tidak cukup dengan perang, Chicago Boys datang dalam bentuk ‘AID’ atau bantuan kemanusiaan ketika Shock dalam bentuk bencana alam datang, Tsunami 2005. Contoh yang diberikan oleh Naomi adalah Bangladesh. Ketika USAID datang dengan bantuan kemanusiaan, yang dimaksudkan adalah memindahkan para nelayan dari sebuah tempat yang kemudian disulap menjadi resort dan dikuasai kapitalis wisata. Bali adalah benchmark mereka… ya  ya… saya juga terkesima…

Satu bagian yang perlu juga saya bagi adalah tentang Israel. Kenapa Amerika tidak mungkin memberikan tekanan pada Israel sementara dunia menuntut mereka untuk menghentikan genosida pada bangsa Palestina? Penjelasan Naomi Klein mungkin menjadi jawabannya.

Salah Yeltsin yang membom parlemen Rusia tahun 1990an, dan membuat ribuan Yahudi di negara itu kabur ke Israel untuk mencari aman. Di antara pengungsi Yahudi ini adalah mereka orang-orang penting dan pintar semasa perang dingin dan dikemudian hari berguna untuk membangun Israel sebagai negara pengekspor teknologi keamanan terbesar di dunia dan Amerika sangat bergantung padanya. Sementara dengan banyaknya pengungsi ini tentu saja menimbulkan masalah social dan urusan tempat tinggal, mulailah urusan perebutan wilayah Palestina oleh Israel ini muncul. Tidak Cuma tanah yang direbut, tapi mereka juga menuntup akses ekonomi orang-orang Palestina di Israel dan karena mereka sudah merasa ‘dilindungi’ Amerika dan tidak bergantung pada negara-negara Arab lainnya, Israel tak merasa perlu membina hubungan baik dengan semenanjung Arab. Paham yak… boleh didebat… jadi selama Amerika punya pertalian pasar dengan Israel, selama itu pulak, siapa pun yang memimpin negara itu, tak bisa diharapkan untuk menuntaskan masalah Israel – Palestina.

Pada kesimpulannya Naomi bilang, yang bisa menyelamatkan sebuah negara adalah kekuatan dari dalam, kekuatan dan solidaritas rakyatnya sendiri.  Di Thailand, kapitalisme pariwisata tak sukses menyingkirkan korban tsunami karena negaranya bergerak cepat, rakyatnya saling membantu dan tak mengandalkan bantuan asing. (naomi tak mencontohkan Aceh sayangnya). Lalu di Southern Cone, negara-negara Amerika Selatan bersatu, mereka membuka pasar untuk wilayahnya sendiri. Menolak kehadiran IMF dan World Bank di kawasan ini dan mereka tidak lagi mengirimkan anak mudanya belajar ekonomi di Amerika. Mereka berdaulat.

Tidak semua hal jelek kan dari pasar bebas, tentu saja tidak, semua bisa didebatkan. Tanpa control pemerintah sama sekali, Pasar Bebas itu macam hutan belantara, yang besar yang berkuasa, keuntungan hanya milik sebagian orang. Lalu muncullah istilah Democrat Socialism, hanya sayangnya dibahas sedikit oleh Naomi Klein. Negara tetap berkuasa dan berdaulat sementara pasar tetap dibuka untuk investasi asing tapi tidak untung menguasai hal-hal yang berimplikasi pada kemaslahatan orang banyak terutama pendidikan dan kesehatan.

Sebagai penuntup, saya kutipkan Naomi Klein, ‘bahwa penikmat dan pengambil keuntungan sesungguhnya tak pernah benar-benar ada dalam medan perang’

btw, seperti rekomendasi dalam sampul belakang, buku ini memang seru dibaca di mana aja dan kapan saja. Terpengaruh oleh latar belakang Naomi yang jurnalis itu, bahasa yang dia gunakan juga sederhana dan sangat mudah dicerna.

 

the shock doctrine